URBAN SAMUEL MULIA

Ini semua adalah penggalan2 kutipan gw dari tulisan2 Samuel Mulia pada kolom urban di Harian Kompas. Saya sangat suka membaca kolom katartik ini. Semula ini sy muat di wordpress, sekarang dirapel aja ke blog ini. Untuk memeriksa sumbernya silahkan selancar ke situs kompas. Alamat artikel2 tersebut sudah diobah2 sama pengelola websitenya, marah kalee dikutil ama saya. Belum ngalamin katarsis tuh orang, bener ga Mas Sam? Atau mereun oge demi kepentingan bisnis (atau legalitas) semata. Okay, selamat tersudut dan berkaca...


Mbak Anna
Mei 31, 2008 by wewem

Saya menyaksikan tayangan itu, juga melihat bagaimana air mata menggenang di ujung mata Mbak Anna, sambil kira-kira berkata begini, ”Saya itu tidak pernah terpikir untuk ditinggalkan. Tetapi, sekarang saya harus belajar menjadi mandiri.” Saya turut menangis di dalam hati karena saya pernah merasakan bagaimana ditinggalkan dan menjadi mandiri dan sendiri.

Buah macam apakah saya? Saya tak akan berbicara soal menjadi mandiri dan menjadi sendiri, tetapi saya mau belajar dari Mbak Anna untuk menjadi setia dan memaafkan. Kedua hal itu membuat hati saya tambah menangis.

Kalau saja saya bisa seayu Mbaknya, wah… saya pasti sudah jadi kupu-kupu. Gonta-ganti pacar. Sama artislah, sama anak pejabatlah, sama pejabatnya juga sekalian, sampai sama anak pak RT. Wah, pasti saya masuk berita selebriti.

Yah… kalau saya cantik seperti Mbak Anna apakah saya akan tetap menjadi istri setia seperti Mbak Anna atau saya menjadi wanita penggoda suami orang? Kalaupun saya akan tetap setia pada suami saya, apakah saya juga punya simpanan muda yang segar seperti buah di samping suami saya?

Saya tertampar karena selain tak setia, saya malas memberi pengampunan kepada siapa pun sampai dua kali. Buat saya itu terlalu banyak. Dua kali memberi pengampunan untuk kesalahan sama, itu berat. Tetapi, dua kali berbuat mesum yang sama, buat saya kurang. Kurang banyak, maksudnya…

http://www.kompascommunity.com/index.php?fuseaction=home.urban






Bos Kepret
Mei 31, 2008 by wewem

Di ruang rapat klien saya, suatu sore, kami membahas para bos dan tentu simpanannya. Salah satu teman dari teman saya seorang wanita yang kalau melihat sosoknya saya memperkirakan ia adalah wanita yang jauh dari memiliki aktivitas neko-neko. Seorang wanita separuh baya, yang biasa sekali, seperti wanita kebanyakan. Tak ada yang istimewa. Bahkan kepala saya yang biasanya punya sirene simpanan pun tak menyala dan berbunyi.

Beberapa menit setelah diperkenalkan, teman saya langsung nyerocos dia ternyata wanita yang berpredikat piala bergilir. Saya sampai kaget, tak percaya. Bahkan bertanya dalam hati, apa yang mau digilir?

Bos muda yang baru kembali dari negeri Uncle Sam atau uncle lainnya dan tiba-tiba merasa memiliki kepandaian dan pengalaman di atas rata-rata. Umumnya very bossy, mudah marah, tak mau mendengar, dan tak bisa berbahasa Indonesia, tetapi kembali ke negeri ini karena di negeri Uncle Sam yang pandai atau bodoh tak cuma dia.

Bos macam ini senangnya disanjung. Anda tak usah marah, sanjung saja, kemudian jatuhkan. Perlahan, tanpa ia rasakan. Itu kalau Anda mau.

http://www.kompascommunity.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=61999§ion=103





Rumahku (Bukan) Istanaku
Mei 31, 2008 by wewem

Tamu-tamu pria si selebriti pencinta seks bebas itu juga berstatus selebriti. Ada seorang ayah dan anak lelakinya mencicipi tubuh yang sama, hanya jam kunjungannya berbeda. Apakah di kamar tidur saya juga meniduri pasangan sendiri setelah saya meniduri PSK? Apakah rute perjalanan seksual saya sudah seperti rute berwisata? Dari rumah ke PSK, kemudian ke rumah simpanan wanita, ke rumah simpanan pria berotot, terus ke PSK lagi, baru ke ranjang istri.

Apakah rumah saya juga tak beda dengan rumah bordil di mana saya bisa menerima tamu-tamu saya untuk meniduri saya? Ranjang yang berkeringat dari peluh percabulan yang nikmat? Saya sampai sudah tak mampu lagi menghormati alat kelamin saya sendiri. Mungkin saya perlu latihan menghormati alat kelamin itu sambil berteriak lantang, ”Hormat kelamiiiiiin, grak!”

