KISAH SEORANG PERAMU-RIA

Mr. Terrorist, I don’t know who are you
But, I know how bad you are

Who has done the bad thing?
Yes, he is ‘bat-man’

Where did he come from?

cerita belum usai

Apa yang akan anda lakukan ketika berjalan di sebuah, katakanlah semacam tempat kumpulan pertokoan, berbelanja bukan? Nah, di suatu tempat di sebuah negri, terdapatlah sebuah tempat yang berupa tempat perkumpulan pertokoan itu. Tapi, eitt, jangan kecele dulu...ini adalah kumpulan pertokoan yang bertemakan "Keadilan". Yah, keadilan. Sesuatu yang kita idam-idamkan bukan? Siapa pula yang tak setuju akan pentingnya arti dari keberadaan sesuatu yang bernama keadilan. Ah, minimal setidaknya adalah sesuatu kali dari momen hidup anda saat-saat anda merasa tidak diperlakukan dengan adil. Ini juga kalau anda tergolong jenis makhluk yang selalu beruntung dalam menjalani perikehidupan ini. Bagaimana dengan orang-orang yang kerap kali merugi. Atau dirugikan. Wauu..., betapa sangat anda akan merasa membutuhkan barang yang bernama keadilan ini. Begitulah arti penting keadilan ini bagi umat manusia. Dan untuk itulah cerita ini ada, percaya nggak percaya.
Bagaimana cerita belanja-belanja di komplek pertokoan keadilan ini. Begini ceritanya...

Komplek atau kalau kita pakai istilah sebelumnya tadi, kumpulan, pertokoan ini terdapat di tengah-tengah dari segala arah. Hingga, segala bangsa, segala warna, segala rupa dan suara, segala macam orang bisa memiliki akses informasi dan kemudahan transportasi menuju tempat ini. Kalau boleh mengambil pengibaratan pada kata seorang Nabi, sebaik-baik urusan adalah di tengah-tengah, maka demi keadilan yang suci murni ini perlulah hal tersebut kita terapkan. Alhasil, pasar kita tempat berjual beli barang keadilan ini pun ramai tamailah. Berbagai pengunjung dari bermacam pelosok bertemu di sini. Apalagi pas weekend. Wah pokoknya rame benget gitulah. Tapi, sssstt, yang perlu anda ketahui, sesuai keinginan saya sebagai pengarang cerita, perlu anda simak baik-baik informasi ini : begini, ehm, sebetulnya, pasar kita, komplek pertokoan kita, yang terkenal dan sebelumnya, ehm, saya gembar-gemborkan rame banget itu, sebenarnya, ehm, disana cuma terdapat tiga toko lho! Woiii...ehm, tapi tak perlu kuatir. Cerita gembar-gembor tentang rame bengetnya itu tetap berlaku. Tiga toko itu ramai dikunjungi oleh beraneka ragam makhluk dari bermacam arah mata angin. Woii! Lho kok! Lha masak! Haah..! Hey, dilarang protes. Singkat cerita, cerita ini bercerita tentang cerita mengenai cerita akan sebuah pasar, atau komplek, atau kumpulan pertokoan yang terdiri dari, hanya, tiga buah toko yang menjual barang bernama keadilan dan rame banget dikunjungi segenap umat manusia. Titik. Selesai. Dan silakan anda baca keterangan tambahan berikut ini.
Toko pertama ditempati oleh Mr.X. Seperti namanya, tokoh pemilik toko pertama ini memang cukup misterius orangnya. Berdasarkan data yang berhasil penulis kumpulkan dari orang-orang yang diperkirakan memiliki kompetensi memadai untuk bisa digali informasi mengenai tokoh ini darinya, penulis hanya bisa berkata: berbahaya! Seberapa jauh berbahayanya, sulit untuk didefinisikan sebab sedikitnya alat bukti yang bisa dipertanggung jawabkan. Yang pasti untuk tokoh yang satu ini orang-orang selalu memberi peringatan supaya kita semua berhati-hati dan bila lagi sial berjumpa dengannya segeralah bertawakal pada yang di atas sana. Sebegitu mengerikankah, entahlah, yang pasti lagi memang sepertinya percuma dan buang-buang energi saja untuk tulisan ini terlalu bernafsu untuk mengeksploitasi terus tentang tokoh yang satu ini yang jelas-jelas sudah penulis tetapkan berstatus misterius. Sekarang yang jelas kemisteriusannya itu bisa kita lihat efeknya pada jual beli barang dagangan di tokonya. Padahal! Nah ini menariknya. Keadilan sebagai stok komoditi yang diperdagangkan disini ditata dengan sangat menarik hati.
Toko keadilan milik bapak Mr.X ini memiliki filosofi bisnis yang sangat menggetarkan sanubari: duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Ya, persamaan, itulah kunci pak Mr.X dalam menerapkan keadilan.
bersambung..






