DENGKI ITU...

Alkisah, di beranda masjid kumpul2 Rasululullah SAW dkk dan beliau bilang bahwa bentar lagi bakal lewat seorang ahli surga. Para sahabat deg2an siapakah di antara mereka yang beruntung dijamin masuk surga tersebut. Ternyata oh ternyata yang lewat adalah Si Fulan. Ya bahkan namanya pun dalam kisah ini cuma Si Fulan gitu, intinya dia orang biasa yang tak seterkenal nama2 para sahabat agung. Lain waktu Rasul bilang lagi bahwa akan lewat seorang ahli surga. Sahabat2 pun jadi penasaran lagi. Eh, ternyata Si Fulan itu lagi. Salah seorang sahabat tak tahan lagi dengan rasa penasarannya. Mengapa orang tak terkenal ini yang justru dijamin Rasul bakal masuk surga. Apa sih kelebihan amal ibadahnya dibandingkan para sahabat yang senantiasa setiap waktu kongkow2 mendampingi Rasul kemanapun dimana jua. Diam2 seorang sahabat ini mengikuti Si Fulan ke rumahnya, kepengen tahu....
Tiba di sana sang sahabat minta numpang nginap sama Si Fulan dengan alasan2 tertentu. Tujuan sebenarnya adalah mengivestigasi kelebihan amalan2 ibadah keseharian Si Fulan ini. Ternyata oh ternyata dia temukan bahwa Si Fulan ini sama sekali takpunya kelebihan apa2 dibanding amal2 ibadah para sahabat Rasul, ibadah Si Fulan ternyata standar2 doank. Bahkan tiga hari tiga malam nginap di sono ia mendapati Si Fulan ini cuma sekali doang sembahyang tahajudnya. Heran sungguhan, si sahabat pun kemudian minta pamit. Usut punya usut Si Fulan ini mengakui bahwa ibadahnya biasa2 saja memang, tapi ia punya satu hal yang tetap dijaganya sepanjang hayat. Ia tidak pernah memendam iri hati dan dengki terhadap orang2 lain yang diberikan oleh Allah berbagai macam kelebihan dibandingkan dirinya. Inilah orang tawadhu yang qanaah, bersyukur terhadap apapun yang ditakdirkan oleh Allah untuk dirinya. Berbeda dengan persona2 rakus tamak pendengki, yang senatiasa tak puas melihat "lebih hijaunya rumput tetangga". SMS kata Tukul Arwana, senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang.

Ajaran agama sudah mengingatin kita akan bahayanya sifat pendengki dan iri hati ini. Ia akan membakar kembali segala amal kebaikan yang telah kita buat. Beberapa pun shalat yang Anda dirikan, puasa yang Anda jalankan, harta yang Anda infaqkan, se-saleh apapun Anda terlihat, bisa2 itu semua musnah tak bersisa jika ada sifat dengki dan iri hati pada orang lain dalam diri Anda. Karena kemunafikan memang mendapat tempat di muka bumi ini, tapi tidak di mata Allah SWT. Dan ingatkah Anda akan kejahatan paling pertama yang terjadi di muka bumi ini?

Ya pertumpahan darah antara dua anak kandung Adam. Qabil membunuh Habil sebab dengki ketika mendapati kenyataan saudaranya itu mendapatkan istri yang lebih cantik darinya. Itulah bahayanya iri hati. Bentuk penyebab kedengkian itu tentu makin bermacam pula sekarang rupanya. Salah satunya dari sejarah purba itu kita diingatkan lagi tentang gara2 wanita. Ya wanita. Terus terang lelaki paling menjijikan buat saya adalah yang tunduk kepada wanita karena tergila2 demi memuaskan keinginan sex-nya. Janganlah Anda sampai seperti itu. Kalaupun Anda jelek ancur kutu kupret, tidak se-tampan saya misalnya, percayalah bahwa sudah ada jodoh dari Allah untuk mendampingi hidup Anda. Bersabar sajalah. Jangan biarkan membaranya hasrat kontol kudamu membuat Anda justru dengan mudah diperdaya oleh perempuan2 yang pintar mempermainkan "kelemahan" pria.

Saya ini walaupun sangat gantenggg bersyukur juga kadang2 ditakdirkan hidup pas2an alias miskin. Sehingga dengan kemiskinan ini saya lebih mempunyai kemungkinan besar untuk terhindar dari cewek2 matre yang tahu banget bagaimana membuat "tak berdaya" kontol kudamu itu tadi. Dengan ini juga saya bisa memaknai kata2 menghibur berjudul jomblo2 bahagia. Tidak gampang dan terkadang perih memang. Tapi setidaknya meski senantiasa menyandang status singel dan cuma bertemankan seekor kucing betina, setidaknya guwa bukanlah pejantan yang sedang ditipu oleh wanita. Biarkanlah perempuan2 penipu itu berjodoh nantinya dengan pria2 penjahat wanita pula. Laki2 baik2 hanyalah untuk wanita baik2, begitupun sebaliknya, saya percaya itu. Dan yakin wanita yang tepat nantinya akan ada untukku tercipta. Tinggal perbanyak sabar saja, ndak usah dipaksa2kan mesti sekarang mentang2 kontol kudamu itu sudah begitu tegang2. Pepatah Tiongkok mengatakan: dengan seorang serdadu maka akan bisa dibunuh hanya satu orang serdadu, tapi dengan seorang wanita akan bisa terbunuh (atau berbunuh2an) 1000 orang serdadu. Inilah bahayanya perempuan2 komoditi dan komersil tsb (pecun2 bakal kepikir itu mah romantis kali ya?). Sekali lagi ingatlah kejahatan pertama di muka bumi ini gara2 wanita!

Inilah salah satu penyebab dengki dan iri hati. Kecantikan wanita tak bersalah pun bisa membuat pria2 kontol kuda akan saling berbunuhan. Apalagi saat sebagian kaum perempuan komersil justru melihat ini sebagai "peluang usaha". Tentu yakinkanlah masih banyak wanita2 baik yang tengah menunggumu di peraduan mereka di muka bumi ini. Tentu juga buaanyak pria2 brengsek yang akan dengan senang hati "menjalani" tipuan2 wanita demi kepuasan kontol kudanya. Pilihlah engkau hendak bergabung dengan barisan mana.

