Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2008

URBAN SAMUEL MULIA

Ini semua adalah penggalan2 kutipan gw dari tulisan2 Samuel Mulia pada kolom urban di Harian Kompas. Saya sangat suka membaca kolom katartik ini. Semula ini sy muat di wordpress, sekarang dirapel aja ke blog ini. Untuk memeriksa sumbernya silahkan selancar ke situs kompas. Alamat artikel2 tersebut sudah diobah2 sama pengelola websitenya, marah kalee dikutil ama saya. Belum ngalamin katarsis tuh orang, bener ga Mas Sam? Atau mereun oge demi kepentingan bisnis (atau legalitas) semata. Okay, selamat tersudut dan berkaca...


Mbak Anna
Mei 31, 2008 by wewem

Saya menyaksikan tayangan itu, juga melihat bagaimana air mata menggenang di ujung mata Mbak Anna, sambil kira-kira berkata begini, ”Saya itu tidak pernah terpikir untuk ditinggalkan. Tetapi, sekarang saya harus belajar menjadi mandiri.” Saya turut menangis di dalam hati karena saya pernah merasakan bagaimana ditinggalkan dan menjadi mandiri dan sendiri.

Buah macam apakah saya? Saya tak akan berbicara soal menjadi mandiri dan menjadi sendiri…

Tulisan2 lainnya dari blog wordpressku

Puisi Perlawanan
Agustus 15, 2007 by wewem

Keating, sang guru, merobek halaman Pelajaran Puisi yang telah lama menjadi acuan itu. Ia menyuruh muridnya merobek, berontak dari aturan. Ia ingin muridnya merasakan bagaimana sesuatu (puisi) diciptakan. Yang menarik dari film ini bukanlah akhirnya yang tragis(tik). Seperti Chairil, arah tidak begitu penting, melainkan keberanian menjelajah. Chairil begitu kuat dan begitu bersemangat...

http://www.padangekspres.co.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=4592




Bisikan Sastra Perang
Desember 9, 2007 by wewem

Esei Binhad Nurrohmat

Watak kesusastraan peka pada tragedi, dan di antara tragedi terbesar bagi umat manusia adalah perang. Perang merupakan tragedi yang tak sebatas membinasakan tubuh dan melenyapkan peradaban manusia. Ketika krisis dan kegundahan di Eropa merebak pada 1935 dan dihantui luka Perang Dunia I, Jean Girauduoux menyelipkan sebaris kalimat jitu tentang bahaya perang yang paling mengerikan ke dalam dramanya, La guerre de T…

Me nuju,

Dalam zaman poskonstruksi ini, barangkali, lenyap sudah esensi karena yang tampak ada hanyalah representasi. Dalam struktur sosial yang makin liar dan berlain seperti sekarang dan ke depan nanti, orang (kebanyakan) terlalu dipusingkan oleh efek jejaring multimedia yang disesakkan ke batas nalarnya sehingga memfosil sudahlah yang bernama sumber, sejarah, asal muasal, dan awal mula. Kita (mereka) telah terlalu jauh berjalan ke keramaian ujung kehidupan sana dan melupakan pangkal yang, barangkali, sudah tak dapat lagi diperiksa “apa”nya. Evolusi (kalo pun ada) barangkali tak semulus dugaan engkau karena “Perfection is achieved not when something cannot be added, but when something cannot be taken away”.

Desember 11, 2007


---------------------

key:
perfect something representasi struktur sosial efek multimedia sumber evolusi perfect something representasi struktur sosial efek multimedia sumber evolusi perfect something representasi struktur sosial efek multimedia sumber evolusi perfect someth…

LAGU BARAT

ID 1428 H

lebaran lagi lebaran
kembali kuberteduh di indahnya warna warni islam
“dalilnya apa idul fitri jadi arena maaf maafan, apalagi ketupatan
dan ajang amplop amplop an?” ujar seorang kawan salaf ku.
memang iman telah bersejalin dengan modal model mondiel peradaban
dan budaya itu terbentuk — tak lain takbukan — berasas selera jua kan?
maka di ritual ini: segelintir rang-orang (cenderung) suci
berhari raya bersama-sama dengan para dasamuka ini.
perayaan sosial spt ini, jadi pewadah untuk kita melupakan:
tumpukan rasa berdosa di sedalam dalam sanubari sendiri
karena semua orang berpeci berkoko berjilbab dan ber-”assalammua’laikum”
takaran mata mata duniawi mendustai hisaban sejati,
alhamdulillah, semua kembali ke Fitri.
“semoga tambah soleh..” seru teman ikhwanku.
kesolehan ini, men, akan kupertaruhkan di hadapan tuhan
bukan acting picikan cinetron cinetron murahan!
pi tetapi, di ritual bersama ini, relasi sosial adalah pencipta ukurannnya

spt roadshow kroni kroni politik
yang maklumin maklumin aja
be…

Ayat-Ayat Cinta, ceileee

kemaren, akhirnya, ikut2an juga nontonin Ayat2 Cinto. setelah seminggu ndak kena sinar mentari, maklum gw kembali lagi ke siklus kehidupan jahiliah: siang waktunya tidur dan malam nyari inspirasi, akhirnya tak ada awan tiada angin muncul bang zal ngajak liat2 film cemen itu. dan seperti sudah kuduga, meski keliatannya banyak juga orang yang terharu, saya merasa ndak begitu rame dibanding saat baca yang lebih mengoyak perasaan di novelnya sendiri. tapi ini yg lebih bikin kesel, orang2 menyangka kami pasangan gay (padahal sama sekali benar, haha). maklum gw datangnya sama mai… alias mairizal, haha. langsung aja si mai tapi rizal ini melabrak salah seorang di sana:
“apa lu bilang gw homo?!”
“enggak, gw ndak bilang.”
“ayo ngaku aja lu mau bilang gw ini homo!”
“suerr bang, awak ndak ngomong apa2 dari tadi….”
“itu mimik muka lu seolah2 mau bilang bahwa kami ini homo brengsek!”
“hah?”
ia tumbuk bibir orang yang terlihat monyong keheranan itu. walau yang bersangkutan tidak mengucapkan langsung tuduh…

Tegar by Rossa; Kareh Kapalo by Guwwa

Abraham Lincoln, bapak bangsa america najis yang tak satu pun rang sinan di ateh tujuah taun nan dak kenal dari timur lawik boston city sampai semenanjung california kecuali idiot atau gilo, pernah bersabda: “Lebih baik memberi jalan Anda kepada seekor anjing daripada digigit olehnya dalam pertarungan untuk memperoleh hak. Bahkan membunuh anjing itu tidak akan menyembuhkan gigitannya.” Inilah salah satu kesalahan terbesar (might be & katanya seeh) dalam hidupku yang membuatku mati ditikam berkali2 sehingga di pemakaman nanti seseorang akan menuliskan sajak untuk diriku nih:
Di sini berbaring tubuh William Jay,
Yang meninggal karena mempertahankan
haknya –
Dia benar, benar sekali, sebagaimana dia
terus melaju,
Tapi dia persis sama matinya seakan-akan
dia bersalah (Boston).

Mati Lampu

Buyung: Neng, kamu bisa ke rumah gak hari ini?
Si Eneng: Iya. Ada apa?
Buyung: Ini. Di rumah lagi mati lampu. Kamu bisa ke sini kan.
Si Eneng: Bisa sih, diusahain. Tapi kenapa musti aku.
Buyung: Gini loh, di sini lagi gelap banget. Terangin dong kehidupan gw dengan cahaya cinta loe…

tez

apakah dah bener
any i love u

mudah2an
ndak gagal lagi

spacenya