KOIN SERATUSAN, DADA SEORANG PEREMPUAN DAN MATA-MATA BERWARNA MERAH

Sopir angkot itu menyerahkan koin seratusan kembalian ongkos kepada seorang mahasiswi yang baru turun dari angkotnya. Gadis itu sangat cantik. Rmbutnya yang tak sampai sebahu dioles dengan cat rambut sehingga berwarna pirang. Kulit wajahnya, dan juga seluruh tubuhnya, yang putih mulus memberi kesan cewek modernya. Apalagi jika dilihat pakaian yang dikenakannya, sebuah kaos mini dengan lengan sangat pendek dan bawahan sangat pendek juga sehingga terlihatlah daerah yang bebas lihat pada pinggang dan perut mulus itu. Celana jeans yang dikenakannya juga tak tanggung-tanggung super-ketatnya, super bermodelnya dan tentunya juga bakal super menarik perhatian orang lain.

Koin seratus tersebut oleh gadis ini dimasukkan ke kantong baju kaos ketat dan mininya, yang terletak di dada kirinya. Tapi sesaat gadis ini terlihat tertegun. Ia merasa aneh, entah apa. Sejenak dirabanya koin seratus di saku dada kirinya itu. Tapi tak lama raut mukanya kembali berubah. Ia lalu terlihat tersenyum saja pada orang-orang disekelilingnya.
Kemudian, gadis ini pun melangkahkan kaki dengan semampai dari gerbang kampus menuju gedung tempatnya kuliah.

