Senin, 09 Maret 2009

MEONGGGG MAGAROO LAGEEE, SUIT2 HEY BURUNG2 & KUCING2 NAKAL

Sekian bulan musim bercucok tanam berlewat tiba2lah sekarang musim berganti menjadi acara mengaro lagi (aku ndak tau "mangaro" basa nasionalnya apa?). Sejak acara mangaro session kemaren aku manfaatin waktu luang tak terpakai dengan acara browsing ke internet dari tengah sawah. Seperti biasa, dengan membajak perdana obral di samping toko matahari, pulsanya kugunakan surfing hal2 yang tak penting tapi penting (duh menyoba akses lewat proxy gretongan gagal wae uy). Nan jelas, ada acara lagi buat mata ini hijau memandang dan bergaul dengan burung2 nakal. Since the last session, I also brings my old guitar too to one of cottage near my field rice. Maksudku pondok/dangau di tengah sawah. Kemudian kumulai bernyanyi, senandungkan musikalisasi puisi cinta untuk kucingku...


Beberapa hari yang liwat aku menemukan meong yang biasa nongkrong di rumahku sudah modar terkapar. Perut/badannya bangkak seperti makhluk yang habis tewas tenggelam, mulutnya mengeluarkan darah penderitaan, dan lobang anusnya tentu saja berpetai-petai dengan cirit yang telat keluar. Sadis. Kucing ini biasa kami panggil induk, karena kerjanya ya beranak pinak saja, dan anak-anaknya yang entah sudah seberapa banyak diproduksi itu pun sekarang tak jelas pada kemana. Begitulah kucing betina, kemana-mana selalu saja ada aneka ragam jantan yang mengiringinya. Tapi itu wajar bagi binatang. Anehnya ada juga lho manusia berakal yang mau2nya meniru perilaku kucing betina? Tapi buatku itu adalah hak pribadi kebebasan pilihan hidup setiap orang. Mana tahu "jalan" seperti "begituan"-lah yang benar.

Bertahun-tahun silam gw punya kucing kesayangan; wawau atau induk juga namanya. Kucing balang tigo, tapi betina. Kalo ndak salah ingat beliau hidup di periode antara aku MTsN hingga SMA. Nan jelas kayaknya bukan dari jaman SD sih. Wah bro, Anda tak akan menyangka betapa besarnya rasa sayangku padanya. Di salah satu periode beranaknya wawau ini sempat tinggal serumah denganku. Bahkan sekamar! Biasalah, karena merepotkan dia diusir dari rumah. Kebetulan saat itu aku tinggal di rumah sebelah (yang sekarang jadi pabrik konveksi ini) yang saat itu under-construction. Kebetulan salah satu kamarnya sudah bisa di tempati. Saat itu aku ingat persis masih bersekolah ke Gunung Pangilun (masih tsanawiyah) dan mendapat panggilan botax (dari teman2 dekat) atau bungas (khusus panggilan dari Santet Alimin untuk gw dan Kamil yang manggaleh bungo di Lubuk Minturun). NB: a few days ago mester Kamil sampe ngumpulin Santet dan petinju Blok M kita kang Ardi lalu nelpon gw. Ngeledek sebenarnya kenapa gw masih juga manyun di rumah. Sabar bro jika bisa dapat "tiket" pasti akan kujajal lagi se-antero nusantara. Uh, betapa singkatnya waktu. Baru kemaren rasanya aku bertemu mereka berdua, sewaktu dua bocah ini pertama kali ke Jakarte dan numpang hidup sama Kamil, ehhh sekarang berani2nya ngeledak guwa!

