Ketika Cinta Itu Membunuhmu



oleh Romi Satria Wahono

Mas Romi, saya seorang mahasiswa di Malang, saya mendapatkan penolakan cinta dari pujaan hati saya di kampus. Rasa ini membuat saya agak terseok-seok, dan akhirnya nilai mata kuliah saya jadi hancur lebur. Bantu saya keluar dari masalah ini mas. (Anwar, Malang)

Masalah klasik para pemuda sang pengejar cinta, dan para pemudi sang penunggu cinta :(

“Cinta ini membunuhku”, itu bahasa D’Masiv :)

“Wahai kematian, datanglah cepat kemari, hisap dan dekap tubuhku yang penuh cinta ini”, kalau yang ini kata William Shakespeare dalam Romeo and Juliet.

Kahlil Gibran mengungkapkan dalam syairnya, “Bila cinta memanggilmu, ikutlah dengannya meski jalan yang kalian tempuh terjal dan mendaki”.

Kisah cinta datang dan pergi dari masa ke masa, menyuarakan hal yang sama dengan redaksi berbeda. Silih berganti dari Layla Majnun, Tristan und Isolde, Roro Mendut dan Pronocitro, sampai Romeo and Juliet. Cerita cinta selalu meggebu dan indah, meskipun ketika kita pandang jauh dari sisi lain, kadang buta, tidak nyata dan fatamorgana.

Ya benar, kita sering bingung dalam memaknai cinta. Lauren Slater dalam National Geographic edisi 2006 mengatakan, “Sulit untuk memisahkan pembicaraan antara cinta dan penyakit mental”. Maria dalam Ayat-Ayat Cinta mengatakan dengan redaksi yang berbeda, “Cinta adalah siksaaan yang manis”.

Apakah cinta, mencintai dan dicintai adalah salah? Jawabannya adalah tidak. Cinta itu indah, cinta itu semangat dan cinta itu adalah kebahagiaan. Bahkan mungkin kekuatan kita untuk mencintai adalah titik tertinggi dari hakekat cinta (halah) :)

Hanya permasalahan utama dari para pemuda dan pemudi yang kebetulan sedang jatuh, menjatuhi atau dijatuhi cinta adalah ada di dua hal: salah meletakkan posisi hati dan salah mendefinisikan cinta.

1. LETAKKAN POSISI HATI DENGAN BENAR

Cinta berhubungan dengan hati, itu pasti, karena di dalam hati ada unsur keindahan, semangat dan kebahagiaan, maka 3 hal ini ada kemungkinan besar berhubungan dengan cinta. Banyak dari kita yang meletakkan posisi kebersamaan dan penerimaan cinta sebagai titik tertinggi dari keindahan, semangat dan kebahagiaan. Karena itu kita gusar, sedih, dan sengsara ketika cinta kita tidak diterima oleh sang pujaan hati. Dan kita sangat menderita ketika kita tidak bisa memiliki kebersamaan dengan sang kekasih tercinta. Inilah titik sentral masalah cinta ala Layla - Qais, Roro Mendut - Pronocitro, maupun Romeo - Juliet.

Menempatkan posisi kebersamaan dan penerimaan bukan sebagai titik tertinggi dari cinta adalah faktor terpenting yang membuat cinta tidak akan bisa membunuh kita ;) . Saya selalu menempatkan posisi keindahan, semangat dan kebahagiaan saya ketika saya bisa bermanfaat untuk orang lain, mencapai suatu prestasi, dan bisa melakukan hal yang tidak bisa dilakukan orang lain. Ketika banyak orang lain berlomba-lomba untuk mencintai orang lain, bahkan dengan cinta buta, saya berusaha berdjoeang untuk mencintai diri saya sendiri. Inilah cinta dengan logika.

Mencintai diri sendiri bukan berarti banyak tidur, banyak santai, atau banyak rekreasi. Mencintai diri sendiri artinya: saya harus berprestasi, saya harus berhasil dan sukses, saya harus bermanfaat untuk orang lain, saya harus bisa membuka lapangan kerja baru, saya harus memberi beasiswa ke banyak orang, dsb. Implikasinya mungkin sangat berat, karena saya harus bekerja lebih keras, mengurangi tidur, atau mendisiplinkan diri saya sendiri. Tapi itu semua saya lakukan karena saya mencintai diri saya sendiri. Ya inilah mungkin hakekat dari ungkapan si Maria, “Cinta adalah siksaan yang manis”. Bagi saya, mencintai diri sendiri adalah modal penting dalam kesuksesan mencintai orang lain.

Kebersamaan dan penerimaan bukan sesuatu yang selalu membahagiakan saya. Kadang saya secara fisik harus meninggalkan semua orang yang saya kasihi dan cintai. Kadang saya harus bersikap keras kepada para pedjoeang saya, kepada sahabat saya dan bahkan kepada istri dan anak-anak saya, sehingga sering mereka sulit memahami dan menerima saya. Tapi itu semua saya lakukan karena cinta saya yang teramat sangat kepada mereka, saya tidak ingin mereka gagal, saya ingin semua orang bisa berhasil, dan memberi manfaat kepada orang lain dengan lebih baik. Dan inilah cara saya menghembuskan ayat-ayat cinta kepada mereka :)

Meskipun sebenarnya ada kebersamaan dan penerimaan cinta yang selalu saya bahagiakan dan harapkan, yaitu dari Sang Penguasa Alam dan Pemilik Jagad Raya. Inilah koridor penting jalan cinta kita, ingat bahwa cinta mati hanya milik Allah sang penguasa jagad raya bukan untuk makhluk Allah.

