Rabu, 26 Januari 2005

PERANG ( palingkaya vs palingkeraskepala…? )

Nama saya George. Entah ada angin apa papa dan mama memeberikan nama tersebut kepada saya. Mungkin dikarenakan demi lebih mengukuhkan lagi status terhormat keluarga kami dirasa perlu bagi mereka untuk anak-anaknya, seperti saya, diberi nama yang keren dan modern. Keluarga kami memang merupakan keluarga terkaya di kampung ini. Papa pernah bercerita kepada saya betapa dia sangat bekerja keras untuk mencapai ini semua. Dan sekarang, semua ini telah diwariskan kepada saya. Papa dan mama telah tiada. Sayalah sekarang yang menjadi tumpuan pada keluarga besar kami ini.

Ternyata sungguh beban yang sangat berat bagi saya setelah mewarisi sebagai pimpinan di keluarga besar kami ini. Sebelumnya, bagi saya segala sesuatu pada keluarga kami terasa begitu mudah, indah, harmonis, dan damainya. Tak pernah rasanya saya merasakan hal-hal yang buruk seperti yang pernah saya ketahui lewat para pembantu keluarga kami tentang perikehidupan orang-orang lain di kampung. Benar-benar semuanya terasa indah pada masa kecil saya. Dan saya benar-benar kagum pada papa. Tapi saya ingat, dulu saya merasa ada sesuatu yang mengganjal karena saya jarang sekali melihat wajah bahagia pada papa. Saya cukup bingung juga saat itu kenapa papa kelihatannya tak begitu menikmati segala kebahagian di keluarga besar kami. Akan tetapi saya tetap tenggelam dalam kebahagiaan saya sebagai anak yang selalu dimanjakan pada keluarga yang dipimpin papa. Sekarang setelah saya harus memimpin keluarga besar kami ini, setelah saya yang sekarang harus bertanggung jawab atas semua ini, perlahan-lahan saya mulai dapat merasakan apa yang saya pikir tentunya juga dirasakan oleh papa selama ini. Cukup sungguh pelik dan banyak kelihatannya persoalan yang dihadapi oleh keluarga besar kami dalam mempertahankan dan menjalankan keberadaan kami sebagai keluarga terhormat di kampung ini.
Namun saya tak sendirian, kalau tidak dibilang bukan sayalah yang sebenar-benarnya bertanggung jawab atas keluarga besar kami ini. Secara formilnya memang yang diketahui orang sayalah yang paling berkuasa dan paling tahu dalam mengambil keputusan untuk segala urusan keluarga besar kami. Memang pada sayalah mengalir darah papa sehingga sayalah yang berhak atas warisan besar peninggalan papa ini. Akan tetapi saya sekarang, setelah mewarisi semua ini, mulai merasakan betapa berat beban yang akan saya pikul ini, mempertahankan kemuliaan keluarga besar kami di kampung ini. Seperti yang saya bilang tadi, untung saya tak sendirian. Disamping saya ada Benjamin, yang segala nasehatnya begitu berharga bagi saya dan memang dialah yang selalu memberi jalan cemerlang bagi segala persoalan yang dihadapi oleh keuarga besar kami. Saya menjadikan Benjamin sebagai orang yang paling saya andalkan bukanlah suatu kebetulan. Papa dulunya sewaktu menjalankan keluarga besar ini, saya tahu juga sangat amat dibantu oleh pak Ruben yang sekarang juga telah tiada, dan Benjamin adalah anaknya pak Ruben. Seperti darah papa yang mengalir pada saya tentunya darah pak Ruben juga mengalir pada anaknya, Benjamin. Ternyata saya tak salah, Benjamin benar-benar sangat bisa dan selalu saya andalkan dalam membantu saya menjalani posisi saya sebagai pemimpin keluarga besar ini, dalam segala hal. Dan berkat Benjamin, saya begitu tentram untuk meneruskan segala usaha papa, mengusung nama besar keluarga kami sebagai orang terkaya di kampung ini. Berbagai macam aral melintang yang saya hadapi dalam menjaga kebesaran keluarga ini dan Benjamin selalu berada disisi saya. Semua persoalan itu satu persatu dapat kami selesaikan, tapi jujur saja saya tak ada apa-apanya jika Benjamin tak membantu. Segalanya terasa begitu kebesaran bagi saya. Terlalu kebesaran rasanya apa yang ada pada keluarga kami ini, namun Benjamin selalu menyokong saya dan terus menyemangati saya sehingga kebesaran keluarga kami ini sebagai keluarga terkaya di kampung ini tetap bisa dipertahankan.