Maka jauhilah golongan2 pendengki dan SMS itu tadi. Selain gara2 wanita, kecantikan, ketampanan itu tadi tentu juga masih banyak instrumen2 lain yang akan jadi sumbernya. Harta misalnya dan kekuasaan. Tapi ujung2nya tetap kembali lagi ke poros devil triangle: women, money, and authority itu tadi. Dalam hidup saya yang setidaknya telah bergaul dengan karakterity masyarakat Minangkabau dan Sundanese ini sendiri juga sudah cukup banyak pahit manis pengalaman hidup berkait hal2 tersebut. Mungkin juga begitulah memang yang namanya MANUSIA penghuni Planet Earth ini. Makanya kebudayaan menjilat pantat dan bermuka muna tersebut hadir; lalu menjadi bagian dari proses pergulatan pilihan2 hidup (dan mati) kita. Jika segala aturan kehukuman berpasalkan ujung2nya duit, maka oh maka kita akan bicara tinggi tentang kebudayaan tapi ujung2nya tetap jatuh ke selangkangan. Terkait wanita akan bisa menentukan mulus atau takmulusnya berbagai persoalan lainnya. Semisal Anda seganteng saya, maka akses fisik yang Anda miliki tentu saja akan menghambat peluang orang lain yang kutu kupret misalnya. Maka bersiap batinlah: disingkirkan. Ingatlah bahwa demi bidadari pujaan hati maka mahligai puncak khayangan pun akan kutunaikan. Ya terkadang orang memang bisa jadi lupa daratan akan metafor dan medan makna tanda penanda. Apalagi wanita pun senang dibegituin, "Ana senang koq digombalin," ujar mojang Bandungku. Persaingan yang jadi melebar ke berbagai persoalan inipun kemudian juga bisa bersirkuit di bermacam arena. Hidup dahsyatnya selangkangan! Celakanya, ketika Anda yang sudah ganteng tadipun tengah jatuh ke lembah nista penyakitan, kemiskinan, dan sejuta kehinaan ehhhh masih juga ada yang bisa sirik! Ingatlah tiga poros tadi berkaitan dan kekuasaan "sangat2 sedikit" Anda tadipun akan semati2nya usaha dienyahkan. Inilah hasrat purba manusia. Dan bukankah secara ilmiah Freud menamakannya dengan libido tuntunan bawah sadar manusia. Tapi inilah hikmah dan tantangannya: angin akan berhembus kencang pada pohon yang tinggi menjulang dan orang2 berjiwa kerdil selalu akan menyerang lewat jalan belakang.

Itulah karenanya iri hati dan dengki adalah sifat2 yang mesti dihindari. Dan orang2 istimewalah yang akan sanggup untuk mencipta kesucian hati; dengan segala kobar api rintangan hidup di dunia masyarakat pecinta wanita, harta, dan kekuasaan ini. Tamak dan rakus. Saling sikut tak kenal batas henti dan tipu menipu (bahkan) atas nama jalinan silaturahmi. Entah sudah berapa kali kasus2 kriminal mengerikan terjadi, yang membuat orang2 di sekitar pelaku terheran2 tak menyangka(l) karena selama ini menilai tersangka orangnya baik dan ramah dan rajin menabung. Itu baru yang terungkap dan terlihat lho bo'. Tapi sekali lagi inilah alam dunia, orang munafik mendapat tempat yang fasik pun ikut tercatat dan, kata Nabi, selagi di dunia fana ini kita memang hanya bisa berhukum dari apa yang terlihat. Biarlah pengadilan Allah azzawajala nanti jadi pemutus perkara atas segala perselisihan di antara kita. Hanya disanalah nanti akan benar2 terbongkar segala bau busuk yang coba ditutup2i. Termasuk busuknya iri dan dengki pemakan segala amalan di dalam hati ini. Saya pun tengah berjuang menjadi sosok yang ikhlas ridha menerima segala tiba. Pun untuk yang ibadah standar sekalipun minta ampun susahnya (hihihi pun). Bertobatlah duhai para pendengkiku!

p.s Tulisan ini kubikin sabtu dini hari menjelang subuh. Siangnya kudengar kabar dari radio bahwa Kapolsek Padang Utara (diduga) mati bunuh diri sehabis, kabarnya, cekcok dengan istrinya Jumat malam (17/4). Saat-saat sekitar waktu kejadian tersebut saya sepulang dari warnet dekat UNP dengan Mairizal dan makan sate di Simpang Damri Tabing depan kompleks perumahan Wisma Indah, TKP peristiwa naas tersebut. Tapi kejadian itu sendiri baru saya ketahui siangnya setelah tulisan ini selesai (saya hanya menambahkan kata terakhir "pun para penipu (atau ketipu) wanita" setelah tahu kejadian ini). Ternyata "feel" guwe kena juga tentang wanita2 penyebab perkara, kegelisahan yang telah lama kupikirkan tentang zaman dewasa ini, khususnya ranah minang nan penuh gengsi niy!

LEGISLATOR PILIHAN RAKYAT DAN KEMENANGAN DEMOKRAT DAN SENANTIASA ADA HARAPAN

Sekarang lagi ramai2nya orang2 pada "bicarain" pemilu legislatif 9 April 2009 di Republik Indonesia Raya. salah satu fenomena yang cukup phenomenon dari -pil- kali ini adalah tentang buanyaknya jumlah caleg (calon legislator ya bukan legislatif, itu mah penamaan kolektif pada lembaganya) yang ikutan audisi. Bahkan yang mengenaskan di sebuah berita pada sebuah daerah dikabarkan sejumlah calon anggota dewan perwakilan rakyat yang terhormat tersebut mengundurkan diri setelah ternyata keterima sebagai PNS! Ya ya ya salah satu yang cukup disayangkan dari caleg2 kita sekarang ini adalah status legislator dianggap sebagai lowongan kerja bagi para pencaker; lebih spAsifik lagi: dijadikan lahan penghasil uang... dan ya ya ya semua orang tahu itu; apalagi untuk konteks Indonesia, yang begini2 lumrah2 saja. Salahkah? Jangan jadi person yang gampang menyalah2kan, begini....
Salah satu sumber penyebab kerumitan prosesi pencontrengan calon2 legislator kita adalah dikabulkannya gugatan kepada mahkamah konstitusi tentang penggunaan suara terbanyak sebagaimana diamanahkan undang2 dasar. Tentu saja keputusan Mahfud MD cs minus dua hakim yang kontra tersebut sangat benar dan sangat mendukung kemajuan. Masalahnya substansi modernitas proses demokratis tersebut tak didukung oleh kenyataan masih cukup primitifnya wawasan politik-pemerintahan masyarakat. NB: DALAM SEBUAH SESI TANYA JAWAB YANG DIADAKAN BEM UNPAD DAN STPDN JATINANGOR SAYA PERNAH MENGATAKAN HAL YANG JUGA SENAFAS DENGAN INI; SAYA MENYATAKAN BAHWA REFORMASI / DEMOKRASI / SISTEM POLITIK MODERN INI AGAK PREMATUR BAGI MASYARAKAT INDONESIA KETIKA DIPAKSAKAN LAHIR TAHUN 1998; WAKTU ITU ADA DUA NARASUMBER, YANG SATU WAKIL KETUA MPR AM FATWA KURANG SETUJU DENGAN PANDANGAN PESIMIS INI SEDANG YANG SATU LAGI MANTAN DOSEN KONTROVERSIAL STPDN INU KENCANA SYAFEI TERLIHAT AGAK MENDUKUNG WACANA YANG SAYA LEMPARKAN. Lihat saja "humor" bahwa pemilu sekarang kabarnya dipaksakan tidak lagi menyoblos karena yang pemilunya mencoblos di dunia ini tinggal Indonesia dan Kamerun.