Selain soal esek-esek, apakah rumah saya juga seperti jerat yang dipasang untuk para ”tikus”?

Setelah semua kemaksiatan itu terjadi, datanglah saatnya—satu bulan sekali—saya membersihkan rumah dengan sabun cuci berupa membuka pintu untuk manusia bertakwa yang berdoa. Yang menaikkan pujian kepada Allah Yang Maha Besar Lagi Pemurah. Kalau sudah begitu, saya selalu punya asumsi bahwa Dia akan berfungsi sebagai sabun cuci. Maka, saya bermain kotoran setiap saat karena ada sabun cuci yang setia setiap saat, bukan cuma deodoran saja. Jadi, saya terus memaklumi diri jadi kotor karena besok pagi toh saya mandi lagi, toh saya bertemu Tuhan lagi. Manusia yang kurang ajar seperti saya ini memperlakukan Tuhan sebagai sabun. Saya tak mau dibenahi, saya hanya mau dibersihkan luarnya saja. Ogah dalamnya.

Saya tersinggung tempat tinggal saya itu dianggap rumah mesum, tetapi saya lupa kalau saya ini melakukan kemesuman di tempat tinggal itu. Saya suka hilang ingatan belakangan ini. Saya malah jadi lupa bedanya mesum sama maklum. Kadang malah saya bicara, maklum saya mesum.

Bukankah rumah saya juga memerlukan gembok, mempekerjakan satpam, memasang alarm, supaya tak kemalingan? Masak saya bilang begini sama maling, Ling, apa kabar? Dah lama gak kedengeran beritanya. Di layar tivi kagak ada, di koran kagak ada. Ke mane aje. Kangen nih…

http://www.kompascommunity.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=62014§ion=103





Uang
Maret 13, 2008 by wewem

Uang tak dapat membeli kebahagiaan. Tentu. Karena kebahagiaan bukan kue apem, baju, atau telepon genggam yang ada di butik, toko, pasar, atau mal. Malah menurut IQ jongkok saya, penjual kebahagiaan dan pembelinya adalah saya sendiri.

Saya pernah punya sopir kantor yang punya anak empat, dan sengsara juga karena hasrat seksualnya berlebihan sampai bisa menyimpan istri lebih dari satu. Teman saya yang menganggur saja bisa merokok dan pakai narkoba, dan lalu sengsara.

Jadi, kalau ada orang kaya atau seperti saya yang keturunan pembanting tulang menjadi sengsara, jangan salahkan uangnya, salahkan manusianya. Kontrol ada di tangan manusianya, dan bukan uangnya. Kaya bisa sengsara, miskin ya bisa sengsara. Kaya bisa bahagia, miskin ya bisa bahagia. Jadi, kalau uang tak bisa membeli kebahagiaan, tak punya uang juga sami mawon.

Teman saya pernah menangis dan mengatakan ia sengsara karena cinta. Cinta kok menyengsarakan. Yang bisa membuat dirinya sengsara, ya dirinya sendiri. Uang dan cinta tak pernah salah, tetapi kita acap kali memilih mencari kambing hitam. Karena acap kali kita tak mau dijadikan kambing hitam, cinta dan uanglah yang dijadikan sate kambing.

Kalau Anda mau punya banyak uang, cobalah berteman dan belajar dari orang-orang yang banyak uang dan bekerja keras untuk itu. Bukan memilih jalan singkat menjadi simpanan. Pengalaman saya mengajarkan, pekerja keras umumnya bisa memberi inspirasi, memberi solusi dan strategi untuk bertahan hidup dan maju karena terbiasa sengsara.

http://www.kompascommunity.com/index.php?fuseaction=home.arsip§ion=103&y=2007&m=2





Takut
Maret 7, 2008 by wewem

...saya berdoa karena takut. Tetapi, saat selamat tiba di tempat tujuan saya mulai berpikir untuk ke tempat mesum lagi, bahkan membuat janji bertemu dengan selingkuhan saya.

Kalau Anda berselingkuh dengan suami orang, katakan kepada istrinya, maaf saya sudah meminjam suami Anda dan saya ketagihan. Setelah itu jangan lakukan lagi. Karena, ketika Anda berhadapan dengan Tuhan dalam doa dan sembahyang Anda harus punya hati yang bersih...

http://www.kompascommunity.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=60859§ion=103





Menjadi Kedua dstnya
Februari 12, 2008 by wewem

Teman pria saya sedang suntuk karena pacarnya memutuskan hubungan cinta mereka yang baru berjalan sembilan bulan dan buat teman saya hubungan itu adalah segalanya.

“Gue belum pernah pacaran dan mencintai seperti sekarang ini,” katanya.

Saya kaget sekali dan berpikir, ucapannya itu bisa berarti pacar-pacar sebelumnya tak pernah dia cintai dengan porsi sama. Sementara mungkin saja pacar-pacarnya yang terdahulu itu telah merasa kalau teman saya mencintai dengan mendalam.

