Minggu, 13 Februari 2005

KOIN SERATUSAN, DADA SEORANG PEREMPUAN DAN MATA-MATA BERWARNA MERAH

Sopir angkot itu menyerahkan koin seratusan kembalian ongkos kepada seorang mahasiswi yang baru turun dari angkotnya. Gadis itu sangat cantik. Rmbutnya yang tak sampai sebahu dioles dengan cat rambut sehingga berwarna pirang. Kulit wajahnya, dan juga seluruh tubuhnya, yang putih mulus memberi kesan cewek modernya. Apalagi jika dilihat pakaian yang dikenakannya, sebuah kaos mini dengan lengan sangat pendek dan bawahan sangat pendek juga sehingga terlihatlah daerah yang bebas lihat pada pinggang dan perut mulus itu. Celana jeans yang dikenakannya juga tak tanggung-tanggung super-ketatnya, super bermodelnya dan tentunya juga bakal super menarik perhatian orang lain.

Koin seratus tersebut oleh gadis ini dimasukkan ke kantong baju kaos ketat dan mininya, yang terletak di dada kirinya. Tapi sesaat gadis ini terlihat tertegun. Ia merasa aneh, entah apa. Sejenak dirabanya koin seratus di saku dada kirinya itu. Tapi tak lama raut mukanya kembali berubah. Ia lalu terlihat tersenyum saja pada orang-orang disekelilingnya.
Kemudian, gadis ini pun melangkahkan kaki dengan semampai dari gerbang kampus menuju gedung tempatnya kuliah.

--------

Dari balik kantong yang terasa sempit karena ketatnya baju tersebut dan padatnya dada gadis itu, si Koin memperhatikan ke arah orang-orang yang dilihatnya sepanjang jalan, yang ia lihat kebanyakan juga memperhatikan ke arahnya. Kebanyakan yang melihat itu ialah laki-laki, dengan berbagai ekspresi, seolah-olah mereka hendak melayangkan tangan masing-masing buat mengambilnya. Laki-laki sepertinya sangat tertarik pada koin seratusan, pikirnya. Tapi kadang-kadang si Koin juga mendapatkan beberapa perempuan yang juga melihat-lihat ke arahnya berada. Hampir semua perempuan-perempuan yang dilihatnya melihat-lihat ke arahnya itu menampilkan raut muka yang tidak baik. Perempuan mungkin tak suka pada recehan berpangkat rendah seperti saya ini, si Koin berprasangka lagi.
Berbagai macam kelakuan orang yang dilihat oleh si Koin sepanjang perjalanannya mengikuti tubuh gadis ini. Dimulai dari gerbang kampus tadi, terlihat berjubelan mahasiswa-mahasiswi yang berjalan ke arah gedung tempat kuliah masing-masing. Ada yang tergesa-gesa, ada juga yang terlihat jalan santai berleha-leha. Si Koin terkejut ketika tiba-tiba sebuah tangan laki-laki menggantung di atas bahu kiri gadis yang mengenakan pakaian yang ditempatinya. Rupanya beberapa saat yang lalu gadis ini bertemu seorang temannya, dan sekarang mereka jalan berdua.
Si koin mencoba menerka bahwa laki-laki tersebut adalah pacar gadis ini. Terlihat mereka mengobrol dengan sangat akrab. Terlihat juga tangan laki-laki itu mulai bergerak-gerak menelus-elus bahu gadis ini, dan terus tambah luas daerah gerak-geraknya. Tetapi tangan laki-laki ini tak sampai-sampai juga di tempat si Koin berada, meski si Koin melihat sepintas-pintas mata laki-laki ini suka melirik ke arahnya. Koin berpikir bahwa laki-laki ini sama seperti laki-laki lainnya tadi juga : suka sama koin seratusan. Cuma mungkin, pikir si Koin, meski laki-laki tersebut pacarnya tapi karena hari masih pagi dan cahaya matahari masih terang laki-laki ini merasa segan untuk meminta-minta dan ambil-ambil saja dari gadis ini. Dan koin pun bosan juga melihat tangan laki-laki ini terus menggantung-gantung dan bergerak-gerak diatasnya. Perhatian koin inipun kemudian beralih pada percakapan gadis ini dengan laki-laki itu.
