Sabtu, 28 Februari 2009

SBY-JK, DEMOCRAT-GOLCAR PARTY SHOW, AND SURYA PALOH GATE

Beberapa hari belakangan ini, berita-news di tifi vaforit sayah--Metro TV (hendak tak mau)--melulu menyiarkan tragedi "keseleo" lidah wakil ketua DPP Partai Demokrat Ahmad Mubarok (AM) dan gelinding bola panasnya pada gejolak di internal Partai Golkar. Semula saya pun seperti pemirsa "kebanyakan" lainnya menyimaki dinamika politik yang terjadi ini dengan biasa saja atau menganggap sebagai sebuah dagelan politik yang lutcu funny saja. Namun belakangan, saya rasa-rasa, kok intensitas pemberitaanya agak berlebihan juga rasa-rasanya yah? Kok itu-itu terus yang disinggung yah? Kok anu-anu yang itu terus diberitakan tak jemu-jemu yah? Kan Metro TV miliknya Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar? And, pemilu legislatif sebentar lagi tuh... Ada apa ini gerangan yah?


Semula dugaan saya sendiri tentang tragedi rekaman wawancara AM yang "bermimpi buruk" bahwa Golkar hanya akan mendapat 2,5% suara pada pemilu legislatif april besok tersebut, juga mungkin sama seperti pengamatan-pengamatan standar lainnya, memicu dua kemungkinan. Pertama, AM memang betul-betul keseleo lidah. Kedua, dua partai besar ini memang udah niat hendak bercerai. Perkembangan kemudian hari yang menunjukkan gebyarnya gelora di kalangan Golkar menanggapi "hinaan" tersebut--karena kenyataannya partai ini adalah peraih suara terbesar kedua setelah PDIP pada pemilu di tahun 2004 lalu sementara justru Partai Demokrat yang jadi presidennya itu punya suara cuma 1/3-nya mereka--juga menguatkan dugaan keretakan rumah tangga pengusung pasangan penghuni istana merdeka ini. Nyaris diamnya suara kalangan Demokrat (dalam pengertian karena saking terkagetnya) menanggapi isu ini juga membuat seolah semua berjalan alami dan tak disangka tiada diduga. Namun. Sekali lagi perasaan saya menyetrum-nyetrumkan signal keraguan seiring mulai kunilai berlebih-lebihannya pemberian porsi rating bagi pemberitaan "kasus" ini di Metro TV (dan rasa-rasanya tak segencar itu pada TV lainnya) yang kuhubungkan dengan makin kerapnya pula Surya Paloh (SP) nongol menghiasi pemberitaan stasiun TV miliknya sendiri itu.

Terakhir yang masih sangat hangat diberitakan adalah mencak-mencaknya SP di depan peserta Rapimnas Partai Golkar dengan menunjuk hidung pada salah satu ketua DPP-nya yang disebut-sebut "keganjenan" sama SBY mentang-mentang dapat jatah sebagai menteri. Saya menduga yang dimaksud tidak lain tidak bukan tentunya konglomerat Lapindo Brantas kita Mr. Abu Rizal Bakrie yang menjabat sebagai, terakhir di posisi, Menkokesra. Buat saya rada janggal dua elit terhormat turunan Orba bisa saling begitu terbukanya berkonfrontasi di depan media. Memang sebagaimana kita ketahui, sebagai ketua FKPPI (Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan) SP--pria asal Aceh ini-- memang dikenal vokal dan blak-blakan. Dan apalagi, Ical (begitu sapaan akrab Abu Rizal Bakrie) tengah dirudung masalah dengan kasus ngebor Sidoarjo-nya dan tambah pula krisis ekonomi dunia yang tengah melanda (grup usahanya). Wajarkah kedua elit ini bisa jadi "berpecah"? Tidak! Saya yakin dengan menggunakan kacamata tradisi sopan santun etika politik Orde Baru ini ganjil?
Jadi apa yang terjadi?

Sebelumnya saya pernah mendengar ada pengamat politik (Maswadi Rauf kalo ndak salah, urang awak yang jadi Guru Besar UI) yang menilai ini perpecahan sementara, atau semacam ledakan kecil lah antara Golkar dan Demokrat. Tapi sekali lagi saya masih keukeuh jadi curiga ini lebih dari sekedar itu atau bahkan ini mungkin sama sekali tak seperti itu: tak begitu saja alami terjadi. Guwa curiga pemberitaan berlebih-lebihan tentang kasus Golkar-Demokrat ini justru telah sengaja dijadikan ajang kampanye gencar mereka berdua (tanpa perlu keliatan banget dalam bentuk iklan). "Mumpung ada bahan berita tentang partai guwe sorotin terus ya anak-anak," barangkali itulah instruksi langsung ataupun tak langsung SP pada crew-crew profesionalnya di Metro TV. Ya begitulah, meski di TV swasta yang satu ini banyak orang-orang pintar tapi kalo sudah bicara soal ketergantungan ekonomi mau gimana lagi? Jadilah hari-hari kita dihiasi berita yang itu lagi itu lagi, elu lagi elu lagi, si brewok deui si eta deui, sama sekali tidak mencerdaskan...