Jadi pesan saya, wahai para pemuda, mari letakkan posisi hati kita pada tempatnya. Cinta itu tidak akan membunuhmu, kesalahan posisi hati itulah yang akan membunuhmu.

2. UBAH DEFINISI DAN PARADIGMA CINTA

Kesalahan kedua yang sering kita lakukan adalah kesalahan memahami definisi dan paradigma cinta. Banyak penelitian tentang cinta dilakukan. Salah satu yang cukup terkenal adalah formula cinta dari Robert J Sternberg: A Triangular Theory of Love (Teori Segitiga Cinta).

Menurut Sternberg, jenis cinta tergantung dari sifat hubungan kita dengan orang lain. Komitmen saja tanpa gairah dan keakraban adalah Cinta Kosong. Gairah saja tanpa dua unsur yang lain artinya tergila-gila. komitmen dan keakraban tanpa gairah menjadikan persepsi cinta sebagai Cinta Persahabatan. Keakraban dan gairah tanpa komitmen membuat Cinta Romantis. Sedangkan komitmen dan gairah tanpa keakraban menyebabkan Cinta Buta. Ketika kita berhasil menyatukan komitmen, gairah dan keakraban maka akan terjadi Cinta Sempurna.

Banyak yang masih meragukan teori ini bisa berlaku valid untuk semua jenis hubungan cinta, misalnya cinta seorang anak kepada ibunya dan sebaliknya. Hasil penelitian dari Lauren Slater juga mengisyaratkan bahwa susunan kimia otak pemicu romantika, ternyata tidak ada hubungannya dengan komitmen yang memupuk kelekatan jangka panjang. Salim A Fillah, penulis buku Jalan Cinta Para Pejuang, mengatakan bahwa Komitmen adalah sudut kunci dalam teori cinta Robert J Sternberg. Komitmen adalah ikrar kerelaan berkorban, memberi dan bukan meminta, berinisiatif tanpa menunggu dan memahami bukan menuntut.

Sebagian masalah cinta mungkin bisa terwakili oleh Teori Segitia Cinta-nya Sternberg. Tapi kalau kita coba simpulkan dari berbagai referensi lain, dari pandangan Slater, Salim A Fillah dan Anis Matta lewat seri cinta dan pahlawannya di majalah Tarbawi. Cinta Sempurna adalah suatu proses panjang, hasil dari cinta kasih dua manusia yang terjalin dalam suatu hubungan yang sah. Cinta Sempurna bukanlah cinta pada pandangan pertama, karena itu mungkin hanya suatu gairah atau ketergila-gilaan, istilahnya Slater. Cinta Sempurna juga bukan cinta lokasi, cinta monyet, cinta jadi-jadian, cinta karena fisik atau cinta karena harta dan tahta. Cinta Sempurna adalah hasil suatu perdjoeangan panjang. Hasil dari kekuatan kita untuk menyelesaikan masalah perbedaan, memahami kekurangan dan kelebihan, merekatkan hati dan komitmen untuk tetap ada di jalanNya.

Mudah-mudahan ketika terjadi penolakan cinta, kita berani berikrar dengan gagah, ”Lupakan dirimu dan aku akan kembali padaNya”. Catat bahwa huruf N untuk Nya itu harus kapital :) Jangan lupa ubah genjrengan gitar kita dari lagu kenangan kisah cinta, ke lagu: Menghapus Jejakmu (Peterpan), Baiknya (Ada Band), Musnah (Andra and The Backbone), atau Aku Bukan Untukmu (Rossa) hihihi …

Resapi dua syair ini:

Baiknya semua kenangan yang terindah, tak ku balut dengan tangis
Baiknya setiap kerinduan, yang merajam tak kuratapi penuh penyesalan

Dan bangkitlah, lanjutkan perdjoeangan!

Ingatlah bahwa para legenda tidak pernah mengejar cinta, karena itu:

Janganlah kalian mengejar cinta. Jadilah legenda yang penuh dengan prestasi dan manfaat untuk orang lain, maka cinta akan silih berganti mengejar kalian. Dan ketika masa itu datang, pilihlah takdir cintamu, kelola cintamu, atur kadarnya, arahkan posisinya, dan kontrol kekuatan cinta sesuai dengan tempatnya.

Dan itulah jalan cinta para legenda …

Tetap dalam perdjoeangan!

http://romisatriawahono.net/2008/11/18/ketika-cinta-ini-membunuhmu/



-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

Reuni

oleh Samuel Mulia

Di atas ketinggian sekian puluh ribu kaki dalam perjalanan dari Medan ke Jakarta, saya merebahkan diri sambil membekap dua lubang telinga saya dengan iPod Touch yang baru saya beli.

