Jumat, 02 Januari 2004

DIARIKU SEPANJANG TAHUN 2004-2008

untuk catatan2 diaryku dari 2004 hingga 2008 silakan lihat disini ==> MY DIARY <== emang basilemak peak, sementara gitu dulu deh nanti diberesin

atau niy dulu aza yahh

DIARIKU SEPANJANG TAHUN 2004-2008

wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww
wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww

jtngr020204
hari ini lebaran haji, aku sepi dan sendiri. kadang ada juga merasa diri ini sedang berkurban dihadapan yang kuasa. bukan sekedar persoalan kesunyian, toh saya memang lebih minat dalam hal ini, tapi ini mengenai derita ditengah keterasingan. aku tak ingin asing dalam hidup ini, tapi kenyataannya begitu, tapi kenyataannya aku hidup.
kemaren malam saya menahan lapar semalaman hingga ketiduran sampai pagi karena kondisi di luar kurang mengenakkan buat saya keluar. paginya terasa sekali ringkihnya badan ini, setelah makan lalu tidur lagi seharian hingga malam ini, terjadi lagi kondisi seperti kemaren, tapi saya akhirnya bisa keluar. dan ternyata pengisi perut ini cuma mie rebus karena susah cari nasi.
kondisi yang saya maksud bukan sekedar soal lagi hujan (meski ini juga --- seperti juga soal badan atau kaki yang masih amat dingin untuk berani keluar), tapi adalah soal pareman setempat yang duduk2 di kios depan. masalahnya adalah saya baru disana (merasa asing meski udah menjelang 2 bulan), terus saya juga merasa ada sedikit sikap kurang enak dari aa' pemilik kios (dimana pareman2 itu mungkin gengnya dia), sementara untuk keluar dari kost musti butuh waktu dan berbunyi berisik sewaktu mengunci pagar.
dan tentu masih ada hal lain terkait tema ini saja, tapi sudahlah, sudah capek saya merasa lagi tertekan 2 tahun belakangan ini, wallahualam...entah bagaimana saya menyikapi tuhan.
sakit yang selama seminggu ini juga belum sembuh2 karena saya merasa sial terus atau entahlah. saya sudah usaha tapi yah.. takdir hal-hal diluar kuasa saya sering mengecewakan. seperti soal minum obat yang saya tak bisa teratur karena terkait mampu nggaknya ketemu makan teratur.
setidaknya mudah2an tak tambah parah, hingga kudu pulang lagi. meski disini saya musti hadapi sendiri. dan entah esok-esok, saya merasa makin pikun dan renta.


jtngr020304
lidah saya putih sekali beberapa hari ini. saya kuatir ini tak main-main penyakitnya. sementara selera makan dan kemampuan serta keberuntungan bagi proses kesembuhan (baca : sekedar merasa cukup nyaman pun jadi) begitu2 saja.
hari ini rombongan eka, si is, toni, dan idon main ke aan. nggak tau mau berapa hari mereka main di sini. tadi saya ikut menyambut kedatangan mereka.
setelah beberapa hari sepi bengong sendiri, tadi si epul nyamperin saya. saya belum berani memastikan ia tak ada masalah dengan keputusan saya mengenai permintaan si teteh utk kost di kantin biru. eh ngomong2 apa sakitnya saya ini, yang angin2an (sebab toh saya musti cari makan sendiri keluar kamar) sebuah keberuntungan yang cukup berperan mengenai hal tersebut.
dan sekarang di warnet ini, saya begadang lagi.


jtngr120204
hari jadi
kemaren, sekira dua setengah jam yang lewat, adalah tanggal 110204 -- 21 tahun dari 110283. dulu saya pertama hadir ke dunia di padang, sekarang saya lagi di jatinangor memikirkan dunia yang tambah gila ini. apa saja yang terjadi? sangat ingin saya teriak! tapi bahkan saya masih gagu untuk barang sekedar menulis puisi.
hadiah ultah saya adalah sebuah koran tempo edisi 110204. hadiah ultah(puahhh..)? ya, saya membeli dengan uang pemberian orang tua. rencana sih(puah..) mau disimpan baik2 sbg kenangan yang dibikin berharga aja.
seharian saya manyun dikamar. cuma sewaktu makan dan beli koran tersebut saya keluar ( saking semangat pengen beli tempo saya nyari nyampe ke ikopin lho -- ini contoh stress dan niat bersatu padu menjalankan perbuatan yang mungkin dipandang apa2an ), lalu baca2,tidur2an, dan manyun2an lagi sorang2an di kamar sampaei malam.
sewaktu mau keluar menjelang magrib, seperti biasa salah satunya kerana lagi banyak orang diluar dan saya kurang jago buat banyak ngomong, saya sengaja nahan diri, dan jadi batal rencana, nunggu lebih malam keluar makan. sempat sih si aya nyamperin nanyain tempat makan ( dan bisa jadi ia juga punya maksud mau untuk ngajak saya nemenin --- idihh kamu tu lo mas) tapi kerana beberapa faktor yang panjang mungkin jika diceritakan, dan juga dari kondisi yg ada serta ucapan2 yang keluar situasionil dan spontan begitu saja - yg mana kadang atau mungkin malah sering saya tadi sempat nyesel juga --- saya memonggoi dia yang ditemeni salah seorang pendatang baru untuk duluan, hingga saya pun nahan diri lagi utk beberapa waktu buat keluar.
lalu sewaktu keluar kebetulan ketemu nugie sehingga ke tempat epul dululah kami dimana disana ada adi juga rupanya dan demi keamanan ( yang butuh cerita lagi ), biasa, saya lewat jendela dan tak keluar kamar epul kecuali benar2 keluar pergi meski ada ( ah..ini butuh keterangan lagi, sudahlah ). lalu kemudian kami bertiga sebagai tamu keluar, blecos dan nugie pulang, saya baru makan ( dan uh.. sempat sakit perut dan oh ya.. tadi siang cukup meriang juga sehingga minum tolak angin cair lagi sementara kemaren saya menduga sakit mag yang terasa selain karena faktor makan tak teratur adalah juga kerana minum jamu tsb kiranya -- nah.. jadi panjang kan kalo tak dikendalikan ). lalu setelah beri super setengah bungkus maka aku pun ke warnet inilah bang..he..he. sekira setengah jam kemudian hari pun jadi tanggal 12 seperti sekarang ini dan beberapa jam lagi pagi deh.
malam sebelumnya yakni tanggal 10nya, sebelumnya saya punya rencana bakal begadang buat nulis. tapi ternyata saya tertidur lelap hingga ke tahun ke-22 kehidupan saya di muka bumi. dan tentu saja saat berencana itu sudah berkelebat beberapa ide yang biasanya tak akan pernah terealisasi. paling di hari 'h' kemaren saya sempat2nya lho nulis dua puisi pendek, yang rasanya juga belum begitu puas.
puas? memangnya untuk menyambut semacam yang disebut 'momen2 tertentu dan sepesial' seperti kemaren itu apa saya musti melakukan hal gila? seperti yang sempat saya pikir tentang setidaknya pesta lilin sendirian dikamar nulis puisi yang bisa jadi bertendensi refleksi atau bahkan bikin acara sendiriannya di lantai dua dan dengan acara membaca puisi keras2 ( emang saya bisa baca puisi ) yang tidak hanya akan sekedar membangunkan para wanita di kmr2 lain, juga si aa' sang penjaga, tapi juga manusia2 lain dalam radius yang kira2 bakal terbangunkan oleh sebuah suara menggelegar. apa saya sanggup disangka (sekarang )sungguh2 gila. tapi, setidaknya , apa saya sanggup melakukan itu ( apalagi khayalan yg sudah di luar kekuasaan saya ketika berfantasi akan datangnya sekelompok orang2 yang dikenal dan kami mengadakan pesta sastra di kostan tersebut -- sbg hiburan dari tuhan atas rasa suntuk ini).
toh malam itu saya 'tertiduran juga lalu melewati hari yang katanya istimewa itu biasa2 saja. paling sekarang, dalam nulis ini, saya sukurlah-sukurdeh sedang mewujudkan juga sesuatu yang sempat direncanakan sebelumnya tersebut, dalam rangka menyambut hari jadi.
hari jadi diri sendiri
dalam pedih aku bernyanyi
terdengar kulantunkan suara :
hahahaha...
hihihi..
rasa sesal sembunyilah kau...sembunyi!
peluh luka, kubasuh kau dengan sedikit gelak tawa

sedikit potongan lirik lagu iwan fals :
"rasa sesal di dasar hati... diam tak mau pergi, haruskah aku lari dari.. kenyataan ini? pernah kumencoba tuk sembunyi...tapi ***** terus mengikuti


jtngr160204
gejolak remaja itu kembali hadir. saya merasa bagai anak umur tengah belasan kemaren lagi. lha, emang lu udah tua. entah rasa itu jarang hadir dan sekarang hadir lagi setelah beberapa tahun. jadi ingat waktu mikirin esa dan sebangsanya dulu, tapi tetap yang sekarang ngga' sehebat dulu kok. tapi, kok rasanya lumayan, tapi biasa aja. dan dalam keadaan gila ini saya bermain dengan berbagai kemungkinan : tentang dia yang udah ada yang punya, tapi tentang ada sesuatu pada tatap matanya, dan tentang2 yang lain.
yang pasti, disatu sisi saya jadi gelisah, disisi berlawanan bisa dipandang menghibur ngga'. yah...situasi ini menambah beban pikiran saya. kegelisahan yang sedikit ada warna berbeda dengan beberapa hal serupa yang dekat sebelum ini, yang saya saya tak menafikan menjelma hal yang malah buruk sebab ada juga indikasi kesana.
pura2 nikmatilah...


jtngr060304
sampai sekarang saya masih di pondok marmer. seperti biasa, sepi sendiri meski sudah lumayan banyak yang masuk akhwat, tapi memang dasar nggak gaul, memang dasar manusia gagal. tapi untuk kondisi saya memang rasanya saya kudu memilih biarlah begini saja, memang inilaah takdir gua. meski kadang terasa begitu sepinya hidup ini, meski saya juga nggak kebayang berbuat apa di tengah keramaian, apa masih punya gairah dengan kondisi yang memaaatahkan semangat hidup ini. paling saya berharap di beri selingan di tengah kesuntukan hari-hari. entah apa tuhan seru sekalian alam apa akan memberi.
sejak mulai kuliah paling kadang jadi rame kalo anak-anak ( beberapa ) main ke sana. seperti malam ini ketika blecos dan nugie nginap di epul. itu pun tadi saya dipenuhi kekuatiran sewaktu memutuskan ikut keluar ( dari kamar ) dan saya masih kuatir badan ini akan meriang nanti.
dengan aya saya makin menduga memang ada perasaan apa-apa diantara aku dan dia, seperti dari sikap dan cara pandangnya. ada haal yang menarik karena pertemuan kami bisa dikatakan adaalah hanya rutinnya ketika saya ke belakang untuk menjemur pakaian. saya memang merasa tak ada keperluan lain untuk mengunjungi para perempuan itu. dan disinilah terdapat salah satu indikasi itu, setiap saya kesana biasanya dia mengusahakan memunculkan diri, bercakaplah kami ala kadarnya ( dan kadang saya juga bingung harus berucap apa ) atau bisa jadi sebagai pemuas saja, sekedar saling memandang mungkin.
saya mungkin memang juga suka sama dia. tapi ini tak masaalah karena saya memang dari dulu sudah bermasalah dalam kemampuan menjalin hubungan dengan perempuan ( dan anggaplah wajar saja ketika saya memendam gejolak di jiwa). yang jadi masalah adalah seandainya benar dia menaruh harapan yang cukup besar pada saya, itu sungguh jadi beban buat saya. saya si manusia gagal, yang sepertinya sudah ingin mengubur semua ingin. tapi toh saya masih hidup dan masih punya ingin. jadi kuserahkan pada kau wahai proses dan takdir.
ini kadang seperti mengulang kejadian dengan essa dulu lagi, meski saya kira ini belum seberapa. saya kadang bertanya dalam hati apakah ini memang tak lebih beban dibanding ketika saya musti berhadap dengan seseorang yang saya tak punya perasaan padanya. seperti tina dan akhir2 ini surya ( ini juga gara2 adi yang ngompor2in -- seandainya ia tahu bagaimana dengan tentang .. oh, saya lupa namanya .. atau setidaknya tentang pegi ), toh merekalah yang bergelut dengan perasaannya. dan saya kira saya tak merasa bermasalah jika hanya saya saja yang jatuh cinta, saya kan laki2, ya seperti melihat selebritis cantik di tv sajalah. yang jadi problem itu ketika ada sinyal balik sehingga saya mendapat beban untuk memenuhi tantangan tersebut. dan kondisi hidup membuat saya tak pernah yakin. lalu tersiksa. sepi .. dalam arti sempit.
juga dalam arti luas. ini kadang memang sepertinya soal kesempatan dari Tuhan. kalau saya dipandang memang tak punya bakat bergaul mungkin, lihatlah bagaimana seorang epul sekarang juga bermasalah dengan rasa sepi. jadi aku hanya menduga sekarang memang beginilah takdirnya dan aku tak mungkin memaksakan diri mengusahakan sesuatu di luar kemampuanku.
memang terasa benar kepala tempang ini makin menyusahkan. sementara kuliah makin menuntut banyak baca, banyak berpikir otakku masih terasa cukup sumpek. lalu saya pun manyun2an dan tidur2an sajalah sanpai letih hanya karena tak berbuat apa-apa. betul2 merasa sekedar masioh hidup saja.
hubungan dengan rumah sebagai tempat kembali pada akhirnya juga saya masih mencoba untuk tidak mengalah. saya masih mencoba bertahan dan entah apa seandainya pada akhirnya kalah saya masih memilih untuk tak kembali ke rumah. entah apa yang saya cari lagi, yang jelas saya cuma lari dari kebosanan ini. atau semisal entah apa saya mampu untuk setidak mengurus hal-hal yang mampu mengurangi beban fisik, seperti setidaknya lagi seandainya punya tenaga buat mengurus askes itu sudah mengarah pada proses usaha mengurangi derita dengan entah persetan apa akan berhasil.
soal kostan saya juga masih menanti kesempatan dari tuhan bagaimanakah sebaiknya. dan mengutip sekilas sajak sapardi : waktupun tak berhenti meski hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan ini. maka mengutip kata stokar bis kota : lanjut!
dan saya musti bersiap-siap seandainya jadi demam lagi setelah menghibur diri sedikit dengan begadang malam ini.


jtngr240304
sakit lagi au..sakit lagi, rasa2nya emang cuma berjarak sekian hari sekarang jatuh sakit terus. kemaren karena sudah mual terlalu banyak makan obat demam giliran sampei mencret gua. sekarang aja agak mendingan tapi saya belum mutusin masuk kuliah. wah, sampei kepikir makin berat pilihan untuk pulang atau pindah ke rumah, karena susahnya saya kalo lagi sakit di sini. bagaimana saya terkapar sendiri berhari-hari di kamar dan kalo kepaksa keluar demi makan yabng itupun tanpa selera kudu menahan malu karena badan bau, dan juga maksain karena tak punya tenaga.
memang opsi pulang itu adalah sepahit2nya pilihan, dan saat lagi sangat menderita seperti kemaren dorongan itu sangat kuat. uang di saku sudah siap untuk setiap waktu cabut pulang, tentu dengan pesawat terbang. namun ketika kondisi mulai baik, opsi itu jadi tak diinginkan meski saya sudah bisa duga sebentar lagi bakal sakit lagi dan keadaan saya sekarang takdirnya amat menyedihkan. dan dengan menghitung2 pertimbangan secara menyeluruh dan melibatkan semua segi sungguh berat.
bahkan sudah saya bilang Tuhan sungguh baik hati menurut saya jika memberi saya mampus segera. capek aku....
dan entah bagaimana jadinya, saya masih terus berpikir, otak saya semakin terasa ingin meledak, dan emang bisa jadi menyerah pada gimana nanti.
urusan di kampus juga ikut meramaikan otak ini dengan hiruk pikuk kepengurusan baru, lalu saya bertanya apalagi yang saya cari dalam hidup yang terus gelap ini rasanya, jawabannya : sekedar ngisi waktu barang kali, bermain-main dalam kepedihan.
sekarang saya pagi nyempetin ke warnet karna udah lama nggak, juga untuk nulis ini, kerana kunci gembok yang baru ngga' punya jadi ngga' bisa keluar malam, juga mengingat kondisi badan bangsat ini. dan sekarang meski belum punya tenaga nanti saya musti nyuci..

jtngr070404
saya bulan ini udah pindah kos dari pondok marmer. memang kondisi rada lagi
mendingan, tapi saya tetap curiga. sial, waktu pindah ternyata suasana di kos baru juga tak menyenangkan, dalam hal ada yang suka nyetel keras2 musik rohani agama tertentu yang bikin sakit telingaku, posisi kamar yang dekat dapur ibu kos, serta sikap orang2 sana yg terlihat dingin ke saya. sekarang juga lagi pusing mau nyuci gimana. ember segan buat minjam karena belum ada yang kenal dan juga buat beli saya masih ragu disana. waktu nyoba nyari kos lagi bareng rifa yang nggak jadi dapat, saya sempat papasan sama ibu yang di warna-warni dulu ( sial! ) untungnya beberapa detik sebelumnya saya telah menyelesaikan transaksi nanya kos tersebut. waktu luntang-lantung eweuh gawean aing ka palaguna, di ditu ketika lagi bengong ketemu sama seseorang yang juga mahasiswa sastra, dimana hal ini membuat saya malu ( sial! ). maka saya selalu dibayangi perasaaan bakal sial setiap akan melaksanakan segala sesuatu. asli pusing. kalaupun maksain cari lagi kostan ( yang pasti dengan sembarangan dan berhadapan dengan resiko seperti sekarang lagi, tambah jatinangor rasanya udah makin sempit buat saya ), saya juga berhadapan dengan kemungkinan saya bakal pulang sehabis uts. ini juga soal mengenai apakah saya bakal ( bisa ) pindah ke rumah. sementara buat kesana juga ada faktor yang membuat saya tak ingin. faktor ingin tetap disni semisal lagi ketika saya mengambil tanggung jawab dalam struktur gelanggang ( yang inipun saya tak terlalu yakin bagaimana kelanjutannya ). sementara kondisi fisik seperti memaksa untuk pulang, atau barangkali sekalian mati saja wahai YM kUASA. segala faktor ini saling berjumpalitan saya tak sanggunp memutuskan. sementara terus diam, saya pun tetap dalam kesengsaraan. oh ya Tuhan...menghadapi hal spt ini kadang ada baiknya pura2 bodoh saja, lalu berpikiran gila bahwa penderitaan ini dibawa asik aja lagi.
uang kos belum sampe setengah saya bayar, tadinya berharap bisa dapat tempat baru lagi ( ternyata engkau masih belum beruntung wem ). kamis ini saya janji bakal bayar ( seandainya masih disana ), nggak tau besok itu apa masih bakal nyari lagi atau mungkin pagi2 sebelum sempat berangkat sama ibu kos daku dicegat, yah...bangsat. saya berpura2 seolah lagi kesulitan uang padahal utk menjalankan rencana ini juga ada faktor yg tak mendukung. dan Tuhan ( saya tulis d3engan huruf besar lho) juga belum mendukung.
yang terbaru tentang pr : kebetulan saya sekelompok tugas morfologi sama eyi 99, nah ia 'kan tak ikut mengerjakan. nah, kenapa entah saya malah yang coba dihubungi lewat adi blecos. bahkan kata adi blecos begitu agresifnya ia pengen ketemu. dan hal ini tak aneh juga sebenarnya sih seandainya diambil bahan perbandingan ke belakang yang meninggalkan sinyal2. namun dengan hal ini sepertinya ada peluang. cuma tak setiap peluang musti saya ambil bukan. soal sinyal2 juga masih ada dan ada lagi pr lain lagi kok, setidaknya pun untuk saat2 ini. cuma persoalannya nggak ada yang saya sulap untuk menjadi. dan sebabnya bisa karena faktor luar seperti saya yang harus jaga citra sebagai eks dkm untuk kampus, atau faktor dari dalam adalah tentang saya yang yahhh beginilah utk usaha mah. barangkali juga soal ideologi, tapi saya pan manusia lagi. ujung2nya kok masih menderita juga ya? belum lagi bicara soal si surya tea nu pede teuing ka urang, buat saya sih mendingan si pegi lah. ah pusing aing..ada juga tentang si rifa yang sepertinya penuh rahasia, tapi kumaha nya? si eta pan masuk kategori lalaki atuh, kieu wae ( krn ieu masih aya sangkut paut dg pr ) : si eta punya kenalan katanya yang bisa menjadikannya gigolo sukses dan ia akan melakoni kalo kepepet soal duit, barangkali. dan entah apa ada rahasia lain yang harus saya pegang teguh.
soal proyek puisi sekarang ada perkembangan baru dengan terlibatnya agit. ia yang beghitu phede dan beruntung dikasih tuhan kemampuan menjalankan ieu gawe, membuat saya sepertinya harus mundur sedikit karena jeung si eta abdi teh kurang sa ide. nggak tau prinsip saya yg justice for all dlm antologi ini apa akan cukup dipertahankan, sebab bagaimanapun saya tak menyerah total cuma sedikit mundur sebagai strategi sebab, sekali lagi, ia diberi keberuntungan oleh tuhan utk lebih melancarkan dlm hal teknis proyek ini dan krn ia merasa pintar sehingga ia kelihatannya tak terlalu nyaman jika juga ada orang yg pintar menyainginya ( baca : tak dg gampang diatur menuruti ide2nya bahkan bisa jadi mematahkan segala kepongahannya ). tapi sekali lagi kesengsaraan karena sifat keras hati mengajarkan saya buat hidup lebih berstrategi.
yach, gimanapun tema utama saya ukt saat ini adalah soal kos yg anjiiiing ini. ( oh my God, damn it! ). dan terlalu banyak persoalan untuk bisa benar2 benar beres diceritakan. gimanapun barangkali saya takingin juga ( seperti dalam cerpen kuntowijoyo minggu lalu di kompas ) jadi jenis manusia yang memandang gelap dan jelek saja segala sesuatu, tapi emang rasanya lagi gelap ya? entah, barangkali hanya mabok solusinya, cuma nyari minum teh kamana nya'..dan akupun mungkin akan menggila dalam kebisuan meski menurut saya siapapun harus sayang pada diri sendir. sekurang-kurangnya, jika sudah tak ada orang lain lagi. dan tertawalah tanpa sebab jika itu membuat sehat. bye,bye, hatur nuwun.

jtngr190404
ya memang saya masih bermasalah di kos ini. oh tidak! tak bermasalah,..cuma,..TAMBAH MASALAH AJA. udah menjelang seminggu ini saya lagi menderita mencret dan lagi juga nafsu makan tak ada. posisi saya di kosan saat ini yang tak dikenal orang membuat saya semakin menderita menjalani penderitaan ini. tak terlalu kenalnya sama orang pertama karna kenyataan bahwa orang2 di sana rata2 congkak keliatannya ke saya dan itu berakibat saya ungin pindah lagi dan berupaya juga mempertahankan jarak dengan mereka. mempersedikit mungkin pembicaraan dengan ibu kos. salah satu yang menderitanya spt ini : tiba2 tengah malam saya ingin boker ( dan namanya mengret emang sangat didesak buat mengeluarkan ), sementara air di bak kosong dan saya sampai sekarang tak tau dimana saklar air. kalaupun ada saklar air, toh saya teramat canggung buat berisik.
pernah sekali eek itu keluar didalam celana sewaktu buru2 ke kmr mandi dan terlambat membuka celana & mengambil posisi duduk. coba kejadian ini kalo di kampus atau dimana atau disini tapi dengan bak air lagi kosong. saat itu saya terpaksa nyuci sendiri cd itu dan mengeringkannya pun dlm kmr -- ssssst, saya menyucikan pakaian pada seseorang dengan bayar lumayan mhl..pusing. karna yg namanya mencret bunyinya keras, saya merasa lebih nyaman kalo di kampus buang airnya. di kostan itu kedengeran amat segala suara. minum jamu pun saya bingung nyari air panasnya. pertama di epul, kedua di warkop, ke tiga si rifa, tadi di pedca, dan krn kondisionil tentu saya tak teratur minumnya, kumaha deui..kieu nasib abdi teh ayeuna.
saya bingung juga soal mencret kali ini. mencret sebelumnya sewaktu di pondok marmer yang krn udah terlalu banyak makan obat demam lumayan tak terlalu lama. sekarang entah krn apa, dan setelah sekian biji minum kapsul mencret tetap tak mempan hingga saya beralih ke jamu, dan kurang jelas sebabnya. mungkin krn keracunana atau sekedar masuk angin, yg jelas perut saya sptnya emang udah kagak beres jadi asal makan dikit aja mampus gua. rencana pulang pun terus menguat disamping ada faktor lain yg menentang
dan serba sulit bagi saya memutuskan segala sesuatu sekarang ini.
dan saat ini lagi mules nih...

