ATHEIS, KRITIS, KRISIS..

Sebuah analisis psikologik terhadap tokoh Hasan
dalam roman “Atheis” karya Achdiat K. Mihahardja




“Apa artinya sesal, kalau harapan telah tak ada lagi untuk memperbaiki kesalahan? Untuk menebus segala dosa? Akan tetapi hilangkah pula sesal, karena harapan untuk menebuas dosa itu telah hilang?…..( kutipan tiga kalimat pertama dalam roman “Atheis” )”

I. Pendahuluan
Roman “Atheis” ini diterbitkan pertama kali tahun 1949. Tahun yang merupakan tahun-tahun bersejarah dalam menjelang ( atau boleh juga dibaca : mempertahankan ) kemerdekaan Republik Indonesia. Dan tak pelak, selain pergolakan politis, revolusi sosial pun bisa dimaklumi tengah menghebat di setiap anak-anak bangsa, yang sebentar lagi akan ‘betul-betul’ menjumpai kemerdekaannya. Menjadi sebuah negara merdeka berarti menjadi sebuah negara yang mengatur diri sendiri. Mengatur sendiri masyarakat untuk tentram hidup bersama sebagai satu bangsa ( yang besar lagi ). Dalam menemukan konklusi dan formulasi yang mengatur hidup bersama ini tentu banyak bersiliweran berbagai paham, kehendak hingga kepentingan. Untunglah, seperti yang diketahui bersama lewat buku-buku pelajaran di sekolahan, the founding father kita telah membawa falsafah tentang nasionalisme untuk mempersatukan semua warga negara. Nasionalisme memang merupakan suatu ideologi yang nge-tren dikalangan bangsa-bangsa terjajah. Sehingga keberterimaannya untuk saat itu dapatlah difahami dengan mudah. Lalu sehebat apakah pemikiran tentang nasionalisme itu sehingga dengan sakti mandraguna bisa mengatasi berbagai perbedaan yang muncul pada masyarakat ( yang apalagi sangat majemuk ) saat itu ( dan apalagi saat ini )? Dan seperti kondisi kebernegaraan seperti yang kita-kita lihat saat ini, di negeri ini, apakah berbicara tentang nasionalsisme sesederhana itu saja cukup sudah?

Sebagai sebuah negeri terjajah yang juga akan menjemput alam modern, para intelektual negeri kala itu tentu mulai berkecimpung dengan berbagai paham dan pemikiran yang berkembang di pentas perpolitikan mancanegara. Jika ditilik lagi sejarah bangsa ( yang besar ini ) salah satu titik tolaknya adalah ketika sang penjajah menerima pemikiran tentang politik etis yang memberi kesempatan ‘pencerahan’ kepada negeri jajahannya ini. Minimal secara jalur resmi. Jadi sejak awal abad ke-19 para pemikir kita telah mulai berkecimpung dengan berbagai, sekali lagi, pemikiran dan ideologi yang berkembang di panggung multinasional. Yang paling heboh pada masa-masa itu adalah perang ideologis antara kaum proletar ( ataupun sosialis ) dengan kaum feodal ( ataupun kapitalis ). Dan isu ini terbawa ke perkecamukan lokal dikalangan para intelektual anak bangsa sendiri yang pada masa-masa itu bersiap-siap ‘menyambut’ kemerdekaannya. Maka, perdebatan multilateral antar paham tadinya itupun beradaptasi dengan kondisi peta perideologian tersendiri di dalam negri. Salah satunya yang terberat adalah hubungan dengan pemahaman keagamaan di masyarakat yang katanya berpenduduk muslim terbesar di dunia ini. Meskipun persoalan ini telah diberi ‘bungkus’ aman dengan sesuatu yang bernama nasionalisme seperti yang disebutkan di atas, namun percak-percik persoalannya bukan tak ada dalam realitas terjadi. Seperti yang kita temukan pada cerita dalam roman “Atheis” ini.
Sebagai sebuah analisis terhadap roman tentu saja tulisan ini tak berbicara tentang riwayat dan sejarah perjalanan republik kita. Tapi ada benarnya pikiran bahwa karya sastra juga merupakan rekaman sejarah dari masanya. Terkait dengan kondisi sebenarnya masa-masa itu, dan terkait isi cerita ini sendiri, kita akan bisa melihat dalam roman ini kisah tentang seorang pemuda yang sangat agamis yang menghadapi pergolakan jiwa (atau barangkali lebih tepat penulis sebut tekanan batin ) ketika ia bertemu dengan pikiran-pikiran dan pemahaman kiri-sosialis-marxis yang sedang cukup mendapat kesempatan bersimaharajalela saat itu. Sisi penggalian dalam analisis ini adalah dari sudut psikologis, maka kita akan memfokuskan kajian pada gejolak batin sang tokoh pemuda agamis itu. Bagaimana ia berhadapan denagan dua sisi pemikiran yang dalam hal-hal kunci sangat prinsipil berseberangan bahkan berlawanan.
II. Isi
Hasan, si pemuda itu yang menjadi tokoh sentral dalam roman ini, merupakan sosok yang dididik ketat dalam beragama Islam sejak kecil. Lebih jauh bahkan ia sampai ikut menganut ajaran mistik berupa tarekat seperti ayah ibunya. Sebagai anak kalangan berdarah ‘biru’ dan juga sebagai anak tunggal, Hasan tergolong jenis manusia yang cukup ‘terpelihara dan tak macam-macam’ dalam menjalani masa-masa pendidikannya. Hingga ia dewasa, bekerja, dan hidup sendiri di kota bandung terpisah dari orang tua, kelurusan beragamanya bahkan segala ritual tarekatnya masih tetap dijaga. Hingga, ia bertemu dengan pikiran ‘aneh-aneh’ dari golongan marxis di suatu ketika yang tak disengaja. Ia bertemu dengan Rusli kawan lamanya. Sebenarnya pertemuan dengan Rusli inipun tak akan berbuntut panjang andai tak ada Kartini, temannya Rusli, yang membuat Hasan jatuh cinta. Ya, oleh kerana gejolak asmara inilah, Hasan jadi rajin mengunjungi Rusli agar juga bisa bersua Kartini. Hasan pun ujung-ujungnya masuk kedalam lingkungan Rusli, Kartini, dkk, yang notabene berideologi marxis. Disinilah Hasan ‘dipengaruh’ untuk ‘masuk’ ke alam pemikiran marxis.
Ketika alam berpikir orang-orang marxis ini merasuk, mulailah keguncangan psikologik menghantam pribadi Hasan yang semula sangat teguh agamanya. Hingga ideologi keislamannya kalah. Sewaktu berkunjung ke orang tuanya dalam keadaan marxis itu, Hasan pun mendapat masalah dengan kedua orang tuanya. Inipun menambah tekanan pada kejiwaan Hasan yang baru saja mengalah pada marxisme yang dengan mudah manaklukkannya. Ceritapun bergulir ke Hasan yang akhirnya kawin dengan Kartini hingga ke ia yang mulai sering bertengkar dengan Kartini dan hingga ia yang bercerai dengan Kartini. Terakhir ia mati dalam proses kemarahannya terhadap dugaan akan perselingkuhan yang dilakukan Kartini. Oleh sebab kebetulan lagi ( barangkali untuk ini dinamakan saja setengah kebetulan sebab terkait ‘proses kemarahan tadi’ ), Hasan ditangkap oleh tentara jepang hingga disiksa mati sebab diduga mata-mata ( jelas kejadiannya pada halaman-halaman terakhir roman ini ).
Yang perlu diperhatikan adalah proses ketika Hasan mau untuk menerima ideologi marxis. Faktor adanya seorang Kartini ( yang sekali lagi : membuat Hasan jatuh hati ) secara eksplisit tergambarkan di roman ini. Dalam setiap kegiatan diskusi yang dilangsungkan oleh kaum marxis tersebut, Hasan terlihat hanya berlaku pasif. Ia tak seperti seseorang yang tiba-tiba merasakan menemukan sebuah ideologi yang betul-betul pas dengan hati nuraninya. Meski memang terpengaruh tapi buat Hasan tak penuh. Sebagai orang yang pasif ia tak sanggup mempertahankan pemahaman keagamaannya di depan orang lain. Dan sebagai pihak yang menerima wejangan ia juga tak sepenuhnya memahami untuk mengiyakan pemahaman baru yang didengarnya. Masa kecilnya telah membentu pribadi Hasan selaku jenis makhluk konservatif dan kaku untuk menyikapi berbagai gejolak di sekitarnya. Memang ada beberapa poin-poin dari pemikiran kaum marxis yang mulai terpahami olehnya, tapi sekali lagi sebagai jenis makhluk yang bertipe konservatif, ia tak mau untuk lebih jauh mempersoalkan atau penuh-penuh memahami baru mengiyakan. Sementara sering kali pergulatan pemikiran yang dihadapinya selalu ditindih oleh rasa cinta pada Kartini dalam imajinasinya. Dan oleh karena Kartini adanya dalam lingkungan yang ‘berbeda’ dengannya itu, Hasan pun terus mencoba dan jadi merasa nyaman-nyaman saja disana.
Hasan pun akhirnya memang mencelup ke dalam pergaulan marxis tersebut. Tanpa militansi, dengan keterbatasan dan pembatasan pemahaman yang ia miliki. Sepanjang roman ini kita disuguhi berbagai pemikiran dan utaraan pandangan dalam ideologi marxis, tapi seberapa yang diperankan kepada Hasan? Malah Hasan sebagai tokoh utama dalam kisah beraroma ideologi ini lebih terlihat dominan dihantui oleh pikiran-pikiran perasaan hati terhadap Kartini. Ternyata memang ideologi marxis hanya setengah hati mampu menghinggapi kalbu Hasan. Menjelang akhir cerita kita disuguhi tahapan krisis kejiwaan yang dialami Hasan, menghadapi persoalan hidup yang kini ia jalani ( yang barangkali tak ‘kan terjadi andai ia tak bertemu Rusli dan Karitini ). Bermula dari perasaan berdosa yang ia hadapi setelah bertengkar hingga kemeninggalan ayahnya, sampai krisis rumah tangga yang ia hadapi dengan Kartini. Terlihat, Hasan yang belum sempat betul-betul kiri, ternyata mencoba untuk kembali ‘normal’. Dan barangkali sayang memang, cerita berakhir ketika Hasan masih dalam proses kebimbangan. Ia harus mati sebelum sempat betul-betul menentukan pilihan. Hidup memang tak terduga, dan penuh kebetulan.
Satu hal lagi yang perlu dicatat adalah kondisi fisik Hasan. Disebabkan kebiasaan Hasan mandi malam untuk melaksanakan ritual tarekatnya ( barangkali salah satunya, tapi dengan sudut pandang isu yang ingin disampaikan cerita bisa kita anggap inilah utamanya ), ia mengalami penderitaan fisik yang barangkali berpengaruh pada kondisi emosionilnya, bahkan mungkin juga pikirannya, juga barangkali keharmonisan menjalani bahtera perkawinan dengan Kartini, dan terakhir yang mempermudah beliau untuk cepat mati. Disini terdapat kritikan berupa sindiran terhadap ‘kebodohan’ dalam menjalankan ajaran agama. Dan Hasan, sebagai tokoh utama, lagi-lagi harus jadi korban dalam percaturan cerita. Kasihan.
III. Penutup
Tiga baris kalimat pertama dalam roman ini, yang sengaja penulis cantumkan pada awal tulisan, rasanya tak sekedar perasaan yamg menimpa Kartini yang ditinggal pergi Saudara Hasan. Pada kalimat-kalimat itulah terdapat suasana yang dihadirkan dalam penyikapan pembaca terhadap tokoh Hasan, yang ‘polos’ itu, yang harus menjadi tokoh sentral dalam roman penuh pemikiran ideologis ini. Meski disini kita tidak memperbincangkan tentang landasan pemikiran setiap ideologi dalam cerita ini, namun gaya yang sangat kritis ( terhadap peri-kehidupan ) yang diusung kawan-kawan kita beraliran marxis terlihat hanya menghasilkan krisis kejiwaan dan tekanan batin pada Bung Hasan sebagai tokoh utama. Pembaca seperti mendapat pelajaran dari resiko bergelut dalam sebuah dunia pemikiran yang tak sanggup suatu individu selam. Lalu yang mana yang atheis? Kemana perginya cinta? Bersemberawutannya berbagai persoalan memang bisa membuat kita terlupa dari sebuah jalan, yang barangkali semula berusaha kita yakinkan. Dan banyak peristiwa dalam hidup ini hadir berupa kejutan. Banyak fakta dan pikiran kembali bersiliweran. Dan manusia harus memilih. Dan menyerahkan. “….hidup hanya menunda kekalahan / tambah terasing dari cinta sekolah rendah / dan tahu ada yang belum terucapkan / sebelum pada akhirnya menyerah ( Derai Derai Cemara, Chairil Anwar )”. Ya, menyerah.





