Senin, 08 Juni 2009

BIN: INTELIJEN NEGARA KITO (bagian II)

Jangan mengeluh tentang salju di atap rumah tetangga, apabila serambi depan Anda sendiri tidak bersih. (Konfusius)


lanjutan dari BIN: INTELIJEN NEGARA KITO I yahh..

yang jelas--haha, gimanapun perlu diperjelas sebisanya dijelaskan yah biar ndak bikin sakik kepala--hendro terlihat udah punya kesimpulan bahwa: identitas NKRI-nya tapi plus berkawan dengan "asing" adalah taklebih baik bersama SBY. emang siy, gw aza yang rakyat biasa sudah sangat mencium "ambisi internasional SBY" yang moderat
dan demokrat. sementara hendro tentu saja konservatif dan pro-status-quo dan republikan. dan bermain samar di dua kaki ndak terasa opsi yang baik lagi bagi dia; setidaknya mendekati pemilu ini (di)mana kemungkinan peralihan kekuasaan ke opsi yang lebih baik terbuka dan perlu lebih disokong. lihat pula bagaimana mantan tim suksesnya SBY sendiri letjen (pur) M yassin sudah membelot ke kubu prabowo. saya menengarai kalo orang inilah yang membuat presiden gerah dan mengumpulkan seluruh perwira tinggi TNI beberapa waktu lalu di istana. sementara daripada itu pula, hendro sepertinya baru berani "ngelawan" sekarang setelah "diselamatkan" dari kasus munir; beda pan dengan muchdi yang jelas2 orangnya prabowo?

tapi muchdi sejauh ini masih selamet, tapi SBY punya kartu truf-nya tuh (meski atas nama "desakan internasional"). makenye mungkin suara muchdi juga ndak terdengar2 amir di gerindra. satu lagi orangnya prabowo: kivlan zein (mantan wakilnya di KOSTRAD) terakhir kudengar jadi komisaris di PT krakatau steel. ini barangkali upaya SBY merangkulnya; meski udah lumrah mantan2 jenderal ini biar ndak mengalamin post-power-syndrom dikasih "kegiatan" di BUMN. contohnya lagi endriartono sutarto di komisaris pertamina (emang ngerti minyak bang?); tapi jenderal yang satu ini cukup keliatan netralnya hingga kini. kisah pak tarto ini menarik karena ia cukup lama menjabat sebagai panglima TNI; diperpanjang usia pensiunnya oleh SBY guna menghindari naiknya ryamizard ("orang mega"). ah ryacudu, padahal wong kito dari palembang (kampungnya taufik kiemas, suami mega) ini hingga sekarang pun ndak terlalu terlihat banget mega-pro-nya. emang siy dia melakukan "kesalah fatal" yang menjadi catatan penting SBY karena sewaktu terakhir menjabat KASAD menganugerahi presiden megawati sebagai jenderal besar atau jenderal kehormatan TNI (kalo ndak salah ingat niy). mungkin karena waktu itu ia saking yakinnya bahwa mega akan lanjutkan! dan ia, sudah pasti kalo itu terjadi, akan diangkat sebagai panglima TNI; namun ternyata SBY jadi "kuda hitam" yang me-lanjutkan!

oiya, mengenai jabatan komisaris bagi eks-jenderal TNI ini bagaimanapun sepertinya juga taknetral. santer kabar beredar bahwa hanya purnawirawan2 yang berdiri di kubu SBY-lah yang dapat ini- dapat itu. yang diluar itu silahkan
usaha sendiri
(swasta). seperti wiranto yang jualan batik bareng istrinya; atau prabowo yang sempat lama pergi merantau dagang ke kampung temannya jenderal abdullah, pangeran jordania. emang siy tradisi kongkalingkong ini sulit dibuat "bersih" and "fair"; apalagi dalam alam epistemologi manusia2 primitif: salah dan benar adalah nomor dua--yang penting anda teman, kerabat, atau dunsanak sayaaa. menariknya lagi kivlan zein sepertinya kurang berbalas budi nih ke SBY. saya jadi tahu dia sekarang di cilegon setelah (kalo ndak salah ingek) mencak2 di media massa tentang privatisasi BUMN. ah, pasti dia masih menjalin "cinta terlarang" dengan mas prabowo.

lalu apa hubungannya dinamika militer indonesia (eks petinggi 1998) ini dengan bin?

kembali lagi ke yang sudah kuungkap tadi bahwa bicara intelijen indonesia masih takbisa terlalu lepas dari orang2 di militer. karena supremasi sipil masih menjadi perjalanan panjang di negeri ini dan program tentara kembali ke barak, menjadi militer profesional, masih menjadi upaya yang takmudah penuh liku2. terlebih di tengah situasi negara yang ekonomi rumpang (bukan miskin karena orang yang kaya raya dengan cara licik buaaanyaaak mah di indonesia), krisis akhlak substantif, dan butailmu begini. dalam masyarakat yang masih bertradisi primitif seperti sekarang (atau hanya terlihat modern pada tampilan luar, seperti pemberian istilah desa beton bagi kota jakarta: fisiknya ngota tapi wataknya ndeso) memang sistem otoriter mau tak mau masih sangat dibutuhkan. demokrasi, masyarakat madani, sistemnya hanya baru akan bisa berjalan baik jika disokong oleh politik partisipatif setiap warga yang tidak terlalu tinggi prospektus negatif "beda"-nya. sedang kita hidup di masyarakat yang masih sangat timpang kemampuan intelektualnya dan masih cukup lebar jurang keadilan ekonominya. majemuknya ragam yang bisa hingga ke tahap saling berbenturan ini akan bahaya jika tak ditangani secara otokrasi karena hasilnya adalah chaos atau kekacauan. kalo dalam bahasa ulama, "pemimpin paling diktator sekalipun adalah lebih baik daripada keadaan tanpa pemimpin." kita melihat itu di irak sekarang2 ini dan kita membutuhkan itu pula untuk mengatasi "pluralitas" di kerajaan saudi arabia. dedengkot demokrasi sendiri, amerika syarikat, terlihat menyederhanakan sistem politiknya kepada kubu demokrat dan republikan guna menghindari "perbedaan" berlarut2 yang tidak konstruktif lagi.

lalu dalam keadaan yang "begini" rakyat indonesia telah memilih "mencintai" demokrasi. akkhhhhh guwa belum juga lebih menyinggung intelijen BIN-nya. hehe ndak apa2 lah ya buat pengantar... lagian baru jam tiga pagi tuh... daripada kepikiran yang enggak2 lebih baik memikirkan kondisi bangsa dan negaraku tercinta ini... olraik beibeh, siappp, lanjutkan!

berlanjut ke BIN: INTELIJEN NEGARA KITO III yahh..