Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil menyantap makanan yang lezat-lezat, sambil seluruh anggota keluarganya melahap sepuas-puasnya semua hidangan yang serba nikmat, sang koruptor berbicara panjang lebar tentang perbuatan korupsi yang dilakukannya, yang bagaimanapun itu demi kesejahteraan dan kemakmuran keluarga. Yang bagaimanapun, untuk itu ia bersedia menanggung semua dosa. Demi modal hidup baik-baik anak cucunya kelak. Sementara, acara makan-makan yang serba lezat terus berlangsung dengan sangat nikmatnya. Tulang belulang segala macam daging berserakan di piring-piring. Sehabis itu, giliran puding, karamel, berbagai rupa pencuci mulut, meluncur ke meja makan. Sementara di luar, hujan turun dengan derasnya. Dari Aceh sampai Jakarta. Di Aceh, di tengah-tengah derasnya hujan, di antara suara guntur dan halilintar yang bersambung-sambungan, orang-orang sedang bekerja keras membongkar sebuah kuburan masal yang baru ditemukan. Satu persatu tengkorak-tengkorak dan tulang belulang tersebut diangkat kepermukaan. Pada waktu yang sama, di Jakarta, sang koruptor dengan sangat nikmat sedang menyedot otak gulai kepala ikan bumbu aceh. Sedotannya bagai sedotan kilang-kilang minyak di tengah lautan yang bergelora.

Cuplikan pada para paragraf di atas saya ambil dari sebuah cerpen karangan sastrawartawan Seno gumira Ajidarma berjudul Telepon Dari Aceh. Sungguh teramat memikat gaya ironi yang dihadirkan Seno pada cerpen yang pernah dimuat dalam buku kumpulan cerpen terbaik KOMPAS tahun 2000 ini. Dengan mengkontraskan suasana acara bersantap dengan hidangan serba nikmat yang terjadi di Jakarta (di rumah sang koruptor) dengan kejadian pembongkaran kuburan (bisa kita tafsirkan sebagai korban DOM) di Aceh, cerita ini telah berhasilkan menghadirkan kesan miris pada pembacanya. Paling eksplisit bisa kita lihat pada korelasi oposisional yang mungkin timbul antara tulang belulang segala macam daging santapan keluarga sang koruptor tersebut dengan tulang belulang mayat-mayat yang ditemukan di Aceh. Seno tepat sekali sama-sama menggunakan pilihan kata tulang belulang bagi kedua hal yang sebetulnya berbeda tersebut. Apabila hal ini kita hubungkan dengan pemaknaan yang bisa hadir bahwa sang koruptor zaman Orde Baru itu adalah simbol dari Jakarta atau Pemerintah Pusat yang dianggap menindas daerah, dalam hal ini rakyat Aceh, maka bisa saja timbul metafor yang sangat sadistik di benak pembaca: sang koruptor dan keluarganya tersebut sebetulnya sedang menikmati tulang belulang korban DOM di Aceh(!), dengan sangat nikmat dan tanpa rasa bersalahnya.

Banyak sekali fakta-fakta tekstual dalam cerpen ini yang bisa lebih dikupas lagi untuk menunjukkan kesan ironistiknya yang akan mengakibatkan sentuhan estetik pada sisi emosi pembaca. Daya sentuh terhadap emosi pembaca inilah yang diharapkan akhirnya berujung pada efek katarsis pada setiap pembacanya, pencerahan yang didapatkan setelah melewati tahapan kemuakan terhadap apa yang terjadi. Tentang bagaimana efek katarsis bekerja dalam “dunia sastra”, Budi Darma pernah memberi contoh pada peristiwa “banjir darah” dalam pertunjukkan drama tragedi. Pertunjukan tersebut pada akhirnya “mendidik” penonton agar tak melakukan apa-apa yang baru saja mereka saksikan di atas panggung.

Pada sekira akhir tahun 70-an, model pendekatan dalam kritik sastra ikut diramaikan oleh teori estetika resepsi, atau dalam posisinya di antara macam pendekatan lain dalam analisis teks sastra lebih umum dikenal dengan istilah resepsi sastra. Ada dua tokoh yang pertama kali secara sistematis dan metodologi(k) merumuskan model pendekatan ini, yakni Jauss dan Iser, keduanya dari Jerman. Setelah tulisan-tulisan mereka dikenal oleh dunia, mulailah terlihat bagaimana model analisis teks dan teori-teori sastra mendapatkan kesegaran dan sudut pandang baru. Pengaruh paling radikal setidaknya terlihat pada sebuah buku yang berjudul “Kritik Sastra Subjektif” (karangan David Bleich) yang dikomentari Selden sebagai sebuah argumen canggih, yang setuju pergeseran paradigma kritik sastra objektif ke kritik yang bersifat subjektif. Apalagi jika hendak dibicarakan bagaimana pengaruhnya pada aliran dekonstruksionisme yang sedang hangat-hangatnya disoroti pada zaman paska-modernisme ini.

Point paling penting dalam pendekatan resepsi sastra adalah bagaimana peran (setiap) pembaca (dengan segala persamaan dan perbedaan cirinya) dalam menafsirkan teks (sastra) mulai diperhitungkan. Antara Jauss dan Iser sebetulnya terdapat perbedaan konsepsi tentang analisis resepsi ini. Jauss lebih membicarakan tentang penerimaan aktif (pembacaan yang diikuti oleh penciptaan karya baru oleh pembaca itu) sehingga membentuk garis kesinambungan sejarah penerimaan (lebih jauh bisa dilihat pertemuannya dengan pendekatan dan teori intertekstualitas), sedangkan Iser lebih menekan-kan model analisisnya pada kemampuan atau cara teks (dan penulis) mempengaruhi (penafsiran) pembaca atau dirumuskan oleh Iser dengan konsep tentang efek (wirkung). Sebab pembicaraan tentang pembaca (yang mahaluas) inilah barangkali yang mengakibatkan kemandeg-an usaha pengembangan model pendekatan ini. Sesuatu yang cukup “beresiko” untuk menjelaskan (secara ilmiah) sebuah objek yang sangat besar macam variabelnya, dan tambah pula, sangat tinggi tingkat mobilitasnya, manusia, yang hidup, berpikir, mempengaruhi, dan dipengaruhi. Upaya generalisasi sepertinya juga sulit untuk diterapkan. Berbeda dengan kajian-kajian sosial lainnya, kajian sastra memiliki tuntutan tersendiri yang berupa “penghargaan yang besar” terhadap “segala keunikan satuan estetik”-nya.

Jauss sebetulnya juga telah berusaha menghindari kesemrawutan identifikasi pembaca tersebut dengan fokus penelitiannya pada penerimaan yang bersifat aktif (sehingga ada pembuktian secara interteks). Begitupun Iser mengemukan klasifikasi tentang pembaca dengan membedakan antara pembaca sebenarnya (real reader) dengan pembaca yang disarankan oleh teks (implied reader). Dan yang terakhir ini dapat kita temui pada pembaca ahli (yang bagaimanapun, pasti dengan segala “keterbatasannya”), sebab ia melakukan penafsiran teks telah dibekali oleh seperangkat “alat” analisis, tak sekedar sudut pandang impresi dan “latar belakang subjeksi”-nya, sehingga diharapkan “sudut pandang” yang dihadirkan oleh teks (barangkali untuk kali ini perlu dipisahkan dari “niat semula” pengarangnya) dapat ditangkap dengan sebaik-baiknya.

Dengan sangat terbatas, apa yang dilakukan Iser tersebutlah yang coba saya terapkan pada cerpen di atas sehingga saya berani mengambil kesimpulan tentang efek katarsis (pencerahan) yang mungkin dihadirkan olehnya pada pembaca (dengan penyesuaian pada segala variabel pembaca untuk menentukan intensitas pengaruh teks tersebut). Ada benarnya, dalam analisis sudut pandang atau skema yang dihadirkan oleh teks cerpen tersebut dilakukan sebuah kajian semiotik (yang sebab upaya pengorelasiannya terhadap referensi peristiwa dan hal-hal real di luar teks juga secara terbatas memasuki lingkup kajian sosiologi sastra). Namun, seperti yang dikatakan oleh Faruk bahwa resepsi sastra adalah bagian dari teori semiotik, saya kira semiotikpun adalah “hanya” salah satu pendekatan yang dibutuhkan dalam rangka analisis estetika resepsi yang menekankan efek karya (baca: cara karya yang memproduksi efek) ini.

Saya melihat masih banyak karya-karya sastra lain, yang secara feeling dianggap menyentuh emosi dan kesadaran seorang pembaca, bisa digarap dengan teori wirkung-nya Iser ini. Salah satunya (yang saat menulis ini tiba-tiba terlintas di kepala saya) adalah naskah drama “Orang Malam” karangan Soni FM. Menarik jika kita menyimak sudut pandang dalam pengangkatan sebuah tema pada drama itu, dibandingkan dengan kecenderungan tematik “karya-karya sastra” dalam sebuah rubrik mingguan yang diasuh Soni. Apalagi jika hendak dihubungkan dengan latar sosiologis-“nya”. Dan lebih-apalagi lagi, jika dihubung-hubungkan dengan niat membentuk “watak-kebudayaan” masyarakat sebagai upaya pembuktian bahwa karya sastra berperan dalam membentuk nilai-nilai pada masyarakatnya. Perlu saya tambahkan disini bahwa ada sebuah buku menarik, karangan George W. Burns, yang memperlihatkan bagaimana cerita (metafora) bisa dimanfaatkan sebagai sarana psikoterapi. Bahkan, seperti yang pernah dilansir Subagyo Sastrowardoyo, di Amerika sana telah ada yang dinamakan Psikopoetry, sebagai sebuah alternatif terapi kejiwaan.

Barangkali ini memang upaya yang mulai bergerak ke arah pragmatisme, ke pemikiran yang mulai “membicarakan” peran sastrawan dan karya sastra di “tengah-tengah” masyarakatnya, (te)tapi apa salahnya `ku kira. Kita bisa melihat betapa “kering”-nya teks-teks sastra maupun analisis-analisis teks sastra yang tak memiliki wawasan di luar “sastra untuk sastra”. Apalagi dalam analisis wacana teks media (yang tak se-prismatik teks sastra) juga telah berkembang analisis yang mulai memperhitungkan peran penafsiran pembaca (misalnya upaya pengklasifikasian unsur analisis teks media oleh Sara Mills yang dikenal dengan kritik feminisnya), meninggalkan kekakuan tradisi analisis formalistik dan positivistik. Apa yang coba saya lakukan pada cerpen Seno tadi masih sangat awal dari upaya “ambisius” pendekatan resepsi sastra, masih tak terlalu memperhitungkan tingkat variasi pembaca. Dan tulisan saya kali inipun sangat bertendensi untuk memancing tanggapan reseptik berikutnya. Walau begitu, walau dengan baru dikit-dikit kenal semiotik, saya memberanikan diri sedikit* berbeda pendapat dengan Pak GM (dalam kata pengantarnya pada buku kumpulan cerpen Kompas yang memuat karya itu) tentang efek horor karya Seno tersebut. Bukankah kita sama-sama pembaca, sekaligus merupakan pembaca yang berbeda, Pak Goen…?

Catt:
*)semua yang bergaris miring dan diberi tanda kutip memerlukan barang-sedikit penjelasan “tertentu”, khusus yang diberi tanda asteris ini: sangat memerlukan uraian khusus.
+buat Pak AH, juga Pak ANS, juga sekalian Ssph Bdd, mohon maaf jika dipandang terlalu banyak “kutipan” dan pemiringan, atau kalimat-kalimat yang kurang sederhana dipolakan, sebab: “udah sedikit terlupa dari pelajaran tatabasa dan pemberian contoh kalimat di kala daku masih duduk dibangku SD, SMP, dan SMA. Bapak-bapak…kenyataan sekarang membuat aku, saya, ikut-ikutan ngikut gila!”

