Senin, 13 April 2009

LEGISLATOR PILIHAN RAKYAT DAN KEMENANGAN DEMOKRAT DAN SENANTIASA ADA HARAPAN

Sekarang lagi ramai2nya orang2 pada "bicarain" pemilu legislatif 9 April 2009 di Republik Indonesia Raya. salah satu fenomena yang cukup phenomenon dari -pil- kali ini adalah tentang buanyaknya jumlah caleg (calon legislator ya bukan legislatif, itu mah penamaan kolektif pada lembaganya) yang ikutan audisi. Bahkan yang mengenaskan di sebuah berita pada sebuah daerah dikabarkan sejumlah calon anggota dewan perwakilan rakyat yang terhormat tersebut mengundurkan diri setelah ternyata keterima sebagai PNS! Ya ya ya salah satu yang cukup disayangkan dari caleg2 kita sekarang ini adalah status legislator dianggap sebagai lowongan kerja bagi para pencaker; lebih spAsifik lagi: dijadikan lahan penghasil uang... dan ya ya ya semua orang tahu itu; apalagi untuk konteks Indonesia, yang begini2 lumrah2 saja. Salahkah? Jangan jadi person yang gampang menyalah2kan, begini....
Salah satu sumber penyebab kerumitan prosesi pencontrengan calon2 legislator kita adalah dikabulkannya gugatan kepada mahkamah konstitusi tentang penggunaan suara terbanyak sebagaimana diamanahkan undang2 dasar. Tentu saja keputusan Mahfud MD cs minus dua hakim yang kontra tersebut sangat benar dan sangat mendukung kemajuan. Masalahnya substansi modernitas proses demokratis tersebut tak didukung oleh kenyataan masih cukup primitifnya wawasan politik-pemerintahan masyarakat. NB: DALAM SEBUAH SESI TANYA JAWAB YANG DIADAKAN BEM UNPAD DAN STPDN JATINANGOR SAYA PERNAH MENGATAKAN HAL YANG JUGA SENAFAS DENGAN INI; SAYA MENYATAKAN BAHWA REFORMASI / DEMOKRASI / SISTEM POLITIK MODERN INI AGAK PREMATUR BAGI MASYARAKAT INDONESIA KETIKA DIPAKSAKAN LAHIR TAHUN 1998; WAKTU ITU ADA DUA NARASUMBER, YANG SATU WAKIL KETUA MPR AM FATWA KURANG SETUJU DENGAN PANDANGAN PESIMIS INI SEDANG YANG SATU LAGI MANTAN DOSEN KONTROVERSIAL STPDN INU KENCANA SYAFEI TERLIHAT AGAK MENDUKUNG WACANA YANG SAYA LEMPARKAN. Lihat saja "humor" bahwa pemilu sekarang kabarnya dipaksakan tidak lagi menyoblos karena yang pemilunya mencoblos di dunia ini tinggal Indonesia dan Kamerun.

Tentu saja saya tak mengatakan orang Indonesia bodoh2. Bahkan untuk bidang2 yang bersifat teknik/teknis--misal tukang cuci, tukang ini, tukang itu--orang Indonesia sangatlah jago2. Bahkan untuk "kejahatan" cybercrime Indonesia adalah peringkat kedua di dunia setelah Rusia. Begitu pula untuk urusan pornografi hahaha. Pengusaha2 Indonesia jago2 dan licik2; begitu juga para pemikir kita tak sedikit yang jaringannya sudah men-dunia seperti Ulil Abshar Abdalla, Goenawan Mohammad, dan Soesilo Bambang Yudhoyono haha. Masalahnya pemerataan pendidikan (dus kesejahteraan) masihlah sangat timpang di negeri rimba kepastian hukum ini; masyarakat kebanyakan kita tetaplah orang2 "tak berpendidikan" dalam pengertian "mengalami pemiskinan wawasan". Tapi bukan perlu untuk disalah2kan; ini adalah sebuah proses yang terus berjalan dan fakta-kenyataan yang penuh tantangan. Masalah temporal yang perlu disorot adalah kenyataan "miskin wawasan modern" masyarakat kita ini tak seiring dengan kemajuan reformasi perundang2an politik kita. Akibatnya seperti ada kegagapan di antara antusiasme masyarakat menyambut kebudayaan politik baru yang dibawa segolongan elite di "atas" tersebut. Hasilnya, kemenangan demokrat berdasarkan hasil quick count baru2 ini mendukung kenyataan bahwa sebeNulnya omong kosong pandangan yang mengatakan masyarakat kita sudah kritis dewasa ini. Sudah meningkat ya, tapi untuk punya kecerdasan politik masih jauhlah.

