Senin, 30 Juni 2008

URBAN SAMUEL MULIA

Ini semua adalah penggalan2 kutipan gw dari tulisan2 Samuel Mulia pada kolom urban di Harian Kompas. Saya sangat suka membaca kolom katartik ini. Semula ini sy muat di wordpress, sekarang dirapel aja ke blog ini. Untuk memeriksa sumbernya silahkan selancar ke situs kompas. Alamat artikel2 tersebut sudah diobah2 sama pengelola websitenya, marah kalee dikutil ama saya. Belum ngalamin katarsis tuh orang, bener ga Mas Sam? Atau mereun oge demi kepentingan bisnis (atau legalitas) semata. Okay, selamat tersudut dan berkaca...


Mbak Anna
Mei 31, 2008 by wewem

Saya menyaksikan tayangan itu, juga melihat bagaimana air mata menggenang di ujung mata Mbak Anna, sambil kira-kira berkata begini, ”Saya itu tidak pernah terpikir untuk ditinggalkan. Tetapi, sekarang saya harus belajar menjadi mandiri.” Saya turut menangis di dalam hati karena saya pernah merasakan bagaimana ditinggalkan dan menjadi mandiri dan sendiri.

Buah macam apakah saya? Saya tak akan berbicara soal menjadi mandiri dan menjadi sendiri, tetapi saya mau belajar dari Mbak Anna untuk menjadi setia dan memaafkan. Kedua hal itu membuat hati saya tambah menangis.

Kalau saja saya bisa seayu Mbaknya, wah… saya pasti sudah jadi kupu-kupu. Gonta-ganti pacar. Sama artislah, sama anak pejabatlah, sama pejabatnya juga sekalian, sampai sama anak pak RT. Wah, pasti saya masuk berita selebriti.

Yah… kalau saya cantik seperti Mbak Anna apakah saya akan tetap menjadi istri setia seperti Mbak Anna atau saya menjadi wanita penggoda suami orang? Kalaupun saya akan tetap setia pada suami saya, apakah saya juga punya simpanan muda yang segar seperti buah di samping suami saya?

Saya tertampar karena selain tak setia, saya malas memberi pengampunan kepada siapa pun sampai dua kali. Buat saya itu terlalu banyak. Dua kali memberi pengampunan untuk kesalahan sama, itu berat. Tetapi, dua kali berbuat mesum yang sama, buat saya kurang. Kurang banyak, maksudnya…

http://www.kompascommunity.com/index.php?fuseaction=home.urban






Bos Kepret
Mei 31, 2008 by wewem

Di ruang rapat klien saya, suatu sore, kami membahas para bos dan tentu simpanannya. Salah satu teman dari teman saya seorang wanita yang kalau melihat sosoknya saya memperkirakan ia adalah wanita yang jauh dari memiliki aktivitas neko-neko. Seorang wanita separuh baya, yang biasa sekali, seperti wanita kebanyakan. Tak ada yang istimewa. Bahkan kepala saya yang biasanya punya sirene simpanan pun tak menyala dan berbunyi.

Beberapa menit setelah diperkenalkan, teman saya langsung nyerocos dia ternyata wanita yang berpredikat piala bergilir. Saya sampai kaget, tak percaya. Bahkan bertanya dalam hati, apa yang mau digilir?

Bos muda yang baru kembali dari negeri Uncle Sam atau uncle lainnya dan tiba-tiba merasa memiliki kepandaian dan pengalaman di atas rata-rata. Umumnya very bossy, mudah marah, tak mau mendengar, dan tak bisa berbahasa Indonesia, tetapi kembali ke negeri ini karena di negeri Uncle Sam yang pandai atau bodoh tak cuma dia.

Bos macam ini senangnya disanjung. Anda tak usah marah, sanjung saja, kemudian jatuhkan. Perlahan, tanpa ia rasakan. Itu kalau Anda mau.

http://www.kompascommunity.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=61999§ion=103





Rumahku (Bukan) Istanaku
Mei 31, 2008 by wewem

Tamu-tamu pria si selebriti pencinta seks bebas itu juga berstatus selebriti. Ada seorang ayah dan anak lelakinya mencicipi tubuh yang sama, hanya jam kunjungannya berbeda. Apakah di kamar tidur saya juga meniduri pasangan sendiri setelah saya meniduri PSK? Apakah rute perjalanan seksual saya sudah seperti rute berwisata? Dari rumah ke PSK, kemudian ke rumah simpanan wanita, ke rumah simpanan pria berotot, terus ke PSK lagi, baru ke ranjang istri.