MEDIA KATARSIS DALAM KARYA SASTRA, SEBUAH PENGENALAN SINGKAT MANFAAT PENDEKATAN RESEPSI SASTRA <=== judul tak tarok di akhir ajalah, so twat getho lhoo

artikel buat pr

Tanggapan Secakap-Non-lisan dari Non-tokoh n’tuk Tokoh Penulis Teks tentang Kematian Teks
 
Kemaren-kemaren, sebuah teori baru lahir: teks telah mati. Tak usahlah saya beri tanda seru, nanti dibilang hiperbolik dan hiper-ekspretik. Nanti dibilang propagandis dan  provoka(tif/toris) dan, apalagi, teroris! Ngeri. Padahal saya cuma menulis apa yang orang (Tokoh) telah tuliskan, apa yang orang (Lain) telurkan, apa yang...nah itu! Djoe-djoer saya, saja terguncang. Dengan hebat. Saya rasa (bukan saya pikir) hal ikhwal tentang kematian teks itu akan cukup menyiutkan nyali kami. Siapa kami? Saya Noto, asal Sono, kerjanya di bidang reparasi’ teks. Bahkan bukan pemroduksi teks. (Konsumtor teks, saya yakin negeri ini rajanya. Apalagi hal perihal yang berbau keilmuan seperti itu.) Ibarat motor, ibarat TG (Telepon Genggam), dan ibarat dan lain sejenisnya, kami, saya, hidup dari “hidup”-nya teks. Dan harus disertai: kehidupannya yang bermasalah, ber-masalah. Jika teks telah dibunuh diri?
Sebagai seorang reparasi’, kami (saya) punya solusi. Tapi tidak, dan tak, untuk yang seperti ini. Perkembangan tentang pengajian teks (atau kita sebut saja literatur, biar kelihatan sub-pokok bicara tentang sastranya {sekalian saya memaklumkan disini: adalah reparator teks sastra}) sangat menarik. Menarik yang tak saja dalam makna metaporik-nya, tetapi pun sekalian dalam artian denotatiknya, kerah bajuku dipegang, hingga urat-urat leherku menegang, dan kata (yang dianggap sudah) tokoh: mulutmu belum pantas untuk pun sekedar mengerang. Tapi celakanya, dibegituin, saya tetap kecanduan. Dan kecanduan berarti cukup sulit diobati. Dan, obatnya datang hari ini (eh, hari itu). Teks telah mati, saya bebas.
Lalu kemana setelah ini? Ada apa paska-dekontruksi? Begitu tanya yang timbul dalam rasa Derrida yang sebetulnya (bukan se-kebenaran-nya) percaya pada ketiada berhinggaan makna. Namanya tak berhingga, lalu mau minta umur berapa kita untuk mencapainya? Mintalah umur yang tak berhingga, orang-orang tertawa mendengarnya. Dan mereka senang, itu yang penting. Masalahnya kemudian, perasaan saya ternyata kurang manusiawi untuk turut serta menikmatinya. Lalu pergilah saya menuju dunia fauna (bukan Fana), sifat hewani lebih tak bisa diajak buat ber-apa?-apa?. Pergilah saya mencari para flora (bukan Florina), tetapi percayalah: tak ada pohon yang bisa bicara. Saya pusing, saya mumet, saya kalap, saya lapar. Tapi kemudian, sambil bersantap sate unggas dan lalap kangkung, saya menemukan sebuah kesadaran baru: mereka tak bicara, tak perlu mengerti apa-apa, tiada tertawa, dan: netral. Saya menemukan kebebasan disini, saya lebih merasa dihargai disini, saya bahagia disini. Dan saya jadi: raja hutan.
Namun, lama-lama kesepian.
Dan saya teringat pada teks, teks yang telah almarhum(ah). Tak ada lagi mungkin-memang-barangkali yang bisa diperbaiki. Teu (ndak) perlu. Saya telah lama pensiun dari. Saya telah lama menjadi di. Namun kini, ada himbauan untuk kembali. Maka, wahai bung Tokoh,  jikalah betul (dan benar) teks telah mati, tunjuki aku dimana kuburannya. Izinkan aku ikut menabur bunga. Apa? Jangan, janganlah kau mempersoalkan tentang aku yang mencatat diri sebagai seorang reparasi’. Teks lagi. Sastra pula. Tak ada waktu cukup untuk berpilih kata dalam ini secakap yang dia-nya singkat. Pun itu sebuah dosa, jadikanlah catatan sejarah guna meminta ampunan Anda. Aku janji untuk tak pula mempersoalkan bagaimana simpulanmu itu menjadi. (Tidakkah ini sebuah kebohongan yang senyata-nyatanya? {saran: jangan dibaca dengan !}—Atau, ah, mungkin aku saja yang selalu terpana pada ujung cerita) Tapi begini sajah, mungkin nggak ya yang telah mati itu hidup kembali. Atau kita harus menuju pesta pora umat manusia yang penuh rahmat dan ketimpangan semena ini. Jika tidak (baca juga: ya), aku janji lagi untuk tak akan lagi menggunakan kata reparatisi”, lagi....
 
**
Legian, pepatah Planet xena menyatakan: lebih baik berkawin tanpa cinta daripada menjadi si pecinta buta. (Dan konon kabarnya, sastrawan muda malaysia {persona tunggal} sudah membuktikannya.) Barangkali memang tak tepat menge-klaim diri bak insinyur, seberbagai reparator. Ini sinekdoke pro pak toto. Ada pilihan untuk memberi nama si/sang pemakna, tapi Iser dan Jauss mewanti-wanti, ah masa? Daripada aku jadi satu yang tenggelam di seribu, lebih baik balik lalu ke masa dulu. Di kampus, sebagai bekal akademis, dan ciri profesionalitas tinggi, kami, saya, diajari seperangkat peralatan bertukangteks yang berpasti dan sesuai Sni. Dan, dilarang disalah guna ; dimodifikasi melanggar hak cipta. Namanya anak-anak (mahanakanak), ya nurut aja. Tapi kemudian-kemudian sempat ragu, meski perbiar diri merobot berbeku. Untunglah Mbah Budi Darma pernah memberi siraman rohani. Ki Tikus dan teoritikus berada diwilayah reaktif, sementara para pengarang (teks {sastra}) berada di wilayah kreatif. Yang satu pihak nanti bertugas menguraikan dari yang satu lagi yang berusaha memadatkan. Nah, kami-kami, saya-saya, di mampus di tuntut untuk bekerja dalam sebuah kepastian sistemik, sementara Ki Tikus lepas bebas guna juga bermain di wilayah intuitif. Untungnya banyak diantara mereka yang berhasil menghasilkan analisis berbobot. Karena apa? Sebab prinsip penalaran telah mereka terapkan meski tak, eh, kurang kongkrit. (Dan, bukankah rakyat kita suka sama yang kongkret-konkret?) Mereka-mereka, yang tadi itulah, yang Darma bilang telah memiliki: makrifat. Sementara banyak, sangat barangkali, di antara kalangan kampus yang dipaksa untuk menalar secara kongkret tadi sementara daripada itu berada dalam daripada serba kekurangan kapabiliti kontekstili (termasuk saya barangkali, hihi). Jadilah banyak terjadi apa yang disebut asal tempel teori. Tapi sulit juga, kalo saya boleh bela negara, menyalahkan sepenuhnya realitas tersebut. Seperti sering dibilang oleh banyak orang, yang juga Tokoh seperti sodara, pengajian teks jenis ini selalu harus bersinggungan dengan sekian pelbagai hal (yang seharusnya) bagian bagi disiplin keilmuan lainnya. Sementara kemampuan untuk berpikir tak bisa melewati suratsi takdir. Itu sebab barangkali, intuisi, ia, kembali harus diberi peran. (Bukankah hal satu ini kabarnya membuat terkagum-kagum sang Immanual Kant.) Tapi kali ini intuisi yang berpelengkap dengan apa yang dinamakan wawasan, anehnya juga, tentu serta: kemampuan menalar. Semacam Intuisi tingkat tinggi barangkali (ITTB). Dalam bahasanya Budi tadi mereka adalah kritikus yang makrifat, teoritikus yang makrifat. Tentu untuk menemukan "jiwa-jiwa agung" seperti ini tak lah seperti menemukan, (dengan berat hati) semisal, tukang kupat tahu (segala hormat buat bibi pemberi sarapanku setiap pagi). Maka, mahabesaR Tuhan yang memilih hamba-hamba terpilih yang Dya cinta dan Dya kasih, memberi hikmah dibalik segala sesuatu (hingga banyak orang sukses meski tak hobi baca buku, juga dapat ijasah tanpa perlu kuliah), dan menakdirkan umat manusia untuk selalu saling kritis mengkritiki demi kemajuan pengetahuan. Maka itu, saya bersetuju dengan pendapat Tokoh Teknik Lamunan bahwa aneh kalau kritikus sastra justru jadi pengiklan karya. Tidakkah setiap orang diberi hak lagi untuk memahami pengertian dari kata-kata sesuai apa yang, masing-masing, sanggup pahami? Setiap orang toh punya nilai sendiri-sendiri. Bekal untuk selanjutnya bisa didiskualifikasi. Haha. Tukang, seperti saya, pada hakikatnya, kan, menemukan dan mengemukakan masalah. Dan dalam sejarahnya pertikaian, kan, selalu menarik perhatian, lalu dicatat dan mendapat tempat. Sebab itu bung, sodara Tokoh, kembali ke cetusan istilah yang saya ungkapan di tadi, maka itu, teks tak akan mati selama masih ada yang sanggup bermakrifat, makrifatuteks. Sudahlah Baik, saya permisi dulu. Mau belajar lagi tentang bagaimana Kebenarannya menyusun Komposisi.
 
SIAPA INI? adalah seorang bekas JII yang telat nyadar. Tinggal Di serang.


Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.

esei buat sirojawahaj




(SU)SASTRA INDONESIA

Dalam sebuah eseinya yang diberi judul “Keindonesiaan”, Seno Gumira Azidarma ikut mempersoalkan erti daripada kata ‘indonesia’ bagi label kesusastraan “kita”. Sejauh mana ia berjarak dengan sastra yang “bukan Indonesia”, sejauh mana pula ia punya ciri tersendiri (dan bisa dianggap berdiri mandiri sebagai sastra “yang Indonesiana”), Seno – barangkali untungnya – juga menambah kerumitan, mem-bikin jarak dengan kepastian jawaban. Sementara juga daripada itu, dalam bidang teori sastra, pada medio tahun ’80-an telah terbit pula sebuah buku yang berbicara tentang “menuju kritik sastra Indonesia yang relevan”. Buku yang berupa kumpulan makalah (dan esei) hasil pertemuan para kritikus sastra terkemuka Republik Indonesia di Padang (yang daerah bukan pusat itu) merupakan salah satu puncak akademis daripada tentang kegelisahan tentang menemukan bentuk metode penelitian sastra yang khas Indonesia. Sementara pula lagi daripada itu, cukup banyak penerapan-penerapan teori barat pada karya-karya sastra Indonesia yang dinilai sebagian kalangan cukup berhasil. Sementara pula lagi-lagi daripada itu, tak kurang pula banyaknya kalangan yang terus menggugat, menggugat, dan menggugatinya. Dan, siapa bilang persoalan tentang “sastra Indonesia” tersebut selesai sudah di masa sekarang?