-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

ANTARA BARAT DAN TIMUR DI TEMBOK KAMPUS

Salah satu hal yang sedang berkembang dalam khasanah dunia kritik sastra di Indonesia saat ini, terkait dengan persoalan hangat mengenai usaha mencari teori tersendiri dalam menganalisis karya sastra Indonesia ( sebab teori dari ahli-ahli barat dipandang kurang memadai dan lain dunia untuk membedah sastra negeri ini ), adalah dengan kenyataan kurangnya kuantitas kritik sastra di Indonesia, seperti yang mengemuka dan menjadi keluhan dalam berbagai pembicaraan tentang dunia sastra di republik ini. Jika karya sastra dipandang tidak banyak peminatnya di republik ini, seiring dengan kenyataan minat baca orang Indonesia yang masih rendah, maka jumlah karya-karya sastra yang diproduksi masih sangat melimpah dan juga cukup dianggap berkualitas ( di sisi lain memang dibandingkan dengan peminat sastra yang tidak seberapa ) dibandingkan jumlah terbitan sastra berupa kritik atas karya. Malahan di dunia kritik sastra itu sendiri, kritik sastra dari kalangan non-akademis sendiri pun ( bahkan kritik sastranya bisa berupa karya sastra juga, saking bebasnya ) lebih merajai. Bagaimana dengan dunia akademis ( yang notabene mewarisi ciri ilmiah, sesuatu yang datang dari barat sana )?

Ada rasa kurang puas di kalangan sastrawan ‘otodidak’ sehingga melahirkan kecaman terhadap keloyoan sekaligus adanya benteng yang tak bergeming ( baca : kekakuan ) orang-orang akademis dalam membangun dunia sastra. Mereka bahkan mungkin mulai berpikiran bahwa hasil-hasil dari kalangan akademis tersebut tidaklah penting lagi dalam dunia sastra. Mereka merasa lebih luwes untuk bereksperimen dalam membangun sastra. Dalam hal teori sastra, cara-cara orang kampus dipandang sudah impoten dan tak akan lagi berkembang. Sementara orang luar kampus dipandang lebih punya ruang. Namun hal yang terjadi adalah tentunya sastrawan otodidak ini juga tak lepas ( jika memang manusia modern ) dari bacaan-bacaan luar ( barat ). Cuma sekali lagi mereka memiliki ruang eksperimen yang lebih luas, yang memberi kesempatan bagi kemungkinan mencari teori khas sastra sesuai budaya negeri sendiri.
Mungkin sepertinya semua hal diatas berbicara soal pertentangan antara kalangan kampus dengan sastrawan otodidak, tetapi ini semua terkait dengan bagaimana isu seperti yang disebutkan diatas antara kedua belah pihak ( yang sekali lagi juga mau tak mau belajar dari barat yang sudah terlebih dahulu maju ) sangat akan menentukan bentuk kritik sastra Indonesia ke depan, yang juga akan berpengaruh pada eksistensi lalu perannya dalam carut marut kehidupan bangsa yang asing bacaan sastra ini, di saat ini.





-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

PIKIR DULU, BATU BICARA…!!

Sebuah analisis terhadap puisi “Di Atas Batu” dan puisi ”Batu”
dalam kumpulan puisi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono


I. Pendahuluan
Suasana, romansa, barangkali hingga nelangsa, itulah kesan yang terasa, ketika kita, membaca, sajak-sajak buah tangan Sapardi Djoko Damono ( sebagai seorang pujangga ). Namun apalah arti kata-kata, bila tanpa makna. Biarin Sutardji pernah berusaha memerdekakan kata-kata semerdeka-merdekanya dari makna, yang dianggap penjajah – kayak Belanda aja! Toh, kembali kita-kita, sebagai sosok penafsir karya, membutuhkan makna-makna dari kata-kata, agar tak sekedar jadi sekedar penikmat doang aja. Seorang penafsir selalu berusaha mencari ( kalau perlu ‘mencari-cari’ ) makna dari objek telaahnya. ( Nah, apalagi kalo namanya telaah ). Yang penting, dalam sebuah pertanggung jawaban ilmiah, logika penafsiran bisa dibuktikan. Jadi, puisi Sapardi yang berkesan penuh suasana seperti yang diungkap di awal tadi, ternyata juga bermakna. Tentu saja! Tapi lebih penting makna mana ( atau kita kasih saja nama pesan-pesan yang bisa disampaikan oleh karya! ) dibanding suasana yang terasa ( kita beri jugalah nama: kesan-kesan belaka! ) yang barangkali sekedar ( kembali lagi pakai kata sekedar nih ) membuat terlena atau, astaga, malah bisa terlupa.