Apakah rumah saya juga tak beda dengan rumah bordil di mana saya bisa menerima tamu-tamu saya untuk meniduri saya? Ranjang yang berkeringat dari peluh percabulan yang nikmat? Saya sampai sudah tak mampu lagi menghormati alat kelamin saya sendiri. Mungkin saya perlu latihan menghormati alat kelamin itu sambil berteriak lantang, ”Hormat kelamiiiiiin, grak!”

Selain soal esek-esek, apakah rumah saya juga seperti jerat yang dipasang untuk para ”tikus”?

Setelah semua kemaksiatan itu terjadi, datanglah saatnya—satu bulan sekali—saya membersihkan rumah dengan sabun cuci berupa membuka pintu untuk manusia bertakwa yang berdoa. Yang menaikkan pujian kepada Allah Yang Maha Besar Lagi Pemurah. Kalau sudah begitu, saya selalu punya asumsi bahwa Dia akan berfungsi sebagai sabun cuci. Maka, saya bermain kotoran setiap saat karena ada sabun cuci yang setia setiap saat, bukan cuma deodoran saja. Jadi, saya terus memaklumi diri jadi kotor karena besok pagi toh saya mandi lagi, toh saya bertemu Tuhan lagi. Manusia yang kurang ajar seperti saya ini memperlakukan Tuhan sebagai sabun. Saya tak mau dibenahi, saya hanya mau dibersihkan luarnya saja. Ogah dalamnya.

Saya tersinggung tempat tinggal saya itu dianggap rumah mesum, tetapi saya lupa kalau saya ini melakukan kemesuman di tempat tinggal itu. Saya suka hilang ingatan belakangan ini. Saya malah jadi lupa bedanya mesum sama maklum. Kadang malah saya bicara, maklum saya mesum.

Bukankah rumah saya juga memerlukan gembok, mempekerjakan satpam, memasang alarm, supaya tak kemalingan? Masak saya bilang begini sama maling, Ling, apa kabar? Dah lama gak kedengeran beritanya. Di layar tivi kagak ada, di koran kagak ada. Ke mane aje. Kangen nih…

http://www.kompascommunity.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=62014§ion=103





Uang
Maret 13, 2008 by wewem

Uang tak dapat membeli kebahagiaan. Tentu. Karena kebahagiaan bukan kue apem, baju, atau telepon genggam yang ada di butik, toko, pasar, atau mal. Malah menurut IQ jongkok saya, penjual kebahagiaan dan pembelinya adalah saya sendiri.

Saya pernah punya sopir kantor yang punya anak empat, dan sengsara juga karena hasrat seksualnya berlebihan sampai bisa menyimpan istri lebih dari satu. Teman saya yang menganggur saja bisa merokok dan pakai narkoba, dan lalu sengsara.

Jadi, kalau ada orang kaya atau seperti saya yang keturunan pembanting tulang menjadi sengsara, jangan salahkan uangnya, salahkan manusianya. Kontrol ada di tangan manusianya, dan bukan uangnya. Kaya bisa sengsara, miskin ya bisa sengsara. Kaya bisa bahagia, miskin ya bisa bahagia. Jadi, kalau uang tak bisa membeli kebahagiaan, tak punya uang juga sami mawon.

Teman saya pernah menangis dan mengatakan ia sengsara karena cinta. Cinta kok menyengsarakan. Yang bisa membuat dirinya sengsara, ya dirinya sendiri. Uang dan cinta tak pernah salah, tetapi kita acap kali memilih mencari kambing hitam. Karena acap kali kita tak mau dijadikan kambing hitam, cinta dan uanglah yang dijadikan sate kambing.

Kalau Anda mau punya banyak uang, cobalah berteman dan belajar dari orang-orang yang banyak uang dan bekerja keras untuk itu. Bukan memilih jalan singkat menjadi simpanan. Pengalaman saya mengajarkan, pekerja keras umumnya bisa memberi inspirasi, memberi solusi dan strategi untuk bertahan hidup dan maju karena terbiasa sengsara.

http://www.kompascommunity.com/index.php?fuseaction=home.arsip§ion=103&y=2007&m=2





Takut
Maret 7, 2008 by wewem

...saya berdoa karena takut. Tetapi, saat selamat tiba di tempat tujuan saya mulai berpikir untuk ke tempat mesum lagi, bahkan membuat janji bertemu dengan selingkuhan saya.

Kalau Anda berselingkuh dengan suami orang, katakan kepada istrinya, maaf saya sudah meminjam suami Anda dan saya ketagihan. Setelah itu jangan lakukan lagi. Karena, ketika Anda berhadapan dengan Tuhan dalam doa dan sembahyang Anda harus punya hati yang bersih...

http://www.kompascommunity.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=60859§ion=103





Menjadi Kedua dstnya
Februari 12, 2008 by wewem

Teman pria saya sedang suntuk karena pacarnya memutuskan hubungan cinta mereka yang baru berjalan sembilan bulan dan buat teman saya hubungan itu adalah segalanya.

