Senin, 30 Juni 2008

Tulisan2 lainnya dari blog wordpressku

Puisi Perlawanan
Agustus 15, 2007 by wewem

Keating, sang guru, merobek halaman Pelajaran Puisi yang telah lama menjadi acuan itu. Ia menyuruh muridnya merobek, berontak dari aturan. Ia ingin muridnya merasakan bagaimana sesuatu (puisi) diciptakan. Yang menarik dari film ini bukanlah akhirnya yang tragis(tik). Seperti Chairil, arah tidak begitu penting, melainkan keberanian menjelajah. Chairil begitu kuat dan begitu bersemangat...

http://www.padangekspres.co.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=4592




Bisikan Sastra Perang
Desember 9, 2007 by wewem

Esei Binhad Nurrohmat

Watak kesusastraan peka pada tragedi, dan di antara tragedi terbesar bagi umat manusia adalah perang. Perang merupakan tragedi yang tak sebatas membinasakan tubuh dan melenyapkan peradaban manusia. Ketika krisis dan kegundahan di Eropa merebak pada 1935 dan dihantui luka Perang Dunia I, Jean Girauduoux menyelipkan sebaris kalimat jitu tentang bahaya perang yang paling mengerikan ke dalam dramanya, La guerre de Troi n’aura pas lieu (Perang Troya Tak Bakal Meletus): “Kebenaran adalah korban pertama dalam perang.”

http://kompas.com/kompas-cetak/0712/09/seni/4035966.htm


Tarian Sufi, Pokoknya Berputar
Desember 12, 2007 by wewem

Esei A. Chaedar Alwasilah

Mengapa berputar-putar? Tidak ada benda yang tidak berputar, dari benda angkasa yang besar sampai elektron, proton, dan neutron dalam atom yang merupakan partikel terkecil yang menyusun semua benda dan makhluk hidup. Dalam manusia ada perputaran aliran darah. Kejadian manusia pun berputar, tercipta dari tanah dan kembali ke tanah.
Air pun pun berasal dari laut, naik ke atas menjadi awan, turun sebagai hujan, dan kembali ke laut. Manusia pun berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Ibadah haji, khususnya fenomena thawaf (mengelilingi Baitullah) sesungguhnya simbolisasi dari perputaran benda angkasa dan perputaran manusia itu sendiri. Tarian Darwis mengajak penonton untuk menyatukan akal dan cinta untuk larut dalam perputaran kehidupan ini sebagai bukti pencarian dan penghambaan kepada kebenaran mutlak.

http://www.pikiran-rakyat.co.id/cetak/2007/112007/10/khazanah/lainnya.htm


Demokrasi
Januari 2, 2008 by wewem

Artikel ARIEL HERYANTO

Sosiolog Vedi Hadiz pernah mengingatkan, perangkat demokrasi Indonesia dengan santainya sudah ditunggangi mantan politikus Orde Baru. Termasuk partai politik, parlemen, pengadilan, media massa, dan pemilu. Dengan leluasa mereka menyelamatkan, bahkan melipatgandakan, harta warisan dari masa Orde Baru yang tidak berhasil disita bangsa Indonesia.

Pada zaman Orde Baru ketika demokrasi diharamkan, para politikus itu sudah berjaya. Berpangkat tinggi. Harta berlimpah. Ke mana-mana disembah, atau minta disembah para bawahan. Sebagian dari bawahan ini berharap suatu hari kelak akan menggantikan yang disembah.

Sesudah Orde Baru tumbang, reformasi dan demokrasi menjadi kaidah dan slogan yang paling berwibawa. Tetapi, para politikus Orde Baru yang sama tetap berkibar. Ada yang pernah diadili dan dihukum. Tetapi, dengan ilmu akrobatik politik tingkat tinggi mereka dibebaskan. Malahan ada yang diangkat menjadi pejabat tinggi negara.

Mereka tahan banting terhadap perubahan iklim politik. Sekarang ada kebebasan berpartai politik, bertengkar di parlemen, atau bersaing dalam pemilu. Tetapi, yang menang ya itu-itu lagi yang dulu berkuasa pada zaman Orde Baru. Untuk mereka, Indonesia boleh berguling-guling dari satu sistem politik kenegaraan ke sistem lain, dari yang paling fasis, demokratis, atau anarkis. Bagi mereka, semua itu “cuma cara” menuju tujuan yang sama: harta dan kuasa.

Jadi, buat apa marah jika ada di antara mereka yang membuka rahasia perusahaan? Mestinya kita terharu mendengar kejujuran itu. Persoalannya bukan apa pendapat mereka tentang demokrasi, tetapi mengapa orang-orang dengan pandangan seperti itu bisa merajalela di Indonesia, juga di banyak negara demokrasi yang lain?

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0712/16/persona/4083593.htm


Binatang
Januari 2, 2008 by wewem

Artikel MOHAMAD SOBARY

Binatang-binatang itu berkomunikasi dengan mooo belaka. Dan kita sudah merasa senang karena bunyi apa lagi yang bisa diharapkan dari lembu selain suara alaminya, mooo tadi?

Tapi inilah kejutan berikut, yang membuat semua penonton kontan ketawa terbahak-bahak: ketika terdengar lagi di sisi kiri mooo di kanan mooo dan kemudian tiba-tiba ada yang melenguh: mooo… ntok.

