Sabtu, 28 Februari 2009

PONARI GATE, AN INTRODUCTION TO INDONESIAN RELIGION

Apa kata sepiritualitas lebih tepat yah? Tapi masalahnya ini bukan sekedar soal "smangat" inside, pun barangkali bukan lagi sekedar fakta sosial, melainkan mulai merambah ke ranah akidah. "Hati-hati jangan sampai jatuh kepada musyrik!" begitu terdengar diberitakan MUI dan Menteri Agama RI mewanti-wanti. Bahkan MUI lokal tingkat Kabupaten Jombang sudah turun tangan langsung berdakwah ke tengah-tengah masyarakat perihal sesuatu yg barangkali berbatas elastis banget ini (bisa tipis, bisa sangat jarak), yakni syirik vs iman. "Ingge, ingge," begitu terdengar gemuruh masyarakat "nurutin" nasihat si ustadz cp kyai. Namun praktik pengobatan "alternatif penuh nuansa yg mengarah mulai serius" ini pun tetap berlangsung dan makin ramai. Apalagi soalnya kalo bukan perbedaan pas tea antara DUIT dan PENYAKIT yang nyata vs religiositas yang abstrak (bahkan mungkin absurd). Jadi sebetulnya bagaimana seh akidah rakyat Negara Kesatuan Republik Indonesia? Muslim moderat-(modern)??


Begitulah Isabel, katanya Indonesia adalah sebuah negara muslim moderat terbesar di dunia sebagaimana di-claim oleh dua ormas terbesar (nu+muhammadiyah), katanya orang-orang Indonesia jauh dari sifat radix (radikal) sehingga model-model ji+fpi+salafy ga banget buat hidup dan diterima di tengah-tengah masyarakat, katanya agama tidak menghalangi rakyat republik ini untuk melangkah maju menuju modernitas (bahkan posmodernitas!). Ya munculnya heboh tentang dukun cilik Ponari dengan batu petirnya beberapa waktu lalu mungkin membuat kita sedikit shock therapy lagi mengenai spiritualitas manusia-manusia Indonesia Raya. Menonton media tayangan media visual, membaca literasi buku-buku analisis hingga fiksi tentang rakyat negeri ini, kadang membuat kita yang sedang yakin dengan jalan modernitas memandang bahwa mistisme dan animisme adalah tinggal stories masa lalu dari peradaban kuno bangsa Indonesia. Apa yang disajikan oleh film-film horor yang laku keras kembali belakangan ini mungkin kita anggap hanya tayangan hiburan menggelikan semata padahal diam-diam kita percaya...

Tentu saja, kenyataan bahwa klenik masih sangat melekat dengan cakrawala ontologis manusia Indonesia masih jadi suatu kemahfuman. Analisis tentang hal ini pun belum menjadi sesuatu yang aneh apalagi langka. Secara rahasia umum kita juga tahu itu. Dan barangkali wacana tentang modernitas dan moderat dan majunya alam keimanan masyarakat kita masih sebuah angan jangka panjang yang terlalu didengungkan. Sehingga kita nyaris lupa kenyataan bawah sadar realitas kemayarakatan kita hingga pun hari-hari kini. Dan persoalan ini pun menyarut marut dengan pelbagai persoalan sosial bangsa majemuk gemuk yang multi-identitas dan kultural ini. Kegamangan politik, ketimpangan ekonomi, ketimpangan gaya hidup, penyakit akut birokrasi pemerintahan, dan status absurd layanan kesehatan-pendidikan yang idealnya adil merata bagi seluruh rakyat, semua ini membawa pula arus kegamangan kita untuk menilai identitas kultural atau akidah sebagai suatu bangsa. Dan, tambah pula, berbagai kepentingan eksternal (dari yang ideologi hingga dan beserta yang sekedar anjing ekonomis) sulit untuk tak tergoda melebarkan pasarnya ke negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia ini, yang memiliki jarak kerumpangan SDM hingga akses ekonomi yang luar biasa ini. Ah, salut untuk para pemimpin yang nantinya benar-benar tulus dan minim kepentingan pribadi dalam megelola aset senilai 200 juta lebih ragam kepala ini!

Barangkali memang tidak fair, kita merepresentasikan keragaman kultural bangsa Indonesia dari Sabang hingga Jayapura kepada apa yang terjadi di Kabupaten Jombang tersebut. Tapi ingat, politik sentralistik yang telah menancap akut pada negara ini membuat Jawa telah menjadi "teladan" lalu sampel paling bermutu untuk membicarakan ke Indonesiaan. Dan secara teritorial memang karakter sosial antar berbagai daerah ini telah begitu cair dengan mobilitas (terutama lewat hubungan dagang) yang telah terbangun berabad-abad di wilayah yang bercikal bakal dari kepulauan nusantara ini. Dan untuk lebih meyakinkan bahwa Jombang bisa cukup mewakili kita bisa lihat saja bagaimana "wisata" klenik dalam ibukota kita, Jakarta. Semua tahu itu, tapi semangat kemajuan dan lagi-lagi propaganda tentang modernitas membuat kita lupa dan merasa sudah ada jarak dengan "masa lalu" dan "identitas" nenek moyang kita. Bagaimana cara memahami Ki Joko Bodo yang jelas-jelas bodo tersebut popular banget di tengah-tengah artis-artis kita yang cantik-cantik, pintar-pintar, dan kaya-kaya raya tersebut? Bahkan pejabat, ilmuwan, lihatlah bagaimana launching CN235 bahkan pembelian Sukhoi buatan Rusia sekalipun perlu di ciumin hidungnya dari kendi berisi air kembang bunga segala. Ritual kosong? Ritual apa yang kosong? Lalu kenapa dilakukan? Dan apakah artinya bagi tiap-tiap individu? Apalagi bagi masyarakat "kelas bawah"...