Tentu saja saya tak mengatakan orang Indonesia bodoh2. Bahkan untuk bidang2 yang bersifat teknik/teknis--misal tukang cuci, tukang ini, tukang itu--orang Indonesia sangatlah jago2. Bahkan untuk "kejahatan" cybercrime Indonesia adalah peringkat kedua di dunia setelah Rusia. Begitu pula untuk urusan pornografi hahaha. Pengusaha2 Indonesia jago2 dan licik2; begitu juga para pemikir kita tak sedikit yang jaringannya sudah men-dunia seperti Ulil Abshar Abdalla, Goenawan Mohammad, dan Soesilo Bambang Yudhoyono haha. Masalahnya pemerataan pendidikan (dus kesejahteraan) masihlah sangat timpang di negeri rimba kepastian hukum ini; masyarakat kebanyakan kita tetaplah orang2 "tak berpendidikan" dalam pengertian "mengalami pemiskinan wawasan". Tapi bukan perlu untuk disalah2kan; ini adalah sebuah proses yang terus berjalan dan fakta-kenyataan yang penuh tantangan. Masalah temporal yang perlu disorot adalah kenyataan "miskin wawasan modern" masyarakat kita ini tak seiring dengan kemajuan reformasi perundang2an politik kita. Akibatnya seperti ada kegagapan di antara antusiasme masyarakat menyambut kebudayaan politik baru yang dibawa segolongan elite di "atas" tersebut. Hasilnya, kemenangan demokrat berdasarkan hasil quick count baru2 ini mendukung kenyataan bahwa sebeNulnya omong kosong pandangan yang mengatakan masyarakat kita sudah kritis dewasa ini. Sudah meningkat ya, tapi untuk punya kecerdasan politik masih jauhlah.

Bukan berarti yang milih demokrat ndak cerdas dan orang2 di demokrat bego2. Enggak lah yaw. Bahkan kalo benar ada penyusupan intelegensia terhadap sistem database kependudukan negeri ini waw keren banget. Tapi seandainya betul bahwa orang2 benar2 kepincutnya pada partainya SBY ini, ini hanya menunjukkan betapa yang namanya status quo sangat disokong oleh rakyat negeri ini. Orang2 tak mau repot2 mengukur prestasinya, mencari pembanding, apalagi untuk merumuskan argumentasi2 penilaian, tapi cukup dengan melihat fakta nyata:inilah yang kuat, inilah yang sedang berkuasa sekarang, ya udah ikut aja jangan macem2, gitu aja koq repot. Begitulah rakyat negeri ini, hanya mampu menilai di permukaan. Bukan mereka yang salah, tapi inilah hasil pendidikan "teknis" selama 32 tahun di zaman orde baru. Kenyataannya memang wawasan politik substantif masyarakat telah dikebiri begitu lama sehingga sulit untuk "ngacung" lagi. Dan sialnya pula fakta-kenyataan ini tetap saja akan menjadi sebuah oportunity bagi orang2 yang licik dan "cerdas" melihat kesempatan. Nah kalau untuk urusan berlicik2 serahkan pada orang padang....

Ingat dalam hidup ini ada TIGA TIPE PEKERJAAN, YAITU: KERJA KERAS, KERJA CERDAS, DAN KERJA CULAS. Dua yang pertama akan membuat Anda mesti menghargai proses dan syukur2 bisa menghasilkan uang yang barokah sebagai efek samping. Namun seperti katanya orang2: uang itu nomor dua tapi lebih penting. Nah, kalau tujuan utama Anda adalah kekayaan, gunakanlah opsi terakhir seperti halnya orang2 minang... kabau....

Kemenangan demokrat ini pun bagaimana akan menyisakan sebuah persoalan genting:yakni mengenai para legislatornya nanti. Saya meski anti golkar agak menyayangkan ketika suara golkar justru turun ketika para tokoh muda mulai bergerak di sana. Bagaimanapun DPR kita akan lebih berkualitas jika diisi oleh politisi2 yang lebih "mapan". Pada demokrat ini kukhawatirkan justru banyak diisi oleh orang2 oportunis yang baru kemaren sore "belajar politik". Sebagai sebuah partai baru dan tengah berkuasa peluang seperti ini sangat mungkin. Politisi2 kutu loncat tentu akan sangat tertarik kesini; pun begitu pemula2 yang "aji mumpung". Tapi ya beginilah: rakyat tak berkualitas tentu saja hanya akan menghasilkan wakil2nya yang kurang lebih sama. Memang seperti apa rakyat sebuah negeri tercerminkan dari seperti apa pimpinan2nya.

Akibatnya, pemilu prosedural yang menurut hemat saya begitu banyak menghambur2kan uang dan sumber daya lainnya secara mubazir (ingat mubazir temannya iblis) dan tak efisien ini justru tetap saja gagal menghasilkan demokrasi yang berkualitas. Sistem pemilihan berdasar suara terbanyak yang telah begitu indah tercantum pada landasan hukum mekanisme politik kita--meski setengah hati sebab tak diikuti dengan sistem distrik--di lapangan menjadi tidak efektif sebab ketaksiapan segala sumber daya senyatanya di tengah masyarakat yang masih "miskin wawasan substantif" ini. Baik rakyat biasa, birokrat, ilmuwan, bahkan elit2 politik sendiri. Idiotnya wawasan politik substantif legislator2 kita dapat dilihat pada fakta bahwa kabarnya kalau undang2 bidang ekonomi yang bakalan "meeting" dengan departemen2 "basah" bakal lebih cepat selesai dibanding bidang2 lainnya yang kering. Lihatlah betapa dangkalnya pola pikir negarawan2 kita ini; yang otaknya tak lebih bijak dari cara pikir sales showroom daihatsu.

Sekali lagi uang itu nomor dua tapi lebih penting HAHAHA, cuma masalahnya apa kita ingin punya legislator2 dengan kualitas seperti itu. Mahfud MD ketika mulai duduk di MK mengatakan bahwa sekarang beda dengan ketika dia di DPR dulu: harus mulai menjadi negarawan, berpikir untuk kepentingan yang lebih luas bukan lagi sekedar politisi pragmatis. Tapi tentu saja alangkah indahnya jika kita berharap anggota2 DPR kita punya kualitas yang lebih baik di tahun ke 10 proses reformasi ini. Seorang pengamat politik pernah menyampaikan data bahwa mayoritas komposisi anggota dewan kita periode sekarang ini adalah pedagang. Inilah mungkin akar masalahnya dan sistem sosial kemasyarakatan kita mendukung untuk ini. Istilah seorang pejabat struktural ikatan pengusaha muda minang: dengan menjadi pengusaha di Minangkabau Anda akan menduduki strata tertinggi dalam masyarakat. Jelasnya: uanglah yang mendudukkan posisi paling terhormat di masyarakat kita saat ini. Persoalannya tentu tak sesederhana itu, tetapi fakta seperti ini rasakan saja betapa sulit untuk dipungkiri. Dan ketika para legislator kita nanti diisi oleh orang2 yang belum cukup punya "wawasan politik substantif" ya bersiap2lah menerima kenyataan bahwa jabatan dijadikan lahan untuk menumpuk kekayaan. Mengapa, pertama karena secara sistem itu dimungkinkan (situasi ini terus tengah diperbaiki); ke dua karena secara persepsi oleh masyarakat ini juga dianggap lumrah (situasi ini terus tengah diperbaiki). Cuma bagaimana perbaikan bangsa bisa kita harapkan dari politisi2 yang kerdil dan yang begitu deh.