--------

Dari balik kantong yang terasa sempit karena ketatnya baju tersebut dan padatnya dada gadis itu, si Koin memperhatikan ke arah orang-orang yang dilihatnya sepanjang jalan, yang ia lihat kebanyakan juga memperhatikan ke arahnya. Kebanyakan yang melihat itu ialah laki-laki, dengan berbagai ekspresi, seolah-olah mereka hendak melayangkan tangan masing-masing buat mengambilnya. Laki-laki sepertinya sangat tertarik pada koin seratusan, pikirnya. Tapi kadang-kadang si Koin juga mendapatkan beberapa perempuan yang juga melihat-lihat ke arahnya berada. Hampir semua perempuan-perempuan yang dilihatnya melihat-lihat ke arahnya itu menampilkan raut muka yang tidak baik. Perempuan mungkin tak suka pada recehan berpangkat rendah seperti saya ini, si Koin berprasangka lagi.
Berbagai macam kelakuan orang yang dilihat oleh si Koin sepanjang perjalanannya mengikuti tubuh gadis ini. Dimulai dari gerbang kampus tadi, terlihat berjubelan mahasiswa-mahasiswi yang berjalan ke arah gedung tempat kuliah masing-masing. Ada yang tergesa-gesa, ada juga yang terlihat jalan santai berleha-leha. Si Koin terkejut ketika tiba-tiba sebuah tangan laki-laki menggantung di atas bahu kiri gadis yang mengenakan pakaian yang ditempatinya. Rupanya beberapa saat yang lalu gadis ini bertemu seorang temannya, dan sekarang mereka jalan berdua.
Si koin mencoba menerka bahwa laki-laki tersebut adalah pacar gadis ini. Terlihat mereka mengobrol dengan sangat akrab. Terlihat juga tangan laki-laki itu mulai bergerak-gerak menelus-elus bahu gadis ini, dan terus tambah luas daerah gerak-geraknya. Tetapi tangan laki-laki ini tak sampai-sampai juga di tempat si Koin berada, meski si Koin melihat sepintas-pintas mata laki-laki ini suka melirik ke arahnya. Koin berpikir bahwa laki-laki ini sama seperti laki-laki lainnya tadi juga : suka sama koin seratusan. Cuma mungkin, pikir si Koin, meski laki-laki tersebut pacarnya tapi karena hari masih pagi dan cahaya matahari masih terang laki-laki ini merasa segan untuk meminta-minta dan ambil-ambil saja dari gadis ini. Dan koin pun bosan juga melihat tangan laki-laki ini terus menggantung-gantung dan bergerak-gerak diatasnya. Perhatian koin inipun kemudian beralih pada percakapan gadis ini dengan laki-laki itu.
“Eh lu nanti malam main ke kostan ya,” ucap si laki-laki.
“Emang ada apa gitu ?” tanya gadis ini.
“Si Huebat kan baru bebas kemaren, sehabis ditangkap waktu demo isu cukai tembakau itu! Dia bilang kangen pada lu dan katanya selama beberapa hari dipenjara dia jadi mimpiin lu mulu. Sebagai obat stress dia kan kepengen… ah, lu taulah, he,he. Tapi eh lu belum ditelfon ya?”
“Huh, kayaknya dugaan gua kalo dia juga punya cewek lain makin keliatan. Katanya mikirin gua, kok pas bebas nggak buruan ngasih tau gua dulu.”
“Eh, eh, eh..lu jangan gitu dong,”si laki-laki buru-buru memotong. “Sebagai cewek yang baik lu musti percaya sama dia dong. Lagian kalian baru beberapa bulan pacaran setelah lu putus dengan si A itu, setelah sebelumnya juga dengan si B, terus si C dan entah siapa lagi. Apa lu mau kayak dulu-dulu lagi..Sayang kan. Dimana lagi lu bakal ketemu orang sehebat si Huebat itu. Sabar dong. Gua pikir ia Cuma karena lelah aja jadi nggak sempat ngubungin lu. Suer deh, gua nggak liat dia nelfon cewek lain. Buktinya dia bilang ke gua kan supaya nyari lu dan bilangin kalo dia kangen,”buru-buru ia berusaha membujuk dengan panjang lebar.
“Ah, udahlah pusing gua,”gadis ini keliatan cemberut.
“Ya sudah nggak usah dipikir-pikr yang kayak gitu, bikin susah aja. Yang penting hidup dinikmatin. Lagian lu pasti juga kangen kan?”
“Iya sih,”gadis ini kelihatan dengan tersipu malu mau juga mengiyakan kata-kata yang membawa tujuan tertentu dari laki-laki itu. Sejurus kemudian wajah gadis ini makin kelihatan tersipu-sipu, memerah-merah, dan tambah menggoda dan menarik perhatian ketika ia sedang membayangkan si Huebat, pacarnya.
Ah, rupanya laki-laki itu cuma temannya saja, batin si Koin. Pantas saja ia tak berani menggerak-gerakkan tangannya lebih jauh ke arah saya untuk meminta-minta dan megambil-ambil saya dari gadis ini, karena ia hampir sama saja dengan laki-laki lain yang terlihat hanya bisa melihat-lihat dengan tertarik kearah saya tapi tak berani mengarahkan tangannya buat menggenggam dan mengambil saya. Kalau misalnya ada si Huebat itu, dan kalau ia juga seperti laki-laki lain yang tertarik pada koin seratus seperti saya, pasti tanpa ragu-ragu akan mendaratkan tangannya di tempat saya berada sambil merayu meminta pada gadis ini. Tak seperti laki-laki yang hanya sekedar teman gadis ini yang hanya mengelus-elus di bahu gadis ini, si Huebat pasti berani buat mengelus-elus saya di tempat saya yang makin terasa sempit ini seiring dada gadis itu yang makin terasa mengembang seiring kembang senyum di mukanya membayangkan si Huebat, pacarnya.