“Gue belum pernah pacaran dan mencintai seperti sekarang ini,” katanya.

Saya kaget sekali dan berpikir, ucapannya itu bisa berarti pacar-pacar sebelumnya tak pernah dia cintai dengan porsi sama. Sementara mungkin saja pacar-pacarnya yang terdahulu itu telah merasa kalau teman saya mencintai dengan mendalam.

“Gue sudah kasih segalanya. Apa saja yang dia maui,” kata teman saya lagi. “Tetapi, kenapa tiba-tiba dia memutuskan hubungan itu begitu saja?” lanjut dia lagi.

Saya terdiam, tak tahu mau berbicara apa. Saya ini tak pernah pacaran, kalau jadi simpanan saya pernah. Meski itu juga tampak seperti pacaran, tetapi cara penanganannya tidak sama...

Katakanlah ia memang tidak cinta buta, bagaimana ia bisa mempercayai seorang pencuri untuk jadi pacarnya? Saya harus mengacungkan jempol kepada teman pria saya itu, ia mau dan memilih melakoni perjalanan asmaranya dengan seorang pencuri yang tidak setia. Tidakkah ia takut suatu hari ia juga akan ditinggalkan dan mungkin selama perjalanan cintanya tsb pacarnya itu juga “shopping” ke mana-mana???

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0710/07/urban/3888467.htm





Selamat Tahun Baru
Januari 16, 2008 by wewem

...tahun baru is just another day. Kalau mau dipikir tenang, memang semuanya hanya perubahan dari hari basi ke hari baru. Apa saya saja yang merasa bahwa tahun baru itu sesuatu yang spesial? Saya saja yang mendramatisasi bahwa akhir tahun sesuatu yang penting. Mungkin tahun baru terasa penting buat mereka yang menjalankan masa hukumannya di penjara, karena semakin cepat tahun baru berjalan...

..kalimat itu menyemangati saya untuk mulai sesuatu yang baru lagi, mulai dari nol, mulai menjadi kepompong lagi. Mungkin itu sebabnya saya tak pernah menjadi kupu-kupu...

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0801/06/urban/4101639.htm





Potret Diri
Januari 2, 2008 by wewem

Saya tersenyum saat melihat betapa tampannya saya semasa remaja dulu. Kulit yang bersih dan mata yang menawan. Teman-teman saya tertawa terbahak ketika saya menceritakan ketampanan masa muda saya.

Saya hanya tahu, manusia bisa seperti binatang berkaki empat itu. Tetapi, waktu melihat foto-foto dengan adegan tak senonoh, saya tak bisa santai lagi, kepala saya cenut-cenut dan hati nurani saya bersuara, saya ini sebetulnya mau apa dengan semua adegan penuh sensasi itu?

Saya tak menjawab pertanyaan itu, malah ada pertanyaan lain yang muncul. Perlukah saya sensasi dalam hidup? “Hari gene, gak usah pinter, yang penting terkenal dan penuh sensasi,” kata teman saya yang sangat dekat dengan kalangan selebriti. Kemudian teman saya itu bercerita kalau saya terlalu baik, rendah hati, dan taat beragama, itu jauh dari berita yang sensasional. “Enggak menjual,” kata dia.

Ia bercerita, yang menjual dan penuh sensasi itu kalau saya digerebek lagi nyabu. Atau kawin sama suami orang, cerai sama suami sendiri. Atau berhubungan intim dengan sesama jenis, atau berbeda jenis sambil divideokan dengan telepon genggam.

3. Kalau Anda mau difoto oleh fotografer kondang atau diabadikan majalah gaya hidup terkenal, maka Anda akan mempersiapkan acara itu dengan cermat dan teliti. Semua harus terlihat sempurna meski sempurna itu tak pernah ada. Maka, kalau Anda bisa melakukan itu, lakukanlah untuk pemotretan hidup Anda sesungguhnya. Jangan sampai hasil pemotretan hidup Anda yang dilihat orang adalah potret hidup seorang peselingkuh, potret manusia yang menjerat sesamanya untuk berbuat ketidakbenaran. Jangan memotret diri Anda menjadi gigolo atau germo berjubah profesional. Jangan memotret diri Anda sebagai pemarah, koruptor, tinggi hati, atau manusia nakal. Bukan hanya adik atau teman atau saudara Anda yang sedih. Tuhan yang bakal menangis kalau Anda begitu beraninya memotret diri Anda dengan keliru dari penciptaan semula.