Baiklah, sekarang akan dikutip sederet kata-kata dari kata pengantar Sapardi pada kumpulan puisi “Hujan Bulan Juni” itu :………., yang suasananya – atau entah apanya – agak berbeda dari buku ini. Ini berarti bahwa ada sesuatu yang mengikat sajak-sajak ini menjadi satu buku. Pengarang sendiri telah secara eksplisit merasakan sesuatu yang menonjol dari karyanya, meski tak mutlak pula hanya bisa ditafsirkan seperti ditujukan pada pandangan pertama, eh, maksudnya pemikiran pada kalimat pertama tulisan ini. Tapi begitulah yang terasa dalam, secara umum, atas seluruh sajak dalam kumpulan puisi “Hujan Bulan Juni”. Kata ‘suasana’ sendiri memang lebih bersuasanakan romansa dan nelangsa seperti yang dimaksud untuk penilaian disini. Walaupun suasana juga bisa berarti suasana buruk atau muram, pengertian ini ( meski juga bisa saja ada untuk beberapa puisi ), bisa lebih dipadatkan saja kepada kesan umum tentang kata ‘suasana’.
Jika dibandingkan dengan kumpulan puisinya yang lain yakni “Ayat-ayat Api” yang lebih bernuansa keras, emosi, dan meledak-ledak, dapat dipahami bahwa “Hujan Bulan Juni” lebih bersuasana. Pengertian bersuasana ini dapat lebih diperjelas dengan perlambangan pada beberapa jenis kata-kata yang acapkali ditemui pada berbagai sajak dalam kumpulan puisi ini, misal: hujan turun semalaman ; ketika matahari mengambang; dalam gerimis; ilalang; bunga rumput; sungai; sepoi angin. Hampir dalam setiap puisinya Sapardi selalu melakukan personifikasi terhadap benda-benda alam di sekitar kita ( mulai dari yang besar-besar seperti langit hingga yang kecil-kecil seperti cangkir ). Memang hal seperti ini juga lumrah dalam sebuah sajak, jadi lumrah juga penyair lain juga seperti itu dalam bersajak. Tetapi, khusus puisi-puisi Sapardi, khusus lagi dalam kumpulan “Hujan Bulan Juni” ini, hal-hal seperti itu terasa sangat dominan sekali.
Persoalan mengenai antara isi puisi atau tema yang diangkat atau pesan yang ingin disampaikan dengan puisi sebagai sekedar pelukisan suasana ( alam, dalam hal puisi Sapardi ) ke dalam kata-kata, akan bisa kita lihat pada dua buah puisi yang akan dibahas berikut ini. Keduanya dianggap mewakili saja dari puisi-puisi yang lain dalam kumpulan ini, yang satu dianggap dominan pada bidang tematik, yang satu lagi mewakili keunggulan pemaparan bahasa ( yang menimbulkan suasana, seperti yang diungkap tadi). Kemudian juga sebagai tambahan catatan, barangkali juga sekedar “kebetulan cuma” bahwa kedua puisi ini memiliki judul yang sama-sama menggunakan kata batu. Batu, sesuatu yang sangat bersuasana alam. Lalu unsur tematik dan pesan apa yang bisa kita dapat dari kedua puisi ini ( meski tadi secara kasar kita telah membagi keduanya bahwa yang satu bersuasana, yang satu jago tema ). Dalam penafsiran, apalah yang tak bisa dihubungkan dan pembagian manalah yang bisa tanpa pembatasan. Yang penting sejauh dan seperti apa hubungan itu, begitu juga sesampai mana pembagian itu. Mari dilihat.

II. Pemaknaan terhadap puisi “Di Atas Batu” dan puisi “Batu”
Jika puisi “Di AtasBatu” ini dibagi ke dalam empat baris, maka tiga baris yang pertama dapatlah dikategorikan sebagai kurang kebih tak lebih dari sekedar pelukisan suasana alam (meski dengan ada objek atau subjek manusia didalamnya). Pada baris pertama diceritakan, atau barangkali lebih tepatnya digambarkan, tentang sosok objek yang sedang duduk di atas batu dan melempar-lempar kerikil ke tengah kali. Pada baris kedua digambarkan Ia meng-gerak-gerakkan kaki-kakinya di air sehingga memercik kesana kemari. Pada baris kertiga digambarkan tentang objek yang memandang ke sekeliling sehingga terlihatlah olehnya matahari yang hilang timbul di sela daun, jalan setapak., capung-capung. Baru pada baris terakhir terdapat kalimat yang cukup filosofis yakni ia ingin yakin bahwa ia benar-benar sendiri sehingga dapat kita kategorikan bahwa ini mulai membawa beban tematis, tak penggambaran lukisan suasana saja seperti kata-kata sebelumnya. Dan yang disebut baris terakhir inipun sebenarnya bisa juga dipandang hanya bagian dari baris ketiga sebab adanya tanda hubung yang menghubungkan keduanya. Yang penting ada perbedaan di kata-kata ini dibanding kata-kata sebelumnya. Model penekanan pada akhir ini juga dapat kita temukan pada banyak puisi lain dalam kumpulan ini. Salah satu yang cukup ’tegas’ misalnya adalah pada “Catatan Masa Kecil,2”. Modelnya seperti itu juga, setelah berbelit-belit dalam penggambaran suasana alam berdasarkan kenangan masa kecil, pengarang baru memunculkan kata-kata yang cukup filososis dan mengagetkan pada dua kalimat terakhir, lebih terpusat lagi pada kalimat satu kalimat terakhir yang cuma berupa satu kata, tapi berjuta rasanya : Ada.
Kemudian, pada puisi “Batu” kita akan berhadapan dengan sebuah puisi yang secara eksplisit dibagi dalam tiga bagian. Pada bagian pertama dapat ditafsirkan bahwa batu yang dimaksud adalah Malin Kundang. Diceritakan ia ingin ketentraman dan tak ingin terganggu dengan orang yang memahat pada si batu alias padanya. Pada bagian kedua, batu yang dimaksud adalah sebongkah batu yang didorong oleh sysypus dari mitologi Yunani Kuno. Si Batu, juga seperti batu Malin Kundang, menginginkan ketentraman. Ia tak mau terlibat dalam pekerjaan sia-sia mendorong ke atas bukit hanya untuk digulungkan kembali ke lembah. Dari kedua bagian itu, dapat dilihat betapa kutukan malah dianggap’baik’ sebab mendatangkan ketentraman.Lho? Lalu mari lihat bagian ketiga. Pada bagian ketiga diceritakan bahwa batu tinggal di lembah yang menghadap jurang, sedang mencoba menafsirkan rasa haus yang kekal. Tak ada referensi bahwa bagian ini secara khusus merujuk pada suatu kisah tertentu. Penafsiran yang dapat dipakai hanyalah bahwa ini adalah batu secara umum dan kolektif mewakili manusia yang mencari ketenangan dengan dilambangkan dua buah batu yang disebut pada dua bagian pertama. Cuma menarik sekali ketika melihat bahwa kata ketentraman dirangkaikan dengan kata sekarat dan rasa haus yang kekal. Seperti kutukan yang menjadi ketentraman.

III. Hubungan dan perbandingan keduanya
Seperti yang diutarakan sebelumnya, perihal yang ingin dianalisis pada tulisan ini adalah mengenai dominasi unsur suasana berupa pelukisan citra alam pada puisi-puisi Sapardi dalam kumpulan ini dan sikap mempertanyakan akan unsur tematik ( dalam artian pesan-pesan) pada puisi-puisinya. Puisi “Di Atas Batu” adalah perwakilan dari contoh puisi penuh suasana romansa yang secara kualitatif mayoritas mengisi kata-kata dalam sajak-sajaknya. Memang Sapardi kerap kali menggunakan asosiasi-asosiasi personikatif terhadap benda-benda sekitar manusia yang kerapnya juga membuat seolah-olah pemaknaan tematik sudah tak terlalu penting lagi. Dalam larik-larik sajak “Di AtasBatu” seolah pembaca hanya diberi pelaporan citraan alam dan peristiwa kecil-kecil juga ‘sederhana’ ( nah, ini jugalah salah satu ciri pendukukung dominasi unsur suasana ). Begitu juga pada larik-larik sajak lain seperti “Pada Suatu Malam” hingga “Hujan Turun Sepanjang Malam”. Namun, dalam tingkatan yang berbeda, sebagian sajak memang lebih memuat pemaknaan alias tak sekedar reportse perjalanan.
Sementara pada puisi “Batu” ditemukan model lain. Sapardi tak lagi bermain-main dengan sekedar citraan alam dalam peristiwa kecil-kecil. Disini unsur tematik lebih kuat dan mengalahkan kebiasaan suasana romansa pada mayoritas puisi-puisinya. Namun, apa judul puisi ini? Batu. Ya, batu adalah sesuatu yang sangat berbau alam. Untuk menyampaikan sebuah sajak yang lebih ‘berpesan’ Sapardi ternyata tetap tergoda untuk meneruskan kebiasaannya bermain-main dengan benda-benda di sekitar kita. Itulah,kebiasaan ‘buruknya’,dan barangkali memang begitulah penyair. Sambil tersenyum di tengah padang bunga, barangkali awan mendengar Sapardi bersenandung : aku yang berpikir, biar batu yang bicara. Dan kita menikmati hasil karyanya, dan mengertikah kita bahasa batu? Pikir, maka.
IV. Penutup
Maka. Analisis ini menarik sebuah fenomena tentang kecintaan Sapardi pada seni menuansakan bahasa lewat teknik personifikasi atau citraan-citraan alam. namun meski tertutup dengan dominasi hal tersebut kita juga bisa menemukan penyampaian tema yang lebih gamblang dalam puisinya.dari mayoritas puisi yang lebih bermain dengan citraan alam. Pada puisi jenis ini, kalaupun ada penegasan pesan, biasanya ditekankan pada kata-kata akhir dalam bait-bait sajaknya ( setelah usai bermain-main dengan nuansa bahasanya ). Jadi, upaya pencitraan ini pulalah yang membuat puisi-puisinya semakin berjarak dengan ide eksplisit yang ingin disampaikan.
“Penyair bukanlah seorang Nabi,” kira-kira begitulah ungkapan polos seorang Sapardi pada makalahnya di sebuah acara diskusi tentang proses kreatif beliau. Mungkin juga tak polos karena ternyata Sapardi juga sering berbisik dalam sajak-sajaknya tentang pencarian-Nya. Dan seperti-Nya,yang berbicara lewat alam, benda-benda serta titah yang ghaib-Nya, Sapardi seperti berpesan: kita harus berusaha membacanya. Maka, bacalah! kata Jibril kepada Rasul-Nya.***