“Gue sudah kasih segalanya. Apa saja yang dia maui,” kata teman saya lagi. “Tetapi, kenapa tiba-tiba dia memutuskan hubungan itu begitu saja?” lanjut dia lagi.

Saya terdiam, tak tahu mau berbicara apa. Saya ini tak pernah pacaran, kalau jadi simpanan saya pernah. Meski itu juga tampak seperti pacaran, tetapi cara penanganannya tidak sama...

Katakanlah ia memang tidak cinta buta, bagaimana ia bisa mempercayai seorang pencuri untuk jadi pacarnya? Saya harus mengacungkan jempol kepada teman pria saya itu, ia mau dan memilih melakoni perjalanan asmaranya dengan seorang pencuri yang tidak setia. Tidakkah ia takut suatu hari ia juga akan ditinggalkan dan mungkin selama perjalanan cintanya tsb pacarnya itu juga “shopping” ke mana-mana???

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0710/07/urban/3888467.htm





Selamat Tahun Baru
Januari 16, 2008 by wewem

...tahun baru is just another day. Kalau mau dipikir tenang, memang semuanya hanya perubahan dari hari basi ke hari baru. Apa saya saja yang merasa bahwa tahun baru itu sesuatu yang spesial? Saya saja yang mendramatisasi bahwa akhir tahun sesuatu yang penting. Mungkin tahun baru terasa penting buat mereka yang menjalankan masa hukumannya di penjara, karena semakin cepat tahun baru berjalan...

..kalimat itu menyemangati saya untuk mulai sesuatu yang baru lagi, mulai dari nol, mulai menjadi kepompong lagi. Mungkin itu sebabnya saya tak pernah menjadi kupu-kupu...

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0801/06/urban/4101639.htm





Potret Diri
Januari 2, 2008 by wewem

Saya tersenyum saat melihat betapa tampannya saya semasa remaja dulu. Kulit yang bersih dan mata yang menawan. Teman-teman saya tertawa terbahak ketika saya menceritakan ketampanan masa muda saya.

Saya hanya tahu, manusia bisa seperti binatang berkaki empat itu. Tetapi, waktu melihat foto-foto dengan adegan tak senonoh, saya tak bisa santai lagi, kepala saya cenut-cenut dan hati nurani saya bersuara, saya ini sebetulnya mau apa dengan semua adegan penuh sensasi itu?

Saya tak menjawab pertanyaan itu, malah ada pertanyaan lain yang muncul. Perlukah saya sensasi dalam hidup? “Hari gene, gak usah pinter, yang penting terkenal dan penuh sensasi,” kata teman saya yang sangat dekat dengan kalangan selebriti. Kemudian teman saya itu bercerita kalau saya terlalu baik, rendah hati, dan taat beragama, itu jauh dari berita yang sensasional. “Enggak menjual,” kata dia.

Ia bercerita, yang menjual dan penuh sensasi itu kalau saya digerebek lagi nyabu. Atau kawin sama suami orang, cerai sama suami sendiri. Atau berhubungan intim dengan sesama jenis, atau berbeda jenis sambil divideokan dengan telepon genggam.

3. Kalau Anda mau difoto oleh fotografer kondang atau diabadikan majalah gaya hidup terkenal, maka Anda akan mempersiapkan acara itu dengan cermat dan teliti. Semua harus terlihat sempurna meski sempurna itu tak pernah ada. Maka, kalau Anda bisa melakukan itu, lakukanlah untuk pemotretan hidup Anda sesungguhnya. Jangan sampai hasil pemotretan hidup Anda yang dilihat orang adalah potret hidup seorang peselingkuh, potret manusia yang menjerat sesamanya untuk berbuat ketidakbenaran. Jangan memotret diri Anda menjadi gigolo atau germo berjubah profesional. Jangan memotret diri Anda sebagai pemarah, koruptor, tinggi hati, atau manusia nakal. Bukan hanya adik atau teman atau saudara Anda yang sedih. Tuhan yang bakal menangis kalau Anda begitu beraninya memotret diri Anda dengan keliru dari penciptaan semula.

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0712/23/urban/4093062.htm





KILAS PARODI SAMUEL MULIA 16 DESEMBER '07
Januari 2, 2008 by wewem

Jangan Jadi Penjilat, Jangan Jadi Korban Penjilat

1. Buat mereka yang masuk ke dalam kategori pemimpin yang suka dijilat, maka berhati-hatilah. Kalau Anda kelamaan dijilat, entah itu di bagian kepala atau bagian lain dari tubuh dan jiwa Anda, maka tempat yang dijilat itu lama-lama kehilangan sensitivitasnya. Nah, karena kehilangan atau paling tidak nilai ambang sensitivitasnya menjadi tinggi, maka Anda akan seperti disuntik obat anestesi. Kebal dan tak terasa apa-apa lagi.