Buat saya cukup mengecewakan bahwa sistem suara terbanyak pada pemilu kali ini justru jadi boomerang bagi harapan tentang kualitas calon2 legislator kita. Di berbagai media telah sangat banyak dibicarakan pandangan2 tentang efek buruk berupa "politik uang" bagi sistem ini. Sistem yang membuat masyarakat jadi melakukan transaksi dagang dengan para pemodal. Sistem yang justru menjadi ajang jual beli suara. Padahal idealnya sebagai seorang lagislator nantinya para caleg2 tersebut mestilah menjadi seorang negarawan profesional yang mengurus dan mengawasi undang2 negara; bukan tukang bikin jalan, bukan tukang bagi2 BLT! Maka karena itulah, untuk memperbaiki keadaan negara ini perlu bagi para perumus kebijakan untuk menyesuaikan aturan2 idealnya dengan kondisi nyata, faktual, apa apa adanya, dan sejujurnya di tengah2 lapangan. Jangan mimpi rakyat kita sudah bisa mencontreng dengan sikap kritis terhadap kapabilitas calon2 pilihannya seperti sebagaimana terpilihnya sebagai presiden Barrack "Hussain" Obama di negeri kafir United State of America. Namun begitu justru keadaan seperti ini menjadi tantangan bagi kita semua untuk terus memperjuangkan perubahan dan terus berjuang. Ada setitik cahaya di ujung sana status quo lorong kegelapan. Percayalah selalu ada harapan. Karena ini bukanlah garis liniar kehidupan, ini adalah proses dialektik yang akan berjalan terus menerus sebagai warna-warni kehidupan. Karena inilah bagian kita :proses: terus menerus berproses mengikuti ritme dinamik titik2 keseimbangan alam. Karena itulah (kata demokrat): yes, we can!

GOYANG2NYA SISTEM IT KPU 2009

Adalah sebuah lelucon yang sangat menggelitik ketika setelah dua hari pusat tabulasi surat suara KPU di Hotel Borobudur Jakarta bekerja, pergerakan surat suara yang masuk tak kunjung melewati angka 1%. Padahal niat semulanya sistem dengan teknologi canggih dan menelan biaya besar ini diadakan sekedar untuk mempercepat informasi kepada media (masyarakat) karena secara aturan hukumnya tetap saja penghitungan manual mesti dilakukan dan (yang) menjadi patokan. Secara aturan hukum pula proses penghitungan ini mesti selesai dalam sekian waktu yang tak berapa lama. Anggota KPU dalam wawancara media terlihat berpatokan saja kepada tanggal 9 mei yang merupakan batas akhir penghitungan manual oleh Undang2. Nah, sementara jika dalam satu hari saja pusat tabulasi nasional teknologi canggih KPU tersebut hanya menghasilkan satu persen suara yang masuk tentunya membutuhkan 100 hari (tiga bulan lebih, yakni awal bulan juli!) untuk mencapai angka 100%. Lah, lalu dimana letak kemudahan yang ditawarkan teknologi canggihnya?
Kabar alasannya adalah belum sampainya surat suara ke KPUD Kota/Kabupaten tempat dimana sistem TI ini baru mulai bekerja dengan menggunakan scaner sebagai pemindai data. Keterlambatan surat suara masuk ke DATI II ini tentu tak lepas dari soal carut marut ala sistem birokrasi primitif kita. Diharapkan, kabarnya lagi, jika surat suara telah masuk ke KPUD DATI II (yang entah akan makan waktu berapa lama) baru statistik tabulasi sistem IT ini akan bergerak lebih progresif. Tapi diberitakan juga persoalan2 "penggunaan" IT ini di tingkat kabupaten kota tersebut, semisal ada yang sofwarenya rusak. Atau mungkinkah dari sekian kabupaten/kota yang terdapat di seluruh provinsi Indonesia ini birokrasi kita telah melakukan rekruitmen SDM yang tepat untuk operatornya. Jangan2 mereka juga seperti saya ketika bekerja sebagai desainer grafis untuk pertamaxxx kalinya pura2 tahu saja tentang bagaimana cara "nyalain mesin" scaner umax dan mengimpor gambar hasil scan tersebut ke "layer"-nya program corel draw x3 hahaha....

Apapun kabar alasan carut marut birokrat feodal gaptek dan "kebijaksanaan2" setempat, toh KPU telah menghadirkan sebuah lelucon berdarah2 karena sudah menghabiskan sekian banyak uang rakyat untuk sesuatu yang sia2. Ternyata sistem teknologi canggihnya tersebut bekerja jauh di luar harapan dan barangkali jadinya semata sekedar hiasan. Ibaratnya Anda yang tidak mampu menggunakan komputer (dan juga mungkin tidak tertarik untuk belajar) tapi nekad membeli sebuah notebook canggih terbaru keluaran acer sekedar untuk menjadi asesoris yang mempercantik kamar Anda. Walau tolol itu takjadi masalah jika menggunakan uang halal Anda. Nah kalau KPU "maaf" bajingan ini menggunakan uang rakyat lho bo'. Beberapa orang menyayangkan penggunaan scaner ini untuk memindai data. Sistem ini akan efektif bekerja jika ditangani oleh pihak yang profesional; sementara kita semua tahu bahwa rekruitment proyek dadakan oleh KPU/KPUD ini pasti akan banyak kelemahan "SDM"-nya. Jika kertas surat suara tidak dalam keadaan baik (terlipat tak rapi/basah/dll), ataupun tercontreng dengan benar/kurang benar/tidak benar (walaupun ini belakangan diakomodasi secara hukum), akan berkendala untuk bekerja dengan "mesin" ini. Sementara sistem ini ditujukan untuk mempercepat awalnya.