Rencananya mau membeli yang Nano. Ternyata saking nanonya, saya tak bisa melihat. Saya mengenakan kacamata plus dua, plus silindris pula, masih tak kelihatan. Kemudian iPod Nano itu saya jauhkan, masih juga tak kelihatan.

Teman yang menemani saya melihat kelakuan mengenaskan itu, berkata begini, ”Wis to, Mas, penjenengan iku sampun sepuh. Ndak usah neko-neko. Nanti kubelikan iPod Touch saja sing guedi, kayak punyaku. Nanti kan ketok kabeh. Hurufnya guede-guede.”

Maka barang canggih itu sampai di tangan saya. Memang benar, size does matter. Dan kok yaaa… sing guede emang pualing uenak. Ketok kabeh. (Mohon maaf, sejuta maaf yang tak mengerti bahasa Jawa, bisa minta tolong tanya teman atau apa saudara).

Di tengah perjalanan yang bercuaca terang sebagian dan berawan sebagian, saya mulai menikmati alunan lagu-lagu di dalam gadget modern itu. Kursinya empuk, pendingin kabinnya juga maksimal, santapan sorenya kok tumben juga cihui. Kalau sudah begitu rasanya ingin melayang terus, tak usah mendarat. Apalagi mendengarkan lagu-lagu favorit saya, hidup benar-benar terasa nikmat. Mungkin begini rasanya kalau orang melayang karena narkoba.

Senyum pertama

Saya memejamkan mata dan kemudian tanpa saya sadari lagu-lagu itu membuai dan membuat banyak kenangan lama dan baru bermunculan. Tak ada satu pun kenangan pahit menyelinap. Saya senyum-senyum sendiri, seperti orang gila.

Mungkin itu sebabnya saya kadang berpikir, kalau beban hidup itu sudah begitu menekan, kepahitan itu begitu merasuk, saya perlu menjadi gila sejenak, saya membutuhkan waktu untuk menghilangkan kepahitan itu dengan hal-hal yang dilarang. Yang melayangkan sejenak dan kemudian menenggelamkan selamanya.

Tiga minggu lalu saya hadir dalam reuni akbar sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Akbarnya bukan soal besarnya acara temu kangen itu, tetapi akbar dalam artian reuni itu mengumpulkan manusia-manusia lulusan angkatan pertama. Ada empat meja yang menyediakan buku tamu dengan berbagai angkatan. Dari masa enam puluh sampai sembilan puluh.

Karena mata saya juga sudah tidak kelihatan jelas, saya langsung saja ke meja pertama tanpa melihat angkatannya. Ternyata meja untuk angkatan enam puluh. Sahabat saya dari sekolah dasar malah nyeletuk, ”Pas kok… masih pas angkatan enam puluh. Sudah enggak usah cari meja lain, di situ saja.”

Kemudian kami saling melepas rindu. Tentu tak mungkin melepas baju. Salah satu teman pria yang sebangku dengan saya semasa sekolah menengah pertama mengaku, ia sering meraba-raba paha saya. Katanya mulus banget. Kami semua yang mendengar tertawa terbahak. Di dalam hati saya berkata, kenapa enggak ngeraba sekarang saja, masih mulus kok. Dan cerita miring selanjutnya menjadi bagian dari cakap-cakap pada hari istimewa itu, terutama dari kumpulan manusia yang tak lama lagi menginjak setengah abad.

Siang itu kami ditraktir salah satu teman yang paling sukses dan paling kaya. Di rumah makannya yang nikmat. Di masa sekolah dahulu, ia salah satu di antara teman lain yang mengajak saya menjadi pria dewasa sebelum waktunya. Sembunyi-sembunyi melihat buku porno. Setelah sekian tahun berjalan, ia adalah pria yang memiliki pernikahan yang aman sejahtera.

Senyum kedua

Tentu cerita soal pernikahan tak bisa terelakkan. Dari sekian teman wanita di dalam kelas yang hanya berisi tiga puluh dua orang, satu meninggal dan lima sudah menjadi janda. Kelimanya bercerai dengan sejuta alasan. Yang satu malah sudah jadi janda dua kali.

Salah satu teman kami mengatakan. ”Mbok kalau jadi janda itu sekali aja napa?” Maka ramailah suasana.

Saya tak perlu bercerita tentang bagaimana cerita para janda itu melampiaskan hasrat seksual mereka, tetapi saya lebih memerhatikan kelima wanita itu dengan keadaan jiwa yang berbahagia menyandang predikat itu pada usia nyaris setengah abad. Usia yang belum tua benar, tetapi juga usia yang bukan muda lagi.

Kemudian saya berkaca kepada diri saya sendiri, apakah saya juga bisa berjuang sendiri pada usia menjelang senja dengan sebuah kebahagiaan, tanpa harus berkeluh dan berkesah bahwa hidup itu tidak adil? Apakah kalau saya tak janda, tetapi lajang seumur hidup, ”tidak laku” sampai sekarang, bisakah saya seperti mereka?