Coba sekarang saya bertanya. Asumsikan saja dengan cara berpikir normal dan standar bahwa sebuah defenisi tentu merangkum pengertiannya, dan membedakan dirinya dari kelompok berdefenisikan lain, (tentunya) berdasarkan kesamaan ciri. Nah, lebih mirip mana sastra modern Indonesia sekarang dengan kesusastraan barat atau dengan sastra klasik Indonesia? Ataukah pula lebih mirip kesusastraan Arab, atau Afrika? Atau kerumitan ini kita tambah pula dengan kategorisasi yang bersifat periodik: sastra barat tersebut misal, sastra barat kontemporer atau sastra masa victorian-kah? Coba kita pikirkan, sastra mantera kita (sebagai bentuk kesusastraan yang katanya tertua) tentu sangat jauh berbeda dibandingkan puisi-puisi karangan J.E. Tentakeng, yang barangkali secara gampang bisa kita katakan lebih mirip kata-kata dalam drama Shekespeare, atau yang lebih didukung fakta sejarah adalah bahwasanya bentuk ekspresi kesenian sastrawan-sastrawan angkatan Pujangga Baru ceriteranya sangat dipengaruhi oleh tren stilistik para seniman Belanda dalam pada masa itu. Juga lagi, jika kita mencomot salah satu sastra klasik dari masa pengaruh Islam (bersama masuknya kesusastraan Islam dan Persia tentunya), lha, kisah-kisah Abu Nawas di daerah-daerah tersebut sebenarnya dari mana seh?
Tapi tenang. Saya tahu keluhan dari pembaca budiman sekalian atas tulisan-tulisan saya yang tak mempermudah urusan ini. Terlalu banyak sudut pandang dan patokan bercampur aduk dalam memberi klasifikasi. Oke. Kita gampangkan urusan dengan mengarahkan defenisi tentang “sastra Indonesia” tersebut sekedar pada soal media bahasa. (Sialnya, pengertian bahasa disini ndak pula sekedar bahasa Indonesia yang ya bahasa Indonesia, tetapi harus pula di-ke-masukkan bahasa-bahasa daerah dalam wilayah hukum republik kita ini sebab sastra zaman klasik pun harus dilingkupi. Dan saya ndak usah pula bertanya kapankah “Indonesia” itu bermulai, atau apakah bangsa papua adalah bangsa “Indonesia” tersebut?). Sekali lagi mari sederhanakan persoalan. Dengan pemersatu bernama bahasa Indonesia (dan bangsa Indonesia), kita telah mendapatkan sebuah ciri tentang sastra Indonesia. Lalu untungnya (bagi para pemikir yang menyukai kerumitan), sebab sifat bahasa yang “lintas sekto-teritorial”, sastra Indonesia yang berbahasa Indonesia ini juga tak lepas dari masuknya idiom-idiom hingga bulat-bulat kata-kata berbahasa asing (coba lihat deh bagaimana Remi Silado menipografikan kata ‘asing’ ini pada bukunya yang berjudul “9 dari 10 Kata Berbahasa Indonesia adalah Asing”), dari arab hingga ke negeri cina sampai ke USA. Sekali lagi pembaca budiman sekalian, yang ingin penyelesaian, kita pinggirkan faktor-faktor lain seperti, ideologi, budaya, gaya, dll. Kita cukup berbicara totok soal bahasa. Mengenai peristiwa alih kode dan campur kode dengan bahasa “lain” tadi, setidaknya secara kuantitas kita tentu bisa buktikan (dan ukur saja sekalian!) bahwa yang mengaku sebagai sastra Indonesia haruslah mayoritas menggunakan kata-kata berbahasa Indonesia. (Apakah harus berbahasa Indonesia yang baik dan benar, atau “tertib” istilah terbarunya, sebab mengaku bersatu atas cita rasa kebahasaan? Jawabnya, kita bicara sastra dan tak usah menambah-nambah persoalan).
Pembaca yang budiman. Toh juga, seperti judul karangan kangArswendo Atmowiloto, “mengarang itu (kan) gampang”. Jika ingin memproduksi karya sastra Indonesia, Anda hanya perlu memiliki ide dan memunyai kemauan menulis (kalo saya tulis kemampuan menulis nanti panjang lagi soalannya). Tulislah (langsung saja kita sebut) karya sastra Indonesia dengan menggunakan bahasa Anda, yang (kembali lagi pada rumusan tadi) secara kuantitas ianya daripada itu mayoritas menggunakan kata-kata berbahasa Indonesia. Simsalabim, jadilah ia karya sastra Indonesia. Tentunya jika laku. Maka, yang penting itu karya Anda diakui oleh komunitas sastra Indonesia. However, pengakuan tak-lah selalu bervariabel tetap dengan kepastian pengertian. Apalagi kita bisa berdalih dengan teori kebahasaan Transformatif-nya Bapak Noam Chomsky. Secara competence dan esensi, tulisan tersebut bisa kita pastikan: berbahasa Indonesia dan merupakan kesusastraan Indonesia. Secara performance, terserahlah masing-masing punya lidah, telinga, dan mulut. Soal variasi, segala kerumitan , dan persoalan yang menyertainya, serahkanlah pada para “pemikir sastra” (Indonesia tersebut) untuk suntuk meneorikannya. Yang susah itu memberi judul. Lha, kenapa? Setidaknya saya saat ini mengalaminya.
Seperti yang dapat anda lihat, tulisan kali ini saya beri judul susastra Indonesia. Sementara kata ‘susastra’-nya sendiri baru saya singgung kali ini dan sesuatu kalimat yang sebelum ini. Berdasarkan buku Pengkajian Sastra-nya Ibu Partini Sardjono Pradotokusumo, susastra bisa diartikan mentah sebagai tulisan yang indah, ia berasal dari bahasa sansekerta. Jadi, jika Anda percaya kepada defenisi lokal bernama “keindonesiaan” tadi, hormatilah sansekerta dengan pinjaman kata ‘su’-nya. Sebab sastra doang berarti tulisan doang. Tapi tak apalah. Kenyataan juga tak membeda-bedakan antara sastra dan susastra. Anda-anda wahai pembaca yang budiman, ndak perlu ikut pusing. Biar saya yang serba mempermasalahkan ini marasa bersalah sendirian. Coba sekarang, saya dibingungkan apakah harus menuliskan susastra dengan tetap ‘susastra’ seperti pada kata berimbuh-gabungan ‘kesusastraan’, ataukah ‘soesastra’ seperti pada kata ‘soeharto’ (sementara djisamsoe lain lagi rujukannya – walaupun katanya antar bahasa juga saling pinjam meminjam dan ngaruh mempengaruhi –, dan pada judul saya malah menuliskan dengan tipografi (su)sastra). Pembaca yang budiman, hal ini semata-mata saya tuliskan karena pembicaraan susastra atau sastra kita sudah terlanjur memutlakkan diri pada standar kebahasaan. Dan omong=omong tentang standar kebahasa-Indonesiaan, EYD yang berlaku hingga sekarang tersebut (yang membuat saya mengeja Pak Karno dengan Sukarno), diresmikan dan ditanda tangani oleh mantan presiden (negara berbahasa Indonesia kita) dengan nama yang tertera: Soeharto.
Akhirnya, sebagai penutup, kembali juga kepada sementara daripada itu. Bahwasanya, daripada sebenar-benarnya dan sesungguh-sungguhnya, tulisan yang membahas sastra Indonesia (yang berbahasa Indonesia) ini, teramatlah sekiranya adapun dipenuhi oleh pelbagai hal-hal kesalahan berbahasa. Oh dewa licentia poetica, tebuslah dosa hamba. Oke, wassalam semua.

Depok, 3 Oktober 2005







-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

KISAH SEORANG PERAMU-RIA

Mr. Terrorist, I don’t know who are you
But, I know how bad you are

Who has done the bad thing?
Yes, he is ‘bat-man’

Where did he come from?

cerita belum usai

Apa yang akan anda lakukan ketika berjalan di sebuah, katakanlah semacam tempat kumpulan pertokoan, berbelanja bukan? Nah, di suatu tempat di sebuah negri, terdapatlah sebuah tempat yang berupa tempat perkumpulan pertokoan itu. Tapi, eitt, jangan kecele dulu...ini adalah kumpulan pertokoan yang bertemakan "Keadilan". Yah, keadilan. Sesuatu yang kita idam-idamkan bukan? Siapa pula yang tak setuju akan pentingnya arti dari keberadaan sesuatu yang bernama keadilan. Ah, minimal setidaknya adalah sesuatu kali dari momen hidup anda saat-saat anda merasa tidak diperlakukan dengan adil. Ini juga kalau anda tergolong jenis makhluk yang selalu beruntung dalam menjalani perikehidupan ini. Bagaimana dengan orang-orang yang kerap kali merugi. Atau dirugikan. Wauu..., betapa sangat anda akan merasa membutuhkan barang yang bernama keadilan ini. Begitulah arti penting keadilan ini bagi umat manusia. Dan untuk itulah cerita ini ada, percaya nggak percaya.
Bagaimana cerita belanja-belanja di komplek pertokoan keadilan ini. Begini ceritanya...

Komplek atau kalau kita pakai istilah sebelumnya tadi, kumpulan, pertokoan ini terdapat di tengah-tengah dari segala arah. Hingga, segala bangsa, segala warna, segala rupa dan suara, segala macam orang bisa memiliki akses informasi dan kemudahan transportasi menuju tempat ini. Kalau boleh mengambil pengibaratan pada kata seorang Nabi, sebaik-baik urusan adalah di tengah-tengah, maka demi keadilan yang suci murni ini perlulah hal tersebut kita terapkan. Alhasil, pasar kita tempat berjual beli barang keadilan ini pun ramai tamailah. Berbagai pengunjung dari bermacam pelosok bertemu di sini. Apalagi pas weekend. Wah pokoknya rame benget gitulah. Tapi, sssstt, yang perlu anda ketahui, sesuai keinginan saya sebagai pengarang cerita, perlu anda simak baik-baik informasi ini : begini, ehm, sebetulnya, pasar kita, komplek pertokoan kita, yang terkenal dan sebelumnya, ehm, saya gembar-gemborkan rame banget itu, sebenarnya, ehm, disana cuma terdapat tiga toko lho! Woiii...ehm, tapi tak perlu kuatir. Cerita gembar-gembor tentang rame bengetnya itu tetap berlaku. Tiga toko itu ramai dikunjungi oleh beraneka ragam makhluk dari bermacam arah mata angin. Woii! Lho kok! Lha masak! Haah..! Hey, dilarang protes. Singkat cerita, cerita ini bercerita tentang cerita mengenai cerita akan sebuah pasar, atau komplek, atau kumpulan pertokoan yang terdiri dari, hanya, tiga buah toko yang menjual barang bernama keadilan dan rame banget dikunjungi segenap umat manusia. Titik. Selesai. Dan silakan anda baca keterangan tambahan berikut ini.
Toko pertama ditempati oleh Mr.X. Seperti namanya, tokoh pemilik toko pertama ini memang cukup misterius orangnya. Berdasarkan data yang berhasil penulis kumpulkan dari orang-orang yang diperkirakan memiliki kompetensi memadai untuk bisa digali informasi mengenai tokoh ini darinya, penulis hanya bisa berkata: berbahaya! Seberapa jauh berbahayanya, sulit untuk didefinisikan sebab sedikitnya alat bukti yang bisa dipertanggung jawabkan. Yang pasti untuk tokoh yang satu ini orang-orang selalu memberi peringatan supaya kita semua berhati-hati dan bila lagi sial berjumpa dengannya segeralah bertawakal pada yang di atas sana. Sebegitu mengerikankah, entahlah, yang pasti lagi memang sepertinya percuma dan buang-buang energi saja untuk tulisan ini terlalu bernafsu untuk mengeksploitasi terus tentang tokoh yang satu ini yang jelas-jelas sudah penulis tetapkan berstatus misterius. Sekarang yang jelas kemisteriusannya itu bisa kita lihat efeknya pada jual beli barang dagangan di tokonya. Padahal! Nah ini menariknya. Keadilan sebagai stok komoditi yang diperdagangkan disini ditata dengan sangat menarik hati.
Toko keadilan milik bapak Mr.X ini memiliki filosofi bisnis yang sangat menggetarkan sanubari: duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Ya, persamaan, itulah kunci pak Mr.X dalam menerapkan keadilan.
bersambung..