Tentu saja generalisasi berbahaya. Saya paham (dan secara pengalaman pribadi merasakan) sekali bahwa untuk setiap subjek selalu, pada dasarnya, ada yang khusus, ada yang unik, kasuistis. Namun ini harus selalu diambil dan dipegang untuk menilai sebuah fenomena. Jika ada instrumen penilaian yang salah, referensi yang kurang bisa dipercaya, hingga fakata dan data yang tidak valid, secara dialektik thesis dan anti-thesis terhadap suatu objek analisa seperti ini akan terus berjalan menuju kesempurnaan yang tiada ujungnya. Tradisi, mistis, klenik, atau pun sulitnya memurnikan akidah, pun juga bukan sekedar phenomenon di Indonesia. Dimana-mana kita bisa menemui persoalan ini, apapun latar sosionya, apapun agama mayoritasnya. Tapi fenomena Ponari seakan kembali menyentakkan kita betapa "diam-diam" begitu menonjolnya mistikus ala Indonesia dan betapa gombalnya klaim modernitas dari elit-elit "intelektual" maupun birokrat politis kita. Tentu lagi kita belum berbicara tentang aspek sensitifnya sendiri: agama Islamnya orang Indonesia. Tapi sekali lagi lihatlah fenomena cuek atau tidak berdayanya "petinggi-petinggi" kita atau cari amannya komentar wagub baru terpilih Jawa Timur cak Saefullah Yusuf yang intelektual muuda Nu ini.

Lah, bagaimana segelintir (yang mulai membesar) aktivis muda Islamis akan menanggapi secara ideal dan murni teoritis fakta lapangan ini sementara mereka kenyataannya hidup di tengah-tengah dan bersama-sama dan bermanfaat (di-/me- secara ekonomi) bagi "orang kebanyakan". Lah, wong rumah pengajian jamaah salafy (yang sebetulnya ndak terlalu macam-macam dan vokal ini saja) di Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat baru-baru ini kabarnya disambit batu dan nyaris dibakar dengan api "neraka dunia" sama masyarakat sekitar. Gara-gara menyalahkan tradisi dzikir massal setempat katanya, hahaha, kayak zaman 5 Masehi di tanah Hijaz lagi ya? Lagi-lagi tentu, kalo sanggup bisa dianalisis per-kasuistis, namun tak ada salahnya secara general dilihat fenomenanya. Inga-inga, saya sendiri "netral" dan tidak bertendensi memihak kemanapun. Tidak kebenaran, tidak pula kesesatan, sehingga jatuhnya mungkin jadi ke kesesatan. Haha, dan sebagai orang "sesat" untungnya jadi bisa objektif menilai fakta sosial ini. Jadi bagaimana sebenarnya keislaman yang mayoritas di Indonesia ini? Bagaimana relijiusitas bangsa ini??

Hmm........, tentu saja semuanya masih jadi persoalan dan akan terus menerus menjadi persoalan. Sehingga dengan ini pula akan selalu ada orang-orang yang mendapat kesempatan untuk memperjuangkan keyakinan dan idealismenya, jadi ladang amal bagi yang "beruntung" di jalur benar, jadi kebun dosa bagi yang kebetulan terjerambab ke lajur kesesatan. Kalo pengen cari aman dan beruntung secara ekonomis sih ikut saja orang kebanyakan. Jadi kalo begini fakta sosial orang kebanyakan, yang secara religiositas ikutlah saja. Jangan coba-coba melawan arus, karena H.M Jusuf Kalla sudah mengingatkan para ulama dalam sebuah pertemuan akbar di Padang Panjang bahwa seorang pedagang jika suka "ngelawan" ndak bakal dapat untung dia. Untung dunia, harta, wanita, kuasa, siapa yang ndak suka? Dan fenomena religiositas massal ataupun "bawah sadar" ini lagi pula lah yang bisa menjadi ceruk menguntungkan bagi ekspansi ideologis maupun hingga/bersama ekonomis ke tanah luas masyarakat "religi" di Indonesia. Jadi, bicara mengenai praktek perdukunan Ponari mungkin sebaiknya memang dianggap biasa saja dan tak ada yang aneh. Inilah Indonesia bung. Karena, IMAN dan syirik dan upaya pemurnian akidah itu obscurd (setidaknya teori di atas kitab) sedang UANG dan PENYAKIT dan KEMISKINAN dan KEBODOHAN dan PERKONCOAN NEGATIVE (yang ndak tulus, penuh paretongan dan akhirnya menjurus PERKONGKALINGKONGAN) dan KEKERABATAN dan PEMILU/PILKADA dan DAGANGAN adalah fakta dan nyata!

p.s tapi disini jugalah letak dialektika perjuangan hidup sementara di dunia fana, ceileeeeee gaya uy