Selanjutnya saya malas untuk terus mendengarkan apa yang dibicarakan gadis ini dengan laki-laki temannya itu karena saya makin merasa banyak bualannya saja yang keluar dari mulut laki-laki itu. Dan saya makin kesal ia terus menerus dan bertambah semakin menyanjung-nyanjung gadis ini sehingga dada gadis ini pun makin megembang dan saya semakin tambah sempit.
Pandangan pun saya arahkan ke depan selurus kantong di kiri dada gadis ini, tempat saya berada. Kembali saya dapati seorang laki-laki yang sedang memandang kearah saya. Laki-laki tersebut cukup tampan menurut pandangan saya. Dia duduk di sebuah bangku taman kampus dan di sebelahnya duduk juga seorang gadis, yang cukup cantik juga menurut pandangan saya, terlihat sedang berbicara sambil menunduk-nundukkan kepala. Sekilas muka gadis di sebelah laki-laki yang sedang memandang saya ini memperlihatkan wajah serius dan terlihat serius berkata-kata pada laki-laki yang sedang memandangi saya ini. Tapi saya pikir laki-laki ini tak terlalu mendengarkannya. Perhatiannya sepertinya lebih tertuju ke arah saya. Ia juga seperti laki-laki lain, terlihat juga senang pada koin seratus seperti saya. Pandangannya mengesankan seolah-olah ia ingin mengarahkan tangannya untuk memegang dan memiliki saya. Dari tempat saya berada ini saya hanya memandang dengan biasa-biasa saja seperti pandangan laki-laki lain sebelum-sebelumnya yang memandang-mandang saya. Sebelum saya mengalihkan pandangan masih sempat saya lihat si gadis di sebelah laki-laki yang memandangi saya itu berdiri, menggampar laki-laki itu, lalu pergi.
Kemudian liatan saya beralih ke segerombolan mahasiswa laki-laki yang sedang duduk-dudukan sambil cerita-cerita dan ketawa-ketawa di lantai dasar sebuah gedung yang mana gadis yang membawa saya ini dan teman laki-lakinya, yang terus menerus masih mengelus-elus bahu gadis ini dan makin luas juga daerah elusannya meski tak pernah sampai ke tempat berdiam saya, sedamg mengarahkan langkah kakinya. Setelah semakin dekat ke tempat gerombolan mahasiswa tadi itu, saya lihat mereka yang tadinya ketawa-ketawa mulai pada diam-diam dan satu-satu mulai memandang kearah saya. Lalu ketika gadis ini dan teman laki-lakinya tadi mulai melalui deretan gerombolan mahasiswa yang mulai diam semua ini, saya pun mulai menghitung : satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, ya semua berganti-ganti memandang kearah saya, cuma yang kedelapan saya lihat menunduk saja. Setelah melewati sekumpulan mahasiswa itu masih sempat saya dengar gumaman yang entrah apa dari mahasiswa yang kedelapan diantara helaan nafas tertahan mahasiswa-mahasiswa dari yang pertama hingga yang ketujuh. Disusul kemudian oleh siulan yang entah dari siapa, yang pasti antara mahasiswa yang tujuh, karena disusul lagi kemudian oleh kata “hus!”yang saya yakin dari mahasiswa kedelapan.
Sekarang saya lihat gadis yang membawa saya dan teman laki-lakinya tadi sedang melangkah menaiki tangga. Saya lihat lagi beberapa orang, kebanyakan laki-laki, yang juga lihat-lihat saya seperti tadi-tadi juga. Saya lihat seorang laki-laki berambut gimbal sambil lewat lihat-lihat saya. Saya lihat seorang berkepal;a botak sambil duduk-duduk dan berbicara pada temannya, menyempatkan juga lihat-lihat kea rah saya. Juga saya lihat seorang mahasiswa berkacamata sangat tebal, dan membawa buku-buku yang lebih tebal lagi, menatap tajam kearah saya dari balik kacamata tebalnya. Seorang yang kelihatan sudah amat tua, sambil menyapu-nyapu lantai, saya lihat curi-curi pandang kearah saya. Kemudian saya lihat beberapa orang mahasiswi yang sedang berkumpul ngerumpi juga pada pandang-pandang saya, dan dengan wajah yang cemberut. Saya kira mereka mendiskusikan ketakskaan mereka pada saya. Saya jadi berpikir seandainya bias berada di setiap dada mahasiswi-mahasiswi tersebut, tentu saya dapat untuk tak melihat jeleknya mereka melihat kearah saya. Kemudian saya lihat lagi myang saya tak suka lihat : mahasiswi-mahasiswi tersebut melemparkan senyum dan sapaan pura-pura kepada gadis yang membawa saya, sementara, sejurus kemudian pada memandang dengan pandangan buruk lagi kearah saya.
Selanjutnya saya dengar teman laki-laki gadis yang membawa saya tadi hendak berpisah jalan dengan gadis yang membawa saya. Saya lihat tangannya yang sedari tadi mengelus-elus di bahu gadis yang membawa saya sudah tak ada lagi, tapi malahan sekarang saya lihat sedang menunjuk-nunjuk tepat kearah saya.
“Penampilan lu hari ini makin cantik aja deh. Ini baju kelihatan cantik sekali kalau lu yang kenakan. Si Huebat pasti makin cinta aja sama lu. Gua aja…,”
“Apa lu?”
“Eh nggak. Pokoknya lu mantap deh!”
“Dasar cowok,”
“He..he..oke gua cabut dulu. Ingat nanti malam lho,he..he..bye…!”
Meski nada suaranya kedengaran kesal saya tahu kalau gadis yang membawa saya ini malah sedang tersenyum-senyum senang sendiri dipuji-puji. Ini dapat saya rasakan lantaran kembang berbunga-bunga di hati gadis yang membawa saya semakin membuat menggelembung dadanya. Yang membuat saya pun makin terdesak di kantong baju kaos ketat yang membungkus tubuh mulus gadis ini.