Ah bicara tentang proyek dan duit saya jadi teringat kematian David, pelajar peraih emas olimpiade fisika dari Indonesia, yang berkuliah di Singapura. Kabarnya kematiannya bukan akibat bunuh diri melainkan sengaja dibunuh. David ternyata berhasil menemukan sebuah teknologi hologram tiga dimensi yang bisa mengancam eksistensi bisnis hardware seperti pabrik2 monitor. Penemuan2 teknologi baru ini bertujuan untuk mempermudah, namun akan ada yang merasa terancam bisnis teknologi lamanya. Karena dari jualan hardware inilah uang mengalir. Barangkali kisah David ini mirip2 dengan film "First 20 Million", lain waktulah saya tulis tentang ini. Yang jelas pembelian modal alat IT KPU ini jadi menghambur2kan uang. Jika sistem ini mulai bekerja dari tingkat terendah, yakni KPPS dan dengan syarat ada SDM-nya sebagai operator disana, mungkin memang jadinya bisa cepat. Jadi untuk apa tanggung2 mengadakan hanya untuk tingkat kabupaten/kota yang nilainya juga pasti tak tanggung2 ini. Mubazir! Dan penggunaan alat scan ini buat saya juga seperti memang asal beli barang saja; takcepat dan kurang elastis terhadap berbagai kondisi kertas. Kenapa ketika mereka telah terpikir akan alasan2 seperti ini tetap juga memaksakan untuk beli?

Dalam wawancara di Program Suaraanda Metro TV (sebentar lagi guwa mau nonton tayangan e-life style tentang "sekuriti"-nya KPU nih, mudah2an bisa ya Gusti) seorang pengamat IT dari ITB dan seorang hacker koordinator penguji keamanan sistem IT KPU sepakat menyatakan bahwa dari pada begini mendingan KPU menggunakan sistem sms yang berbiaya rendah namun cepat--sebagaimana dilakukan lembaga2 survey, parpol, dan pemantau--dengan meregister nomor kontak per TPS. Namun 'kan kalau uang rakyat dihemat2 gini ndak jadi dong "teman2"-ku dapat proyek? Inilah Indonesia, dengan alasan yang sebetulnya baik:bagi2 rejeki, mereka menggunakannya untuk hal yang tak efesien (mubazir = pekerjaan iblis). Da Bas Djabar yang merupakan pimpinan Grup Singgalang dalam sebuah wawancara di TVRI Sumbar juga menyoroti ini mulai dari tingkat KPPS: padahal ada sekolah2 libur yang tempatnya bisa digunakan tapi tetap saja panitia menyewa tenda yang dipakai pengunjung juga tidak. Meski beliau sendiri seorang pengusaha atau pedagang! tetap saja dia terlihat resah dengan bagi2 proyek uang rakyat yang asal2an ini.

Kita tentu juga tidak menyalahkan sepenuhnya kondisi ini. Tentu saja ahli2 BPPT yang akhirnya diturunkan untuk membantu adalah orang2 ICT terbaik negeri ini. Cuma ini juga tidak bisa menutup2i bercampur-baurnya capaian2 kemajuan teknologi informasi tersebut dengan "kelemahan2" sistem administrasi birokrasi status quo. Kita mungkin sedikit bisa memaklumi (meski sebaiknya jangan) kalau seandainya misal ada kasus gini: karena jualan hardware-lah yang menghasilkan uang maka barang nyata ini ditransaksikan untuk barter dengan bantuan "software" yang merupakan jasa absurdnya. Jadilah barang2 nyata macam scaner dipaksakan dibeli sebagai pengganti bantuan "ilmu" perkomputeran yang takjelas wujud bendanya. Untuk kasus perdagangan primitif memang benda nyata inilah yang menghasilkan uang, sedangkan "ilmu pengetahuan" makhluk apa itu?

Tentu ini juga tak membuat kita bisa menolerir jika terjadi kongkalingkong bisnis yang tidak fair dan melanggar aturan. Tapi sudahlah, tak perlu terlalu dipersoalkan, gitu aja koq repot. Kan' indah juga jika kantor2 KPUD Kota/Kabupaten se-Indonesia punya beberapa souvenir hiasan meja terbaru berupa beberapa perangkat CPU, monitor2 LCD, dan scaner yang akan digunakan mungkin sekali setahunan. Seperti halnya komputer2 spesifikasi canggih di kantor2 pemerintahan yang lumayan juga berguna bisa dipakai untuk main game free cell atau catur oleh PNS2 yang lagi sepi "orderan", sementara seorang pebisnis sablon digital kere harus bersabar untuk bertahan dalam tahap bisnis kecil2an karena hanya menggunakan modal komputer butut yang takmungkin dipaksakan bekerja dengan software grafis terkini yang membutuhkan upgrade atawa duit segar APBN tersebut. Memang segala sesuatunya telah diatur oleh Ilahi Robi dan tak perlu terlalu dikhawatirkan: setiap individu punya medan juangnya tersendiri. Jika seorang koruptor bisa beramal membangun banyak2 mesjid dengan duit "syubhat"-nya kenapa tidak pula sang desainer kere tersebut beramal lewat kesabarannya. Namun ini juga tak menghalangi kita untuk memperjuangkan semampunya upaya perbaikan bangsa ini jika diberi kemampuan by God untuk bisa melihat persoalan "yang ditutup2i", misalnya.

Doa selalu tentu kita tujukan bagi perbaikan birokrasi kita, bagi bangsa kita. Di tengah segala awan kelabu itu tentu saja ada orang2 yang terus berjuang ke arah perbaikan. Ketua KPUD kotaku sendiri adalah kawanku jua yang dulu pernah bekerja di konveksi rumah hantu ini, sebagaimana mungkin juga pernah kuceritakan dalam postingan yang berjudul "WEM TAYLOR". Sebelum jadi pejabat seperti sekarang bujangan kita ini sungguh luntang-lantung nasibnya bergiat di berbagai LSM hingga menyambi sebagai ketua karang taruna hihi sewaktu kami berdua jadi cowok paling ganteng pada diklat manajemen konveksi beberapa bulan yang lalu (selain kami ya wanita semua), sekeluar dari BDI Tabing menuju angkot beliau kudu ngojek sama guwa. Karena takpunya penghasilan tetap, untuk kredit motor pun ia taksanggup ceritanya. Ehhh tiba2 kemaren nongol kesini pake dasi ala menteri dan diantar sopir dengan mobil dinas segala. Itulah, kalau sudah kehendak dari dewa Allah pasti akan tiba pertolongannya yang bisa secara begitu cepat merobah 180 derajat kisah hidup seseorang. Dan tentu saja tantangan belum akan berakhir hingga nafas ini berhembus dan mencapai titik darah penghabisan. "Waw jadi politisi niy sekarang," celetukku menggoda iseng, "ah ndak lah yaw, ini 'kan pekerjaan profesional", jawabnya. Tentu saja ini tak menjamin, dan sudah pasti beliau sekarang di kantornya mesti berhadapan dengan bermacam2 "tekanan2 politis" yang menjadi babak baru bagi perjuangan hidupnya. Namun sekali lagi tetap ada harapan. Kita tahu meski birokrasi kita mempunyai banyak kekurangan dan sedikit orang baik yang kesepian, akan selalu ada peluang untuk perbaikan demi perbaikan. Sesedikit apapun langkah itu dimulai, menuju perjuangan dialektik lagi2 tiada henti. Dan segala cacat yang begitu nyata pada pileg kali ini--kata Megawati mah pemilu 2004 pada masanya justru malah lebih baik--mudah2an jadi pelajaran seketika, khususnya bagi Tim IT KPU, untuk menuju pilpres sebentar lagi di depan sana. Ayolah masyarakat teknologi informasi Indonesia, buatlah suara setiap rakyat negeri ini untuk calon pemimpin mereka menjadi berharga (alias bisa diperjual-belikan kepada tim suksesnya tokoh2 penawar tertinggi hahaha)!

