Senin, 13 April 2009

GOYANG2NYA SISTEM IT KPU 2009

Adalah sebuah lelucon yang sangat menggelitik ketika setelah dua hari pusat tabulasi surat suara KPU di Hotel Borobudur Jakarta bekerja, pergerakan surat suara yang masuk tak kunjung melewati angka 1%. Padahal niat semulanya sistem dengan teknologi canggih dan menelan biaya besar ini diadakan sekedar untuk mempercepat informasi kepada media (masyarakat) karena secara aturan hukumnya tetap saja penghitungan manual mesti dilakukan dan (yang) menjadi patokan. Secara aturan hukum pula proses penghitungan ini mesti selesai dalam sekian waktu yang tak berapa lama. Anggota KPU dalam wawancara media terlihat berpatokan saja kepada tanggal 9 mei yang merupakan batas akhir penghitungan manual oleh Undang2. Nah, sementara jika dalam satu hari saja pusat tabulasi nasional teknologi canggih KPU tersebut hanya menghasilkan satu persen suara yang masuk tentunya membutuhkan 100 hari (tiga bulan lebih, yakni awal bulan juli!) untuk mencapai angka 100%. Lah, lalu dimana letak kemudahan yang ditawarkan teknologi canggihnya?
Kabar alasannya adalah belum sampainya surat suara ke KPUD Kota/Kabupaten tempat dimana sistem TI ini baru mulai bekerja dengan menggunakan scaner sebagai pemindai data. Keterlambatan surat suara masuk ke DATI II ini tentu tak lepas dari soal carut marut ala sistem birokrasi primitif kita. Diharapkan, kabarnya lagi, jika surat suara telah masuk ke KPUD DATI II (yang entah akan makan waktu berapa lama) baru statistik tabulasi sistem IT ini akan bergerak lebih progresif. Tapi diberitakan juga persoalan2 "penggunaan" IT ini di tingkat kabupaten kota tersebut, semisal ada yang sofwarenya rusak. Atau mungkinkah dari sekian kabupaten/kota yang terdapat di seluruh provinsi Indonesia ini birokrasi kita telah melakukan rekruitmen SDM yang tepat untuk operatornya. Jangan2 mereka juga seperti saya ketika bekerja sebagai desainer grafis untuk pertamaxxx kalinya pura2 tahu saja tentang bagaimana cara "nyalain mesin" scaner umax dan mengimpor gambar hasil scan tersebut ke "layer"-nya program corel draw x3 hahaha....

Apapun kabar alasan carut marut birokrat feodal gaptek dan "kebijaksanaan2" setempat, toh KPU telah menghadirkan sebuah lelucon berdarah2 karena sudah menghabiskan sekian banyak uang rakyat untuk sesuatu yang sia2. Ternyata sistem teknologi canggihnya tersebut bekerja jauh di luar harapan dan barangkali jadinya semata sekedar hiasan. Ibaratnya Anda yang tidak mampu menggunakan komputer (dan juga mungkin tidak tertarik untuk belajar) tapi nekad membeli sebuah notebook canggih terbaru keluaran acer sekedar untuk menjadi asesoris yang mempercantik kamar Anda. Walau tolol itu takjadi masalah jika menggunakan uang halal Anda. Nah kalau KPU "maaf" bajingan ini menggunakan uang rakyat lho bo'. Beberapa orang menyayangkan penggunaan scaner ini untuk memindai data. Sistem ini akan efektif bekerja jika ditangani oleh pihak yang profesional; sementara kita semua tahu bahwa rekruitment proyek dadakan oleh KPU/KPUD ini pasti akan banyak kelemahan "SDM"-nya. Jika kertas surat suara tidak dalam keadaan baik (terlipat tak rapi/basah/dll), ataupun tercontreng dengan benar/kurang benar/tidak benar (walaupun ini belakangan diakomodasi secara hukum), akan berkendala untuk bekerja dengan "mesin" ini. Sementara sistem ini ditujukan untuk mempercepat awalnya.