“Eh lu nanti malam main ke kostan ya,” ucap si laki-laki.
“Emang ada apa gitu ?” tanya gadis ini.
“Si Huebat kan baru bebas kemaren, sehabis ditangkap waktu demo isu cukai tembakau itu! Dia bilang kangen pada lu dan katanya selama beberapa hari dipenjara dia jadi mimpiin lu mulu. Sebagai obat stress dia kan kepengen… ah, lu taulah, he,he. Tapi eh lu belum ditelfon ya?”
“Huh, kayaknya dugaan gua kalo dia juga punya cewek lain makin keliatan. Katanya mikirin gua, kok pas bebas nggak buruan ngasih tau gua dulu.”
“Eh, eh, eh..lu jangan gitu dong,”si laki-laki buru-buru memotong. “Sebagai cewek yang baik lu musti percaya sama dia dong. Lagian kalian baru beberapa bulan pacaran setelah lu putus dengan si A itu, setelah sebelumnya juga dengan si B, terus si C dan entah siapa lagi. Apa lu mau kayak dulu-dulu lagi..Sayang kan. Dimana lagi lu bakal ketemu orang sehebat si Huebat itu. Sabar dong. Gua pikir ia Cuma karena lelah aja jadi nggak sempat ngubungin lu. Suer deh, gua nggak liat dia nelfon cewek lain. Buktinya dia bilang ke gua kan supaya nyari lu dan bilangin kalo dia kangen,”buru-buru ia berusaha membujuk dengan panjang lebar.
“Ah, udahlah pusing gua,”gadis ini keliatan cemberut.
“Ya sudah nggak usah dipikir-pikr yang kayak gitu, bikin susah aja. Yang penting hidup dinikmatin. Lagian lu pasti juga kangen kan?”
“Iya sih,”gadis ini kelihatan dengan tersipu malu mau juga mengiyakan kata-kata yang membawa tujuan tertentu dari laki-laki itu. Sejurus kemudian wajah gadis ini makin kelihatan tersipu-sipu, memerah-merah, dan tambah menggoda dan menarik perhatian ketika ia sedang membayangkan si Huebat, pacarnya.
Ah, rupanya laki-laki itu cuma temannya saja, batin si Koin. Pantas saja ia tak berani menggerak-gerakkan tangannya lebih jauh ke arah saya untuk meminta-minta dan megambil-ambil saya dari gadis ini, karena ia hampir sama saja dengan laki-laki lain yang terlihat hanya bisa melihat-lihat dengan tertarik kearah saya tapi tak berani mengarahkan tangannya buat menggenggam dan mengambil saya. Kalau misalnya ada si Huebat itu, dan kalau ia juga seperti laki-laki lain yang tertarik pada koin seratus seperti saya, pasti tanpa ragu-ragu akan mendaratkan tangannya di tempat saya berada sambil merayu meminta pada gadis ini. Tak seperti laki-laki yang hanya sekedar teman gadis ini yang hanya mengelus-elus di bahu gadis ini, si Huebat pasti berani buat mengelus-elus saya di tempat saya yang makin terasa sempit ini seiring dada gadis itu yang makin terasa mengembang seiring kembang senyum di mukanya membayangkan si Huebat, pacarnya.
Selanjutnya saya malas untuk terus mendengarkan apa yang dibicarakan gadis ini dengan laki-laki temannya itu karena saya makin merasa banyak bualannya saja yang keluar dari mulut laki-laki itu. Dan saya makin kesal ia terus menerus dan bertambah semakin menyanjung-nyanjung gadis ini sehingga dada gadis ini pun makin megembang dan saya semakin tambah sempit.