PARIWISATA PADANG BY AKU

Dengar punya lihat salah sanu isu yang cukup gejreng dibicarakan adalah tentang pariwisata. Terutama karena disini ada duit. Di tangan saya saat ini tak ada data statistik saklek untuk mengargumentasikan tentang pentingnya kue ekonomi dari sektor pariwisata dalam perputaran uang di kehidupan rakyat negeri zamrud khatulistiwa ini. Alhamdulilah saya juga kurang giat untuk memiliki akses referensi online yang instan dus rentan tersebut (bahkan saja untuk mencari rujukan offline saya sepertinya kudu jalan kaki sejauh sekitar mungkin 20 kilo meteran guna sambil jogging track ke perpustakaan daerah provinsi sumatera barat yang, alhamdulilah lagi, sekarang kelihatan lebih ramai dibanding jaman2 aku jadi remaja bandit salon2 padang theater 10 tahun silam). Walhasil dengan pede dan taktahu malunya guwa cuma nyatakan sepengetahuan guwa: cukup besar. Walaupun kabarnya dari segi dana APBN yang dialokasikan--akuan pejabat eselon tinggi--pada depbudpar sangatlah kecil, tapi dana2 (bahkan yang liar) di luar itu sangatlah besar. Salah satu indikator kasat mata yang cukup bisa dijadikan patokan adalah menggiurkannya bisnis penerbangan serta yang terkait untuk masa sekarang ini. Bagaimana dengan pariwisata padang by aku?


Dari apa yang saya dengar2 lagi--guwa kayak kakek2 jomplo yah yang tahu informasi sekarang hanya bisa dari dengar siaran radio nasional--di koto padang ini pun lagi gencar2 lagi gema program proyek wisata resmi oleh pemerintah nan tentu disokong asita niy. Bahkan pak tua penulis posting ini sempat mendengar pula tentang kepergian pak walikota ke dubai nan barangkali salah satunya studi banding wisata barat ala timur tengah yang me-mix islam dengan modernisme. Cuma dari dulu sayah dengar sepertinya wacananya tak bergerak2 dari pemikiran tentang apa yang dimaksud pariwisata yang sesuai dengan budaya setempat tersebut. Dan pergulatan pemikiran memang sesuatu yang berproses tanpa selesai, bahasa gaulnya dialektik, sementara langkah2 praktis toh telah diambil bagi orang2 yang cekatan di asita melihat pel(uang). Hidup adalah perbuatan, kata Soetrisno Bakhil. Lalu apakah dengan meniru dubai persoalan akan selesai? Secara praktis bisa jadi ya, secara konsep sudah pasti tidak. Dan uang memang bukanlah sekedar abstraksi ideal.

Kemudian masalah timbul lagi jika kita bertanya apa itu "sesuai kultur setempat"; apakah memeras, mengicuh, dan pasang muka masam atau menjilat adalah juga bagian dari kebudayaan luhur setempat? Sementara padahal perbincangan tentang apa itu adat basandi syarak sbk pun juga adalah kabut awan gelap kiblat kultural tersendiri. Makanya memang takperlu pusing2, biarlah segala kerumitan itu memang jadi gaweannya para manusia2 bego yang mau2nya hobi berpikir selain demi tujuan uang yang nyata, wanita yang bukan sekedar khayalan, dan kekuasan (entah setingkatan manapun). Praksisnya roda ekonomi akan tetap berjalan. Secara acak quantum akan selalu ada peluang2 emas yang bisa diraih "pedagang2" yang jeli membaca situasi dan kondisi lokal-regional-spesifik-praktis-pragmatis. Tentunya mesti disokong kongkalingkong dengan otoritas berwenang sehingga menjaga "silaturahim" itu penting. Toh ini negeri yang hukum dan segala peraturan sekedar hiasan dinding kelas2 reot dan hafalan murid2 SDuntuk lomba cerdas cermat P4 karena praksisnya di lapangan semua bergantung pada "kebijaksanaan".

Dan situasi (agak mirip) hukum rimba di negeri kita ini dapat kita lihat petandanya pada kaburnya arah tujuan peradaban bangsa besar ini (selain fatamorgana adil dan makmur tersebut). Bidang pariwisata sedikit banyak telah menyumbang bagi masuknya budaya "negatif" dari luar. Bukan karena "branded" dari barat hebat melainkan karena kita tak punya "identitas" lagi. Kita mungkin takperlu terlalu jauh2 mengambil contoh bagaimana negara2 adidaya memformulasikan kepentingan nasionalnya. Toh pemilu dengan cara mencontreng saja masih jadi sesuatu yang heboh makanya dibolehkan saja mencoblos seperti Kamerun. Ini bukan tentang menghina orang2 bodoh karena masyarakat primitif terasing sekalipun punya keistimewaan sesuai takarannya. Ini adalah tentang pembodohan, pemiskinan dan sejenisnya yang terus terjadi pada rakyat kita yang entah apa siap menghadapi segala "kemajuan" barat dengan identitas yang konseptual, terukur dan tak sekedar membeokan lagi doang pepatah petitih yang digagas nenek2 moyang primitif kita sejuta tahun sebelum masehi yang silam lamanya!

Ini adalah nusantara. Sebuah negeri dengan begitu banyak gugus kepulauan. Secara sejarah bangsa ini telah begitu berjasa membuat oportunity untuk memperkaya orang2 yang terjun ke dagang2an. Beda dengan masyarakat agraris di daratan ataupun nelayan di lautan. Ini adalah negeri yang menguntungkan bagi yang senang mengail keuntungan dan mencuri2 kesempatan. Karena ini adalah rimba besar kebudayaan. Tak ada kepastian hukum karena hukum ada di kaki kekuasaan (baca: kekuatan) dan perkawanan. Hyang kuat itulah yang menang, tidak peduli salah atau benar karena dalam dagang segalanya akan dikompromikan. Karena tujuannya jelas dan fokus: money money. Beruntunglah kita koto padang ini punya seorang walikota yang eks perwira marinir sehingga cukup "berkekuatan". Dan berdoa sajalah arah liar bisnis pariwisata yang menggiurkan ini tetap akan terkontrol sehingga tidak secara taksadar akan merugikan bangsa ini dalam hal jauh ke depan. Oportunity yang senantiasa terlihat oleh mata2 jeli ijo para pedagang bisa cukup disaring sehingga secara konseptuil, sekali lagi substantif, tidak justru lebih berdaya rusak bagi ke-obscurd-an identitas masyarakat2 yang lapar money money ini.