Sejurus kemudian gadis yang membawa saya telah memasuki sebuah ruangan yang dari mahasiswa-mahasiswi yang duduk rapi di deret-deret kursi yang tersedia saya tahu ini ruang kuliah. Gadis yang membawa saya melangkah menuju keseorang mahasiswa laki-laki yang sepintas saya lihat penampilannya mirip dengan laki-laki kedelapan di lantai dasar gedung ini tadi. Laki-laki yang mirip laki-laki kedelapan itu terlihat tekun membaca buku di hadapannya. Gadis yang membawa saya duduk disamping laki-laki itu, menyapanya, laki-laki itu menoleh,dan saya semakin melihat bahwa laki-laki itu penampilannya persis laki-laki kedelapan di lantai dasar gedumg ini. Tapi saya merasa ada yang kurang. Saya pun menajamkan pendengaran dan ternyata inilah kurangnya : saya tak mendengar gumaman-gumaman seperti yang digumamkan laki-laki kedelapan di lantai dasar gedung. Perbedaan pun semakin terasa karena sewaktu mereka berdua mulai bercakap-cakap ternyata laki-laki yang disamping gadis yang membawa saya ini tak menunduk-nundukkan pandangannya, bahkan sekali-kali juga mencoba melihat-lihat kearah saya dan seperti laki-laki lain, terlihat ingin memiliki saya. Saya kecewa juga hamper mengira laki-laki ini persis sama laki-laki kedelapan dilantai dasar gedung ini. Saya pun tak ingin melihat lagi lihat-lihat laki-laki disamping gadis yang membawa saya. Sambil mengedarkan pandangan keseluruh penjuru ruangan, saya dengar pembicaraan mereka.
“Katanya sih dosen ini emang lulusan terbaik di angkatannya, tapi kan itu baru katanya,”ujar laki yamg penampilannya mirip laki-laki kedelapan di lantai dasar gedung sambil terus, saya rasa, lihat-lihat sayua terus.
“Wah..wah, gua juga udah pernah denger beberapa hari yang lalu tentang dosen baru ini. Gua yakin itu bener. Apalagi kata anak-anak orangnya ganteng lho..Kata si Meri mirip Bon Jovi, kata si Ros mirip Axl Rose. Bakal enakan kayaknya mata kuliah ini kalo bener apa yang dikatakan anak-anak. Nggak seperti si Ibu centil itu, untung saja dia meninggal mendadak sehingga dimata kuliah ini kita bakal bias lebih enjoy lagi.”
Mendengar paparan gadis yang membawa saya ini, laki-laki tadi mulai kelihatan tak senang, meski masih lihat-lihat kearah saya dengan senang. Ia mulai mengalihkan pembicaraan. Tapi sesaat kemudian terdengar langkah kaki berwibawa masuk ke dalam ruangan. Pintu ditutup sehingga terdengar bunyi “ceklek”diikuti sesaat kemudian oleh suara-suara lenguhan mahasiswa yang beradu dengan desahan para mahasiswi.
Dosen baru itu memang sangat ganteng, begitulah penilaian saya. Dan saya juga tahu begitu jugalah penilaian gadis yang membawa saya dari semakin menyesaknya kantong tempat saya berada di sebelah kiri dada gadis yang membawa saya ini. Setelah beberapa saat perkenalan, dosen yang ganteng dan kelihatan juga pintar itu pun bertegas-tegas memulai segera perkuliahan. Beberapa waktu perkuliahan berjalan, dosen ganteng dan juga pintar itu belum juga melihat kearah saya dan saya pun merasa senang tempat saya sedikit demi sedikit mulai terasa lebih leluasa. Tapi setelah beberapa waktu lagi, mata dosen ganteng itu mulai lewat kearah saya dan tempat saya pun terasa mulai menyempit lagi dan semakin menyempit terus seiring semakin sering dosen ganteng dan pintar itu melihat kearah saya. Dan terus, terus dan bersesak-sesak lagilah saya. Seusai perkuliahan saya lihat gadis yang membawa saya mendekati dosen ganteng dan pintar itu, mengajaknya bicara, dan mereka berdua pun kemudian jalan berdua keluar. Dan saya pun disini terpaksa terus bersesak-sesak di kantung yang sempit ini.
Gadis yang membawa saya diiringi dosen ganteng dan juga pintar disampingnya sambil ngobrol-ngobrol berjalan pada tangga tadi lagi tapi kali ini untuk turun menuju lantai dasar gedung ini. Saya pun mengalami lagi lihat-lihatan kebanyakan orang dan terus semakin bersempit-sempit terus, bersesak-sesak di kantung kaos pada dada kiri gadis ini, dan terus dilihat-lihat orang-orang.
Setiba di lantai dasar saya lihat sekumpulan mahasiswa yang tadi nongkrong disana juga masih ada. Semakin dekat gadis yang membawa saya serta dosen ganteng dan pintar disampingnya untuk melewati para mahasiswa tersebut, semakin jelas saya dengar siul-siul mereka. Dan seperti yang sudah saya duga, laki-laki yang kedelapan tadi kembali menunduk-nunduk dan kembali bergumam-gumam sendirian.
Gumaman-gumaman itu lamat-lamat terdengar, makin lama makin jelas dan terjadilah sesuatu yang aneh. Kedengarannya dosen ganteng dan juga pintar ikut bergumam-gumam mengikuti laki-laki kedelapan. Tambah lama gumaman dosen ganteng dan pintar tambah keras, semakin keras dan tiba-tiba! Terjadilah hal yang sangat mengejutkan : dosen ganteng dan pintar berteriak-teriak, menjerit-jerit menyorakkan gumaman-gumaman tadi itu. Saya terkejut, orang-orang terkejut, gadis yang membawa saya sepertinya juga. Teriakan-teriakan yang amat keras itu membuat jantung gadis yang membawa saya terasa kecut. Kecutlah hatinya. Kemudian kecut dadanya dan saya pun tiba-tiba merasa begitu lapang di tempat saya. Dan tiba-tiba lagi, entah apa yang terjadi, saya merasa begitu bebasnya.