2. Tanyakan mengapa Anda senangnya dijilat? Apakah Anda selama ini tak pernah disanjung, tak pernah mendapat pujian, atau masa kecil Anda kurang banyak yang dijilat sehingga sekarang ini dengan kedudukan Anda, Anda mencari kepuasan yang hilang itu?

3. Apalah gunanya Anda dijilat kalau Anda tahu semua itu tak menunjukkan kebenaran sesungguhnya, dan hanya sekadar untuk menyanjung ego Anda. Jadilah pimpinan yang tegas, hadapilah kenyataan yang terjadi dan jangan mau dibohongi para penjilat di sekitar hidup Anda. Mengapa sebagai pimpinan, Anda mau dijilat, meski enak, dan membuat Anda melayang? Pimpinan macam apakah Anda?

4. Buat mereka yang masuk ke dalam kategori tukang jilat, coba tanyakan kepada diri Anda, mengapa Anda melakukan itu? Untuk menyenangkan hati orang lain dengan sebuah kepalsuan, atau Anda punya niat mendapat kedudukan tertentu yang sudah Anda incar cukup lama, atau mau menjadi anak emas, atau hanya mau punya kendaraan roda empat?

Kalau Anda mau menyenangkan orang mengapa tidak dengan memberitahu kebenaran meski risikonya mungkin tak menyenangkan Anda? Kalau Anda mau mengincar kedudukan, mengapa Anda tak belajar menjadi pandai, mengasah self esteem Anda tanpa harus menggunakan lidah Anda? Jangan sampai lama-lama lidah Anda jadi empuk dan pas untuk dibuat sambal goreng lidah.

Kalau Anda mau punya kendaraan roda empat, kerja keras dan menabung. Kalau Anda tak sabar, itu tak mungkin. Kesabaran sangat diperlukan bagi para penjilat. Nah, kalau Anda bisa sabar jadi penjilat, mengapa Anda tak sabar menabung?

5. Terakhir buat para pemimpin. Jangan pernah menciptakan anak emas. Sekali Anda menciptakan anak emas, saat itu juga Anda mempercepat keruntuhan tim kerja Anda. Anak emas menciptakan kebencian, kebencian menciptakan ketidakbenaran dan kehancuran. Kecuali Anda memang lahir sudah dengan cita-cita sebagai destroyer, bukan conqueror.

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0712/16/urban/4085853.htm





Pejabhat
Desember 12, 2007 by wewem

Kalau Anda sekarang ini menjadi pejabat, dan penjahat juga (dan yang tahu Anda sendiri), coba melihat lagi album masa lalu Anda, apakah menjadi penjabat dan atau penjahat sudah ada di benak Anda sejak masa kecil dulu.

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0711/04/urban/3962042.htm





Tolong Peluk Saya
Desember 9, 2007 by wewem

Saya menangis dalam hati melihat sosok Ira Maya Sopha yang berperan sebagai nyonya kaya yang kesepian dalam film Quickie Express. Adegan saat ia memohon, bahkan sampai meraung-raung di lantai agar tak ditinggal gigolo langganannya, benar-benar memiris hati saya.

http://kompas.com/kompas-cetak/0712/09/urban/4049042.htm


-------------
key: samuel mulia urban cinta katarsis gaya kompas diri hati samuel mulia urban cinta katarsis gaya kompas diri hati samuel mulia urban cinta katarsis gaya kompas diri hati samuel mulia urban cinta katarsis gaya kompas diri hati samuel mulia urban cinta katarsis gaya kompas diri hati samuel mulia urban cinta katarsis gaya kompas diri hati samuel mulia urban cinta katarsis gaya kompas diri hati samuel mulia urban cinta katarsis gaya kompas diri hati samuel mulia urban cinta katarsis gaya kompas diri hati samuel mulia urban cinta katarsis gaya kompas diri hati

Tulisan2 lainnya dari blog wordpressku

Puisi Perlawanan
Agustus 15, 2007 by wewem

Keating, sang guru, merobek halaman Pelajaran Puisi yang telah lama menjadi acuan itu. Ia menyuruh muridnya merobek, berontak dari aturan. Ia ingin muridnya merasakan bagaimana sesuatu (puisi) diciptakan. Yang menarik dari film ini bukanlah akhirnya yang tragis(tik). Seperti Chairil, arah tidak begitu penting, melainkan keberanian menjelajah. Chairil begitu kuat dan begitu bersemangat...

http://www.padangekspres.co.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=4592




