Selasa, 16 Juni 2009

BERBUAT JIHAD

Kita hidup di sebuah Semesta yang memiliki hukum-hukum, sama seperti adanya hukum gravitasi. Jika Anda jatuh dari sebuah gedung, tidak menjadi soal apakah Anda orang baik atau jahat, Anda akan tetap menumbuk tanah. (Michael Bernard Beckwith)


menyimak tayangan dokumenter metro file beberapa waktu yang lalu tentang salah sebuah episode peperangan kemerdekaan di jawa barat saya jadi terpikir sesuatu. perang yang diliput tersebut berlokasi di sukabumi--dikomandoi oleh letkol (pur) edi suherdi--antara rakyat (tkr dan laskar hisbullah) melawan tentara sekutu (plus batalion gurkha india) beberapa waktu sebelum peristiwa bandung lautan api. untuk membakar semangat rakyat bertempur melawan penjajah, saat itu digunakanlah istilah jihad oleh para kyai setempat. wacana seperti ini juga umum kita ketahuin "dipropagandakan" dalam berbagai peperangan lainnya di indonesia (dalam konteks prajurit2 muslimin). dan dengan beginilah semangat para pejuang menjadi belipat2 guna punya nyali melawan kekuatan penjajah yang di atas kertas sangat jauh di atas kemampuan militernya. namun kemudian timbul pertanyaan saya: seberapa tepatkah pelabelan kata jihad untuk konteks perang kemerdekaan?

sama sekali ndak nyambung memang nggak juga; karena toh yang berperang adalah rakyat indonesia (yang muslim) versus penjajah (yang kafir). namun jika kata jihad kita kembalikan ke medan makna orisinilnya maka mau tak mau kita musti tengok konteksnya pada sejarah islam pada masa nabi muhammad. jihad (dalam pengertian perang fisik) disini berarti perang (hidup mati) antara kelompok muslim melawan kelompok kafir dalam kerangka dan dalam konteks mempertahankan dan atau mendakwahkan agama/iman/islam. dalam konteks perang membela iman ini pun juga ada ushul fikih dan ushul historisnya. kelompok muslimin sebelumnya bertahun2 ditindas oleh kafir nyaris tanpa melakukan perlawanan apa2. baru setelah memiliki kekuatan yang dipandang memadai (dan tentu saja perintah resmi dari tuhan) peperangan dilakukan. perang jihad pertama adalah perang badr yang terjadi bertahun2 setelah nabi hijrah ke madinah; apalagi jika dihitung dari pertama kalinya risalah islam resmi disandang muhammad--melalui bertahun2 masa penuh siksaan nan pedih bagi para pengikutnya di kota mekah. dan setelah perang jihad ini resmi dibolehkan oleh tuhan baru bertahun2 pula nabi bisa masuk kembali ke kota mekah. dan sebelum itu pun nabi "menandatangani" perjanjian "damai" hudaibiyah dengan kaum kafir selama 10 tahun; tidak saling mengganggu hingga pihak quraisy sendiri yang melanggarnya dan akhirnya kaum muslimin mendapat kesempatan untuk masuk (menyerang) ke kota mekah tanpa perlu darah mengalir setetes pun.

yang kita lihat dari konteks asal pengertian jihad pada zaman nabi itu selain label "alasan iman" adalah peperangan dilangsungkan dengan strategi rasional. dia tidak berlangsung asal brutal, asal serbu, asal garuk mentang2 pihak kita merasa benar dan pihak lawan sudah pasti salah (kafir). apalagi jika peperangan dilangsungkan cuman dengan alasan tersinggung ataupun tidak senang sama orang lain. bertahun2 pengikut muhammad diboikot hingga disiksa tanpa perlu mereka karena merasa benar lantas langsung "berjihad". nah jika dikaitkan lagi dengan perang kemerdekaan indonesia: apakah "jihad" yang dilangsungkan sudah dalam konteks utama "iman" dan "islam"? apalagi jika bertanya apakah perang yang dilangsungkan sudah dalam situasi yang argumentatif secara strategi perang? apakah disini sudah ada periodesasi ikhlas dan sabar? tidakkah ia berlangsung cuman gara2 perasaan kurang senang atau emosional; apalagi hanya gara2nya persoalan rebutan perempuan???

sebagaimana kita ketahui alasan utama kedatangan belanda ke indonesia adalah misi dagang. dalam hal kekuatan militer, belanda tersebut nyaris tak ada apa2nya dibanding kekuatan2 militer lainnya di eropa seperti jerman, inggris, bahkan perancis. dan yang jelas lagi pula perang kemerdekaan di indonesia alasannya tentu saja persoalan nasionalisme, bukan agama--makanya hingga hari ini kita masih menyaksikan kekecewaan "kelompok islam" terhadap hasil dari "kemerdekaan indonesia". meski belanda sudah pasti kafir kristen namun mereka tidaklah cukup agresif untuk urusan penyebaran agama protestan. karena itu tadi, orientasi utama penjajahan belanda adalah duit bukan iman. bahkan belanda sengaja membatasi kemampuan masyarakat pribumi untuk melek tulis dan baca (alkitab) sebab prioritas utamanya adalah duit, yang akan terganggu jika rakyat ini pintar2. di sisi lain pula, sudahkah alasan "iman" jadi prioritas utama para pejuang dalam berperang dengan belanda ataupun penjajah lainnya. tidakkah ada alasan lain2 seperti duit, primordialisme, kurang senang, apalagi soal cewek pula? tentu kita akan bisa melihat ini secara kasus per kasus, namun secara general tentu saja yang terbaca adalah alasan nasionalisme/primordialisme bukan iman atau islam!