jtngr130504
cukup lama ya baru ke warnet lagi
setelah satu bulan di pondok warna, sebelumnya marmer, sekarang saya baru setengah bulan di kos yang baru
betah? lebih baik dari pondk warna jawabannya ya, tapi entah apa emang ini soal nasib yang lagi sial, disinipun saya masih tetap merasa asing
soal hubungan dg warga kos lain : apa emang saya tak bisa mengakrabkan diri? sepertinya emang, tapi bagaimanapun saya masih merasakan sikap kurang akrab dari orang2 disana
seandainyapun, barangkali dg kerja keras, saya berhasil punya 'komunitas', apa emang saya bakal merasa lebih baik dg itu? bukankah pergaulan saya yang sekedar telah ada inipun jadi sekadar penghilang bosan? dan saya menjalani hidup untuk apa.... barangkali gimana nanti, capek aku mas
soal kuliah, saya masih menyimpan opsi untuk pindah ke padang -- waktu nelfon ke rumah sempat minta ama cari informasi -- yg bagaimanapun merupakan pilihan semacam terakhir ketika sungguh-sungguh betul tak kuat lagi. di gelanggang saya, barangkali terpaksa, sekarang memegang forum linguistik ( dan saya masih berusaha mencari strategi mengalihkannya ke orang lain ) dan untuk megurus ini saja rasanya capek, padahal kebanyakan bengong di kosan juga capek, dan sebenarnya juga sekadar urusan kuliah juga kagak beres, maka tak salah dong saya musti menghibur diri ditengah kebingungan ini, melupakan dalam hal ini barangkali jadi rahmat
salah satu yg salah satunya dlm rangka ini adalah spt kegiatan nonton bioskop, sisa2 kebudayaan sewaktu mengungsi ke babakan priangan dulu, dan nonton teater di rumentang siang
setelah pertamanya gara2 tugas kuliah drama, pas pementasan sabtu malam kemaren saya pergi sendirian nonton kesana ( kalo diceritain, pasti ujung2nya saya bicara soal kesialan juga ya )
selain itu saya juga mulai memberanikan diri beli minuman sekarang, walau sebenarnya juga sekadar penghangat badan
merokok pun contuhnya, dada ini rasanya sudah terlalu sesak tapi saya tetap cukup menganggap itu hiburan bagi kejenuhan saya
dan ditengah tugas dan bacaan yg sebenarnya menumpuk toh saya masih menyempatkan diri utk buang2 waktu menulis di sini, hiburan kali
soal kesehatan udah lama belum sakit lagi, semenjak pindah dari pond. marmer, tapi secara umum, kapan emang saya pernah merasa sehat gitu?
ya sekian dulu laporan saat ini dari duniaku yang sempit dan pengap ini

jtngr250504
seperti biasa, masih bingung2 juga
-tanggung jawab dlm forum linguistik
-ketakmampuan aktif tapi bosan bengong
-kostan sepi, bengong
-tugas repot, kkn ngambil nggak?
-apa lagi ya?
-pulang atau manyun?
-soal rambut
-sakit sih jarang, tapi kondisi buruk yang standar
-berkarya? susah

jtngr140604
ama keceknyo nio kamari
samantaro kost-an mode iko kadan ne a
dan keadan awak sendiri emang susah lo rasoe maiyoan a
taulang pulo kaserbasalahan mode taunpatang liak
di kost yg sekarang masih juga saya nggak mampu ngegabung
lk2 bermata hitam juga ada di sini
memang ada satu dua orang yang sepertinya asik sikapnya
tapi entah kenapa kebanyakan selalu meliat masam akan kehdiran saya
contoh paling konkrit:
si widi yang ternyata anak sastra
pertama kenalan secara kebetulan sih asik aja
tapi di kampus kokdia kayak sengaja ngacuhin saya
apalagi di kost-an
bahkan pernah waktu saya dapat sempat ( kebetulan lagi mau buang sampah ) dan sengaja ikut nimbrung bareng dia yg lagi ngobrol sama cepi, eh dia kemudian malah masuk kamar
memang saya akui saya kurang bisa mengakrabkan diri
tapi faktor diluar yang menolak saya lah yang lebih banyak berperan dewasa ini
saya bayangkan :
seandainya mereka mengakrabkan diri ke saya
misal: nyorakin saya yg lagi diem di kmr ngajak gabung
bukannya nyuekin aja, masam lagi ngeliatnya
saya kan statusnya asing di sana
kenapa nggak mereka nggak lebih berani kalo emang punya niat baik dalam bersikap terhadap saya
tapi ya, itulah nasib saya
tapi saya tak harus terus menyesal
strategi kudu di susun demi menyambung hidup
dengan segla kekurangan saya
saya kudu mencari jalan yang saya sanggup utk kepentingan diri
berita lain:
-saya akhirnya motong rambut seminggu yg lewat
-si surya buka jilbab
-waktu ketemu erik (mungkin krn ada arul ) lagi djati latian kok nggak cuek lagi
-si blecos lagi stres
-beli hp soak
-keterlibatanku di pan. sem. ling. sep. besok juga tak terlalu intensif dr pd diblg nggak ada. mungkin ya, sebab komunikasiku yg tak terlalu akrab dg mereka. plg kemaren ketika ada persoalan panitia membutuhkan eksistensi di jurusan dan aku sbg pejabat himpunan diajak ngobrol
-si ripa ada tipi euy, walau nggak terlalu akrap ama dia, tapi krn ngga' ada lagi ya lumayanlah lah maksain diri menghibur hati ke sono. salah satu kejadian plg mengesalkan ama die adalah sewaktu abis nonton teater jati tanggal 5 kemaren yg mana mungkin krn ada acara apa? ia tampak kesel aku ikut ke kostnya dan nggak ngomongnya itu yg jadi masalah. tapi buat saya drpd tak ada tongkronganlin ( emang nasib gw lagi sial ) mending sabar aja
-berhubung kemampuan fisik baca buku yang terhambat, maka akupun bermasalah dil ujian dan ngerjain tugas, jadi siapa peduli?!
-main dan nonton di si Suprandi
-ngomong pas diskusi yg ngedatangin Hasif Amini ( redaktur bud. kompas ). hari itu ada acara diskusi kuda terbang mario pinto di psbj, aku nggak baca sih tapi pas ada sesi tanya-jawab dengan penulisnya saya berani nanya danlumayandapat sambutan dan rasanya juga bagus cara ngomong baik retorika maupun materisaya waktu itu. bangga juga sewaktu hasif juga bertepuk tangan waktu saya habis ngomong nyerang si Linda Christanty. pantes aja Baban pas ketemu di dekanat waktu tadinya mau ngasihin tugas stilistika nyuruh saya nyerang dewan juri pas diskusi dadaisme dan geni jora di kantin psbj sabtu kemaren. lumayan acara besar, abidah dan seorang dewan juri datang, tentu juga dewi sartika yg berdarah minang itu. walah diserang abis sama makhluk nalar. dan ada orang2 nalar ini ( seperti juga beberapa temen & senior saya ) yg saya anti pati sama mereka sebab bermuka masam sama saya. sebab apa? liat aja serangan membabi butanya pd karya dewi. namun bagaimanapun toh saya memang belum sanggup berbuat yang wah untuk menginjak perlakuan mereka. makanya jgn menyesali takdir, atur strategi!
-udah lama nggak sakit beneran, tapi kemaren hampir sesak nafas ini kambuh. lah, berhentingerokok gimana caranya, apalagi yg mau saya lakuin di muka bumi yg tambah sesak ini
-jalan sama blecos duaan ka Bdg, pertama ke daftar kkn di lpm terus jalan ke gramed, putar2 ke bec,terus mau ke palasari ( sempat liat baban yg dari ccf mungkin waktu berdiri di jl dago itu ) dari palasari baru balik ke caheumdan beli buku geni jora akhirnya di nalar juga. lebih murah sih, dan blecos mahu nemenin
-hobi baru : stel musik yang nge beat, terus olah raga dlm kamar biar anget
-bengong karena nggak sanggup lagi mikir...
-dll
oke??!!!

jtngr250604
aan lah pulang
aden megang kunci kmr agit dan aan
suasana kos ya masih gitu
bete kadang main dgn andi kayak tadi ke pedca atau nonton film di komputernya
kemaren2 sempat coba kirim puisi lagi ke cybersastra
sepi
mulai agak akrab dg karyawan bki
bete nunggu kkn, minggu kemaren kuliah pertama ya begitu aja
hp bermasalah
kesehatan ya begitulah
sering dg stelan celana tentara ini kalo keluar malam sekarang ( entah gimana tanggapan orang ) apalagi rambut plontos gini
rencana ka merapi ado yg nanggapi di milis highcamp tapi aden masih ragu
sms-an jo irfan pii
kamil katonyo ado rencana ka siko liak
ama baa ko lah jadi e
mata-mata pendengki busuk?
kesabaran itu ada batasnya teman
kesabaran itu ada batasnya tuhan
ngomong2 walau masih tak bersyariat tapi kadang aku juga terniat
genk gapleh akhir2 ini ( waktu masih kuliah ) sama blecos, lembeng, kresa, rifa, tapi sebab ikatannya tak terlalu kuat tak lah berlanjut kala libur kayak ini saat. terakhir pertemuan, terakhir ujian, kami ngagapleh di rifa sampai beli minuman
hasil ujian?
sp tn!
panitia seminar, aku tak punya kabar
mau kemane kale bete?
jalani hidup seperti air yang megalir
mungkin sudah takdir,
aku sungai kotor yang entah apa akan sempat 'di'bersihkeun oleh 'sesuatu',
tapi ya jalani
sok, kumaha deui?

jtngr030704
bete juga nih nunggu kkn kamis depan
sekarang aku tidur di aan, bengong
di agit kayaknya tak memungkinkan
kemana lagi
buat jalan, misal ke yogya, i have a problem with my phisic
diam di kamar, suntuk
temen deket buat main, nggak ada
hal2 yg menyenangkan di gawein sendiri, misal ada komputer kek atau tv, juga nggak ada
aku bukan anggota dari sebuah perkumpulan apa yang bisa didatangi jika lagi bete sendiri
pacar: hah..!
paling sekarang sebab lagi di aan hobi lama denger el-sinta jadi aktivitas ato denger kaset dg kualitas lebih baik jadi hiburan, cuma bete juga kalo sekedar itu terus kelamaan
misal nih lagi denger klo di tv bakal ada acara bagus misal debat presiden gimana?
waktu debat kpu capers kemaren aku bela2in dingin2 di katara, dan itupun kesempatan seperti ini tak selalu ada, yg jaga katara siang buat saat ini tak terlalu menyenangkan buat saya
misal mau nonton final euro besok, ke rifa..hah!
yu now i have a problem about friend seperti yg sudah disebut di atas dan sebelum2 ini
ke si andi aza misalnya, mulai soal kurang enak nongol dimuka bapak kos aan hingga ngga' enak klo andi lagi nonton tv di sebelahnya hingga dg andi pun saya bukan teman dekat amat sebetulnya dalam arti yg sudah sehati
baca2 jadi hiburan, hiburan terpaksa paling, i know my phisical problem
ingin teriak melepas energi yg terkekang dg nyanyi sekeras2nya eh...suaraku tak pula merdu
ke tuhan, capek
mampus, hah
jalan hidup toh masih terbentang
ngomong2 soal kkn besok juga hah..!
udah aku bingung soal kostan, dapat daerah di sumedang ( pegennya sih ke daerah lain di jabar yg aku blm pernah dan lebih menarik ), desanya banyakan pemuda ( yu know my problem with pemuda sunda dlm hal2 tertentu )jadi jgn terlalu berharap akan kembang desa, lalu entah sial apa kok di kelompok saya yg mayoritas cewek ini kok juga ala kadarnya alah..
mungkin ini terlalu vulgar tapi di tengah tekanan ini saya memang merasa butuh refresing, kesempatan, udah capek tak berkutik ikhtiar, dosa ... ah!
buat pulang males juga salah satunya aan udah di sana pula, paling yg diharapkan klo pulang pergi mendaki marapi
dsini, di kos aan ini, juga tak 'aman' rasanya
buat nyari kos tak gampang, 'itung2an' men meski tak serumit waktu stres sebelum pulang tiba2 dulu
jadi, memang 'menjalani' aja apa yg mampu dan 'nrimo' apa yg tak mampulah kesimpulannya
seperti sebelum hari ini aku tak mandi 3 hari karna pengennya di agit tapi 'bertemu' dg agit bukan urusan gampang buat saya belum urusan dingin, dan akhirnya tadi saya mandi di kos aan,gimana soal nyuci? ya, gimana nanti. gimana klo sakit lagi, ya toh belum mati!
seperti sekarang, saya makan tadi sore dan sebelum jam11 tak keluar krn dingin dan tentu maleslessu, krn lapar tengah malam kudu keluar, makan bubur tak selera lalu kesini di warnet, nanti pasti lapar lagi, lalu makan mie, lalu bisa jadi sakit perut hingga mencret lagi, dan aku sedang menumpang sekarang ini
ya..jalani, jalani
terakhir: selamat buat si njonn yg berhasil kembali menemukan kebahagiaan di jalan Tuhan, intinya disana kan njonn, bahagia! persetan seberapa jauh kita pahami benarnya
tapi saya juga tak tau harus menyalahkan apa
saya kan juga pemain dari sandiwara ini semua

jatinangor,19desember2004
yach, udeh lama juga ya nggak nulis di 'forum' ini, sekarang gw sempetin dah. terakhir kayaknya msh sebelum kkn juli agus kemaren nih. kkn: ya begitulah. ada renca buat mencerpenkan kalo perlu menovelkan kisahnya waktu pulang kemaren, tapi sampei sekarang belum kesampaian juga
kemudian kost-an dari numpang di aan aku pindah ke caringin, bertahan disana empat bulan, mulai dari beres kkn, sampei sehabis lebaran ini aku baru pindah seminggu ke hegarmanah.
agus-september ada kegiatan seminar linguistik dan ospek. kuliah kayaknya seperti biasa. kalo istirahat, paling jika ada si jon aku main catur di pedca. ya, wilayah pedca mulai sering jadi tongkrongan, terutama sejak si jon numpang tidur disana. perkembangan yeah sepertinya mandek buat saat ini.
pulang ke rumah november-desember: biasa, malah aku nggak kemana-mana walau cukup lama, paling ya ini: naik pesawat jadinya ke sini. tadinya aku niat nggak pulang, tapi gara-gara sakit dan aan rencananya pulang (jadi siapa yg bisa nolong aku jika gawat nantinya) dan ternyata aan tak jadi pulang namun tiket terlanjur beli, ya aku yang pulang jadi.
yang paling baru paling soal ini: udah jatang juga rasanya cuap2 di ruang kuliah dan diskusi: di diskusi super condom aku mampu melempar pertanyaan cukup menarik dan pas sapardi datang ke kuliah kapita kamis kemaren cuma aku yang sempat nanya dan panjang lebar ; kemudian aku udah ganti hp haier barusan dengan samsung 388 dan ya tadi aku bareng jon epul dan pipin nonton dago festival.
masih banyak yg belum jelas dan masih bbuuuannnyakkkk yg kudu ditulis, tapi apa daya badan ini gampang capai.....

jatinangor,17januari2005
yah udah lama nggak nulis lagi
singkat2 saja karena warnetnya udah mahal jam segini
hari ini aan pulang ke padang
libur dimulai dan aku bakal manyun utk sebulan
kecuali main kemana yang itu bergantung pada jarang2nya aku punya tenaga dan yang pasti ngabisin duit pula
nyari duit.....sekali lagi soalnya tenaga
kalo cuma berharap dari nulis aja misal, manyun wae di kamar, bete oge
tapi gimana lagi
ah, dalam ketakpastian ini apapun bagiku sepertinya masih mungkin terjadi
apa yang telah terjadi, sepertinya biasa aja
gw masih maennya ama si jon di kampus
si jon masih bermasalah di keluarga
si jon atu lagi lain pula perkaranya
oo, paling hobi tambahan selain ke warnet, buat ngabisin waktu, adalah maen game
itupun kalau udah bosan dan belum nemu yang menyenangkan lagi ndak tau lah aku harus bagaimana
kemudian masa-masa ujian yang penuh tugas
ya ini gara2 komputer yang belum juga aku beli disebabkan kondisi kost-an yang listriknya nggak kuat
sebenarnya waktu cukup panjang buat aku mengumpulkan bahan, nulis, terus ngetik
tapi ya taulah gimana kondisi fisikku ini
bete juga ngagoler wae di atas ranjang
tapi asli deh gw leher ini seperti nggak kasih kesempatan buat ngapa2
oya, beberapa hari yang lalu ama mampir ka bandung dari perjalanan wisata bersama rombongan guru2 sekolahannya
dan terasa bete sekali waktu aku ke rumah teta
seperti betul dah kalau nggak perlu2 amat aku nggak bakal ke sana
kondisi kostan sekarang lumayanlah, sekarang aku di hegarmanah bawah
walau nggak rame2 amat tapi asli more better
sekarang pas libur semua pada balik paling tinggal aku sama munawir dan istrinya
kawin juga ah..
fucknshit!
apa lagi yang berharga dari hidup ini, tapi lalu apa sesudah mati
aku memang tak mau jatuh pada kesempitan berpikir
tapi kuterjepit diantara sekian gigir
walau sekarang meski belum terang relijiusutas mulai bersemi sedikit ala kadarnya setidaknya
tapi tak taulah
tak ada penyelesaian
oke sekian saja
lain sempat aku nulis lagi dah

jatinangor,19januari2005
baik, baru selang dua hari aku nulis lagi
ya, kebetulan ka warnet lah, meski dah padi nih
dan nanti aku musti nemuin Kusman ke jurusan buat nyerahin tugas
kalo nggak ada si jon, aku sendirian tu
sementara orang lagi sidang sarjana di sana
aku apa gak pa-pa pake sendal
apa musti bawa tas skripsi tu
atau jangan-jangan informasi soal sidang hari ini tu salah pula
itu artinya kudu ngeposin atau ngantarin tugas ini ke rumah Kusman
sementara batasnya tanggal 22
dan sekarang di kamar kos aku lagi diteror ama si tikus mungil
tadinya dibiarin karena aku males, sebetulnya juga karena capek aja rasanya, dan kupikir tu tikus nggak bakal terlalu mengganggu
ternyata ampun lemari dan kamarku jadi bau pesing
sementara buat ngusir capek
makananan simpenanku rusak
dan aku manyun2 lemes aje di tempat tidur
ada lagi soal pengeluaran sepertinya lagi banyak gara-gara:
anggap sajalah:kecanduan
maen game
daripada stres manyun mulu
dan liburan ini membuka kesempatan untuk itu
sementara pas lagi kuliah stres juga gara2 bermacam2 tugas
lalu kalo hepi2 dg maen ke mana, misal ada, itu artinya ngabisin duit dan iya kalo kuat, seperti rencana mau naik gunung ke merapi karena udeh ada ronal di yogya atau rencana dagang atau rencana maen ke izal ajis atau rencana2 bertualang lain yang lebih gila
sementara di kos manyun
buat ngambil air wuduk aja kedinginan
mandi, boker, makan sepertinya gara2 terpaksa karena harus hidup juga
dan rencana hidup ke depan?
persetan..!!!
yak, gimanapun aku juga benci setan
HIDUP TUHANNNN
YEAH, emang kalo akumampuslalu gimana
tapi kenapa aku tak jalani perintahnya
dan parahnya lagi ini udah soal hati yang meragukan
tapi parahnya juga meragukan tapi tak beroleh jawaban
dan sekarang2 ni musim sakit biasanya ni
tapi untunglah belum....sekali lagi sekedar belum ampe sekarang
seperti sakit yang tergeletak tak berdaya seorang diri kayak setahun kemaren di kost-an yang di sayang
oh ya, aku sudah nulis nggak ya..
ini, soal kedatangan Sapardi ke ruang kuliah ksku
aing wae nu sempet cuap-cuap
meski sempet pula ditanggapi asal sebab ambisius oleh mas agit sakedap
dan juga sama nana aku tambah punya nama pula sepertinya
di kuliahan bareng 2004 die bahkan panggil, hapal, nama gue
itu pertanda bagus kata si jon mah
ya anadai tak bermasalah dengan fisik ini, mungkin aku tak ragu lebih bergaul dg para dosen tu
ini terkait pula dg pergaulan umumku lainnya
yeee akhirnya ngomel juga
padahal aa gym nyalahin manusia pengomel
lalu aku punya keunggulan apa
sepertinya ada
tapi apa anda bahagia?
soal, yeah
yang 2004 itu mengambang
dan aku memang tak berani mengambil keputusan
yeee ujung2nya bisa ngomel lagi nih
dg ainul ya tambah dekat jugalah sekarang meski tetap masih berjarak jika dibandingkan dg ukuran idealku tentang kami yang sekampung
meski aku tetap yakin tak salah menduga setidaknya sepenuhnya tentang die
tapi bersikap pragmatis sekarang harus kucoba demi capai bahagia
begitu juga pergaulan dg temen2 lain di kelas sastra
meski sebetulnya masih tergolong stagnan tapi sedikit juga ada perbaikkan lah seiring keberlamaan
kayak dg abah, yang sepertinya tambah ngehargain
meski gaulnya seh maseh ama si jon wae
manyun aku ka pedca lamun si jon teu aya
walau sama si jon pun main catur doangjuga akhirnya
dibilang akrab aku juga belum pernah maen ke rumahnya
sementara si jon yg atu lagi entah kenapa sekarang sedikitlah seperti agak menjauhkan diri
mungkin ini sekadar soal si teteh doang
sekian dululah
tau nih apa masih bakal kuat ke si kusman
tapi sedikit lagi soal rencana ke depan
aku dah nargetin walau manyun wae misal di kost-an, aku pengen nulis
mudah2an menghasilkan
memang ini lah bidangku
meski untuk ini pun dan pula habis rasanya badanku
tapi aku harus tetap hidup.. ohhh
salam buat para mujahid yang betul2 bakal masuk surga.

wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww
wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww

5/2/05
Its my first note here. Akhirnya setelah sekian lama menunggu aku beli komputer juga. Dan sebaiknya untuk saat ini aku bicara tentang komputer ini dulu, dan ala kadarnya dulu karena nota ini saya belum yakin sepenuhnya aman.Aku beli kira2nya udah hampir 2 minggu di sebuah tempat “toko komputer” yang masang iklan di koran. Tempatnya di Cijerah. Pertama aku ke sana buat liat2 dulu tapi akhirnya memutuskan untuk beli juga. Hari pertama aku ke sana, sewaktu pulang aku belum memutuskan buat beli. Baik dengan pertimbangan harganya yang murah maupun keterbatasan pengetahuanku tentang komputer. Tapi akhirnya aku mengalah, besoknya ku telpon ke sana dan minta ia ngantar ke sini dan dia antar. Sebetulnya dengan menelpon ke sana itu sudah menunjukkan ke raguanku. Hari pertama dipasang sempat ada masalah karena habis dibawa sama motor ada ‘jero’-annya yang longgar, namun akhirnya jalan. Terus ada persoalan keyboardnya yang sempat membuat aku curiga bahwa keseluruhan komp.nya juga bermasalah. Sebelumnya aku juga sudah diberi saran untuk mengganti keyboard, yang artinya nambah biaya, namun aku tak mengira kalo keyboardnya separah ini. Setelah ganti keyboard, dan inipun ada tetangga sebelah yang ternyata anak jur. Komp. yang ngeliat barang saya ini sehingga bisa ngasih saran jika ada persoalan, komputer ternyata jalan normal. Tentang tetangga itu, aku baru tahu belakangan kalo ia anak komp. sehingga ada penyesalan sedikit kenapa aku beli terlebih dahulu. Masalah terakhir adalah bahwa ternyata aku telah memasukkan virus ke komputer ini lewat disketku yang kukura bersih. Inipun diketahui setelah anak komp. itu ngeliat ke sini. Sempat stres juga. Bagaimanapun dengan adanya anak komp. ini, ia bisa ngasih saran aku bila ada hal2 yang tak kumengerti soal komp. semisal solusi mem-format ulang yang aku tak ngerti gimana caranya. Soal virus ini, si anak itu ngasih solusi disuruh instal ulang yang artinya aku harus nyari cd window dll. Ternyata setelah ngoprek internet tadi pagi, aku dapat petunjuk tentang cara memberantas virus yang ada di komp.ku tersebut. Dan setelah dipraktekkan, sepertinya berhasil. Nggak tau kalo masih ada yang belum kuketahui. Satu kekuatiran baru saja lewat barusan, sehingga mulai nulis lagi sekarang, setelah biasanya di warnet langsung sebab, sepertinya, data sudah aman, setidaknya kalau benar virusnya udah nggak ada. Masih ada persoalan lain sih, semisal tentang kemampuan cd-rom ku yang sepertinya payah. Dan masih banyak persolan lain yang menunggu, bahkan yang belum kuceritakan. Lain kali barangkali. Bye…

6/2/05
sedikit saja.
aku barusan beres2 dikit, gara2 tikus itu -- yang dalam diari di warnet aku pun perasaan udah cerita.
masih ada sih sebetulnya yang harus diberesin mengenai ini juga, tapi stop! aku cuman rasanya sanggup sampai di sini.
dan masih ada hal lain yang harus di kerjakan.
dan masih banyak yang, entah perlu apa tidak, rasanya ingin kuceritakan.
tapi, mudah2an, untuk sementara cukup sampai di sini dulu.

7/2/05

sekarang komputer ini lagi bermasalah dalam hal cd rom nya, sejak kemaren2 udah mulai dan sekarang memuncak.
kemaren hampir saja vcd yg kupinjam dari rental ketahan di dalam.
sekarang vcd punyaku yg ketahan dan belum bisa keluar.
udah aku coba pake cara namir, tapi gagal.
kemaren nawir ngetes, dan ia punya solusi "jalan pintas" kalo cd ketahan di dalam, tapi entah kenapa aku gagal.
sepertinya memang komputer ini buat kubongkar2 aja sebagai sarana belajar, tapi benarkah aku masih punya cukup tenaga untuk mempelajari hal2 teknis lagi?
tanpa cd rom sebetulnya komp. ini sejauh ini setidaknya aman sekedar dipakai ngetik dan denger lagu yang udah ke instal.
paling nanti ada kemungkinan masalah ketika disket keluar masuk di floopy disk dan membawa virus. virus yang tak bisa diatasi, seandainya pula tak membuat kerusakan pada hardware alias sekedar menyerang software, solusi terakhirnya adalah format ulang alias nginstal lagi dan itu butuh cd-rom.
padahal aku udah nambah buat dapat cd rom ini.
sempat kepikir juga buat datang ke tempat beli sana balikin ini dan minta duitnya lagi (sepertinya khusus cd-rom karena komp. gimanapun aku butuh pisan, nggak tau kalo jeroannya setelah dibongkar bareng nawir nanti juga parah amat karena sejauh ini sepertinya tak masalah), tapi apa bisa minta duitnya lagi dan lagian aku capek untuk urusan2 kayak gini.
bali cd-rom lagi, duit.. dan, dengan pengetahuan yang masih terbatas soal komp. apa bakal ngejamin aku beli lagi tidak menemukan masalah yang tak diduga lagi.
akhirnya aku butuh komp. ini buat belajar, tapi ngebongkar berarti membuka kemungkinan pula untuk bermasalah mengganggu tujuan mulia buat sekedar buat nulis skripsi, tapi bukankah seperti sudah kubilang tadi aku tak biasa sekedar nulis skripsi tersebut, sebab bagaimanapun cd rom dibutuhkan buat nginstal, dan perasaan aku juga membutuhkannya buat hiburan: film maupun musik.
belum lagi kalo ada masalah lain belakangan seandainya pun komp. ini tak aku apa-apakan, sebelum skripsi beres.. sangat mungkin sepertinya.
mau tak mau sepertinya aku harus mempelajari dan membongkar komp. ini, mau tak mau.. kuat nggak kuat..
dan barusan acara nulis2ku kepotong sebab komp. ini juga dan barusan cd-nya bisa keluar, mungkin soal memorinya yang terlalu tersita karena waktu ngetik ni aku ngidupin winamp dan cd-rom terus jalan tak bisa dipotong.
kita lanjutkan lagi..
soal lain:
aku hari ini nyuci dan ngejemur pakaian diluar, belum terlalu lama meski khusus untuk sarung udah agak kering, hari terlihat mendung.
aku belum ngangkat jemuran, menunggu beberapa waktu lamanya memastikan bahwa hari akan hujan biar aku tak dua kali kerja.
ternyata setelah berapa lama cuaca sepertinya tambah mendung, segera jemuran kupindahkan ketempat aman... eh, semenit dua menit cuaca malah berubah cerah.
lalu akupun nunggu sebentar, nggak mindahin dulu agar tak dua kali kerja.
meyakinkan dulu bahwa hari akan cerah.
setelah berapa waktu sepertinya masih cerah, pakaian pun kupindahkan lagi ke alam terbuka dan tak berapa lama.. turunlah rintik hujan.
segera, padahal lagi ngaso sehabis makan -- dan aku nggak jadi makan keluar tapi di sini saja juga dipengaruhi prakiraan cuaca ini -- aku mengangkat lagi jemuran ke tempat teduh.
dan tak berapa lama, cuaca mulai agak cerah lagi..
sampai sekarang..
dan aku, udahlah, membiarkan saja pakaian dalam posisinya sekarang dari pada kecele lagi.
nggak terlalu cerah, memang agak mendung, tapi yang pasti hujan sialan itu nggak jadi.
ini semua bukan fiksi yang hiperbolis tapi kenyataan, padaku hari ini.
dan kejadian2, seperti kali ini, yang kusebut nasib sial itu bukankah sudah terlalu sering aku tuliskan.
saru contoh lagi untuk hari ini saja adalah betapa aku lupa bahwa besok kalo mau make sepatu krs-an seharus kaos kaki itu nggak usah kucuci dulu, takut nggak kering dan kaos kakinya juga ngga terlalu kotor sebab cuma dipakai tidur.
aku, alhamdulilah, lupa.
tentang jemur menjemur inipun rasanya kejadian kayak gini entah udah berapa kali, kesalnya bukan di tak mengiranya tapi di salah kiranya.. semakin aku berpikir semakin aku menjadi bodoh rasanya.. (untuk hal2 teknis?).
apalagi aku orang yang mempunyai masalah kesehatan terkait kondisi cuaca, semakin terbukalah peluang buat aku selalu mengumpat sial setiap harus berpikir mengenai reaksi cuaca.
apa sebaiknya aku tawadu' saja.. menyerah pada keadaan.. nggak ngapa2 ini.
tuhan menyuruh berusaha dan tuhan jugalah yang punya kuasa menggagalkan usaha kita, apa ia mempermainkan kita para boneka ciptaannya?
haha.. terkait soal hujan ini, aku pernah punya khayalan bahwa aku adalah titisan salah satu dewa di khayangan sana, dewa cuaca kebetulan membenciku sehingga mumpung aku jadi manusia tak berdaya di muka bumi ini, ia berusaha menyusahkanku.. ya tuhan aku dari dulu menunggu keterangan darimu dan sungguh aku tunduk pada kuasamu.
soal lain lagi:
kemaren aku pagi nyempetin ke agit, dengan segala keterpaksaan berkunjung ke dia, buat minjam cd window dan sekalian liat tulisan sapardi. waktu aku ke sana si agit ngakunya ngantuk berat sehingga aku masuk, ia pun terus tidur. sebentar aku nyari2 window 98, nggak ada, daripada manyun didiemin aku pun pulang selagi si agit lagi tidur.
pas nyampe di jalan ke hegarmanah dari gerbang datang telpon dari agit yang membuat kesan dia seolah2 merasa bersalah aku jadi pergi begitu saja.
entahlah, yang jelas aku sudah dapat kesan bahwa die emang ingin mencueki aku bahkan aku berpikir bahwa telfon ini sandiwara doang, pintar juga beliau merakayasa peristiwa jika benar begitu.
tapi bisa jadi ya, bisa jadi tidak, wallahualam bi shawab.
ada orang yang menjadi besar engan jalan mengangkat potensi dirinya tapi ada yang juga yang berusaha menjadi besar dengan jalan menekan ke bawah orang lain di sekitarnya biar dia kelihatan besar di tengah kekerdilannya. dan aku memandang si agit ini cenderung pada posisi kedua dalam sikapnya terhadapku, begitu juga aku melihat mayoritas orang2 di sekitarku yang membuat aku terpuruk dan terpuruk lagi.
bisa dihitung dengan jari lah rasanya teman2 atau orang2 yang tak begitu bersikap padaku, bisa disebut jang pii, miza, pegi, ice, febi arsal.. teman sebangkuku di mtsn, oh siap lagi ya.. sepertinya aku belum berani menyebut yang lain selain ini.. juga berberapa orang lain yang tak terlalu dekat denganku sepertinya, alfred, peri, abang buncik, rasid, haqi, esa... bahkan eko, para jon dan sejenisnyapun aku masih ragu, bahkan suprandi yg walau sekarang kurang dekat kerana ia sempat bermasalah dengan aan bisa kumasukkan juga ke golongan orang2 yang tak bersikap buruk itu, oh ya barkah oke satu lagi. tapi sudahlah, ini analisis yang masih lebih banyak bermain di wilayah perasaan yang masih agak kabur dibanding uraian pikiran yang jelas.
oke, segini dulu cuap2 untuk kali ini.
nb: hidungku gatal2 lagi nih, maka daripada itu lebih baik berhenti dulu maksain nulis..

wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww
wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww

160205
komp. ku setelah sempat bisa jalan lagi kemaren2, sejak kemaren2 ini manyun lagi. sekarang gara2 si nawir yg memformat hardisk dan belum bisa nginstal lagi. rencana nanti mungkin nyoba lagi. dan nulis ini pun kembali langsung di sini, di warnet. sementara tugas udah mulai numpuk, apalagi besok2. damn! tapi mau gimana lagi, aku gimanapun juga salah karena menuruti dia aja akan digimanakan komp.ku, tapi kalo ngacuhin dia apa aku tak bakal bermasalah suatu hari dg komp. tersebut. dalam keadaan begini, aku memercayai diri saja pd si nawir yg belum terlalu ku kenal sebetulnya itu. sekali lagi mau gimana lagi, emang ke siapa lagi aku bisa minta tolong. dan kenyataannya, ketika sudah merasa cukup beruntung kali ini, ternyata aku dibikin down lagi. capek sumpah. tapi gimana lagi. ngomomg2 soal kalo aku nuntut dari si nawir, emang seandainya pun bisa, dia mau ganti pake apa, keadaannya juga lagi begitulah. yang hanya bisa kusalahkan itu adalah kenapa aku masih selalu berada di waktu dan tempat yang salah. seandainya ada dia, tentu ini kehendaknya. kenapa? ini yg belum sanggup kucerna. dan untuk diari inipun aku belum berani publikasi, nggak tau kalo si nawir goblok tu bisa buka. dia udah pasti goblok, cuma masalahnya aku udah pasti sial. ya tuhan, ampun. untuk diari2 digital lainnya nggak tau kapan aku akan memutuskan untuk dipublikasikan. yang masih tersimpan di kertas2, entah kapan?
soal kuliahan, sekarang aku lagi stres juga mikiran bahan untuk penelitian. senen besok kuliah seminar udah ngumpulin latar belakang masalah. sementara aku masih bermasalah dalam memastikan judul, terkait dengan target dan kemampuan, parahnya aku bermasalah lebih berat di kemampuan teknis, seperti pergi nyari bahan, ngebacanya (terkait kekuatan leher kepala) bukan memahaminya (terkait kemampuan otak). lagian otak ini tambah tak beres sejak sering pusing menghadapi masalah yang tak sanggup ku cerna. belum lagi beberapa hari berikut aku akan berhadapan dengan tugas2 lain dari mata kuliah lain. sementara komp. saja, pun!,belum beres. anadai ke rental merupakan sebuah solusi. mungkin ya sebagai solusi terpaksa. sekiian dulu.

wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww
wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww

180205
setelah dicoba instal lagi kemaren oleh nawir, komp. sekarang udah jalan. cuma ada satu kejadian yg kukira berefek negatif antar kami dan kejadian tersebut tak kusangka pula. entah apa harus diberi nama sial lagi. sewaktu becanda-canda dengan anak2 yg lain, dan nawir lagi nginstal, aku ngomong soal nawir yang jual voucher dikeranakan cinta, sebagai respon atas obrolan kami2. tetapi setelah kupikir2 lagi, ungkapan spontanku itu sepertinya bisa menghadirkan tekanan jiwa pd nawir. hal ini kusadari lewat mimiknya yg rasanya berubah. untung udah beres nginstal, meski nginstal-nya seperti masih ada yg kurang beres, yg bisa jadi dikarenakan efek ucapanku itu, tapi akupun kadang juga terpikir bahwa 'serangan'ku itu tak apa pulalah sebagai balasan atas gayanya selama ini. cuma bagaimana dg pc-ku. ah, sementara yg penting jalanlah.
soal kuliah terasa manyun sekali sekarang karena jarang ketemu anak2. si jon uj.berung belum nemu aku, si jon kantin udah dua kali main ke kost-an sejak seusai liburan dg oleh2 cerita seputar 'buah karyanya'. tugas mulai berat, ke perpus mulai sering, untung komputer semalam mulai jalan. nggak tau kesialan lain yang telah menunggu.
soal gaweanku buat seminar yg entah apa sekalian buat skripsi emang cukup berat terasa sekarang menekan. keinginanku, kurasa ada jugalah kemampuanku, harus terhambat dengan keterbatasan kemampuan teknisku. memaksakan diri apakah merupakan sebuah solusi? emang mau gimana lagi? tidur? selagi masih hidup mah bosan juga. nyari mati? astagfirullah, aku belum sinting2 amat sampai detik ini.
dan masih banyak hal yang perlu dibicarakan..
beranikah aku mengambil kesimpulan...
tapi tetap haus ada sebuah pilihan....
sekian.....dulu.

wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww
wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww

250405
Sebuah pengakuan akan kutulis. Bukan demi apa-apa, selain agar tak ada beban yang harus terus disimpan. Sebab suatu pengungkapan, mudah-mudahan akan terasa bagai pencerahan. Juga tak ada yang ingin dibanggakan. Ini hanya pandangan hati yang kujadikan pilihan. Sebab aku manusia, yang hidup di antara sesama manusia. Sebab aku makhluk, yang berbuat pada setiap makhluk. Dan sebab aku sesuatu, yang akan menuju mati seperti “segala” sesuatu. Dan ini hadiah bagi Yang Tak Kutahu. Untuk-Mu, Yang Maha Tahu. Haha.

Di tengah-tengah calon skripsi yang saya kerjakan, yaitu yang berkenaan dengan upaya penyadaran koruptor lewat sarana estetik teks sastra (yang bersifat kontemplatif), saya teringat kepada sesuatu hal yang berhubungan dengan korupsi ini. Dan, ya, berhubungan langsung dengan saya pribadi. Sejak beberapa bulan lalu saya selalu menyisihkan sebagian uang kiriman bulanan saya dari rekening di BNI untuk ditabungkan ke rekening pribadi di BRI. Sampai sekarang, kalo nggak salah, totalnya udah ada sekira satu juta lebih dikit. Saya tak terlalu ingat persis bagaimana ini bermula. Barangkali berawal dari sisa uang pembelian komputer yang tak mungkin kutabung lagi ke BNI sebab buku tabungannya ada di rumah. Tapi sepertinya juga hal ini memang telah saya rencanakan juga. Saya sengaja mengambil lebih uang di tabungan meski sudah tahu bakal berapa duit yang kira-kira bakal keluar. Ini terkait dengan keinginan saya mengantisipasi kesulitan finansial (setidaknya sementara) nanti disebabkan faktor semakin “berjaraknya” saya dengan pihak orang tua yang selama ini menyandang dana. Padahal sebetulnya ini tak jelas juga tujuannya, bukankah saya sudah merasa sangat tak jelas akan “masadepan”. Kenyataannya, sampai bulan kemaren (maret) saya masih merutinkan “nyolong” dalam jumlah tertentu buat masuk ke rekening “pribadi” saya. Hal ini juga terkait dengan ketidakmauan saya menerima kepasrahan bahwa hasil berhemat saya disini sia-sia saja (buat kepentingan pribadi saya). Cara pikir seperti ini tentu dipengaruhi oleh masa-masa sekolahan saya dulu yang tak gampang mendapatkan duit dari orang tua. Sekarang ada kesempatan, apa saya akan sia-siakan dengan kepasrahan. Sebagai contoh, hasil saya berhemat beli komputer atau bayar kost atau emang hasil berhemat dari jatah bulanan, seandainya tak saya ambil tentu akan berakumulasi dan membuat kiriman rutin selanjutnya bisa dipotong, sebab rekening saya sudah cukup banyak tersisa. Buktinya, jatah uang kuliah semester sekarang tak ada karena duit di tabungan saya sepertinya dianggap masih cukup. Lalu bukankah sampai saat ini saya tak pernah meminta kecuali yang betul-betul dibutuhkan, atau dalam bahasa lain: saya tak pernah bohong meminta duit. Selain buat hp dan komputer, saya selama ini memang merasa cukup “sajalah” dengan kiriman rutin. Kembali lagi ke soal persiapan masa depan vs ketakjelasan tentang apa itu masa depan tadi, ya beginilah paradoksitas takdir berkehidupan saya. Manusia paradoksal, kata si Blecos dalam sebuah sms-nya. Beberapa pembelaan bangsat saya sebelumnya ini mungkin perlu saya tambahkan pula dengan sebuah niat mulia. Sewaktu mau membuka rekening pribadi tersebut saya sempat terpikir untuk menabung di bank syariah. Tapi sebab tempatnya yang jauh (musti ke Bandung), sayapun mengundurkan niat. Bah! Saya yang tak taat syariat ini? Menabung, akhirnya, di BRI itupun juga dengan sebuah motivasi suci: menolong rakyat kelas bawah yakni. Bah! Padahal kebetulannya aza tempatnya gampang dijangkau. Tapi inilah paradoksitasnya kehidupanku kawan. Lalu duitnya buat apa? Paradoks, paradoks, paradoks…! Ehm, tapi pasti berguna ya. Ya, kalo masih hidup, dan yang penting: kalo masih sanggup menikmati hidup, itu.

wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww
wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww

170605
aha, nulis lagi. setelah kemaren2 aku pidato2an soal korupsi, bahan seminar dan komputer, sekarang (setelah ini hari2 sesudah berlalunya ragangan) tema saya adalah mengenai problematika skripsi yang akan dikerjakan dan pulang (selasa besok). setelah pindah jalur dari apa yang saya bahas di seminar, usulan kedua saya kemaren baru diterima oleh pak nana (yang itupun dengan dahi berkerut dan -- katanya saya -- rada maksa, sebab daku masih belum mengikuti gimana skripsi biasanya sebelum2 ini). aku nganalisis stilistik sajak pr dengan pembimbing hamid vs nana. pertama saya merasa berada dalam persoalan perbedaan sikap politik dua orang itu terhadap pr, kedua kalopun saya ngikut yg senior (inipun bukan berarti tak ada persoalan) saya sangat berkeberatan dengan tujuan penelitian yang diinginkan hamid. setidaknya dari hasil konsultasi resmi tadi siang, saya udah makin melihat tertutupnya kemungkinan buat mengikuti objektivitas yang saya ingin. apa daya, sebentar lagi pulang. daripada manyun di rumah, kucoba jugalah mengerjakan dengan sebisa mungkin ngakalin arah penelitianku ini seperti niat semula. semabari aku nyiapin proposal baru, andai tak ada titik temu yang bisa didapat nanti. atau aku akhirnya menyerah untuk menuruti maunya hamid. wau, aku makin setuju dengan pemikiran tentang subjektivitas kritik sastra dari pak david bleich tea. yang penting sekarang pulang...pulang...dulu. padahal juga ngapain di rumah? (udehlah...paradoks wae maneh teh, ceuk burung tea)
buat pulang, aku mulai bersiap2 pindahkan barang ke aan. repot. tapi rasanya mendingan sekarang lah dibanding kerepotan pindah2 dulu. tapi, proses angkut barang itu belum saya jalani. dalam dua tiga hari ini lah. dan, unin mau nikah (rencananya hari minggu), ante kesini, kabarnya kemungkinan di rumah teta, aku harus hadir. ditambah, apalah seorang aku yang sontoloyo ini bisa kerjakan buat membantu anteku yang (serius) salah seorang yang paling kuhormat.
soal komputer sampai detik ini belum terjual juga. tapi mending kutitip si barkah daripada dijual murah. gitu2, sekarang aku dah ngerti problem tu komputer dimana. kepake kok, cuman sayang daku musti pulang. oke segini dulu sajah, udah pagi, nggak keburu lagi.

wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww
wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww

Tuesday, August 16, 2005

sekarang. hampir habis waktuku di sini di tempat pulang. home, kata orang barat. home sweet home ceuk montley crue. banyak rencana semula. alhamdulilah, tak kulakukan. bahkan rencana mendaki 17'an ini saja sepertinya pasti tak jadi. alamak. skripsi, jangan tanya. tak kusentuh. rencana bisnis, gagal total. rencana hidup, masih sangat tak jelas. berobat, lagi jalan karena entah kenapa baru kemaren-kemaren kumulai. dan mengecewakan. sepertinya akan terkatung-katung lagi besok-besok merantau. merasa susah di mobil dan kemungkinan mahal pesawat makanya aku sekarang lagi buka-buka situs kapal pelni. itupun berangkatnya senen besok atau september. entahlah. sementara di rumah cuma tidur..tidur, 'sakit' juga ndak, menulispun no. cuman sesekali jalan sama eko yang salaf tea. gadung, hampir 2bulan disini kesana aku cuma 2 kali. teman-teman, aku bingung apa harus dicari. setidaknya, karena banyak dirumah aku berhenti ngerokok beberapa waktu ini. lumayan buat perbaikan badan meski pas keluar terkadang ngelakuin juga. soal gizi dan kebugaran, masih begitulah.
dan aku cukup sedih sebab 'situasi' tak bisa berbuat banyak membantu rio yang ndak lulus spmb.
maka wajar, sering aku impikan nantangin segenap preman dan hantu di dunia ini. namanya sudah tak takut lagi mati. neraka sih, seandainya ada, masih takut.
dan usaha untuk beribadah dirumah pun terkatung sebab kondisi dan situasi. sungguh sangat tak banyak yang berubah.
dan sebentar lagi aku akan pergi kembali, kembali pergi, kembali untuk pergi, dan apakah kepergian ini masih akan berujung kembali? kerusakan di otakku sejak beberapa waktu lalu itu membuat aku tak sanggup pula berpikir setelah tak sanggup untuk berbuat. hanya jalani dan jalani...

wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww
wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww

Padang, September 01, 2005

info

setumpuk catharku dari jaman mtsn sampai awal2 kuliah, kemaren kubawa ke rumah. ada rencana untuk mengetikkannya ke komputer, tapi belum juga terselenggara. sekarang aku bingung apa buku2 itu kutinggal aja di rumah. takut juga sih bakal sirna sebelum sempat di cyber kan seperti di blog ini. kalau dibawa lagi repot, takut tak terjaga juga. besar kemungkinan kutinggal aja di rumah. bagi yang berminat akan catharku itu, bayangkan diari selama kurang lebih 8 tahun bo', silakan mencarinya. mana tau tiba kalanya aku sudah menjadi yang tiada.

terimakasih bagi pemerhati kehidupan,

tinggal beberapa hari lagi, aku balik ke jawa sono. tadi barusan terakhir berobat dengan kesimpulan aku menderita kista di leher ini dan disarankan operasi meski dokternya tak mengharuskan sekarang. sementara soal tulang leher ini, dan hubungannya dengan saraf2nya tak jelas. bagaimana lagi, beginilah kondisi berobat di rumah sakit umum dengan segala ketergesaannya ditambah apa yang kualami ini kukira termasuk udah cacat bukan sekedar penyakit yang jelas dan dapat dengan cepat diidentifikasi sebagaimana yang diinginkan keinstanan berobat gratis dengan askes ini. yang jelas dari mulut para dokter yang berganti2 itu aku mendapat dua keterangan: tulang leherku lurus, normalnya bengkok dan ketaksejajaran pada tulang atas dada ke bahu. aku sudah menduga dan masih banyak bagian tulang lain seperti tengkorak kepala ini yang tak diomongkan para dokter karena saya mahfum mereka tak punya waktu menelitinya. mereka hanya bisa memvonis hal-hal yang pasti dan umum dan udah jelas dikenali. hal yang membuat aku sedari dulu ragu untuk ke rumah sakit. dan kesimpulan gampangan mereka tak bermasalah di tulang ini. mau bagaimana lagi. yang pasti senen aku akan balik dan soal operasi kista ini aku tunda dulu saja. sikon di rumah dan kerjaku di jawa sana membuat aku memilih balik saja. entah apa aku akan balik lagi kesini untuk berobat ataukah tak akan balik-balik lagi? aku sudah mendapatkan perumpamaan bagi masalah di leherku ini. ibarat orang yang kakinya sudah lumpuh, minimal ia masih bisa pake kaki palsu, tapi (tulang)leher ini gimana menggantinya. aku bahkan sempat berpikir lebih baik lumpuh dan sejenisnya daripada kondisi sekarang ini, setidaknya aku masih bisa mengisi hari2 dgn membaca menuntut ilmu. sebab, itulah duniaku. lagipula untuk aktifitas fisik aku masih berhadapan dengan sekian kendala lagi, yg intinya fisik yang tak sehat. tapi inilah kehendak-Nya. mudah2an aku bukan orang yang lalai, dan sial seutuhnya, jika Ia ada. semua akhirnya terserah padaMu. aku juga sempat berpikir tadi, jika kembali ke tanah nanti memberikan tubuhku ini untuk diperiksa oleh orang kedokteran. sekalian amal, sekalian membuktikan apa yang kukeluhkan ini tak dibuat-buat. ngapain lagi hidup ya,beraktifitas fisik terhambat, buat sekadar menjalankan hobi baca buku pun juga. paling tinggal mikir, berkhayal, dan berdoa mudah2an tak tersesat. karena percaya padaMu (dan takut juga) aku masih bertahan Tuan. bertahan bengong di bumiMu yang berkah sekaligus penuh dosa ini. janganlah sampai aku kau jadikan yang merugi. tetapi tetap, barangkali memang semua kembali padaMu.
sebagai manusia tak normal (dan dengan penuh kesadaran kuakui masih banyak yang lebih menderita dalam hidup ini dibandingku -- apalagi aku masih bisa untuk tak bisa menahan diri dari sesekali kalau ngeluar ngerokok juga contohnya), dalam acara seremonial dan prestisius di keluarga ibuku aku tak berbuat apa-apa. sikon, gimana lagi. its complicated, namun kacamata normal dalam kerangkeng pemahaman kolektif selalu dengan gampang menyederhanakan lalu menyalahkan. ah, setidaknya beberapa kali diskusi dengan eko memberi sedikit banyak tambahan wawasan juga. jadi tak sepenuhnya sia-sia kepulangan ke rumah ini. adigium terakhir, disini fisikku bisa lebih aman (karena kerjaan tidur2an aja di rumah) tapi hati dan jiwa tersiksa, disana yakin fisikku akan lebih tersiksa namun rasanya jiwa dan hati akan lebih merdeka dan bahagia. bahagiakah? toh, masih susah bagi mulut ini berucap alhamdulilah. padang kali ini, dan waktu yang cukup lama ini, antara sia-sia, menjalani saja, dan sejumlah guna aku akan segera tinggalkan lagi.

wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww
wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww

@ kamis, 27 oktober 2005

rasanya, telah cukup lama baru aku "bisa" mulai lagi ber-diaros rios ini. yah, fasilitas memang mempermudah dan, situasi cukup tak sedang mempersusah. seperti subuh yang "kuberkahi" ini, sebab (malah) malas untuk segera tidur lagi (barankgali kerana {malah} mulut yang kepedasan sehabis makan nasi tambah sambel {doang} - buat rencana puasa yang juga belum tentu pasti benar-benar sampei selesai nanti aku kerjakan), ai gerakkan tangan guna curhat (atau berbewara) mencet tuts-tuts keyboard ini. yah, sekarang ai udah punya komputer lagi. dibeli sekitar 2 atau 3 minggu lalu (males euy mengingat persis kapannya - mungkin bener euy otak ini udah cukup parah kemampuan mengingatnya {dan ai jadi teringat ketika begitu "hebat" menghafal soal-soal PPKn buat cerdas cermat ketika masih SD dulu). masih sekelas sama komputer yang dulu, pentium 166-monitor 14"-hardisk lebih dikit jadi 2,1-cuman vga hanya 1m (jadi kesulitan nonton film)-dan, ini dia, cd rom aku beli baru, mudah-mudahan bisa tahan lama (komputernya juga). padahal aku diberi jatah untuk beli komputer baru sama ortu (aku mintanya begitu dan diharuskan untuk membeli yang baru itu - dengan alasan biar tahan). padahal aku udah punya rencana juga - seandainya bisa dapat murah - ai bakal beli komputer jelek aja. duit sisanya bisa dipakai buat beli komputer baru nanti (misalnya akhir tahun yang banyak sale) atau jangan-jangan diperlukan buat "yang lain-lain". salah satu pertimbangan yang membuat aku beli komputer bekas ini adalah ke-belumtahu-anku tentang kondisi keamanan di tempat sekarang ini. sesuatu yang sulit untuk diceritakan pada ortu tentu. tapi aku tak mau kehilangan kesempatan untuk "meraup keuntungan" (atau, oh my god(!), "memeras") dari orang tua. sekarang tinggal soalan, bagaimana kalau aan nanti tahu. sekarang aku telah dikepung pula oleh keinginan dan kebutuhan baru: beli kendaraan buat transportasi. ojek yang tak tanggung-tanggung ongkosnya bisa membuat aku frustasi sering-sering keluar. beli mobil jelas tak bakalan. beli motor, kalo bisa jangan sebab aku ndak tahan masuk angin. sebab pula ada pilihan lain: bebek elektrik. tapi harganya ternyata masih mahal, nggak jauh beda dengan mocin. ai rencana nunggu harganya turun dulu sekalian nyari waktu yang "tepat" (buat minta duit lagi). berat juga kalo ai bayar mahal buat motor non-bbm ini, sebab jarak tempuhnya sangat terbatas (dari sini bolak-balik ke jatinangor aja aku ragu apa bisa) dibanding motor yang (ada) bisa dijajal dari jakarta ke palembang. omong ngomong soal minta duit lagi tadi, ai merasa kecil juga sih kemungkinan buat lolosnya, ndak segampang minta komputer sekarang. atau barankgali buat ini ai harus nunggu punya penghasilan sendiri dulu?
oya, ini barankgali belum sempat dicerita. setelah selesai di depok kemaren (ai juga lupa apa tentang depok stories sudah penah ditulies), ai sekarang nyewa rumah buat setahun di sebuah perum di tanjung sari. satu hal yang penting buat ai ceritakan sekarang adalah kekesalan ai sama ongkos ojek (yang ai pikir seenaknya dan keterlaluan). jarak dari sini keluar (ke jalur angkot) kira2 cuman sejauh dari gerbang ke fapet, eh, ongkosnya naik 2kali lipat. habis juga jadinya 10ribu jika aku bolak balik ke jatinangor.
oke, samantaro sakian dulu caritonyo. lah mulai raso ka patah tulang pungguang jo pinggua angku duduk di muko monitor koa.


@ kamis, 4 november 2005

yak, nulis deui. ada sesuatu (barangkali sangat memalukan) yang sangat ingin kuc'ritakan tetapi (setidaknya sampai saat ini) belum sanggup kukekisahkan. tapi ndak tau juga kalo saya udah pernah nulis tentang ini sebelumnya. jadi tentang ini (atau itu), cukup. hari ini, lebaran. aku manyun di kos-an (atau rumah tanjungsari ceria) ini. tiada berkunjung ke rumah teta. apalagi ke teman-teman. ada fenomena menarik. si blc ngirim sms adin wal aidin. (kah, ada sesuatu baru kesadaran?). sementara lagi bingung juga, email ttg skripsi ndak juga (atau belum {?}) dibales ku hamid. jadi pengen ngerjain yang sesuai ragangan aza jadinya. biar cepet beres. ide berikutnya itu menarik (dan tetap ) menarik juga, sih, buat dikerjakan. cuma ada dua alasan, aku tak ingin juga sepertinya (akan) membutuhkan waktu yang lebih lama, dan kedua, yah, pembimbingnya "segitu" deh. sebenarnya (yang entahlah apa iya sebenar2nya) masalah physic tea oge. lagi segar mah pasti jalan sebab semua (setidaknya konsep awal) geus in my mind. sedang rasanya akupun tambah membusuk (dan barangkali makin bau tanah {sementara persiapan buat akhiratku [?]} - ya, kalo bener). buat mengerjakan hal yang kuanggap sepele dan kurang memuaskan ini saza tangan ini belon juga ("sanggup"{?}) bergerak. yah, gimana nanti dech. lalu....
lalu, sepertinya juga cukup menikmati "siksaan" baru ini: masak sendiri buat makan. setidaknya hiburan di tengah kesuntukan (tiada) kegiatan. bersosialisasi dengan warga (kecuali hubungan 'lu jual gua beli' di warung2) belum pula. salah satunya seperti terlihat dari peristiwa: aku belon pernah taraweh apalagi jum'atan disini, manyun wae di imah teh. pernah sekali mencoba nyamper pak erte (dengan memberanikan diri bercelana pendek sadza), kebetulan, "alhamdulilah", orangnya ndak ada. dan hampir sebulan disini, saya belon juga mood en fresh buat (apa ia perlu berkunjung) lagi. tadinya kupikir hubungan bisa pula terbina dengan jalan: ada yang nyamper aku kesini. ternyata tidak. (barangkali saya dicuekin aja ama masarakat teh). sempat pula berencana memberanikan diri ngegabung ke rombongan pembangun sahur yang lewat tiap sebelum imsak disini tu. ndak jadi. pertama sebab lagi ndak mood en fresh terus (itu). kedua, apa ada baiknya kalo aku betul-betul membaur hingga nanti melebur. ndak enak nanti kan jadi preman yang sakit2an (misalnya).
(sementara aku butuh "the others" buat berdiskusi dan mengasah nalar).
barangkali kau hanya kurang beruntung nak selalu terlempar dalam lingkungan yang, maaf, idiot.
bukan kurang beruntung, saya-nya sadza yang ndak cukup kuat secara physic, physic, physic, buat menggapai cita-cita. (kenapa aku ndak mengikut semacam berbagai kesempatan berupa kegiatan2 mahasiswa {yang sebentar lagi akan di lewat} misalnya).
ya, itu yang lagi bad luck.
bad or luck?
takdir.
lalu yang pasti, banyak amat pengeluaran dari awal september kemaren sampai hari ini. terakhir, aku berbelanja berbagai kebutuhan (bagian dari persipan bertahan hidup) selama lebaran di griya, aku nyampei keluar duit 80 lebih. yang aku paling nyesel itu beli supradyn (di kasir) yang ndak kusangka sampai 20 harganya. tapi dengan betul2 memilih pun aku kerap terkaget juga akhirnya berapa yang setiap belanja totalnya duit keluar. tapi, terimalah wahai anak manusia.
apalagi yang aku terima selain anugerah mp3 ini?
cerita masih berlanjut,
dan selalu ada yang tersisa. baik yang belum, tak sempat, atau akan pernah sempat, atau..tak akan..per..nah terceritakan. oh, duhai. saya tetap kembali lebih secara reliji berkesadaran (tetap praktik sebuah masalah bagiku) sementara filsafat posmodern itu tambah "menggoda" pula.


@ rabu, 9 november 2005

tadinya mau nulis, tapi udah keburu capek pas file ini dibuka (setelah ngutak-atik dulu, kurang lebih setengah jam mungkin, cara kerja di windows ini). maka, maaf....