Pandangan pun saya arahkan ke depan selurus kantong di kiri dada gadis ini, tempat saya berada. Kembali saya dapati seorang laki-laki yang sedang memandang kearah saya. Laki-laki tersebut cukup tampan menurut pandangan saya. Dia duduk di sebuah bangku taman kampus dan di sebelahnya duduk juga seorang gadis, yang cukup cantik juga menurut pandangan saya, terlihat sedang berbicara sambil menunduk-nundukkan kepala. Sekilas muka gadis di sebelah laki-laki yang sedang memandang saya ini memperlihatkan wajah serius dan terlihat serius berkata-kata pada laki-laki yang sedang memandangi saya ini. Tapi saya pikir laki-laki ini tak terlalu mendengarkannya. Perhatiannya sepertinya lebih tertuju ke arah saya. Ia juga seperti laki-laki lain, terlihat juga senang pada koin seratus seperti saya. Pandangannya mengesankan seolah-olah ia ingin mengarahkan tangannya untuk memegang dan memiliki saya. Dari tempat saya berada ini saya hanya memandang dengan biasa-biasa saja seperti pandangan laki-laki lain sebelum-sebelumnya yang memandang-mandang saya. Sebelum saya mengalihkan pandangan masih sempat saya lihat si gadis di sebelah laki-laki yang memandangi saya itu berdiri, menggampar laki-laki itu, lalu pergi.
Kemudian liatan saya beralih ke segerombolan mahasiswa laki-laki yang sedang duduk-dudukan sambil cerita-cerita dan ketawa-ketawa di lantai dasar sebuah gedung yang mana gadis yang membawa saya ini dan teman laki-lakinya, yang terus menerus masih mengelus-elus bahu gadis ini dan makin luas juga daerah elusannya meski tak pernah sampai ke tempat berdiam saya, sedamg mengarahkan langkah kakinya. Setelah semakin dekat ke tempat gerombolan mahasiswa tadi itu, saya lihat mereka yang tadinya ketawa-ketawa mulai pada diam-diam dan satu-satu mulai memandang kearah saya. Lalu ketika gadis ini dan teman laki-lakinya tadi mulai melalui deretan gerombolan mahasiswa yang mulai diam semua ini, saya pun mulai menghitung : satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, ya semua berganti-ganti memandang kearah saya, cuma yang kedelapan saya lihat menunduk saja. Setelah melewati sekumpulan mahasiswa itu masih sempat saya dengar gumaman yang entrah apa dari mahasiswa yang kedelapan diantara helaan nafas tertahan mahasiswa-mahasiswa dari yang pertama hingga yang ketujuh. Disusul kemudian oleh siulan yang entah dari siapa, yang pasti antara mahasiswa yang tujuh, karena disusul lagi kemudian oleh kata “hus!”yang saya yakin dari mahasiswa kedelapan.
Sekarang saya lihat gadis yang membawa saya dan teman laki-lakinya tadi sedang melangkah menaiki tangga. Saya lihat lagi beberapa orang, kebanyakan laki-laki, yang juga lihat-lihat saya seperti tadi-tadi juga. Saya lihat seorang laki-laki berambut gimbal sambil lewat lihat-lihat saya. Saya lihat seorang berkepal;a botak sambil duduk-duduk dan berbicara pada temannya, menyempatkan juga lihat-lihat kea rah saya. Juga saya lihat seorang mahasiswa berkacamata sangat tebal, dan membawa buku-buku yang lebih tebal lagi, menatap tajam kearah saya dari balik kacamata tebalnya. Seorang yang kelihatan sudah amat tua, sambil menyapu-nyapu lantai, saya lihat curi-curi pandang kearah saya. Kemudian saya lihat beberapa orang mahasiswi yang sedang berkumpul ngerumpi juga pada pandang-pandang saya, dan dengan wajah yang cemberut. Saya kira mereka mendiskusikan ketakskaan mereka pada saya. Saya jadi berpikir seandainya bias berada di setiap dada mahasiswi-mahasiswi tersebut, tentu saya dapat untuk tak melihat jeleknya mereka melihat kearah saya. Kemudian saya lihat lagi myang saya tak suka lihat : mahasiswi-mahasiswi tersebut melemparkan senyum dan sapaan pura-pura kepada gadis yang membawa saya, sementara, sejurus kemudian pada memandang dengan pandangan buruk lagi kearah saya.