-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

nah, ini lagu lokal

HERMAN
KARANGAN: PADA SUATU HARI

Aku herman, eh, heran? Untuk kedua kalinya aku melewati tempat itu, laki-laki tersebut masih saja disana. Apa mungkin memang karena hal itu? Masa iya sih, Kekuatan ©inta itu sebesar (I)tu? Alaahhh...
Waktu pertama kali melihatnya, kemaren malem, aku sudah menduga. Bagaimana tidak. Kira-kira apa yang akan muncul di benak para pembaca budiman sekalian, melihat seorang pemuda atau (barangkali masih remaja) sedang berdiri nggak jelas di gang sempit depan sebuah pondokan (kost) putri. Gelap-gelapan dan sendirian. Nggak ada orang lain, sebab tempat itu memang sekedar jalan kecil yang sesekali dilewati. Sekedar dilewati. Kecuali tempat keluar masuk para penghuni pondokan putri tersebut. Dan se-pengetahuanku, seperti umumnya tempat ngekost kaum putri, tempat itu termasuk yang sepi dari aktifitas ramai-ramai. Pintu pondokan itu selalu tertutup, sekedar dipakai keluar masuk lalu tertutup lagi. Dan belum pernah aku melihat ada penghuni pondokan tersebut yang duduk-duduk ngerumpi di luar. Apalagi orang lain. Depan pondokan kost putri tersebut betul-betul hanya sebuah gang sempit, sepi, dan sekali lagi sekedar berfungsi sebagai tempat lewat.
Namun malam itu aku bertemu sebuah fenomena baharu. Seorang cowok terlihat melakukan sebuah aktifitas aneh, meski tak hiruk pikuk. Orang itu seperti terlihat linglung, berdiri setengah mematung di pinggir jalan depan pintu bangunan tersebut. Saat aku lewat kusempatkan beberapa kali mata ini untuk melirik, lagi ngapain sih cowok itu. Tapi yang tertangkap oleh mataku adalah gerak-gerik seperti bingung dari orang itu. Sembari bola matanya, aku perhatikan: sepertinya melihat-lihat sesekali ke arah atas, ke sebuah jendela kamar barangkali. Ah, seorang pecinta yang sedang dilanda asmara barangkali, aku membahatin.
Duh cinta. Kadang aku berpikir dunia ini membuang terlalu banyak waktu untuk urusan cinta. Ya, cinta yang seperti itu. Padahal masih banyak perihal urusan lain yang sebetulnya membutuhkan kerja keras yang fokus dari umat manusia guna menyelesaikan`nya. Walau yang dimaksud selesai itu bisa juga berarti sebetulnya belum selesai, tapi setidaknya telah ada usaha manusia untuk memperlihatkan tanggung jawabnya terhadap kewajiban`nya. Manusia berkewajiban untuk mengurus kehidupan bersama. Dan di tengah semakin menggilanya urusan kehidupan bersama di tengah-tengah muka bumi yang makin penuh sesak ini, manusia sebaliknya malah makin menunjukkan ciri mengurus kepentingan pribadi sendiri-sendiri. Kolektifitas semakin amblas. Dan ke=amblas=an tersebutlah yang telah menjadi sebuah kolektifitas. Seperti sebuah kesepakatan bersama untuk men-degradasikan adab dan kebudayaan. Ke jurang setan. Setan apa yang membisiki pemuda tadi itu, untuk tegar berdiri demi cinta disitu?
Tapi kupikir nggak juga. Cinta, meski dalam pengertian cinta yang begitu, bagaimanapun adalah hak asasi dan hasrat alami dari seorang anak manusia. Lagian aku pikir manusia tentu juga punya kewajiban untuk memenuhi tuntutan nalurinya. Sebagai sesuatu yang alami, sebagai sesuatu yang asasi. Juga, hadits itu kan hanya berlaku untuk orang yang ketiga. Sementara pemuda itu sendirian. Tapi hasrat suci itu?
Sempat aku berpikir bahwa dia waktu itu sedang menunggu salah seorang perempuan yang tinggal di pondokan putri itu. Jadi mereka sudah resmi, atau semi-resmi lah. Akan tetapi, sebagai tamu “resmi” semestinya ia tidak berdiri-diri seperti orang linglung gitu. Setidaknya ia `kan bisa duduk tenang di sebuah kursi kecil yang tersedia di teras kecil depan pintu kost-an tersebut (meski sekali lagi belum pernah aku melihat ada orang duduk-duduk disana). Maka walhasil, ditambah kenyataan yang kutemui barusan, asumsiku tadi rasanya gugur. Maka walhasil lagi, waktu itupun aku sudah menduga yang macam-macam pada pemuda itu. Dari maling, tapi rasanya sangat nggak mungkin, sampai yang terakhir…. Dari gelagatnya aku menduga kuat ia-lah sang pencinta yang sedang menunggu. Dalam artian yang sebenar-benarnya dari kata menunggu. Menunggu yang entah sampai apabilakah.
Cengeng. Dalam hati aku mengutuki, beginilah mental pemuda-pemuda dan remaja-remaja tanggung di negeri ini. (Titanic, Cassablanca, Laila Majnun, dan berbagai telenovela sebaiknya lupakanlah saja dulu). Terlaluuu…banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal seperti itu. Jujur saja, bukan berarti aku seseorang yang tak pernah jatuh cinta. Apalagi waktu sama si…akupun bisa merasakan betapa dahsyatnya saling mencinta. Dan ya, taroklah kami mencintai masih dalam artian yang begitu juga. Cintaku saat itu adalah yang terbaik hingga saat ini, bahkan aku sempat berpikir: sampai kapanpun. Hingga saat berakhirnya tiba. Ah, saudara-saudara sendiri bayangkanlah betapa hancur dan remuk rasanya hati ini. Huhh. Tapi seberapapun hancur, perih, dan sakitnya, aku tak mau menghabiskan waktuku hanya untuk hal yang seperti itu. Dan sejak dulu, aku memang mempunyai prinsip seperti itu.
Ketika melihat berbagai persoalan kehidupan umat manusia di muka bumi ini, matahatiku jadi terbuka lebar pada perkataan seorang kawan bahwa jalan kehidupan itu tak hanya selebar renda kolor wahai teman. Aku memilih untuk menjadi seseorang yang tak hanya bergulat dengan kepentingan sendiri dan hanya berpikir selingkung kanan sekitar kiri - yang selain disini ogah peduli. Aku memilih untuk tak sekedar binatang. Sekedar memenuhi naluri hasrat pribadi. Aku merasa punya tanggung jawab sebagai bagian dari keseluruhan masyarakat, sebagai yang menumpang-tinggal di muka bumi, sekedar menumpang hidup dalam jagad kehidupan. Adakah si pemuda pe..pe..pecinta itu mengerti. Aduh kawan, kenapa hanya berdiri disitu. Masih banyak yang lebih harus untuk kau kerjakan. Masih banyak yang lebih-mesti dipikirkan. Jangan menghabiskan sedikit waktu ini hanya untuk berkutat soal itu…
Tapi jujur saja, sebagai sesama manusia, aku empati juga sih terhadapnya. Masih kuingat air mukanya yang terlihat penuh damba itu. Saat ini sepertinya ia betul-betul seorang pecinta sejati. Aku tak boleh memaksa bahwa dia juga harus memikirkan bagaimana untuk membuat lebih baik peri-kehidupan masyarakat dunia. Saat ini, dia tak perlu memikirkan bagaimana dana program minyak untuk pangan di Irak dikorupsi. Biarlah, untuk saat ini tak perlulah ia ikut-ikut pusing memikirkan bagaimana cara sebaiknya bagi bapak presiden serta staf-stafnya guna memberantas tikus-tikus yang berkeliaran di lingkungan istana negara. Tak perlu ia ikut berpikir bagaimana sebaiknya mengatur sampah kota ini setelah beberapa waktu lalu dirudung sebuah masalah. Biarkanlah saat ini ia membangun dunianya berdua dengan kekasih yang ia cinta. Biarlah, hanya mereka berdua. Tapi lihatlah saudara-saudara, andai anda-anda bisa menyaksikan langsung. Ia berdiri, seorang diri, disana. Sendiri menabur asa.
Sekarang aku betul-betul kuatir. Jangan-jangan betul dia sudah sedari kemaren malem tetap berdiri disana. Pakaiannya sepertinya masih yang itu juga. Raut wajahnya masih seperti yang kemaren jua. Gerak-geriknya, masih begitu pula. Gila? Tidak. Aku tahu dari sorotan matanya, ia-lah seorang pecinta. Kalaupun gila, gila akan cinta (meski cinta dalam artian yang…, ya, begitu). Para pembaca yang budiman, andai anda-anda sekalian melihat sendiri raut wajahnya saat itu, yakin aku betapa akan sangat bersimpati pula dirimu. Air mukanya betul-betul seperti seorang yang teguh mengharap pada yang dicinta. Demi cinta, ia rela dilihat penuh janggal oleh setiap orang yang lewat. Dan ia lebih tak peduli lagi. Ia akan tetap ingin mencintai untuk kurang lebih seribu tahun lagi. Dari kemaren malem sampai ini pagi, ketika kulewati lagi tempat ini, ia masih…masih terlihat menatap penuh harap akan runtuhnya hati kekasih yang di dalam jiwanya menggelora. Cinta itu dahsyat. Sebuah truk lewat pernah kulihat ditempeli pada kaca depannya kata-kata: beratnya cintamu tak seberat muatanku. Kini aku tak percaya. Keteguhan pemuda itu membuat aku yakin bahwa cinta sungguh lebih dalam dari Samudera.
Aku kuatir, sumpah sangat kuatir. Waktu barusan lewat, aku melihat betapa bertambah linglungnya itu pemuda. Kemana engkau wanita, jadi aku yang bertanya. Oh iya, aku harus menanyakan ini padanya. Sama cowok itu. Setidaknya sekedar mengajak bicara, membuat ia membagi sebagian gejolak hatinya yang kian..dan kian membara. Ini waktunya.menampilkan empati dan hati nurani kepada sesama manusia. Aku harus kembali lagi menemui lelaki itu. Bagaimanapun, harus aku bantu.

***

Ternyata, pemuda itu adalah adik kandung dari salah seorang penghuni kost-an tadi. Pemuda tersebut menceritakan bahwa ia datang jauh-jauh dari kampung halamannya yang sangat jauh sengaja untuk menemui kakaknya. Ada sebuah masalah keluarga, katanya, yang tak bisa diceritakan lebih jauh. Yang jelas, katanya lagi, kakak ceweknya itu tak mau menemuinya. Sementara, ia harus dan sangat penting untuk menemui kakak ceweknya itu. Dan ia tak diperbolehkan memasuki tempat kakaknya tersebut. Akhirnya, setelah menitipkan barang-barang bawaannya di sebuah warung tak jauh dari situ, ia sedari tadi malam berdiri di tempat itu untuk terus membujuk kakaknya yang berkebetulan berkamar di atas yang dari depan terlihat jendelanya. Katanya lagi, ia sudah berbicara berjam-jam dengan setengah berteriak untuk membujuk kakaknya dari depan pintu atau pinggir gang sempit itu. Meski kalau ada orang lewat dia diam dulu. Malu, katanya. Tentu saja ia kecapek-an sekarang. Barangkali sebab itu pula ia tak malu-malu untuk menyetujui ketika tokoh Kami ngajak minum-minuman seger dulu di sebuah kantin. Kelihatannya, memang, ini semata gara-gara tokoh Kami kasihan. Tetapi sesungguhnyalah daripada itu, tokoh Kami yang cerdas itu sebetul-betulnya berniat untuk mengetes kebenaran ungkapan sang cowok tersebut. Seperti Anda barangkali, Kamipun sempat tegang juga mengikuti jalan cerita ini dan sempat curiga pula akan pengakuan sang cowok tersebut. Akhirnya dari Kami, sepakat dengan simpulan tokoh Kami bahwa pemuda yang menjadi sumber konflik dalam cerita ini tersebut adalah (diputuskan) Jujur. Maka Kami ikhlaskan duit yang dipakai oleh tokoh Kami guna mentraktir pemuda tersebut. Alhamdulillah, heppi ending.

Jatinangor, 15 Mei 2005

lagu barat

PELUKIS YANG AGUNG

manusia, siapa yang cipta
Tuhan, kata ibu guruku
di kala TK

dan kini,
setelah aku dewasa
setelah sekian pengalaman
dan sekian rintangan
aku lewati
setelah segala koran, majalah, mading
dan buku-buku
aku katami
setelah serba bertanya
kesana, kesini
dan kesitu
kutemukan,
tak ada jawaban yang lebih baik dari pada itu

lalu, yang belum berlalu…yang tak dilalu…
dan contoh, juga contoh-contoh
itu?

lagu barat

SAJAK AA NO-NAME BUAT TUHAN
karya: Aa No-Name

tuHan-ku (jika kau Ada),
cintaku apa adanya
bukan cinta buta

tuHan…(jika itu Kebenaran),
tundukku adalah kejujuran
bukan sembah kepalsuan

Han! imanku ini,
andai setengahpun tak cukup
kurasakan sebiji zarah itu masih selalu tersisa
cuma apakah kami, manusia ini,
akan menuju ke-Sana
hanya berbekal lotre dan sekedar undian saja?

tuHan,
berbekal sekedar pemahaman
masih selalu tertancap itu iman
dibuai kenyataan
aku membuat pilihan
demi pilihan

tuHan-ku,
sebab itu disini: tak ada beda lagi
antara menunggu dan mencari
(sementara itu, anak manusia saling sanjung
dan saling bunuh tanpa mau berpikir
ala penyair…sepertiku?)

lagu barat

SEPERTINYA) SALAM TERAKHIR

Ada sesuatu yang busuk dihati ini
tak tercium, barangkali
bagi diri sendiri

maka berkacalah, kawan
kata seorang tua yang akan kembali ke tanah
rumah masa depan

ia sekedar mencoba terus mengingatkan
di sedikit waktu
yang barangkali…menyedia sebuah kesempatan
berbuat sedikit kebaikan
bagi bumi tercinta yang bakal ia tinggalkan

bagi setiap kawan –
dan setiap lawan, anggaplah juga kawan –
bagi setiap manusia
bagi kehidupan
bagi keluhuran peradaban

dan ia segera: mati, jangan kuatir
namun, ada sesuatu yang busuk di hati – kawan
mudah-mudahan tercium sendiri, nanti.

lagu barat

(M)ALAM

digenitnya suara malam, di bisingnya hentakan siang, kita selalu menantikan sore yang tenang. ada juga suara-suara sunyi, seolah mengajak kita menjadi sahabat sejati, tapi mereka tak pernah setia, tak pernah sanggup lepas dari hawa dunia, menemu kita sekedar takut ada yang tersisa.

atau patung-patung keengganan, yang tak mau tahu lagi seperti apa kehidupan berjalan.

maka mereka semua berkata: buat apa berbicara tentang yang hakiki, serahkan saja pada…yang tersembunyi, serahkan saja pada kebutuhan, haha, perut ini.

namun tak bisa. Kita selalu mencari tahu, karena selalu ada risau menyesak di hati, yang tak mampu diterangkan oleh kenyataan, yang tak bisa diselesaikan oleh keniscayaan.

hati-hati. Kerisauan bisa menyesatkan, kata mereka. O, mereka ternyata mau peduli!

dan kita makin risau mempertanyakan: di zaman yang mangkin menyampah ini, siapakah yang masih mau peduli tentang diri sendiri, selain Kami?

lagu barat

MATA INDAH ITU

Disini,
di sela baris-baris yang kaku
aku mengumpulkan segala yang terserak
menjadi satu

dan mata indah itu,
kapan kita akan Bertemu…

aku igaukan namamu
disini, selalu.

NamaMu.