@ senin, 14 november 2005

kumulai menulis lagi, antara maksain dan sukarela, antara sakit di perut dan pusing di kepala (barangkali biasa), dan kepala yang tak lagi tegak lurus di atas dada (tulang leher ini? ini sudah biasa, dan biasa tetap menyiksa). entah kerana makanan atau apa, perut agak lebih mual sekarang. tadi aku coba nak makan kornet daging sapi (untuk pertama kali), melihat keadaannya yang begitu (meskipun berdasarkan instruksi di kemasan adalah: telah matang, yang berarti bisa diterjemahkan siapa santap) aku tak suka maka kugoreng juga (tapi ternyata tetap tak suka). barangkali bau daging sapi ini yang bikin aku mual sampai sekarang.
kemudian, ternyata -- rasanya -- aku cukup menghabiskan banyak waktu untuk urusan masak memasak (yang -- maaf -- celakanya kebanyakan gagal) ini. bisa berjam-jam aku berkeliling di depan kompor, belum urusan cuci piring, belanja bahan makanan. tapi, yah, makan di warung sekarang tambah (sangat!) mahal. dan selera makan, seperti biasa, kebanyakan sekedar menutupi lapar, bukan memburu kenyang. contohnya aja yang sekarang, malah mual-mual. tapi ndak parah amat sih untuk kali ini. tapi tetap saja, dalam keadaan 'normal' saja saya serba nggak bisa (/mampu) ngapa2in, apalagi kayak sekarang -- lihat tuh, walo wajar -- piring2 masih cuma berserak di k.m.. beres2 rumah? rencana dari seminggu (atau barangkali sebulan yang lalu sebut saja) belum juga sampai sekarang, saja. padahal kerjaan saya manyun -- saja -- seharian di rumah tercintaku ini. apalagi kalo saja sedangkeun berada dari-pada keadaan yang klebih adalah parahnya. mampus kali. tapi kenyataannya masih....
aku pikir, ini soal mencari kenyamanan. tentu juga soal agama tu masih. tapi yang selain itu, ini. kalo dengan mati nyaman, kenapa ndak (asal tidak bertentangan dengan yg di atasa tadi). masalahnya: karena secara naluriah badan menuntut kenyamanan maka secara alamiah sekaligus syar-iah ia juga tak membiarkan badan sengsara menjelang mati yang didamba itu. akibatnya: masih hidup untuk sengsara lagi. dan syurga yang dicita2kan itu, bukankah ini soal kenyamanan itu juga? adakah orang yang punya cinta pada-Nya seperti Rabiah itu. bahkan aku curiga, si Ibu rabiah itu juga ada udang di balik waktunya. jadi bagaimana aku untuk juga tak merindukan surga (rindu? padahal aku belum pernah kesana). masalahnya menjalankan perintah-Nya ndak dan: Yakin ndak?
beberapa hari yang lalu, pas lebaran sodara jonb ngirimi aku sms, juga sodara jone meski isinya tak terkait lebaran. sepertinya ada sedikit perbaikan untuk hubungan kami ke depan yang sempat renggang beberapa waktu ini. apalagi si urip katanya mau ke jtngr besok, lumayan buat refrehing (mudah2an sedikit fit besok -- saya udah ndak sanggup lagi untuk berharap betul2 fit, tapi setidaknya harus ada diakui ada sesekali keadaan yang mana daripada badan merasa sangat baik, atau setidaknya lebih sangat baik) setelah hari demi hari manyun di rumahku istanaku dan stresku ini. dan mudah2an bener jadi refreshing. kemaren2 napas mulai terasa berat lagi, tapi buat berhenti ngerokok? apalagi besok ketemu mungkin ketemu myboyband, para jon, dan rental game. lagian (ini cerita usang), berhenti merokok tak akan membuat leherku cukup kuat untuk sekedar ditegakkan guna membaca dan menulis! aan sudah beberapa kali kesini dan kebulang saja bahwa ini komp. temen yang minjam duitku dan aku bakal beli komputer baru murah pas akhir tahun dengan titipan jangan bilang ortu entah ia lakukan atau tak.
sudah beberapa kali saya kalo ke luar nyampe alun2 jalan kaki saja sebab mahalnya ongkos ojek, 3000. dan aan, meski tak sampai depan rumah ini -- cuma sampai pangkalan ojek, katanya cuma bayar 2000. saya kuatir udah ditandain para tukang ojek itu untuk bayar lebih. kesal bercampur tak berdaya. makanya sepertinya bagiku tempat sekarang inipun tetap sementara. lalu apakah hanya gara2 hal seperti ini aku harus tersiksa. bukankah, seperti waktu jalan beli koran hari minggu kemaren aku cukup menikmati hangatnya matahari. lagian, tentu lebih sering aku naik ojek. tapi tetap, mahal. dan oya, satu yang barangkali belum sempat tercatat dari rumah baru ini: di dalam rumah cukup dingin. saya sering mencuri2 keluar buat menghangatkan badan, tadi tak ada tempat yang nyaman buat tongkrongan. terpaksalah paling manyun depan tempat sampah di samping belakang. kalo ndak, ya, pakai jacket di dalam rumah. dan, oya, sayapun jadi ingat, barangkali penyakit, saya yang gampang kencing kalau banyak minum. nah men, kalo dingin biasanya saya bikin minuman hangat macam kop[i dan teh sembari make jacket dan celana kadang sampei dua lapis plus kaos kaki. dan, repot bolak-balik k.m.-nye! hmm, apa masih pantas saya bicara soal penyakit lagi?
soal skripsi sepertinya aku bakal balik lagi aja sesuai proposal kemaren biar lebih cepat dan realistis. keinginan (dan kemampuan) harus ditekan redam sebab "kemampuan".... sepertinya begitu. toh sampai detik ini, tik, nah, saya belum mulai juga nulis. malah tenaga yang ada saya prioritaskeun buat nulis diaros ini. lalu nanti kalo beres kuliah gimana? barangkali belum ditulis: saya ada rencana ngambil kursus komputer di kandaga buat bekal hidup nanti di dunia fana. sebiasa mungkin saya sepertinya berusaha untuk ndak pulang ke rumah. tapi kalau terpaksa, entahlah, kalau bisa kumemilih.... pasti akan memilih (meski barangkali pilihan demi pilihan yang sulit). dan Tuhan, seandainya Kau ada, Kau Tahu bahwa aku masih meng-AgungkanMu (meski dengan penuh ragu).
sepertinya masih banyak yang harus kutulis....
dan barusan sepertinya aku mencret. permisi, saya harus pergi....

wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww
wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww

Senin, 28 Agustus 2006

Hari ini adalah hari upacara penerimaan maba 2006 di rektorat du. 6 tahun lalu, saya masih merasa belum bermasalah dengan tulis menulis, baca membaca, kecuali murni males (meski tetap ada sebabnya). Enam tahun lalu begitu banyak harapan berpendar dalam hati, menemu kebebasan yang selama ini saya rasa terkekang, dan menumpuk harapan tentang (klise nih…): better future.

TERNYATA…!

Hari giliran adik bungsuku, Rio, yang mengikuti seremoni penerimaan maba tersebut. Setelah setahun menganggur, beliau akhirnya lulus spmb di ekonomi pembangunan du. Ada kegembiraan, tapi toh tidak terlalu meledak. Buat apa?

Mungkin, mungkin, (daya ingat saya terasa memang semakin berkurang) sudah hampir setahun saya tidak lagi menulis semacam diari kayak begini. Setidaknya berbulan-bulan dengan alasan (sudah mau MUNTAH DARAH saya barangkali kembali jadi si penggerutu untuk mengucapkan): takdir fisik… (wau! Bukan lagi sekedar dengan istilah kondisi fisik)

dan saya, toh, tak jauh-jauh juga dari tuhan

Cuma ada semangat baru untuk melakukannya lagi.

Selain kabar tentang Rio yang juga masuk unpaddd, juga ada kabar tentang aan yang udah beres dan jigana nganggur keneh ayeuna di imah teh, dan kabar paling dahsyat: udah lewat setahun SKRIPSIKU belon beres juga. Alasannya: … (nanti pembaca budiman sekalian pada muntah mendengarnya).

Juga ada kabar tentang meng-klimaksnya regangan tali persaudaraan antara keluargaku dan keluarga teta, nyaris putus barangkali. Kebayang ndak men, ustadz rio aja ndak betah di rumah sana yang barangkali sebetulnya justru disebabkan ke-takbetah-an sana akan kehadiran adik bontotku itu. Tapi buatku, dalam kondisi ideal setidaknya, tidak perlu ada kebencian, bukankah banyak hal yang menarik dari sini untuk dianalisis tentang tingkah laku manusia, bagaimana si bu hajjah tersebut bisa berakhlak separah ini, namun kukira ada juga beberapa alasan yang menurutku pribadi bisa diterima, namun tanpa kedalaman situasi seperti ini dengan memakai ukuran kebiasaan dan tradisi bersaudara memang berkesan hancur-hancuran. Setidaknya lagi dengan fakta ini, ortuku bisa sadar bahwa tak “betahnya” dulu aku bisa berterima. (Atau barangkali mereka tetap keras kepala bahwa apapun pemikiran mereka sudah pasti benar dan dicarilah justifikasi, justru awal yang buruk oleh ku lah yang memicu soalan, wallahu alam bi shawab {bener ga nih ya pentulisan bhs.arab gw?} mudah-mudahan bener jika tuhan itu ada dan adil ia akan jadi penjelas bagi apa yang terjadi ini). Begitu pun tentang lolosnya Rio ke jurusan yang cukup bergengsi kalee ek0nomi lagee bakal nyadarin bonyok bahwa aku jika dikondisikan lebih baik justru sanggup menghasilkan yang lebih baik. Mereka semua di rumah tahu aku –lah yang terbaik di sana, Cuma situasi yang mereka ciptakan membuat aku memberontak dan berat untuk melangkah kembali ke sana. Jika aku salah, TUHAN HUKUM BAJINGAN INI SEGERA!!! (wah, tanda serunya banyak banget, marah pak agnes cacamarica nanti bung)

Tambah pula kondisi fisik ini, ANJIIIING!!!!! ampun tuhan…

Dan aku hampir selalu siap untuk mati meski kadang dalam kondisi lagi “buruk” berdo’a juga minta ditunda. Kalaupun sekarang masih hidup, entah capek aku nunggu rahasianya, tapi mudah2an ndak juga.


Rabu, 30 Agustus 2006

Tapi… (baru sekarang bisa dilanjut-in lagi dan ini pun kayaknya udah agak ngantuk, biasa abiz nge-game pipe dream) kadang aku kwatir juga jangan-jangan kondisi tulang leher yang aku keluhkan ini terlalu saya dramatisiir. Jangan-jangan emang normalnya genee kalee. Toh hasil pemeriksaan dokter yang tidak aku percaya itu tidak mengindikasikan ke “hal ini” meski dengan fokus pemeriksaan lain. Meski udak tak kuat lagi baca tulis lami-lami, toh aku kalo nge-game pipe dream atau FIFA05 dulu di komputer Deko kuwat-kuwat aja. Sebenarnya juga tak kuat, cuma ada semangat. Batu (baca-tulis) juga ada semangat cuma tak sekuat nge-game yang aku lagi demen. Apa iya? Atau aku alihkan pertanyaan: why? Sementara aku tiduran dulu, capek. Kerasa tulisan udah ngelantur euy. Capek anjiiiiing….

wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww
wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww

Saptu-senen, 23-25 desember ’06

Jadi, mungkin ini (memang) mesti ditulis(kan):
Akhir2 ini kulihat gelanggang mulai ramei berkat gebrakan alvi. Aku pun kalo k kampus juga jadi nyempetin maen ksana. Lumayan buat aku pribadi buat aku maen ke sana skrang—beda dgn dulu krn ada segan sama senior dan jarak dengan kwn2 sendiri—selain karena: emang mo maen kmana lagi kalo di kampus selain perpus? Aku merasa hubungan ku dengan para junior lebih baik karena mereka kupikir lebih netral sebab tak punya tendensi seperti yang kualami dengan (khususnya segelintir “dominan”) teman2 seangkatan dan (juga khususnya segelintir dominan) para senior (sekali lagi: terlepas dari kekurangan [mungkin] kusendiri!)—inipun dengan segala penyesuaian diri yang mesti kulakukan karena soal klasik: budak sasindo teh rata2 dgn s.d.m dibawah standar. Bagiku masih mending seandai dari segi kepribadian mereka masih menyenangkan (akhlak).

Tapi junior juga manusia,

Keadaanpun berubah. Awalnya aku mencium aroma kurang segar dari indra “plato” sarathan—halo coy, da ieu mah dugaan. Kupikir, bukan kurasa (mungkin aku salah!), ini soal keinginan para mahasiswa (berebut) jadi dosen. Soal klasik lagi. Sisi kemanusiaanku sedikit memberi pembenaran karena susahnya lapang kerja bagi jurusan kami—karena ini aku bisa jadi sedikit banyak bersabar—tetapi juga kupikir dengan keadaan berbedapun kalo mentalnya memang tak sehat dalam persaingan (maksudnya punya akhlak buruk bernama: busuk hati dan iri dengki), ini tetap akan terjadi—jadi tak salah2 amat kalo aku akhirnya mungkin akan agak (sekali lagi: agak!) kehabisan-kesabaran seperti yang akan Anda bisa lihat setelah di akhir cerita. Namun kupikir berkat kesabaranku untuk pura2 ndak nangkap aroma ndak enak itu dan tetap bersikap (pura2) santai membuahkan hasil juga, sekarang2 sptnya hubungan dgn indra mulai membaik krn kemaren2 (waktu ada kesempatan pas lagi nonton ball) kami sempat mulai ngobrol lagi, dan sebagai manusia (yang pada dasarnya) berakhlak baik beliau tentu tersentuh juga. Maksud saya (tentang ngobrol tadi) kami Cuma ngobrol2 “berat” biasa, dan sekedar dari ini tentu ada kesan(kemanusiaan)nya tanpa perlu membuka permasalahan yang bisa jadi mengoyak persoalan.

Nah, selain dari pak ketua, alvi, yg kukira juga mulai menebarkan aroma yang sama dgn kukira alasan tadi juga, sekrg aku mulai mencium aroma tersebut dr sdr.jejen. ini ada beda sedikit nuansanya. Pertama (ini soal repetisi dari pengalaman dengan segelintir dominan kwn2 seangkatan), dia memang bukan tipe pemikir tapi seniman praktis wajar tak cocok denganku—tapi kami (awalnya) jadi akrab sekedar karena sama2 punya interes pada sastra (hal ini berubah 180° [kemungkinan] karena situasi politik terkini yang saya paparkan berikut ini) dan Kedua, sepertinya ada dinamika tertentu di kampus (yg aku kurang tahu) yang membuat dia juga sekarang jadi ikut2an berdiri dibarisan orang2 yang ingin aku menyingkir. Seperti dulu juga, persoalan rasial aku yakin ada juga sebagai pengompornya. Selain ini, aku berpikir tentang kemungkinan sdr.ku tersebut berharap alvi yang naik (ceile, naik bo’) jadi dosen sehingga lebih memberi peluang kesastrawanan (di masa depan terkait “kealumnian”) pada dia (spt yang kudengar alvi mengusahakan kump. Puisi jejen terbit, dan apakah kalian pikir aku iri? Aku melihatnya dengan dua kemungkinan. Pertama, pada dasarnya alvi berakhlak baik dan bantuan itu tulus, dan dua, alvi juga manusia dan bukan tak mungkin itu langkah politis. Dan kalo Anda ingin tau spt apa hormatku pada sdr.alvi, tanyakan sendiri pd beliau tentang isi sms ku; baru gara2 aroma yang tercium belakangan ini aku agak sesali karena aku terlalu berpandangan holistik pada akhlak baiknya mantan ketua dkm itu, tapi mungkin juga tak terlalu menyesal jika memang aing bersudut pandang ini2 semua soal ecek2 dan aku bisa menerima: toh ketua dkm pun manusia [lagian agak kurang matching kalo alvi nolak pks kalo dia emang politisi tulen terlepas dari aliran keluarga(itu artinya beliau tak politis2 banget alias sekedar ekspresi kemanusiawian hanya)])—dan caranya adalah berharap aku menyingkir karena akan jadi penghalang bagi kemulusan keinginan mereka. Selain tentunya sesama orang beriman (atau merasa diri paling beriman), + satu suku pula, klop sudah keinginan agar orang berbeda (the other) like me to be get out from their home. Aku juga berpikir tentang kemungkinan omongan nana di ruang kuliah gara2 beliau tak bisa membantu skripsiku (tentu saja aku agak kabur tentang ini). Belum lagi kemungkinan blecos sedikit berusaha menjelek2i sohibnya ini di dpn hamid kamari2 (wallahualam, mudah2an aku salah dan jauh dari berpikir negatif tapi aku juga tak bodoh dan akan mengolahnya jadi positif seperti akan, mudah2an termakna dari akhir cerita ini).

Tentang dosen, tentu aku tak betul2 nolak, apalagi aku yang “kondisi”-nya begini. Ini penting kukira sekarang dituliskan karena mungkin persoalan klasik ini dari dulu belum sempat juga kutuliskan. Tapi jadi dosen di unpad sini, unpad e.y.d yang menendang acep iwan saidi ini, kukira aku mesti berpikir dua kali. Dan antara dua faktor tadi saling berdialektika sehingga aku pun tak bisa menjawab pasti apa aku pengen? Soal kerja, lagian kupikir cukup banyak ide di kepala ini tinggal pelaksanaan, maka sebenarnya buat ku, dibanding anak2 lain mungkin, no what-what what ever happen. Paling soalnya kemampuan pelaksanaan tadi (dan aku sudah enggan meneruskan hidup “rusak “ ini). Dan kembali ke ke inginan beberapa oknum untuk jadi dosen, kupikir: kalo mereka jiwanya sehat; kenapa tidak membiarkan ini menjadi sebuah persaingan sehat: siapa yang paling bermutu (mungkin disini soalnya ya…) di antara kita lah yang layak kita hormati bersama. Kenapa mesti saling mendengki? (kalo persoalan rasial dan sejenisnya lagi, sudahlah; aing mah no comment lah) Mangkanya aku jadi sedih jika anak2 yang pada dasarnya berakhlak baik itu mesti berbusuk hati kepadaku (tentu krn ketidaktahuan mereka) seperti kakak2 mereka (dan serta karena kesalahanku yang kurang bergerak [seperti dulu juga] karena “kondisi” tertentu). Senior menginjak2, temen seangkatan sendiri menginjak2, dan sekarang junior pun udah berani menginjak2. Anjiiingggg…

Tentang jejen ini skrang jadi beban buat ku mungkin karena dia sekarang bisa dibilang paling senior diantara kwn2 lain yang masih eksis dikampus yg interes pada sastra sehingga punya pengaruh besar pada kwn2 lain. Hilman dan jaka, misalnya, aku merasakan sikap serba salah tingkah mereka. (nb lagi: belakangan kuingat2 hal2 spt ini jadi terus teringat2 mungkin juga pengaruh sikap mas deko di suatu peristiwa barusan [terkait 03] yang intinya aku mengambil hikmat: sikap santaiku dll membuat mereka2 [03] mulai menganggap remeh.) Ini kutuliskan karena hal ini, meski sudah berusaha kulupakan (karena aku memang tak mengganggap penting soal2 ecek2 ini) ternyata selama beberapa hari ini jadi beban juga di kepala ini. Satu hal yang bisa menghiburku, selain menulisan ini, adalah tuhan ada. Dan di depannya nanti kita buktikan siapa yang anjiiiinggg diantara kita, mari terima setiap balasan atas amal kita dan apa2 yang berusaha kita sembunyikan di hati busuk kita. Ok. Mungkin keliatan marah kakakmu ini ya… tapi begini, kadang kesabaran jangan sampai membuat kita membiarkan kusutnya sebuah persoalan. Ada saatnya tenang, ada waktunya pergerakan.

Mangkanya lagi, aku rindukan jika kalian seperti dulu. Seperti alvi yang jadi tempat bertanyaku (liwat layanan pesan singkat) ketika tersesat mencari lokalisasi seminar badudu; kalo politisi busuk pasti pura2 apalah untuk menghalangi langkah pesaingnya. Persaingan… hmmm,gw tergugun eh tertegun. Percayalah dan marilah kita bersaing secara sehat tanpa merusak hati dan nantinya bisa jadi iman lho. Kalo alasannya Cuma soal kemanusiaan dan keduniawian melalui yang bernama langkah strategis dan politis, kupikir argumentasiku (termasuk yang tak dipaparkan disini) telah cukup kuat untuk memberi nilai telah melanggar batas kepada permainan kalian (sehingga saya rasa [bukan pikir sekarang] udah mulai main kotor… ya balik lagi ke yang di jero hate tadi ya)—ingat lho bab etika tak pernah ketinggalan ketika kita bicara filsafat (meski dalam filsafat kontemporer [baca sekuler] katanya bahkan pembicaraan soal ketuhanan telah menjadi semacam pornografi atau tabu) kalo anda berpandangan filsafatlah induk segala nalar menyesatkan (politik2an) ini. Kalian akan menangis seandainya bisa menyaksikan bagaimana aku berdarah2 utk bertahan bergaul dengan lingkungan goblokku yang kinipun masih tegak menginjak2kiku—positifnya, buatku ini adalah sarana untuk melatih aspek kesabaran sebagai salah satu sarana menuju kemapanan jiwa (meski kadang karakter lama membuat aku kalap juga [untuk ada tanjungsari tempat diri bisa melarikan diri]). Soal dosen, sudahlah: ecek-ecek! Entahlah kalo kalian tidak setuju dengan pikiranku (oke, pendapat subjektifku) bahwa yang berkualitaslah yang mestinya (mestinya sih) yang menJadi (kalo eeemang perlu diberi j BESAR nih). Kulihat junior2 kita selalu ada yang juga cukup berkualitas (meski mungkin memang satu dua), kenapa tidak kesempatan juga ada bagi mereka? Karena “saya” kepengen, peduli “setan” yang laen. Tenang, ada tuhan yang menentukan kok, dan keadaan semestinya (entah bagaimana pula mendefenisikan kata semestinya ini) memang mungkin tak akan selalu terjadi. Jadi tenang, sekali lagi ada tuhan yang berkuasa, dan toh menentukan. Yang jelas saya (mungkin dan mungkin pula subjektif) memilih untuk tak melibatkan diri dalam situasi kotor ini. Merusak hati, da irup mah sakedeung atuh; jadi ga apa2 jadi bangsat sasakali nya’! Lagian, abangmu ini ndak cerdas2 amat kok (mungkin, karena soal kecerdasan juga bisa ditinjau dari berbagai aspek). Ditinjau dari kecerdasan secara umum pun aku bisa jadi biasa, kemaren2 barusan tes IQ (meski ndak terlalu serius) di komputer juga nggak memasukkan otak ini ke jajaran luar biasa (meski tentu saja di atas rata2/standar dikit). Jadi biasa lah. Ndak menutup kemungkinan buat kalian buat mengalahkanku (kalo benar aku ini berhasrat jadi dosen b.ind yang baik dan benar teh)—apalagi jika mempertimbangkan faktor “dll”. Jadi mungkin situasi ini sekedar latihan dan main2 ya. Wah, alhamdulillah. Mudah2an benar tanpa disertai kekotoran hati… Dunia ini mahaluas, kenapa kita mesti bertengkar di lahan yang kering ini? Ada jawabannya. Cuma aku kasihan kalo sampai ini merusak akhlak kalian, sebab selain itu apa lagi yang engkau punyai. Dan aku mungkin salah menyangka. Dan aku mungkin salah menyangka. Dan aku mungkin salah menyangka. Lihatlah bagaimana aku—nb: ini ditambahkan juga belakangan: juga tetap menjaga perkawanan dengan bule, jenderalnya kwn2 seangkatan, kalo bukan berkat kebersahajaan—nyambung2 aja dengan junior2 yg biasa2 tapi menurutku akhlaknya luar biasa sehingga secara nonintelektual aku bisa nyaman. Setidaknya mari kita mencipta kebersamaan lewat “kesederhanaan” (jiwa). Jika ini sudah tak ada, bye. Kexuali, aku lagi mau latihan.

Dan aku mungkin salah. Dan aku mungkin salah…

Meski akhirnya mengalami katarsis dan aku kembali santai, tapi sebagai sebuah langkah strategis, kukira aku mesti menjauh mulai sekarang dari kalian wahai gelanggang. Sehat buatku, mudah2an menyenangkan hatimu, dan ada tuhan yang maha penentu. Ok, biasa, tak sanggup banyak2. see u in anotehr chance & change.

Eiiiiitttttt…main tutup aja, sbg orang yang beriman dan beramal soleh; do’a dulu deh:

--al-falaq--

Semoga aku yang bangsat ini, mati
diracun orang
yang

dengki,

…amin, wemmy al-Fadhli.

NB baku: mohon maaf jika tulisan ini sulit dimengerti otak tololmu, maklum. Ia nol koma nolnolsatu reference dan 1000 satu sense (baca Ricoeur njiiiiiiiinggg!!!), eh. Punten…keur eqthink: belON perfect di edit, dan terlalu banyak ruang kosong dan wacana rumpang serta alur jungkir balik. Jadi, intinya: mungkin banyak kesalahan. Jadi jangan kuatir Anda disini di salahkan. Penulis kira kita sebut saja karya di atas fiction. Selamat mendiferEnce dan mendiferAnce-I!

wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww
wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww

DIAROS 070207

pengantar:
kupikir, tulisan ini mungkin akan agak provokatif. disarankan, tulisan ini dibaca oleh orang yg berwawasan luas dan berpikiran (dan hati) terbuka. begitu pula kebanyakan tulisan lainnya pada blog ini, makanya aku tidak memasukkan alamat ini dalam list profilku dan tak pula memberitahu alamatnya pada sesiapapun jua. tapi bukan tak mungkin orang bisa membuka dan membacanya lewat search google. pak polisi pengawas internet, aku mohon maaf jika tulisan ini dianggap berbahaya. aku siap menerima konsekuensi hukumnya di akhirat pun dunia. makanya, aku tahu diri terhadap kondisi sosiokulturdansejenisnya sehingga sebisamungkin disumputkeun. meski ini tulisan pribadi dan subjektif banget, aku bertanggung jawab secara pikiran maupun secara hati. sekali lagi, tulisan ini bukan sekedar dibaca, tapi dimakna!

lihatlah... ada yang begitu tabah susah
memelihara kedengkian di hatinya,

* SEJARAH KEDENGKIAN: kedengkian, diam-diam ada yang memelihara (mudah2an ini bisa jadi bahan tulisan, kalo bisa buku sekalian). barangkali agak sedikit terang-terangan ada pula. kedengkian adalah sejarah purba manusia. tentang qabil yang membunuh habil saudaranya, sebab rasa iri hati gara-gara persoalan jatah wanita; barangkali pula soal harga diri; barangkali pula soal nilai kepantasan (keadilan, kata pks mah); barangkali dll; barangkali memang semua.

kukira ini, setidaknya, salah satu yang membuat aku mesti memilih mengasingkan diri selama ini. kedengkian dan iri hati...

nb: maksudnya, bukan aku lho ceu!

barusan tadi, yang membuat aku ingin menulis ini (atau terpancing menulis lagi kali ini), kulihat dari jendela alas kaki yang kujemur di luar diinjak (dengan menggunakan sandal) oleh iwan, tetangga sebelah, sambil berdiri sore-sore bari hare-hare "pura2" keur ningalian barudak leutik main di jalan (nb: tentu aku tak menghindari kemungkinan bahwa memanglah dari pada proses terinjak itu adalah semualanya tiada disengaja, barangkali, namun "premis lain" lebih mendukung tafsiran lain). aku sering mendapati bahwa dinding rumah sebelah kanan bau pesing, sampah dibuang ke halamanku, terasku pernah diinjak setelah repot2 aku bersihkan, dll mungkin (tentu tak menutup kemungkinan pelakunya orang lain juga), dan terakhir (ini betul pelakunya mungkin orang lain)peristiwa air pamku dinyalakan waktu dia dan dua orang lain "goro" di halamanku. Untuk yang terakhir ini kukira pelakunya, tetangga yang bertato tsb sebab aku sudah bisa menduga dari sikapnya (dan waktu itu aku sempat agak emosi dan sudah menyiapkan golok kalo bener dia "menekan" lebih jauh lagi. kembali ke alas kaki: pas mau kuambil kudapati alas kaki itu telah berpindah tempat dan terhampar di atas bekas tahi ayam. emosi juga: namun aku mesti bijak bertindak. (nb lagi: kejadian alas kaki ini waktu kujemur berpindah tempat ke got juga belum lama terjadi dan aku menduga kuat pelakunya dia, atau rekan2nya (kemungkinan besar tetangga bertato tsb). belum kejadian2 lain yang mungkin ada yang mungkin kulupa sebab aku memang tak ingin ingat2 ya.

kedengkian, kukira (sekali lagi ini pendapat pribadiku), adalah sebabnya...

selama di sini, aku memang kurang bersosialisasi dengan tetangga-tetangga, terutama kaum prianya. tapi aku tidak pernah merugikan mereka, setidaknya aku netral, tidak membantu tapi tidak pula merepotkan (nb: tidak membantu dan bersosialisasi ini butuh penjelasan yang kukira juga bisa terbaca dari kisah hidupku bagi yang mengetahui). kenapa mereka harus berbusuk hati kepadaku, yang tidak pernah merugikan mereka. bahkan kalo berpapasan kebetulan di jalan toh aku berusaha ramah. oh, rupanya mereka terganggu, karena aku tidak pernah berhubungan dengan mereka. mereka jadi rugi karena aku tidak bergaul dengan mereka. lalu mereka marah dan menyimpan dengki. atau barangkali lagi2 ini soal aku yang nyatanya lebih akrab dengan ibu2 di sini (yang pluralis bisa berbahasa indonesia raya), sehingga irilah pra prianya. tentu tak semua, paling kuat hanya dari dua orang ini, toh, yang kurasa.

sekarang contoh, ada si aa suami si teteh warung, orang yang paling akrab denganku di perum ini setelah si barkah (ya, memang istri orang). sikap si teteh tsb yang kukira memberi sinyal "yang kurang baik" bagi rumah tangganya (dan kunetralisir dengan pura2 bego) kurasakan sekali agak membuat suaminya jadi ndak "enak". Tapi karena si aa tersebut pada dasarnya orang berakhlak baik toh aku pada akhirnya tetap bisa membuat komunikasi dengannya jadi nyaman. bagaimana aku akan menciptakan ini dengan orang yang dipenuhi kedengkian. aku tentu tak menafikan, dari sekian segi, si iwan juga sebenarnya orang baik (dan sungguh aku sempat agak sedih harus memtuskan untuk mengambil jarak dengannya [ingat karena satu dan lain hal]) namun karena punya dekingan si tato salah satunya, ia mulai agak berani. tapi tanpa itu pun, kedengkian ini merusak penilaianku atas akhlaknya (bandingkan sekali lagi pada si aa tadi). sebab, toh ada orang yang bajingan secara moral namun karena saking cueknya toh tak punya waktu untuk memelihara kedengkian.

benar juga kata si erik. aku rasanya sejenak agak tercenung waktu si erik mengungkapkan ketidaksenangannya pada orang (sunda) sini. waktu dia cerita pernah bertengkar dengan tukang ojek aku mencoba menetralisir dengan mengatakan bahwa orang sini toh secara akhlak rata2 baik2. jawab erik, " baik apanya, nggak berani ngomong di depan, berkicau di belakang, kalo saya mah (kalo ndak salah dia juga berdarah padang-bengkulu [sumatera]) blak2an saja. benar. dari sisi kedengkian, orang sini saya nilai (berdasarkan pengalaman lima tahun lebih di sini lho! -masih kurang mungkin sih) agak rumpang akhlaknya. bukan berarti suku lain tak memelihara kedengkian lho. begini formasinya: orang sini saya nilai rata2 pengecut (coba bedakan mereka dengan jawa dan sebagai bandingan lihat perang bubat dan kecengengan mereka memperingatinya hingga performance rasis mereka dengan istilah jawa kowek). dibandingkan orang dari suku lain yang blak2an misalnya, nah, jika ada masalah mereka tak berani (terus terang dalam kata2 saya: pengecut) untuk menyelesaikan secara lelaki dan berdarah2. nah, sebagai solusi ketertindasan mereka dalam hal ini jadilah mereka orang yang menyimpan kedengkian (abstrasi ini bisa dilihat konkretnya pada kasus iwan tadi). saya bisa merasakan betapa orang sini menyimpan iri hati terhadap dominasi para pendatang. ini tetap tidak membuat saya menafikan bahwa orang padang pun dahsyat memendam kedengkian, orang flores pun bisa mendengki mesti dengan format lain. dan saya mungkin salah, dalam arti formulasi kata2 saya masih kurang tepat dan mungkin berlebih2an.

dan soal kedengkian ini pun bagaimana bukan satu2nya yang membuat aku terasing dan jadi begini sekarang ini di sini. berbagai faktor lain ditakdirkan tuhan untuk bersenyawa dengan hal yang satu ini dan membuat aku terlempar dari hiruk pikuk dunia sehingga punya waktu untuk memaknai-Nya. Aku dengki pada kebesaran-Nya.

oke, sekarang soal ini dulu. tiga tahun lagi mungkin disambung (hal ini juga) dan hal-hal lain (beberapa) yang belum sempat dituliskan, disalin (dengan penambahan subjeksi) dari file tuhan. byesalam..

wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww
wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww

# Senen, 26 Februari 2007

Ini bukan sekedar tentang hari ini (tambahan belakangan: bahkan sama sekali bukan tentang hari ini dan masih banyak, lagi-lagi, kukira yang terlupakan atau memang tak sempat dituliskan), tapi juga mengenai daripada lalu-lalu yang bercecer,
kayak tetes air aja ih.