Dahulu di rumah kosong dan ada hantunya ini aku membangun satu set drum yang terdiri dari beberapa kaleng dan kumpulan seng2 baygon dibungkus asoy sebagai symbal. Dan wawau beserta anak-anak sebagai penontonnya. Saya lupa lagi bagaimana hubungan antara gw dan musik pada waktu itu. Resminya sendiri baru di Smuntri gw nge-band sungguhan dan kelas 3 SMU jadi rada semi-profesional karena mulai manggung bareng anak-anak Zodiac. Pertama show siy di acara perpisahan sewaktu kelas 2. Waktu itu aku kumpul kebo sebagai gitaris band punk F-16 bersama Tahmid (bass/produser/manager) dan beberapa anak SMU lainnya. Waktu itu kami tampil terakhir dan, tentu saja, membuat kekacauan. Gw sendiri anak student, cuma temen2 yang lain pada bawa massa Padang Punk Community. Sampai-sampai kepsek waktu itu turun ke tengah lapangan membubarkan anak-anak yang lagi ber-head banging. Gw mah cuek aja terus genjreng2 ampe beres meski ada yang naik ke atas dan, tentu saja, "mengacau". Sebetulnya ketika audisi pun sama guru kesenian kami sudah di-black list. Cuma karena pak manager "edan" lobinya ya tetep aja tampil. Saya sendiri waktu itu terkejut kalo kami jadi manggung. Seperti saya bilang tadi gw mah baik2 pergaulannya, jadi ndak ikut2an nongkrong bareng dengan para jambul2 yang mabok mania tersebut. Tiba2 saja nama gw dipanggil untuk naik ke panggung oleh pak manager yang sudah steady dengan Budi di drum. Padahal lagi asyik bercengkrama dengan seorang "teman". Ah jadi ingat masa lalu, kabarnya sudah jadi istri orang pula haha.

Kembali ke kucing. Pernah waktu itu (saya masih ingat persis!) salah satu anak wawaw yang bernama unge sampei tidur di atas selimut gw. Sampei pagi! Dan tentu saja ciritnya jadi ber-leak-leak. Unge ini sendiri pun (kucing jantan yang sehat, energik, unik, dan sangat menggemaskan) masih menjadi misteri bagiku kehilangannya dari rumah. Tiba-tiba saja tak pernah nongol lagi. Padahal dialah temanku bergelut, kalo kucing2 lain apalagi betina ndak bisa diajak main. Unge ini seperti anjing tingkahnya, bisa dibecandain dan digoda. Tapi sebagai kucing jantan dewasa biarlah; dia mungkin sudah merantau entah kemana mencari kucing betina manis pujaan hatinya. Ibarat lagu Iwan Fals: "tidur sini nak / dekat pada bapak / jangan kau ganggu ibumu // turunlah lekas / dari pangkuannya / engkau lelaki kelak sendiri.. duh guwa sedih nih mennn!