-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

analisis psikoanalisa thd tokoh saaman dalam keluarga gerilya

ASPEK “BAWAH SADAR” PADA TOKOH SAAMAN

Dialektika model pendekatan dan landasan teori dalam penelitian teks sastra salah satunya ikut diramaikan oleh kajian Psikoanalisa yang ditelurkan oleh Sigmun Freud. Psikoanalisa sendiri memang bagian dari kajian psikologi manusia dan Freud menggunakannya dalam fungsi sebagai terapi medik. Salah satu penemuan besar Psikoanalisa, yang bisa dilihat gunanya dalam analisis teks sastra, adalah adanya kehidupan tak sadar pada manusia (samakan saja dengan istilah aspek bawah sadar di atas). Freud bahkan menyatakan bahwa segi-segi terpenting perilaku manusia ditentukan oleh alam tak sadarnya. Untuk itu Freud mengemukakan teori tentang struktur kepribadian manusia. Struktur kepribadian manusia tersebut terdiri dari tiga bagian yang tumbuh secara kronologis, yaitu id, ego, dan superego. Id merupakan struktur kepribadian paling primitif dan berhubungan dengan prinsip mencari kesenangan. Ini dapat kita lihat pada fase kanak-kanak seseorang. Id banyak berhubungan dengan nafsu semena-mena yang tidak sanggup membedakan realitas dan khayalan. Ego merupakan kelanjutan upaya mencari kesenangan, tetapi sudah dirangkai dengan keharusan tunduk pada realitas dan tak bisa semena-mena lagi. Fase ini dapat dilihat ketika seorang anak mulai mengenal berbagai aturan sosial dan terpaksa mengekang nafsu pemuasan dirinya yang bersifat semena-mena. Tahapan selanjutnya, superego, merupakan perwakilan dari berbagai nilai dan norma yang ada dalam masyarakat tempat individu itu hidup. Berbeda dengan ego yang berpegang pada prinsip realitas, superego yang memungkinkan manusia memiliki pengendalian diri selalu akan menuntut kesempurnaan manusia dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Tahapan ini seiring dengan kedewasaan seorang individu. Berhubungan dengan alam tak sadar dan alam sadar, id terletak pada bagian pertama sedang yang lain meliputi keduanya.

Tokoh Saaman dalam novel ini digambarkan sebagai sosok yang paling ideal sebagai manusia (terkait cerita dan semangat perjuangan dalam novel ini) dengan berbagai pemosisiannya di antara tokoh-tokoh lain serta upaya pemberian karateristik perwatakannya. Sebagai anak sulung yang bertugas mencari nafkah, ia disegani dan dibutuhkan. Sebagai kakak yang terlihat bijaksana dalam mendidik adik-adiknya, ia dijadikan panutan. Begitupun dalam hubungan dengan orang lain, berkat sikap bijak dan kecerdasan berpikir, ia dihormati. Ini salah satu dan utamanya terlihat dari terpilihnya Saaman sebagai tokoh pemimpin pergerakan bawah tanah tentara pejuang di ibu kota. Karakteristik tokoh Saaman ini, dalam posisinya sebagai tokoh perjuangan dan sosok yang dihormati orang-orang di sekitarnya, dapat kita lihat dalam posisinya sebagai orang dewasa yang telah memiliki fase superego dalam kepribadiannya.
Seperti disebutkan tadi, dalam fase superego ini seorang individu telah memiliki dan menaati seperangkat norma sosial dalam lingkungannya. Namun aspek bawah sadar (atau id tadi) sebetulnya tetap ada. Kematangan kepribadian dan ketaatan sosial pada fese superego terjaga berkat sebuah usaha penekanan terhadap sifat semena-mena pada alam bawah sadar. Dalam artian ada semacam penyaring kesadaran individu. Freud dalam pembicaraannya tentang tahap matang dalam kepribadian manusia ini menyinggung tentang beberapa faktor yang dapat mengganggu kematangan kepribadian dalam fase superego sehingga id (atau alam bawah sadar) muncul ke permukaan. Salah satunya, yang bakal jadi alat analisis terhadap tokoh Saaman disini, adalah faktor tekanan kejiwaan. Ada tiga bagian peristiwa pada tokoh Saaman dalam cerita novel ini yang memperlihatkan hal tersebut.
Pertama adalah bagian cerita yang memperlihatkan kesedihan Saaman terhadap hukuman penjara yang diterimanya dan hukuman mati yang akan dijalaninya. Dalam lingkup superego, seorang Saaman yang mempunyai idealisme dalam perjuangan yang diyakininya tak semestinya memperlihatkan sikap sedih atas apa yang akhirnya menimpa padanya. Bukankah hal tersebut sudah merupakan sebuah resiko dari pilihan hidup sebagai pejuang yang diambilnya. Namun faktor bawah sadar pada diri Saaman menuntut kebahagiaan bagi dirinya dengan ukuran yang bersifat nafsu primitif yakni kesenangan diri. Faktor ini muncul kepermukaan sebab tekanan kejiwaan yang dialami Saaman setelah mendengar putusan hukuman mati baginya. Sesuatu yang barangkali tak terpikirkan oleh Saaman sebelum ditangkap, dipenjara, dan akan dihukum mati. Superego dan sifat ideal seorang Saaman dalam keadaan inipun diperlihatkan masih dominan. Segala keluh kesah Saaman diperlihatkan berhasil diredam lagi dengan segala pemikiran-pemikiran akan idealisme perjuangan yang dilakukannya.
Peristiwa kedua adalah ketika Saaman berusaha membayangkan dan menulis-nulis tentang mantan kekasih yang masih dicintainya beberapa waktu sebelum ia dibawa untuk menjalani hukuman mati. Di sini unsur Id muncul lagi. Unsur yang menuntut pemuasan perasaannya. Tetapi lagi-lagi diperlihatkan bagaimana kesadaran Saaman akan tanggung jawab perjuangan yang ia lakukan membuatnya berpikiran bahwa apa yang dilakukannya itu tak ada gunanya. Saaman akhirnya tak jadi menyelesaikan tulisannya. Peristiwa ketiga terjadi ketika Saaman sudah berada di kayu sula buat dihabisi oleh regu tembak. Diceritakan Saaman tiba-tiba merasakan mual diperutnya dan sempat merasa “ngeri” terhadap kematian yang akan segera menjemputnya. Dalam unsur Id, yang banyak berhubungan dengan pemuasan biologis, dapat dilihat bagaimana tekanan yang dihadapi seorang Saaman berpengaruh secara fisik pada tubuhnya. Ini dalam kasus tertentu dapat juga dilihat pada orang yang muntah ketika melihat darah. Bayangan Saaman tentang tubuhnya yang bakal menjadi seonggok mayat juga berhubung dengan ini. Namun lagi-lagi, Saaaman berhasil mengendalikan alam bawah sadarnya dan meneguhkan diri akan kebenaran apa yang telah dilakukan dan dipilih sebagai jalan hidupnya.
Inilah analisis sekilas yang memperlihatkan bagaimana teori-teori dalam psikoanalisa bisa membantu dalam menfsirkan kondisi psikologis tokoh dalam sebuah teks sastra. Memang sekilas dan masih sangat terbatas. Masih banyak klasifikasi-klasifikasi dalam Psikoanalisa yang tak disinggung dan masih banyak kondisi psikologis tokoh dalam novel ini yang belum dibahas. Sebagai satu contoh lagi saja adalah bagaimana istilah naluri hidup (etos) dan naluri mati (thanatos) yang dikemukakan Freud menarik untuk dijadikan alat analisis pada peristiwa bunuh diri yang dilakukan tokoh Si Muka Lebar. Baranagkali ini akan jadi bahan diskusi kita nanti. Terakhir, sedikit yang perlu dikemukakan adalah pembicaraan disini belum sampai pada penilaian terhadap fase-fase stuktur kepribadiannya Saaaman. Semisal, meski ada penggunaan kata nafsu primitif, itu bukan berarti sebuah penghakiman akan sebuah nilai yang buruk. Yang dilakukan disini baru pada upaya pengklasifikasian bagian-bagian peristiwa (pada tokoh Saaman) sesuai fase-fase stuktur kepribadian yang dikemukakan Freud. Mau lebih dari ini? Mari kita diskusikan. Oke, wassalam.