Begini akang:

1. tentang jon&jon,
kupikir kurang tepat juga kalo dibilang ini soal rasialisme—malah bisa jadi akulah kadang2 nan rasialis sama dua sohib ini. Kukira ini cuma gara2 sikap kekanak2an, dan berkebetulan daripada mereka dibesarkan dikultur yang mendukung sikap kekanak2an mereka itu dan berlaku agak rasis terhadapku. Aku toh daripada masih ingat bagaimana beberapa kali aku ada perlu mengunjungi Hamid sijon senantiasa membantu “menunjuki” jalan. Aku masih ingat bagaimana jon mau turun menanti di deket gor resco sewaktu daripada aku perlu mencari nana. Aku tak akan melupakan pula kunjungan singkatku ke tasik nan (pada mulanya) disambut “baik” oleh jon. Dan masih banyak lagi kenangan manis kami bertiga kukira. Maka kupikir, sebagai sesama manusia yang lepas dari segala atribut, kami ini akrab berteman. Nah, ketika dua kawanku ini dikungkungi oleh atribut kesundaannya, mulai dari bahasa hingga kultur mesumnya, mulailah segala perbedaan memercik bara ketidakbersahabatan.
Bagaimana mungkin kala kami berempat main poker di deko, si nugi lah yang rasa2nya giliran jadi kawanku? (tentang bung nugi bahasan lain yang menarik juga kali ye)
Kesabaranku untuk menghadapi sikap2 (pas lagi) buruk mereka selama ini kukira ada positifnya. Sebagai selain pembelajaran dan pengamatan tingkah laku jelma, ya itu tadi: melatih kemampuan bersabar. Aku kadang merasa bahwa belakangan kadang sijon juga merasa bersalah atas sikapnya, tapi ya itu tadi: kultur yang telah mendarah daging (tambah pula pengaruh setan berupa perasaan busuk hati) membuat hal ini terjadi dan terjadi lagi. Bagaimana aku bisa hidup dengan mereka yang berbusuk hati selama ini, karena ada sisi lain dari mereka yang menetralisir: humor contohnya. Dan lagian, because mereka anak baik2 pada dasarnya, potensi busuk hati itu minimal bisa dilokalisir. Sikap busuk hati ini lagian ditunjang oleh perasaan tertindas sebagaimana pernah kubahas dalam tulisan2 sebelumnya tentang si sunda. Maka, seperti waktu main poker beberapa waktu yang lalu, aku malah kuatir jika sindiran2 pengecut mereka membuat aku kehilangan kendali dan nonjon para jon tersebut, bukannya memikirkan apakah betul atau sangat salah sikap mereka itu. Saking sayangnya aku sama mereka. ceile, aku malah kasihan kalau aku sampai lepas kendali secara fisik terhadap mereka. Maka kukira, kata2 radhar panca dahana, berikut ini, dalam beberapa hal, kukira cukup tepat menggambarkan situasi ini:
“kalo kita bisa berpisah dan menjadi teman baik, kenapa kita harus hidup bersama namun siap untuk saling membunuh?”
tapi toh, aku ketemu juga dengan para jon itu. Kadang dalam waktu lama, saat suasana panas, aku memang menjaga jarak untuk beberapa waktu. Namun di saat situasi tEnangtEnang saja, ya ndak apa2 lah aku jenguk mereka. sekarang2 ini sijon uber yg ndak nongol lama—kupikir ia ingin menetralisir suasana juga—ndak tau kalo sijon baby nginap di sana karena tak kunjung ku ajak ke tanjungsari ini.
Oke, kehabisan bahan tentang materi ini untuk sementara..

2. tentang apa ya…hmm…belum ada ide nih.
3. oya, aku juga ada ide untuk transmigrasi (berkebun kentang) begitu mendengar sebuah program transmigrasi baru yang menarik dari pemerintah (ada tunjangan hidup selama setahun bok, kalo ndak cocok kan bisa keluar nanti). Kalo mencari kerja, dagang, dan sega macam aku masih kuatir kondisi fisik kalo keluar dari rumah ini (padahal sebentar lagi mau habis). Bagaimana kalo pulang ke rumah? Jadi terlalu banyak solusi, aku pun jadi sangat santai…anjinggg pengen kencing! Oya lagi, tentang kurusus sablon kayaknya gagal begitu aku mendengar bahwa biayanya di atas satujuta. Tentang kursus komputer, ndak taulah. Tentang dosen2an, masih fifty2 aku juga, itupun kalo ditawarin:mbung aing mah menta2. Nah, yang paling logis untuk sekarang mengurus buletin gratis bersponsor tea. Surat kepada liputan6 belon juga ditanggapi, tapi kalo pun tidak kalo mau usaha sih masih banyak jalan lain. Cuma, apakah aku kudu nyari tempat lagi di Jatinangor? Ndak gampang menjawab hal ini dengan kondisiku begini, tambah pula skripsi can selesai2.

4. tentang skripsong, no comment dulu kali ya. Pokokna mah: masih dalam prosessss abadiii…
5. kegiatan hiburan kalo ke jatinangor: main gta di kumatte yang baru.
6. merokok tambah tak kuat dan ndak ada hiburan lain.
7. barkah rizkawahyudi masih setia dengan ht yang membuat tembok besar antar hati kami.
8. aan kabar terakhir lagi kursus coneversation, masih kesusahan nyari kerja. Rio masih sibuk dengan kuliah dan kayak tambah kuat ke radikalisme agama. Mungkin meding daripada ikut2 jil kayak abangnya ini.

9. oya, tentang rt/rw,
nah, kawankawin, kemarin2 bu nurdin mengadakan perhelatan anaknya, kukira si arif. Jadi, nah, pasang tendalah depan rumah ini. Nah, karena aku “bermasalah” dengan “masyarakat” maka pada hari H aku tak datang malah sengaja kabur ke sideko dan pura2 perhatian sama sijon yang ngagembel, hahaha. Kupikir, bagaimana ya pikiran bu nurdin, punten bu, saya juga ndak tau mesti gimana lagi. Datang diperlakukan rasis dan simplistis oleh orang kebanyakan seperti kalian, ndak datang… masih mending aku ndak cicing di dalem. Aku memaksakan diri ke jatinagor, ini bentuk penghormatanku pada hajatan bu nurdin dan arif lho. Kira2 kayak bagaimana aku kalo jalan ke dalem sini dari alun2 pasti ndak turun di depan ojek demi menghormati perasaan mereka, malah jalan memutar agak jauh. Walhasil, akhir2 ini bu nurdin agak kurang manis sikapnya. Yah, nasib kuterimalah. Toh, kawanku masih ada si teteh warung atau ibu2 lain yang bersikap netral. Oya, cerita ini perlu aku tambahkan dengan kejadian beberapa waktu lalu di warung si teteh. Waktu belanja, seperti udah lama juga, si aa bersikap agak “kurang” baik. Nah, si teteh terang2an bilang padaku agar bersabar karena katanya si om kita ini “panas”. Nah, benar juga kan dugaan2ku di cerita sebelum ini. Menariknya lagi sewaktu aku pergi toh si aa bilang makasih segala karena dia pada dasarnya emang baik, seperti dugaanku. Sekarang aku kemungkinan besarnya akhir bulan depan cabut dari sini, karena dipengaruhi juga bayar air yang kabarnya naik. Jadi dengan bayar listrik dan air 30 ribu sekarang per-bulan dan bisa jadi naik besok2 mending aku cari kos di jatinangor. Paling pusingnya, dari dulu juga, bagaimana ngangkut barang (plus persoalan komputer, skripsi, dan rencana kerja). Ya, paling juga dititip ke barkah dulu, tapi lumayan juga kalo ngangkat2 dipan yang ndak bisa dilepas ini. Dipan diarmas ini. Kalo aku jadi keluar dan tidak kos, kemungkinan besar balik ke rumah juga. Persoalan ini akan menjadi lebih ringan jika udah dapat ijazah, tapi yahh… masih harus berproses deh gitu.

10. bisa dibilang hobi baru: kalo ke jatos nongkrong baca tempo dan intelijen di tisera. Kadang2 numpang baca tempo sekilas di kopma sembari beli koran harga miring. Oya, kemaren2 sewaktu air di sini bermasalah. Aku boker di wc duduk jatos. Nah, herannya kok airnya kayak terbatas. Mungkin ada sabotase karena sepertinya w.c. itu hanya pajangan bukan kegunaan. Huahhaaaaahahahaha. Kayak komik aja lu.

11. tulisan acep saidi makin edan mengkritisi “kultur”-nya di p.r. Cuma saptu kemaren aku belum sempat baca karena ndak keluar dari rumah tercinta ini.

12. di sebuah tabloid khilafah di rumah barkah, aku membaca sebuah artikel yang terang2an menyebut goenawan mohammad dan tempo sebagai “musuh” islam. Kalo jil, apalagi pemikiran2 bebas mah udah biasa di angkat, tapi baru kali ini aku menemukan yang eksplisit menulis goenawan mohammad. Namun beberapa hari sebelumnya aku membaca tulisan di al-waie yang cukup bagus dan logis serta (tidak menggebu2 dan dengan nafsu) menkritik jil. Kebetulan penulisnya malah dosen paramadina, pantas bisa memberi komentar cerdas. Dan lagian toh aku tak sepenuhnya pendukung jil, apalagi kalo benar jil memiliki jalan tepat searah dengan liberalisme (apalagi hedonis) barat.

sudah dulu

wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww
wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww

1-2 Januari 2008

“Lebih baik taklagi dicintainya daripada gw yang keterusan menyintainya”. Kata-kata ini (karanganku sendiri looo..) cukup mencerahkan perasaan saya yang akhir-akhir ini kembali dilanda gundah gulana karena kena virus asmara. Campur-campur sih dengan hati yang berbunga-bunga, ehm. Aha, saya mengawali curhatan dengan proposisi yang lebih cenderung optimistis! Dan memang saya kira kali ini saya cukup berhasil semakin dengan lebih baik meng-handle kemelut cinta macam ini, khususnya efeknya yang berupa konflik di dalam batin dan jiwa. Kalimat pertama tadi begitu saja terlintas dan terasa cukup membantu dalam menenangkan perasaan dan membantu dalam hal mengambil sebuah keputusan (meski seperti biasa saya sangat sulit membuat keputusan tegas). Oh, untung saya ingat sewaktu menuliskannya sekarang ke file komputer ini. Aha, pria optimis!
Saya menilai kemampuan saya menghadapi kasus terakhir ini lebih baik dari berbagai kasus-kasus terdahulu bukan karena sekaranglah jatuh cinta paling berat yang kualami. Meski sulit juga untuk mengategorikan peristiwa asmara manakah yang paling dahsyat dari sekian kisah cintaku nih, hehe, saya cukup yakin bahwa cinta2an sama Si Esa sewaktu SMU dulu adalah yang paling berbekas. Oya, jangan kira saya sering jatuh cinta ya. Jaraaaaang bahkan, 6 tahun kuliah saya takpernah sekalipun mengalami jatuh cinta yang cukup signifikan dan relevan. Seingatan saya, kejadian sama Si Ana lah satu2nya yang boleh untuk dicatat. Dan ini terjadi selama lebih kurang 3 bulan masa-masa saya wisuda. Jarang banget aku jatuh hati coy. Beda kalo sekedar naksir apalagi nafsu, tiap hari barangkali ini mah. Ada mungkin satu dua kasus yang lebih menonjol, tapi saya pun tak ingat persis dan yakin bahwa riak2 kecil itu juga takperlu dicatat apalagi diberi tempat. Ada satu kasus malahan saya suka seorang cewek gara2 dia mirip Esa. Nah ini kan gak pantes rasanya disejajarkan dengan jatuh hatinya gw ke Esa asli dulu.
Kasus yang terakhir ini pun saya curiga cuma riak kecil. Tapi ini dia kelebihannya saya kira: dia datang di saat yang sangat taktepat. Dan ini yang membuat saya kagum pada diri saya karena sanggup menghadapinya. Saya saat ini enggak ada kerjaan dan takpunya teman, intinya takpunya satupun kegiatan selain melanjutkan hidup dengan tidur dan numpang makan di rumah orang tua. Tapi saya masih punya jiwa, hati, dan perasaan manusia. Anak muda pula. Dan anak muda ini kerjaaan sehari2nya tidur2an dan mengkhayal2 wae boleh dibilang. Nah. Jatuh hati pula dia pada seorang perempuan. Cerita mungkin setidaknya agak happy ending kalo ia jadian sama si cewe, tapi kalo sebaliknya?
Bukan cinta ditolak. Nah. Justru sebaliknya. Saya selama ini rasanya enggak ada masalah kalo cuma, sebut saja, cinta searah. Anggap saja kayak kamu nafsu lihat cewek2 seksi di tv2 setiap hari, kan kadang ada juga yang sampai level jatuh hati. Nah kalo saya jatuh hati sama cewe tapi gak ada respon ya saya biasanya juga ya sudahlah karena saya bukan tipe pecinta sejati yang memperjuangkan segala cara untuk mendapatkan (dengan paksa atau setidaknya semaksimal cara) hati kekasih yang diimpikannya (barangkali inilah masalah pada gw yang bikin aku takjadian dalam kasus terakhir ini, sama yang ada respon pun aku kurang usaha meski tentu ada alasannya). Tapi kalo dari si cewe ada respon, saya pun kesetrum, tapi karena lain sesuatu hal takjadi2 kami dan saya punya pekerjaan mengkhayal sehari2nya, kira2 menurut pemirsa apa yang terjadi? Ya, otak saya kehabisan energi untuk terus menerus bermenung mengana-ngana cewe ini.
Kalo saya dalam keadaan ada kerjaan atau punya komunitas dan kawan ngobrol setidaknya, yang intinya ada hal lain yang dapat saya lakukan selain mamanuang, terus mengalami kegagalan cinta mungkin energi frustasi saya bisa dihilangkan dengan mengosentrasikan pikiran ke pekerjaan, kegiatan, atau ngobrol2 dengan teman2. Dalam keadaan sekarang, saya dua bulan belakangan ini sudah merasakan sekali betapa menyiksanya. Untung saya takpernah jatuh hati sama seseorang saat manyun di Tanjungsari, paling juga berupa riak kecil dan emang sangat kecil terus saya walau sendiri di sana masih suka main ke Diarmas. Waktu awal kenalan sama Ana pun saya udah tinggal di kos Deko, jadi setidaknya punya kawan ngobrol spt Tori dan Blecos. Sekarang sama tembok aku curhat dan untuk sebuah konteks yang butuh cerita tersendiri: saya takbisa melakukan hal2 lain untuk mengalihkan kosentrasi, aku terdiam bisu di kamar ini. Inilah keadaan yang saya sebut sebut taktepat untuk mengalami pula sebuah problema cinta.
Ani nama gadis ini. Saya takjuga bisa memastikan bahwa dia betul2 suka sama saya. Cukup dengan kalimat: sepertinya segitu deh. Saya menulis cerpen tentang ini (Toeti senang duduk jaga warnet?) yang dalam beberapa hal cukup menampilkan fakta kisah ini. Tapi tetap cerpen itu fiksi, dilebih2kan dan dikurang2i. Tempat fakta yang utuh itu di sini tapi tetap ada saja tentu bagian yang, sengaja atau tidak, tak tercatat. Ani ini unik karena jarang dan aneh rasanya gadis di ranah minang ini yang seakrab gitu sama cowok kecuali lonte. Saya emang agak heran kenapa dia jadi begitu akrab pada saya kalo main di warnetnya. Tentu saja saya taktahu bagaimana tingkahnya saat saya tak ada, yang jelas sepanjang yang saya amati sikapnya ke saya cukup spesial pake telor. Sama pengunjung yang lain emang anak ini ganjen juga, tapi sama saya yang baru dikenalnya ini ia udah berani cubit2an sampei curhat2an. Enggak tahu juga apa ada pengunjung lain yang mendapat perlakuan selevel ini selain saya saat saya lagi tak di sana.
Oya, cerita ini akan panjang kalau dituliskan semua. Yang jelas otak saya sempat dibuat bingung apa gadis ini suka beneran sama saya apa sekedar agar saya sering maen di sana. Pilihan terakhir walaupun tidak menutup kemungkinan rasanya naif sekali jika saya ingat (mungkin duga) spesialnya sikapnya pada saya. Tapi pilihan pertama juga saya sangsikan karena, salah satunya, sudah lama takmaen ke sana ia kok belum ngontak saya juga. Setelah lama cukup akrab pada pertemuan terakhirlah saya (memutuskan untuk) nanyain nomor hp saat dia curhat sambil nangis (!?) tentang ributan sama cowoknya (dulunya ngaku belum punya pacar lho sama gw). Dua hari kemudian saya sms dengan materi yang berkonteks kawan biasa, mau numpang scan virus, tak ada balasan darinya. Saya sempat pula sekedar miskol di minggu dini hari dua hari sesudah sms itu, sampai sekarang dia enggak ngontak saya dan, tentu, juga saya. Tentu saja bisa jadi ada alasan bagus buat ini: dia pengen saya “usaha” nyari dia. Nah ini kan yang agak pantang buat guwa, apalagi kalo dugaan dia betul2 suka salah (walau saya kira kecil kemungkinan) lalu dihubungan dengan konteks keadaan saya saat ini yang akan panjang pula ceritanya.
Jadi, ya ceritanya akan panjang kalo ditulis. Cukup saya nulis serakannya saja deh.
Sebelum datang bareng siil, saya belum kenalan sama Ani meski seingat saya beberapa kali saya sudah sering maen ke sana dari biasanya main di warnet DD. Jadi cerita akrabnya baru dimulai waktu kami kenalan karena siil sebelumnya udah akrab sama Ani (dan belakangan saya jauuuuh lebih akrab sama Ani dibanding siil). Dan jatuh hatinya (saya) kupikir tumbuh seiring keganjenannya sama saya setelah kami saling kenalan itu. Sebelum kenal saya kira saya belum ada rasa apa-apa, paling sekedar nganggap dia cewek cakep dan saya merasa asyik maen ke warnetnya, kalaupun alasan seperti ini dulu itu ada. Yang jelas dan perlu dicatat, karena warnetnya ada diskon juga di pagi hari dan ada hal-hal yang menjengkelkan saya di warnet DD lah hal utama yang memulai kegiatan ngenet saya mulai pindah ke sana. Bonusnya emang operator cewek cantik.
Saya gak tau ya. Dalam keadaan sekarang ini saya pikir (tetap) mati lebih baik. Saya belum melihat ada cahaya (sinetron kegemaran Ani nih) yang meyakinkan ada di depan sana. Semua gelap terasa. Agama pun takjadi solusi (inga inga dulu dua tahun pertama kuliah aku ngaji sama pks) meski saya mencoba terus bertahan dan cukup percaya setidaknya apa yang saya lakukan bernama kesabaran. Nah, lalu cari cewek? Bagaimanapun saya laki-laki muda yang punya naluri pejantan di selangkangannya atau yang lebih abstrak: ada sisi yang kosong di hatinya. Kalo Ani ini gak nyetrum ke saya (maksudnya yang agresif) mungkin dia gak bakal jadi beban pikiran ke saya karena saya toh sabar menerima kenyataan belum dapat jodoh bahkan tidak punya kawan ngobrol satu pun seperti saat ini. Toh naluri menyantap perempuan bisa saya salurkan secara fisik dengan kegiatan “tertentu” (soal ini rasanya sudah saya tulis dalam diaros sebelumnya dan sebaiknya punya paparan tersendiri kenapa gw lakuin). Awalnya saya nganggap Ani sebagai teman juga lumayan bisa menyalurkan sesuatu yang lebih bersifat perasaan. Nah, seperti sudah saya bilang sebelumnya memang cukup mengagetkan buat saya ketemu perempuan ganjen spt Ani tsb di ranah minang ini. Tapi bukankah saya sudah lama hidup di “Bandung” sehingga (walau lingkungan saya juga nggak parah-parah amat) saya sudah cukup menganggap biasa saja hubungan yang lebih bebas antara laki-laki dan perempuan. Buat saya takjadi persoalan waktu Ani nyubit atau ngelus2 kepala saya atau kadang kami saling megang tangan saat bercanda sementara kami ini bukan pacar dan takperlu saling mengklaim memiliki. Sehingga kontak2 fisik tersebut takperlu pula deh dibawa-bawa ke dalam hati. Dalam tingkatan tertentu rasanya saya cukup punya kemampuan memiliki sudut pandang liberal seperti ini. Saya akrab gitu sama Ani awal-awalnya juga bukankah saya tak menutup kemungkinan bahwa Ani sudah ada yang punya (cowok-berapapun erat atau lemah ikatannya) karena rasanya takmungkin cewek cakep ini belum punya pacar. Kalo percengkramaan fisik kami ini saya bawa-bawa ke hati habislah awak kan. Tapi mungkin saat itu saya agak melupakan bahwa jejak belaian yang ia tingggalkan di wajah saya akan cukup berbekas karena kehidupan saya saat ini lebih banyak bamanuang and jobless and friendless. Otomatis kosentrasi ingatan saya lebih sering ke kenangan relasi kami berdua.
Sekarang saya lebih punya kesadaran akan hal itu. Dan sepertinya akan mengambil sikap untuk menjaga jarak dengan dia. Dulu kupikir having fun saja tapi sekarang saya rasa sudah kurang fun dan kuatir aku jadi fatal. Barangkali katalisatornya adalah pertemuan terakhir kami saat ia curhat tentang cowoknya. Entah cerita bohong atau tidak atau setengah bohong, Ani cerita bahwa cowoknya minta dibantuin buat nyari video porno. Di warnet itu, di depan layar komputer berdua, dan saya saat itu ada. Saya agak mual mendengarnya (mealnya belakangan, bukan pas lagi di sana karena biasa kalo saat di sana saya pintar bersikap cuek, perut guwa meloyo saat manuang tidur2an di rumah mengingat2nya). Saya baru agak sadar rasa posesif muncul: bagaimana mungkin kubiarkan “milikku” ini dengan lelaki semacam itu. Persoalannya mungkin clear kalo Ani ini jelas2 saya ketahui lonte misalnya atau setidaknya menjalani seks bebas dengan cowoknya (lalu saya mungkin juga kepengen ikutan hehe). Tapi ceritanya dicium saja takmau, baginya cukup pegangan tangan saja sama cowoknya. Seganjen2nya dia, bisa jadi benar begini dan memualkan bukan karena saya merasa hanya saya yang memiliki gadis ini (dengan catatan sekali lagi pengetahuan saya mengatakan dia bukan cewek nakal yang udah parah) tapi saya juga membayangkan di warnet itu dia sering membantu para pengunjung mem-browse situs-situs porno. Pernah ada kejadian dia ngomong (sambil ketawa-tawa) sambil duduk ke samping saya bahwa di sebelah lagi buka situs porno. Artinya cewek ini nganggap hal yang seperti itu hal yang biasa. Oya, perlu saya selipkan di sini sebelum nanti lupa bahwa salah satu yang memotivasi saya menggunakan warnet Ani adalah agar hasrat saya membuka situs-situs porno terkekang karena cewek ini suka nyamper ke depan komputer saya. Jadi walaupun udah malang melintang browsing xxx site, saya masih menganggap ini hal yang memalukan. Bagaimana dengan Ani? Adakah buat dia itu hal biasa? Kalo gak salah tangkap, waktu cerita tentang kejadian sama cowoknya itu dia sedih karena dimarahi cowoknya, cowoknya marah karena Ani gak bisa bantu cariin file video, dan Ani bilang bahwa kalau video ia takbisa tapi kalo sekedar gambar bisa. Bayangkan kalo saya harus punya hati sama cewek (yang belum bisa saya judge liberal atau masih saya anggap cukup baik-baik) yang sering duduk berduaan sama laki-laki browsing gambar-gambar cabul. Sementara saya kesepian di kamar ini seperti konteks keadaan sekarang seperti yang sudah saya cerita, memualkan bukan?
Sebetulnya juga gara-gara banyak fakta yang masih kabur dan banyak hal yang masih berupa menduga-duga yang membuat soal ini jadi berpeluang untuk makan waktu dipikirkan sebab ia berisi begitu banyak kemungkinan. Dugaan terkuat saya apa yang terjadi adalah begini. Cewek ini suka sama saya. Dia memang sudah punya pacar. Pacarnya itu selama ini melakukan pdkt finansial terhadapnya. Dia ingin saya berjuang merebutnya dari pacarnya. Dia ingin saya tanggungjawab memenuhi kebutuhan finansial selanjutnya. Sebab, ada kemungkinan dia taktahu betapa, katakanlah, kerenya saya. Maka, keputusan yang saya harus ambil sepertinya memang pergi dari Ani. Ok, banyak fakta lain kenapa begini napa gitu yang belum ditulis tapi aku harus sudahin dulu.