Pertanyaannya kemudian apakah pemberitaan tentang konflik ini menguntungkan Golkar dan Demokrat, SBY-JK? Jawabannya bisa ya bisa tidak tergantung dipandang dari sudut mana, dan lagian apapun kata teori, praktisnya yang pasti adalah apa yang akhirnya terjadi dan terbukti di lapangan nanti (pada 9 April). Karena situasi sosial melibatkan begitu banyak faktor dan sangat labil. Yang jelas, pemberitaan ini telah menjadi syiar yang luas. Setidaknya pula ini mungkin telah menjadi sebuah manajemen konflik. Cuma ya jadinya agak memuakkan kalo betul para pemimpin dan negarawan kita tersebut tengah akting kabeh. Memang dunia ini panggung sandiwara tapi kok kesannya berita-berita politik saat ini jadi ndak ada bedanya dengan tayangan infotainment. Kalo betul sebenarnya SBY dan JK sudah "tahu sama tahu" lah apa bedanya kisah mereka dengan Ahmad Dhani-Maia Estianty atau Saipul Jamil-Dewi Persik-Aldi Taher-Wong Londo tsb? Makanya jangan heran sekarang-sekarang ini kita bisa melihat Drajad Wibowo di-shoot sewaktu lagi rekaman oleh tayangan Ada Gosip! Hahahaha. Nggak ada yang salah, cuman buat saya ini fenomena sosial bahkan politik yang makin menarik!

Dipandang dari segi kemampuan menggunakan berbagai instrumen publikasi tentu saja apa yang mungkin tengah terjadi ini adalah sebuah prestasi. Bukankah menipu dan berdusta itu juga tak gampang? Lihatlah prestasi Bernie, si raja gelembung investasi, yang menjadi biang krisis ekonomi global belakangan ini. Yang menjadi, bahkan, bahan umpatan di sinagog-sinagog Yahudi karena orang Yahudi sekalipun bisa ditipunya. Dengan segala hormat kepada orang-orang yang berpikir "positif", penggemar The Secret, pembaca Carnegie, dan yang sangat yakin bisa/harus memperjuangkan mati-matian keinginannya akan kekayaan/status di dunia fana ini, saya sendiri lebih menyukai kalo kita punya pemimpin yang elegan dan sumarah (meski punya kemampuan). Tidak elok rasanya melihat orang yang menikmati lebih dari apa yang pantas untuknya. Kalo kata hadits dalam konteks "suksesi" kekuasaan ada prinsip begini (kalo ndak salah): "jika engkau sendiri yang meminta kekuasaan tersebut maka engkau akan diberatkan, tapi jika engkau diberi maka Allah yang akan jadi penolong kamu". Makanya, dalam konteks persoalan sosial, Islam tidak pernah melarang adanya para pengemis, berbeda dengan komunis (yang percaya semua hanya akan mendapatkan dari apa yang ia kerjakan--tanpa campur tangan Tuhan), karena itu adalah ladang amal bagi orang yang ikhlas dan karena soal rejeki tersebut percayalah Anda akan frustasi jika mengukur dari kerja keras Anda. Datangnya dari arah yang tidak diduga-duga, termasuk rizki kekuasaan. Masalahnya tinggal apa yang akan Anda lakukan dalam apa yang Tuhan pilihkan untuk Anda?

Makanya kemudian, saya menjadi pesimis akan "nasib negara ini" jika mesti mendapatkan lagi para pemimpi(n) (dan konco-konco di belakangnya) adalah orang-orang yang memang haus akan kekuasaan. Berusaha keras, wahhh, dengan segala cara, termasuk beracting norak seperti kisah-kisah selebriti infotainment getho. Tapi itulah manusia dan kecintaannya akan (keberhasilan) dunia (haha, guwe sebenarnya juga, apalagi--selagi bujangan freeman gini--cinta menggebu-gebu pada tubuh wanita). Tapi lagi, saya jadi eneg bahkan mual, ketika melihat para tokoh kita itu berpeci dan berkoko dan berassalamualaikum di berbagai kesempatan: apakah itu juga bagian dari script sandiwara mereka? Sungguh makin jemu aku lihat tayangan-tayangan Metro TV, terutama ketika mendengar para tokoh itu bicara tentang nasionalisme dan keutuhan bangsa. Bahhh, paling kau sedang menjilati pantat atasan-atasanmu. Atau demi melanggengkan status quo dan posisimu, karena selama negara ini dalam bentuk nasionalisme versi kamu maka akan terjagalah akses resources dan kapital hanya bagi orang-orang di sekelilingmu. Uh, tapi apa daya, TV One ndak bisa dinikmati di Koto Padang ini. Akses internet, wayahna. Maka, wahai rakyat tertindas seantero nusantara, selamat belajar "cerdas" mengenyam infomasi!