-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

nah, ini lagu lokal

HERMAN
KARANGAN: PADA SUATU HARI

Aku herman, eh, heran? Untuk kedua kalinya aku melewati tempat itu, laki-laki tersebut masih saja disana. Apa mungkin memang karena hal itu? Masa iya sih, Kekuatan ©inta itu sebesar (I)tu? Alaahhh...
Waktu pertama kali melihatnya, kemaren malem, aku sudah menduga. Bagaimana tidak. Kira-kira apa yang akan muncul di benak para pembaca budiman sekalian, melihat seorang pemuda atau (barangkali masih remaja) sedang berdiri nggak jelas di gang sempit depan sebuah pondokan (kost) putri. Gelap-gelapan dan sendirian. Nggak ada orang lain, sebab tempat itu memang sekedar jalan kecil yang sesekali dilewati. Sekedar dilewati. Kecuali tempat keluar masuk para penghuni pondokan putri tersebut. Dan se-pengetahuanku, seperti umumnya tempat ngekost kaum putri, tempat itu termasuk yang sepi dari aktifitas ramai-ramai. Pintu pondokan itu selalu tertutup, sekedar dipakai keluar masuk lalu tertutup lagi. Dan belum pernah aku melihat ada penghuni pondokan tersebut yang duduk-duduk ngerumpi di luar. Apalagi orang lain. Depan pondokan kost putri tersebut betul-betul hanya sebuah gang sempit, sepi, dan sekali lagi sekedar berfungsi sebagai tempat lewat.
Namun malam itu aku bertemu sebuah fenomena baharu. Seorang cowok terlihat melakukan sebuah aktifitas aneh, meski tak hiruk pikuk. Orang itu seperti terlihat linglung, berdiri setengah mematung di pinggir jalan depan pintu bangunan tersebut. Saat aku lewat kusempatkan beberapa kali mata ini untuk melirik, lagi ngapain sih cowok itu. Tapi yang tertangkap oleh mataku adalah gerak-gerik seperti bingung dari orang itu. Sembari bola matanya, aku perhatikan: sepertinya melihat-lihat sesekali ke arah atas, ke sebuah jendela kamar barangkali. Ah, seorang pecinta yang sedang dilanda asmara barangkali, aku membahatin.
Duh cinta. Kadang aku berpikir dunia ini membuang terlalu banyak waktu untuk urusan cinta. Ya, cinta yang seperti itu. Padahal masih banyak perihal urusan lain yang sebetulnya membutuhkan kerja keras yang fokus dari umat manusia guna menyelesaikan`nya. Walau yang dimaksud selesai itu bisa juga berarti sebetulnya belum selesai, tapi setidaknya telah ada usaha manusia untuk memperlihatkan tanggung jawabnya terhadap kewajiban`nya. Manusia berkewajiban untuk mengurus kehidupan bersama. Dan di tengah semakin menggilanya urusan kehidupan bersama di tengah-tengah muka bumi yang makin penuh sesak ini, manusia sebaliknya malah makin menunjukkan ciri mengurus kepentingan pribadi sendiri-sendiri. Kolektifitas semakin amblas. Dan ke=amblas=an tersebutlah yang telah menjadi sebuah kolektifitas. Seperti sebuah kesepakatan bersama untuk men-degradasikan adab dan kebudayaan. Ke jurang setan. Setan apa yang membisiki pemuda tadi itu, untuk tegar berdiri demi cinta disitu?
Tapi kupikir nggak juga. Cinta, meski dalam pengertian cinta yang begitu, bagaimanapun adalah hak asasi dan hasrat alami dari seorang anak manusia. Lagian aku pikir manusia tentu juga punya kewajiban untuk memenuhi tuntutan nalurinya. Sebagai sesuatu yang alami, sebagai sesuatu yang asasi. Juga, hadits itu kan hanya berlaku untuk orang yang ketiga. Sementara pemuda itu sendirian. Tapi hasrat suci itu?
Sempat aku berpikir bahwa dia waktu itu sedang menunggu salah seorang perempuan yang tinggal di pondokan putri itu. Jadi mereka sudah resmi, atau semi-resmi lah. Akan tetapi, sebagai tamu “resmi” semestinya ia tidak berdiri-diri seperti orang linglung gitu. Setidaknya ia `kan bisa duduk tenang di sebuah kursi kecil yang tersedia di teras kecil depan pintu kost-an tersebut (meski sekali lagi belum pernah aku melihat ada orang duduk-duduk disana). Maka walhasil, ditambah kenyataan yang kutemui barusan, asumsiku tadi rasanya gugur. Maka walhasil lagi, waktu itupun aku sudah menduga yang macam-macam pada pemuda itu. Dari maling, tapi rasanya sangat nggak mungkin, sampai yang terakhir…. Dari gelagatnya aku menduga kuat ia-lah sang pencinta yang sedang menunggu. Dalam artian yang sebenar-benarnya dari kata menunggu. Menunggu yang entah sampai apabilakah.
Cengeng. Dalam hati aku mengutuki, beginilah mental pemuda-pemuda dan remaja-remaja tanggung di negeri ini. (Titanic, Cassablanca, Laila Majnun, dan berbagai telenovela sebaiknya lupakanlah saja dulu). Terlaluuu…banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal seperti itu. Jujur saja, bukan berarti aku seseorang yang tak pernah jatuh cinta. Apalagi waktu sama si…akupun bisa merasakan betapa dahsyatnya saling mencinta. Dan ya, taroklah kami mencintai masih dalam artian yang begitu juga. Cintaku saat itu adalah yang terbaik hingga saat ini, bahkan aku sempat berpikir: sampai kapanpun. Hingga saat berakhirnya tiba. Ah, saudara-saudara sendiri bayangkanlah betapa hancur dan remuk rasanya hati ini. Huhh. Tapi seberapapun hancur, perih, dan sakitnya, aku tak mau menghabiskan waktuku hanya untuk hal yang seperti itu. Dan sejak dulu, aku memang mempunyai prinsip seperti itu.
Ketika melihat berbagai persoalan kehidupan umat manusia di muka bumi ini, matahatiku jadi terbuka lebar pada perkataan seorang kawan bahwa jalan kehidupan itu tak hanya selebar renda kolor wahai teman. Aku memilih untuk menjadi seseorang yang tak hanya bergulat dengan kepentingan sendiri dan hanya berpikir selingkung kanan sekitar kiri - yang selain disini ogah peduli. Aku memilih untuk tak sekedar binatang. Sekedar memenuhi naluri hasrat pribadi. Aku merasa punya tanggung jawab sebagai bagian dari keseluruhan masyarakat, sebagai yang menumpang-tinggal di muka bumi, sekedar menumpang hidup dalam jagad kehidupan. Adakah si pemuda pe..pe..pecinta itu mengerti. Aduh kawan, kenapa hanya berdiri disitu. Masih banyak yang lebih harus untuk kau kerjakan. Masih banyak yang lebih-mesti dipikirkan. Jangan menghabiskan sedikit waktu ini hanya untuk berkutat soal itu…
Tapi jujur saja, sebagai sesama manusia, aku empati juga sih terhadapnya. Masih kuingat air mukanya yang terlihat penuh damba itu. Saat ini sepertinya ia betul-betul seorang pecinta sejati. Aku tak boleh memaksa bahwa dia juga harus memikirkan bagaimana untuk membuat lebih baik peri-kehidupan masyarakat dunia. Saat ini, dia tak perlu memikirkan bagaimana dana program minyak untuk pangan di Irak dikorupsi. Biarlah, untuk saat ini tak perlulah ia ikut-ikut pusing memikirkan bagaimana cara sebaiknya bagi bapak presiden serta staf-stafnya guna memberantas tikus-tikus yang berkeliaran di lingkungan istana negara. Tak perlu ia ikut berpikir bagaimana sebaiknya mengatur sampah kota ini setelah beberapa waktu lalu dirudung sebuah masalah. Biarkanlah saat ini ia membangun dunianya berdua dengan kekasih yang ia cinta. Biarlah, hanya mereka berdua. Tapi lihatlah saudara-saudara, andai anda-anda bisa menyaksikan langsung. Ia berdiri, seorang diri, disana. Sendiri menabur asa.
Sekarang aku betul-betul kuatir. Jangan-jangan betul dia sudah sedari kemaren malem tetap berdiri disana. Pakaiannya sepertinya masih yang itu juga. Raut wajahnya masih seperti yang kemaren jua. Gerak-geriknya, masih begitu pula. Gila? Tidak. Aku tahu dari sorotan matanya, ia-lah seorang pecinta. Kalaupun gila, gila akan cinta (meski cinta dalam artian yang…, ya, begitu). Para pembaca yang budiman, andai anda-anda sekalian melihat sendiri raut wajahnya saat itu, yakin aku betapa akan sangat bersimpati pula dirimu. Air mukanya betul-betul seperti seorang yang teguh mengharap pada yang dicinta. Demi cinta, ia rela dilihat penuh janggal oleh setiap orang yang lewat. Dan ia lebih tak peduli lagi. Ia akan tetap ingin mencintai untuk kurang lebih seribu tahun lagi. Dari kemaren malem sampai ini pagi, ketika kulewati lagi tempat ini, ia masih…masih terlihat menatap penuh harap akan runtuhnya hati kekasih yang di dalam jiwanya menggelora. Cinta itu dahsyat. Sebuah truk lewat pernah kulihat ditempeli pada kaca depannya kata-kata: beratnya cintamu tak seberat muatanku. Kini aku tak percaya. Keteguhan pemuda itu membuat aku yakin bahwa cinta sungguh lebih dalam dari Samudera.
Aku kuatir, sumpah sangat kuatir. Waktu barusan lewat, aku melihat betapa bertambah linglungnya itu pemuda. Kemana engkau wanita, jadi aku yang bertanya. Oh iya, aku harus menanyakan ini padanya. Sama cowok itu. Setidaknya sekedar mengajak bicara, membuat ia membagi sebagian gejolak hatinya yang kian..dan kian membara. Ini waktunya.menampilkan empati dan hati nurani kepada sesama manusia. Aku harus kembali lagi menemui lelaki itu. Bagaimanapun, harus aku bantu.