--

Terdengar kemudian teriakan-teriakan itu menggumpal menjadi sebuah lengkingan besar dan sangat dahsyat. Si Koin seratusan terguncang hebat, terlempar ke dunia yang entah apa. Si Koin seratusan menjelma menjadi arwah koin seratusan. Mengapung-apung di lain dunia tersebut. Terlihat cahaya putih berkilat memancar dari mata seorang dosen yang terlihat ganteng dan juga pintar. Arwah koin seratusan merasakan panas yang luar biasa di seluruh sisi-sisi tak bersudut sekujur tubuh arwahnya. Sembari bergerak mundur, menjauhi kilatan-kilatan cahaya putih yang terasa panas tersebut, arwah koin seratusan sempat melihat semburan hijau dari mata seorang laki-laki yang berada pada urutan kedelapan dari segerombolan mahasiswa pada lantai dasar sebuh gedung kuliah.
Arwah koin seratusanpun terus mundur, menjauhi sumber-sumber cahaya yang membuatnya kepanasan tersebut. Ia terus mundur dan semakin menjauh, menjauh. Pergi. Kemudian bergentayangan dengan penasaranlah arwah koin seratusan. Terlihatlah olehnya ketika berada di sebuah ruang kuliah seorang laki-laki yang mirip laki-laki kedelapan pada lantai dasar gedung, tapi kali dengan mata yang berwarna merah. Arwah koin seratusan merasa sedikit lebih baik. Di lorong-lorong dan tangga gedung kuliah terlihat jugalah olehnya kumpulan mahasiswi yang ngerumpi, bapak tua yang sedang menyapu lantai, mahasiswa berkacamata tebal, laki-laki botak, serta laki-laki berambut gimbal, semuanya sekarang terlihat bermata merah. Di lantai dasar gedung kuliah ia lihat juga tujuh orang mahasiswa yang sedang duduk-duduk bergerombol juga bermata merah. Lalu kemudian juga terlihat seorang laki-laki ,yang ditemani teman gadisnya, bersantai di bangku taman dengan mata merah. Dan juga terlihat seorang laki-laki yang sedang merangkul dan mengelus-elus bahu seorang gadis, matanya juga merah. Dan kemudian seorang laki-laki bernama si Heubat, juga terlihat bermata merah. Arwah koin seratusan pun masih dapat melihat betapa kebanyakan orang-orang, dan kebanyakan laki-laki, juga bermata merah semua.
Beberapa saat kemudian ia mulai dapat merasa lebih baikkan setelah sekian jauh menghindar dari cahaya berkilat-kilat yang begitu panas tadi. Ia dapat merasakan betapa mata-mata merah yang dijumpainya tadi cukup membantu memulihkannya. Dan ia kemudian mulai dapat merasakan betapa arwahnya pun perlahan-lahan mulai memerah.
Arwah koin seratusan yang mulai memerah terkatung-katung mencari tempat berlindung. Di gerbang kampus terlihatlah olehnya seorang perempuan cantik berambut pirang yang mengenakan pakaian sangat seksi baru turun dari angkot. Perempuan itu begitu menarik perhatiannya. Arwah koin seratusan pun kemudian bagai anak panah melesat dan menghujam menuju tubuh perempuan tersebut dan tap! Ia memilih jatuh pada dada sebelah kiri perempuan tersebut.
Perempuan cantik berpakaian seksi itu sejenak terlihat tertegun. Ia merasakan ada sesuatu yang aneh baru saja terjadi. Tetapi ia tak mau berpikir lama-lama Ia cuma mau berbuat seperti biasa-biasa juga dan seperti biasa-biasa juga itu, ia pun cukup menggeliat manja dan kembali melangkahkan kakinya dengan begitu semampai memasuki gerbang kampus.
Perenpuan ini tak sadar bahwa di dada kirinya telah tertancap abadi sesuatu yang ia belum juga sadari. Sebuah arwah koin seratusan yang menyala-nyala merah diisi oleh entah berapa banyak mata-mata berwarna merah.