-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

suratcintrong

SURAT `SE-RIOUS` BUAT REKAN-REKANKU `SE-PROPESI` (DALAM-PADA AKHIR PERJALANAN KITA INI)

Buat Teh Santy,
The, ehtt..teh…(ribeut!). Melihat karya yang nak engkau analisis, (cukup menggugah), akupun jadi ternganga sembari mendesis. Barangkali sama seperti anak-anak yang lain, dengan pengetahuan kami yang minim tentang engkau, akupun berpikir gila! teh Santy mau mengacak-acak kewarasannya bermain-main dengan teror demi teror peristiwa dalam novel Putu. Apalagi yang hendak teteh analisis itu mengenai kejanggalan unsur kejiwaan pada seorang tokoh cerita yang dilabeli titel: “Hasrat Membunuh!”, gila! batin gua sungguh tak menyangka. Dengan beranggapan masih berpikiran waras, saya berpikir bahwa sebaiknya Teh Santy mencari karya lain dan mencari unsur lain lah yang sebaiknya dijadikan bahan penelitiannya. Memang, asumsi sebuah penelitian objektif taklah memperdulikan subjektifitas peneliti dalam memilih-milih objek penelitiannya. Namun kuatnya unsur kapabilitas pribadi dalam meneliti sebuah objek yang erat kaitannya dengan unsur-unsur budaya yang merupakan produk manusia, yang sangat tinggi tingkat mobilitasnya, yang sehingga menuntut kebersesuaian seorang peneliti dengan “sikon” objek yang akan ditelitinya, membuat saya berpikir: Apakah Teh Santy memang matching dengan “Lho!”-nya Putu tersebut? Lalu saya baru insyaf, apalah yang betul-betul saya ketahui tentang seorang Santy. Seperti kebenaran sebuah teori yang umurnya hanya sampai lahirnya sebuah teori lain, yang baru, yang menggugurkannya, saya yakin masih banyak kenyataan empirik pada anda yang saya, temen-temen lainnya, belum tahu apa-apa. Dan, Teh Santy, kaupun adalah sebuah misteri. Keterkejutan kami terhadap yang teteh lalukan itu sendiri adalah sebuah bukti tentang “hal-hal” yang tak kami ketahui. Saya yakin, ada “sesuatu” pada dikau yang membuat hasratmu sangat terobsesi dengan “hasrat membunuh” tersebut. Maka pesan saya, sebaiknya begini saja: teteh, dikau harus betul-betul percaya diri untuk mengeksploitasi “sesuatu” padamu itu. Soal teknik penulisan, cara retorika, kemampuan mengoherensikan persoalan – seperti yang kebanyakan dipersoalkan dalam seminarmu itu – saya kira adalah hal-hal teknis yang dengan kerja keras bisa dipelajari. Yang penting adalah modal dasar berupa “sesuatu” padamu itu, dikau harus berani mengpeksploitasinya. Maka, seperti ketika orang-orang tak habis pikir dengan apa yang hendak engkau kerjakan, buatlah kami, ketika teteh telah selesai mengerjakannya, hanya bisa berkata: “Lho!”

Buat Om Bule,
Om Bule, aku tahu kau adalah orang yang sangat aktif(is). Aku tahu kau orang yang senang bergerak-gerak sehingga yang berupa aktivitas (apa aktifitas?) otakpun
kau gerakkan menuju arah yang berbau pergerak(-gerak)an. Itu bagus, sebab dunia ini akan mati tanpa ada bunyi bebunyi dan keringat asem para lelaki. Dan hal inipun terbaca dari minatmu pada novel atau naskah skenario film yang akan engkau teliti itu. Naga Bonar, ia seorang sosok yang cekatan dalam berbagai reflek tindakan, yang berbau tangan dan badan. Ia sosok yang tak mau ber-lemot-lemot dengan keberhati-hatian pada sifat analitik sebuah pikiran. Tak perlu banyak pertimbangan. Dan hakikat, makrifat, ia malah permainkan. Hal-hal yang sebetulnya meminta perhatian serius malah dengan enteng ia percandakan. Hasilnyapun, segar menyegarkan. Bagi Naga Bonar segala tindakan adalah hasil kerja saraf reflek motorik yang memotong ke-lembek-an jalur birokrasi kita punya badan. Maka berbagai persoalanpun dengan cepat bisa selesai karena memang tak pernah “mau ia persoalkan”. Inilah ciri hidup praktis. Sejarah gagah perkasa para kesatria sejati. Profesional, dan proporsional, maksudnya. Cepat, sigap, jelas, tegas, tangkas, no compromize. Kompromi hanya berlaku bila perut mulai beraksi. Waw, betapa indahnya jalan hidup bila segala sesuatu dijalankan sebagaimana mestinya. Tak ada yang melenceng, tak ada yang perlu dipersoalkan. Setiap masalah diantisipasi dengan humor-humor dan celetukan. Maka, seperti kekuatiran GM terhadap kondisi perteateran dewasa ini (dengan mengutip kata-kata Bakhtin): sejarah memang sejenis drama dimana setiap babak diikuti oleh paduan suara ketawa. Segala sesuatu, entah kenapa, di tangan Naga Bonar jadi seolah lucu. Suasana perang dalam cerita Naga Bonar seperti tak ada bedanya dengan “situasi perang-perangan” di kala “Aku belum Besar”. Oh, kok jadi aku? Oke, kembali ke soal Om Bule. Tentu saja aku tak sedang menyamakan Om dengan Si Naga Bonar. Setahuku, Om tak begitu lucu. Hihihi. Lagian, tak mungkin pula aku menyamakan Om yang aktivis ini dengan “Si Raja Copet” itu. Sungguh sulit dipercaya. Tetapi, walau begitu besar perbedaan antara Om dengan Si Bonar itu, saya sarankan Om jangan patah semangat untuk menjadikannya sebagai objek penelitian. Saya kira dalam situasi seperti ini sikap objektif tersebut perlulah ditunjukkan. Kemaren-kemaren kita sudah sempat mengobrolkan tentang pendekatan semiotik dan dekontruksi guna “mendekati” karya yang akan Om teliti tersebut. Meski betul-betul belum pernah membaca utuh sekenarionya itu, tiba-tiba sekarang saya mau memunculkan sebuah ide terbaru dan tampaknya amat brilian Om. Kajilah “Naga Bonar” tersebut dengan pendekatan sosiologi sastra. Om `kan seorang aktivis juga. Jadi sedikit banyak punya referensilah bagaimana seorang Naga Bonar mengorganisir rekan-rekannya. Juga, Om Bule, kau `kan seorang “mantan dan calon” Jenderal pula…

Buat Mbak Surya,
Hmmm…, Orang-orang Bloomington, gaya euy! Mbak, aku salut pada kemauan Mbak untuk bersulit-sulit mengikuti jalan pikiran mengalir dan menerabasnya Mbah Budi Darma. Asal Mbak tahu, bisa dibilang titik balik saya untuk betul-betul perhatian pada dunia sastra adalah ketika saya mulai membaca karya-karya “rumit” yang diproduksi oleh Budi Darma serta kawan-kawannya: Simatupang, Putu, dan Danarto. Sebab sejak dulu saya, perasaan, sudah terlalu biasa membaca fiksi yang biasa-biasa saja, saya rasanya nggak semangat lagi jika setelah kuliah di Fakultas Sastra ini masih harus mengurusi cerita-cerita yang tak ada bedanya dengan sinetron punya. Dan Orang-orang Bloomington Budi Darma membuat daku kembali ceria. Ternyata memang ada sisi lain dalam dunia “sastra”. Cerita saya ini mungkin perlu saya tambahkan dengan ke-kurang berminatan saya pada sastra-sastra asal bunyi dan asal cari sensasi tapi tak punya isi. Jadi sebetulnya, tak semua yang rumit saya sukai. Dan jika ditarik lebih ke belakang lagi, awal “terlempar”-nya saya ke dunia pemikiran yang absurd hingga obscurd ini adalah minat saya pada pemikiran-pemikiran filsafat dan ilmu tentang tingkah laku manusia. Dan hal ini Mbak, saya dapatkan pada karya-karya tersebut. Terlebih pada Orang-orang Bloomington, sangat kental “ilmu” tentang tingkah laku manusianya. Mbak sendiri tentu tahu bahwa Mbah Budi Darma itu disertasinya sendiri adalah mengenai karakter tokoh dalam sebuah novel “kelas dunia” yang sarat “karakter tokoh”. Saya sempat berpikir bahwa tanpa kemauan (barangkali juga kemampuan) untuk terjun dalam pemikiran-pemikiran filsafat dan minat pada “tingkah laku manusia”, seseorang sangatlah tak akan tertarik pada karya-karya yang saya sebut tadi itu. Oke, seperti kasus yang terjadi pada rekan anda sebelumnya, tentu juga ada “sesuatu” pada anda yang membuat cerita, dan mudah-mudahan juga makna, dalam kumcer tersebut menarik perhatian. Saya cuma berharap “sesuatu” pada Mbak itu bukan lagi sekedar “pengalaman pribadi” tetapi, seperti yang saya katakan sebelumnya, untuk mampu meresapi makna dari karya tersebut, anda Mbak, perlu memiliki minat pada filsafat dan ilmu tentang karakter manusia. Inilah kunci pembedah “kesembarangan” dan “kebertolol-tololan” karya dan karya-karya tersebut. Analisis pada seminar anda masih menunjukkan bahwa makna karya masih sekedar anda pahami dalam kerangka “pengalaman pribadi” tersebut. Dan malah saya kuatir, sebab dangkalnya, Mbak nanti malah tersesat (entah apa ini sekedar menurut saya). Karya dan karya-karya tersebut, Mbak, menuntut kemauan kita untuk memberi perhatian pada sesama manusia, memberi perhatian kepada sudut pandang orang lain, mau menerima keber-ada-an “orang lain” itu. The Others, sebuah konsep yang membuat penyakit moslemphobia di Amerika sana. Tentu anda, Mbak, juga tak mau menderitanya. Maka, belajar menyukai karya-karya gelo tersebut saya kira “sehat” untuk kehidupan anda selanjutnya. Dan yang namanya belajar, setahu saya Mbak, emang nggak bisa suka-suka gua.