Bisikan Sastra Perang
Desember 9, 2007 by wewem

Esei Binhad Nurrohmat

Watak kesusastraan peka pada tragedi, dan di antara tragedi terbesar bagi umat manusia adalah perang. Perang merupakan tragedi yang tak sebatas membinasakan tubuh dan melenyapkan peradaban manusia. Ketika krisis dan kegundahan di Eropa merebak pada 1935 dan dihantui luka Perang Dunia I, Jean Girauduoux menyelipkan sebaris kalimat jitu tentang bahaya perang yang paling mengerikan ke dalam dramanya, La guerre de Troi n’aura pas lieu (Perang Troya Tak Bakal Meletus): “Kebenaran adalah korban pertama dalam perang.”

http://kompas.com/kompas-cetak/0712/09/seni/4035966.htm


Tarian Sufi, Pokoknya Berputar
Desember 12, 2007 by wewem

Esei A. Chaedar Alwasilah

Mengapa berputar-putar? Tidak ada benda yang tidak berputar, dari benda angkasa yang besar sampai elektron, proton, dan neutron dalam atom yang merupakan partikel terkecil yang menyusun semua benda dan makhluk hidup. Dalam manusia ada perputaran aliran darah. Kejadian manusia pun berputar, tercipta dari tanah dan kembali ke tanah.
Air pun pun berasal dari laut, naik ke atas menjadi awan, turun sebagai hujan, dan kembali ke laut. Manusia pun berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Ibadah haji, khususnya fenomena thawaf (mengelilingi Baitullah) sesungguhnya simbolisasi dari perputaran benda angkasa dan perputaran manusia itu sendiri. Tarian Darwis mengajak penonton untuk menyatukan akal dan cinta untuk larut dalam perputaran kehidupan ini sebagai bukti pencarian dan penghambaan kepada kebenaran mutlak.

http://www.pikiran-rakyat.co.id/cetak/2007/112007/10/khazanah/lainnya.htm


Demokrasi
Januari 2, 2008 by wewem

Artikel ARIEL HERYANTO

Sosiolog Vedi Hadiz pernah mengingatkan, perangkat demokrasi Indonesia dengan santainya sudah ditunggangi mantan politikus Orde Baru. Termasuk partai politik, parlemen, pengadilan, media massa, dan pemilu. Dengan leluasa mereka menyelamatkan, bahkan melipatgandakan, harta warisan dari masa Orde Baru yang tidak berhasil disita bangsa Indonesia.

Pada zaman Orde Baru ketika demokrasi diharamkan, para politikus itu sudah berjaya. Berpangkat tinggi. Harta berlimpah. Ke mana-mana disembah, atau minta disembah para bawahan. Sebagian dari bawahan ini berharap suatu hari kelak akan menggantikan yang disembah.

Sesudah Orde Baru tumbang, reformasi dan demokrasi menjadi kaidah dan slogan yang paling berwibawa. Tetapi, para politikus Orde Baru yang sama tetap berkibar. Ada yang pernah diadili dan dihukum. Tetapi, dengan ilmu akrobatik politik tingkat tinggi mereka dibebaskan. Malahan ada yang diangkat menjadi pejabat tinggi negara.

Mereka tahan banting terhadap perubahan iklim politik. Sekarang ada kebebasan berpartai politik, bertengkar di parlemen, atau bersaing dalam pemilu. Tetapi, yang menang ya itu-itu lagi yang dulu berkuasa pada zaman Orde Baru. Untuk mereka, Indonesia boleh berguling-guling dari satu sistem politik kenegaraan ke sistem lain, dari yang paling fasis, demokratis, atau anarkis. Bagi mereka, semua itu “cuma cara” menuju tujuan yang sama: harta dan kuasa.

Jadi, buat apa marah jika ada di antara mereka yang membuka rahasia perusahaan? Mestinya kita terharu mendengar kejujuran itu. Persoalannya bukan apa pendapat mereka tentang demokrasi, tetapi mengapa orang-orang dengan pandangan seperti itu bisa merajalela di Indonesia, juga di banyak negara demokrasi yang lain?

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0712/16/persona/4083593.htm


Binatang
Januari 2, 2008 by wewem

Artikel MOHAMAD SOBARY

Binatang-binatang itu berkomunikasi dengan mooo belaka. Dan kita sudah merasa senang karena bunyi apa lagi yang bisa diharapkan dari lembu selain suara alaminya, mooo tadi?

Tapi inilah kejutan berikut, yang membuat semua penonton kontan ketawa terbahak-bahak: ketika terdengar lagi di sisi kiri mooo di kanan mooo dan kemudian tiba-tiba ada yang melenguh: mooo… ntok.

Lalu muncul adegan lembu kawin. Kemudian ada saingan antara jantan satu dan jantan lain seperti layaknya dalam kehidupan binatang yang tak memiliki undang-undang atau tata krama yang harus mereka taati.