Sekarang saya sedang menghadapi satu masalah lagi. Seseorang yang dulunya keluarga besar kami tempatkan sebagai centeng di pasar tengah kampung, sejak akhir-akhir ini mulai sering bekerja tidak sejalan dengan kebijakan-kebijakan keluarga besar kami. Keluarga besar kami pun akhir-akhir ini juga menjuluki centeng tersebut dengan julukan “si palingkeraskepala”. Namun ketidak turutan yang dilakukannya kali ini sudah sangat keterlaluan. Ia telah menggelapkan dan menyelewengkan sejumlah modal yang kami titipkan padanya sebagai bagian dari usaha keluarga besar kami. Saya telah beberapa kali berusaha untuk berbicara dengannya namun dia selalu mengelak dan membantah kesalahan-kesalahannya. Tapi saya sungguh percaya pada laporan para pembantu saya tentamg hal tersebut, ditambah lagi saya semakin melihat ketidak menurutan si palingkeraskepala ini pada saya. Saya benar-benar dibikin bingung. Seperti biasa, hanya kepada Benjaminlah saya mencari pemecahan masalah dan seperti biasa lagi Benjamin selalu punya saran cemerlang bagi apa yang harus saya lakukan. Benjamin katanya melihat hanya dengan memberi pelajaran yang keras sajalah pembangkangan si palingkeraskepala ini bisa dibungkam. Benjamin juga berkata bahwa ia telah mempersiapkan segala hal setelah upaya pendekatan baik-baik saya dengan si palingkeraskepala selalu menemui jalan buntu. Ia telah menyiapkan para pembantu yang pemberani dan segala peralatan untuk memberi pelajaran yang keras pada si palingkeraskepala. Ya, pelajaran keras yang dimaksud adalah memerangi si palingkeraskepala yang tentunya sebagai seorang centeng pasar tengah kampung ini juga tak tanggung-tanggung anak buahnya. Benjamin katanya telah menghitung segala untung rugi dari keputusan yang diambil ini bagi kepentingan keluarga besar kami.
Saya sebenarnya seperti dulu-dulu juga, kadang suka merasa tak cocok dengan saran-saran Benjamin. Bagi saya apa yang disarankan Benjamin sepertinya sangat keterlaluan. Tapi mau bagaimana lagi, saya tak punya jalan keluar lain dan memang selama ini saran-saran Benjamin selalu berhasil mempertahankan kebesaran keluarga kami yang mendapat tantangan dan gangguan disana sini. Keputusan saya untuk melakukan penyerangan pada si palingkeraskepala yang menguasai pasar tengah kampung itu makin bulat setelah Benjamin mengatakan beberapa hal yang semakin menguatkan saya bahwa hanya inilah cara yang dapat dipakai. Benjamin mengatakan bahwa jika lebih lama lagi dibiarkan maka si palingkeraskepala akan makin berbahaya dan makin luas pengaruhnya sebagai orang yangsudah cukup lama menjadi centeng disegani di pasar tengah kampung, dan itu akan merugikan kepentingan keluarga besar kami dan malah bisa jadi akan mengusik posisi keluarga kami yang sudah begitu terhormat di kampung ini. Dan yang lebih berbahaya lagi, dan makin menguatkan saya mengambil keputusan, adalah bahwa Benjamin mendapat kabar kalau si palingkeraskepala ada kemungkinan berkhianat dari keluarga besar kami karena ia terlihat akhir-akhir ini makin dekat dengan seorang pengusaha yang akhir-akhir ini mulai makin meningkat usahanya di kampung ini. Ini benar-benar mengancam kebesaran keluarga besar kami dan saya mau tak mau harus mengambil keputusan ini : mengerahkan para pembantu pemberani dari keluarga besar kami untuk memerangi si palingkeraskepala, beserta anak-anak buahnya.
***