Ah bicara tentang proyek dan duit saya jadi teringat kematian David, pelajar peraih emas olimpiade fisika dari Indonesia, yang berkuliah di Singapura. Kabarnya kematiannya bukan akibat bunuh diri melainkan sengaja dibunuh. David ternyata berhasil menemukan sebuah teknologi hologram tiga dimensi yang bisa mengancam eksistensi bisnis hardware seperti pabrik2 monitor. Penemuan2 teknologi baru ini bertujuan untuk mempermudah, namun akan ada yang merasa terancam bisnis teknologi lamanya. Karena dari jualan hardware inilah uang mengalir. Barangkali kisah David ini mirip2 dengan film "First 20 Million", lain waktulah saya tulis tentang ini. Yang jelas pembelian modal alat IT KPU ini jadi menghambur2kan uang. Jika sistem ini mulai bekerja dari tingkat terendah, yakni KPPS dan dengan syarat ada SDM-nya sebagai operator disana, mungkin memang jadinya bisa cepat. Jadi untuk apa tanggung2 mengadakan hanya untuk tingkat kabupaten/kota yang nilainya juga pasti tak tanggung2 ini. Mubazir! Dan penggunaan alat scan ini buat saya juga seperti memang asal beli barang saja; takcepat dan kurang elastis terhadap berbagai kondisi kertas. Kenapa ketika mereka telah terpikir akan alasan2 seperti ini tetap juga memaksakan untuk beli?

Dalam wawancara di Program Suaraanda Metro TV (sebentar lagi guwa mau nonton tayangan e-life style tentang "sekuriti"-nya KPU nih, mudah2an bisa ya Gusti) seorang pengamat IT dari ITB dan seorang hacker koordinator penguji keamanan sistem IT KPU sepakat menyatakan bahwa dari pada begini mendingan KPU menggunakan sistem sms yang berbiaya rendah namun cepat--sebagaimana dilakukan lembaga2 survey, parpol, dan pemantau--dengan meregister nomor kontak per TPS. Namun 'kan kalau uang rakyat dihemat2 gini ndak jadi dong "teman2"-ku dapat proyek? Inilah Indonesia, dengan alasan yang sebetulnya baik:bagi2 rejeki, mereka menggunakannya untuk hal yang tak efesien (mubazir = pekerjaan iblis). Da Bas Djabar yang merupakan pimpinan Grup Singgalang dalam sebuah wawancara di TVRI Sumbar juga menyoroti ini mulai dari tingkat KPPS: padahal ada sekolah2 libur yang tempatnya bisa digunakan tapi tetap saja panitia menyewa tenda yang dipakai pengunjung juga tidak. Meski beliau sendiri seorang pengusaha atau pedagang! tetap saja dia terlihat resah dengan bagi2 proyek uang rakyat yang asal2an ini.

Kita tentu juga tidak menyalahkan sepenuhnya kondisi ini. Tentu saja ahli2 BPPT yang akhirnya diturunkan untuk membantu adalah orang2 ICT terbaik negeri ini. Cuma ini juga tidak bisa menutup2i bercampur-baurnya capaian2 kemajuan teknologi informasi tersebut dengan "kelemahan2" sistem administrasi birokrasi status quo. Kita mungkin sedikit bisa memaklumi (meski sebaiknya jangan) kalau seandainya misal ada kasus gini: karena jualan hardware-lah yang menghasilkan uang maka barang nyata ini ditransaksikan untuk barter dengan bantuan "software" yang merupakan jasa absurdnya. Jadilah barang2 nyata macam scaner dipaksakan dibeli sebagai pengganti bantuan "ilmu" perkomputeran yang takjelas wujud bendanya. Untuk kasus perdagangan primitif memang benda nyata inilah yang menghasilkan uang, sedangkan "ilmu pengetahuan" makhluk apa itu?