5 Januari 2008

Lalu, hari rabu malem gw ngecek email dan lihat ada comment dr Ani. Ngenetnya di warnet DD. Tapi saat itu sptnya saya memutuskan untuk menahan diri dulu tidak membuka friendster. Kalo saya log in fs ada kemungkinan Ani ngecek apakah saya udah pernah ke warnet selama ndak muncul di warnetnya. Kan ndak enak. Tapi kamis malem saya ngenet lagi dan log in fs setelah mempersiapkan update profil dan secukupnya alasan n strategi kalo mesti ketemu Ani juga nanti: kenapa gw ndak muncul lagi di warnetnya? Sekaligus saya rasa penting juga buat sering online di fs skrg. Saya mau nyoba cari kawan2 lama. Kayak sekarang lagi nunggu gabung sama Bobi Kaliang, saya kira walau tak sepenuhnya ini alasannya, cukup membanggakan lah kalo kita punya temen perwira A.D dan saya mau mengurangi kebiasaan buruk saya, mungkin, yang sama sekali kurang peduli dengan persoalan network. Tapi esa puti zul belum ketemu2 juga fs-nya. Saya liat2 fs smuntri yuga ndak ada die. Di friend irfan juga ndak ada. Berarti anak ini udah ngilang dr lingkungan pergaulan irfan syafei. Lah kalo aku nanya2 langsung ke irfan kan jelek juga ketahuan bahwa gw lagi2 nyari die. Dulu lu kemane aje... Lagian saya nyari Esa sekedar kenangan aja bukan serius buat dipacari lagi lo. Sekarang aja masa depan ndak jelas gini. Keinginan saya buat nyari2 kawan lama di fs ini salah satunya dipancing oleh request dari abna hidayati beberapa hari yang lewat. Mungkin dia tau fs gw dr irfan. Saya liat sekarang tu anak uda jadi wartawan antara, ckckck, padahal jaman kami sekolah dulu.. Seingat saya setidaknya selama di mtsn kami bareng selalu di lokal unggul dan dia juga ndak nonjol lah dibanding saya. Hehe nasib emang beda2. Saya aja yang emang sial (atau hasil dari pilihan gw sendiri mungkin) yang masuk jurusan yang salah dan terutama: lingkungan pergaulan yang salah. Saya jamin saya lebih punya insting kewartawanan di banding temen lama saya ini tapi... saya takpunya network untuk ke sana, selain kendala2 lain misal fisik deui fisik deui. Bobi Kaliang dulu seingat saya, gw lah yang bawa dia perdana mandaki gunuang (waktu bertiga bareng Si Boy), sekarang udah jadi letnan TNI dus ahli farmasi pula, gw...... siapa lagi kalo bukan pengangguran tanpa jaringan. Tambah pula masalah cinta seperti(nya) kudu kembali ke tadi.
Saya pikir2 sebaiknya dalam nulis diaros ini sebaiknya saya menulis ekspresif saja bukan deskriptif. Jadi saya tak dibebani target alur cerita dan kerapihan wacana tetapi mengutamakan penyaluran beban pikiran. Ok. Jadi wajar kalo cerita2 saya ini bakal sering ngalor ngidul. Saya ndak mau nulis pelepas stres ini malah jadi nambah stres. Kalo mau nulis yang berat dan mudah2an menghasilkan (uang) mending saya nulis cerpen atau esei serius. Saya bisa berulang kali membaca ulang untuk perbaikan aspek teknis bahasa hingga mempertimbangkan lagi pilihan kata. Untuk diaros cukuplah aku menuliskan saja apa yang ada di kepala ini. Sekali lagi, bukan mengeluh tapi jujur, secara fisik gw bermasalah. Jadi jangan sampai kegiatan menulis ini nambah2 masalah.
Jadi kembali ke Ani and the story. Nah kamis malam itu baru saya melihat, ooo sekarang baru ingat kalo rabu malamnya saya udah lihat isi comment dari Ani makanya kamis malemnya saya mempersiapkan update profile dan pesan balesan buat cewek tuh. Di comment gw pertama dia nulis thank you dengan ada gambar2 lovenya. Ini kalo ga salah dibikin jumat sore sebelum saat aku nulis sms buat dia. Thank you-nya itu bisa jadi ucapan thanks atas curhatannya dua hari sebelumnya. Jika benar berarti dia ga masalah waktu aku nolak dia minjem duit. Animasi love2nya nunjukin walau begitu dia masih mengharapkan sebuah aksi dariku.
Tapi ttg ini (cinta dan materi) gw rasa perlu diperjelas dulu. Walau tiap hari kesana gw selalu make motor butut, tetap aja mungkin anak ini masih enggak menyangka aku betul2 kere dan cinta samaku apa adanya tanpa sama sekali iming2 materi. Walau wajar, penolakannya dengan diem (dan tidak ada reaksi lagi) setelah kuajak jalan2 (tentu pake motor merah tu) suatu hari ke lubuk minturun menunjukkan itu kukira. Bisa jadi dari siil dia mendengar bahwa aku ini sebetulnya orang berada (yang sebetulnya: orang tuaku bukan orang miskin dan untuk ukuran kampungku ini tentu saja lumayan dianggap berada) apalagi dia tahu aku sempat kuliah di Bandung n walau make motor butut tapi ngalungin fdisk 1 giga di leher. Sewaktu dia (dari satu sisi) “manas2in” gw untuk ngeliatin cowoknya yang bawa motor besar seperti nantangin gw buat ngajak jalan dia dengan kendaraan yang lebih “baik” dan sanggup buat ntraktir dia tentu.
Tapi smsku yg tak dibalas (sampai sekarang) emang cukup membingungkan memikirkan kemungkinannya. Sms itu kukirim hanya beberapa saat setelah dia mengirim comment ber-content “harapan” tadi (yang tentu saja sebelumnya tak aku ketahui). Kenapa dia tidak menjawab kerinduanku yang bertemu dengan kerinduannya? Tak ada pulsa seperti cerita siil yang kudengar kemudian yang entah apa sengaja dia beritahukan untukku, padahal baru dua hari sebelumnya dia mc ke nomor gw (baru gw minta nomornya) yang artinya masih ada pulsa dua hari sebelumnya itu. Bisa juga berhubungan dengan usahanya menjaga jarak dg orang2 bypass ini karena waktu gw duduk2 sama dia terakhir kali itu datang uni miza yang minta nomornya untuk urusan cpns dan ia nolak. Setahuku siil buat ngurus uninya juga ga bisa sms doang Si Ani, artinya Ani mengira aku frekuensif dengan pergaulan disini dan ingin memberitahu orang2 disini bahwa dia gak ada pulsa (maklum bisnis). Tapi tetap kukira kemungkinan terbesar adalah dia juga berusaha keras menahan diri, berharap aku agar penasaran buat segera kesana (entah demi bisnis atau cinta atau sekalian keduanya), atau kalo perlu telpon malemnya dan ngisiin pulsanya dia. Tentu saja aku tak melakukannya. Tadinya besoknya sesudah sms itu aku udah ada niat bulat buat kesana, mungkin saking kangennya, tapi gak jadi gara2 hujan dan sakit perut yang tiba2 (pemberitahuan tuhankah, yang jelas aku sering mengutuki kejadian seperti ini: sial hujan selalu datangnya hanya saat aku butuh dia ga ada). Tapi aku bersyukur juga dari peristiwa itu aku jadi bisa untuk mengambil keputusan, kalo pun ga meniggalkan sama sekali, setidaknya menjaga jarak dulu dari cewek ini.
Kesal karena smsku ga dibales (sebab ada juga dugaan dia “jual mahal” pula sama gw, dan dalam konteks keadaan gw sekarang spt diceritakan di awal ga memungkinkan untuk berdarah2 pula mengejar2 dia walaupun walau aku yakin betul dia memang berharap akulah pria yang mengejar2) tambah cerita, yang entah bohong, jujur, atau setengah jujur, Ani tentang cowok tajir tapi maniaknya betul2 bikin aku mual dan mulai yakin bahwa adalah salah dan sudah tak sehat lagi jika saya masih memelihara hubungan semacam begini dengan Si Ani. Ditambah sebuah kalimat mencerahkan itu, saya setidaknya agak bulat untuk mulai menghilang. Cuma bagaimana caranya yang baik, komunikasi lewat fs itulah akhirnya yang jadi cara saya. Walau keadaan saya lagi begini deh sekarang saya kira jika pertemanan saya dan Ani betul2 bisa dijaga dan jelas2 sebatas teman mungkin aku masih bisa menikmatinya dek.
Nah, commentnya yang kedua di fsku ditulisnya saat malam tahun baru sekitar jam 9 malam. Isinya animasi tahun baru tambah ucapan: “mana janji abang mau ngajak adek jalan tahun baru” dan comment terakhir juga ucapan selamat tahun baru menggunakan animasi dengan ukuran lebih besar lagi yang kulihat ditulis hanya beberapa menit sebelum pergantian tahun. Hihi, di edisi ini dia mulai memperjelas status adek bagi dirinya. Jauh-hari beberapa waktu sebelumnya aku secara setengah spontan ngajak dia mandaki marapi. Kenyataan di akhir2 membuat aku makin ragu buat jalan sama dia. Dan terus terang salah satu masalah terbesarnya adalah gua kudu nanggung ongkos dia sementara dia ceweknya gitu deh. Tentu banyak pertimbangan lain, spt pacarnya, persiapan fisikku utk naik gunung, dan kondisi marapi saat ini. Hasilnya aku memutuskan ga kemana2 tahun baru. Nah, comment darinya itu menunjukkan kalo dia berharap aku samper ke warnetnya, entah kita jadi naik gunung atau entah sekedar gimana (kalo aku mau ajak dia jalan hura2 duitnya darimana bung, selain make duit bonyokku?). Hal spt ini kurang kuduga sebelumnya karena gw emang merasa dicuekin sms ga dibales, lain cerita mungkin ya kalo dia bls smsku? Tapi tetap aja ada kemungkinan di malam tahun baru itu (sementara aku spt hari2 biasanya manyun sepi sendiri di kamarku ini) jalan sama pacarnya bukan kerja di warnetnya sembari berharap aku datang. Karena berharap aku jadi lelaki alternatif atau lebih parah lagi sekedar tetap jadi pengunjung warnetnya, maka ditulis jugalah comment itu. Tapi lihat, dalam semalam itu dia nulis dua comment buat gw and salah satunya ditulis di detik2 menjelang tahun baru, jadi kecil kemungkinan dia keluyuran malem itu di luar. Dia mengharapkanku? Lebih penting lagi, kadang aku harus egois kupikir agar taklagi batin ini tersiksa, sejauhmana dan seperti apa dia yang kuharapkan? Cinta kami mungkin bertemu tetapi caranya tidak kukira. Meski 100% itu mungkin tak ada, saya emang ndak percaya dia 99%. Jadi bagaimana dia mengharapkan saya akan berjuang berdarah2 untuk menjemputnya. Sekali lagi taksoal kalo sebetulnya dia juga tak mengharapkan saya sepenuhnya (spt salah sebuah kemungkinan dari puisinya di fs), yang jadi soal adalah saya dalam keadaan seperti sekarang ini jadi terus kepikiran dia. Maka lebih baik keputusan harus diambil walau tak semua argumen ada. Memang banyak hal yang masih kabur, tapi daripada gila mencari kebenarannya lebih baik sesegera mungkin menyenangkan hati ini dengan mengambil sikap praktis secepatnya. Seperti, jika hubunganku dengan Ani adalah sekedar hepi2 kayaknya bagus tuh buat kesehatan jiwaku yang tengah kosong seperti kata monty tiwa ini. Meski sejak awal aku sadar, mungkin, walau bagaimanapun (sekalipun dia pecun) ini brengsek juga. Tapi aku harus segera mengambil keputusan pragmatis, sudah capek aden mencari kebenaran, setidaknya sesaat rehat lagi, meski apa lu pikir gampang untuk mewujudkan hubungan hepi2 ini tanpa uang? Mari bersantai, jika tidak, mari berlupa! Yang jelas sekarang udah ada keputusan sehat (meski bukan terbaik) buat menghindar darinya dan selanjutnya kita lihat perkembangan: apakah ada kelanjutan cinta ataukah cinta berikutnya.
Tapi malam ini saya pengen nyambung lagi tulisan di atas yg mungkin kutulis pagi.
Sementara masih tentang Ani dulu deh. Sampai sekarang belum ada juga kabar dari dia walau nomerku udah ada di-nya. Kalo dugaanku bahwa puisi di fs-nya buat gw (bisa juga buat pria lain atau lain lagi spt kepentingan bisnis atau juga tafsir campuran: ya cinta ya bisnis)adalah bener, tambah provokasiku lewat profile, poet, and message di fs yang kemungkinan besar uda dibacanya, maka agak mengherankan juga dia cukup sabar gak duluan ngontak aku. Apa betul semata karena gak ada pulsa? Atau karena menurut dia gw lah yg kudunya ngontak ke sana? Atau dugaanku ttg semata atau utama perihal bisnis lah yg terjadi yang benar? Atau dia betul2 sudah menganggap aku teman biasa (gara2 cuekku selama ini) sehingga heran dengan provokasi fs-ku dan penghilangan-ku lalu merasa itu lucu? Atau justru dia frustasi dengan hal itu lalu sekarang melepas stres dengan cowok maniaknya itu? Hal terakhir ini akan sangat membuat aku tertekan dan penuh sesal jika aku masih seperti minggu2 kemaren dalam menyikapi Ani atau belum menyalurkannya dalam sebuah tulisan alias sekedar meraba2 dalam kiraan2 khayalan sambil tidur2an yang akan sangat memakan waktu itu.
Ayo bayangkan hal itu. Bener, ndak terlalu menyakitkan jika ini ditulis (tentu karena faktor2 lainnya seperti visi misiku yang sekarang beda dengan sebelum2nya). Ani kembali ke pelukan pacarnya gara2 stres atas sikapku. Gara2 stres atas sikapku yang tadinya (aku) sangat dia harapkan bisa jadi tambatan hati karena sudah takmau lagi dengan pacarnya yang sekarang yang menurutnya brengsek. Dia suka aku, aku suka dia. Tapi aku harus melakukan hal ini, dan gara2 stres atas hal itu Ani manis ini, dalam keadaan frustasi kembali ke pelukan pacar brengseknya. Mengajak maniak itu hura2 untuk melepas stresnya, ada kemungkinan mereka minum2, lalu Ani diperkosa ah, setidaknya mereka saling ciuman secara sukarela: cowok brengseknya karena nafsu, adekku ini karena stres patah hati terhadap sikapku yang sebetulnya juga suka sama dia. Bagaiamana perasaan saya yang sebetulnya cinta pada dia (yang setidaknya jadi agak berat karena, sekali lagi, kondisi kesepianku saat ini) tapi karena kondisi pula harus mengambil sikap begini (yang membuat kekasihku itu frustasi lalu lupa jaga diri)? Santai aja lagi, mungkin. Saya mengambil keputusan di tengah fakta yang kabur dan efek dari keputusanku ini pun masih banyak kemungkinannya kok (yang kabur buatku). Mana tau cowoknya itu sebetulnya lelaki baik2, alias dialah yang pecun sama aku. Meski mungkin juga tidak.
Sedikit jawaban dari pertanyaanku di atas tadi mungkin sedikit bisa dikuak jika aku buka fs, rencananya, besok. Lalu Anda bisa menikmati kelanjutan kisah romantis ini nanti.
Sekarang gw mo nulis tentang o nani. Sebelumnya dalam diaros edisi2 sebelumnya mungkin udah ditulis tapi aku pengen nulis lagi tentang ini. Mana tau ada bagian yg belum ditulis dan tentu saja perkembangan terbaru belum. Ini adalah salah satu sejarah paling memalukan buatku, tapi masih berlangsung sampai sekarang, dan satunya lagi tentang korupsi duit ortuku. Seingatku dua hal inilah hal paling hitam dalam hidupku yang udah kutuliskan di diaros, tentu saja dengan segala upaya pembenarannya. Tentang korupsi duit ortu kuingat lagi kurang lebih sekedar soal pemindahan accountku ke rekening yang tak terpantau ortu dan saya sudah sangat merasa berdosa atas hal itu.
Panyaluran hasrat seksual lewat masturbasi itu ndak disangka masih sangat sulit untuk saya hentikan. Seingat saya hal ini baru saya lakoni kurang lebih tiga tahunan kali, jadi sampai semester enam aku masih lajang baik2. Saya ingat sekitar waktu kkn aku kan kos di caringin dan saat itu saya masih belum tahu cara onani yang bener meski masa itulah saya kira kegiatan nista ini saya mulai. Entah bagaimana awalnya saya terpancing. Yang jelas tiga tahun pertama kuliah saya belum ada kepikiran kesana, mungkin gara2 masih aktif kuliah dan memikirkan banyak hal lain. Empat tahun belakangan aku sering sendiri dan frustasilah beliau si jon kecil. Mungkin, seingatku, conversation yang cabul dengan sijon2 lah yang memberi jalan bagiku untuk mulai ke arah sana, yang jalan seiring dengan keterkucilanku dari pergaulan dari kegiatan. Oya barusan ingat, ini sepertinya juga difasilitasi oleh komputer yang mulai kumiliki di semester tujuh (sewaktu di kos hegarmanah) tambah aksesku ke dunia internet. Yah, naluri yang dulu tidak terfikirkan (ingat kawan2 yang lain sejak dari smu atau lebih rendah lagi sepertinya, dari cerita2 mereka, sudah memulainya) gara2 kesempatan eksternal jadi terpancing dan sulit kuhilangkan sama sekali sekarang seiiring pula keadaan hidupku yang gimana mau kawin masih pengangguran. Tambah pula manyun tak ada teman dan tak satupun kegiatan selain bertahan hidup, dan naluri itu juga tetap hidup. Saya bukan mencari pembenaran tapi saya cuma bilang saya dalam posisi yang sulit untuk menghindar. Seperti seorang perokok yang ingin berhenti, dengan menyamakan faktor2 lainnya, Anda tentu tak akan mengira sama saja kesempatan untuk berhenti merokok bagi seorang yang berprofesi sebagai preman pasar dibanding seorang pengawal presiden? Itu daya ngaruh eksternal, internal namanya kalo keinginan kuat saya untuk berhenti onani dan ngerokok (ini sempat saya pikir jadi resolusi tahun baru ini tapi ternyata gagal maning son). Eksternal juga bisa mempengaruhi eksternal kok, seperti dalam kasus uda jarangnya saya merokok sekarang karena menghemat duit yang ada dan karena sehari2nya di rumah. Lama manyun di rumah sepertinya juga tidak memancing ambisi saya untuk nyari rokok kecuali kadang2 apalagi pas stres berat tapi kadang ga juga.


7 Januari 2008

Barusan gw rasa2nya lagi2 melakukan kesalahan. Akibat spontanitas juga. Di satu sisi spontanity ini good karena gw tak diberi beban guna merencanakan segala sesuatu (yang akhirnya ternyata gagal pula). Jadi ada positifnya, walaupun ini buruk setidaknya tidak berat karena tanpa rencana untuk tidak menghasilkan yang buruk (tentu secara sekilas aku merencanakan beberapa detik sebelum ngomong bahwa ini bagus tapi setidaknya bukan sesuatu yang direncanakan, semisal, berbulan2 utk bagus ternyata buruk – sebagaimana kesialan yang kusangkakan selama ini). Sebetulnya kalo mau optimistis dan tak dibebani pikiranku ini aku cukup berpikir gimana ke depan, jadi kalo kupikir ini buruk ya sudah lupakan. Tapi kalo kuungkit juga di satu sisi ini bagus untuk menyalurkan pikiran yg tersimpan.
Rasanya sebuah kesalahan tadi waktu kisah dengan si Ani kuceritakan sekilas ke Eko (dan justru mungkin karena sekilasnya ini: berbahaya). Sebetulnya juga ndak berbahaya amat karena si Amat eh si Eko kan ustadz. Aku sebetulnya udah merasakan bahwa Eko udah menjaga jarak dariku (jadi ia bukan tempat yang tepat untuk curhat) tapi mungkin karena saking gembiranya aku ia datang (?) aku pun curhat ke satu2nya teman yang masih (kadang) mengunjungiku ini. Jadi, tadi spontan aku bilang dia: mau ndak baca cerpenku? Lalu spontan pula background cerpenku ini diceritakan (sekilas). Dan kayaknya dia juga ndak baca, jadi ini menambah bukti bahwa ia berusaha menjauhi (menjaga jarak) dari “duniaku” tapi wajar sih. Lagian ndak apa2 juga daripada ga ada bahan obrolan lain. Ngobrolin yg berbau filsafat kelihatan dia makin jenuh tapi wajar: salafi...
Oya perkembangan tentang si Ani kayaknya belum kutulis. Pertama masih ndak kontak. Kedua, pengetahuanku tentang dia bertambah, dan tiga menghasilkan kesimpulan yang menguatkan sikapku yang diambil (untuk menjauh sepanjang aku ndak kuat nahan kesetrum). Namun sepanjang aku kuat nahan setrumannya (dan sekali lagi keadaanku sekarang sangat tak memungkinkan dan mendukung untuk itu) kayaknya penyelidikan tentang karakter cewek ini menarik juga. Di fs aku menemukan fakta ttg beberapa relasinya dgn mantan2nya, keliatannya orang2 tsb pada kecewa atau setidaknya meragukan kesetiaan cewek ini (oya tolong catat, buat saya sekarang, setidaknya, setia atau ganjen tu ndak masalah, yang masalah hari2 yang kosong saya membuat otak ini harus diberi beban pikiran tentang dia mulu). Dalam salah satu comment fs pada seseorang yang mungkin kecengannya atau yang mengecenginya saat ini terlihat kata2 cewek ini, kemungkinan disengaja, bernada cabul. Tapi jika betul laki ini cowok maniak yg diceritainnya sama saya, dan mungkin bisa jadi pemilik warnet tempat dia kerja (atau setidaknya orang berduit tempat dia minjem duit), kecabulan ini juga adalah sandiwara. Bisa juga setengah sandiwara (alias setengah ada nafsu juga) karena dari fotonya cowok ini keren juga kayaknya dan tentu saja si Ani ini tipe cewek yg sangat lapar orang ganteng. Tapi kenapa dia ataupun laki ini masing2 masang status singel di fs, ada kemungkinan mereka orang bebas lebih parah lagi (dan mungkin emang dugaan yang sangat terlalu jauh) seks bebas? Banyak kemungkinan (yg tak diketahui) inilah yang menggelisahkan diriku.
Haha, kadang kuingin ya udah ndak usah dipikirin. Tapi kadang rasanya menarik juga secara profesional dan ilmiah untuk meneliti kepribadian cewek ini. Salah satu temen fsnya memasang foto2 porno (jadi ini orang lebih parah lagi dari teman cowok lainnya yg nulis who I want to meet: cewe2 yg bisa dikentot gratis), kenapa orang2 ini ga di delete sama si Ani ya? Saya masih penasaran apa dalam beberapa hari ke depan si pemasang foto porno itu masih friend Ani, kalo ya emang parah juga cewek ini. Bisa jadi mereka2 ini tetap diterima demi kepentingan bisnis warnetnya. Aroma demi bisnis ini salah satunya kutangkap dari foto2 terbaru Ani di fs-nya yang kukira ketebelan bedaknya juga saat ketika aku dengerin curhat dia di meja operator dan ia make bedak di depan saya.
Bagaimana dengan puisinya. Meski belum menutup kemungkinan buat saya adalah hal menarik bahwa kalo saya menangkap dari commentnya thd mantan2 pacarnya terlihat dia masih punya perasaan. Pasti ada orang yang sangat mengena buatnya dan puisi itu buat orang itu, atau campur2, atau memang sama sekali saya ndak masuk (dibuktiin dengan dia ndak pernah ngontak dan sejauh ini belum ngasih comment apa2 lagi setelah saya beraksi di fs). Tapi apakah betul sama sekali ndak ada hubungannya puisi tersebut dengan pengetahuannya bahwa saya kul di sasindo? Lebih sulit lagi dipercaya bahwa puisi itu buat (kemungkinan) cowoknya yang sekarang karena masing2 mereka ngaku singel di fs (cowoknya sekarang tu yang mana dan apakah beber udah jadi cowoknya aja saya gak bisa mastiin). Bisa jadi pula “cowok” ini udah (bahkan) beristri jadi status singel itu topeng. Terlalu jauh kemungkian yang harus kupikirkan, menjadi beban tapi membuat penasaran tapi mudah2an ini betul jadi penyalur kegundahan pikiran. Ketika dia curhat sambil nangis dan bilang sangat sayang sama pacarnya, dan sakit kepala kalo sehari aja ndak ketemu, apa buat cowok sekarang itu, buat gw (gw nangkep tiap datang kesana dia masang muka kangen bahkan pernah sekali waktu mau bayar mau pergi dia ngedip2 lama – kayak semacam dikijoknyo den – seolah bilang tembaklah aku dengan panah asmara), atau buat campur2 karena gw nangkap dia sangat berkesan dgn mantan2nya karena orang2 itu ganteng kayak saya. Haha. Banyak fakta yang menghasilkan berbagai kemungkinan yang membuat tidak cukup meyakinkan membuat sebuah kesimpulan.
Paling sedikit yang sanggup kusimpulkan dari fakta yang semakin bertambah ini (dari banyak lagi yang masih misteri) adalah bahwa Ani ini termasuk cewek yang mudah jatuh hati sama cowok ganteng dan didukung oleh kemampuannya menarik pria yang diinginkannya. Sama gw dia kemungkinan besar juga suka – kalo pdktnya ke gw ada demi bisnisnya setidaknya tak itu semata – namun tak sekuat yang aku duga semula dengan hanya membaca puisinya itu karena kulihat belakangan dia sepertinya masih ada kesan dengan cowok2nya yang lama dan kemungkinan juga gampang terkesima dengan yang berikut2nya. Jadi karena cintanya pada saya masih standar, belum menjadi yang paling dan sangat, wajar kiranya fenomena dia ga bales sms saya dan sepertinya mengharapkan perjuangan lebih dari gw seperti... waktu dia nunjuk2in cowok maniaknya aku menangkap kesan dia mengharap perlindunganku. Bisa jadi karena gw pake motor tua ke sana gw masih dianggap anak sini sehingga cowoknya itu pun akan ragu buat macem2. And, kemungkinan dia semata mengincar kepentingan finansial dariku sepertinya gugur dengan comment2nya yang ditulis setelah hari terakhir gw maen kesana di hari aku nolak minjemin dia duit. Meski masih sepertinya. Memang masih banyak fakta yang belum sebaris dan rumpang2 sehingga pengetahuan yang dihasilkan sejauh ini memang teu puguh.
Setidaknya untuk Ani kukira aku berterima kasih atas dua hal: pertama, pada awalnya, dia menjadi (dalam beberapa taraf) seorang teman di tengah keterpurukanku hidup sendiri sehingga semangat hidup ini cukup meyala lagi walau berbarengan dengan kegelisahan karena bagaimanapun dia perempuan dan gw masih jomblo dan dia cakep pula dan dia yang agresif pula maka sekarang kuputuskan sudah tak sehat jika aku tak sanggup menjaga perasaan tetap maen ke sana dan kedua, selama ngenet kesana gw jadi kehalang browsing situs porno karena tu anak bisa muncul setiap saat ke tempat gw. Baru kedua kali gw ngenet bukan di sana gw udah kepancing buat cari bokep lagi (karena cuman gw yang di depan monitor) dan menariknya yang kemaren itu dipancing oleh gambar2 cabul di friend fs si Ani tadi. Sewaktu mau ke warnet itu sama sekali aku ndak ada niat, betul2 spontan kepancing gambar dari temennya itu.
Oya, kalo gw betul2 siap walau susah banget buat nahan setruman asmara si Ani alias menjaga perasaan (bersikap profesional sedang melakukan investigasi ttg karakter dan kehidupan seseorang) kayaknya berkunjung lagi ke warnetnya sangat menarik, bukan hati, tapi keingintahuan fikiran. Ah setidaknya aku melakukan investigasi jarak jauh dengan fs, mulai dari pasif menanti reaksi selanjutnya atau justru memulai melakukan kontak buat memancing reaksi dan mendapatkan fakta baru. Ani, watch out, I’m watching you! Ah udah lama gak ketemu kerasa kalo aku jauh lebih lega dan lebih bisa mengendalikan perasaan. Bener kata ustadz jumatan kemaren, mengutip ahli psikologi beliau, bahwa apa yang kita lihat, dengar, dan baca (dalam kasus itu dia membahas tv) bagaimanapun langsung atau tidak akan mempengaruhi kita. Otak saya boleh berpikir bahwa mencintai perempuan ini adalah sebuah kesalahan tapi kalo hampir setiap hari saya mesti memandang wajah ayunya yang bertambah ayu karena memancarkan panah2 asmaranya pula ke gw tentu saja otak gw bisa keok. Dari Ana gw belajar tentang waktu ini, saya bisa melupakannya seiiring waktu. Sekarang saya heran kok pernah begitu down dulu waktu si Ana marahan sama saya (dan peristiwa se-down dulu itu toh belum kualami lagi) padahal kupikir2 sekarang cewek kopo tsb gak cantik2 amat. Lebih jauh lagi saya agak heran (sekarang) karena pertimbangan kecantikan (untuk ukuran sekarang) rasa2nya sangat2 kurang masuk buat saya jatuh cinta berat semasa mtsn sama si mila. Padahal saya ingat persis hal itulah yang jadi ukuran utama gw waktu itu. Apakah waktu membuat ukuran kecantikan saya berubah? Yang jelas waktu telah membuat saya mengenal seks, dan dalam keadaan terjerambab di kondisi begini, sulit menjauh dari jeratannya. Kadang saya merindukan rasa sayang yang lebih tulus spt waktu sama si esa. Terlepas dari dia cantik, secara body buat ukuran saya sekarang dia kayaknya kurang banget, tapi anak manis ini sungguh tetap paling berkesan buatku dan mengingat dia lumayan bisa membantuku untuk melupakan kegelisahan saat ini dalam kasus Ani. Ah sayangku, seandainya tidak dalam kondisi begini mungkin aku mencarinya meski tentu saja rela kalo dia, misal, udah kawin karena gw juga bukan pecinta buta.