Selanjutnya saya dengar teman laki-laki gadis yang membawa saya tadi hendak berpisah jalan dengan gadis yang membawa saya. Saya lihat tangannya yang sedari tadi mengelus-elus di bahu gadis yang membawa saya sudah tak ada lagi, tapi malahan sekarang saya lihat sedang menunjuk-nunjuk tepat kearah saya.
“Penampilan lu hari ini makin cantik aja deh. Ini baju kelihatan cantik sekali kalau lu yang kenakan. Si Huebat pasti makin cinta aja sama lu. Gua aja…,”
“Apa lu?”
“Eh nggak. Pokoknya lu mantap deh!”
“Dasar cowok,”
“He..he..oke gua cabut dulu. Ingat nanti malam lho,he..he..bye…!”
Meski nada suaranya kedengaran kesal saya tahu kalau gadis yang membawa saya ini malah sedang tersenyum-senyum senang sendiri dipuji-puji. Ini dapat saya rasakan lantaran kembang berbunga-bunga di hati gadis yang membawa saya semakin membuat menggelembung dadanya. Yang membuat saya pun makin terdesak di kantong baju kaos ketat yang membungkus tubuh mulus gadis ini.
Sejurus kemudian gadis yang membawa saya telah memasuki sebuah ruangan yang dari mahasiswa-mahasiswi yang duduk rapi di deret-deret kursi yang tersedia saya tahu ini ruang kuliah. Gadis yang membawa saya melangkah menuju keseorang mahasiswa laki-laki yang sepintas saya lihat penampilannya mirip dengan laki-laki kedelapan di lantai dasar gedung ini tadi. Laki-laki yang mirip laki-laki kedelapan itu terlihat tekun membaca buku di hadapannya. Gadis yang membawa saya duduk disamping laki-laki itu, menyapanya, laki-laki itu menoleh,dan saya semakin melihat bahwa laki-laki itu penampilannya persis laki-laki kedelapan di lantai dasar gedumg ini. Tapi saya merasa ada yang kurang. Saya pun menajamkan pendengaran dan ternyata inilah kurangnya : saya tak mendengar gumaman-gumaman seperti yang digumamkan laki-laki kedelapan di lantai dasar gedung. Perbedaan pun semakin terasa karena sewaktu mereka berdua mulai bercakap-cakap ternyata laki-laki yang disamping gadis yang membawa saya ini tak menunduk-nundukkan pandangannya, bahkan sekali-kali juga mencoba melihat-lihat kearah saya dan seperti laki-laki lain, terlihat ingin memiliki saya. Saya kecewa juga hamper mengira laki-laki ini persis sama laki-laki kedelapan dilantai dasar gedung ini. Saya pun tak ingin melihat lagi lihat-lihat laki-laki disamping gadis yang membawa saya. Sambil mengedarkan pandangan keseluruh penjuru ruangan, saya dengar pembicaraan mereka.
“Katanya sih dosen ini emang lulusan terbaik di angkatannya, tapi kan itu baru katanya,”ujar laki yamg penampilannya mirip laki-laki kedelapan di lantai dasar gedung sambil terus, saya rasa, lihat-lihat sayua terus.
“Wah..wah, gua juga udah pernah denger beberapa hari yang lalu tentang dosen baru ini. Gua yakin itu bener. Apalagi kata anak-anak orangnya ganteng lho..Kata si Meri mirip Bon Jovi, kata si Ros mirip Axl Rose. Bakal enakan kayaknya mata kuliah ini kalo bener apa yang dikatakan anak-anak. Nggak seperti si Ibu centil itu, untung saja dia meninggal mendadak sehingga dimata kuliah ini kita bakal bias lebih enjoy lagi.”
