Kamis, 19 Juni 2008

LAGU BARAT

ID 1428 H

lebaran lagi lebaran
kembali kuberteduh di indahnya warna warni islam
“dalilnya apa idul fitri jadi arena maaf maafan, apalagi ketupatan
dan ajang amplop amplop an?” ujar seorang kawan salaf ku.
memang iman telah bersejalin dengan modal model mondiel peradaban
dan budaya itu terbentuk — tak lain takbukan — berasas selera jua kan?
maka di ritual ini: segelintir rang-orang (cenderung) suci
berhari raya bersama-sama dengan para dasamuka ini.
perayaan sosial spt ini, jadi pewadah untuk kita melupakan:
tumpukan rasa berdosa di sedalam dalam sanubari sendiri
karena semua orang berpeci berkoko berjilbab dan ber-”assalammua’laikum”
takaran mata mata duniawi mendustai hisaban sejati,
alhamdulillah, semua kembali ke Fitri.

“semoga tambah soleh..” seru teman ikhwanku.
kesolehan ini, men, akan kupertaruhkan di hadapan tuhan
bukan acting picikan cinetron cinetron murahan!
pi tetapi, di ritual bersama ini, relasi sosial adalah pencipta ukurannnya

spt roadshow kroni kroni politik
yang maklumin maklumin aja
bertopangken safari agama.

ya tuhannya demi masa,
inikah hakikat romadhon yang moksa?
“yassarallahu umurona,”
celetuk koalisi politik temporalku dari partai ht indonesia

Oktober 22, 2007


BALA(DA) JAMAN AYEUNA

di hari ini,
pedagang lebih penting dibanding para pelajar 123x

di hari-hari ini,
setumpuk uang lebih terhormat daripada gudang ilmu pengetahuan 124x

maka sekarang,
ayam mendahului telor
kita menjadi para pengekor, jika
takingin disingkirkan peradaban
yang takberkeadaban 125x

masa ini adalah hari-hari ketakpastian
yang dirayakan dengan penuh pragmatisme kedunguan
kecerdasan hanya pajangan, tampil berkilau di permukaan
bukan esensi pencerahan

padasuka, 15-08-07