Bukan berarti yang milih demokrat ndak cerdas dan orang2 di demokrat bego2. Enggak lah yaw. Bahkan kalo benar ada penyusupan intelegensia terhadap sistem database kependudukan negeri ini waw keren banget. Tapi seandainya betul bahwa orang2 benar2 kepincutnya pada partainya SBY ini, ini hanya menunjukkan betapa yang namanya status quo sangat disokong oleh rakyat negeri ini. Orang2 tak mau repot2 mengukur prestasinya, mencari pembanding, apalagi untuk merumuskan argumentasi2 penilaian, tapi cukup dengan melihat fakta nyata:inilah yang kuat, inilah yang sedang berkuasa sekarang, ya udah ikut aja jangan macem2, gitu aja koq repot. Begitulah rakyat negeri ini, hanya mampu menilai di permukaan. Bukan mereka yang salah, tapi inilah hasil pendidikan "teknis" selama 32 tahun di zaman orde baru. Kenyataannya memang wawasan politik substantif masyarakat telah dikebiri begitu lama sehingga sulit untuk "ngacung" lagi. Dan sialnya pula fakta-kenyataan ini tetap saja akan menjadi sebuah oportunity bagi orang2 yang licik dan "cerdas" melihat kesempatan. Nah kalau untuk urusan berlicik2 serahkan pada orang padang....

Ingat dalam hidup ini ada TIGA TIPE PEKERJAAN, YAITU: KERJA KERAS, KERJA CERDAS, DAN KERJA CULAS. Dua yang pertama akan membuat Anda mesti menghargai proses dan syukur2 bisa menghasilkan uang yang barokah sebagai efek samping. Namun seperti katanya orang2: uang itu nomor dua tapi lebih penting. Nah, kalau tujuan utama Anda adalah kekayaan, gunakanlah opsi terakhir seperti halnya orang2 minang... kabau....

Kemenangan demokrat ini pun bagaimana akan menyisakan sebuah persoalan genting:yakni mengenai para legislatornya nanti. Saya meski anti golkar agak menyayangkan ketika suara golkar justru turun ketika para tokoh muda mulai bergerak di sana. Bagaimanapun DPR kita akan lebih berkualitas jika diisi oleh politisi2 yang lebih "mapan". Pada demokrat ini kukhawatirkan justru banyak diisi oleh orang2 oportunis yang baru kemaren sore "belajar politik". Sebagai sebuah partai baru dan tengah berkuasa peluang seperti ini sangat mungkin. Politisi2 kutu loncat tentu akan sangat tertarik kesini; pun begitu pemula2 yang "aji mumpung". Tapi ya beginilah: rakyat tak berkualitas tentu saja hanya akan menghasilkan wakil2nya yang kurang lebih sama. Memang seperti apa rakyat sebuah negeri tercerminkan dari seperti apa pimpinan2nya.

Akibatnya, pemilu prosedural yang menurut hemat saya begitu banyak menghambur2kan uang dan sumber daya lainnya secara mubazir (ingat mubazir temannya iblis) dan tak efisien ini justru tetap saja gagal menghasilkan demokrasi yang berkualitas. Sistem pemilihan berdasar suara terbanyak yang telah begitu indah tercantum pada landasan hukum mekanisme politik kita--meski setengah hati sebab tak diikuti dengan sistem distrik--di lapangan menjadi tidak efektif sebab ketaksiapan segala sumber daya senyatanya di tengah masyarakat yang masih "miskin wawasan substantif" ini. Baik rakyat biasa, birokrat, ilmuwan, bahkan elit2 politik sendiri. Idiotnya wawasan politik substantif legislator2 kita dapat dilihat pada fakta bahwa kabarnya kalau undang2 bidang ekonomi yang bakalan "meeting" dengan departemen2 "basah" bakal lebih cepat selesai dibanding bidang2 lainnya yang kering. Lihatlah betapa dangkalnya pola pikir negarawan2 kita ini; yang otaknya tak lebih bijak dari cara pikir sales showroom daihatsu.

