Kamis, 21 April 2005

ANTARA BARAT DAN TIMUR DI TEMBOK KAMPUS

Salah satu hal yang sedang berkembang dalam khasanah dunia kritik sastra di Indonesia saat ini, terkait dengan persoalan hangat mengenai usaha mencari teori tersendiri dalam menganalisis karya sastra Indonesia ( sebab teori dari ahli-ahli barat dipandang kurang memadai dan lain dunia untuk membedah sastra negeri ini ), adalah dengan kenyataan kurangnya kuantitas kritik sastra di Indonesia, seperti yang mengemuka dan menjadi keluhan dalam berbagai pembicaraan tentang dunia sastra di republik ini. Jika karya sastra dipandang tidak banyak peminatnya di republik ini, seiring dengan kenyataan minat baca orang Indonesia yang masih rendah, maka jumlah karya-karya sastra yang diproduksi masih sangat melimpah dan juga cukup dianggap berkualitas ( di sisi lain memang dibandingkan dengan peminat sastra yang tidak seberapa ) dibandingkan jumlah terbitan sastra berupa kritik atas karya. Malahan di dunia kritik sastra itu sendiri, kritik sastra dari kalangan non-akademis sendiri pun ( bahkan kritik sastranya bisa berupa karya sastra juga, saking bebasnya ) lebih merajai. Bagaimana dengan dunia akademis ( yang notabene mewarisi ciri ilmiah, sesuatu yang datang dari barat sana )?

Ada rasa kurang puas di kalangan sastrawan ‘otodidak’ sehingga melahirkan kecaman terhadap keloyoan sekaligus adanya benteng yang tak bergeming ( baca : kekakuan ) orang-orang akademis dalam membangun dunia sastra. Mereka bahkan mungkin mulai berpikiran bahwa hasil-hasil dari kalangan akademis tersebut tidaklah penting lagi dalam dunia sastra. Mereka merasa lebih luwes untuk bereksperimen dalam membangun sastra. Dalam hal teori sastra, cara-cara orang kampus dipandang sudah impoten dan tak akan lagi berkembang. Sementara orang luar kampus dipandang lebih punya ruang. Namun hal yang terjadi adalah tentunya sastrawan otodidak ini juga tak lepas ( jika memang manusia modern ) dari bacaan-bacaan luar ( barat ). Cuma sekali lagi mereka memiliki ruang eksperimen yang lebih luas, yang memberi kesempatan bagi kemungkinan mencari teori khas sastra sesuai budaya negeri sendiri.
Mungkin sepertinya semua hal diatas berbicara soal pertentangan antara kalangan kampus dengan sastrawan otodidak, tetapi ini semua terkait dengan bagaimana isu seperti yang disebutkan diatas antara kedua belah pihak ( yang sekali lagi juga mau tak mau belajar dari barat yang sudah terlebih dahulu maju ) sangat akan menentukan bentuk kritik sastra Indonesia ke depan, yang juga akan berpengaruh pada eksistensi lalu perannya dalam carut marut kehidupan bangsa yang asing bacaan sastra ini, di saat ini.





-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------