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0712/23/urban/4093062.htm





KILAS PARODI SAMUEL MULIA 16 DESEMBER '07
Januari 2, 2008 by wewem

Jangan Jadi Penjilat, Jangan Jadi Korban Penjilat

1. Buat mereka yang masuk ke dalam kategori pemimpin yang suka dijilat, maka berhati-hatilah. Kalau Anda kelamaan dijilat, entah itu di bagian kepala atau bagian lain dari tubuh dan jiwa Anda, maka tempat yang dijilat itu lama-lama kehilangan sensitivitasnya. Nah, karena kehilangan atau paling tidak nilai ambang sensitivitasnya menjadi tinggi, maka Anda akan seperti disuntik obat anestesi. Kebal dan tak terasa apa-apa lagi.

2. Tanyakan mengapa Anda senangnya dijilat? Apakah Anda selama ini tak pernah disanjung, tak pernah mendapat pujian, atau masa kecil Anda kurang banyak yang dijilat sehingga sekarang ini dengan kedudukan Anda, Anda mencari kepuasan yang hilang itu?

3. Apalah gunanya Anda dijilat kalau Anda tahu semua itu tak menunjukkan kebenaran sesungguhnya, dan hanya sekadar untuk menyanjung ego Anda. Jadilah pimpinan yang tegas, hadapilah kenyataan yang terjadi dan jangan mau dibohongi para penjilat di sekitar hidup Anda. Mengapa sebagai pimpinan, Anda mau dijilat, meski enak, dan membuat Anda melayang? Pimpinan macam apakah Anda?

4. Buat mereka yang masuk ke dalam kategori tukang jilat, coba tanyakan kepada diri Anda, mengapa Anda melakukan itu? Untuk menyenangkan hati orang lain dengan sebuah kepalsuan, atau Anda punya niat mendapat kedudukan tertentu yang sudah Anda incar cukup lama, atau mau menjadi anak emas, atau hanya mau punya kendaraan roda empat?

Kalau Anda mau menyenangkan orang mengapa tidak dengan memberitahu kebenaran meski risikonya mungkin tak menyenangkan Anda? Kalau Anda mau mengincar kedudukan, mengapa Anda tak belajar menjadi pandai, mengasah self esteem Anda tanpa harus menggunakan lidah Anda? Jangan sampai lama-lama lidah Anda jadi empuk dan pas untuk dibuat sambal goreng lidah.

Kalau Anda mau punya kendaraan roda empat, kerja keras dan menabung. Kalau Anda tak sabar, itu tak mungkin. Kesabaran sangat diperlukan bagi para penjilat. Nah, kalau Anda bisa sabar jadi penjilat, mengapa Anda tak sabar menabung?

5. Terakhir buat para pemimpin. Jangan pernah menciptakan anak emas. Sekali Anda menciptakan anak emas, saat itu juga Anda mempercepat keruntuhan tim kerja Anda. Anak emas menciptakan kebencian, kebencian menciptakan ketidakbenaran dan kehancuran. Kecuali Anda memang lahir sudah dengan cita-cita sebagai destroyer, bukan conqueror.

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0712/16/urban/4085853.htm





Pejabhat
Desember 12, 2007 by wewem

Kalau Anda sekarang ini menjadi pejabat, dan penjahat juga (dan yang tahu Anda sendiri), coba melihat lagi album masa lalu Anda, apakah menjadi penjabat dan atau penjahat sudah ada di benak Anda sejak masa kecil dulu.

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0711/04/urban/3962042.htm





Tolong Peluk Saya
Desember 9, 2007 by wewem

Saya menangis dalam hati melihat sosok Ira Maya Sopha yang berperan sebagai nyonya kaya yang kesepian dalam film Quickie Express. Adegan saat ia memohon, bahkan sampai meraung-raung di lantai agar tak ditinggal gigolo langganannya, benar-benar memiris hati saya.

http://kompas.com/kompas-cetak/0712/09/urban/4049042.htm


-------------
key: samuel mulia urban cinta katarsis gaya kompas diri hati samuel mulia urban cinta katarsis gaya kompas diri hati samuel mulia urban cinta katarsis gaya kompas diri hati samuel mulia urban cinta katarsis gaya kompas diri hati samuel mulia urban cinta katarsis gaya kompas diri hati samuel mulia urban cinta katarsis gaya kompas diri hati samuel mulia urban cinta katarsis gaya kompas diri hati samuel mulia urban cinta katarsis gaya kompas diri hati samuel mulia urban cinta katarsis gaya kompas diri hati samuel mulia urban cinta katarsis gaya kompas diri hati