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0712/23/naper/4093085.htm


Republika & Media Indonesia Korban E-mail ‘Din Syamsuddin’
Januari 16, 2008 by wewem

Detikinet — din_syamsuddin@yahoo.com berhasil mengelabui dua media nasional, Republika dan Media Indonesia. Pencatut nama Din Syamsuddin ini mengirimkan artikel kepada kedua media massa itu. Tanpa konfirmasi kepada Din, dua media massa memuat artikel tersebut.

info lebih lanjut telusur:
http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/07/tgl/17/time/074438/idnews/805711/idkanal/398


Pok Ami-ami
Januari 16, 2008 by wewem

Cerpen LAN FANG

Di bagian depan pematang sawah, sejak dahulu ada pipa-pipa raksasa tertanam membujur dari ujung ke ujung desa satu ke desa lain. Aku tidak pernah tahu pipa apa itu. Kata ayah, itu milik Tuan Bakir. Tetapi, aku tidak pernah melihat Tuan Bakir. Ayah bilang, Tuan Bakir tinggal di nirwana. Kalau ayah menanam padi, Tuan Bakir menanam pipa. Ketika aku bertanya kenapa Tuan Bakir menanam pipa? Bukankah lebih baik seperti ayah, menanam padi saja? Aku tidak mengerti apa gunanya menanam pipa. Ayah berkata, tetapi tidak memberikan jawaban, “Belajarlah yang rajin, supaya bisa menanam pipa seperti Tuan Bakir sehingga tinggal di nirwana. Tidak tinggal di desa.”

Kami juga terbiasa dengan para wartawan yang memotret kelusuhan kami lalu memajangnya di halaman depan koran atau muncul di televisi. Ternyata tidak harus menjadi artis terkenal untuk bisa mejeng di koran atau televisi. Menjadi pengungsi pun dihujani lampu cahaya.

Ketika ada rombongan artis datang ke pengungsian, kami berbondong-bondong menempel sedekat mungkin dengan mereka. Agar potret kemiskinan kami sama berharganya dengan keindahan yang mereka punya. Semua orang lari berebut menyalami artis pujaannya. Lupa dengan kerak nasi yang dijemur, lupa antre di kakus umum, lupa pasukan nyamuk, lupa ular lapar yang memuntahkan lumpur. Kami lupa penderitaan. Padahal itu hanya beberapa menit. Setelah rombongan itu menghilang, kami kembali dimanjakan kemiskinan.

Aku juga tidak tahu kenapa suara jerit begitu banyak pengungsi hanya bisa sampai di depan pintu kantor para petinggi negeri? Cuma sampai di depan! Suara kami tidak bisa terdengar ke dalam. Apakah teriakan kami kurang keras atau mereka sudah tidak bertelinga?

http://beta.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=rubrik&kd_sup=13&kd_rub=178


Uang Jemputan
Januari 16, 2008 by wewem

Cerpen FAIRIZAL SIKUMBANG

Aku seperti seonggok batu yang bisu di malam hari. Diam dan kaku. Tubuhku disepuh cahaya bulan. Aku duduk di gubuk sawah milik abak yang tak berdinding dan beratap daun rumbia. Udara dingin menyergap dari berbagai arah. Entah sampai berapa lama aku akan mampu bertahan dari udara malam ini. Udara malam yang mengilu kulit sampai ke semua rusuk tulang. Juga sampai ke hati, karena hati membuka diri untuk membunuh rasa sepi dan pedih tak terperi ini. Sebab bukankah kesedihan hati juga akan membuat suasana akan terkondisi?

Kini, di malam ini aku belum juga bisa membalas SMS-mu itu. Aku tidak bisa memutuskan apa-apa. Aku tak bisa menentang abak. Aku benar-benar menjelma seperti batu. Diam dan kaku. Oh Faraswati, di bawah cahaya bulan, di dalam gubuk tak berdinding ini, kuharap kau mengerti deritaku ini.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0801/06/seni/4117098.htm


2008
Januari 16, 2008 by wewem

Artikel SUKA HARDJANA

Tak ada tahun baru bagi mereka yang terabaikan. Tahun-tahun (lama) terus berjalan tanpa mampu mengubah nasib. Semua berulang seperti penggalan-penggalan waktu sebelumnya di ruang-ruang kehidupan yang tak layak dan tak sepatutnya bagi mereka yang tertinggalkan. Toh mereka terus bertahan menggeluti jebakan nasib yang sesungguhnya tak mereka maui.

“Teguk air tawarmu, bila kau masih punya, tapi jangan ucapkan Selamat Tahun Baru, karena itu sumpah palsu yang melawan nasibmu,” kata seorang penyair.

selenkapna maca iye http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0712/30/persona/4112227.htm


Brasil Ganyang Game Teroris dan Sihir
Januari 20, 2008 by wewem

Detikinet — Sebuah game memungkinkan pemainnya menjadi teroris. Sedangkan satu game lagi menampilkan dunia penuh sihir. Brasil pun melarang keduanya...

cs dilarang cuy http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/01/tgl/20/time/113047/idnews/881401/idkanal/317

Me nuju,

Dalam zaman poskonstruksi ini, barangkali, lenyap sudah esensi karena yang tampak ada hanyalah representasi. Dalam struktur sosial yang makin liar dan berlain seperti sekarang dan ke depan nanti, orang (kebanyakan) terlalu dipusingkan oleh efek jejaring multimedia yang disesakkan ke batas nalarnya sehingga memfosil sudahlah yang bernama sumber, sejarah, asal muasal, dan awal mula. Kita (mereka) telah terlalu jauh berjalan ke keramaian ujung kehidupan sana dan melupakan pangkal yang, barangkali, sudah tak dapat lagi diperiksa “apa”nya. Evolusi (kalo pun ada) barangkali tak semulus dugaan engkau karena “Perfection is achieved not when something cannot be added, but when something cannot be taken away”.