ANTARA VARIASI ESTETIS DAN KERUMITAN GRAMATIKAL

Termasuk ke dalam sebuah kumpulan cerpen yang secara tematis terlihat dihadirkan untuk ‘mempertanyakan cinta’, cerpen “Malamnya Malam” seperti mempunyai tempat tersendiri. Secara kasat mata, cerita ini ditempatkan pada urutan paling akhir. Kedua waktu pembuatannya merupakan yang paling awal dibanding yang lain, yakni tahun penulisan 1982, serta waktu pengerjaannya yang dalam kurun 2 tahun, yakni sampai 1983. Ketiga, ‘tipikal’ judul cerita serta bentuk pemaparan cerita yang secara kuantitas termasuk golongan minimalis dibanding dan dalam keseluruhan cerpen dalam kumpulan ini. Tipikal judul cerita mayoritas cerpen ini terasa dekat sekali dengan tema seperti yang ditandai dengan kata-kata : lelaki, perempuan atau cinta. Bentuk pemaparan cerita yang sepenuhnya berbentuk narasi juga hanya terdapat pada beberapa cerpen saja. Dan penulis menilai paparan narasi dalam “Malamnya Malam” ini pulalah yang paling penuh bentuk kenarasiannya dibanding beberapa yang lain itu. Salah satu bukti, yang sekali lagi,secara kasat mata dapat dengan mudah kita lihat adalah bahwa dalam cerpen naratif lain masih ada setidaknya satu dua dialog batin tokoh yang diberikan pengarang sepenuhnya pada tokoh dengan ditandai pemberian tanda baca langsung, sedang dalam “Malamnya Malam” tak ada barang satu katapun yang diberi tanda kutip langsung. Dialog batin tokoh pun sepenuhnya dipaparkan pengarang. Terakhir, cerpen ini merupakan teks dengan bentuk paparan yang menggunakan kalimat paling kompleks dan ‘rumit’ dan melelahkan. Cuma, karya sastra, sebagai tulisan yang mengkreasi bahasa, harus kita teliti dengan berangkat pada pemahaman bahwa kerumitan kalimat tersebut jangan-jangan merupakan upaya mengkreasi bahasa atau jangan-jangan upaya kreatifnya itulah yang mengakibatkan kerumitan kalimat. Ketegangan antara pencarian estetis baru dan keterikatan pada tata aturan dan atau logika ilmu bahasa saling menindih dan menerjang dalam cerpen ini. Hal inilah yang akan dibahas dalam tulisan ini.


Dan, dan, dan, dan, dan...

Seperti yang telah disebutkan di awal, ada dua hal yang akan dibahas, yakni upaya kreatif dalam pencarian variasi bentuk-bentuk berbahasa dan katakmanutan pada kaidah bahasa yang bisa mengakibatkan ketidakjelasan utaraan. Masing-masing bagian akan diambil satu contoh saja sebagai sample sebab keterbatasan ruang tak memungkinkan untuk mengurai seluruh kalimat dalam cerpen ini. Namun yang perlu dicatat, karena seperti disebutkan di awal tadi, bahwa terjadi pertumpang-tindihan dan barangkali juga percumbuan mesra antara dua hal yang berseberangan ini, maka setiap bicara tentang yang satu begian tentu terkait juga dengan materi yang satu lagi. Untuk materi pertama akan diuraikan tentang variasi estetis pengarang dengan mengambil contoh paragraf pertama pada cerpen ini.
Seperti yang jadi judul bagian ini, perhatikanlah seringnya penggunaan kata dan pada paragraf ini. Secara variatif, kata dan ada yang berfungsi sebagai penyambung antar kalimat, antar klausa, antar predikat, dan dalam satu kalimat berfungsi sebagai penyambung rincian objek. Konstruksi paling dominan adalah penempatannya sebagai penyambung antar predikat. Pemberulang-ulangan kata dan ini tentu meghasilkan efek estetik bagi karya namun di sisi lain juga bisa menimbulkan kekurang-berjelasan dalam mengatur unsur-unsur kalimat. Pada kalimat pertama kita menemukan penyambungan antar klausa menjadi satu kalimat menggunakan urutan kata sambung dan-sementara-dan. Pola seperti ini tentu dipandang kurang terkaidah jika dilihat dari struktur bahasa. Setelah kita dihadapkan pada hubungan perbandingan antara klausa tiga terhadap kalusa satu-dua yang setara, tiba-tiba kita masih harus berhadapan dengan hubungan klausa tiga dengan klausa empat yang bersifat akibat-sebab. Tentu atas nama kemudah-dicernaan kalimat, pembaca berharap agar kalimat ini ‘diatur’ lagi supaya lebih sederhana dan ‘lancar’ membacanya, tapi dari segi estetik ternyata kita mendapatkan efek ritmik dari perulangan bunyi dan pada awal klausa dua dan awal klausa empat.
Dalam kalimat ketiga paragraf ini, didapatkan juga efek ritmik yang lebih dahsyat lagi dengan diulang-ulangnya kata dan beberapa kali. Cuma lagi-lagi harus terganggu dengan ketidaksepolaan antar klausa, dalam ilmu tatabahasa hal ini dicap dengan jargon tak setara. Antara klausa pertama dan kedua disambung langsung (perurutan langsung antar prediket) sehingga terlihat jadi satu klausa, lalu dengan klausa selanjutnya dimulailah pola sambungan tak langsungnya. Dalam rangkaian sambungan tak langsung antar prediket inipun ditemukan pola yang berbeda dalam hal jenis prediketnya. Ada yang tak diikuti kata-kata selanjutnya alias verba intransitif, ada yang diikuti objek saja, ada yang objek plus keterangan, ada yang keterangan doang, dan ada yang keterangannya itu sangat panjang. Semua seperti ditempatkan dalam pola yang acak, sehingga secara struktur dalam hal tadi kalimat tersebut tak lagi menunjukkan keritmisan.
Dalam paragraf lain kita bakal mendapati dan sebagai penyambung antar paragraf dua buah. Antar masing-masingnya diselingi satu paragraf tanpa diawali kata dan. Konstruksi ini cukup menghadirkan efek estetis. Selain ini tentu juga terpengaruh dengan penggunaan kata dan yang ‘royal’ pada paragraf-paragraf lain seperti contoh pada paragraf pertama.

Kekurang jelasan acuan setiap unsur

Untuk contoh kita akan mengambil kalimat empat paragraf dua. Sungguh ‘teramat betul-betul sangat’ banyak kata yang yang digunakan. Ada tujuh ‘biji’ kata yang terdapat dalam satu kalimat. Tapi kita tak usah terlalu tertakjub-takjub dengan pesona ‘yang’ dihadirkan. Biar tak terlupa dari tugas ‘yang’ harus ditunaikan. Marilah kita mulai penganalisisan secara gramatik terhadap kalimat kompleks dan mempesona ini. Dengan tidak mempersoalkan penggunaan kata dan di awal kalimat, kita mendapati bahwa kalimat ini merupakan jenis majemuk dengan klausa pertama berpola keterangan-predikat-subjek dan klausa kedua berpolakan keterangan-predikat-objek-keterangan dengan (uh! sayapun tak bisa menghindarkan diri dari menulis kalimat yang ini secara kompleks juga) catatan tambahan bahwa dalam klausa kedua terjadi pelesapan subjek, dan satu lagi catatan: Keterangan klausa kedua merupakan kumpulan kata-kata yang jumlahnya hampir mencapai ¾ kourum dari keseluruhan kata-kata dalam kalimat ini, dimulai dari berakhirnya kata terakhir fungsi objek dalam klausa kedua hingga berakhirnya kalimat.
Lalu masalah apa yang timbul dari struktur kalimat seperti itu? Pertama pembagian pola fungsional kalimat yang telah dilakukan di atas pun masih diragukan seandainya kita beranggapan bahwa klausa kedua dianggap hanya keterangan frasais dari subjek pada kalimat pertama atau dalam artian subjek klausa pertama telah mengalami perluasan subjek yang begitu ‘hebat’ sehingga kita anggap kalimat ini hanya terdiri atas satu klausa. Sayang, barangkali, ada penggunaan tanda koma antara subjek suara merdu dengan ‘sebrek’ kata-kata berikutnya. Itulah sebab dipilih opsi pembagian gramatikal seperti ditulis di awal. Kalau tidak, tentu bakal lebih dahsyat lagi kita membicarakan struktur kalimat ini sebab berhadapan dengan sebuah perluasan subjek yang tak tanggung-tanggung luasnya. Sementara, berdasarkan yang penulis ketahui, pembahasan bidang keilmuan linguistik sendiripun tentang ini masih belum memadai (sekali lagi sepengetahuan saya). Maka, apa yang harus dilakukan jika harus secara tertib dan taat kaidah melakukan analisis gramatikal (bukan sekedar mengikuti logika sendiri) terhadap hal yang disebutkan di atas?
Kembali ke analisis terhadap kalimat di atas, kedua, berdasarkan asumsi bahwa kalimat yang ‘baik’ itu memiliki keterpusatan pokok pikiran sehingga ‘memudahkan’ penilaian dan penganalisisan wacananya, pada klausa kedua, yang memiliki Keterangan super-panjang itu, kita menghadapi ke-bertebar-an ide dan peniadaan fokus terhadap topik. Pada setiap penggunaan kata yang, yang menyambung sekian kata-kata dalam kalimat kompleks ini, kita bisa menemukan bahwa wacana pada kata-kata sesudahnya mengacu pada kata-kata ‘yang’ sebelumnya, bukan pada topik kalimat. Barangkali kasihan kita melihat bahwa topik pada klausa ini (tentang suara yang memanggil tukang bakmi) harus terlupakan ketika kita berhadapan dengan cerita tentang malam yang dingin (dingin mengacu pada malam), berhadapan dengan cerita tentang hujan yang deras, deras yang menghanyutkan, dst...dst. Padahal jika kalimat ini mau jadi ‘anak baik’, sebaiknya setiap konstituen atau unsur yang terdapat dalam fungsi Keterangan klausa kedua kalimat ini, mengacu pada topiknya, ‘yang’ terdapat pada fungsi sebelumnya. Belum lagi kita ‘menghadapi kenyataan’ bahwa klausa kedua merupakan sebuah keterangan dari klausa pertama. Ya, tambah bertebaranlah pokok pikiran

***

Satu hal yang perlu dicatat adalah fakta bahwa kalimat tersebut merupakan kutipan dari sebuah cerpen. Cerpen, sebagai salah satu genre sastra – yang mengkreasi bahasa, wajar kita ‘ketemukan’ lagi nakal mempermainkan unsur-unsur bahasa. Dalam kumpulan cerpennya sendiri ( yakni : “Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta” ), ia pun mendapat tempat tersendiri sebagai cerpen dengan kalimat terkompleks, barangkali terumit, tapi yang pasti melelahkan. Kerumitan yang didapat dari cerpen ini sebenarnya bukan pada isinya ( dalam kumpulan cerpennya tadi masih banyak cerpen lain yang lebih rumit secara isi ), melainkan pada struktur kalimatnya. Betul-betul pada struktur kalimat doang. Pada isi dan teknik cerita sebenarnya sederhana saja. Namun fenomena menarik yang didapat adalah bahwa sturktur kalimat yang rumit ini mungkin juga berpengaruh pada timbulnya ketakjelasan pada struktur cerita pada beberapa bagian. Terlalu sibuk dan bersemangatnya pengarang untuk mendeskripsikan suasana dengan sangat, sepertinya, terdesak-desak dan memaksa-maksakan, berakibat pada lupanya ia mengatur posisi dimana tokoh berperan sebagai pencerita. Dan ini, sekali lagi, diduga karena tipikal kalimat yang sangat memanjang-manjang, dan seperti dijelaskan di atas, membuat bertebarannya pokok pikiran.
Terakhir, dari segi variasi kreatifitas bahasa, sebetulnya gaya itu cukup menarik. Cuma sekarang bagaimana mengatur supaya pola yang dikreasi tidak membingungkan, alias masih bisa dianalisis logikanya, dan jangan sampai malah menimbulkan efek pada hal lain, seperti struktur cerita dalam hal ini.





-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

MERANTAU KE JATINANGOR

Judul tulisan di atas mungkin memang terdengar menlankonlis, tetapi sungguh tulisan ini bakal berupa paparan yang realistis. Jadi, tulisan ini bukanlah runtutan kata-kata puitis. Betul-betul fakta nyata yang bakal diungkapkan yang paling, penulis bakal berusaha menyajikan dengan sedikit manis. Setidaknya telah dicoba pada judul sebagai pembuka wacana. Isinya sih, sepertinya, hanya berupa sebuah deskripsi layaknya berita saja. Tentang sebuah tempat bernama Jatinangor, dimana terdapat empat perguruan tinggi berdiam disana. Unpad salah satunya.
Universitas Padjajaran (Unpad), rasa-rasanya nama ini sudah cukup dikenal dimana-mana. Sebagai salah satu perguruan tinggi negeri yang tergolong papan atas dan dalam barisan perguruan tertua, dan juga apalagi terdapat di Pulau Jawa, Unpad memang cukup punya nama di republik ini. Apalagi buat para pelajar SMU dan sederajat, yang bakal segera melanjutkan studinya sebagai mahasiswa dari sebuah universitas, nama Unpad memang cukup menjanjikan buat dijadikan pilihan. Budaya sentralistik yang masih cukup terasa dalam dunia pendidikan di Indonesia membuat Unpad menjadi salah satu pilihan yang sangat dicita-citakan oleh para pelajar dari seantero nusantara. Setiap awal tahun ajaran, akan berduyun-duyunlah para calon mahasiswa dari berbagai daerah akan menapak kaki guna melanjut studi ke sini. Ke Jawa Barat? Ya. Ke Bandung? Tunggu dulu.