Saya Hussain. Saya memang cuma anak seorang petani kecil di kampung ini. Tetapi dari kecil saya sudah dididik oleh orang tua saya untuk menjadi orang besar nantinya. Saya tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas, berdisiplin, punya semangat juang tinggi, pemberani, dan yang lebih penting lagi punya harga diri. Sampai suatu hari saya bekerja pada keluarga terkaya di kampung ini. Keluarga terkaya itu karena tahu betapa berbakatnya saya menempatkan saya sebagai centeng mereka di pasar tengah kampung. Awal-awal bekerja saya sangat patuh pada apa-apa yang dikehendaki oleh keluarga terkaya di kampung ini itu pada saya. Namun saya lama-lama merasa tidak puas untuk hidup seperti ini terus. Saya kira saya tidak akan jadi orang besar juka selalu menurut saja pada perintah-perintah keluarga terkaya di kampung ini itu. Lalu akhir-akhir ini saya pun sering lebih menyeleksi lagi segala tugas yang diberikan kepada saya dan jika saya tak merasa cocok maka saya akan menolak.
Keluarga terkaya di kampung ini itu pun lama kelamaan terlihat merasa gerah dengan sikap saya. Kepala keluarga terkaya di kampung ini itu, yang orang-orang menjulukinya “si palingkaya”, beberapa kali akhir-akhir ini mengajak saya untuk berbicara masalah ini. Saya tak terlalu peduli waktu ia meributkan soal sikap saya yang sering tidak menurut selama ini, karena saya memang punya alasan sikap itu sesuai dengan kepribadian saya yang tak mau asal diperintah saja. Namun saya terkejut sekali waktu si palingkaya menuduh saya telah menggelapkan dan menyelewengkan modal milik keluarga terkaya itu. Terlebih lagi terakhir saya dituduh telah bersekongkol dengan seorang pengusaha yang sedang mulai naik daun di kampung ini untuk menggerogoti kebesaran keluarga terkaya di kampung ini itu. Tentang tuduhan yang terakhir, memang benar saya mulai dekat dengan pengusaha yang mulai naik daun di kampung ini itu. Tapi hal itu adalah karena saya mulai melihat bahwa kepribadian saya yang cerdas, berdisiplin, punya semangat juang tinggi, pemberani, dan punya harga diri lebih cocok untuk berteman dengan pengusaha itu. Selama bekerja pada si palingkaya saya merasa bagai seekor binatang suruhan yang dibayar saja sedang dengan pengusaha itu saya merasa lebih dihargai sebagai manusia. Tapi sungguh berlebihan dan menyakitkan tuduhan penggelapan, penyelewengan, dan persekongkolan itu. Pengusaha itu tak lebih dari sekedar teman biasa saja dan saya akhir-akhir ini memang merasa begitu nyaman bertemanh dengannya.
Saya pun kemudian sudah mendengar selentingan kabar yang memberi tahu bahwa si palingkaya akan menggunakan jalan kekerasan untuk menyelesaikan persoalan ini dengan memerangi saya. Saya sungguh tak takut padanya. Disini saya punya anak-anak buah yang begitu setia dan mendukung saya. Kami akan mempertahankan diri, mempertahankan harga diri kami. Saya tahu betapa akan sangat berbahaya dan tak tertandinginya para pembantu-pembantu ganas keluarga terkaya di kampung ini itu, namun saya telah memilih untuk mempertahankan diri. Bersama anak-anak buah saya, saya telah siap menanti jika mereka menyerang saya di pasar tengah kampung ini.
***

Pertempuran antara orang-orang si palingkaya dengan si palingkeraskepala beserta anak buahnya berkecamuk dengan hebatnya di pasar tengah kampung itu…
***

Sang hakim menatap tajam kepada masing-masing tersangka dihadapannya, si palingkaya dan si palingkeraskepala. Dan keputusan pun dibacakan…

Padang, maret 2003


-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------