Mendengar paparan gadis yang membawa saya ini, laki-laki tadi mulai kelihatan tak senang, meski masih lihat-lihat kearah saya dengan senang. Ia mulai mengalihkan pembicaraan. Tapi sesaat kemudian terdengar langkah kaki berwibawa masuk ke dalam ruangan. Pintu ditutup sehingga terdengar bunyi “ceklek”diikuti sesaat kemudian oleh suara-suara lenguhan mahasiswa yang beradu dengan desahan para mahasiswi.
Dosen baru itu memang sangat ganteng, begitulah penilaian saya. Dan saya juga tahu begitu jugalah penilaian gadis yang membawa saya dari semakin menyesaknya kantong tempat saya berada di sebelah kiri dada gadis yang membawa saya ini. Setelah beberapa saat perkenalan, dosen yang ganteng dan kelihatan juga pintar itu pun bertegas-tegas memulai segera perkuliahan. Beberapa waktu perkuliahan berjalan, dosen ganteng dan juga pintar itu belum juga melihat kearah saya dan saya pun merasa senang tempat saya sedikit demi sedikit mulai terasa lebih leluasa. Tapi setelah beberapa waktu lagi, mata dosen ganteng itu mulai lewat kearah saya dan tempat saya pun terasa mulai menyempit lagi dan semakin menyempit terus seiring semakin sering dosen ganteng dan pintar itu melihat kearah saya. Dan terus, terus dan bersesak-sesak lagilah saya. Seusai perkuliahan saya lihat gadis yang membawa saya mendekati dosen ganteng dan pintar itu, mengajaknya bicara, dan mereka berdua pun kemudian jalan berdua keluar. Dan saya pun disini terpaksa terus bersesak-sesak di kantung yang sempit ini.
Gadis yang membawa saya diiringi dosen ganteng dan juga pintar disampingnya sambil ngobrol-ngobrol berjalan pada tangga tadi lagi tapi kali ini untuk turun menuju lantai dasar gedung ini. Saya pun mengalami lagi lihat-lihatan kebanyakan orang dan terus semakin bersempit-sempit terus, bersesak-sesak di kantung kaos pada dada kiri gadis ini, dan terus dilihat-lihat orang-orang.
Setiba di lantai dasar saya lihat sekumpulan mahasiswa yang tadi nongkrong disana juga masih ada. Semakin dekat gadis yang membawa saya serta dosen ganteng dan pintar disampingnya untuk melewati para mahasiswa tersebut, semakin jelas saya dengar siul-siul mereka. Dan seperti yang sudah saya duga, laki-laki yang kedelapan tadi kembali menunduk-nunduk dan kembali bergumam-gumam sendirian.
Gumaman-gumaman itu lamat-lamat terdengar, makin lama makin jelas dan terjadilah sesuatu yang aneh. Kedengarannya dosen ganteng dan juga pintar ikut bergumam-gumam mengikuti laki-laki kedelapan. Tambah lama gumaman dosen ganteng dan pintar tambah keras, semakin keras dan tiba-tiba! Terjadilah hal yang sangat mengejutkan : dosen ganteng dan pintar berteriak-teriak, menjerit-jerit menyorakkan gumaman-gumaman tadi itu. Saya terkejut, orang-orang terkejut, gadis yang membawa saya sepertinya juga. Teriakan-teriakan yang amat keras itu membuat jantung gadis yang membawa saya terasa kecut. Kecutlah hatinya. Kemudian kecut dadanya dan saya pun tiba-tiba merasa begitu lapang di tempat saya. Dan tiba-tiba lagi, entah apa yang terjadi, saya merasa begitu bebasnya.