Buat Mester Nunu,
Nu, ingat kamu aku jadi ingat perpustakaan kampus kita sebelah rak sejarahnya. Disanalah sering tak sengaja mataku melirik pada kamu yang sedang pada rak buku asyik mengulik. Andai dikau wanita, barangkali waktu itu akulah sang pria yang sedang jatuh cinta. Aha. Dulu, Nu, waktu yu pernah sering nge-date ke cottage-ku, betapa cukup banyak kita saling bertukar cerita. Dan bertukar pikiran. Sebab sekali lagi, aha, kita bukan pacaran (lamun he-euh, lha si BLc dikamakeun?). Dari sana aku tahu betapa jou termasuk sebangsa (cuma ini catatannya: jika “dikondisikan”) bisa diajak “mikir”. Dan buktinya, jou mau bersusah-susah bergelimang dengan fakta sejarah. Lihat aja betapa “dahsyatnya”-nya makalah seminarmu Mester Nunu. Cuma…. Sebelumnya, Nu, aku pernah membaca tulisan seseorang yang menceritakan tentang Sri Paus (yang baru mati itu) baahwa ia merupakan sosok kristiani sejati, yang menerapkan: “apabila ditamparnya pipi kirimu, maka berikanlah pipi kananmu”. Jou tentu masih ingat tempo hari ketika kau berhasil membantah dengan sangat “berargumen” usaha analisis dalam penelitianku. Semula aku mengira itu sebuah tamparan yang dahsyat. Meski, insyaallah, bukan seorang nasrani, namun aku sangat termotivasi untuk menerapkan ajaran Joshua From Nazareth tadi padamu. Buktinya, seminggu sebelum engkau “menampar”-ku itu, aku dengan penuh “kasih sayang” berusaha mendukung usaha penelitianmu. Tetapi Nu, ternyata aku salah kira salah duga. Yang kusangka “tamparmu” itu ternyata..ternyata..malah anugrah bagiku. Waw! Terlepas dari apapun sebetulnya motivasimu, dan aku berusaha keras menghapus citra kotor di dalam otakku tentang karakteristik seorang Mester Nunu, aku..aku..sungguh sangat berterima-kasih padamu. (Namun disini bukan tempatnya untuk membahas soal tentang yang kubilang anugrah itu). Maka daripada itulah, wahai Mester Nunu, aku sekarang hendak sedikit membalas budi dengan sedikit saran yang mudah-mudahan berarti bagi calon skripsimu. Soal membaca tesis Pak Acep dan soal mengaitkan lagi bagian terakhir analisismu pada teks sastranya tentu tak perlu saya ulang lagi. Yang perlu sedikit saya tambahkan disini adalah jadikanlah kemampuanmu untuk memaui perminatan pada sumber-sumber sejarah tersebut menyerap tembus ke dasar hati. Ya, pilihan hidup boleh bohemian Nu. Tapi sayang rasanya seandainya wawasan yang telah terlanjur jou miliki itu hanya jadi pajangan sementara saja. Kenapa tidak, jou memrofesionalkan diri di bidang ini. (Sekali lagi, karaktermu lah yang membuat aku berkuatir tentang hal ini). Asli deh, salutlah aku atas analisis utamanya pada bagian pertama makalahmu itu (bagian kedua memang masih bermasalah `kan). Dan jika teori-teori itu masuk ke hati ya Nu, itu terlihat dari kemampuan dikau untuk memaparkan analisismu dengan bahasamu sendiri. Tak lagi, makalahmu itu, sekedar tumpahan bagi sekian kutipan dan pengklasifikasian dari sekian sumber tanpa proses pemilihan dan pemilahan. Tetapi, sungguh Nu, pada beberapa bagian jou cukup berhasil. Tinggal tentu upaya penyempurnaan demi penyempurnaan. Sebab menurutku Nu, jika kau mau pasti kau mampu. Tinggal sekarang, terserah jou yang memutuskan.

Buat Neneng Dea,
Aku orangnya bisa tahan / sudah berapa waktu bukan kanak lagi / tapi dulu ada suatu bahan / yang bukan dasar perhitungan kini //. Silahkan dianalisis Dea. Hahaha. Neng, bukan maksudku mengatakan bahwa kau, sebagai mahasiswi, tak pantas menyelidiki puisinya anak-anak. Tiap atap ada tiangnya, tiap lubang pintu pasti ada yang menyimpan anak kuncinya. Seperti dalam ketika seminarmu, aku sempat mengutipkan sebaris dari penggalan puisinya Anwar itu, aku cuma mau mengatakan kepadamu: ditanganku, puisi anak-anakpun bisa menjadi sangat rumit dan bermasalah. Soal contoh puisi anak-anak dari majalah Bobo yang sempat saya sampaikan itu perlu sekarang saya tambahkan. Ada sebuah puisi yang ditulis oleh seorang anak dari Bali yang dibawah judulnya dituliskan bahwa puisi tersebut diperuntukkan bagi seorang temannya di Aceh yang sedang terkena musibah Tsunami. Buat saya, puisi tersebut bukan lagi mengindikasikan perhatian seorang anak kepada temannya dari daerah lain yang sedang dilanda musibah. Sebagai contoh, saya mengimajinasikan sebuah perbandingan: Bali adalah daerah yang ramah terhadap orang asing sedang Aceh adalah wilayah yang rawan bagi Asing (dalam salah satu literature yang sempat saya dengar dibacakan di sebuah radio, orang Aceh dikenal selalu menaruh curiga terhadap orang lain). Lalu ini juga bisa saya kaitkan dengan betapa Bali adalah daerah yang menyenangkan bagi orang-orang pusat sedang Aceh…. Lalu lagi, ringkasnya, sampailah saya pada kesimpulan bahwa puisi anak yang lugu tersebut adalah lambang koherensi dan korelasi anatar daerah sekaligus nasional yang menuntut pemikiran ulang kembali tentang kebijakan pusat-antar daerah selama ini. Sungguh saya sadar, ini sebuah kesimpulan yang cukup kurang ajar dan barangkali sangat asal. Masalahnya saya, dengan segala kerusakan otak yang saya derita, sudah tak sanggup membiarkan puisi anak itu suci-murni sebagaimana adanya. Libido saya menuntut puisi tersebut harus dikontekstualisasikan dan di-reaktualisasikan dalam persoalan-persoalan, yang menurut otak kumuh saya ini, penting. Lain padang lain belalang. Tentu kasusnya akan berbeda bagi seorang nenek eh Neneng Dea. Dan saya pikir juga pasti ada hal-hal menarik dalam kerangka jalan pikiran kanak-kanak tersebut (yangmana halnya barangkali sudah tak sanggup lagi yang sudah bukan kanak lagi ini mencerna) guna digali dan dieksploitasi. Dan pada Neneng Dea, yang sepengetahuan saya punya kompetensi untuk itu, harapan ini kupertaruhkan juga. Tiap orang ada bidangnya Dea. Tinggal, tentu Neng harus ingat bahwa penelitian ini adalah pekerjaan serius yang tidak diselesaikan dengan hanya mengandalkan perasaan saja. Bagaimanapun, Neng Dea sudah terlanjur mengenal berbagai teori yang kurang berperasaan itu, apalagi Psikoanalisa yang, kurang ajar, sangat tak menghargai wanita. Dengan modal selaman nek, eh nek lagi, neng..pada dunia kanak-kanak (dan ciri relijiusitas mereka), selamat melakukan penelitian dengan seperangkat teori serius yang tersedia.