Tentu semua ini hanya jika dan harus akan terbaca juga oleh kekuatan pikiran, wawasannya, dan pengetahuan. Dan praktiknya di kenyataan juga tak semudah bercuap2 ria lewat esei longgar dan sangat sederhana ini. Seorang pemimpin mesti berhadapan dengan sekian banyak pertimbangan yang setiap putusannya berakibat nyata bagi kehidupan masyarakat yang dipimpinnya. Dan sangat rumit komplikatit. Bisa saja ada kebijakan anggaran, misalnya, untuk jor2an iklan di radio milik sepupunya ipar dari menantu paman istri ketiganya. Atau ada anggaran proyek yang disunat staff di bawah yang sangat menjadi miskin karena sebagai pegawai mesti terlihat gengsi bergaya menyediakan anggaran dalam kemewahan. Dan seorang pemimpin mesti berani mengambil tanggung jawab dan pertanggungjawaban atas bermacam2 soal tersebut. Makanya ia haruslah orang yang terbaik dalam masyarakatnya. Pun begitu saking beratnya tugas seorang pemimpin ia masih membutuhkan doa dari kita semua. Mari doakan, aminnnnnnn... Lho, koq jadi bicara tentang kriteria kepemimpinan bukannya pariwisata?

MUNAWIR OH MUNAWIR

Setelah sebelumnya aku berceloteh dengan posting berjudul "pilkada oh pilkada" yang nyaris tak ada hubungan nya dengan pemilu, sekarang gw kembali melakukan perbuatan repetitif dengan memberi judul yang se-konstruksi dengan posting belum lama ku tuw. Secara teknis resepsi pembaca, pola2 repetisi macam ini bisa ber-efek negatif namun bisa pula konstruktif. Sangat banyak (f)aktor dan konstituen yang menentukan--sebagaimana lumrahnya analisis ilmiah non eksak/pasti/terukur-jelas. Bahkan penjelasan kualitatif non-kuantitatif pun terasa tak cukup menjelaskan. Kualitas kadang malah bisa mengaburkan. Dan, tulisan ini mulai mengabur kala belum juga menyinggung munawir. Siapakah anak ini?


Bocah kurus, keriting, item dekil, dan akan kerap bisa Anda jumpai kala tengah cekakak-cekikikan dengan suara keras ini adalah seorang nyong ambon berumur sekitar 25 tahunan yang terakhir saya jumpai tengah berjuang menghidupi anak bininya di belantara Kota Bandung, Propinsi (bukan provinsi) Jawa Barat. Aslinya sih niy anak sempat mengecap bangku kuliah di Pasundan dan pula bapak kandungnya adalah seorang guru besar matematika. Saya takbisa membuktikan 100% kebenaran ini, tapi yang jelas saya sedikit lebih jauh belajar (kerusakan) komputer adalah dari bocah ini. Ceritanya niy anak mengawini (mungkin accident) pembokatnya sendiri (mungkin juga anak pembantunya). Singkat kisah, ortu tak merestui dan ia diusir dari rumah.

Saya berteman dengannya mulai dari sejak istrinya masih hamil hingga anaknya sudah terlahir. Awalnya ketemu sewaktu ngekos di jatinangor; kemudian sempat lama tak jumpa, lalu jumpa lagi ketika anaknya sudah cukup berumur satu atau dua tahun. Kami awalnya jadi tak selalu bersama salah satunya karena saya juga takbisa sepenuhnya percaya anak ini tentu. Hidup di rantau gheto lo bo, sehati2 gini saya juga masih takjarang ketipu orang! Dan hingga kini pun tentu masih cukup banyak selaput misteri tentangnya. Di masa2 terakhir ketemunya itu (waktu anaknya yang juga keriting itu udah jadi manusia) saya sempat diajak ke rumah ortunya (saat itu ortu ataupun saudara2nya yang kontra sedang tak dirumah). Dari tatapan wajah (mungkin saudaranya) yang menyambut di rumah, saya bisa melihat betapa besar keprihatinan yang tengah menimpa sahabat saya ini. Sewaktu di jatinangor dulunya pun--kebetulan saya jadi tetangga kamar kos--tengah malam saya juga bisa mendengar bagaimana ia dan istrinya memanjatkan doa dengan terisak2 tengah2 malam ke hadirat ilahi robi...

Untuk menyambung hidup paska terusir dari rumah munawir melakoni takdir berjualan pulsa elektrik dan kartu perdana. Tapi ia masih jadi pedagang jalanan yang berjualan dari pasar kaget ke pasar pagi-siang-malam atau meloncat2 dari satu kereta ke lain kereta api. Kebetulan anaknya sangat mudah bergaul dengan setiap orang dan inilah andalannya untuk bertahan hidup di jalanan Bandung. Saya ketika telah menjalani sidang sarjana dan mulai jadi pengangguran sempat mau terjun ke bisnis ini bersama beliau. Waktu itu saya sudah sengaja ke Sukabumi (bersama akhi cahya bos) untuk mencari lokasi jualan, tapi karena lain sesuatu hal saya malah jadinya pulang kampung (dan mau2nya "manyun wae" hingga dua tahun ini). Sempat juga tercetus ide bagi kami untuk jualan di kapal ke arah Indonesia timur. Munawir katanya sih bisa meng-handle kalo urusan nanti di pelabuhan dengan preman2 ambon dan semacamnya; yang jelas bisnis dagang jalanan laut ini kami nilai waktu itu cukup prospek dilakoni. Dia jualan pulsa-perdana, gw disuruh beli kain di tanah abang. Kabarnya di kapal, ataupun Indonesia timur tersebut, barang bisa kita jual hingga 10x lipat. Haha, cuma ya ndak jadi terlaksana, nasib berkata lain. Tapi seandainya ide kami ini memang terlalu edan, ini menggambarkan betapa kerasnya tekanan hidup munawir untuk menafkahi anak istrinya. Oya, satu lagi yang kebetulan kuingat niy: ini anak juga pernah kepergok lagi jualan donat sewaktu gw juga lagi ngegembel di masjid raya layaknya tunawisma. Sempat juga kami mau ngontrak bersama (jadi istrinya buat dinikmati berdua haha) buat nekan biaya, tapi ya singkat cerita ndak jadi. Sekarang aku di sini, di kampung halaman tercintaku yang malah makin terasa asing ini. Cuma orang tuaku lah satu2nya alasan aku masih merasa terikat dengan ranah kelahiranku ini. Tiada sudi aku bergaul dengan orang2 padang minang yang rata2 berwatak culas dan berkarakter pangicuh ini. Haha, dimana2 juga ada orang macam gini ya. Inilah tantangan dan perjuangan hidup untuk memilih jalan idealisme kita. Saya tidak menyalahkan siapa2. Silahkan saja; itu pilihan masing2 kita dan sekali lagi selamat berjuang aja dech dengan pilihanmu. Kalo saya boleh memilih, saya lebih suka tak berteman dengan makhluk2 yang oportunis tersebut. Toh gini2 guwa masih dikasih makan sama kanjeng gusti. Cuma memang sulit melawan tekanan2 yang senantiasa tamak menginginkan lebih dan terus menerus lebih lagi dan terus lebih. Dan berbagai pembenaran bisa dicari2 untuk dijadikan alasan mengikuti bisikan hawa nafsu itu. Dimanakah sabar dan ikhlas bisa ditemui sekarang2 ini?