Saya pernah menjalani sebuah periode kesepian yang meluluhlantakkan. Saya merasa hidup itu sungguh tak adil karena saya tak bisa berpikir seperti lima janda itu. Mereka menggunakan kekuatan dan kemampuan untuk mau berpikir positif. Dalam bahasa Indonesianya, mereka mau menerima keadaan, sesesak apa pun situasi yang dihadapi.

”Gue sungguh menikmati jadi single lagi.” ”Eh… cariin laki dong. Gini-gini juga masih asyik.” Itu dua komentar yang menyemangati. Jadi, seharusnya saya bisa. Teman saya nyeletuk, ”Bisa berkeluh kesah, atau bisa jadi janda?”

Kilas Parodi: Jadi Oli atau ”Hair Dryer”?

1. Mungkin ada baiknya kalau saya perlu sekali-kali berkumpul dengan teman-teman lama. Saya katakan lama, bukan yang setiap hari menemani Anda nongkrong, terutama teman yang masuk ke dalam kategori dayang-dayang dan atau penjilat.

Pertemuan dengan teman lama, selain sebagai pelepas rindu, juga pemberi semangat untuk jiwa. Memutar kembali kenangan lama yang membangkitkan semangat. Dengan demikian, saya tak perlu selalu ”diperkosa” dengan situasi bernama gengsi, inflasi, berita nilai saham yang menyesakkan dada, berita yang tak menyemangati, yang memecah belah dan mengeringkan bak hair dryer.

2. Kalaupun reuni jarang dilakukan dan teman lama entah raib ke mana, meski sekarang ada facebook yang memudahkan menemukan teman lama, saya juga harus memilih teman yang perkataan-perkataannya bak oli pelumas, yang membuat hal-hal berkarat dan sudah ngadat bisa dilembabkan lagi dan berjalan kembali. Perkataan-perkataan yang tak mengeringkan dan kalau keseringan dipakai malah membuat rambut menjadi bercabang alias rusak. Saya perlu dan harus menjadi editor perkataan-perkataan itu kalau hidup saya tak mau berakhir menjadi kering.

3. Dan yang utama, saya juga harus menjadi teman dan manusia yang menjadi pelumas dan bukan pelumat orang lain. Jadi, bukan hanya saya saja yang memilih teman dan mengharapkan mereka menjadi oli untuk jiwa saya yang kering. Saya pun harus jadi oli. Maka kemudian cucok-lah kalau hari ini saya dan Anda mendendangkan lagu That’s What Friends Are For. Mari-mari bernyanyi.

And I never thought I’d feel this way.

And as far as I’m concerned

I’m glad I got the chance to say

That I do believe I love you

And if I should ever go away.

Well then close your eyes and try

To feel the way we do today

And then if you can remember

Keep smiling, keep shining

Knowing you can always count on me, for sure

That’s what friends are for

For good times and bad times

I'll be on your side forever more

That's what friends are for

Well you came in loving me

And now there’s so much more I see

And so by the way I thank you

Oh and then for the times when we’re apart

Well then close your eyes and know

The words are coming from my heart

And then if you can remember


http://community.kompas.com/urbanlife


-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

MUNA

oleh Samuel Mulia


Muna bukan nama wanita, bukan juga waria atau pria sejati. Itu juga bukan nama rumah makan atau butik yang menyediakan pakaian murah-meriah atau mahal.

Muna adalah sebutan untuk saya oleh teman-teman. Dari kata munafik. Alasannya sederhana. Menurut mereka, saya memiliki kemampuan untuk memiliki dua wajah. Mungkin singkatnya, bisa bermuka ganda, atau mungkin seperti mata-mata. Kadang FBI, kadang KGB, kadang BIN. Kadang seperti malaikat, tetapi secepat kilat bisa berubah menjadi pesaingnya malaikat.

Sebutan muna itu tiba-tiba muncul setelah lama, lama sekali hilang dari kepala, dan muncul saat saya terpaksa harus menikmati kemacetan lalu lintas Jakarta dari kawasan industri Pulo Gadung ke rumah teman di bilangan Jakarta Selatan, yang telah menghabiskan dana yang bisa dipergunakan untuk makan siang satu kali dan ngupi-ngupi satu kali.

Pak Priyatna vs saya

Ingatan itu disegarkan setelah saya membaca laporan majalah Tempo mengenai sosok Priyatna Abdurrasyid dalam rubrik ”Memoar”. Cerita jaksa ini pada masa Orde Baru sangat menggugah hati. Saya sempat bingung dan bertanya bagaimana Tuhan bisa menciptakan sosok seperti ini. Saya juga ingin bertanya kepada orangtuanya, pendidikan apa yang diberikan kepada anaknya sehingga bisa menjadi manusia seperti itu. Tak hanya pandai, tetapi begitu kuat dalam pendirian.

Itu berbeda sekali dengan saya. Mudah sekali tergoda. Bahkan mudah sekali melacurkan diri bilamana perlu. Padahal seingat saya, orangtua saya tak pernah mengajarkan saya menjadi pelacur. Mungkin kalau ini, saya saja yang memang senang melacurkan diri. Mungkin karena menemukan ada sisi enaknya menjadi pelacur.