Desember 11, 2007


---------------------

key:
perfect something representasi struktur sosial efek multimedia sumber evolusi perfect something representasi struktur sosial efek multimedia sumber evolusi perfect something representasi struktur sosial efek multimedia sumber evolusi perfect something representasi struktur sosial efek multimedia sumber evolusi perfect something representasi struktur sosial efek multimedia sumber evolusi perfect something representasi struktur sosial efek multimedia sumber evolusi perfect something representasi struktur sosial efek multimedia sumber evolusi perfect something representasi struktur sosial efek multimedia sumber evolusi perfect something representasi struktur sosial efek multimedia sumber evolusi perfect something representasi struktur sosial efek multimedia sumber evolusi perfect something representasi struktur sosial efek multimedia sumber evolusi perfect something representasi struktur sosial efek multimedia sumber evolusi perfect something representasi struktur sosial efek multimedia sumber evolusi perfect something representasi struktur sosial efek multimedia sumber evolusi perfect something representasi struktur sosial efek multimedia sumber evolusi perfect something representasi struktur sosial efek multimedia sumber evolusi perfect something representasi struktur sosial efek multimedia sumber evolusi perfect something representasi struktur sosial efek multimedia sumber evolusi

LAGU BARAT

ID 1428 H

lebaran lagi lebaran
kembali kuberteduh di indahnya warna warni islam
“dalilnya apa idul fitri jadi arena maaf maafan, apalagi ketupatan
dan ajang amplop amplop an?” ujar seorang kawan salaf ku.
memang iman telah bersejalin dengan modal model mondiel peradaban
dan budaya itu terbentuk — tak lain takbukan — berasas selera jua kan?
maka di ritual ini: segelintir rang-orang (cenderung) suci
berhari raya bersama-sama dengan para dasamuka ini.
perayaan sosial spt ini, jadi pewadah untuk kita melupakan:
tumpukan rasa berdosa di sedalam dalam sanubari sendiri
karena semua orang berpeci berkoko berjilbab dan ber-”assalammua’laikum”
takaran mata mata duniawi mendustai hisaban sejati,
alhamdulillah, semua kembali ke Fitri.

“semoga tambah soleh..” seru teman ikhwanku.
kesolehan ini, men, akan kupertaruhkan di hadapan tuhan
bukan acting picikan cinetron cinetron murahan!
pi tetapi, di ritual bersama ini, relasi sosial adalah pencipta ukurannnya

spt roadshow kroni kroni politik
yang maklumin maklumin aja
bertopangken safari agama.

ya tuhannya demi masa,
inikah hakikat romadhon yang moksa?
“yassarallahu umurona,”
celetuk koalisi politik temporalku dari partai ht indonesia

Oktober 22, 2007


BALA(DA) JAMAN AYEUNA

di hari ini,
pedagang lebih penting dibanding para pelajar 123x

di hari-hari ini,
setumpuk uang lebih terhormat daripada gudang ilmu pengetahuan 124x

maka sekarang,
ayam mendahului telor
kita menjadi para pengekor, jika
takingin disingkirkan peradaban
yang takberkeadaban 125x

masa ini adalah hari-hari ketakpastian
yang dirayakan dengan penuh pragmatisme kedunguan
kecerdasan hanya pajangan, tampil berkilau di permukaan
bukan esensi pencerahan