12 Januari 2008
Kupikir2 sebaiknya kisah tentang Ani di-case close-ken we. Kasus ini musti segera ditutup karena kelihatannya lama2 jadi tambah rumit. Tambah banyak informasi yang didapat bukan berarti akan semakin mudah, bisa jadi ya itu jadi tambah sulit difahami. Sampai sejauh ini dia ndak juga ngontak gw. Kemaren aku browsing internet lagi dan mendapati bahwa dia punya friend baru yang bernama Donny. Kemungkinan ini cowok yang ia ceritakan, meski mungkin juga (saya kira ini kemungkinan kecil) fiktif sebagaimana sebelumnya saya menduga yang bernama Eed lah cowoknya sekarang. Terus friend cabulnya yang bernama fajar masih ada, bahkan aku baru tahu di gambar pornonya itu dimasukin nama annie seolah2 ini bisa ditafsirkan bahwa tu orang ngenet di warnet Ani dan punya fantasi tentang tu cewek secara brutal. Kenapa ga di-delete sementara dalam beberapa fakta lain ia masih terlihat menggunakan simbol2 agama seperti semoga Allah melindungi kita dan segala macam. Bisa jadi cerita tentang cowoknya yang minta bantuan download bokep itu betul (atau setengah betul) dan kenapa malah kayaknya sama tu cowok sekarang kelihatan tambah akrab? Jadi tambah banyak fakta juga membuka tambah banyak kemungkinan dan meski semula aku berniat menyelidiki secara ilmiah kepribadian cewek ini tapi aku kuatir juga lama2 kembali terlibat secara perasaan. Jadi aku menguatkan kembali kemungkinan untuk tak terlalu mengacuhkan soal cewek ini. Case closed. Belum tentu juga kalo gw masih penasaran karena sekarang2 ini gw kudu banyak menyenangkan hati biar ga stres. Jadi aku akan menyelidiki dia selagi porsi menyenangkannya kukira lebih besar daripada porsi stresnya.
Dalam kaitan cewek ini sama saya, aku menduga (dari fakta sejauh ini dan pengenalanku lebih jauh tentang kepribadiannya -- baik dari pengalaman kontak langsung atau tafsir atas isi fs-nya atau coment2-nya) kemungkinan besar yang terjadi adalah... oop sebentar fakta satu ini juga perlu kayaknya kutuliskan sebelum membicarakan dugaan terakhir ini. Foto utama Ani di fs kukira memperlihatkan ia difoto (memfoto diri sendiri) dalam keadaan habis menangis seolah2 mengasih tahu bahwa dia sedih atas apa yang terjadi dalam hubungannya denganku dan tafsir ini diperkuat comment seseorang (yang dugaan kuatku – tentu berdasarkan fakta yang akan terlalu panjang pula kalo dituliskan disini -- mantan pacarnya yang paling berkesan) yang menanyakan apakah Ani baek2 aja. Jadi lelaki ini bisa jadi melihat dalam foto tsb Ani habis nangis (sekali lagi gambar foto itu ndak terlalu jelas jadi aku juga menduga) tambah pula dia mungkin mengikuti profilku di fs. Meski tentu bisa jadi kemungkinan ini salah. Jadi dugaanku tentang perasaan Ani tsb selama ini pada gw adalah... sekali lagi ini hanya dugaan terkuat berdasarkan pengetahuanku dan bisa jadi yang sebenarnya sama sekali bukan ini... dugaanku adalah: cewek ini emang suka sama gw tapi kecewa karena gw tidak berjuang mendapatkannya. Kenapa dia ndak juga ngontak gw? Antara lain jawabannya ya itu: seharusnya gw yang musti ngontak dia sebagai lelaki. Bisa jadi cintanya juga ndak berat2 amat karena, misal dari segi fisik, walau ganteng aku ini kan kurus banget gitu loh (dan terus terang karena dia mau sama aku yang kayak ginilah – jika benar – yang betul2 nyetrum ke gw dan membuatku sangat terharu dan sulit utk melupakan dia begitu saja). Bisa jadi pula dia berpikir aku yang ndak suka dia, karena dia tahu aku pernah kuliah di Bandung lalu dipikirnya aku merasa ndak level sama dia (fikiran seperti ini terus terang ada tapi menurutku kurang baik kalo ndak sebaiknya dibuang sama sekali) atau setidaknya karena dia tahu aku pintar orangnya, seperti yang ia sendiri katakan (mungkin karena baca blog gw juga), maka aku ini dirasanya ndak selevel sama kemampuan otaknya. Seandainya semua ini benar, kelompok dugaan yang bersimpulan Ani mengharapkanku dan sedih atas kehilanganku, apakah gw tidak merasa bersalah membiarkan wanita ini terluka perasaannya? Padahal, dalam batas tertentu, sebetulnya aku juga suka dia bahkan sangat dan jadi setiap saat kepikiran dengan keadaan gw saat ini. Kasarnya, persetan dengan perasaannya, bagaimana dengan keadaan hatiku ini. Apakah akan lebih baik bagiku jika “mengejarnya”? Dan bagaimana jika dugaan2ku ini salah: dia takcinta? Parahkan ke gwnya dalam keadaan begini. Jadi kembali persoalan akunya yang lebih penting deh. Aku suka dia, tapi aku kurang percaya sama dia, dan hidupku lagi berantakan maka akan selalu kepikiran dia kalo jatuh cinta. Jadi ndak salah keputusan yang kuambil untuk menjarak. Kadang aku merasa ragu untuk mengabaikannya karena teringat kata2 bijak bahwa sangat jarang dalam kehidupan ini kita bertemu seseorang yang kita cintai dan juga mencintai kita maka jangan lepaskan kesempatan itu. Kata2 ini (aslinya dalam bhs inggris) yang kupajang di fs dan mungkin (salah satu yang) bikin kepincut si Ana dulu. Jadi sayang kan, kapan lagi gw bisa ketemu cewek yang saya suka dan ia merespon pula. Tapi sekali lagi sama Ani ini saya khawatir kepribadiaannya yang rada playgirl itu bakal sangat menghancurkan hati aku yang dalam, sekali lagi, kondisi begini. Jadi persetan (kasarnya nih), dengan berat hati harus kulepas orang yang kucinta dan mencintaiku ini ke cowok maniak seks tsb, toh soal jodoh katanya tuhan akan memberikan yang sepadan buat kita. Dan mana tahu cowoknya itu lebih baik sebetulnya. Kalo tidak mana tahu emang tipe cewek kayak Ani ini pantasnya dapat lelaki kayak gitu. Ah, mudah2an aku bisa happy menutup kasus Ani ini dan, hehe, segera bertemu kecengan baru yang menyegarkan pikiran bukan menggelisahkan. Jadi case closed. Kita lihat aja nanti.


9 Februari 2008

Apa yang kutulis di awal file ini, sepertinya, masih berlaku. Tapi sepertinya apa yang sudah saya sp3-ken sptnya juga secara alamiah kembali saya buka. Duh, sambil nulis ini aku denger lagu mp3 Aku Mau-nya Once pula, jadi serasa ada di sono, dgn perasaan die sengaja muterin-nya buat gw tsb. Tapi bener kata ramalan zodiak tsb mungkin. “Dia mencintai Anda, tapi dia menganggap Anda tidak terlalu berharga untuk diperjuangkan. Buat apa mencintai wanita seperti itu?” Begitu pulalah saya sebaliknya ke dia. Cuma sekali lagi ditekankan: sepertinya saya berada dalam posisi yang jauh lebih sulit.
Setelah menghilang selama sekitar sebulan, gw main lagi ke warnet Ani. Dan ajaibnya kami otomatis romantis seperti tak ada kejadian apa-apa. Sekarang gw bingung apa besok atau lusa ngenet lagi kesana atau menghilang lagi? Ini juga digara-gara-ken perasaan tidak menyenangkan yang kurasa-ken di warnet DD, selain kesulitan rute ke sana, sehingga jadilah warnet Ani cukup menggiurkan lagi. Pas pula saat-saat mulai tak menyenangkan di warnet DD ini berdekatan dengan comment fs Ani yang menebak (atau barangkali memang tahu) aku ngenet di DD dan nyuruh gw kesana. Nah sekarang aku berniat buat kabur lagi ke DD tapi cuma?
Mungkin naif sekali mempertanyakan kenapa dia ndak juga ngontak aku sampai detik ini sebab toh gw juga setelah sekali sms itu juga ndak pernah lagi mau ngontak die. Sekali lagi ndak maunya aku tsb ada konteks keadaanku sekarang yang takbisa berdarah2 ngejar tuh cewek plus cewek yang hendak dikejar ini begitulah deh. Tapi ada analisis menarik, dia ndak ngontak aku bisa berarti dia betul2 mengharapkan perjuanganku mendekatinya. Nah, kalo die cuman sekedar pengen “manfaatin” gw (misal, biar sering main ke warnetnya) tentulah dia mau pura2 bersikap membutuhkanku lewat memulai kontak telpon/sms.
Entah ada rekayasa atau setengah skenario, terakhir kemaren ke sana sayup2 kudengar (baca: mungkin aku dipaksa untuk secara taksengaja mendengar) tentang kondisinya sekarang yang takpunya pacar (pada kunjungan sebelumnya hal ini kepadaku udah diungkapkan langsung dan aku memberikan sikap seolah tak percaya; jadi bisa jadi dia kembali berusaha meyakinkanku lewat percakapan berikutnya ini - dengan sptnya ibu sebelah - dan juga aku meski dengan sepotong2 mendengar menangkap kesan dia berusaha mengeraskan obrolannya biar aku denger) dan sesuatu yang berhubungan dengan tidurnya dia di warnet tersebut sekarang. Yang terakhir ini bisa dihubungkan dengan obrolannya denganku tentang buser (kriminal) belakangan ini; yang bisa berarti dia mengharapkan perlindunganku.
Dan sampai sekarang situasinya masih belum memungkinkan bagiku mengambil tindakan. Apakah aku punya cukup uang buat memulai ngontak die? Lalu apakah aku mengenal orang-orang di sekitarnya (saya ndak tahu pasti di sana ia tidur dengan siapa) lalu apakah orang2 itu bisa menerima saya (saya menangkap kesan tidak) lalu kalopun (meski takmungkin) ini semua terlewati apakah hubunganku dengan cewek macam Ani ini tidak akan jadi konsumsi fitnah bagi keluargaku oleh siil dkk (sekali lagi jadi masalah karena nantinya akan bawa2 nama keluarga)?
Dan pertimbangan keadaan nasibku hingga kini cuma kembali lagi menghadirkan kegelisahan dan niat buat tak lagi menemuinya. Karena masalahnya, bagaimanapun aku punya perasaan terhadapnya dan serta karena aku tahu dia juga punya perasaan terhadapku tapi aku ndak bisa melakukan apa2 dan konteks belum juga mendukung dua cinta ini bersatu. Upaya menjaga jarak telah kuusahakan. Awalnya cukup membantu menenangkan perasaan tapi karena masih kontak lewat fs akhirnya ya kami ketemu lagi lalu gelisah lagi. Tapi sukurnya juga kupikir kegelisahan saat ini tak separah sepanjang desember lalu itu. Karena, meski belum tuntas atau barangkali juga belum cukup, aku semakin lebih kenal tipikal cewek ini sehingga lebih bisa menetapkan nilai lalu memutuskan sikap. Barangkali besok kalo aku menemukan dia “ngobrol” sama seorang cowok di meja operator itu tak akan shock betul seperti seandainya ini terjadi di saat lalu.
Bahkan gw pernah sampai pada titik berbahagia atau setidaknya berharap dia betul sudah punya cowok ketika siil (entah benar entah bohong entah waktu itu ia cuman jalan sama bosnya) mengabarkan lihat Ani boncengan sama seorang cowok ke Lubuk Minturun (awalnya panas juga sih) – dan kabar ini pula yang mendorongku untuk lebih enjoy kembali menemuinya karena toh dia udah punya kecengan lain. Dengan punya cowok (yang serius) berarti sikap mesranya padaku akan berubah sehingga gw tak lagi pula akan dibuai dengan angan yang macam2. Tapi eh... sampai sekarang masih mesra aja, ngaku ndak punya pacar pula. Terakhir kemarin nyaris die hendak tiduran di pangkuanku ini. Cowok mana yang bisa tahan bo... dalam keadaan gini pula, keadaan yang ndak memungkinkan melakukan apa-apa.
Tadinya gw sempat berpikir baru akan menemui Ani lagi kalo udah punya lingkungan sosial sehingga sewaktu dihancurkannya bisa segera berpaling ke gadis lain atau setidaknya ada temen buat curhat. Nah, makanya inilah yang membuat gw cukup berharap besar ikut tes bimbel G.O kemaren. Ternyata ndak lulus, dan aku udah ketemu Ani lagi, dan sejarah berputar ulang kembali. Bagaimana menerangkannya pada perempuan ini?
Masalahnya (atau setidaknya salah satu titik soal intinya) dalam hubungan kami ini adalah ½ cinta meski penuh itu tak ada. Dia setengah hati karena gw orangnya secara fisik kurus, orang kampung (lubuk minturun), dan mungkin miskin. Ini dugaanku tentu. Saya setengah hati karena dia perempuan ganjen dan masih orang minang. Yang terakhir bersifat tambahan beserta alasan2 naif berikutnya ini: intelektualitasnya kurang karena berasal dari keluarga biasa2 doang sehingga bibit bobot bebetnya kurang. Tentu ini juga dugaan2 awal saya karena masih banyak misteri yang belum tuntas (dan keinginan untuk tetap “berkawan” dengan Ani ini juga – seperti sudah disebutkan sebelum2nya – sangat didorong oleh keingintahuan saya akan karakter gadis ini dan apa yang sebetulnya secara objektif terjadi di antara hubungan kami sehingga bisa jadi bahan pembelajaran bagi anak cucu kita nanti). Apa cukup saya mencintainya karena dia cantik doang? Dan – ini beratnya – makhluk cantik ini sepertinya suka pada saya di tengah saya sedang begitu diasingkan dunia. Proposisi terakhir ini punya dua efek bertentangan. Yang satu positif, karena dia menjadi dewi penyelamat saya dari permusuhan seisi dunia. Negatifnya, keadaan saya sekarang itu (yang terisolasi secara sosial ini) lah yang akan “membunuh” saya seandai gagal setelah berdarah2 berusaha mendapatkannya.
Ah, mudah2an saya kuat menghadapinya dan mudah2an gusti alloh menunjuki hati ini. Idealnya aku berharap bertemu pasangan yang solehah, tapi gw sendiri masih merasa berat untuk memutuskan menjadi soleh karena emang masih sulit untuk yakin sepenuhnya. Saya kadang merasa menangkap sinyal bahwa apa yang terjadi pada saya saat ini (hal-hal sulit) dan tidak terkabulnya harapan saya untuk mampus segera bisa berarti ujian tuhan untuk saya menjadi orang besar nantinya. Bisa jadi pula hukuman sebetulnya. Atau kalau make paradigma atheis yah unlucky aja posisi gw dalam sistem mekanis otonom semesta materi tok. Tapi kenapa tidak untuk optimistis. Begitu sangat sulit dibuat tuhan posisi saya dalam berbagai kasus sampai saya pikir lebih baik mati meski saya juga tahu bahwa amal saya belum seberapa. Tidakkah ini candradimuka untuk menghadapi “keadaan” sebagai orang besar nantinya? Entahlah, toh ini hanya menduga dan optimistis kan...


15-16 Maret 2008

Meski baru aja (mulai) baca buku pembangkit motivasi dan “berpikir positif” dari paman epi dan akhir2 ini terus berusaha menghindarkan diri dari kegiatan mengutuk-ngutuki nasib, tapi rasanya cukup penting juga aku menuliskan prasangkaku berikut ini. Menuliskan, setidaknya ini juga lah yang aku usahakan untuk dihindarin kalo pun persepsi yang timbul di batin sangat sulit untuk dikendalikan. Sepertinya nasibku emang terkutuk, setidak2nya – mudah2an ini yang benar – gw lagi dalam ujian berat. Sekarang tren lagi hujan di malam hari, justru di saat aku lagi butuh bepergian di malam hari. Siang yang biasanya sekarang terang benderang dan malam, di saat2 sekarang aku punya schedule rutin ke warnet yang murah obral banting harga malam2 gini, hujan terus hari. Seingatku ketika aku lagi punya schedule pagi untuk ke warnet ani, malam justru cerah siangnya yang hujan. Entahlah, seingatku, sejak di tanjung sari soal hujan ini jadi simbol bagi peruntunganku. Biasanya, dan mungkin udah berulangkali kutuliskan di diari, kalo gw lagi ada perlu keluar datanglah hujan kalo enggak dan malahan gw pengen hujan biar suasana enak lagi pengen manyun di rumah atau niat pergi gw langsung berantakan pasti tuh hujan sialan tiba2 berhenti begitu saja. Tuhan selalu mengabulkan sebaliknya dari yang kuminta sampai2 gw kepikiran untuk berdoa dengan teknik terbalik, yaitu meminta sebaliknya dari yang kuinginkan agar keinginanku dikabulkan Tuhan karena biasanya yang dikabulkan itu adalah yang sebaliknya dari yang kumintakan. Mungkin ini emang sangat naif dan terlalu sangat menggenaralisir, tapi setidaknya kutuliskan ini Cuma untuk mengeluarkan unek2 di pikiran ini biar tak terus2an jadi beban. Maafkan aku ya gusti karena bagaimanapun aku akan tunduk pada-Mu...
Jadi kembali lagi cerita kita ke soal cinta ya, tadi kan udah kesinggung dikit. Jadi sekarang udah lama ndak main lagi ke warnet Ani setelah awal bulan kemaren sempat semingguan muncul lagi ke sana, tapi tetap di fs kami masih berhubungan uh oh... Terakhir ke sana di sebuah sabtu pagi, dua hari sebelum ultahku, meski aku juga tak punya rencana untuk ajak dia jalan. Nah, berputar 180 derajat dari satu kunjungan terakhir yang sebelumnya – yang ada scene dia tiduran ke pangkuanku – pada sabtu pagi itu dia sama sekali mengacuhkanku dan “bermesraan” dgn pengunjung warnet lain. Kemungkinan besar, hal itu dilakukannya karena, satu, marah sebab aku masih juga cuek sama dia setelah upayanya terakhir kemaren (salah satu bentuk konkret dari cuek ini adalah aku ndak juga telpon atau sms dia padahal rabu itu dia udah berupaya secara tak langsung menceritakan kekuatirannya tidur di warnet itu dan dia mengira setidaknya malamnya aku bakal menanyakan keadaannya sebagai bukti sayang dan indikasi pdkt) dan, dua, dia pengen manasin gw agar segera bertindak pdkt ke dia sebelum dia yang cantik bagai merpati dan diincar banyak lelaki ini berpaling ke lain hati. Apapunlah yang jelas gw emang panas saat itu karena bagaimanapun antar kami telah saling ada “interaksi” dan celakanya dia sendiri pula lah yang boleh dibilang mulai melempar “bola”. Untung di tkp rasanya gw cukup bisa mengendalikan diri. Yang jelas aku masih ingat sesudah kejadian itu, malemnya mungkin, aku bisa shalat di rumah dengan bercucur air mata. Secara keseluruhan cucuran air mata itu emang untuk segala dosa2 gw, tapi yang jelas kejadian di warnet ini lah yang memicunya dan membuat aku, secara khususnya, memohon2 pada gusti Alloh agar bisa “melupakannya” dan tidak membiarkan pikiran2 ttg cewek ini mengganggu hidupku yang sudah berantakan ini. Tapi dibanding perpisahan pertama yang terakhir ini terasa lebih enteng rasanya karena, satu, telah lebih banyak pertimbangan kuat (berdasarkan fakta terbaru) dalam membuat keputusan dan, dua, sesaat saat itu mendekat ke Tuhan. Oya apapun perkiraanku di sini sekali lagi berdasarkan sekian fakta dan kemungkinan yang akan terlalu panjang jika dituliskan semua di sini.
Jadi sekarang dugaanku tentang cewe satu ini begini saja. Sebagian cukup besar telah kuduga dari awal2 dan fakta2 terbaru menguatkannya. Cewe ini suka padaku (kemungkinan besar ½ hati lebih dikit), ia menantikan perjuanganku, lalu kecewa atas kecuekanku karena dia ndak tahu keadaanku. Kemudian cewe ini emang bertipe agak “nakal” emang (“gampangan” {gampang2 merepotkan} sama pejantan) tapi gak sampai ngelonte alias masih beribadah menjalankan perintah Allah. Pertama ke sana aja di sesi ke dua, aku mendapati dia lagi shalat. Salah satu bukti lainnya, yang juga mengindikasikan dia masih mengharapkan upayaku alias masih membukakan pintu hatinya jika aku mau berusaha seperti kata ramalan zodiac, dia langsung menghapus foto2 tanpa jilbabnya (yang dipajang setelah aku ndak lagi maen ke sana) setelah gw secara halus protes. Dan sekarang2 ini di fsnya lagi rame fitur kemuslimahan sampe2 lagu backsoundnya pun sepertinya lagu mesir (kebetulan barangkali berbarengan dengan wabah ayat-ayat cinta) yang mungkin digara2kan tuduhan “pura2ku” ke dia bahwa dia cewe “nakal”. Kemudian terlalu banyak fakta2 lain yg akan terlalu panjang jika diceritakan semua seperti temen fsnya bernama doni yang kuat dugaanku fiktif dan justru maksudnya aku sendiri. Sementara bagaimana dengan saya? Dengan kadar kurang lebih sama (+/_ 60%) juga masih suka sama dia cuman yah keadaanku juga masih begini2 saja. Jadi ya inilah keputusanku lebih baik menjaga jarak, tidak mendekat tapi juga ndak pergi sama sekali. Emang ini status quo yang memusingkan karena jika terlalu dekat bakal merusak (karena dia tipe cewe berbahaya, atau setidaknya aku jadi terikat lagi buat ngenet di sana) dan kalo sama sekali bubar yah sudah terlanjur saling tertancap panah asmara (dan setidaknya lagi mana tahu aku suatu saat butuh ngenet ke sana). Setidaknya aku bermain2 dengan kemungkinan dan bikin ini lebih menyenangkan agar hidupku kini gak terus2an terasa sengsara. Dan sarana permainan ini adalah kontak kami di fs. Sekarang2 jika akan memuat sebuah update profil apalagi kirim pesan di fs gw harus berpikir apakah efeknya akan makin merekatkan atau malah memisahkan sebab dua2nya tak kuinginkan. Ah sepertinya gw lebih menikmati status quo dalam tingkat ketegangan tertentu seperti sekarang ini...

02 April 2008
masih tentang cewe yang mungkin memang agak nakal itu, tapi membuat aku jatuh hati karena lagi “begini”. Kisah kami masih ngambang dan nyaris tak ada perubahan mengezutkan. Dari maka itu eh maka dari itu sekarang aku lagi kepikir untuk mempertegas sebuah simpulan yang cukup kuat yang kupikir daripada cukup bisa memberi efek positif bagi diriku sendiri. Setelah beberapa perang urat syaraf kami lewat profile fs dan serangan langsungku lewat message ataupun balasan tanggungnya dapat kusimpulkan: seperti dugaan semula, cewe ini suka tapi engga begitu2 amat. Begitu2 amat ini dalam ukuran pengertian tipikal kayak dia. Mungkin emang bener dia pernah menangis karena tindakanku, tapi tetap aja dia merasa: aku ini tidak terlalu berharga untuk diperjuangkan, namun dia masih memberi secercah harapan untuk perjuanganku. Mungkin emang bener argumen dan logikanya, ataupun logika orang kebanyakan, bahwa semestinya aku lah yang berjuang, tapi aku berjuang? Dalam keadaan gini? Dan untuk cewe yang kayak gitu? Seandainya gw dalam keadaan yang lebih baik pun dan punya energi serta pegangan aman untuk berjuang tsb, gw yakin kemungkinan terbesar perjuanganku juga untuk cinta yang masih berbau main2 karena dia begitu deh dan saya belum merasa cukup full perasaan pada wanita yang satu ini seandainya betul anggapan bahwa kita mesti mencari cinta sejati – alasan terkuatnya adalah juga karena dia tipe perempuan yang gitu deh – dan sekali lagi gw serasa cinta berat sekarang semata karena gw dalam keadaan lagi gini. Sekali lagi yang dimaksud dengan keadaan lagi gini ini salah satunya adalah: perempuan tsb datang menggoda saat saya tak punya seorang teman pun untuk berinteraksi.
Mungkin emang tidak betul bahwa dia di sana sampai melacurkan diri karena aku juga pernah pergoki dia lagi shalat, berucap2 berbau arab, dan di perang urat syaraf kami di fs dia terus menghiasi profilenya dgn yang berbau2 agama untuk menangkis tuduhan “kejamku” (sekaligus membuktikan bahwa bagaimanapun kejamku itu dia masih cukup berharap aku mau berjuang lagi mendekatinya). Tetapi aku sangat yakin dia tipe cewe yang ganjen mungkin pula doyan atau untuk memanfaatkan lelaki (materi) dengan memanfaatkan kecantikan fisiknya. Nah bagaimana mungkin aku menaruh harapan pada wanita seperti ini setidaknya dalam keadaan gw yang sedang kesepian seperti sekarang ini? Apa aku harus mengalami lagi kegelisahan hari2 kemaren saat hanya bisa bermenung sendirian selama seharian di kamar sementara membayangkan satu2nya teman yang saya miliki dan saya menaruh hati sedang bergembira ria dengan lelaki2 yang tentu, karena kecantikannya, tengah mengerubung di sekitarnya, apa lagi jika dengan kemungkinan dia melacurkan diri di sana! Dan perempuan seperti ini lah yang jatuh hati (tidak dengan sangat sangaaaaat berat) pada saya yang tengah terkapar ini. Saya tidak mempersoalkan beratnya (kalo cinta mati mungkin saya juga malah terlalu terjerat dan hubungan spt itu juga tidak baik sepertinya). Nan jadi masalah sekali lagi adalah keadaanku saat ini! Sekarang mah lebih baik aku jatuh hati sama perempuan yang ndak shalat tapi bisa menjaga kepercayaanku. Kenapa ini terjadi sekarang bukan dulu? Kenapa bukan seperti yang dulu yang terjadi sekarang bukan di saat dulu? Takdir? Positifnya, ini latihan kesabaran dan pengendalian diri.... Mungkin....
Satu hal yang cukup meyakinkan diriku untuk akhirnya berpaling dari wanita ini, bagaimanapun adanya kemungkinan begitu besar cintanya padaku seorang meski ia harus menghadapi nasibnya sebagai operator warnet yang cantik yang dikelilingi banyak lelaki sebagaimana tergambar dari puisinya atau tersirat dari message dan profil fs-nya, adalah: dia sepertinya tidak merasa bersalah (atau setidaknya tidak terlalu merasa bersalah alias cuman sedikit menyesal) atas kejadian pada pertemuan terakhir kami. Waktu itu, tidak biasanya, dia sama sekali tak menghampiriku dan justru cekakak cekikikan sama pria2 lain. Mungkin benar bahwa hal itu justru dilakukannya untuk memancing kecemburuanku (atau berusaha memanas2iku) setelah usaha2nya yg lain seperti gagal karena aku tak kunjung “perhatian” padanya. Walaupun aku sudah tahu dia tipe cewe yg ganjen tapi kejadian terakhir itu terasa sangat dibuat2 berlebihan dan sewaktu aku mau pergi terlihat sekali air mukanya yang seperti berusaha untuk terlihat tak bersalah atau apa lah sekaligus terlihat malu atas perlakuannya padaku. Oya sekadar informasi, sebaliknya 180°, pada satu pertemuan sebelumnya dari itu aku justru mengalami sebuah peristiwa bahwa terasa dia ingin mencium rambutku (dengan cara mendekatkan kepalanya ke arah kepalaku dan berhenti dalam jarak seangin) sewaktu aku sedang menerangkan sesuatu sambil menuliskan sesuatu dan menghadap ke tulisan itu sementara dia di sebelah tapi sedikit kebelakang dariku dan posisi kepalanya sedikit di atas kepalaku dari arah samping belakang. Kebetulan hari itu tumben aku mandi dan keramas kalo gak salah sebelumnya. Sebelumnya gw biasanya dalam keadaan kucel dan bau datang kesana. Tentu kejadian seperti ini meski tak pasti karena tak dilihat dengan mata yg fokus bisa dinilai dari apa yang dirasakan. Meski juga ini bukti pula keganjenan cewe ini. Jadi, setelah kejadian terakhir yang memancing kecemburuanku itu dan dia tahu itu (bahwa aku terluka) dan dia tak merasa bersalah (dan ini menunjukkan ia merasa sifat ganjennya tetap berstatus ok2 saja) dan menganggap tetap sekarang terserah aku apa mau berjuang aku hanya bisa bilang la la no way tidak! Mungkin aku belum menemukan orang lain yang bisa menghapuskan ingatanku kepadanya karena aku masih dalam lingkar keadaan yang “menempa” ini, tapi aku terasa sedikit bisa mengambil nafas lega karena sekarang lebih yakin bahwa perempuan macam ini tak baik buatku. Thx God..