jihad dalam perang kemerdekaan RI memang melahirkan sebuah ambiguitas tersendiri. memang tidak bisa sepenuhnya ditolak bagaimanapun. tapi secara per kasus misalnya kita lihat perang paderi di sumatera barat yang meng-"adu" kaum paderi muslim dengan kaum adat minang plus pula tentara2 dari madura, ataupun perang rakyat sunda pribumi muslim yang saya sebutkan di awal tadi versus tentara2 dari india yang bukan tak mungkin ada yang muslim pula. apalagi jika melihat jihadnya umat imam kartosuwiryo yang bersiteru dengan sahabat seperguruannya soekarno. apalagi melihat pula perang aparat intelijen negara menyusupi kelompok2 radikal muslimin makar. mana yang perang kemerdekaan (atau membela tanah air?) dan mana yang jihad?

mungkin secara gamblangnya kita bisa bilang ya jelasnya tentu saja perang kemerdekaan ini adalah berkonteks tanah air, nasionalisme setelah tahun 1945 dan primordialisme pada berabad sebelumnya. namun kadung rakyat waktu berperang merasa haqul yaqin bahwa mereka sedang berjihad "murni" melawan penjajah kafir dan sudah pasti dijamin sama kiyainya masuk sorga jika mati fi sabilillah. memang dalam ajaran islam sendiri ada konteksnya bagi orang yang mati untuk mempertahankan harta benda miliknya. namun kembali lagi akan jadi bermacam2 per kasusnya. cuma secara generalisasi akan ada persoalan ketika mencampur-adukkan soal perang kemerdekaan dengan klaim jihad. belum lagi jika kita mempertanyakan seberapa terpenuhinya syarat2 yang cukup argumentatif dalam hal hitung2an strategi pemenangan perang yang rasional untuk bisa, boleh, dan mampu berperang/berjihad. dalam wacana itu komunikasi politiknya pak kyai aja kaleee, atau lebih sederhananya "upaya penyemangat", ya bolehlah menggunakan klaim jihad ini untuk berperang dengan belanda/jepang/sekutu guna membela kedudukan negarawan2 korup di jakarta atau raja2 kecil yang doyan main perempuan di kadipaten2nya (sebagian barangkali aza). tapi secara teoritis keilmuan di sini kita mulai melihat persoalan ambiguitas makna kata jihad dalam perang kemerdekaan RI. terutama lagi jika kita seret persoalan ini dalam konteks kemurnian akidah dalam ilmu/pelajaran agama islam. lha wong, katanye siyhh, amrozi dkk yang ditembak mati di nusa kambangan beberapa waktu lalu pemimpin negara kita tercinta ini adalah thogut (syaiton)!

wacana yang saya lontarkan ini mungkin dipandang kontra-produktif dan bermain2 di kaburnya persoalan--atau barangsekali ada yang berpendapat tegas dan pede bahwa perihal ini sudah terang jelas kali ya?. tapi ya ini memang baru sekedar analisis wacana pada level teori atau wilayah pemikiran saja. praktisnya saya juga tak berani katakan bahwa pendapat saya ini sudah pasti benar karena masih banyak hal yang harus difikirkan dan mungkin tak saya ketahuin. jadi, saya juga masih meragukan pemikiran saya ini dan tentu sangat menghormati ketulusan perjuangan kakek2 saya dahulu kala demi negeri kita tercinta yang (terlihat) merdeka saat ini begini. 'kan kata mantan ka bin hendropriyono sendiri selagi segala gerakan2 yang mengacaukan stabilitas negara ini masih dalam tahap pemikiran2 individu di kepala (ataupun sekedar iman di dada), bukan tindakan konkret eksekusi di lapangan ya ndak apa2 lah yaw. saya cuma jadi gelisah secara pemikiran saja terhadap distorsi pemaknaan pada kata jihad. di timur tengah sendiri untuk saat2 ini kita melihat pula perang pendapat dan tafsir atas kata2 jihad fisik ini. kudengar bahwa ulama2 salaf di arab saudi sendiri menyerukan hijrah bagi rakyat palestina, tidak memaksakan diri melawan israel karena kenyataannya secara strategi perang kondisi kekuatan militer kaum muslimin sangat jauh lemahnya saat ini. karena juga dalam agama bersabar itu juga jauh lebih utama. apalagi kalo kita melihat "clash" ulama2 puritan ini dengan kaum al-qaeda bin cia laden.

makanya nanti kalo hendak berjihad hendaklah pula dengan keikhlasan, ilmu, dan iman yang tulus; bukan karena marah2, jengkel, kurang senang, apalagi gara2 berebut tubuh mulus yang disilet2 suami rajin sholat dan rajin hajinya manohara odelia pinoy. hehe, kira2 kalo indonesia nanti (misal lho) perang dengan malaysia ada yang merasa dirinya sedang berjihad nggak ya?