Pada munawir sebelumnya yang membuat saya agak "manjarak" adalah karakter "sales barang maka kudu gaul dan oportunis" ini. Tentu saja ini sebenarnya melibatkan berbagai faktor persepsi yang cukup kompliks (antara kompleks dan komplit) dalam sekian masa interaksi dan proses saling mengenal kami. Seperti bagaimana ia (dan istrinya) terlihat bagai pasangan saleh dus ikut audisi Indonesian idol karena hobi nyanyi sekaligus ngaji (sebetulnya kalo ini sih sama sih sama guwa sih). Masih banyak tentu faktor2 penilaian lain, baik yang masih keingat jelas maupun yang lebur ke-arsip pada ingatan bawah sadar, namun yang pasti takmungkin semua bisa terceritakan; bagaimanapun. Makanya harus ada konklusi yang mewujud pada persepsi. Agak obscurd mungkin karena di sini fakta dan rasa campur aduk menjadi intuisi. Namun, nah, dalam serpih2an persepsi ini satu hal "yang fakta" yang juga masih bisa kuingat jelas pada pemuda ambon ini adalah: kesabaran dan keikhlasannya menerima semua yang terjadi? Kerja keras bukan berarti bentuk ketaksabaran menerima takdir dan segala dera keterpurukan juga tidak mesti menjadi berbuahkan ketidak-ikhlasan menjalani nasib.

Tidak ada manusia yang sempurna, namun--di tengah watak pragmatisnya--beliau juga punya kelebihan untuk bisa sabar dan ikhlas menjalani peran hidupnya. Setahu saya dia cukup punya skill untuk menjadi seorang teknisi komputer misalnya. Ternyata dia malah memilih jalan hidup dari berjualan pulsa, secara kaki lima. Mungkin memang di sinilah jalan rejeki yang terbuka. Kalo kita berpikir secara logika sempit, bisa saja kita berteriak: its not fear! Tapi keadilan itu secara lebih utuh memang hanya Tuhan lah yang benar2 tahu barangkali. Kita tentu tahu, seorang wanita yang bertubuh sexy walaupun takpunya otak dan sangat goblok bisa mengeruk uang yang banyak dengan memanfaatkan daya tarik seksual sematanya itu tanpa mesti "merasa" dirinya adalah beda2 tipis dengan pelacur. Entah bagaimana kilahan aktivis gender jika kita mencap fenomena ini sebagai eksploitasi sexual kaum wanita untuk kesenangan birahi mata2 nakal kaum pria. Yang jelas kita semua, mungkin, juga tahu bahwa kekayaaan dan kemiskinan itu bukan sesuatu yang paralel dengan ukuran2 berupa kerja keras maupun kerja cerdas. Tidak sedikit dari orang yang hartanya berlimpah itu tolol2 dan pemalas. Namun itulah authority tuhan dan tantangan bagi kita untuk ikhlas menerimanya. Sehingga, jika sedang berlebih kita bisa senantiasa bersyukur dan taklupa diri; andai kekurangan kita bisa untuk bersabar dan taklupa diri. Salah besar jika ada yang menganggap orang kalo miskin berarti sedang dihukum tuhan dan kalo kaya raya berarti ia disayang tuhan. Sebagai sebuah generalisasi ini adalah kesalahan yang sangat besar. Sejarah dan ibroh2 telah mengajarkan cukup banyak tentang ini. Kezuhudan terhadap dunia adalah nilai utama bagi seseorang yang betul2 penuh iman (engga muna) pada ilahnya. Hidup miskin pun Anda akan punya cara tersendiri untuk bahagia dan orang kaya pun tak akan menghindarkan Anda dari merasakan sengsara!

Untuk kemalangan yang menimpa munawir ini sepertinya tidak berlaku. Haha... ini cuma persepsi sempit dan sangat subjektif impresionis gw saja. Saya tahu koq di tengah penderitaannya beliau senantiasa hobi tertawa (meski mungkin juga ini tanda2 stres; namun yang penting bisa membuat bahagia kan?). Sungguh berat beban yang ia tanggung saya lihat. Dari seorang anak mapan dan terdidik, kini harus hidup bagai gembel di jalanan kota mertropolitan. Barangkali betul ini adalah hukuman karena dosanya yang entah apa. Tapi ingatlah bahwa orang yang disegerakan hukumannya di dunia ini justru adalah orang yang disayang oleh Allah. Orang2 yang udah bebal dan terbiasa dengan dosa akan senang senantiasa kepada dunia ini dan bersiap aja dech menerima utuh bagiannya di neraka nanti. Tentu kemudian juga persoalan munawir ini taklepas dari ortunya yang kemungkinan juga orang engga beres sehingga menumpukkan beban problema ini semata dengan menyalahkan anaknya (lain waktu gw akan nulis tentang pemahaman bakti terhadap ortu versi zaman primitif para penyembah dewa2an vs kemerdekaan manusiawi yang dibawa bendera Islam). Yang jelas terakhir ketemu, munawir ini senantiasa tabah menjalani keras kehidupannya. Dan di tengah dera itu ia senantiasa bisa bercanda dan menghibur anak istri tercintanya.

Saya sendiri tidak tahu bagaimana cara mencari anak ini karena sarana komunikasi kami sudah lama terputus. Nomor ponselnya dulu sering gonta-ganti maklum juragan perdana, di internet juga ndak gampang apalagi kalo anak ini belum juga cukup mapan untuk beraktifitas di warnet, alamat kos terakhirnya mungkin saya masih ingat tapi itu udah lama banget, dan jaringan pertemanan kami nyaris tak ada pihak lain. Satu2nya jaringan yang bisa saya manfaatkan mungkin anak2 jalanan stasiun2 kereta di Bandung seandainya ia masih jualan pulsa di sana. Entah kapan bisa kujumpai nyong ambon ini. Munawir oh munawir, kisah hidupmu menurutku sangat berharga bagi setiap anak manusia indonesia untuk menjalani kehidupan ini dengan penuh kesabaran dan utuhnya keikhlasan!

Pada keramik tanpa nama itu, kulihat kembali wajahmu
mataku belum tolol ternyata, untuk sesuatu yang tak ada
apa yang berharga dari tanah liat ini? selain separuh ilusi
sesuatu yang kelak retak, dan kita membikinnya abadi (g.m)

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...