***
Pagi yang cerah, rumput-rumput terlihat basah, angin semilir membelai bunga-bunga yang hendak merekah, terkadang alam memang ada masanya untuk terlihat indah. Di hamparan lereng pada kaki bukit ‘Gunung’ Manglayang, disanalah sekarang sebagian besar Fakultas dari Universitas Padjajaran melangsungkan kegitan perkuliahan. Setahu orang awam, memang kampus Unpad itu terletak di Kota Bandung. Dan memang, rektorat, dua buah fakultas yakni hukum dan ekonomi,gedung-gedung program sarjana serta doktoral, dan beberapa unit ‘kecil’ lainnya masih dipertahankan tetap berada di Bandung. Tetapi selain yang tadi semua fakultas yang ada di Unpad telah dipindahkan ke Jatinangor, termasuk sekretariatan dari unit-unit kegiatan mahasiswa. Sehingga, buat para calon mahasiswa Unpad dari berbagai daerah setiap tahunnya, kalau Anda tak dihukum atau diekonomikan, bersiap-siaplah untuk menggabung menjadi penghuni Jatinangor. Setidaknya di saat perkuliahan bagi mahasiswa yang memilih tinggal di Bandung, tak mengontrak tempat tinggal di sini. Jadi, seperti apakah Jatinangor itu?
Jatinangor adalah sebuah kecamatan yang sudah termasuk wilayah dari Kabupaten Sumedang. Tetangganya Kabupaten Bandung yang tetangganya Kota Bandung. Jadi, dari Unpad pusat ke kampus yang ‘dipinggir’ ini, seseorang akan melalui jalan-jalan dari satu kota besar dan dua kabupaten. Meski kelihatannya cukup dramatis juga, sebetulnya, jarak yang ditempuh tak lah terlalu jauh. Dalam setengah jam, kadang, dari Bandung, Jatinangor bisa dicapai sebagai tujuan. Terserah, jika ini dianggap masih cukup lama dan bikin lelah. Kecamatan Jatinangor ini tepat berada setelah keluar dari jalan di Kabupaten Bandung. Berturut-turut akan dijumpai berjejer cukup berdekatan empat perguruan tinggi yang ada disini, STPDN, Ikopin, UNWIM, dan terakhir Unpad. Dan jalan seterusnya menuju hingga Kota Sumedang. Akan terlihatlah, sepanjang daerah kampus yang dilabeli kawasan pendidikan tinggi ini, dempetan bangunan rumah-rumah kost yang ditinggali oleh para mahasiswa yang merantau mencari ilmu ke Jatinangor. Juga disepanjang pinggir jalan, terdapatlah deretan kios-kios atau warung makan yang tentu masih berhubungan dengan ‘kebutuhan anak kost di perantauan’. Bagaimana perikehidupan mereka di Jatinangor? Dan sesuai dengan tujuan tulisan ini, tentang kehidupan mahasiswa rantau di tempat ini, menunjangkah tempat ini bagi cita-cita pendidikan mereka?
Berbicara tentang kebutuhan sehari-hari di Jatinangor, seperti yang juga telah disinggung sedikit sebelumnya, telah banyak warung makan atau kios-kios secara alami juga tumbuh di tempat ini, baik milik penduduk setempat atau para perantau pula yang mencoba mengais rejeki. Segala kebutuhan terkait kegitan perkuliahan para mahasiswa semacam rental komputer, warung fotokopi, atau toko-toko peralatan tulis yang istilahnya stationery, juga cukup memadai tersedia disini. Sebab memang, dimana ada gula disitu ada semut. Siapa pula yang mau membiarkan tempat meraup rejeki luput. Begitu juga toko-toko peralatan rumah tangga, wartel, gerai seluler dan foto, hingga rental komik dan playstation. Bahkan saat ini, sampai ada pula yang buka toko baju bekas dan dasi-dasi. Dua mini market yang cukup besar telah pula membuka cabangnya disini. Memang semakin lama, soal perimbangan ekonomi antara distributor dan konsumen, sesuai hukum pasar, semakin pula terpenuhi. Cuma, soal toko buku yang memadai atau sarana hiburan yang lebih ‘mengota besar’, orang-orang Jatinangor perlu ke Bandung guna mendapatkannya. Bagaimanapun, Bandung tentu lebih memiliki konsumen dibanding Jatinangor yang semula hanya wilayah pedesaan hingga didatangi oleh manusia-manusia yang bergaya ngota.
Tentang sarana olahraga, yang tentu dibutuhkan demi kebugaran mahasiswa sebagai bibit-bibit unggul generasi penerus intelektualita bangsa dalam era pembangunan setelah lebih dari setengah abad merdeka ( dari Belanda ), pun cukup memadai. Sarana-sarana yang terdapat dilingkungan kampus, pun tentu bisa dimanfaatkan. Sekurang-kurangnya, lari pagi di sekeliling kampus, pun akan terasa sangat menyenangkan sembari menyaksikan kesegaran alam, dan tentu membugarkan. Kemudian mengenai rumah kontrakan. Semakin hari semakin bertambah pula jumlah kost-kostan di Jatinangor yang bertebaran di seputar kawasan pendidikan tinggi Jatinangor. Memadai, kalu tak harus dibilang berlebih. Tetapi disini pulalah salah satu masalah yang muncul. Kebertambah padatan penduduk Jatinangor dari hari ke hari dianggap telah overlap terhadap daya dukung alamnya dalam hal kebutuhan air. Setiap musim kemarau, wilayah Jatinangor yang sebetulnya tergolong kering juga akan membuat menjerit sebagian rumah kost yang kesusahan mendapatkan air. Memang inilah salah satu titik isu dalam mempertanyakan perihal seperti kebijakan pemindahan kampus Unpad ke Jatinangor. Makanya, sebenarnya, Jatinangor juga tak seindah seperti yang pernah digambarkan sebelumnya tadi. Sebuah bukit yang berdiri tegap memagari kawasan ini dari arah timur bernama ‘Gunung’ Geulis ( geulis artinya cantik ), yang terlihat begitu rimbun dan sedap dipandang saat tetanahnya masih cukup basah, akan terlihat seolah gundukan gurun pasir saja kala kemarau t’lah tiba. Bagi mahasiswa rantau yang cukup berduit, tinggal di kost-an elit, dengan sistem pompa air yang komplit, hal tersebut tentu tak bakal jadi persoalan sulit. Ataupun mereka bisa memilih untuk tinggal di Bandung saja sebab urusan doku tak lah jadi perkara.
Pembicaraan terakhir yang seperti-nya perlu dibicara-i terkait dengan peri-hidup mahasiswa rantau di Jatinangor adalah mengenai proses akulturasi biaya. Tak pelak lagi, sebagai sebuah tempat bertemunya berbagai orang dengan berbagai asal budaya akan menghadirkan keunikan tersendiri pula dibanding pola kehidupan masyarakat homogen yang lebih berpola tetap. Satu hal yang perlu ditekankan mengenai pola perikehidupan multi kultur disini adalah bahwa sebagian besar pendatang tersebut adalah berstatus mahasiswa. Tentu sopan santun sikap formal akademistis akan menjadi perihal yang menyatukan di lingkungan kampus. Diluar lingkungan mahasiswa, sebab yang saling mengadakan kontak sosial disini sebagian besar merupakan manusia yang berstatus mahasiswa, tentu hal-hal mengenai gesekan sosial yang bersifat bar-bar lebih dapat dihindari. Bagaimanapun, berbeda mungkin dengan universitas semisal yang terdapat di Jakarta, disini budaya dan kultur sunda masih cukup mendominasi. Lagian, para perantau itupun sebagian besar juga masih berasal dari wilayah Jawa Barat, tatar tanah Pasundan, Banten, Cireboan, maupun Parahyangan. Bagi para perantau dari budaya luar sebenarnya cukup menyenangkan menyesuaikan diri dengan budaya sunda yang terkenal kehalusannya. Paling kemudian persoalan kedua yang perlu juga diperhitungkan adalah mengenai pertemuan antara budaya ngota dengan budaya yang ndeso. Dengan tetap budaya intelektualitas membayang-bayangi, kedua hal tersebut saling tarik menarik membentuk tipikal penghuni Jatinangor. Oposisi tersebut bisa antara orang dengan budaya Bandung yang ngota tersebut dengan keluguan suasana penduduk setempat yang bagaimanapun aslinya adalah orang desa atau antara mahasiswa yang berasal dari kota besar dengan mahasiswa dari daerah-daerah pelosok. Tetapi upaya mudernitas sepertinya tetap jadi ukuran yang membuat kita maklum akan tradisi-tradisi lama yang, sepertinya lagi, terus terkalahkan.

***
Demikian paparan apa adanya yang dapat penulis kiranya sampaikan. Memang sepertinya tulisan ini betul-betul paparan deskriptif biasa yang tak seromantis judulnya, seperti yang juga telah dikemukakan di awal. Tapi mudah-mudahan, bagaimanapun semoga saja, judul tersebut bisa memaniskan paparan ini. Selain itu, paparan ini memang sepertinya terlalu umum karena memang penulis tak lebih mengkhususkan lagi satu objek paparannya. Sehingga, banyak detil yang tak terlalu lengkap dan kajian yang tak terlalu dalam. Untuk deskripsi umum tentang mahasiswa yang (akan) merantau ke Jatinangor ini, penulis merasakan hal-hal tersebut adalah cukup berkecukupan. Begitulah sebuah tempat bernama Jatinangor, begitulah kira perihal yang bakal ditemukan para mahasiswa yang bakal menghuni Jatinangor. Dan jika Anda jadi berminat untuk datang kesini, ketika kendaraan Anda mulai keluar dari wilayah kabupaten Bandung, di pintu masuk Jatinangor akan Anda temukan sebuah plank melintas jalan bertuliskan : “Anda memasuki kawasan pendidikan tinggi Jatinangor, silakan mengurangi kecepatan!”.





-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

ATHEIS, KRITIS, KRISIS..

Sebuah analisis psikologik terhadap tokoh Hasan
dalam roman “Atheis” karya Achdiat K. Mihahardja




“Apa artinya sesal, kalau harapan telah tak ada lagi untuk memperbaiki kesalahan? Untuk menebus segala dosa? Akan tetapi hilangkah pula sesal, karena harapan untuk menebuas dosa itu telah hilang?…..( kutipan tiga kalimat pertama dalam roman “Atheis” )”

I. Pendahuluan
Roman “Atheis” ini diterbitkan pertama kali tahun 1949. Tahun yang merupakan tahun-tahun bersejarah dalam menjelang ( atau boleh juga dibaca : mempertahankan ) kemerdekaan Republik Indonesia. Dan tak pelak, selain pergolakan politis, revolusi sosial pun bisa dimaklumi tengah menghebat di setiap anak-anak bangsa, yang sebentar lagi akan ‘betul-betul’ menjumpai kemerdekaannya. Menjadi sebuah negara merdeka berarti menjadi sebuah negara yang mengatur diri sendiri. Mengatur sendiri masyarakat untuk tentram hidup bersama sebagai satu bangsa ( yang besar lagi ). Dalam menemukan konklusi dan formulasi yang mengatur hidup bersama ini tentu banyak bersiliweran berbagai paham, kehendak hingga kepentingan. Untunglah, seperti yang diketahui bersama lewat buku-buku pelajaran di sekolahan, the founding father kita telah membawa falsafah tentang nasionalisme untuk mempersatukan semua warga negara. Nasionalisme memang merupakan suatu ideologi yang nge-tren dikalangan bangsa-bangsa terjajah. Sehingga keberterimaannya untuk saat itu dapatlah difahami dengan mudah. Lalu sehebat apakah pemikiran tentang nasionalisme itu sehingga dengan sakti mandraguna bisa mengatasi berbagai perbedaan yang muncul pada masyarakat ( yang apalagi sangat majemuk ) saat itu ( dan apalagi saat ini )? Dan seperti kondisi kebernegaraan seperti yang kita-kita lihat saat ini, di negeri ini, apakah berbicara tentang nasionalsisme sesederhana itu saja cukup sudah?