Buat Bung Agit,
Ril, jika bung dalam beberapa waktu ke depan betul-betul masih berminat pada dunia baca-membaca, insyaallah wal mudah-mudahan Ril, bung bertemu dengan sebuah esai Budi Darma tentang karakteristik mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia di Indonesia. Terlalu meng-kakukan diri pada formalitas teori dan, yang lebih parah lagi, terkadang main asal tempel teori, itulah cirinya. Mohon maaf sebesar-besarnya Ril, hal ini pulalah yang kurasakan ketika dipaksa harus membaca “kerumit-rumitan” makalah bung. Hal pertama tentang karakteristik mahasiswa tadi barangkali terjadi pada kasus penelitian yang bersederhana-sederhana saja dengan cara asal isi slot-slot formalitas penelitiannya. Taroklah Ril, hal ini tak terjadi pada makalah bung sebab betapa kompleksnya pendekatan yang akan bung gunakan itu. Tapi justru karena itu pulalah, kompleksitasnya itulah, makalah bung jadi amburadul. Bahkan bukan lagi sekedar amburadul, makalah bung telah lari dari persoalan yang seharusnya bung bicarakan. Ehhh, aku ngomong gini Ril juga dengan sedikit banyak pengetahuan tentang pendekatan yang, katanya mau, bung gunakan itu. Kita sama-sama dan satu-duanya yang berbicara tentang resepsi sastra, ya toh le. Sayang ya, entah kenapa kita kurang sempat bertukar pikiran (apalagi udah di semester akhir ini). Seperti apa yang terungkap di seminar, anak-anak tanpa tahu banyak tentang resepsi sastrapun (setahu saya) bisa melihat bahwa makalah bung itu lebih merupakan “biografi”-nya Saudara Anwar, bukan resepsinya Sumandjaya. Dan saya salut, upaya berdalih bung terselamatkan dengan arah diskusi yang lari ke persoalan posisi teks skenario film dalam penelitian sastra. Ril, aku tahu kesulitan yang bung hadapi. Kita sama-sama bergelut dalam sebuah pendekatan yang memang belum terlalu populer untuk dicari contoh penerapannya. Sebab belum memungkinkan mencari artikelnya Iser, dan meski juga sebab, dari apa yang sudah saya ketahui, teorinya Iser tersebut belum sepenuhnya memadai untuk tujuan penelitian saya, apalagi juga sebab kemungkinan penerapan teorinya tersebut yang bakal susah bin paiyah, sayapun berdalih menyusun metode sendiri. Tetapi itu dengan keterangan yang jujur tentang berbagai pendekatan yang mempengaruhi, argumen secukupnya bagi jalan yang kupilih, dan dengan segala kerendahan hatiku (yang memang udah rendah) ini saya tak merasa telah menemukan sebuah pendekatan baru yang luar biasa. Masih banyak hal-hal dalam kerangka analisis saya tersebut yang masih sangat membuat dahi ini berkerut dan saya merasa sangat berkewajiban untuk mencantumkan setiap pemikiran orang lain, yang saya sadari, mempengaruhi. Tapi sudahlah, kok jadi ngomong soal makalah saya di tempat yang harusnya membicarakan makalah bung ini. Ril, ini bukti makalah kita ibarat pinang dibelah dua. Dan buat saya Ril, seandainya saya memang tak sanggup merumuskan analisis saya, saya tak akan memaksakan diri. Pada kamu Ril, dengan resepsi Jauss yang jadi modelnya, kalau saya lihat sebetulnya bisa kamu terapkan untuk tujuan penelitianmu itu. Entah kenapa bung malah di jalur lain, ngomong kehidupannya Si Anwar itu. Namun ini bisa dimengerti Ril, meski bisa diterapkan, metode Jauss akan menuntut kerja keras mengumpulkan teks sumber dan saya yakin: bakal membutuhkan waktu cukup lama. Jadi, sudahlah sampai disini, isi penuh gelas lalu kacanya silakan makan. Saya cuma akan mengambil dua kesimpulan tentang faktor yang membuat makalah bung itu jadi begitu. Pertama, itu tadi: kesusahan untuk menerapkan pendekatan resepsi sastra tersebut, yang memang sulit sebab belum umum. Kedua, ya obsesi bung itu pada Si Anwar membuat bung meneliti jadi kurang bersabar dan berpagar. Tapi, eh, mudah-mudahan salah seandainya saya menduga hal yang ketiga, seperti kata Budi tadi: jangan-jangan betul, anda “sengaja” asal tempel, biar k`ren en b`ken. Aduh Ril, punten pisan ieu…. Tapi saya yakin bahwa bung masih punya semangat (dan vitalitas itu) untuk terus berkarya dan menemukan citra diri (dari ini muka siapa punya) buat hidup seribu tahun lagi!

Buat Abah Taryana,
“Bah, minta duit bah. Ananda mau ke Perugia. Itu, di Italia. Kalau bisa sekalian main ke Surga.” Jangan anakku. Ngapain juga ke sana. Bahaya. Banyak godaannya. Abah `kan pernah juga lihat di teve waktu ada siaran bola-sepak Liga Italia. Waduh, cewek-ceweknya seksi dan…astaga! Mmmmmmmmm. Entah kenapa mata Abah jadi melihat ke sana. Beberapa menit pemandangan…itu, membuat 2 x 45 menit pertaandingannya jadi terlupa begitu saja. Anakku, bolapun menjadi seolah bola-bola. Dunia ceria, penuh warna. Surga, ya surg…apa? Astaga. Mmmmmmmmm. “Tapi Bah. Kata Nobita, dengan baling-baling bambu ini (menunjukkan sesuatu-red) ananda bisa menuntut ilmu sampai ke negeri Italia. Disana, di Perugia Bah, ada anggur-anggur hangat yang mampu membasahi dahaga jiwa kita. Abah boleh percaya nggak percaya. Dengan tenang Bah, ananda akan bisa melukiskaan indahnya suasana kota-kota Mediterania. Tanah pertiwi yang damai ini akan selalu ananda kenang Bah, elok permai buminya, ramah tingkah rakyatnya dan ayu sumarah gadis-gadisnya tak akan pernah sanggup dilupa Bah. Aku anak jaman dibawah lindungan sinar Khayangan Bah. Juga Borobudur dan Candi Mendut Bah. Ayolah Bah, Janna..Janna.” Eh, tapi disana `kan juga banyak mafia. Ihhh, ngeri lho. Lagian, Italia `kan termasuk pendukung okupasi USA di Iraq sana. Benci Abah. Coba, baru kemaren-kemaren agen intelejennya dibunuh sewaktu…. “Sudahlah Bah, udah hampir subuh. Bagian Gembi belon nih. Udahlah, lu aja yang nafsirin pake semiotika, hermanetika, dan iristika tu. Lumayan, buat nambah-nambah latihan.”

Dan Buat Remaja Gembi,
Nak, camkan kata-kata nan amboi bijaksana ini baik-baik: menjadi besar itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan. (Ada bagian yang salah nggak ya?). Nak, bagaimanapun, aku menyadari persoalan lingkung hidup yang kau hadapi. Apalagi dalam masa ini kau malah tergolong yang mengalami hyper-transitional. Biasa, pada masa jerawat itu tumbuh, seorang remaja merasa sedang ditikung oleh segunung persoalan. Dan dalam keceriaan mereka hidup bersama sebuah kealpaan. Barangkali upaya pelarian. Tapi Nak. Jangan kau biarkan jerawat itu meletus di tangan orang-orang yang tak berhak. Ada baiknya jerawatmu yang pasca-puberty itu kau sumbangkan ke sebuah lembaga amal atau yayasan sosial. Yang berakta notaris jelas dan punya jaringan luas usahakan. Disamping itu Nak, efek samping dari memikirkanmu, aku jadi bingung: kau itu sebetulnya merasa bangga telah memasuki masa poskanakkanakmu atau sedang gelisah berhadapan dengan dekonstruksi pada masa remajamu, dan walhasil…. Nak, aku yang sudah tua dan bau tanah ini sebetulnyapun berhadapan dengan persoalan yang cukup menggelisahkan sepertimu itu. Akupun orang yang bingung menentukan pilihan dan kadang sengaja harus menjebakkan diri dalam permainan setta...tapi Nak, kau masih ada, masih dibentang harapan. Sayang jika hal itu kau sengaja melupakan, sebab, jangan-jangan nanti betul-betul sama sekali terlupakan. Nak..aku sering menangis sendiri kalau mendengar Iman Pas menyanyikan “hidup hanya sekali wahai kawan, aku tak mau mati dalam keraguan”. Padahal, Nak, aku sudah sejak kecil diberi nama oleh ortu-ku dengan nama M.Keraguan Alamiah. Dan ketika aku mengurus pergantian nama, para petugasnya menyatakan bahwa Undangan-Undangan mensyaratkanku untuk juga mengganti wajah. Tak mungkin Nak, kulit ini telah terlalu keriput dan telah menyatu dengan daging dan tulang tipis tengkorak kepalaku, tak mungkin lagi dipisahkan. Maka Nak, sebagai bab simpulan dan saran, segera selagi ada waktu kau harus memutuskan. (Sorry Gem, belum dapat makalah ente. Makanya, jadi “ngelantur” kieu. Ndak ado waktu lagi. Kau tahu bohewemiannya aku `kan. Mumpung lagi mood mending ane selesaikan. Dan menjelang seminarmu rabu, tugasku pada sebuah mata kuliah ngulangbarenggarnis sudah menumpuk untuk dikerjakan. Daripada nggak jadi sama sekali, udahlah ya, begindang aza. Nanti di seminarmu kita diskusikan dengan tajam dan akademis sekali makalahmu).