***

Ternyata, pemuda itu adalah adik kandung dari salah seorang penghuni kost-an tadi. Pemuda tersebut menceritakan bahwa ia datang jauh-jauh dari kampung halamannya yang sangat jauh sengaja untuk menemui kakaknya. Ada sebuah masalah keluarga, katanya, yang tak bisa diceritakan lebih jauh. Yang jelas, katanya lagi, kakak ceweknya itu tak mau menemuinya. Sementara, ia harus dan sangat penting untuk menemui kakak ceweknya itu. Dan ia tak diperbolehkan memasuki tempat kakaknya tersebut. Akhirnya, setelah menitipkan barang-barang bawaannya di sebuah warung tak jauh dari situ, ia sedari tadi malam berdiri di tempat itu untuk terus membujuk kakaknya yang berkebetulan berkamar di atas yang dari depan terlihat jendelanya. Katanya lagi, ia sudah berbicara berjam-jam dengan setengah berteriak untuk membujuk kakaknya dari depan pintu atau pinggir gang sempit itu. Meski kalau ada orang lewat dia diam dulu. Malu, katanya. Tentu saja ia kecapek-an sekarang. Barangkali sebab itu pula ia tak malu-malu untuk menyetujui ketika tokoh Kami ngajak minum-minuman seger dulu di sebuah kantin. Kelihatannya, memang, ini semata gara-gara tokoh Kami kasihan. Tetapi sesungguhnyalah daripada itu, tokoh Kami yang cerdas itu sebetul-betulnya berniat untuk mengetes kebenaran ungkapan sang cowok tersebut. Seperti Anda barangkali, Kamipun sempat tegang juga mengikuti jalan cerita ini dan sempat curiga pula akan pengakuan sang cowok tersebut. Akhirnya dari Kami, sepakat dengan simpulan tokoh Kami bahwa pemuda yang menjadi sumber konflik dalam cerita ini tersebut adalah (diputuskan) Jujur. Maka Kami ikhlaskan duit yang dipakai oleh tokoh Kami guna mentraktir pemuda tersebut. Alhamdulillah, heppi ending.

Jatinangor, 15 Mei 2005

lagu barat

PELUKIS YANG AGUNG

manusia, siapa yang cipta
Tuhan, kata ibu guruku
di kala TK

dan kini,
setelah aku dewasa
setelah sekian pengalaman
dan sekian rintangan
aku lewati
setelah segala koran, majalah, mading
dan buku-buku
aku katami
setelah serba bertanya
kesana, kesini
dan kesitu
kutemukan,
tak ada jawaban yang lebih baik dari pada itu

lalu, yang belum berlalu…yang tak dilalu…
dan contoh, juga contoh-contoh
itu?

lagu barat

SAJAK AA NO-NAME BUAT TUHAN
karya: Aa No-Name

tuHan-ku (jika kau Ada),
cintaku apa adanya
bukan cinta buta

tuHan…(jika itu Kebenaran),
tundukku adalah kejujuran
bukan sembah kepalsuan

Han! imanku ini,
andai setengahpun tak cukup
kurasakan sebiji zarah itu masih selalu tersisa
cuma apakah kami, manusia ini,
akan menuju ke-Sana
hanya berbekal lotre dan sekedar undian saja?

tuHan,
berbekal sekedar pemahaman
masih selalu tertancap itu iman
dibuai kenyataan
aku membuat pilihan
demi pilihan

tuHan-ku,
sebab itu disini: tak ada beda lagi
antara menunggu dan mencari
(sementara itu, anak manusia saling sanjung
dan saling bunuh tanpa mau berpikir
ala penyair…sepertiku?)

lagu barat

SEPERTINYA) SALAM TERAKHIR

Ada sesuatu yang busuk dihati ini
tak tercium, barangkali
bagi diri sendiri

maka berkacalah, kawan
kata seorang tua yang akan kembali ke tanah
rumah masa depan

ia sekedar mencoba terus mengingatkan
di sedikit waktu
yang barangkali…menyedia sebuah kesempatan
berbuat sedikit kebaikan
bagi bumi tercinta yang bakal ia tinggalkan

bagi setiap kawan –
dan setiap lawan, anggaplah juga kawan –
bagi setiap manusia
bagi kehidupan
bagi keluhuran peradaban

dan ia segera: mati, jangan kuatir
namun, ada sesuatu yang busuk di hati – kawan
mudah-mudahan tercium sendiri, nanti.

lagu barat

(M)ALAM

digenitnya suara malam, di bisingnya hentakan siang, kita selalu menantikan sore yang tenang. ada juga suara-suara sunyi, seolah mengajak kita menjadi sahabat sejati, tapi mereka tak pernah setia, tak pernah sanggup lepas dari hawa dunia, menemu kita sekedar takut ada yang tersisa.

atau patung-patung keengganan, yang tak mau tahu lagi seperti apa kehidupan berjalan.

maka mereka semua berkata: buat apa berbicara tentang yang hakiki, serahkan saja pada…yang tersembunyi, serahkan saja pada kebutuhan, haha, perut ini.

namun tak bisa. Kita selalu mencari tahu, karena selalu ada risau menyesak di hati, yang tak mampu diterangkan oleh kenyataan, yang tak bisa diselesaikan oleh keniscayaan.

hati-hati. Kerisauan bisa menyesatkan, kata mereka. O, mereka ternyata mau peduli!

dan kita makin risau mempertanyakan: di zaman yang mangkin menyampah ini, siapakah yang masih mau peduli tentang diri sendiri, selain Kami?

lagu barat

MATA INDAH ITU

Disini,
di sela baris-baris yang kaku
aku mengumpulkan segala yang terserak
menjadi satu

dan mata indah itu,
kapan kita akan Bertemu…

aku igaukan namamu
disini, selalu.

NamaMu.

ANTARA VARIASI ESTETIS DAN KERUMITAN GRAMATIKAL

Termasuk ke dalam sebuah kumpulan cerpen yang secara tematis terlihat dihadirkan untuk ‘mempertanyakan cinta’, cerpen “Malamnya Malam” seperti mempunyai tempat tersendiri. Secara kasat mata, cerita ini ditempatkan pada urutan paling akhir. Kedua waktu pembuatannya merupakan yang paling awal dibanding yang lain, yakni tahun penulisan 1982, serta waktu pengerjaannya yang dalam kurun 2 tahun, yakni sampai 1983. Ketiga, ‘tipikal’ judul cerita serta bentuk pemaparan cerita yang secara kuantitas termasuk golongan minimalis dibanding dan dalam keseluruhan cerpen dalam kumpulan ini. Tipikal judul cerita mayoritas cerpen ini terasa dekat sekali dengan tema seperti yang ditandai dengan kata-kata : lelaki, perempuan atau cinta. Bentuk pemaparan cerita yang sepenuhnya berbentuk narasi juga hanya terdapat pada beberapa cerpen saja. Dan penulis menilai paparan narasi dalam “Malamnya Malam” ini pulalah yang paling penuh bentuk kenarasiannya dibanding beberapa yang lain itu. Salah satu bukti, yang sekali lagi,secara kasat mata dapat dengan mudah kita lihat adalah bahwa dalam cerpen naratif lain masih ada setidaknya satu dua dialog batin tokoh yang diberikan pengarang sepenuhnya pada tokoh dengan ditandai pemberian tanda baca langsung, sedang dalam “Malamnya Malam” tak ada barang satu katapun yang diberi tanda kutip langsung. Dialog batin tokoh pun sepenuhnya dipaparkan pengarang. Terakhir, cerpen ini merupakan teks dengan bentuk paparan yang menggunakan kalimat paling kompleks dan ‘rumit’ dan melelahkan. Cuma, karya sastra, sebagai tulisan yang mengkreasi bahasa, harus kita teliti dengan berangkat pada pemahaman bahwa kerumitan kalimat tersebut jangan-jangan merupakan upaya mengkreasi bahasa atau jangan-jangan upaya kreatifnya itulah yang mengakibatkan kerumitan kalimat. Ketegangan antara pencarian estetis baru dan keterikatan pada tata aturan dan atau logika ilmu bahasa saling menindih dan menerjang dalam cerpen ini. Hal inilah yang akan dibahas dalam tulisan ini.


Dan, dan, dan, dan, dan...

Seperti yang telah disebutkan di awal, ada dua hal yang akan dibahas, yakni upaya kreatif dalam pencarian variasi bentuk-bentuk berbahasa dan katakmanutan pada kaidah bahasa yang bisa mengakibatkan ketidakjelasan utaraan. Masing-masing bagian akan diambil satu contoh saja sebagai sample sebab keterbatasan ruang tak memungkinkan untuk mengurai seluruh kalimat dalam cerpen ini. Namun yang perlu dicatat, karena seperti disebutkan di awal tadi, bahwa terjadi pertumpang-tindihan dan barangkali juga percumbuan mesra antara dua hal yang berseberangan ini, maka setiap bicara tentang yang satu begian tentu terkait juga dengan materi yang satu lagi. Untuk materi pertama akan diuraikan tentang variasi estetis pengarang dengan mengambil contoh paragraf pertama pada cerpen ini.
Seperti yang jadi judul bagian ini, perhatikanlah seringnya penggunaan kata dan pada paragraf ini. Secara variatif, kata dan ada yang berfungsi sebagai penyambung antar kalimat, antar klausa, antar predikat, dan dalam satu kalimat berfungsi sebagai penyambung rincian objek. Konstruksi paling dominan adalah penempatannya sebagai penyambung antar predikat. Pemberulang-ulangan kata dan ini tentu meghasilkan efek estetik bagi karya namun di sisi lain juga bisa menimbulkan kekurang-berjelasan dalam mengatur unsur-unsur kalimat. Pada kalimat pertama kita menemukan penyambungan antar klausa menjadi satu kalimat menggunakan urutan kata sambung dan-sementara-dan. Pola seperti ini tentu dipandang kurang terkaidah jika dilihat dari struktur bahasa. Setelah kita dihadapkan pada hubungan perbandingan antara klausa tiga terhadap kalusa satu-dua yang setara, tiba-tiba kita masih harus berhadapan dengan hubungan klausa tiga dengan klausa empat yang bersifat akibat-sebab. Tentu atas nama kemudah-dicernaan kalimat, pembaca berharap agar kalimat ini ‘diatur’ lagi supaya lebih sederhana dan ‘lancar’ membacanya, tapi dari segi estetik ternyata kita mendapatkan efek ritmik dari perulangan bunyi dan pada awal klausa dua dan awal klausa empat.
Dalam kalimat ketiga paragraf ini, didapatkan juga efek ritmik yang lebih dahsyat lagi dengan diulang-ulangnya kata dan beberapa kali. Cuma lagi-lagi harus terganggu dengan ketidaksepolaan antar klausa, dalam ilmu tatabahasa hal ini dicap dengan jargon tak setara. Antara klausa pertama dan kedua disambung langsung (perurutan langsung antar prediket) sehingga terlihat jadi satu klausa, lalu dengan klausa selanjutnya dimulailah pola sambungan tak langsungnya. Dalam rangkaian sambungan tak langsung antar prediket inipun ditemukan pola yang berbeda dalam hal jenis prediketnya. Ada yang tak diikuti kata-kata selanjutnya alias verba intransitif, ada yang diikuti objek saja, ada yang objek plus keterangan, ada yang keterangan doang, dan ada yang keterangannya itu sangat panjang. Semua seperti ditempatkan dalam pola yang acak, sehingga secara struktur dalam hal tadi kalimat tersebut tak lagi menunjukkan keritmisan.
Dalam paragraf lain kita bakal mendapati dan sebagai penyambung antar paragraf dua buah. Antar masing-masingnya diselingi satu paragraf tanpa diawali kata dan. Konstruksi ini cukup menghadirkan efek estetis. Selain ini tentu juga terpengaruh dengan penggunaan kata dan yang ‘royal’ pada paragraf-paragraf lain seperti contoh pada paragraf pertama.

Kekurang jelasan acuan setiap unsur

Untuk contoh kita akan mengambil kalimat empat paragraf dua. Sungguh ‘teramat betul-betul sangat’ banyak kata yang yang digunakan. Ada tujuh ‘biji’ kata yang terdapat dalam satu kalimat. Tapi kita tak usah terlalu tertakjub-takjub dengan pesona ‘yang’ dihadirkan. Biar tak terlupa dari tugas ‘yang’ harus ditunaikan. Marilah kita mulai penganalisisan secara gramatik terhadap kalimat kompleks dan mempesona ini. Dengan tidak mempersoalkan penggunaan kata dan di awal kalimat, kita mendapati bahwa kalimat ini merupakan jenis majemuk dengan klausa pertama berpola keterangan-predikat-subjek dan klausa kedua berpolakan keterangan-predikat-objek-keterangan dengan (uh! sayapun tak bisa menghindarkan diri dari menulis kalimat yang ini secara kompleks juga) catatan tambahan bahwa dalam klausa kedua terjadi pelesapan subjek, dan satu lagi catatan: Keterangan klausa kedua merupakan kumpulan kata-kata yang jumlahnya hampir mencapai ¾ kourum dari keseluruhan kata-kata dalam kalimat ini, dimulai dari berakhirnya kata terakhir fungsi objek dalam klausa kedua hingga berakhirnya kalimat.
Lalu masalah apa yang timbul dari struktur kalimat seperti itu? Pertama pembagian pola fungsional kalimat yang telah dilakukan di atas pun masih diragukan seandainya kita beranggapan bahwa klausa kedua dianggap hanya keterangan frasais dari subjek pada kalimat pertama atau dalam artian subjek klausa pertama telah mengalami perluasan subjek yang begitu ‘hebat’ sehingga kita anggap kalimat ini hanya terdiri atas satu klausa. Sayang, barangkali, ada penggunaan tanda koma antara subjek suara merdu dengan ‘sebrek’ kata-kata berikutnya. Itulah sebab dipilih opsi pembagian gramatikal seperti ditulis di awal. Kalau tidak, tentu bakal lebih dahsyat lagi kita membicarakan struktur kalimat ini sebab berhadapan dengan sebuah perluasan subjek yang tak tanggung-tanggung luasnya. Sementara, berdasarkan yang penulis ketahui, pembahasan bidang keilmuan linguistik sendiripun tentang ini masih belum memadai (sekali lagi sepengetahuan saya). Maka, apa yang harus dilakukan jika harus secara tertib dan taat kaidah melakukan analisis gramatikal (bukan sekedar mengikuti logika sendiri) terhadap hal yang disebutkan di atas?
Kembali ke analisis terhadap kalimat di atas, kedua, berdasarkan asumsi bahwa kalimat yang ‘baik’ itu memiliki keterpusatan pokok pikiran sehingga ‘memudahkan’ penilaian dan penganalisisan wacananya, pada klausa kedua, yang memiliki Keterangan super-panjang itu, kita menghadapi ke-bertebar-an ide dan peniadaan fokus terhadap topik. Pada setiap penggunaan kata yang, yang menyambung sekian kata-kata dalam kalimat kompleks ini, kita bisa menemukan bahwa wacana pada kata-kata sesudahnya mengacu pada kata-kata ‘yang’ sebelumnya, bukan pada topik kalimat. Barangkali kasihan kita melihat bahwa topik pada klausa ini (tentang suara yang memanggil tukang bakmi) harus terlupakan ketika kita berhadapan dengan cerita tentang malam yang dingin (dingin mengacu pada malam), berhadapan dengan cerita tentang hujan yang deras, deras yang menghanyutkan, dst...dst. Padahal jika kalimat ini mau jadi ‘anak baik’, sebaiknya setiap konstituen atau unsur yang terdapat dalam fungsi Keterangan klausa kedua kalimat ini, mengacu pada topiknya, ‘yang’ terdapat pada fungsi sebelumnya. Belum lagi kita ‘menghadapi kenyataan’ bahwa klausa kedua merupakan sebuah keterangan dari klausa pertama. Ya, tambah bertebaranlah pokok pikiran

***

Satu hal yang perlu dicatat adalah fakta bahwa kalimat tersebut merupakan kutipan dari sebuah cerpen. Cerpen, sebagai salah satu genre sastra – yang mengkreasi bahasa, wajar kita ‘ketemukan’ lagi nakal mempermainkan unsur-unsur bahasa. Dalam kumpulan cerpennya sendiri ( yakni : “Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta” ), ia pun mendapat tempat tersendiri sebagai cerpen dengan kalimat terkompleks, barangkali terumit, tapi yang pasti melelahkan. Kerumitan yang didapat dari cerpen ini sebenarnya bukan pada isinya ( dalam kumpulan cerpennya tadi masih banyak cerpen lain yang lebih rumit secara isi ), melainkan pada struktur kalimatnya. Betul-betul pada struktur kalimat doang. Pada isi dan teknik cerita sebenarnya sederhana saja. Namun fenomena menarik yang didapat adalah bahwa sturktur kalimat yang rumit ini mungkin juga berpengaruh pada timbulnya ketakjelasan pada struktur cerita pada beberapa bagian. Terlalu sibuk dan bersemangatnya pengarang untuk mendeskripsikan suasana dengan sangat, sepertinya, terdesak-desak dan memaksa-maksakan, berakibat pada lupanya ia mengatur posisi dimana tokoh berperan sebagai pencerita. Dan ini, sekali lagi, diduga karena tipikal kalimat yang sangat memanjang-manjang, dan seperti dijelaskan di atas, membuat bertebarannya pokok pikiran.
Terakhir, dari segi variasi kreatifitas bahasa, sebetulnya gaya itu cukup menarik. Cuma sekarang bagaimana mengatur supaya pola yang dikreasi tidak membingungkan, alias masih bisa dianalisis logikanya, dan jangan sampai malah menimbulkan efek pada hal lain, seperti struktur cerita dalam hal ini.





-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

MERANTAU KE JATINANGOR

Judul tulisan di atas mungkin memang terdengar menlankonlis, tetapi sungguh tulisan ini bakal berupa paparan yang realistis. Jadi, tulisan ini bukanlah runtutan kata-kata puitis. Betul-betul fakta nyata yang bakal diungkapkan yang paling, penulis bakal berusaha menyajikan dengan sedikit manis. Setidaknya telah dicoba pada judul sebagai pembuka wacana. Isinya sih, sepertinya, hanya berupa sebuah deskripsi layaknya berita saja. Tentang sebuah tempat bernama Jatinangor, dimana terdapat empat perguruan tinggi berdiam disana. Unpad salah satunya.
Universitas Padjajaran (Unpad), rasa-rasanya nama ini sudah cukup dikenal dimana-mana. Sebagai salah satu perguruan tinggi negeri yang tergolong papan atas dan dalam barisan perguruan tertua, dan juga apalagi terdapat di Pulau Jawa, Unpad memang cukup punya nama di republik ini. Apalagi buat para pelajar SMU dan sederajat, yang bakal segera melanjutkan studinya sebagai mahasiswa dari sebuah universitas, nama Unpad memang cukup menjanjikan buat dijadikan pilihan. Budaya sentralistik yang masih cukup terasa dalam dunia pendidikan di Indonesia membuat Unpad menjadi salah satu pilihan yang sangat dicita-citakan oleh para pelajar dari seantero nusantara. Setiap awal tahun ajaran, akan berduyun-duyunlah para calon mahasiswa dari berbagai daerah akan menapak kaki guna melanjut studi ke sini. Ke Jawa Barat? Ya. Ke Bandung? Tunggu dulu.


***
Pagi yang cerah, rumput-rumput terlihat basah, angin semilir membelai bunga-bunga yang hendak merekah, terkadang alam memang ada masanya untuk terlihat indah. Di hamparan lereng pada kaki bukit ‘Gunung’ Manglayang, disanalah sekarang sebagian besar Fakultas dari Universitas Padjajaran melangsungkan kegitan perkuliahan. Setahu orang awam, memang kampus Unpad itu terletak di Kota Bandung. Dan memang, rektorat, dua buah fakultas yakni hukum dan ekonomi,gedung-gedung program sarjana serta doktoral, dan beberapa unit ‘kecil’ lainnya masih dipertahankan tetap berada di Bandung. Tetapi selain yang tadi semua fakultas yang ada di Unpad telah dipindahkan ke Jatinangor, termasuk sekretariatan dari unit-unit kegiatan mahasiswa. Sehingga, buat para calon mahasiswa Unpad dari berbagai daerah setiap tahunnya, kalau Anda tak dihukum atau diekonomikan, bersiap-siaplah untuk menggabung menjadi penghuni Jatinangor. Setidaknya di saat perkuliahan bagi mahasiswa yang memilih tinggal di Bandung, tak mengontrak tempat tinggal di sini. Jadi, seperti apakah Jatinangor itu?
Jatinangor adalah sebuah kecamatan yang sudah termasuk wilayah dari Kabupaten Sumedang. Tetangganya Kabupaten Bandung yang tetangganya Kota Bandung. Jadi, dari Unpad pusat ke kampus yang ‘dipinggir’ ini, seseorang akan melalui jalan-jalan dari satu kota besar dan dua kabupaten. Meski kelihatannya cukup dramatis juga, sebetulnya, jarak yang ditempuh tak lah terlalu jauh. Dalam setengah jam, kadang, dari Bandung, Jatinangor bisa dicapai sebagai tujuan. Terserah, jika ini dianggap masih cukup lama dan bikin lelah. Kecamatan Jatinangor ini tepat berada setelah keluar dari jalan di Kabupaten Bandung. Berturut-turut akan dijumpai berjejer cukup berdekatan empat perguruan tinggi yang ada disini, STPDN, Ikopin, UNWIM, dan terakhir Unpad. Dan jalan seterusnya menuju hingga Kota Sumedang. Akan terlihatlah, sepanjang daerah kampus yang dilabeli kawasan pendidikan tinggi ini, dempetan bangunan rumah-rumah kost yang ditinggali oleh para mahasiswa yang merantau mencari ilmu ke Jatinangor. Juga disepanjang pinggir jalan, terdapatlah deretan kios-kios atau warung makan yang tentu masih berhubungan dengan ‘kebutuhan anak kost di perantauan’. Bagaimana perikehidupan mereka di Jatinangor? Dan sesuai dengan tujuan tulisan ini, tentang kehidupan mahasiswa rantau di tempat ini, menunjangkah tempat ini bagi cita-cita pendidikan mereka?
Berbicara tentang kebutuhan sehari-hari di Jatinangor, seperti yang juga telah disinggung sedikit sebelumnya, telah banyak warung makan atau kios-kios secara alami juga tumbuh di tempat ini, baik milik penduduk setempat atau para perantau pula yang mencoba mengais rejeki. Segala kebutuhan terkait kegitan perkuliahan para mahasiswa semacam rental komputer, warung fotokopi, atau toko-toko peralatan tulis yang istilahnya stationery, juga cukup memadai tersedia disini. Sebab memang, dimana ada gula disitu ada semut. Siapa pula yang mau membiarkan tempat meraup rejeki luput. Begitu juga toko-toko peralatan rumah tangga, wartel, gerai seluler dan foto, hingga rental komik dan playstation. Bahkan saat ini, sampai ada pula yang buka toko baju bekas dan dasi-dasi. Dua mini market yang cukup besar telah pula membuka cabangnya disini. Memang semakin lama, soal perimbangan ekonomi antara distributor dan konsumen, sesuai hukum pasar, semakin pula terpenuhi. Cuma, soal toko buku yang memadai atau sarana hiburan yang lebih ‘mengota besar’, orang-orang Jatinangor perlu ke Bandung guna mendapatkannya. Bagaimanapun, Bandung tentu lebih memiliki konsumen dibanding Jatinangor yang semula hanya wilayah pedesaan hingga didatangi oleh manusia-manusia yang bergaya ngota.
Tentang sarana olahraga, yang tentu dibutuhkan demi kebugaran mahasiswa sebagai bibit-bibit unggul generasi penerus intelektualita bangsa dalam era pembangunan setelah lebih dari setengah abad merdeka ( dari Belanda ), pun cukup memadai. Sarana-sarana yang terdapat dilingkungan kampus, pun tentu bisa dimanfaatkan. Sekurang-kurangnya, lari pagi di sekeliling kampus, pun akan terasa sangat menyenangkan sembari menyaksikan kesegaran alam, dan tentu membugarkan. Kemudian mengenai rumah kontrakan. Semakin hari semakin bertambah pula jumlah kost-kostan di Jatinangor yang bertebaran di seputar kawasan pendidikan tinggi Jatinangor. Memadai, kalu tak harus dibilang berlebih. Tetapi disini pulalah salah satu masalah yang muncul. Kebertambah padatan penduduk Jatinangor dari hari ke hari dianggap telah overlap terhadap daya dukung alamnya dalam hal kebutuhan air. Setiap musim kemarau, wilayah Jatinangor yang sebetulnya tergolong kering juga akan membuat menjerit sebagian rumah kost yang kesusahan mendapatkan air. Memang inilah salah satu titik isu dalam mempertanyakan perihal seperti kebijakan pemindahan kampus Unpad ke Jatinangor. Makanya, sebenarnya, Jatinangor juga tak seindah seperti yang pernah digambarkan sebelumnya tadi. Sebuah bukit yang berdiri tegap memagari kawasan ini dari arah timur bernama ‘Gunung’ Geulis ( geulis artinya cantik ), yang terlihat begitu rimbun dan sedap dipandang saat tetanahnya masih cukup basah, akan terlihat seolah gundukan gurun pasir saja kala kemarau t’lah tiba. Bagi mahasiswa rantau yang cukup berduit, tinggal di kost-an elit, dengan sistem pompa air yang komplit, hal tersebut tentu tak bakal jadi persoalan sulit. Ataupun mereka bisa memilih untuk tinggal di Bandung saja sebab urusan doku tak lah jadi perkara.
Pembicaraan terakhir yang seperti-nya perlu dibicara-i terkait dengan peri-hidup mahasiswa rantau di Jatinangor adalah mengenai proses akulturasi biaya. Tak pelak lagi, sebagai sebuah tempat bertemunya berbagai orang dengan berbagai asal budaya akan menghadirkan keunikan tersendiri pula dibanding pola kehidupan masyarakat homogen yang lebih berpola tetap. Satu hal yang perlu ditekankan mengenai pola perikehidupan multi kultur disini adalah bahwa sebagian besar pendatang tersebut adalah berstatus mahasiswa. Tentu sopan santun sikap formal akademistis akan menjadi perihal yang menyatukan di lingkungan kampus. Diluar lingkungan mahasiswa, sebab yang saling mengadakan kontak sosial disini sebagian besar merupakan manusia yang berstatus mahasiswa, tentu hal-hal mengenai gesekan sosial yang bersifat bar-bar lebih dapat dihindari. Bagaimanapun, berbeda mungkin dengan universitas semisal yang terdapat di Jakarta, disini budaya dan kultur sunda masih cukup mendominasi. Lagian, para perantau itupun sebagian besar juga masih berasal dari wilayah Jawa Barat, tatar tanah Pasundan, Banten, Cireboan, maupun Parahyangan. Bagi para perantau dari budaya luar sebenarnya cukup menyenangkan menyesuaikan diri dengan budaya sunda yang terkenal kehalusannya. Paling kemudian persoalan kedua yang perlu juga diperhitungkan adalah mengenai pertemuan antara budaya ngota dengan budaya yang ndeso. Dengan tetap budaya intelektualitas membayang-bayangi, kedua hal tersebut saling tarik menarik membentuk tipikal penghuni Jatinangor. Oposisi tersebut bisa antara orang dengan budaya Bandung yang ngota tersebut dengan keluguan suasana penduduk setempat yang bagaimanapun aslinya adalah orang desa atau antara mahasiswa yang berasal dari kota besar dengan mahasiswa dari daerah-daerah pelosok. Tetapi upaya mudernitas sepertinya tetap jadi ukuran yang membuat kita maklum akan tradisi-tradisi lama yang, sepertinya lagi, terus terkalahkan.

***
Demikian paparan apa adanya yang dapat penulis kiranya sampaikan. Memang sepertinya tulisan ini betul-betul paparan deskriptif biasa yang tak seromantis judulnya, seperti yang juga telah dikemukakan di awal. Tapi mudah-mudahan, bagaimanapun semoga saja, judul tersebut bisa memaniskan paparan ini. Selain itu, paparan ini memang sepertinya terlalu umum karena memang penulis tak lebih mengkhususkan lagi satu objek paparannya. Sehingga, banyak detil yang tak terlalu lengkap dan kajian yang tak terlalu dalam. Untuk deskripsi umum tentang mahasiswa yang (akan) merantau ke Jatinangor ini, penulis merasakan hal-hal tersebut adalah cukup berkecukupan. Begitulah sebuah tempat bernama Jatinangor, begitulah kira perihal yang bakal ditemukan para mahasiswa yang bakal menghuni Jatinangor. Dan jika Anda jadi berminat untuk datang kesini, ketika kendaraan Anda mulai keluar dari wilayah kabupaten Bandung, di pintu masuk Jatinangor akan Anda temukan sebuah plank melintas jalan bertuliskan : “Anda memasuki kawasan pendidikan tinggi Jatinangor, silakan mengurangi kecepatan!”.





-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...