Sebagai sebuah negeri terjajah yang juga akan menjemput alam modern, para intelektual negeri kala itu tentu mulai berkecimpung dengan berbagai paham dan pemikiran yang berkembang di pentas perpolitikan mancanegara. Jika ditilik lagi sejarah bangsa ( yang besar ini ) salah satu titik tolaknya adalah ketika sang penjajah menerima pemikiran tentang politik etis yang memberi kesempatan ‘pencerahan’ kepada negeri jajahannya ini. Minimal secara jalur resmi. Jadi sejak awal abad ke-19 para pemikir kita telah mulai berkecimpung dengan berbagai, sekali lagi, pemikiran dan ideologi yang berkembang di panggung multinasional. Yang paling heboh pada masa-masa itu adalah perang ideologis antara kaum proletar ( ataupun sosialis ) dengan kaum feodal ( ataupun kapitalis ). Dan isu ini terbawa ke perkecamukan lokal dikalangan para intelektual anak bangsa sendiri yang pada masa-masa itu bersiap-siap ‘menyambut’ kemerdekaannya. Maka, perdebatan multilateral antar paham tadinya itupun beradaptasi dengan kondisi peta perideologian tersendiri di dalam negri. Salah satunya yang terberat adalah hubungan dengan pemahaman keagamaan di masyarakat yang katanya berpenduduk muslim terbesar di dunia ini. Meskipun persoalan ini telah diberi ‘bungkus’ aman dengan sesuatu yang bernama nasionalisme seperti yang disebutkan di atas, namun percak-percik persoalannya bukan tak ada dalam realitas terjadi. Seperti yang kita temukan pada cerita dalam roman “Atheis” ini.
Sebagai sebuah analisis terhadap roman tentu saja tulisan ini tak berbicara tentang riwayat dan sejarah perjalanan republik kita. Tapi ada benarnya pikiran bahwa karya sastra juga merupakan rekaman sejarah dari masanya. Terkait dengan kondisi sebenarnya masa-masa itu, dan terkait isi cerita ini sendiri, kita akan bisa melihat dalam roman ini kisah tentang seorang pemuda yang sangat agamis yang menghadapi pergolakan jiwa (atau barangkali lebih tepat penulis sebut tekanan batin ) ketika ia bertemu dengan pikiran-pikiran dan pemahaman kiri-sosialis-marxis yang sedang cukup mendapat kesempatan bersimaharajalela saat itu. Sisi penggalian dalam analisis ini adalah dari sudut psikologis, maka kita akan memfokuskan kajian pada gejolak batin sang tokoh pemuda agamis itu. Bagaimana ia berhadapan denagan dua sisi pemikiran yang dalam hal-hal kunci sangat prinsipil berseberangan bahkan berlawanan.
II. Isi
Hasan, si pemuda itu yang menjadi tokoh sentral dalam roman ini, merupakan sosok yang dididik ketat dalam beragama Islam sejak kecil. Lebih jauh bahkan ia sampai ikut menganut ajaran mistik berupa tarekat seperti ayah ibunya. Sebagai anak kalangan berdarah ‘biru’ dan juga sebagai anak tunggal, Hasan tergolong jenis manusia yang cukup ‘terpelihara dan tak macam-macam’ dalam menjalani masa-masa pendidikannya. Hingga ia dewasa, bekerja, dan hidup sendiri di kota bandung terpisah dari orang tua, kelurusan beragamanya bahkan segala ritual tarekatnya masih tetap dijaga. Hingga, ia bertemu dengan pikiran ‘aneh-aneh’ dari golongan marxis di suatu ketika yang tak disengaja. Ia bertemu dengan Rusli kawan lamanya. Sebenarnya pertemuan dengan Rusli inipun tak akan berbuntut panjang andai tak ada Kartini, temannya Rusli, yang membuat Hasan jatuh cinta. Ya, oleh kerana gejolak asmara inilah, Hasan jadi rajin mengunjungi Rusli agar juga bisa bersua Kartini. Hasan pun ujung-ujungnya masuk kedalam lingkungan Rusli, Kartini, dkk, yang notabene berideologi marxis. Disinilah Hasan ‘dipengaruh’ untuk ‘masuk’ ke alam pemikiran marxis.
Ketika alam berpikir orang-orang marxis ini merasuk, mulailah keguncangan psikologik menghantam pribadi Hasan yang semula sangat teguh agamanya. Hingga ideologi keislamannya kalah. Sewaktu berkunjung ke orang tuanya dalam keadaan marxis itu, Hasan pun mendapat masalah dengan kedua orang tuanya. Inipun menambah tekanan pada kejiwaan Hasan yang baru saja mengalah pada marxisme yang dengan mudah manaklukkannya. Ceritapun bergulir ke Hasan yang akhirnya kawin dengan Kartini hingga ke ia yang mulai sering bertengkar dengan Kartini dan hingga ia yang bercerai dengan Kartini. Terakhir ia mati dalam proses kemarahannya terhadap dugaan akan perselingkuhan yang dilakukan Kartini. Oleh sebab kebetulan lagi ( barangkali untuk ini dinamakan saja setengah kebetulan sebab terkait ‘proses kemarahan tadi’ ), Hasan ditangkap oleh tentara jepang hingga disiksa mati sebab diduga mata-mata ( jelas kejadiannya pada halaman-halaman terakhir roman ini ).
Yang perlu diperhatikan adalah proses ketika Hasan mau untuk menerima ideologi marxis. Faktor adanya seorang Kartini ( yang sekali lagi : membuat Hasan jatuh hati ) secara eksplisit tergambarkan di roman ini. Dalam setiap kegiatan diskusi yang dilangsungkan oleh kaum marxis tersebut, Hasan terlihat hanya berlaku pasif. Ia tak seperti seseorang yang tiba-tiba merasakan menemukan sebuah ideologi yang betul-betul pas dengan hati nuraninya. Meski memang terpengaruh tapi buat Hasan tak penuh. Sebagai orang yang pasif ia tak sanggup mempertahankan pemahaman keagamaannya di depan orang lain. Dan sebagai pihak yang menerima wejangan ia juga tak sepenuhnya memahami untuk mengiyakan pemahaman baru yang didengarnya. Masa kecilnya telah membentu pribadi Hasan selaku jenis makhluk konservatif dan kaku untuk menyikapi berbagai gejolak di sekitarnya. Memang ada beberapa poin-poin dari pemikiran kaum marxis yang mulai terpahami olehnya, tapi sekali lagi sebagai jenis makhluk yang bertipe konservatif, ia tak mau untuk lebih jauh mempersoalkan atau penuh-penuh memahami baru mengiyakan. Sementara sering kali pergulatan pemikiran yang dihadapinya selalu ditindih oleh rasa cinta pada Kartini dalam imajinasinya. Dan oleh karena Kartini adanya dalam lingkungan yang ‘berbeda’ dengannya itu, Hasan pun terus mencoba dan jadi merasa nyaman-nyaman saja disana.
Hasan pun akhirnya memang mencelup ke dalam pergaulan marxis tersebut. Tanpa militansi, dengan keterbatasan dan pembatasan pemahaman yang ia miliki. Sepanjang roman ini kita disuguhi berbagai pemikiran dan utaraan pandangan dalam ideologi marxis, tapi seberapa yang diperankan kepada Hasan? Malah Hasan sebagai tokoh utama dalam kisah beraroma ideologi ini lebih terlihat dominan dihantui oleh pikiran-pikiran perasaan hati terhadap Kartini. Ternyata memang ideologi marxis hanya setengah hati mampu menghinggapi kalbu Hasan. Menjelang akhir cerita kita disuguhi tahapan krisis kejiwaan yang dialami Hasan, menghadapi persoalan hidup yang kini ia jalani ( yang barangkali tak ‘kan terjadi andai ia tak bertemu Rusli dan Karitini ). Bermula dari perasaan berdosa yang ia hadapi setelah bertengkar hingga kemeninggalan ayahnya, sampai krisis rumah tangga yang ia hadapi dengan Kartini. Terlihat, Hasan yang belum sempat betul-betul kiri, ternyata mencoba untuk kembali ‘normal’. Dan barangkali sayang memang, cerita berakhir ketika Hasan masih dalam proses kebimbangan. Ia harus mati sebelum sempat betul-betul menentukan pilihan. Hidup memang tak terduga, dan penuh kebetulan.
Satu hal lagi yang perlu dicatat adalah kondisi fisik Hasan. Disebabkan kebiasaan Hasan mandi malam untuk melaksanakan ritual tarekatnya ( barangkali salah satunya, tapi dengan sudut pandang isu yang ingin disampaikan cerita bisa kita anggap inilah utamanya ), ia mengalami penderitaan fisik yang barangkali berpengaruh pada kondisi emosionilnya, bahkan mungkin juga pikirannya, juga barangkali keharmonisan menjalani bahtera perkawinan dengan Kartini, dan terakhir yang mempermudah beliau untuk cepat mati. Disini terdapat kritikan berupa sindiran terhadap ‘kebodohan’ dalam menjalankan ajaran agama. Dan Hasan, sebagai tokoh utama, lagi-lagi harus jadi korban dalam percaturan cerita. Kasihan.
III. Penutup
Tiga baris kalimat pertama dalam roman ini, yang sengaja penulis cantumkan pada awal tulisan, rasanya tak sekedar perasaan yamg menimpa Kartini yang ditinggal pergi Saudara Hasan. Pada kalimat-kalimat itulah terdapat suasana yang dihadirkan dalam penyikapan pembaca terhadap tokoh Hasan, yang ‘polos’ itu, yang harus menjadi tokoh sentral dalam roman penuh pemikiran ideologis ini. Meski disini kita tidak memperbincangkan tentang landasan pemikiran setiap ideologi dalam cerita ini, namun gaya yang sangat kritis ( terhadap peri-kehidupan ) yang diusung kawan-kawan kita beraliran marxis terlihat hanya menghasilkan krisis kejiwaan dan tekanan batin pada Bung Hasan sebagai tokoh utama. Pembaca seperti mendapat pelajaran dari resiko bergelut dalam sebuah dunia pemikiran yang tak sanggup suatu individu selam. Lalu yang mana yang atheis? Kemana perginya cinta? Bersemberawutannya berbagai persoalan memang bisa membuat kita terlupa dari sebuah jalan, yang barangkali semula berusaha kita yakinkan. Dan banyak peristiwa dalam hidup ini hadir berupa kejutan. Banyak fakta dan pikiran kembali bersiliweran. Dan manusia harus memilih. Dan menyerahkan. “….hidup hanya menunda kekalahan / tambah terasing dari cinta sekolah rendah / dan tahu ada yang belum terucapkan / sebelum pada akhirnya menyerah ( Derai Derai Cemara, Chairil Anwar )”. Ya, menyerah.





-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

ANTARA BARAT DAN TIMUR DI TEMBOK KAMPUS

Salah satu hal yang sedang berkembang dalam khasanah dunia kritik sastra di Indonesia saat ini, terkait dengan persoalan hangat mengenai usaha mencari teori tersendiri dalam menganalisis karya sastra Indonesia ( sebab teori dari ahli-ahli barat dipandang kurang memadai dan lain dunia untuk membedah sastra negeri ini ), adalah dengan kenyataan kurangnya kuantitas kritik sastra di Indonesia, seperti yang mengemuka dan menjadi keluhan dalam berbagai pembicaraan tentang dunia sastra di republik ini. Jika karya sastra dipandang tidak banyak peminatnya di republik ini, seiring dengan kenyataan minat baca orang Indonesia yang masih rendah, maka jumlah karya-karya sastra yang diproduksi masih sangat melimpah dan juga cukup dianggap berkualitas ( di sisi lain memang dibandingkan dengan peminat sastra yang tidak seberapa ) dibandingkan jumlah terbitan sastra berupa kritik atas karya. Malahan di dunia kritik sastra itu sendiri, kritik sastra dari kalangan non-akademis sendiri pun ( bahkan kritik sastranya bisa berupa karya sastra juga, saking bebasnya ) lebih merajai. Bagaimana dengan dunia akademis ( yang notabene mewarisi ciri ilmiah, sesuatu yang datang dari barat sana )?

Ada rasa kurang puas di kalangan sastrawan ‘otodidak’ sehingga melahirkan kecaman terhadap keloyoan sekaligus adanya benteng yang tak bergeming ( baca : kekakuan ) orang-orang akademis dalam membangun dunia sastra. Mereka bahkan mungkin mulai berpikiran bahwa hasil-hasil dari kalangan akademis tersebut tidaklah penting lagi dalam dunia sastra. Mereka merasa lebih luwes untuk bereksperimen dalam membangun sastra. Dalam hal teori sastra, cara-cara orang kampus dipandang sudah impoten dan tak akan lagi berkembang. Sementara orang luar kampus dipandang lebih punya ruang. Namun hal yang terjadi adalah tentunya sastrawan otodidak ini juga tak lepas ( jika memang manusia modern ) dari bacaan-bacaan luar ( barat ). Cuma sekali lagi mereka memiliki ruang eksperimen yang lebih luas, yang memberi kesempatan bagi kemungkinan mencari teori khas sastra sesuai budaya negeri sendiri.
Mungkin sepertinya semua hal diatas berbicara soal pertentangan antara kalangan kampus dengan sastrawan otodidak, tetapi ini semua terkait dengan bagaimana isu seperti yang disebutkan diatas antara kedua belah pihak ( yang sekali lagi juga mau tak mau belajar dari barat yang sudah terlebih dahulu maju ) sangat akan menentukan bentuk kritik sastra Indonesia ke depan, yang juga akan berpengaruh pada eksistensi lalu perannya dalam carut marut kehidupan bangsa yang asing bacaan sastra ini, di saat ini.