Terakhir, buat diriKu sendiri:
“Jon, kowe manusia paling bangsat yang pernah kutemui. Melihat tampangmu, aku jadi teringat kebinalan air muka Yudas dan Al-Hajjaj di Tiang Penghukuman. Aku menjadi teringat akting nothing and don`t worry pada ekspresi wajah Mr.Bush Junior ketika kabar keruntuhan simbol kejayaan Kapitalisme dunia yang memakan ribuan korban tewas itu disampaikan. Melihat tingkah lakumu, aku seperti melihat seekor kerbau yang bermalas-malasan every time in the Kubangan. Aku seperti melihat kumpulan kera yang dari hari ke hari kerjanya menggelantung-bergelantungan. Apalagi kalau mulutmu yang dipenuhi 99kebusukan itu mulai angkat bicara (atau aku sebut saja igauan, atau barangkali lebih tepat …..). Hey Jon, mendengarnya aku jadi teringat pada sebuah sajak mbeling dari penyair-entahapaiyapenyair berinisial YANMM: kudengar kata-kataku di telinga, kutemukan gema dalam mulutku sendiri, Suara, sesekali terdengar semacam gonggongan yang asing, namun terasa betapa dekat anjing itu bersembunyi. Jon! Di tengah bayi-bayi kelaparan di bentangan benua Afrika, jerit pilu anak-anak dan kaum wanita yang ditindas di tanah palestin, kaum muda yang dididik menjadi mesin produksi bagi kebesaran nama para elit penguasa, rapuh tulang para tetua yang tak punya kuasa atas kehendak si kuat yang mengangkanginya, dan milyaran buruh miskin yang memeras tenaganya ibarat kuda “zebra” demi uang..uang..uang..yang diputar en dimaenin oleh segelintir sanak-family Sang Pemodal Besar sambil ongkang-ongkang kaki di rumah-rumah mereka yang bagai istana dari surga, …kau..kau sibuk dengan abstraksi, idealisme, silogisme, kiraan, harapan, pemetaan, proposisi, identifikasi, klasifikisasi, estimasi, manajemen hati, dan segunung data-data statistikmu itu, dan segudang konsep-konsep… naudzubillah. Sadar, sadar Jon. Dunia ini tak berubah dengan cara bermimpi. Dan bukankah “darah itu merah Jendral,” kata PKI, ayo, bangun! Angkat senjata! Revolusi! Isi dahaga jiwamu dengan setiap tetes keringat dari tubuhmu. Aku tahu kau bukan marxis apalagi komunis. Aku tahu kau pun mau tak mau harus hidup dalam jerat kebudayaan bernama tradisi dan konsensi itu. Aku pun tahu, kau terkadang harus “memanfaatkan” agar tak jadi yang “dimanfaatkan”. Aku tahu kau harus mencari makan. Aku tahu kau bisa melupakan segala dosa dengan menampilkan diri sebagai sosok yang beramal berkebaikan. Aku tahu, aku tahu Jon. Bukankah kau juga tahu, betapa banyak yang aku tahu tentangmu. Tapi Jon, dunia ini butuh perubahan. Masa selalu bergerak menuju kebaruan. Waktu berputar ke depan. Sudah sampai disini, berhentilah bermanja-manja dengan puisi. Tapi… sudahlah. Rasanya tak banyak lagi yang boleh aku katakan. Aku kuatir objektifitas itu makin menghilang. Dan lagian aku kuatir, aku, kamu, nanti malu sendiri.
jawaban si Jon: (nggak) Siap komandan!”________________________________

Kawan, kawan. Tyutcev, seorang penyair Rusia, pernah mengatakan bahwa “pikiran yang diucapkan adalah suatu kebohongan” (ehm, dalam van Zoest, 1991: hlm 1 brs 1). Jika kalian sempat berpikir apa-apa yang kukatakan disini penuh dengan kebohongan, manipulasi, ketidakjujuran, hingga ketaktulusan, aku tak sanggup untuk berkomentar banyak lagi. Kami hanya tinggal tulangbelulang yang berserakan. Kaulah sekarang yang menentukan. Saya cuma bisa berdoa, mudah-mudahan, racun semiotik yang telah “dipaksakan” oleh salah sesuatu oknum dosen kita bisa berguna untuk kali ini. Silakan, anda-anda sangat berhak menafsirkan. Bergantung, sejauh mana “stok respon” oleh (t)Uhan ditakdirkan bagi kalian. Kaulah, kaulah sekarang yang menentukan. Kami hanya tinggal tulangbelulang..tinggal tulangbelulang yang berserakan. Baiklah kawan-kawan sekalian, sepertinya cukup sampai disini saja surat wasiatku ini. Sesuatu yang tak kurang-lebih absurd dibanding sebuah puisi barangkali. Makanya, jika kalian malas membaca. Jika betul memang demikianlah realitas sumber daya manusia Indonesia. Disini, sebagai penutup aku tuliskan lagi saja sebuah “puisi”. (Kenapa kuberi tanda “khusus”? Plis deh, jangan sampai aku yang memberi jawaban). Mudah-mudahan yang sedikit ini masih mampu memberi sejumlah arti. Wassalam.

“Pada suatu hari nanti
Barangkali sekedar namaku pun tak akan kalian ingat lagi
Tapi di antara baris kata-kata ini
Teman, lihatlah: aku ada disini. Hihihi..uhuk..uhuk..aha!”



Masih di Jatinangor, 18 April 2005




-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

bocah

21/9/04 BOCAH
Segerombolan bocah bandel yang terlihat lugu itu
belepotan air liur di mulut mereka.
Berbinar, atau barangkali penuh nafsu, atau barangkali penuh dendam
menatap bersama ke arah sebiji-bijinya buah mangga ranum
pada sebatang pohon tak berdosa di depan mereka,
buah yang segera masak dan bakal gugur sendiri
di kala waktu datang menitah.
Namun bocah mana yang bakal sabar, hasrat telah bersemeyam kekal,
berlomba sambitkan batu tak peduli nyasar,
bebal.
“Mangga ranum itu bakal jatuh juga, Nak. Ia telah menyerahkan ketentuan
pada sang waktu. Bersabarlah menunggu.”
Dan untuk nafsu, ia menolak.
“setidaknya, akulah yang akan menjelma cacing panas
dalam usus-usus sampah kalian, hei bocah-bocah tengik!
Bau kencur! Calon-calon perusak dunia!!!”


030205/01:40 O NANI

O nani.. tak kukira sejauh itu kau kejar,
sambil berlari
sementara dunia biar sibuk sendiri
kita di sini,
bernyanyi
..padamu negeri…

lihat! dunia terus berubah
dan kita,
terus bernyanyi
..terus bernyanyi
..terus bernyanyi
..padamu negeri…

tapi ini tentang kau o nani
oo tak kah kau mengerti
sudah sejauh ini kah.. kan..
kita jauh berlari

ada sejarah tentang sebuah negeri
yang ditempa oleh tangan-tangan kekar para kesatria
menjaga kehormatan adalah sebuah kewajiban
kewajiban adalah untuk ditunaikan
yang ditunaikan yang tak ada pengecualian
dan di sanalah kita akan bisa melihat
arti dari mengerti dunia
mengerti kewajiban
tidak sekedar tentang... kau..
o nani,
bagaimana kau harus mengerti

siapa sangka, ini akan terjadi
tapi siapa yang tak akan menduga,
bahwa ini tak akan pernah terjadi

ini harus terjadi,
harus!
hukumlah yang menentukan
kita menjalankan ketentuan
ketentuan yang bukan kita menentukan,
tapi kita: melaksanakan,
harus!
apa kau sanggup menolak..

o nani,
tentu kau bisa
tapi siapa yang tak akan menduga
bahwa kau tak akan sanggup untuk (harus!) bisa

..kau harus tak bisa,
katanya
kataku
katamu, o nani

tak ada yang tetap
maka,
terjadilah.

Djatinangor Raya



7/2/05 ANU

Buat apa punya 'anu',
kalau tak boleh buat 'begitu'

yang perlu anu tahu:
adalah bahwasanya daripada menahan diri itu
adalah merupakan seperti seorang ahli zikir
di malam yang berbidadari seribu satu, dengan sejuta anu

tapi apakah tuan yang mahatahu masih mau tahu..
'anu' tak mau tahu itu.

DJATINAGOR RAYA





-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

poem1

PENYESALAN

Ada keraguan dihati ini
saat kau beri bunga, waktu itu.
Ada kebimbangan dijiwa ini
saat pertama kau cium, hari itu.
Ada penyesalan kemudian kusadari
setelah diperkosa, malam itu.

Tapi apa dilacur
Kita *telah sampai di ujung
yang tak bisa ‘tuk kembali*

Tapi ini bukan akhir
Hidup baru telah menanti

oktober02



BERSUCI

Sebuah pembunuhan telah terjadi pagi ini
Aku membunuh segumpal kekotoran kemaren hari
dalam pertempuran malamku

Kemerdekaan kudapati pagi ini
Betapa leganya
menjadi orang yang bisa menahan diri

Maafkan aku cantik
Aku tak mau membajingimu

oktober02



BENDERA

Tak lagi merah putih
Tapi sudah abu-abu ; warna bendera pusakaku
dikotori tangan-tangan pengkhianat! negri ini



MASIH ADA

Yang dulu pergi, kini ‘kan kembali
Aku termangu
Masih ada bunga untukku

Aku malu
Begitu berdebu

Seikat kesucian terkenang

Kuingin lagi dirangkul damai
Seperti pertama
Tanpa noda

Aku terharu
Masih ada cinta untukku
Yang dulu menghilang, akan kembali datang

oktober02



DUNIA HITAM

yang namanya bangsad
yang namanya taktahumalu
yang namanya pemerkosaan
yang namanya dengki
yang namanya berfoya-foya

yang namanya bikinorangsusah
yang namanya pencuri
yang namanya betul-betulbangsat
yang namanya eeeuuaaaa
yang namanya anjing kurap legam

Hati-hati!
Pada akhir-akhirnya mereka-mereka membangun “dunia hitam”

oktober02



PERJALANAN MALAM SANG PENCARI : SEJENAK DI SEBUAH PERHENTIAN

Begitu berantakan untuk dirapikan
Begitu kusut kali ‘tuk dilicini
Sungguh rumit buat dipahami
Sungguh sulit buat dimengerti

Ah,
Makin kulahap makin lapar rasanya
Tambah diperhatikan tambah tak jelas kelihatannya
Duh,
Tak ada jawaban yang memuaskan

Ingin rasanya seperti batu
Berhenti sudah pada sebaris tanya
Tapi aku hidup
Aku tumbuh
Aku menjulang menyonsong langit

Didalam ketidak mengertian ini
Pada ketiada berdayaan ini
Aku hanya berlindung dalam seuntai kata
“Tuntunlah hamba duhai Yang Maha Mengetahui”

oktober02




-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...