Dalam tulisan cukup panjang itu digambarkan juga Pak Priyatna sebagai sosok yang mampu tidak bermain sandiwara dalam kehidupan ini.

Letnan Jenderal Alamsyah Ratu Prawiranegara, mantan komandannya saat dia menjadi anggota TNI di Sumatera Selatan, pernah berujar kepadanya, ”Jij moet toneel speelen (kamu harus main sandiwara) dalam memeriksa Pertamina.” Perhatikan kata-kata itu, saudara-saudara. Moet. Harus! Ada suara perintah, bukan diskusi terbuka.

Kemudian Pak Priyatna menjelaskan kalau ia disuruh berpura-pura melakukan pemeriksaan, semuanya tak akan diteruskan. ”Saya jelas tidak bisa melakukan itu,” kata dia.

Singkat cerita, ia dipanggil ke Bina Graha untuk berhadapan dengan Pak Harto. Ia tampaknya juga tak menyerah menghadapi orang nomor satu masa itu. Dalam percakapan itu secara tersamar Pak Harto mengatakan kalau ia melepas kasus Pertamina, kariernya akan naik sampai menjadi Jaksa Agung. Kalau tidak, ada konseksuensi yang harus ditanggung. Ia memilih mundur. Sementara saya? Saya akan menjadi hebat sekali kalau sudah berbicara soal sandiwara. Apalagi memberikan tip dan triknya.

Artikel itu makin meresap ke dalam sel-sel otak saya, seperti racikan bumbu ke dalam rendang. Saya sudah tak peduli, tepatnya tak merasakan taksi yang saya naiki dari tadi masih jalan di tempat.

Pertanyaan muncul lagi di kepala. Kali ini soal ancaman. Saya tak bisa membayangkan, betapa kuatnya Pak Jaksa yang berkuasa pada awal 1950-an ini menghadapi ancaman, baik fisik maupun non-fisik. Kalau ancaman itu terjadi pada saya, so pasti saya langsung memilih menganggut-anggut mengiyakan saja daripada kehilangan posisi, nyawa melayang seperti layangan, juga kehilangan uang banyak.

Kebelet

Cerita dalam artikel itu benar-benar membuat saya menitikkan air mata, meski tak ada satu hal pun sentimental yang perlu ditangisi. Saya menitikkan air mata ketika membaca gajinya tak dibayarkan, rumah dirampas dengan hanya bermodalkan surat keputusan yang ditandatangani temannya sendiri yang pernah dia bantu mendapatkan jenjang karier lebih tinggi. Air mata itu tepatnya bukan buat Pak Priyatna, tetapi buat saya.

Kalimat demi kalimat di dalam artikel tersebut hanya menyetrum saya untuk berani jujur, apakah saya juga seorang teman yang pengkhianat? Apakah saya lupa kepada teman-teman yang pernah membuat saya berjaya? Brutus-kah saya? Apakah saya juga seorang teman yang membenci sesamanya sampai tak punya lagi rasa belas kasihan? Apakah karena saya akan dibuat sengsara dengan kejujuran teman-teman saya, saya menyengsarakan mereka terlebih dahulu? Sampai begitu teganya mematikan hidup orang perlahan demi perlahan.

Kalau sudah begitu, apa arti keberadaan saya di rumah ibadah dan berhadapan dengan Tuhan melalui doa-doa yang dipanjatkan? Sama Tuhan saja saya berani bermain mata-mata. Sekarang membunuh orang, dua jam lagi menangis minta ampun seperti anak kecil.

Kebiasaan. Habit. Itu saja dasar dari berbuat senonoh atau dua nonoh. Kebiasaan merekayasa, mengancam, membunuh. Disebut kebiasaan karena memang biasa dilakukan, Karena kalau sudah biasa, lama-lama bisa mudah melakukannya. Saya biasa berselingkuh, awalnya tidak pandai. Lama-lama kepandaian tersebut di atas rata-rata karena sering dilatih, seperti selalu diajarkan guru saya untuk rajin belajar dan melatih kebiasaan menjadi rajin. Nasihat guru saya itu sekarang saya rasakan manfaatnya. Rajin mencuri milik orang lain, sampai imun. Bahkan mencuri pun lama-lama bukan hal negatif.

Seperti film berjudul Taken yang saya tonton beberapa minggu lalu. Film ini menceritakan bisnis pelacuran gadis-gadis muda yang dikoordinasi mereka yang memiliki istri dan anak. Saya hanya ingin bertanya, bagaimana kalau anaknya sendiri yang dijual? Diceritakan pula seorang kepala polisi terlibat dalam bisnis kotor itu, sementara tugas kesehariannya sebagai penegak kebenaran. Mungkin ia sama seperti saya, muna. Bisa menegakkan keadilan dan juga mengencinginya lain waktu.