--

Terdengar kemudian teriakan-teriakan itu menggumpal menjadi sebuah lengkingan besar dan sangat dahsyat. Si Koin seratusan terguncang hebat, terlempar ke dunia yang entah apa. Si Koin seratusan menjelma menjadi arwah koin seratusan. Mengapung-apung di lain dunia tersebut. Terlihat cahaya putih berkilat memancar dari mata seorang dosen yang terlihat ganteng dan juga pintar. Arwah koin seratusan merasakan panas yang luar biasa di seluruh sisi-sisi tak bersudut sekujur tubuh arwahnya. Sembari bergerak mundur, menjauhi kilatan-kilatan cahaya putih yang terasa panas tersebut, arwah koin seratusan sempat melihat semburan hijau dari mata seorang laki-laki yang berada pada urutan kedelapan dari segerombolan mahasiswa pada lantai dasar sebuh gedung kuliah.
Arwah koin seratusanpun terus mundur, menjauhi sumber-sumber cahaya yang membuatnya kepanasan tersebut. Ia terus mundur dan semakin menjauh, menjauh. Pergi. Kemudian bergentayangan dengan penasaranlah arwah koin seratusan. Terlihatlah olehnya ketika berada di sebuah ruang kuliah seorang laki-laki yang mirip laki-laki kedelapan pada lantai dasar gedung, tapi kali dengan mata yang berwarna merah. Arwah koin seratusan merasa sedikit lebih baik. Di lorong-lorong dan tangga gedung kuliah terlihat jugalah olehnya kumpulan mahasiswi yang ngerumpi, bapak tua yang sedang menyapu lantai, mahasiswa berkacamata tebal, laki-laki botak, serta laki-laki berambut gimbal, semuanya sekarang terlihat bermata merah. Di lantai dasar gedung kuliah ia lihat juga tujuh orang mahasiswa yang sedang duduk-duduk bergerombol juga bermata merah. Lalu kemudian juga terlihat seorang laki-laki ,yang ditemani teman gadisnya, bersantai di bangku taman dengan mata merah. Dan juga terlihat seorang laki-laki yang sedang merangkul dan mengelus-elus bahu seorang gadis, matanya juga merah. Dan kemudian seorang laki-laki bernama si Heubat, juga terlihat bermata merah. Arwah koin seratusan pun masih dapat melihat betapa kebanyakan orang-orang, dan kebanyakan laki-laki, juga bermata merah semua.
Beberapa saat kemudian ia mulai dapat merasa lebih baikkan setelah sekian jauh menghindar dari cahaya berkilat-kilat yang begitu panas tadi. Ia dapat merasakan betapa mata-mata merah yang dijumpainya tadi cukup membantu memulihkannya. Dan ia kemudian mulai dapat merasakan betapa arwahnya pun perlahan-lahan mulai memerah.
Arwah koin seratusan yang mulai memerah terkatung-katung mencari tempat berlindung. Di gerbang kampus terlihatlah olehnya seorang perempuan cantik berambut pirang yang mengenakan pakaian sangat seksi baru turun dari angkot. Perempuan itu begitu menarik perhatiannya. Arwah koin seratusan pun kemudian bagai anak panah melesat dan menghujam menuju tubuh perempuan tersebut dan tap! Ia memilih jatuh pada dada sebelah kiri perempuan tersebut.
Perempuan cantik berpakaian seksi itu sejenak terlihat tertegun. Ia merasakan ada sesuatu yang aneh baru saja terjadi. Tetapi ia tak mau berpikir lama-lama Ia cuma mau berbuat seperti biasa-biasa juga dan seperti biasa-biasa juga itu, ia pun cukup menggeliat manja dan kembali melangkahkan kakinya dengan begitu semampai memasuki gerbang kampus.
Perenpuan ini tak sadar bahwa di dada kirinya telah tertancap abadi sesuatu yang ia belum juga sadari. Sebuah arwah koin seratusan yang menyala-nyala merah diisi oleh entah berapa banyak mata-mata berwarna merah.




-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------