Tentu ini juga tak membuat kita bisa menolerir jika terjadi kongkalingkong bisnis yang tidak fair dan melanggar aturan. Tapi sudahlah, tak perlu terlalu dipersoalkan, gitu aja koq repot. Kan' indah juga jika kantor2 KPUD Kota/Kabupaten se-Indonesia punya beberapa souvenir hiasan meja terbaru berupa beberapa perangkat CPU, monitor2 LCD, dan scaner yang akan digunakan mungkin sekali setahunan. Seperti halnya komputer2 spesifikasi canggih di kantor2 pemerintahan yang lumayan juga berguna bisa dipakai untuk main game free cell atau catur oleh PNS2 yang lagi sepi "orderan", sementara seorang pebisnis sablon digital kere harus bersabar untuk bertahan dalam tahap bisnis kecil2an karena hanya menggunakan modal komputer butut yang takmungkin dipaksakan bekerja dengan software grafis terkini yang membutuhkan upgrade atawa duit segar APBN tersebut. Memang segala sesuatunya telah diatur oleh Ilahi Robi dan tak perlu terlalu dikhawatirkan: setiap individu punya medan juangnya tersendiri. Jika seorang koruptor bisa beramal membangun banyak2 mesjid dengan duit "syubhat"-nya kenapa tidak pula sang desainer kere tersebut beramal lewat kesabarannya. Namun ini juga tak menghalangi kita untuk memperjuangkan semampunya upaya perbaikan bangsa ini jika diberi kemampuan by God untuk bisa melihat persoalan "yang ditutup2i", misalnya.

Doa selalu tentu kita tujukan bagi perbaikan birokrasi kita, bagi bangsa kita. Di tengah segala awan kelabu itu tentu saja ada orang2 yang terus berjuang ke arah perbaikan. Ketua KPUD kotaku sendiri adalah kawanku jua yang dulu pernah bekerja di konveksi rumah hantu ini, sebagaimana mungkin juga pernah kuceritakan dalam postingan yang berjudul "WEM TAYLOR". Sebelum jadi pejabat seperti sekarang bujangan kita ini sungguh luntang-lantung nasibnya bergiat di berbagai LSM hingga menyambi sebagai ketua karang taruna hihi sewaktu kami berdua jadi cowok paling ganteng pada diklat manajemen konveksi beberapa bulan yang lalu (selain kami ya wanita semua), sekeluar dari BDI Tabing menuju angkot beliau kudu ngojek sama guwa. Karena takpunya penghasilan tetap, untuk kredit motor pun ia taksanggup ceritanya. Ehhh tiba2 kemaren nongol kesini pake dasi ala menteri dan diantar sopir dengan mobil dinas segala. Itulah, kalau sudah kehendak dari dewa Allah pasti akan tiba pertolongannya yang bisa secara begitu cepat merobah 180 derajat kisah hidup seseorang. Dan tentu saja tantangan belum akan berakhir hingga nafas ini berhembus dan mencapai titik darah penghabisan. "Waw jadi politisi niy sekarang," celetukku menggoda iseng, "ah ndak lah yaw, ini 'kan pekerjaan profesional", jawabnya. Tentu saja ini tak menjamin, dan sudah pasti beliau sekarang di kantornya mesti berhadapan dengan bermacam2 "tekanan2 politis" yang menjadi babak baru bagi perjuangan hidupnya. Namun sekali lagi tetap ada harapan. Kita tahu meski birokrasi kita mempunyai banyak kekurangan dan sedikit orang baik yang kesepian, akan selalu ada peluang untuk perbaikan demi perbaikan. Sesedikit apapun langkah itu dimulai, menuju perjuangan dialektik lagi2 tiada henti. Dan segala cacat yang begitu nyata pada pileg kali ini--kata Megawati mah pemilu 2004 pada masanya justru malah lebih baik--mudah2an jadi pelajaran seketika, khususnya bagi Tim IT KPU, untuk menuju pilpres sebentar lagi di depan sana. Ayolah masyarakat teknologi informasi Indonesia, buatlah suara setiap rakyat negeri ini untuk calon pemimpin mereka menjadi berharga (alias bisa diperjual-belikan kepada tim suksesnya tokoh2 penawar tertinggi hahaha)!