-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

PIKIR DULU, BATU BICARA…!!

Sebuah analisis terhadap puisi “Di Atas Batu” dan puisi ”Batu”
dalam kumpulan puisi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono


I. Pendahuluan
Suasana, romansa, barangkali hingga nelangsa, itulah kesan yang terasa, ketika kita, membaca, sajak-sajak buah tangan Sapardi Djoko Damono ( sebagai seorang pujangga ). Namun apalah arti kata-kata, bila tanpa makna. Biarin Sutardji pernah berusaha memerdekakan kata-kata semerdeka-merdekanya dari makna, yang dianggap penjajah – kayak Belanda aja! Toh, kembali kita-kita, sebagai sosok penafsir karya, membutuhkan makna-makna dari kata-kata, agar tak sekedar jadi sekedar penikmat doang aja. Seorang penafsir selalu berusaha mencari ( kalau perlu ‘mencari-cari’ ) makna dari objek telaahnya. ( Nah, apalagi kalo namanya telaah ). Yang penting, dalam sebuah pertanggung jawaban ilmiah, logika penafsiran bisa dibuktikan. Jadi, puisi Sapardi yang berkesan penuh suasana seperti yang diungkap di awal tadi, ternyata juga bermakna. Tentu saja! Tapi lebih penting makna mana ( atau kita kasih saja nama pesan-pesan yang bisa disampaikan oleh karya! ) dibanding suasana yang terasa ( kita beri jugalah nama: kesan-kesan belaka! ) yang barangkali sekedar ( kembali lagi pakai kata sekedar nih ) membuat terlena atau, astaga, malah bisa terlupa.

Baiklah, sekarang akan dikutip sederet kata-kata dari kata pengantar Sapardi pada kumpulan puisi “Hujan Bulan Juni” itu :………., yang suasananya – atau entah apanya – agak berbeda dari buku ini. Ini berarti bahwa ada sesuatu yang mengikat sajak-sajak ini menjadi satu buku. Pengarang sendiri telah secara eksplisit merasakan sesuatu yang menonjol dari karyanya, meski tak mutlak pula hanya bisa ditafsirkan seperti ditujukan pada pandangan pertama, eh, maksudnya pemikiran pada kalimat pertama tulisan ini. Tapi begitulah yang terasa dalam, secara umum, atas seluruh sajak dalam kumpulan puisi “Hujan Bulan Juni”. Kata ‘suasana’ sendiri memang lebih bersuasanakan romansa dan nelangsa seperti yang dimaksud untuk penilaian disini. Walaupun suasana juga bisa berarti suasana buruk atau muram, pengertian ini ( meski juga bisa saja ada untuk beberapa puisi ), bisa lebih dipadatkan saja kepada kesan umum tentang kata ‘suasana’.
Jika dibandingkan dengan kumpulan puisinya yang lain yakni “Ayat-ayat Api” yang lebih bernuansa keras, emosi, dan meledak-ledak, dapat dipahami bahwa “Hujan Bulan Juni” lebih bersuasana. Pengertian bersuasana ini dapat lebih diperjelas dengan perlambangan pada beberapa jenis kata-kata yang acapkali ditemui pada berbagai sajak dalam kumpulan puisi ini, misal: hujan turun semalaman ; ketika matahari mengambang; dalam gerimis; ilalang; bunga rumput; sungai; sepoi angin. Hampir dalam setiap puisinya Sapardi selalu melakukan personifikasi terhadap benda-benda alam di sekitar kita ( mulai dari yang besar-besar seperti langit hingga yang kecil-kecil seperti cangkir ). Memang hal seperti ini juga lumrah dalam sebuah sajak, jadi lumrah juga penyair lain juga seperti itu dalam bersajak. Tetapi, khusus puisi-puisi Sapardi, khusus lagi dalam kumpulan “Hujan Bulan Juni” ini, hal-hal seperti itu terasa sangat dominan sekali.
Persoalan mengenai antara isi puisi atau tema yang diangkat atau pesan yang ingin disampaikan dengan puisi sebagai sekedar pelukisan suasana ( alam, dalam hal puisi Sapardi ) ke dalam kata-kata, akan bisa kita lihat pada dua buah puisi yang akan dibahas berikut ini. Keduanya dianggap mewakili saja dari puisi-puisi yang lain dalam kumpulan ini, yang satu dianggap dominan pada bidang tematik, yang satu lagi mewakili keunggulan pemaparan bahasa ( yang menimbulkan suasana, seperti yang diungkap tadi). Kemudian juga sebagai tambahan catatan, barangkali juga sekedar “kebetulan cuma” bahwa kedua puisi ini memiliki judul yang sama-sama menggunakan kata batu. Batu, sesuatu yang sangat bersuasana alam. Lalu unsur tematik dan pesan apa yang bisa kita dapat dari kedua puisi ini ( meski tadi secara kasar kita telah membagi keduanya bahwa yang satu bersuasana, yang satu jago tema ). Dalam penafsiran, apalah yang tak bisa dihubungkan dan pembagian manalah yang bisa tanpa pembatasan. Yang penting sejauh dan seperti apa hubungan itu, begitu juga sesampai mana pembagian itu. Mari dilihat.

II. Pemaknaan terhadap puisi “Di Atas Batu” dan puisi “Batu”
Jika puisi “Di AtasBatu” ini dibagi ke dalam empat baris, maka tiga baris yang pertama dapatlah dikategorikan sebagai kurang kebih tak lebih dari sekedar pelukisan suasana alam (meski dengan ada objek atau subjek manusia didalamnya). Pada baris pertama diceritakan, atau barangkali lebih tepatnya digambarkan, tentang sosok objek yang sedang duduk di atas batu dan melempar-lempar kerikil ke tengah kali. Pada baris kedua digambarkan Ia meng-gerak-gerakkan kaki-kakinya di air sehingga memercik kesana kemari. Pada baris kertiga digambarkan tentang objek yang memandang ke sekeliling sehingga terlihatlah olehnya matahari yang hilang timbul di sela daun, jalan setapak., capung-capung. Baru pada baris terakhir terdapat kalimat yang cukup filosofis yakni ia ingin yakin bahwa ia benar-benar sendiri sehingga dapat kita kategorikan bahwa ini mulai membawa beban tematis, tak penggambaran lukisan suasana saja seperti kata-kata sebelumnya. Dan yang disebut baris terakhir inipun sebenarnya bisa juga dipandang hanya bagian dari baris ketiga sebab adanya tanda hubung yang menghubungkan keduanya. Yang penting ada perbedaan di kata-kata ini dibanding kata-kata sebelumnya. Model penekanan pada akhir ini juga dapat kita temukan pada banyak puisi lain dalam kumpulan ini. Salah satu yang cukup ’tegas’ misalnya adalah pada “Catatan Masa Kecil,2”. Modelnya seperti itu juga, setelah berbelit-belit dalam penggambaran suasana alam berdasarkan kenangan masa kecil, pengarang baru memunculkan kata-kata yang cukup filososis dan mengagetkan pada dua kalimat terakhir, lebih terpusat lagi pada kalimat satu kalimat terakhir yang cuma berupa satu kata, tapi berjuta rasanya : Ada.
Kemudian, pada puisi “Batu” kita akan berhadapan dengan sebuah puisi yang secara eksplisit dibagi dalam tiga bagian. Pada bagian pertama dapat ditafsirkan bahwa batu yang dimaksud adalah Malin Kundang. Diceritakan ia ingin ketentraman dan tak ingin terganggu dengan orang yang memahat pada si batu alias padanya. Pada bagian kedua, batu yang dimaksud adalah sebongkah batu yang didorong oleh sysypus dari mitologi Yunani Kuno. Si Batu, juga seperti batu Malin Kundang, menginginkan ketentraman. Ia tak mau terlibat dalam pekerjaan sia-sia mendorong ke atas bukit hanya untuk digulungkan kembali ke lembah. Dari kedua bagian itu, dapat dilihat betapa kutukan malah dianggap’baik’ sebab mendatangkan ketentraman.Lho? Lalu mari lihat bagian ketiga. Pada bagian ketiga diceritakan bahwa batu tinggal di lembah yang menghadap jurang, sedang mencoba menafsirkan rasa haus yang kekal. Tak ada referensi bahwa bagian ini secara khusus merujuk pada suatu kisah tertentu. Penafsiran yang dapat dipakai hanyalah bahwa ini adalah batu secara umum dan kolektif mewakili manusia yang mencari ketenangan dengan dilambangkan dua buah batu yang disebut pada dua bagian pertama. Cuma menarik sekali ketika melihat bahwa kata ketentraman dirangkaikan dengan kata sekarat dan rasa haus yang kekal. Seperti kutukan yang menjadi ketentraman.

III. Hubungan dan perbandingan keduanya
Seperti yang diutarakan sebelumnya, perihal yang ingin dianalisis pada tulisan ini adalah mengenai dominasi unsur suasana berupa pelukisan citra alam pada puisi-puisi Sapardi dalam kumpulan ini dan sikap mempertanyakan akan unsur tematik ( dalam artian pesan-pesan) pada puisi-puisinya. Puisi “Di Atas Batu” adalah perwakilan dari contoh puisi penuh suasana romansa yang secara kualitatif mayoritas mengisi kata-kata dalam sajak-sajaknya. Memang Sapardi kerap kali menggunakan asosiasi-asosiasi personikatif terhadap benda-benda sekitar manusia yang kerapnya juga membuat seolah-olah pemaknaan tematik sudah tak terlalu penting lagi. Dalam larik-larik sajak “Di AtasBatu” seolah pembaca hanya diberi pelaporan citraan alam dan peristiwa kecil-kecil juga ‘sederhana’ ( nah, ini jugalah salah satu ciri pendukukung dominasi unsur suasana ). Begitu juga pada larik-larik sajak lain seperti “Pada Suatu Malam” hingga “Hujan Turun Sepanjang Malam”. Namun, dalam tingkatan yang berbeda, sebagian sajak memang lebih memuat pemaknaan alias tak sekedar reportse perjalanan.
Sementara pada puisi “Batu” ditemukan model lain. Sapardi tak lagi bermain-main dengan sekedar citraan alam dalam peristiwa kecil-kecil. Disini unsur tematik lebih kuat dan mengalahkan kebiasaan suasana romansa pada mayoritas puisi-puisinya. Namun, apa judul puisi ini? Batu. Ya, batu adalah sesuatu yang sangat berbau alam. Untuk menyampaikan sebuah sajak yang lebih ‘berpesan’ Sapardi ternyata tetap tergoda untuk meneruskan kebiasaannya bermain-main dengan benda-benda di sekitar kita. Itulah,kebiasaan ‘buruknya’,dan barangkali memang begitulah penyair. Sambil tersenyum di tengah padang bunga, barangkali awan mendengar Sapardi bersenandung : aku yang berpikir, biar batu yang bicara. Dan kita menikmati hasil karyanya, dan mengertikah kita bahasa batu? Pikir, maka.
IV. Penutup
Maka. Analisis ini menarik sebuah fenomena tentang kecintaan Sapardi pada seni menuansakan bahasa lewat teknik personifikasi atau citraan-citraan alam. namun meski tertutup dengan dominasi hal tersebut kita juga bisa menemukan penyampaian tema yang lebih gamblang dalam puisinya.dari mayoritas puisi yang lebih bermain dengan citraan alam. Pada puisi jenis ini, kalaupun ada penegasan pesan, biasanya ditekankan pada kata-kata akhir dalam bait-bait sajaknya ( setelah usai bermain-main dengan nuansa bahasanya ). Jadi, upaya pencitraan ini pulalah yang membuat puisi-puisinya semakin berjarak dengan ide eksplisit yang ingin disampaikan.
“Penyair bukanlah seorang Nabi,” kira-kira begitulah ungkapan polos seorang Sapardi pada makalahnya di sebuah acara diskusi tentang proses kreatif beliau. Mungkin juga tak polos karena ternyata Sapardi juga sering berbisik dalam sajak-sajaknya tentang pencarian-Nya. Dan seperti-Nya,yang berbicara lewat alam, benda-benda serta titah yang ghaib-Nya, Sapardi seperti berpesan: kita harus berusaha membacanya. Maka, bacalah! kata Jibril kepada Rasul-Nya.***





-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...