-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

BUMI KEJORA

Gerakan mengusung tema feminisme atau isu gender memang cukup marak dewasa ini dalam percaturan komunitas sastra (di) Indonesia. Bukti teranyar adalah dengan digondolnya ‘piala’ juara satu hingga tiga sayembara menulis novel DKJ oleh kaum hawa. Entah apa erat kaitannya antara tema feminism tersebut dengan perempuan-perempuan novelis yang tengah berjaya tersebut pula, yang jelas salah satu novel perempuan pemenang tersebut memang benar-benar dengan gagah mengusung tema ini. “Geni Jora”, novel ‘perlawanan’ karangan Ibu Abidah El Khalieqi inilah yang bakal dibahas dengan menggunakan tinjauan stilistika dalam tulisan ini.

Dengan menggunakan latar tempat Timur Tengah pada beberapa ‘tempat’ pula dalam novel ini, juga latar suasana ke- Timur Tengah -an – dan sehingga pula (kenyataannya memang begitu ) berimplikasi pada hadirnya adat serta relijiusitas beraroma Timur Tengah ( dalam hal ini ‘Arab’ dan ‘Islam’ ) dalam versi cita rasa Indonesia tentunya – membuat novel ini memiliki keunikan dan keeksotikan tersendiri. Dari sudut stilistika, berhadapan dengan novel macam ini sudah tentulah wajar jika banyak bakal ditemukan istilah-istilah Timur Tengah yang berpadu dengan stuktur bahasa Indonesia ( sebagai bahasa kenegaraan yang digunakan buat novel ini ). Juga dalam hal pemahaman makna bahasanya, dituntut pula kapabilitas wawasan terkait materi budaya ( Arab, Islam, plus bentuk akulturatisnya di Indonesia ) yang menjadi referensi bagi novel ini. Dan tak lupa pula, sebagai novel sekali lagi dengan isu gender, pemahaman tentang feminisme itupun, juga. Sehingga, tinjauan stilistika atas novel ini pun tak sekedar analisa formal ( atau totok ) stuktur bahasanya saja.