Sekali lagi uang itu nomor dua tapi lebih penting HAHAHA, cuma masalahnya apa kita ingin punya legislator2 dengan kualitas seperti itu. Mahfud MD ketika mulai duduk di MK mengatakan bahwa sekarang beda dengan ketika dia di DPR dulu: harus mulai menjadi negarawan, berpikir untuk kepentingan yang lebih luas bukan lagi sekedar politisi pragmatis. Tapi tentu saja alangkah indahnya jika kita berharap anggota2 DPR kita punya kualitas yang lebih baik di tahun ke 10 proses reformasi ini. Seorang pengamat politik pernah menyampaikan data bahwa mayoritas komposisi anggota dewan kita periode sekarang ini adalah pedagang. Inilah mungkin akar masalahnya dan sistem sosial kemasyarakatan kita mendukung untuk ini. Istilah seorang pejabat struktural ikatan pengusaha muda minang: dengan menjadi pengusaha di Minangkabau Anda akan menduduki strata tertinggi dalam masyarakat. Jelasnya: uanglah yang mendudukkan posisi paling terhormat di masyarakat kita saat ini. Persoalannya tentu tak sesederhana itu, tetapi fakta seperti ini rasakan saja betapa sulit untuk dipungkiri. Dan ketika para legislator kita nanti diisi oleh orang2 yang belum cukup punya "wawasan politik substantif" ya bersiap2lah menerima kenyataan bahwa jabatan dijadikan lahan untuk menumpuk kekayaan. Mengapa, pertama karena secara sistem itu dimungkinkan (situasi ini terus tengah diperbaiki); ke dua karena secara persepsi oleh masyarakat ini juga dianggap lumrah (situasi ini terus tengah diperbaiki). Cuma bagaimana perbaikan bangsa bisa kita harapkan dari politisi2 yang kerdil dan yang begitu deh.

Buat saya cukup mengecewakan bahwa sistem suara terbanyak pada pemilu kali ini justru jadi boomerang bagi harapan tentang kualitas calon2 legislator kita. Di berbagai media telah sangat banyak dibicarakan pandangan2 tentang efek buruk berupa "politik uang" bagi sistem ini. Sistem yang membuat masyarakat jadi melakukan transaksi dagang dengan para pemodal. Sistem yang justru menjadi ajang jual beli suara. Padahal idealnya sebagai seorang lagislator nantinya para caleg2 tersebut mestilah menjadi seorang negarawan profesional yang mengurus dan mengawasi undang2 negara; bukan tukang bikin jalan, bukan tukang bagi2 BLT! Maka karena itulah, untuk memperbaiki keadaan negara ini perlu bagi para perumus kebijakan untuk menyesuaikan aturan2 idealnya dengan kondisi nyata, faktual, apa apa adanya, dan sejujurnya di tengah2 lapangan. Jangan mimpi rakyat kita sudah bisa mencontreng dengan sikap kritis terhadap kapabilitas calon2 pilihannya seperti sebagaimana terpilihnya sebagai presiden Barrack "Hussain" Obama di negeri kafir United State of America. Namun begitu justru keadaan seperti ini menjadi tantangan bagi kita semua untuk terus memperjuangkan perubahan dan terus berjuang. Ada setitik cahaya di ujung sana status quo lorong kegelapan. Percayalah selalu ada harapan. Karena ini bukanlah garis liniar kehidupan, ini adalah proses dialektik yang akan berjalan terus menerus sebagai warna-warni kehidupan. Karena inilah bagian kita :proses: terus menerus berproses mengikuti ritme dinamik titik2 keseimbangan alam. Karena itulah (kata demokrat): yes, we can!