padasuka, 15-08-07

Ayat-Ayat Cinta, ceileee

kemaren, akhirnya, ikut2an juga nontonin Ayat2 Cinto. setelah seminggu ndak kena sinar mentari, maklum gw kembali lagi ke siklus kehidupan jahiliah: siang waktunya tidur dan malam nyari inspirasi, akhirnya tak ada awan tiada angin muncul bang zal ngajak liat2 film cemen itu. dan seperti sudah kuduga, meski keliatannya banyak juga orang yang terharu, saya merasa ndak begitu rame dibanding saat baca yang lebih mengoyak perasaan di novelnya sendiri. tapi ini yg lebih bikin kesel, orang2 menyangka kami pasangan gay (padahal sama sekali benar, haha). maklum gw datangnya sama mai… alias mairizal, haha. langsung aja si mai tapi rizal ini melabrak salah seorang di sana:
“apa lu bilang gw homo?!”
“enggak, gw ndak bilang.”
“ayo ngaku aja lu mau bilang gw ini homo!”
“suerr bang, awak ndak ngomong apa2 dari tadi….”
“itu mimik muka lu seolah2 mau bilang bahwa kami ini homo brengsek!”
“hah?”
ia tumbuk bibir orang yang terlihat monyong keheranan itu. walau yang bersangkutan tidak mengucapkan langsung tuduhan tsb secara verbal dan eksplisit, ekpresi mukanya yg terlihat bersilau2 menatap kami sudah terlanjur begitu melukai perasaan ini. lengkap sudah penderitaan saya hari sial itu. tapi ndak apa2 ini demi menghibur bang rizal yang lagi stress berat ini. dikejar2 sama nyong ambon pake golok segala ceritanya di jkt sana. emang mending die pulang kesini karena orang timor sana udah ga punya otak kalo urusan duit. oya wong edan, seandainya mana tau anda baca ini, utang bang zal nanti biar gw yg bayar. tapi 10 tahun lagi karena sekarang gw kudu nyari duit sendiri. hahaha
tentang ayat2 cinta ini, terlalu banyak yang mesti dikomentari. singkatnya gw mau nguntil lagi ucapan si suster maria tsb: “ternyata cinta dan keinginan untuk memiliki itu tidak sama”.

kemaren juga nonton Indonezian Movie Award di er-ze-te-i. cukup kecewa karena saya gagal meraih oscar untuk kategori pemeran utama pria terunik. tapi ada satu yang spesial, di sono gw liat mbak djenar mahesa ayu bersastra-wangi lewat pakaian minimnya, duh.. apalagi membacakan nominasi bersama sarah sechan yang juga aduhai, ah.. mataku terbelalak, air liurku jatuh ke lantai, dan jantungku berdegup sangat kencang dengan detak yang tiada beraturan. “mbak ayu kapan kita bisa bersetubuh?” sms-ku. “ayo kalo mau begituan ke sini dong sekarang,” balasnya. “malu ah..” tapi anuku menegang. “sampeyan kan udah ada yang ngegilir tiap malam..” sambungku dan sesuatu di bawah memuncak hingga semakin tegang. “sekarang punyaku ini sanggup dimasukin dua sekaligus loh,” ujarnya layaknya tante girang. “ok bye..” perutku mual, rasanya mau muntah dan sesuatuku tadi terasa telah menjadi layu kembali. hahaha. mbak djenar mahesa ayu seandainya baca ini jangan marah ya, becanda. kutunggu loh prosa2 sampeyan berikutnya. saran saya sih ndak usah terlalu vulgar dan cabul. udah ga jaman. sekarang trennya model ayat2 cinta, genre romantisme religius. hahaha. mencari nafkah dengan menjual sila keuangan yang maha esa. eh salah, ketuhanan yang maha ika. bhineka tunggal ika. ga nyambung kaleeeeeee.

nb: aku rindu kepada engkau yang kemaren. gadis baik-baik sebagaimana pertama kali dirimu kukenali. tapi kalo pun engkau memilih jalan hidup yang seperti ini sekarang percayalah aku tiada pernah membencimu. aku selalu menyayangimu karena kuyakin cinta tidaklah harus memiliki. dan aku akan selalu memelihara kenanganku tentang engkau yang dulu di dalam hati…

Maret 29, 2008


-------------------------
key:
ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo ayat cinta homo

Tegar by Rossa; Kareh Kapalo by Guwwa

Abraham Lincoln, bapak bangsa america najis yang tak satu pun rang sinan di ateh tujuah taun nan dak kenal dari timur lawik boston city sampai semenanjung california kecuali idiot atau gilo, pernah bersabda: “Lebih baik memberi jalan Anda kepada seekor anjing daripada digigit olehnya dalam pertarungan untuk memperoleh hak. Bahkan membunuh anjing itu tidak akan menyembuhkan gigitannya.” Inilah salah satu kesalahan terbesar (might be & katanya seeh) dalam hidupku yang membuatku mati ditikam berkali2 sehingga di pemakaman nanti seseorang akan menuliskan sajak untuk diriku nih:
Di sini berbaring tubuh William Jay,
Yang meninggal karena mempertahankan
haknya –
Dia benar, benar sekali, sebagaimana dia
terus melaju,
Tapi dia persis sama matinya seakan-akan
dia bersalah (Boston).

Mati Lampu

Buyung: Neng, kamu bisa ke rumah gak hari ini?
Si Eneng: Iya. Ada apa?
Buyung: Ini. Di rumah lagi mati lampu. Kamu bisa ke sini kan.
Si Eneng: Bisa sih, diusahain. Tapi kenapa musti aku.
Buyung: Gini loh, di sini lagi gelap banget. Terangin dong kehidupan gw dengan cahaya cinta loe…

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...