Di taksi itu, di tengah kemacetan lalu lintas Jakarta, saya berjanji tidak lagi memiliki kebiasaan buruk. Menjadi muna. Karena saya yakini kebiasaan yang buruk itu merusak tabiat yang baik. Sejak saya dilahirkan, keberadaan saya hanya untuk kebaikan. Kalau saya jadi rusak, itu bukan karena saya manusia yang sekadar lemah, penuh kekurangan. Itu karena saya juga memilih untuk tidak mengasah kebiasaan berbuat baik.

Semoga keputusan saya ini bukan karena saya kebelet. Kebelet adalah sebuah ancaman. Di bawah ancaman saya terbiasa mengumbar seribu janji. Karena setelah melewati masa kebelet, saya lega, bisa berpikir waras, maka saya mulai lagi berpikir, waduh kalau saya baik, nanti saya diancam lagi nih!

Kilas Parodi: Pak Priyatna atau Saya?

Lingkari jawaban yang sesuai dengan hati nurani Anda. Pertanyaan di bawah ini sebuah tes kecil-kecilan dan saya ambil dari artikel di majalah Tempo itu.


1. Kalau ada yang menasihati Anda seperti ini, ”Mas, jangan terlalu keras dan tanpa perhitungan. Lebih baik ikuti policy Bapak saja. Apa yang Anda lakukan?

a. Saya enggak ngerti. Policy itu apa ya? Apa bedanya sama polisi?

b. Menjawab, ”Baik, terima kasih. Akan coba saya pikirkan apakah saya ini keras dan tanpa perhitungan.”

c. Menjawab tegas, ”Enggak usah ikut campur. Itu urusan saya dengan Bapak. Ini bukan nasi campur. Mau keras kek, mau lembek kek, mau tanpa perhitungan kek, sudah dihitung kek, jij enggak usah ikut-ikut.”

d. Maksudnya Bapak? Bapak saya, apa bapaknya siapa? Maaf IQ saya lagi jeblok.

2. Seandainya Letnan Jenderal Alamsyah Ratu Prawiranegara memberi nasihat, seperti yang ditujukan kepada Pak Priyatna, kepada Anda. ”Jij moet toneel speelen (kamu harus main sandiwara) dalam memeriksa Pertamina.” Jawaban apa yang akan Anda beri.

a. ”Oke deh, Pak! Siap akan saya laksanakan! Kalau cuma main toneel itu mah… a piece of cake! Bersandiwara itu sudah menjadi bagian hidup saya sehari-hari. Lha wong saya menjawab ini saja sambil main sandiwara. Saya sampai enggak tahu apa jawaban saya ini jujur apa tidak.

b. ”Waduh, enggak bisa, Pak. Saya ini sejak dulu tak pernah diajari bermain sandiwara. Bapak saya bukan seniman, di keluarga tak ada yang pernah menjadi pemain sandiwara. Mbok saya diajari. Saya pasti bisa. IQ saya di atas rata-rata. Cepat, kok. Bapak enggak akan menyesal mengajari saya.”

c. ”Tidak, Pak, saya lebih baik mengundurkan diri saja.”

d. ”Imbalannya apa, Pak? Imbalan itu buat saya penting. Kira-kira bisa menjadi Deputi Gubernur BI enggak, Pak?”

3. Kalau teman Anda yang Anda promosikan mengucilkan Anda, apa yang Anda lakukan?

a. ”Gampang. Saya datangi dan saya kecilkan, bukan dikucilkan. Kalau bisa, saya bonsai. Beres.”

b. Saya berdoa supaya Tuhan mengampuni dia karena mungkin dia tidak tahu apa yang sedang ia perbuat. Bukankah saya orang beragama, harus mengampuni. Negeri saya saja punya sila Ketuhanan Yang Maha Esa, yaaa… masak saya mau sakit hati. Saya serahkan saja kepada Sang Kuasa. Apa hak saya sebagai manusia menghakimi sesama.

c. Yaaa… sakit hatilah yao. Hare genee gak sakit hati. Gue enggak bakal jadi temannya lagi. Gue akan cerita ke seantero jagat jangan pernah memercayai dia.

d. Yaa… peristiwa itu mengajarkan saya untuk tahu teman yang benar teman, atau teman yang pura-pura teman. Kita harus mampu berbesar hati dan belajar dari hidup ini. Malah saya bersyukur, orang lain yang bertabiat seperti itu dan itu bukan saya. Jadi, kalaupun saya nanti tak lagi di bumi ini, saya juga akan pergi tanpa beban. Mau ditanya Sang Khalik, yaaa… saya sudah punya jawabannya.

http://community.kompas.com/urbanlife


-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

Family value

oleh Samuel Mulia


Setelah lama absen di gedung bioskop, akhir pekan minggu lalu saya menyaksikan beberapa film.

Dari empat film, hanya dua saja yang berkesan: We Own the Night dan Georgia Rule. Setelah empat jam di gedung bioskop, saya teringat pada peristiwa berpuluh tahun lamanya saat untuk pertama kali menyaksikan film biru ditemani ayah.

Ayah menjelaskan ini dan itu karena ia berpikir, daripada anaknya tersesat di luar rumah, lebih baik ia memberi tindakan preventif dari dalam rumah. Saya menceritakan kepada teman-teman kejadian itu, mereka mengatakan ayah saya gila.