****
Tak bisa disangkal lagi, semangat perlawanan terhadap tata nilai patriarkhat, dalam novel ini sangat gamblang terlihat. Tapi ini pulalah yang bisa menimbulkan perihal mengenai bentuk retorika bahasa pengarang yang sangat ekspresif ( jelek-jeleknya akan jatuh ke penilaian yang sangat subjektif ) serta, dan hingga, tuturan narasinya banyak terlihat dibuat sangat hiperbolistis. Dengan meminjam analisis karakter dari tokoh-tokoh dalam novel ini, digambarkanlah tentang sosok perempuan modern yang kuat, perempuan kuno yang bodoh, laki-laki kuno yang juga bodoh, serta laki-laki modern yang pintar tapi tetapi tetap harus ‘kalah’ dari kehebatan perempuan-perempuan modern. Oleh karena itu, sepanjang cerita novel ini, selain tokoh utama dan tokoh-tokoh perempuan (berpikir modern) lainnya akan selalu diserang habis-habisan.
Bentuk ekspresifitas dalam novel ini lebih banyak ditampilkan dalam bentuk sikap yang dingin meski dengan sindiran yang sangat tajam. Pertama terkait dengan kenyataan bahwa dunia ini masih menganut sistim nilai yang patriarkhat, yang mana laki-laki masih mendominasi atas kaum perempuan sehingga harus terus diperjuangkan, dan kedua bahwa novel ini memang sangat ‘berambisi’ untuk memperjuangkan itu. Bentuk sikap dingin ini paling nyata terlihat dalam dialog-dialog antara Kejora, sebagai tokoh utama, dengan Zakky, ‘pacarnya’ yang pintar dan berpikir modern tapi tak ada apa-apanya jika berdebat dengannya.
Ketika Kejora masih kecil ( sehingga belum mampu melawan dengan ‘intelektualitas’ seperti saat berdebat denga Zakky ), bentuk perlawanannya lebih banyak diangkat dalam bentuk perlawanan batin ( dinarasikan oleh pengarang ). Dan nuansa inipun sebenarnya terbawa juga hingga jalan cerita selanjutnya. Mungkin ini memang soal pilihan sarana bahasa dalam bentuk narasi saja, tapi pada bagian perdebatan dengan Zakky pun ( makanya kata intelektualitas di atas diberi tanda petik ) kecerdasan seorang Kejora tak terlihat betul-betul teruji. Zakky terlihat lebih banyak mengalah daripada betul-betul kalah, yang disebabkan cintanya pada Kejora. Penggambaran bahwa seorang Zakky adalah sosok yang pintar ( masak pejuang kemajuan kaum perempuan mau sama laki-laki bodoh?) menjadi kabur karena dihadapan Kejora, Zakky tak berkutik apa-apa. Dan dalam novel ini tak ada laki-laki yang lebih baik dari Zakky. Perihal seperti ini juga memperlihatkan ekspresifitas yang ‘agresif’ dalam novel ini
Dalam perihal intern sesama kaum wanita sendiri : Guna mengangkat kehebatan kaum perempuan modern tersebut, kaum perempuan modern tersebut dalam novel ini selalu ditampilkan dalam sosok yang anggun dan perfektif, hingga secara hiperbolis bahkan, bersamaan dengan itu sebaliknya sosok perempuan non-modern ( semisal diwakilkan pada nenek Kejora ) ditampilkan dengan begitu buruknya. Terdapat ketegangan yang cukup hiperbolistis disini. Jika tokoh nenek bahkan sempat ‘dicaci’ oleh Kejora kecil dengan teriakan si nenek jahat, maka sebaliknya tokoh-tokoh kawan seperjuangannya dilukiskan dengan sangat menakjubkan, disebandingkan dengan berbagai keajaiban alam seolah-olah, malah, bagaikan penilaian seorang laki-laki yang sangat kasmaran. Menarik juga menyimak perihal ini, semisal ketika novel bergerak kearah persoalan antara sesama perempuan modern ( untungnya, demi objektifitas, masih ada juga dibanding nggak sama sekali ), maka pembicaraan tak akan terlalu mendalam dibahas ( yaitu pada bagian ketika adanya tokoh Sonya yang anak orang kaya sehingga sekurang-kurangnya modern jika diperbandingkan dengan sosok stereotip perempuan ‘kampung’ yang ‘dicaci’ dalam novel ini ). Sebab apa? Sebab kepentingan utama yang ingin dibawa novel ini adalah menyuarakan perlawanan terhadap nilai-nilai patriarkhat. Sebuah gerakan perlawanan mau berlembe-lembek dengan sikap objektif? Lebih baik menggunakan gaya yang ekspresif. Mengambil hal-hal berupa : perdebatan dengan laki-laki yang bodoh dan pertentangan dengan perempuan yang terbelakang.
Sebagai penetralisir dari ketegangan-ketegangan yang timbul sebab beban ‘amanat’ yang diemban novel ini sebagai jenis sastra bertujuan ( tendenz literature ) adalah pemaparan materi terkait berbagai tempat di Timur Tengah dan humor-humor yang segar pada beberapa bagian cerita. Ada satu hal yang menarik dalam salah satu humor di novel ini. Sewaktu Kejora kecil ada kejadian yang mampu ia berikan asosiasi ‘segar’untuk mengemban misi novel ini. Bandingkan dengan Kejora besar yang tambah pintar kok malah lebih langsung, sehingga ekspresif banget, mengumandangkan cam-annya. Ada juga jenis humor yang karena beban misi tadi malah jadi terasa hambar, sebab terlalu memaksakan ‘diri’ untuk selalu menghina laki-laki. Pemaparan materi ke- Timur Tengah –an yang tak dinyana lagi menuntut wawasan yang luas terkait dengan itu bagi pembaca untuk bisa lebih menikmati novel ini terkadang bisa menjadi peralihan bentuk ekspresi yang selalu menyerang ‘laki-laki’ ( semacam jedalah dari runtutan alur tujuan cerita yang berat, semisal penggambaran tentang betapa indahnya suasana sebuah kota di Timteng ), namun terkadang materi tersebut juga dimanfaatkan guna menyampaikan lagi idealisme perlawanan gender tersebut. Ada yang cukup membantu, ada pula bagian yang seperti dipaksakan sebagai argumen pendukung ideologi tersebut ( dalam artian peng-argumen-annya masih sangat berpeluang untuk seketika dipertanyakan lagi oleh pembaca, pembaca kurang puas dengan argumen yang diberikan).
Pembahasaan dalam novel ini sangat kuat sekali, terlepas dari bagian yang berupa bentuk ekspresifistis berlebih-lebihan tanpa disertai argumen pendukung yang memadai, sarana bahasalah yang menjadi kekuatan peyampaian idealisme tentang kesetaraan perempuan. Jika semisal kita bandingkan dengan pemilihan karakter tokoh-tokoh yang ada dalam novel ini, terasa sekali betapa pemilihan tersebut sangat semena-mena untuk kebutuhan tujuan novel. Dan dengan pemaparan bahasalah, baik lewat narasi atau dialog, hubungan antar tokoh ( termasuk juga dalam hubungan semisal tokoh utama dengan sistem nilai patriarkhat ) yang telah dipilih, dimanfaatkan. Dengan cara, mengemukakan logika-logika bagi perjuangan yang ingin digapai dalam novel ini. Pemaparan tersebut terkait dengan materi dan wawasan yang luas seperti disebutkan di atas ( sehingga bisa menghadirkan ketakjuban atau malah ke-bengong-an di kalangan pembacanya ). Dan karena itu pula menghadirkan suasana yang eksotik

***
Kejora, itulah nama tokoh utama, pengemban misi cerita yang ‘pra-politis’ daalam novel ini. Kejora.., bintang.., bintang kejora. Bintang kejora yang selalu indah bisa disaksikan di setiap pagi itu kenyataannya adalah tak akan indah untuk ditempati. Terang saja. Sebuah planet yang tak beratmosfer. Tetangga bumi yang jaraknya lebih dekat pada matahari. Maka panassss...sss..ss. Ngomong-ngomong Mars juga pana(rrr)s. Juga tetangga Bumi. Tapi yang lebih jauh dari matahari. Tak ber-atmosfer. Dan kata sebuah judul buku, laki-laki itu dari planet mars sedang perempuan dari Venus. Sepertinya hanya di planet bumilah kedua insan ini akan saling mendingin. Maka, sekalipun tokoh Kejora dalam novel ini sangat cadas, ia tentu sadar bahwaa di bumi ini ia hidup dengan laki-laki. Mari saling berbagi. Keadilan, itulah yang dituntut Kejora sebab praktek nilai-nilai patriarkhat yang telah banyak membuat kaumnya (dianggap) menderita. Dan buat sebuah per-juangan, dibutuhkan semangat. Semangat melahirkan ekspresi dan agresifitas. Seperti realitas yang terlihat dalam novel ini. Mau tak mau, demi orientasi, ia harus mengambil bagian dari realita yang menguntungkan dan memperkuat ‘penggalian’ disana. Tapi Kejora, sebagai manusia, tentu akan kepanasan jika terlalu berlama-lama di planet sebrang sana. Biarlah untuk beberapa waktu, guna melepas berbagai beban dan tekanan, Kejora menjerit sejadi-jadinya di Venus sana. Bumi tetaplah tempat paling terindah buat kita. Dan, alam pikiran kejora, dalam memperlihatkan ekspresifitas novel ini, ternyata sangat puitis juga, sesuatu yang khas perempuan. Deskripsi yang detail, khas perempuan. Kejora masih membumi, mengikuti ‘geni kodrati’.**