Lalu muncul adegan lembu kawin. Kemudian ada saingan antara jantan satu dan jantan lain seperti layaknya dalam kehidupan binatang yang tak memiliki undang-undang atau tata krama yang harus mereka taati.

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0712/23/naper/4093085.htm


Republika & Media Indonesia Korban E-mail ‘Din Syamsuddin’
Januari 16, 2008 by wewem

Detikinet — din_syamsuddin@yahoo.com berhasil mengelabui dua media nasional, Republika dan Media Indonesia. Pencatut nama Din Syamsuddin ini mengirimkan artikel kepada kedua media massa itu. Tanpa konfirmasi kepada Din, dua media massa memuat artikel tersebut.

info lebih lanjut telusur:
http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/07/tgl/17/time/074438/idnews/805711/idkanal/398


Pok Ami-ami
Januari 16, 2008 by wewem

Cerpen LAN FANG

Di bagian depan pematang sawah, sejak dahulu ada pipa-pipa raksasa tertanam membujur dari ujung ke ujung desa satu ke desa lain. Aku tidak pernah tahu pipa apa itu. Kata ayah, itu milik Tuan Bakir. Tetapi, aku tidak pernah melihat Tuan Bakir. Ayah bilang, Tuan Bakir tinggal di nirwana. Kalau ayah menanam padi, Tuan Bakir menanam pipa. Ketika aku bertanya kenapa Tuan Bakir menanam pipa? Bukankah lebih baik seperti ayah, menanam padi saja? Aku tidak mengerti apa gunanya menanam pipa. Ayah berkata, tetapi tidak memberikan jawaban, “Belajarlah yang rajin, supaya bisa menanam pipa seperti Tuan Bakir sehingga tinggal di nirwana. Tidak tinggal di desa.”

Kami juga terbiasa dengan para wartawan yang memotret kelusuhan kami lalu memajangnya di halaman depan koran atau muncul di televisi. Ternyata tidak harus menjadi artis terkenal untuk bisa mejeng di koran atau televisi. Menjadi pengungsi pun dihujani lampu cahaya.

Ketika ada rombongan artis datang ke pengungsian, kami berbondong-bondong menempel sedekat mungkin dengan mereka. Agar potret kemiskinan kami sama berharganya dengan keindahan yang mereka punya. Semua orang lari berebut menyalami artis pujaannya. Lupa dengan kerak nasi yang dijemur, lupa antre di kakus umum, lupa pasukan nyamuk, lupa ular lapar yang memuntahkan lumpur. Kami lupa penderitaan. Padahal itu hanya beberapa menit. Setelah rombongan itu menghilang, kami kembali dimanjakan kemiskinan.

Aku juga tidak tahu kenapa suara jerit begitu banyak pengungsi hanya bisa sampai di depan pintu kantor para petinggi negeri? Cuma sampai di depan! Suara kami tidak bisa terdengar ke dalam. Apakah teriakan kami kurang keras atau mereka sudah tidak bertelinga?

http://beta.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=rubrik&kd_sup=13&kd_rub=178


Uang Jemputan
Januari 16, 2008 by wewem

Cerpen FAIRIZAL SIKUMBANG

Aku seperti seonggok batu yang bisu di malam hari. Diam dan kaku. Tubuhku disepuh cahaya bulan. Aku duduk di gubuk sawah milik abak yang tak berdinding dan beratap daun rumbia. Udara dingin menyergap dari berbagai arah. Entah sampai berapa lama aku akan mampu bertahan dari udara malam ini. Udara malam yang mengilu kulit sampai ke semua rusuk tulang. Juga sampai ke hati, karena hati membuka diri untuk membunuh rasa sepi dan pedih tak terperi ini. Sebab bukankah kesedihan hati juga akan membuat suasana akan terkondisi?

Kini, di malam ini aku belum juga bisa membalas SMS-mu itu. Aku tidak bisa memutuskan apa-apa. Aku tak bisa menentang abak. Aku benar-benar menjelma seperti batu. Diam dan kaku. Oh Faraswati, di bawah cahaya bulan, di dalam gubuk tak berdinding ini, kuharap kau mengerti deritaku ini.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0801/06/seni/4117098.htm


2008
Januari 16, 2008 by wewem

Artikel SUKA HARDJANA

Tak ada tahun baru bagi mereka yang terabaikan. Tahun-tahun (lama) terus berjalan tanpa mampu mengubah nasib. Semua berulang seperti penggalan-penggalan waktu sebelumnya di ruang-ruang kehidupan yang tak layak dan tak sepatutnya bagi mereka yang tertinggalkan. Toh mereka terus bertahan menggeluti jebakan nasib yang sesungguhnya tak mereka maui.

“Teguk air tawarmu, bila kau masih punya, tapi jangan ucapkan Selamat Tahun Baru, karena itu sumpah palsu yang melawan nasibmu,” kata seorang penyair.

selenkapna maca iye http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0712/30/persona/4112227.htm


Brasil Ganyang Game Teroris dan Sihir
Januari 20, 2008 by wewem

Detikinet — Sebuah game memungkinkan pemainnya menjadi teroris. Sedangkan satu game lagi menampilkan dunia penuh sihir. Brasil pun melarang keduanya...

cs dilarang cuy http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/01/tgl/20/time/113047/idnews/881401/idkanal/317