”We Own the Night”

Family value. Nilai yang ada dan berbeda-beda di setiap rumah tangga. Itulah yang saya dapat dari dua film di atas. Nilai yang dibuat dan yang pada akhirnya memengaruhi setiap anggota keluarga tentang bagaimana memandang hidup.

We Own the Night mengisahkan hubungan kakak beradik dan ayahnya yang keras, mirip ayah saya. Yang satu jadi anak ”malaikat”, yang lain jadi anak ”setan”. Mengapa ada dua sosok berbeda dari dapur yang sama? Ayahnya yang keras dan dimainkan apik oleh Robert Duvall mengatakan kepada si anak ”setan”, ”Ibumu terlalu lemah kepadamu.”

Sementara itu, si anak ”malaikat” malah memuji perilaku si anak ”setan” akan keberanian dan kebebasan untuk memilih jalan hidup, bukan seperti dirinya yang menjadi anak ”malaikat” hanya sekadar menuruti keinginan sang ayah. Tentu sang ayah senang dan bangga karenanya. Sementara yang tak menurut dianggap anak durhaka. Jadi, nurut adalah nilai agung yang tak terbantahkan! Mau itu berisiko menjadi muna, itu tak penting lagi.

Perbedaan nilai itu juga yang membuat ayah saya menjerit di butik Louis Vuitton beberapa belas tahun silam di Los Angeles saat pertama kali saya meminta kepadanya untuk membelikan tas bermerek yang mahal itu. Ia menganggap barang semacam ini tak ada nilainya. ”Cuma untuk gaya-gayaan,” kata dia.

Tentu, masa itu saya hanya tahu barang semacam ini hanya untuk gaya-gayaan dan tak pernah terbayangkan sekarang nilai tas-tas bermerek itu melambung tinggi. Wah..., kalau saja ayah saya masih hidup, saya akan bagikan uang dari hasil penjualan tas bermerek itu agar ia tahu yang dahulu dianggapnya tak bernilai itu keliru sama sekali.

Dan, datanglah masanya ia meninggal dunia. Saya, sebagai si anak ”setan” dalam keluarga, terpaksa harus menjalankan usaha dia, bukan adik saya yang pandai dalam hitung-menghitung. Sekarang, ia malah bekerja di salah satu bank di luar negeri, mengurus usaha orang lain, dan mungkin ia merasa tak penting mengurus usaha ayahnya. Anak ”setan”-kah adik saya dan anak ”malaikat”-kah saya?

Mungkin saya salah mengartikan nilai menghormati orangtua. Saya menyamakannya dengan harus meneruskan usaha Ayah. Sementara adik saya memiliki kebebasan memilih. Ia menghormati orangtua dengan nilai berbeda, yang membuat saya naik pitam. Mungkin, saya saja yang tak punya nyali, seperti Mark Wahlberg yang berperan sebagai anak ”malaikat” yang terpaksa.

”Georgia Rule”

Kebebasan yang diambil adik saya itu juga diperlihatkan Lindsay Lohan dalam film Georgia Rule. Kebebasan yang telah membuat teman saya yang nonton bersama mengatakan, ”Kalau saja aku punya keberanian memiliki kebebasan itu, tanpa harus terikat dengan nilai-nilai kita yang kadang baik, tetapi banyak muna-nya, saya bisa jadi manusia berbahagia.”

Saya terdiam. Sebagai orang Asia, eh... salah... sebagai manusia Indonesia, oh... maaf, salah lagi. Sebagai saya sendiri, saya berpikir usaha orangtua itu seharusnya diteruskan anaknya. Itu nilai hidup yang baik.

Saya naik pitam kepada adik saya karena ia seperti tak peduli. Selang beberapa menit, saya mulai berpikir. Mungkin saya salah, adik saya benar. Itu bukan tanggung jawabnya untuk meneruskan warisan Ayah. Itu juga bukan urusan saya untuk meneruskan itu.

Mungkin ayah saya saja yang kurang kerjaan membuat usaha. Mungkin nilai yang dimiliki Ayah dan yang dipercayainya adalah orangtua harus menjadi penyedia kebutuhan masa depan anak- anaknya sehingga dia berusaha supaya anaknya tak menderita. Sementara teman bule saya di Amsterdam dalam usia 15 tahun sudah bekerja paruh waktu. Jadi, dari kecil, ia dicekoki nilai bahwa masa depan ada di tangan setiap orang, bukan orangtua. Orangtua tak selalu menjadi a shoulder to cry on.

Dalam film Georgia Rule digambarkan nilai dalam keluarga yang membuat saya terkaget-kaget. Bagaimana ada anak dengan lantang mengatakan kepada ibunya untuk tidak lagi mengganggu hidupnya. Mengenyahkan si emak dari hidupnya.

Teriakan yang menurut saya kurang ajar sekali itu dijadikan opening scene. Saya merasa itu kurang ajar, teman saya bilang, Dik Lohan hanya mau berlaku jujur bahwa ibunya memang menyebalkan.

”Gimana enggak mau sebal pada ibu yang mabora (mabuk) setiap saat,” kata teman saya.