-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

LELAKI FAUJAH

Ia berdiri, menatap ke luar jendela. Bukan pandangi langit dengan sia. Tapi kosong. Mata menerawang. Entah kenapa, bisa-bisanya sekarang batin yang bicara. Dan apa betul ini batin? Ah, hidupku ini terlalu indah untuk kutinggalkan. Bah! Apa yang ada sekarang terlalu nikmat untuk dilepas. Bangsat!! Apa yang ada dalam otakku ini. Iblis! Persetan….Persetan nurani! Laki-laki itu hampir saja membanting genggaman gelas di tangannya. Tapi keburu sentuhan tangan nn.Barbara lembut membelai kepalanya.
“Hmnsijidjieioeofjfjjgj.”
“Dsheufmfkfklrorklf!”
“Mhshdriucvufnfhjfjfjfjfjhgfujfgjfififiktfrjfu.”

Kembali aku ke tengah ruangan tempat pesta dilangsungkan. Dengan tangan saling bergandengan, aku dan nn.Barbara berdansa mengikuti musik yang mengalun. Sambil berpelukan, di telingaku ia terus membisikkan: apa yang kuharap dari bangsa yang tenggelam dalam kebodohan dan kehinaan ini? Dan, ketika berhadapan lagi dengan pertanyaan seperti ini, biasanya aku selalu hanya mengiyakan. Aku selalu tertawa terbahak-bahak bagai berhadapan dengan sebuah lelucon yang sungguh dahsyat. Memang. Apalagi yang kuharap dari bangsaku yang bodoh ini. Mereka semua makhluk-makhluk hina yang bisa dengan gampang ditindas. Seperti sekarang. Seperti sekarang…, ah, sekarang akulah yang ditunjuk guna menjadi pimpinan atas mereka. Rakyat yang bodoh ini! Rakyat yang hina ini! Dan aku adalah anak bangsa ini! Oughhh, sepertinya sekarang aku tak sanggup lagi tertawa mendengar lelucon nn.Barbara tadi. Dan aku kembali lagi mendengar suara-suara sayup seperti tadi.
Di luar sana. Diantara kepulan asap dan bising letupan segala macam senjata, pria-pria pemberani kota ini turun serta ke medan pertempuran mempertahankan harga diri. Ya, harga diri. Dan pada saat-saat seperti itu, memang akan terasa semakin tak berbatas jarak antara hidup dan mati. Mengapa mereka mau? Ya tadi, soal harga diri. Untuk itu mereka pertaruhkan jiwa. Mereka tak mau tunduk pada orang-orang asing yang sekarang sedang menjajah ke tanah mereka. Mereka turun, mereka turun angkat senjata! Melawan! Mempertaruhkan nyawa! Ah, lihat disana. Di jalan-jalan sana. Entah sudah berapa onggokan tumpukan mayat penduduk kota ini bergelimpangan.
Dan mereka saudara-saudara sebangsaku…
Telah sejak kecil aku dibesarkan dalam lingkungan barat, aku pun mendapat pendidikan barat, dan terdidik sebagai manusia barat. Tapi darahku Irak, darah ini adalah saripati tanah Fallujah. Hingga tiba saat untuk kembali ke sini. Barat sedang membutuhkan aku guna menjadi “orang pilihan mereka” untuk memimpin tanah airku. Dan untuk sebuah pekerjaan yang bergelimangan harta siapa yang tak mau. Huh, orang-orang bodoh dan hina yang memberontak itu biar kutangani dengan cara baratku. Tak sadarkah mereka bahwa mereka harus berubah. Segera! Menjadi barat. Seperti aku. Ya! Saddam telah disingkirkan maka selamat tinggal masa lalu. Hei segenap rakyat Irak, jadi BARATLAH kamu! Teman-temanku, relasi-relasiku, kroni-kroniku, konco-koncoku, hingga kencanan-kencanan aku meyakinkanku tentang pentingnya untukku membuat rasku, bangsaku juga menjadi barat seperti aku. Maka aku dukunglah bagi barat melabuh sauh disana. Uang! Minyak! Ya wajarlah teman-teman baratku juga punya kepentingan akan itu. Akupun saja juga.
Tapi bagaimana dengan pria Irak lainnya? Oh, lihat disana, di jalanan-jalanan sana: para lelaki Fallujah! Mereka begitu tegar mempertaruhkan nyawa. Bagaimana mungkin mereka akan mampu mengahadapi modernnya senjata tempur teman-teman baratku, dan juga cerdasnya taktik strategi jenderal-jenderal perang barat itu. Mereka hanya bermodalkan senjata-senjata bekas dan ala kadarnya yang mereka punya. Tapi toh mereka melawan juga. Dan uh, lihatlah betapa tiap sebentar aku harus mendengar kabar tercabik-cabiknya potongan-potongan tubuh mereka dimakan senjata. Ah, salah sendiri. Tapi…, ah tidak, memang salah sendiri. Kenapa mereka mau saja hidup sengsara seperti itu dengan jalan memilih menjadi seorang pemberontak. Kenapa mereka masih saja membela perikehidupan mereka yang hina itu. Kanapa mereka tidak…seperti aku, menggabung pada bangsa barat agar hidup lebih beradab. Walaupun…ya…kesannya teman-teman baratku menjajah datang kesini, tapi toh kalau dengan itu bangsa ini bisa berperi kehidupan lebih baik,…why not?
“No way…!!!!!”
“Hah,” tiba-tiba aku teringat pada Sarief al Basr, kata-kata penolakan itu ia lontarkan dengan lantang kemukaku sewaktu di suatu hari saat kami suatu kali sedang bercakap. Sarief, seorang teman yang brilian pemikirannya, keras pendirian dan sifatnya, tapi sangat halus akhlak dan tingkah lakunya. Sebetulnya Sarief juga masih ada hubungan keluarga walau cukup jauh denganku. Keluarga kami, seperti umumnya bangsa Arab yang kuat ikatan pertalian darahnya, masih cukup mengenal dengan baik keluarga Sarief. Berbeda denganku yang telah sedari kecil dibesarkan di luar negeri, Sarief menghabiskan masa kecil dan remajanya di Fallujah. Baru setelah ia berkuliah ke luar negri, kami bertemu disini. Ia berasal dari keluarga tak mampu dan keluargakulah yang membiayai pendidikannya disini, mungkin sebab potensi yang dimilikinya maka ia berhasil mencuri perhatian keluarga kami. Dan aku, walau sebenarnya kurang sreg juga dengan pemuda yang, yah, kampung ini, tapi entah kenapa ada sesuatu yang menarik dalam pribadi Sarief yang membuat aku betah kalau sedang berhubungan dengannya. Dan ya, mungkin karena sifat-sifat dasarnya yang halus itu tadi, Sarief memang sosok yang hangat dan selalu menyenangkan bagi orang lain. Kepribadian yang sulit untuk ditemui di tengah-tengah perikehidupan barat tempat kami menimba ilmu. Sulit mencari sebuah ketulusan dalam sikap orang lain disini, dan aku sangat senang sekali menemukan kejujuran pribadi seorang seperti Sarief. Tapi sifat kerasnya juga tak tanggung-tanggung pula, meski kadang kuakui aku cukup menikmati pula sikap blak-blakannya itu.
“Buatku, meski untuk sekarang ini kita harus mengakui bahwa bangsa barat dapat menciptakan tatanan hidup bermasyarakat yang lebih beradab dan menjadi patokan dalam menilai kemajuan sebuah bangsa, bukan berarti kita harus merasa lebih rendah apalagi harus merendah dihadapan mereka. Sekali lagi tidak! Tak perlu pula kita mengungkit sejarah bahwa bangsa kita juga pernah memiliki peradaban yang tinggi dan bangsa barat itu di suatu masa juga pernah hidup dalam keadaan yang sangat bar-bar, pun sebagai sesama umat manusia kita harus sanggup sama-sama menegakkan kepala. Masing-masing bangsa punya sejarah dan cara hidup tersendiri yang harus diletakkan dalam posisi saling menghormati. Ada hal-hal yang buruk pada kita, memang, harus kita perbaiki dan kita belajar hal-hal yang baik yang bisa diambil dari barat, tapi itu bukan berarti menghinakan diri sendiri ke hadapan mereka. Apalagi harus melacurkan diri untuk kepentingan mereka!”
Puih! Apa si Sarief itu akan dengan enak saja menuduhku sebagai pelacur. Tidak! Aku adalah barat dan aku memang hidup dengan cara mereka jadi wajar aku bekerja untuk mereka. Aku tidak suka cara hidup mereka-mereka yang memberontak di jalanan itu, sangat tidak terhormat. Dan darah Irak ini, darah Fallujah ini, bangsat! Mengapa harus mengalir di tubuh ini. Tubuhku mengeras, otot-ototku mengeras, saraf-sarafku mengeras, otakku panas, bangsat! Bangsat! Sial! Terasa kemarahan di mata ini, terasa geraman dan teriak menyumpal di mulut ini, terasa jantung ingin meledak ke dalam hati ini. Nafasku memburu. Sial! Sial!
Dan Sarief al Bashr, lelaki goblok itu pasti sekarang sedang dengan lantang bersuara memberi perintah pada gerombolannya untuk terus melakukan perlawanan terhadap pasukan koalisi, tentara kami. Aku terkejut juga ketika mendapat informasi tersebut beberapa saat setelah aku ditugaskan sebagai perwakilan pemerintahan tentara koalisi di kota ini. Sarief, ialah salah satu otak perlawanan terhadap tentara pendudukan di kota ini. Orang yang terus terang aku kagumi akan sosoknya yang sangat membangkitkan harga diri kami sebagai orang timur di tanah perantauan. Dengan ketangkasan dan citra terhormat Sarief yang membuat segan dan kagum banyak orang itulah kami mahasiswa yang berdarah timur lainnya juga terbawa punya harga diri. Sebagai pemuda Arab, ternyata Sarief dengan segala kemampuan dan kecerdasannya itu telah mampu membuat ia punya tempat terhormat tersendiri di tanah barat yang beradab ini. Bangsa barat meyeganinya. Bangsat! Sekarang ia malah pergi ke jalanan dan lorong-lorong persembunyian itu untuk mengabdikan diri kepada sesuatu yang katanya, bangsat, idealisme…ya, idealisme bangsat itu. Buat apa? Lihatlah aku. Akhirnya sekarang Barat membutuhkanku umtuk menanggulangi manusia-manusia bodoh sepertimu Sarief. Ya, setiap potongan tubuhmu artinya adalah uang buatku. Dan sebentar lagi kau akan berakhir. Aku telah memerintahkan operasi yang tak tanggung-tanggung kepada tentara koalisi untuk segera mengakhiri pemberontakan di kota ini. Ya, kau bakal segera dihabisi! Dihabisi!
Haaarrrggghhhhh…!!!!! Makian itu akhirnya meyembur sekuat tenaga dari mulutnya. Dan tangan itu, semakin kuat otot-ototnya mencekik leher nn.Barbara. Semua orang yang sedari tadi tak sanggup memisahkan tubuhnya yang betul-betul telah mengeras mencengkram tubuh nn.Barbara itu hanya bisa tertunduk lemas saat nn.Barbara menghempaskan hembusan nafas terakhirnya. Dan laki-laki itu terpana…

Padang, 27 November 2004


-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...