Back to sawah. Sebetulnya enak pemandangannya nongkrong di pinggir sawah gini. Jika aku pujangga mungkin akan segera terbit edisi terbaru kumpulan puisi. Yang ndak bakal laku, karena seperti kata Hasif Amini (eks redaktur bentara kompas) "kadang" kami cuma lihat subjek judul siapa pengirimnya. Hahaha bukan protes. Kembali ke sawah. Dari tanah leluhur ini mataku akan bisa lebih segar lagi dengan banyak2 ngeliat pemandangan beautiful natural. Barisan bukit berbaris terlihat jelas dari sini. Di antaranya kulihat berdiri angkuh menara telkomsel yang merekrut secara kongkalingkong setiap tekhnisinya. Tentu tidak semua. Tapi lihatlah fenomena "coki" outsourcing sekarang ini. Seorang teman yang sudah berpengalaman di beberapa bank di Jakarta pun juga mesti rela dipotong 50% penghasilannya saat dapat job disini (tapi gayalah si eta, uda bisa ngredit mio hahaha Mr. Rizal Ramli kalo kebetulan baca punten pisan jadi kaserempet, segeralah sunting gadis payakumbuh tuw). Tentu, ada yang bagus seperti outsourcing buat pegawai kpk misalnya. Tentu pula yang namanya dunia bisnis dan industri dan praktek lapangan tersebut adalah bersisi pragmatis bahkan oportunis. Saya tidak mengeluh. Saya tidak tertarik kesana. Tapi guwa senang mengamati dinamika sosial ini. Uda Rizal Ramli pernah kelepasan ngemeng di rumah Tuan Takur tentang kemuakan dia terhadap kemuakannya saya haha itulah akibatnya jika kebutuhan hidup (yang buat saya siy tidak terlalu mendesak amat, santei aja) dikalahkan oleh kemalesan dan kesanteian. Saya pernah diwawancara untuk ngajar di bimbel ternama yang tidak tahu bahwa salah satu jajaran direksinya di Bandoeng Kota Syahwat sana adalah "musuh" bebuyutan gw di kampus. Saya tidak lulus tes akhirnya (pas mikro teaching haha gw emang ndak pandai ngajar2in orang) dan buatku santei aja lagi. Pas wawancara guwa juga tau tu pengajar senior bimbel ternama ilmunya (sastra lho kalo tatabasa guwa emang bego) juga ndak ada apa2nya, alahhhhh soknya guwaaa. Tentu saja bimbel itu benar tidak meluluskan gw karena gw ini jujur emang pemalas dan tak pantas jadi teladan untuk anak2 SD hingga SMA. Cuma saya hanya jadi bertanya2 tentang skema karir di setiap jenis usaha/industri: apakah loyalitas dan kemampuan menjilat pantat mengalahkan reward terhadap skill dan profesionalime? Ini bukan tentang guwe loh, sekali lagi, meski sok idealis gw mah sama sekali ndak profesional dan ceroboh (makanya gw secara tulisan halus-kasar menolak ajakan mas Ramli untuk ikut jadi "tukang kredit" seperti dirinya). Sekali lagi bukan mengeluh dan ndak protes (karena semua yg terjadi di dunia ini baik-buruknya tetap adalah sudah kehendak yth. ilahi robbi). Cuma mengamatin doang dan memberi nilai sesuai dengan pengetahuan terbatas dan keyakinan the way of life pilihan guwa. Saya sering saja membaca kisah2 menyedihkan tentang perjuangan orang2 istimewa yang mesti berdarah2 menghadapi sistem2 yang bobrok, di berbagai tempat. Ya tapi lagi2 itulah dinamika perjuangan hidup yah, ladang amal kita dus kebun dosa guwa.

Ah, ternyata dari hamparan sawah pikiran saya sudah melayang2 kemana2 dan diskursus (wacana) dalam teks ini sepertinya mendukung pembuktian teori dekonstruksional Jacques Derrida (wafat tahun 2004 sebagai orang kafir keturunan Yahudi Aljazair). Ikon, indeks, dan symbol-nya terserak secara hermeneutik; maka Anda pembaca mesti cergas dan telaten menyusun kembali konstruksi sesuka2nya karena bagaimanapun wirkung (strategi efek) yang guwa terapkan, ia mesti berpadu dengan stock respon Anda sendiri (pengetahuan dan kepercayaanmu). Untuk menambah daya rusak teks baleak-leak ko waden punyo ciek lagi carito. Semalam pas tidur gw mendengar gemuruh kresek2 yang tambah heboh saja dari sebelumnya. Kupikir sebelumnya cuma ada seekor tikus mancit sagede bagong yang menemaniku (dan kadang beliau mencuri stock makanan, rokok, bahkan sabunku) di rumah ini. Ternyata tikus ini sudah punya pasangan dan sekarang kemana2 atau di kala tengah2 malam asyik membuat kehebohan berdua2. Anjrit gw diledek2in euy. Ya oloh binatang saja ada pasangannya masa gw tidak? Hahaha belum waktunya kali; makanya perbaikin diri lu supaya dapet gadis baik2 juga lain kali. Dan malam itu, Tuhan mengirim seekor musang (berbulu ayam) menjadi temanku (rupanya sarangnya di kolong rumah ini, tapi mungkin juga itu iguana peninggalan Uncu Bogor); serta cicak2 di dinding...