Setelah itu, diperdengarkan percakapan antara nenek dan cucu yang berakhir dengan umpatan kata kotor dari mulut si nenek untuk cucunya. Sementara nilai dalam keluarga saya, entah itu karena kami orang Asia, orang Indonesia, orang yang pernah terjajah, tak mungkin berkata kotor kepada orangtua. Itu tidak santun.

Permasalahan seks juga diungkap blak-blakan. Bukan secara fisik, tetapi secara percakapan. Buat seorang pria tampan yang cah ndeso dari Idaho, seks adalah sesuatu yang sakral, yang hanya bisa dilakukan setelah menikah. Nilai agung yang dipercayai si pria itu malah jadi bahan tertawaan untuk Lindsay Lohan.

Tertawanya itu seperti menggambarkan, jika seseorang mampu mempertahankan keperjakaannya, itu bukan prestasi, tetapi banyolan. Hal yang ketinggalan zaman.

Kemudian saya berkaca sebagai manusia Indonesia, manusia Asia, apakah saya memiliki nilai si pria cah ndeso itu atau seperti Dik Lohan. Saya seperti Dik Lohan ternyata.

Kata teman saya, ”Lo sok kebule-bulean.”

Suatu hari saya bilang berselingkuh itu salah, teman saya bilang itu sama sekali jauh dari salah. Tuh... daripada terus seperti itu, mending tidur, bukan? Secara hujan di luar, dingin, dan saya tak mau mumet karena bicara soal nilai.

Kilas parodi: Begini Saya Menilai...

1. Waktu Ayah meninggal, beliau disemayamkan di sebuah rumah sakit di Jakarta. Salah satu dari kerabat kami menyarankan saya untuk menjaga jenazah Ayah semalam suntuk. Katanya, sebagai anak laki pertama, itu tak jamak kalau tak dilakukan. Itu sebuah penghormatan.

Setelah mendapat petuah itu, saya datang ke depan peti jenazah dan mengatakan kepada Ayah yang terbaring tanpa bisa mendengar, saya tak mau menemaninya. Saya mengantuk mau pulang dan tidur nyenyak, besok pagi saya kembali lagi.

Buat saya, menjaga semalam suntuk bukan penghormatan. Penghormatan itu saat ia masih hidup. Saya tak mau membayar ketidakhormatan saya selama ia hidup pada saat dia tak lagi bernyawa.

2. Ayah saya menikah dua kali, setelah Ibu meninggal. Saya selalu saja kaget setiap kali ia menikah. Awalnya saya protes, kemudian saya mengerti dia membutuhkan teman. Tidak hanya untuk kebutuhan lahir, tetapi batin juga. Ia tak tahan kesepian.

Saya menghormati keputusannya itu. Penghormatan terhadap orangtua adalah family value yang saya dapati. Meski buat saya kesepian itu sebuah nilai yang tak perlu harus dieksekusi dengan menikah beberapa kali. Yah.., namanya manusia tak pernah sama, bukan?

3. Saya baru selesai makan siang bersama teman lama. Kami berbicara soal perselingkuhan. Sebuah tema pembicaraan yang menurut salah satu pembaca Parodi bosan banget untuk ditulis lagi. Akan tetapi, perselingkuhan itu seperti air, selalu ada dan dicari.

Saya memiliki nilai terhadap hubungan itu, setia sampai mati. Jadi, untuk hal ini tak ada tawar-menawar meski perselingkuhan sekarang tampaknya seperti hal biasa saja. Nilai-nilai sebuah hubungan sudah begitu bergeser. Dan, itu tak hanya terjadi pada generasi yang lebih muda karena dua teman saya yang ayah dan ibunya sudah berusia lebih dari 55 tahun doyannya yaaa... gitu deh.

4. Sebagai seorang teman, value sebuah pertemanan adalah bukan mencari keuntungan meski dengan berteman banyak saya mendapat banyak keuntungan. Bingung? Saya sendiri juga bingung. Kadang saya juga tak tahu apa yang sedang saya tulis.

5. Ini pesan saya. Mau dituruti tak masalah, tak mau juga tak apa-apa. Kalau Anda tahu tindakan Anda tak punya nilai apa pun, jangan pernah mencoba-coba mencari celah untuk memberi value sehingga tindakan itu kelihatan penuh arti demi hanya untuk menyenangkan ego Anda.

http://community.kompas.com/urbanlife


-------------
-------------
keywords, content:

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

bunyi bunyi puisi rima statistik fonem fon puisi poe poet sajak sanjak cerpen short story sastra sastera literature analisis teori penelitian posmodernisme kontemporer medan makna semiotik semiotika resepsi sastra estetika resepsi pembacaan karya sastra

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

puisi cinta love aku sendiri alone tuhan god sunyi sepi alone indah beautiful hati heart hidup life

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

komputer computer website situs blog html adsense internet bunga flower taman garden

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city

uang money lowongan pekerjaan job pns cpns beasiswa gratis free mobil car politik obama bin laden bush europe eropa islam moslem buku book phone diskon asia indonesia minang kabau padang city
-----------------
-----------------

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...