04 April 2008

Tadi barusan survey lagi tentang perkembangan “kemungkinan” hubunganku dengan “lonte” itu dan menghasilkan sebuah kesimpulan yang mendukung dan mempertegas sikap yang kuambil ini: sebaiknya lupain sajalah cewe ini. Tapi how? Emang ndak gampang dalam keadaan gw yang gini, tapi seberat apapun itu tidak lah lebih berat dari pada jika ini tak kulakukan dan kuambil jadi pilihan. Tapi sebelumnya aku mau menuliskan sebuah satu fakta lagi -- walaupun aspek tafsirannya tetap saja bersifat asumsi – untuk menguatkan dugaan bahwa cewe ini bukan tidak sama sekali tidak cinta berat samaku. Di suatu pertemuan dari beberapa pertemuan awal kami, cewe ini mampir ke tempatku ngenet sambil bawa2 foto yang keliatannya baru ditjetaknya (dan soal foto ini, terlebih kalo ini sengaja dibikin sejak kenal aku, semakin menguatkan indikasi cewe narsis dan gampangan {dalam pengertian tertentu} -nya). Barangkali dia kecewa dan tak menduga aku sama sekali tak memintanya dan ini menguatkan daya imunnya terhadapku, kejadian ini persis pula dengan scene dia main2in hp-nya di sebelahku (seolah berharap aku bakal nanyain nomernya). (Tambahan juga scene waktu dia minta download-in lagu malaysia berjudul kerinduan, ceileeee). Tapi sikap cuekku ini jugalah sepertinya justru yang membuat diri ini seperti tetap bertahan di hatinya. Sebagai cewe narsis dia tentu akan sama sekali tak peduli padaku setelah apa sikap yang kutunjukkan padanya belakangan ataupun selama ini. Tapi, soal narsis ini juga makin terlihat dari survey terakhir dan menguatkan putusanku untuk berpaling darinya.
Sepertinya antar kami emang terjadi sejenis perang urat syaraf. Apa yang kupancing dari profile fs-ku maupun tulisan di blog gw sepertinya mendapat tanggapan lewat edit profile fs-nya. Ya seperti disebutkan tadi: masih suka tapi jual mahal, narsis tapi “gampangan”. Saya ndak nyalahin dia juga karena apa emang pantas aku nyari cewe yang lebih baik lagi? Masalahnya cewe macem gini dan keadaanku saat ini ndak cocok chemistrinya, jadi lebih baik hentikan sejak awal upaya menyiksa diri yang lebih kejam lagi. Setidaknya, kukira juga, upaya provokatifku dengan seolah menuduh dia pelacur lewat perang urat syaraf tadi telah membuatnya sering mendadandani islam2an fs-nya dan mana tau itu sedikit mempengaruhi sifat2nya dan pekerjaanku itu toh telah berbuah hasil memperbaiki sifat seorang muslimah. Dengan perspektif aku sangat mengharapkannya memang mengecewakan mendapatkan fakta bahwa perubahan tersebut tak terlalu signifikan karena sepertinya dia tak terlalu merasa ada yang salah dengan gaya hidupnya tapi bukankah merubah habit bukan lah sesuatu yang instan. Setidaknya, sekali lagi, aku telah meninggalkan sebuah kesan untuk jalan panjang perbaikan.
Tapi untuk sama sekali memutuskan hubungan dari gadis ini, walau sempat kepikir lagi sekarang biar hidup ini lebih tenang dan karena aku lebih yakin lagi sekarang aku ndak salah sangka akibat kurang tahu situasi sehingga ndak salah ngambil keputusan, rasanya masih naif. Biarlah aku menjaga situasi pertemanan ini dan melatih lebih kuat lagi kendali perasaan hati yang kumiliki. Dan seandainya nanti muncul juga reaksi langsung (berupa surat dari dia menanyakanku) – sesuatu yang ingin kuhindari dengan memutuskan hubungan sama sekali tadi biar aku tak hancur karena tak kuat menahan godaan, sekarang aku merasa lebih punya informasi sehingga dapat lebih yakin mengambil sikap atau seperti apa menjawab. Dia masih berharap aku mendekatinya yang punya sifat mungkin hanya sedikit berubah itu, dan itu tak mungkin. Aku semakin yakin dengan sikap ini.


05 April 2008

Oya, satu catatan penting lagi dan perlu ditekankan tentang kisah cewe tsb. Memang faktor utama hubungan ini gagal dibina adalah keadaanku sendiri, artinya dengan keadaan yg lebih baik mencoba bermain api membina hubungan dengan seorang lonte sekalipun – terlepas dari pertimbangan2 lain bahwa ini takbaik – mungkin aku oke2 aja. Tapi ini juga penting untuk meyakinkan diri mengambil keputusan. Dari kejadian pertemuan terakhir kami itu aku jadi tahu bahwa cewe yang satu ini adalah tipe perempuan yang sangat potensial untuk menyakiti hati lagi suatu saat nanti. Jadi untuk apa bersusah payah berjuang mendapatkan wanita macam ini. Kebanyakan lelaki emang mungkin sangat potensial selingkuh, tapi mereka sebagian besar mungkin akan selingkuh diam2 berusaha agar pasangannya tak tahu agar tak menyakitkan hati wanitanya. Tapi cewe macam Ani ini saya yakin -- dengan memanfaatkan kelebihan karunia tuhan berupa kecantikan fisik yang ia miliki sehingga gampang untuk merayu laki2 lain – akan dengan sangat tega dan terang2an menyakiti pasangannya. Seperti yang sudah ia tunjukkan di hadapanku. Jadi, tak salah aku memilih menghindar. Mungkin aku secarak jarak jauh akan terus menggoda (meski tentu ini cukup berat juga karena kembali menghadirkan godaan untuk pdkt lagi padanya tapi ini setidaknya tak lebih berat daripada jika dilakukan dari jarak dekat). Karena kalo aku sama sekali menghilang dan putus habis rasanya aku bakal dicap sejenis pengecut atau apa lah kesannya jadi enggak asyik juga. Setidaknya dengan tingkat berat yang tidak lebih berat ini menjadi sarana latihan buat menggoda wanita saja kuanggap, karena ilmu ini suatu saat mana tau juga diperlukan lagi jika sudah tiba saatnya nanti. Walah duh gusti pahit ini kutelan lagi....
Atu lagi yang mau gw tambahin. Seandainya alasan aku merasa enggak asik dicap pengecut karena menghilang begitu saja, dan meninggalkan kesan ndak mau (ndak berani) usaha itu tarok lah naif maka setidaknya dengan aku terus menggoda berikut2 nanti ini adalah juga bertujuan utk memberi harapan pada dia. Sehingga, dia akan bersabar menantiku. Ini sangat pahit juga sebetulnya buat saya karena terus menggodanya padahal saya sudah tau dia ndak baik buatku terlepas nasib nanti mungkin bicara lain. Sehingga, dia hanya akan berpaling dariku jika menemukan pria lain yang lebih baik dariku nantinya. Jadi upaya merayuku ini nantinya sama sekali bukan buatku lagi (karena aku sudah tahu ia tak akan kumiliki) tapi semata demi kebaikan dia agar dia tetap menjaga hatinya untukku dan baru berbagi hati jika dia melihat ada yang lebih baik dari saya. Inilah cinta yang tulus, meski atas nama sesama manusia tapi aku bahagia sementara bisa menjaganya (agar tetap mencintaiku) agar hanya agar akan menemukan laki2 lain jika yakin ia lebih baik dariku. Seandainya dia yakin aku udah ndak mau ama dia, berhubung juga dengan mental “gampangan” cewe ini, tentu besar pula kemungkinan dia bakal asal kena rayu laki2 lain yang “sembarangan” pula. Nah, karena kusayang padamu dek aku hanya rela elu jadian dengan lelaki lain yang lebih dariku. Nah tentu itu syaratnya elu kudu jadi perempuan baik2 pula. Nah itu bisa dilatih lewat kesabaranmu menungguku. Sesuatu yang aku tahu hanya latihan tapi ini semua demimu dan sedikit demiku agar tak kehilangan muka disangka pengecut. Soal perempuan dulu aku memang sangat pengecut tapi sekarang lebih karena keadaan oke!
Cuman datang lagi masalah seandainya elu mulai kirim message ke gw. Mudah2an gw bisa menghandle-nya dengan baik. Meski berat, gejolak perasaan ini bisa lebih terjaga jika kita ndak ketemu. Oh malam minggu. Tiap malam minggu kayak sekarang, sudah empat bulan ini aku menjadi seorang yang selalu gelisah karena membayangkan apa yang engkau lakuin di sana. Apalagi di hari2 ketika aku masih sangat kuat menduga kemungkinan nakalmu. Coba saudara bayangkan: karena keadaan saya cuma bisa merindukan seseorang yang berada tidak terlalu jauh dengan saya dan sedang “nakal” dengan banyak lelaki. Sekarang kemungkinan agak nakal itu masih ada tapi fakta terbaru (dengan embel2 islam2annya) membuatku lebih tenang dan lagian udah lama takjumpa gejolak ini juga jadi tak separah dulu tambah pula aku sekarang lebih yakin untuk berlepas tangan darimu tapi sebagai sesama manusia masih akan melakukan kebaikan untukmu sekalian sebagai sarana agar tak kehilangan muka. Saya sekarang jadi teringat di salah satu pertemuan sesi 2 kita kau bilang: susah ya bang kalau ndak punya pacar, tak ada tempat mengadu. Yah, maafkan. Karena keadaan aku jatuh hati berat padamu tapi karena kenyataan juga aku harus memutuskan berlepas darimu.


16 April 2008

Ikut dipancing oleh lagu dari Merpati Band yang berjudul “Wanita Yang Mencintaimu” gw jadi pengen nulis lagi tentang merpatiku bernama Ani Airin Sagita tea. Setelah lama tak berkirim surat fs, dia memulai lagi. Mungkin terpancing juga oleh provokasi profile fs-ku pada masa itu, sekaligus ini memperkuat fakta bahwa adanya sandiwara yang kami mainkan berdua lewat media tsb. Aku udah bales sekali, kemudian terakhir dia kirim message (bukan comment lagi) yang belum bisa gw jawab hingga kini. Tentu kemungkinan terbesar jawaban yang diinginkannya adalah aku datang ke sana. Tapi semudah itukah, setelah apa yang terjadi selama ini?
Tapi kadang kupikir salah juga jika aku kembali berpikir dari sudut apa dia berpikir tentangku. Memang cukup penting untuk meyakinkan bahwa ia benar mencintaiku tapi tetap saja yang lebih penting dan lebih masuk akal untuk dijangkau adalah apa yang kupikirkan tentangnya dan bagaimana baiknya buatku, bukan buatnya. Kasus cinta sebelah arah dengan seseorang dulu telah membuktikan benernya cara pikir begini. Walau ia cinta 150% ke gw tapi kalo gw kurang ada rasa ya gimana, toh kuacuhkan meski sampe sekarang gw merasa bersalah meski tetap emang ga ada rasa mau gimana lagi dan akhirnya kadang aku jadi nrimo atas kisah cintaku yang selalu menyedihkan ini dengan argumen bayaran atas dosa2 cintaku selama ini kepada mereka yang dengan tulus menyukaiku. Ahhh.... Nah juga, seandainya Si Airin ini sampe cinta “berat” pula bukankah – sebelumnya juga udah disinggung bukan – gw juga bakal repot karena sampai sekarang, meski berstatus jomlo abadi, saya termasuk orang yg membenarkan poligami secara ilmiah dan argumentatif. Meski juga kadar cintanya kunilai sedikit tak mencapai target yang kuharapkan sehingga, dalam kondisiku yang begini, rasa dan hati kami bisa dikawinkan – nah kukira inilah formulasi yang tepat tentang situasi yg terjadi sehingga sebaiknya memang tidak diteruskan (meski juga belum bisa diputuskan untuk berakhir sama sekali sepertinya) – saya tetap saja terganggu dengan pikiran bahwa cintanya itu cukup besar jika diukur dengan situasi normal. Jadi baikkah jika masih terus2an berpikir dari sudut pandangnya bukan baiknya bagiku?
Tapi keputusan melepas total juga meragukan karena selain merusak silaturahmi juga kurang meyakinkan bahwa akan membuat kekhawatiran gw selama ini hilang sama sekali. Tidak bertemu langsung memang telah cukup membuat gejolak rasa ini tidak terlalu menggonggong lagi – karena “setrum” listrik langsungnya udah ga ada lagi – tapi tetap saja ada dua fakta yang selalu membayangi benak ini: gadis manis ini menyukaiku yg jomlo ting ting ini dan di tempat itu ia tinggal “sendiri”. Apakah pikiran seperti ini bisa hilang dengan aku ndak komunikasi lagi dengannya? Saya meragukannya, yang jelas adalah silaturahmi kami rusak dan peluang untuk “membinanya” menjadi, setidaknya, lebih sangat bertambah sangat sulit. Toh aku juga suka padanya. Satu2nya jalan melupakan seorang perempuan spt sering dikatakan orang adalah mencari yang lain lagi. Tapi dalam keadaan begini? Keadaan yang membuat rasa kasih sayang kami ini mesti terpendam di dada dan hanya bisa kucurahkan lewat byte-byte file kata.... Bah, jika tak lagi begini aku bahkan merasa tak perlu pula cari yang lain lagi jika kandas cintaku ini, toh selama ini terbukti aku lebih punya minat dan perhatian pada hal-hal lain selain bidang cinta2an ini. Tapi lagi begini ini yah cinta menanggung itu datanglah dia mengusik. Seandainya dia baca ini mungkin dia bakal ngira kalo persoalannya yang saya sebut “begini” itu sekedar gara2 lagi pengangguran atau bisa jadi juga dia malah ngira selama ini soalnya cuman gara2 ndak berani ngungkapin atau meragukannya (yg terakhir ini ada benernya dikit sih). Its complicated baybeh and I guess you may can not inside it. That is one of our different but talking about feeling I still loving you...
Jadi kembali lagi keputusannya menggantung. Bagaimanapun saya harus mengambil tindakan agar tak sekedar jadi beban pikiran, dan mengantungin masalah ini adalah kemungkinan terbaik yang kulihat dari kemungkinan lainnya. Jadi ngegantungin kayak gini adalah juga merupakan sebuah tindakan, sebuah keputusan tegas. Sampai detik ini saya belum yakin apa akan mengirimkan jawaban yg udah saya siapkan untuknya, atau masih mau ngoprek lagi, atau malah tak ngirim sama sekali. Inilah keputusan tegas saya: gantungin dan gimana nanti!


31 Mei 2008

Dear diari, aku pengen curhat lagi. Sudah sekitar tujuh bulan atau setengah tahun telah aku mengenal gadis tsb. Dan kemajuannya (ataupun kemundurannya) yah... ternyata begini begindang saja. (Meski tentu takpersis begitu). Seperti juga suratan takdirku, sejak lulus kuliah ataupun sejak tiga tahun terakhir kuliah yah... sejauh ini masih begini2 saja deh. (Secara positifnya aku memandang ini sebagai kawah candradimuka aspek kesabaran dkk lainnya bagiku).
Setelah dapat telpon untuk wawancara dari PR di saat sudah naik bis ke bandara, akhir tahun lalu (kalo gak salah) aku udah nyoba sehari jadi semacam sales di hulandalo, kemudian jauh beberapa bulan kemudian juga nyoba kerja dua hari sebagai desainer kartu undangan terus terakhir ngurus buku pelajaran. Nah, yang terakhir ini masih ada harapan akan berlanjut. Cuma secara keseluruhan statusku tetap saja pengangguran dan mereun high kualiti jompo.
Jadi, soal Si Ani aku udah berhasil untuk sedikit lebih realistis dengan kondisiku, yakni menghindar. Dan menghindar ini juga ndak bisa sepenuhnya karena faktanya aku masih tabayang2 padamu hingga jauh kini dan sepertinya akan berlanjut lagi. Beberapa waktu lalu dia kirim message lagi liwat fs dan sengaja belum kubuka hingga kini sebagaimana fs juga udah lama ndak kubuka. Alhamdulillah, ini cukup membantu diriku untuk ndak terlalu terbebani lagi. Tapi keputusan untuk menendang dia utuh sepertinya juga vatal karena faktanya, sekali lagi, saya ndak sanggup melupakannya dan kehidupan ku ini nyaris begini2 juga. Jadi, ada kemungkinan kisah selanjutnya nanti.
Berkat proyek buku aku juga sempat menjalin kontak dengan Fitri dan menciptakan asmara fiktif untuk membantu meredam hasratku pada Si Ani. Entahlah, kadang aku kembali merasa bersalah tapi toh seandainya bisa dan dipermudah aku mungkin juga suka sama Si Fitri. Sebagaimana juga aku sempat sms Si Ori. Ah, dasar cowok... di hulandalo juga cinlok sama Si Mbak Talenta (saya lupa namanya...) dan kenyataannya masih stress sendiri di kamar ini. Hikmahnya andai aku ndak tertekan begini mungkin aku ini udah main perempuan aja kerjanya. Mungkin loh, mungkin juga emang gak laku. Dengan Si Nurul mungkin juga, dan berkat Fitri, Dian juga. Weleh... weleh... alhamdulillah aku pengangguran bokkk.
Beberapa hari terakhir juga Eko acap dikit main ke sini dan mulai agak tak terlalu eksklusif. Beberapa waktu yang lalu juga ngobrol dikit ama Mak Itam dan juga Eka ada dua atau tiga kali main ke sini buat ngobrol. Terkadang juga Riki. Selain itu sepi, ke pasar buat main juga udah agak jarang. Si Mairizal juga ke sini jarang, maklum selera intelektual kami beda dan inilah bukan masalah pergaulanku (kecenderungan terbesarnya) selama ini bukan soal jutek sama orang melainkan selalu berada di lingkungan yang kurang intelek. Oya tentang ke pasar, salah satu yang membuat aku agak mengurungkan niat buat jalan2 selain soal berhemat ini: menghindari liwat depan warnet Ani dan terbebani lagi pikiran2 macam2 tentang “perbuatan2” yg mungkin dilakukan perempuan itu. Meski kemungkinan terbesar sejauh ini kusimpulkan cewek itu cuma rada “liar” aja gak sampei “jual diri” tetap aja saya selalu gelisah membayangkan dia tinggal (tidur) di sana (di bangunan itu) entah dengan siapa. Persoalan mungkin selesai kalo jelas-jelas dia emang pelacur (toh aku juga ndak mungkin menyelamatkan seluruh perek di muka bumi ini) tapi asal jelas pula dia ndak cinta aku atau setidaknya jelas pula dia lebih mencintai yang lain atau setidaknya jelas pula dia udah pasti punya pacar (lebih aman lagi suaminya). Terserah deh apapun yang mereka lakuin di sono asal dia jangan dong cinta sama gw. Inilah masalahnya: ada sesuatu antar hati kami berdua; sementara sifatnya gitu dan saya dalam kondisi yang gini. Jadilah, serba takjelas dan selalu bikin resah gelisah. Tapi alhamdulillah sekarang lebih terkendali. Oya, dari hubungan dengan Ani ini setidaknya aku dapat pelajaran moral: jangan menganggap remeh rayuan wanita.
Nulis apa lagi ya, yah dari proyek ngedit buku tsb sekarang aku jadi lebih termotivasi lagi buat nulis meski lagi2, kalo boleh mengambinghitamkan, keadaan fisik membuatku tetap saja lebih memilih (dengan terpaksa) tidur2an aja. Jadi apa masa depan yang hendak dituju. Terus terang kalo tuhan merenggut nyawa ini sekarang aku mungkin lebih senang. Padahal aku juga ndak sengsara2 amat, hepi2 aja, tapi terus terang bingung mau kemana. Bahkan soal “apa kata dunia eh kata orang kampung pun” sebenernya juga ndak terlalu jadi beban buatku. Cuman mau ngapain lagi hidup ini. Toh kemampuan intelektualku (kalo pun ini bisa dianggap kelebihan) juga ndak kepake sama keadaan dan zamanku ini. Sementara daripada itu hidayah yg ditunggu takkunjung tiba sepertinya. Ah, setidaknya bersabar seperti ini kan juga ibadah. Ah mudah2an ortu tempatku jadi benalu ini bisa sedikit pengertian dan ditentramkan tuhan yang “menelantarkan”-ku jadi begini ini. Secara jeneral situasi sekarang adalah: aku tidak bahagia, juga sama sekali tidak merana, cuma taktahu lagi apa2. Ah apa iya diam di tempat itu lebih dekat pada sengsara? Sing patience... patience oh yes oh no, help me good for better....


19 Juni 2008

Dan kisah cinta dengan gadis manis tapi agak nakal bernama Ani tersebut itu pun berlanjut tak berlanjut. Bisa dinamakan status quo meski takpersis keadaan semula. Kalo dalam bahasanya Si Ani ini di profile fs-nya yang kutahu ditujukan kepadaku, ini semua berlangsung dengan tidak begitu cepat. Dan ia kecele, hehe. Waktu itu aku aktif lagi nulis surat ke fs-nya dan dia merayuku buat ke sana dan ternyata aku tetap tak datang-datang lagi hingga detik ini. Haha seperti kata eko ngutip sebuah kisah cinta di laskar pelangi, setidaknya apa yang aku lakukan ini berbekas di sana. Ya, sepertinya hingga sekarang dia tidak merasa bersalah (kecenderungannya) tapi setidaknya apa yg terjadi dalam hubungan kami ini pasti akan berbekas di hatinya dan suatu saat kelak nanti mudah-mudahan aja ada buah positifnya. Untuk dia sendiri karena aku emang sayang yg tulus(?) ama dia.
Tapi untung juga dia memperlihatkan tetep gitu. Gw jadi ada alasan kuat untuk tak kesana, sebab kesana itu bisa berarti adalah menambah2 masalah dan mengulang2 lagi semacam kecerobohan diri ini. Seperti yang udah diduga semula, dia adalah cewek yang agak mada tapi syukurnya enggak sampei nakal berat. Emang beliau sholat tapi es te em je lah spt kebanyakan orang. Kemungkinan sifat cewek matre ini juga cukup kuat masih ada padanya. Kenyataan dia suka sama saya (yg selalu pake motor butut dan selalu datang pas jam diskon ini) emang sempat membuat gw menyangsikannya dan hingga jadi merasa berat untuk mengabaikannya, tapi bukankah ketika jatuh cinta yang berbau perasaan ini seseorang bisa lupa sejenak akan sifat aslinya. Nah ketika secara agak halus aku “melamar”-nya dengan kondisiku yg sengsara lewat surat terakhir yg belum ia balas sampai sekarang (karena ia kepengen aku kesana) bisa diduga kemungkinan dia galau berat jadinya karena di satu sisi menginginkan pria berharta tapi di sisi lain ia jatuh cinta berat sama saya (tafsir jatuh cinta berat ini setidaknya pula bisa dibaca sejak awal dari puisi pertamanya di fs yg dulu: baru kali ini aku begini...hari2ku hanya berisi lamunan wajahmu...). Tapi kalo daya cintanya emang udah gak kuat lagi bisa jadi pula ia juga tambah yakin mengabaikan saya.
Tapi ini pula yg membuat saya sukar mengabaikannya. Saya ini wajar sulit melupakannya karena tengah dalam kondisi begini. Tiada teman bicara, bahkan bisa jadi sekarang dia lah teman terakrab saya (dengan mengabaikan masalah yang ada). Sementara gadis manis itu toh berada dalam kondisi yang sebaliknya. Dia punya banyak pilihan, alias banyak teman2 pria2 yang lain, dan yang pasti selalu ada yang berusaha “ngejar2” cewek cakep dan gampangan akrab ini. Nah, tapi dia kelihatannya masih berasa aja ama gw (spt ditulisnya langsung dalam surat2 terakhirnya kemaren: jujur ani kangen...ani berharap suatu saat abang datang...). Hehe, setelah berbulan2 baru kali ini dia yg wanita tersebut sangat eksplisit mengungkapkan perasaannya. Sebelum2nya cuma berani agresif secara implisit lewat apa yg dicantumkan di profile fs-nya atau yg lewat surat dulu paling berani dengan kata2: ani cuma ingin tahu abang orangnya baik dan perhatian.... Haha, pasti dia kesal berat karena udah segitunya masih juga saya ndak ke sana. Emang ndak sangat sangat sangat kuat sekali karena kalo begitu dia pasti bakal nyari saya ke sini. Tapi lagian wajar pula karena dia yg ceweknya gw yg cowoknya, jadi dia wajar berharap gw yg datang ke sana seberapa pun beratnya gundah perasaan yang melandanya. Nah, ini yang membuat gw susah lagi melepasnya begitu aja. Coba kalo gw dalam posisi yg baik, pasti saya dengan gampang bisa ngelupainnya atau kalo perlu mempermainkannya selama dia tetap aja mempertahankan sifat2 buruknya itu. Tapi kalo dalam kondisi sekarang ini, mana tahan bermain2 cuy.
Tapi ya itulah, keputusan terbaik adalah emang melupakannya. Dia dengan sifatnya yang begitu tak mungkin ketemu dengan saya yang dalam kondisi lagi begini deh. Emang sebaiknya tidak dengan cara ekstrim seperti men-delete-nya dari list fs atau nulis surat dengan kata2 sangat kasar. Saya udah coba mengabaikannya tapi toh sulit juga melupakannya. Sama saja dengan kondisi jika saya menjalin komunikasi asal dijaga enggak terlalu intim sehingga memancing gundah perasaan lagi. Asal juga enggak bertemu secara fisik lagi. Emang setelah berbulan2 ini ndak ketemu saya jadi enggak kebelet lagi, dibantu pula bahwa saya lebih tahu lagi kemungkinan dia tinggal di sananya bagaimana sehingga hati jadi lebih tenang. Ya itulah, rasanya saya tak mungkin berjodoh dengan gadis ini. Tentu saja lain cerita jika Tuhan berkehendak lagi. Toh buat saya dari semua ini ada pelajaran yg bisa diambil. Satu, seperti yg ditulis kemarin: jangan menganggap remeh rayuan wanita, virus2 daya tarik seksualnya, terutama dalam kondisi yang terpuruk. Kedua, kesabaran gw dan kemampuan mengendalikan diri, perasaan, dan emosi juga jadi lebih kuat lagi; dan di sisi lain gw sekarang juga jadi lebih peka perasaan lagi setelah bertahun2 hidup macam orang tak berperasaan.

wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww
wwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww