Senin, 16 Mei 2005

nah, ini lagu lokal

HERMAN
KARANGAN: PADA SUATU HARI

Aku herman, eh, heran? Untuk kedua kalinya aku melewati tempat itu, laki-laki tersebut masih saja disana. Apa mungkin memang karena hal itu? Masa iya sih, Kekuatan ©inta itu sebesar (I)tu? Alaahhh...
Waktu pertama kali melihatnya, kemaren malem, aku sudah menduga. Bagaimana tidak. Kira-kira apa yang akan muncul di benak para pembaca budiman sekalian, melihat seorang pemuda atau (barangkali masih remaja) sedang berdiri nggak jelas di gang sempit depan sebuah pondokan (kost) putri. Gelap-gelapan dan sendirian. Nggak ada orang lain, sebab tempat itu memang sekedar jalan kecil yang sesekali dilewati. Sekedar dilewati. Kecuali tempat keluar masuk para penghuni pondokan putri tersebut. Dan se-pengetahuanku, seperti umumnya tempat ngekost kaum putri, tempat itu termasuk yang sepi dari aktifitas ramai-ramai. Pintu pondokan itu selalu tertutup, sekedar dipakai keluar masuk lalu tertutup lagi. Dan belum pernah aku melihat ada penghuni pondokan tersebut yang duduk-duduk ngerumpi di luar. Apalagi orang lain. Depan pondokan kost putri tersebut betul-betul hanya sebuah gang sempit, sepi, dan sekali lagi sekedar berfungsi sebagai tempat lewat.
Namun malam itu aku bertemu sebuah fenomena baharu. Seorang cowok terlihat melakukan sebuah aktifitas aneh, meski tak hiruk pikuk. Orang itu seperti terlihat linglung, berdiri setengah mematung di pinggir jalan depan pintu bangunan tersebut. Saat aku lewat kusempatkan beberapa kali mata ini untuk melirik, lagi ngapain sih cowok itu. Tapi yang tertangkap oleh mataku adalah gerak-gerik seperti bingung dari orang itu. Sembari bola matanya, aku perhatikan: sepertinya melihat-lihat sesekali ke arah atas, ke sebuah jendela kamar barangkali. Ah, seorang pecinta yang sedang dilanda asmara barangkali, aku membahatin.
Duh cinta. Kadang aku berpikir dunia ini membuang terlalu banyak waktu untuk urusan cinta. Ya, cinta yang seperti itu. Padahal masih banyak perihal urusan lain yang sebetulnya membutuhkan kerja keras yang fokus dari umat manusia guna menyelesaikan`nya. Walau yang dimaksud selesai itu bisa juga berarti sebetulnya belum selesai, tapi setidaknya telah ada usaha manusia untuk memperlihatkan tanggung jawabnya terhadap kewajiban`nya. Manusia berkewajiban untuk mengurus kehidupan bersama. Dan di tengah semakin menggilanya urusan kehidupan bersama di tengah-tengah muka bumi yang makin penuh sesak ini, manusia sebaliknya malah makin menunjukkan ciri mengurus kepentingan pribadi sendiri-sendiri. Kolektifitas semakin amblas. Dan ke=amblas=an tersebutlah yang telah menjadi sebuah kolektifitas. Seperti sebuah kesepakatan bersama untuk men-degradasikan adab dan kebudayaan. Ke jurang setan. Setan apa yang membisiki pemuda tadi itu, untuk tegar berdiri demi cinta disitu?
Tapi kupikir nggak juga. Cinta, meski dalam pengertian cinta yang begitu, bagaimanapun adalah hak asasi dan hasrat alami dari seorang anak manusia. Lagian aku pikir manusia tentu juga punya kewajiban untuk memenuhi tuntutan nalurinya. Sebagai sesuatu yang alami, sebagai sesuatu yang asasi. Juga, hadits itu kan hanya berlaku untuk orang yang ketiga. Sementara pemuda itu sendirian. Tapi hasrat suci itu?
Sempat aku berpikir bahwa dia waktu itu sedang menunggu salah seorang perempuan yang tinggal di pondokan putri itu. Jadi mereka sudah resmi, atau semi-resmi lah. Akan tetapi, sebagai tamu “resmi” semestinya ia tidak berdiri-diri seperti orang linglung gitu. Setidaknya ia `kan bisa duduk tenang di sebuah kursi kecil yang tersedia di teras kecil depan pintu kost-an tersebut (meski sekali lagi belum pernah aku melihat ada orang duduk-duduk disana). Maka walhasil, ditambah kenyataan yang kutemui barusan, asumsiku tadi rasanya gugur. Maka walhasil lagi, waktu itupun aku sudah menduga yang macam-macam pada pemuda itu. Dari maling, tapi rasanya sangat nggak mungkin, sampai yang terakhir…. Dari gelagatnya aku menduga kuat ia-lah sang pencinta yang sedang menunggu. Dalam artian yang sebenar-benarnya dari kata menunggu. Menunggu yang entah sampai apabilakah.
Cengeng. Dalam hati aku mengutuki, beginilah mental pemuda-pemuda dan remaja-remaja tanggung di negeri ini. (Titanic, Cassablanca, Laila Majnun, dan berbagai telenovela sebaiknya lupakanlah saja dulu). Terlaluuu…banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal seperti itu. Jujur saja, bukan berarti aku seseorang yang tak pernah jatuh cinta. Apalagi waktu sama si…akupun bisa merasakan betapa dahsyatnya saling mencinta. Dan ya, taroklah kami mencintai masih dalam artian yang begitu juga. Cintaku saat itu adalah yang terbaik hingga saat ini, bahkan aku sempat berpikir: sampai kapanpun. Hingga saat berakhirnya tiba. Ah, saudara-saudara sendiri bayangkanlah betapa hancur dan remuk rasanya hati ini. Huhh. Tapi seberapapun hancur, perih, dan sakitnya, aku tak mau menghabiskan waktuku hanya untuk hal yang seperti itu. Dan sejak dulu, aku memang mempunyai prinsip seperti itu.
Ketika melihat berbagai persoalan kehidupan umat manusia di muka bumi ini, matahatiku jadi terbuka lebar pada perkataan seorang kawan bahwa jalan kehidupan itu tak hanya selebar renda kolor wahai teman. Aku memilih untuk menjadi seseorang yang tak hanya bergulat dengan kepentingan sendiri dan hanya berpikir selingkung kanan sekitar kiri - yang selain disini ogah peduli. Aku memilih untuk tak sekedar binatang. Sekedar memenuhi naluri hasrat pribadi. Aku merasa punya tanggung jawab sebagai bagian dari keseluruhan masyarakat, sebagai yang menumpang-tinggal di muka bumi, sekedar menumpang hidup dalam jagad kehidupan. Adakah si pemuda pe..pe..pecinta itu mengerti. Aduh kawan, kenapa hanya berdiri disitu. Masih banyak yang lebih harus untuk kau kerjakan. Masih banyak yang lebih-mesti dipikirkan. Jangan menghabiskan sedikit waktu ini hanya untuk berkutat soal itu…
Tapi jujur saja, sebagai sesama manusia, aku empati juga sih terhadapnya. Masih kuingat air mukanya yang terlihat penuh damba itu. Saat ini sepertinya ia betul-betul seorang pecinta sejati. Aku tak boleh memaksa bahwa dia juga harus memikirkan bagaimana untuk membuat lebih baik peri-kehidupan masyarakat dunia. Saat ini, dia tak perlu memikirkan bagaimana dana program minyak untuk pangan di Irak dikorupsi. Biarlah, untuk saat ini tak perlulah ia ikut-ikut pusing memikirkan bagaimana cara sebaiknya bagi bapak presiden serta staf-stafnya guna memberantas tikus-tikus yang berkeliaran di lingkungan istana negara. Tak perlu ia ikut berpikir bagaimana sebaiknya mengatur sampah kota ini setelah beberapa waktu lalu dirudung sebuah masalah. Biarkanlah saat ini ia membangun dunianya berdua dengan kekasih yang ia cinta. Biarlah, hanya mereka berdua. Tapi lihatlah saudara-saudara, andai anda-anda bisa menyaksikan langsung. Ia berdiri, seorang diri, disana. Sendiri menabur asa.
Sekarang aku betul-betul kuatir. Jangan-jangan betul dia sudah sedari kemaren malem tetap berdiri disana. Pakaiannya sepertinya masih yang itu juga. Raut wajahnya masih seperti yang kemaren jua. Gerak-geriknya, masih begitu pula. Gila? Tidak. Aku tahu dari sorotan matanya, ia-lah seorang pecinta. Kalaupun gila, gila akan cinta (meski cinta dalam artian yang…, ya, begitu). Para pembaca yang budiman, andai anda-anda sekalian melihat sendiri raut wajahnya saat itu, yakin aku betapa akan sangat bersimpati pula dirimu. Air mukanya betul-betul seperti seorang yang teguh mengharap pada yang dicinta. Demi cinta, ia rela dilihat penuh janggal oleh setiap orang yang lewat. Dan ia lebih tak peduli lagi. Ia akan tetap ingin mencintai untuk kurang lebih seribu tahun lagi. Dari kemaren malem sampai ini pagi, ketika kulewati lagi tempat ini, ia masih…masih terlihat menatap penuh harap akan runtuhnya hati kekasih yang di dalam jiwanya menggelora. Cinta itu dahsyat. Sebuah truk lewat pernah kulihat ditempeli pada kaca depannya kata-kata: beratnya cintamu tak seberat muatanku. Kini aku tak percaya. Keteguhan pemuda itu membuat aku yakin bahwa cinta sungguh lebih dalam dari Samudera.
Aku kuatir, sumpah sangat kuatir. Waktu barusan lewat, aku melihat betapa bertambah linglungnya itu pemuda. Kemana engkau wanita, jadi aku yang bertanya. Oh iya, aku harus menanyakan ini padanya. Sama cowok itu. Setidaknya sekedar mengajak bicara, membuat ia membagi sebagian gejolak hatinya yang kian..dan kian membara. Ini waktunya.menampilkan empati dan hati nurani kepada sesama manusia. Aku harus kembali lagi menemui lelaki itu. Bagaimanapun, harus aku bantu.

***

Ternyata, pemuda itu adalah adik kandung dari salah seorang penghuni kost-an tadi. Pemuda tersebut menceritakan bahwa ia datang jauh-jauh dari kampung halamannya yang sangat jauh sengaja untuk menemui kakaknya. Ada sebuah masalah keluarga, katanya, yang tak bisa diceritakan lebih jauh. Yang jelas, katanya lagi, kakak ceweknya itu tak mau menemuinya. Sementara, ia harus dan sangat penting untuk menemui kakak ceweknya itu. Dan ia tak diperbolehkan memasuki tempat kakaknya tersebut. Akhirnya, setelah menitipkan barang-barang bawaannya di sebuah warung tak jauh dari situ, ia sedari tadi malam berdiri di tempat itu untuk terus membujuk kakaknya yang berkebetulan berkamar di atas yang dari depan terlihat jendelanya. Katanya lagi, ia sudah berbicara berjam-jam dengan setengah berteriak untuk membujuk kakaknya dari depan pintu atau pinggir gang sempit itu. Meski kalau ada orang lewat dia diam dulu. Malu, katanya. Tentu saja ia kecapek-an sekarang. Barangkali sebab itu pula ia tak malu-malu untuk menyetujui ketika tokoh Kami ngajak minum-minuman seger dulu di sebuah kantin. Kelihatannya, memang, ini semata gara-gara tokoh Kami kasihan. Tetapi sesungguhnyalah daripada itu, tokoh Kami yang cerdas itu sebetul-betulnya berniat untuk mengetes kebenaran ungkapan sang cowok tersebut. Seperti Anda barangkali, Kamipun sempat tegang juga mengikuti jalan cerita ini dan sempat curiga pula akan pengakuan sang cowok tersebut. Akhirnya dari Kami, sepakat dengan simpulan tokoh Kami bahwa pemuda yang menjadi sumber konflik dalam cerita ini tersebut adalah (diputuskan) Jujur. Maka Kami ikhlaskan duit yang dipakai oleh tokoh Kami guna mentraktir pemuda tersebut. Alhamdulillah, heppi ending.

Jatinangor, 15 Mei 2005