Senin, 08 Juni 2009

BIN: INTELIJEN NEGARA KITO (bagian III)

Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. (Yesus)


lanjutan dari BIN: INTELIJEN NEGARA KITO II yahh..

sikon real negara (bukan teori ideal harapan di atas kertas), makin derasnya arus modernisme, persaingan global, liberal, dan ujungnya--berkait "ketahanan" bangsa dan negara--politik identitas nasional tersebut ujug2nya berkait pula (dan bahkan utama!) dengan "permainan halus" aparat intelijen kita. mungkin tak akan (atau belum) se-saklek kepentingan nasional united states of america atau union of europe peran bagi dinas intelijen NKRI absurd identitas ini. tapi yang jelas2nya lagi darah pemuda-pemudi indonesia--setidaknya sebagian--telah terindoktrinasi dengan apa yang dinamakan pancasila bhineka tunggal ika. jadi pun bagaimana ia merasa punya identitas yang mesti ada daya imun terhadap segala virus2 nakal dari luar. secara konsep absurd lagi, entah prakteknya sejauh mana dan seteguh apa? namun sebelum itu kita bahas dulu pengertian intelijen itu apa??

intelijen--dalam konteks strategi politik sebuah negara--adalah sebuah usaha untuk mengumpulkan informasi yang sebanyak2nya, menganalisisnya, lalu digunakan untuk mengambil keputusan: langkah tindak lanjutannya. mengumpulkan informasi, barangkali disinilah tekanan utama persisnya tugas dinas intelijen. dan tentunya analisis hingga keputusan makin lebih berbobot dengan berdasarkan informasi yang lebih berkualitas (salah satu indikasinya ya secara jumlah: sebanyak2nya). lebih utamanya lagi tugas dinas intelijen adalah mendapatkan informasi yang tidak terlalu terbuka dan dengan gampang oleh orang kebanyakan didapatkan. bahkan kadang2 informasi yang bersifat rahasia inilah yang akan sangat menjadi kunci untuk proses analisis dan pembuatan keputusan yang tepat. secara lebih luas lagi nantinya dinas intelijen bisa dipakai pula untuk menggarap aspek2 lain terkait strategi politik negara--sekali lagi negara secara institusi bukan penguasa secara individu atau kelompok--tersebut; misal: menculik wiji thukul yang berpuisi "hanya ada satu kata: lawan!" atau meracunin almarhum munir yang "keliatan" menjadi kaki tangan kepentingan ideologis "asing". nah, ketika masuk ke bagian tindakan yang serba berbau operasi fisik ini makin kelihatan 'kan peran sayap militer? dan justru pula kegiatan yang berbau aktifitas2 bergerak2 inilah akibatnya yang jadi lebih ketangkap mata sebagai kegiatan utama intelijen. wajar, mata kasat akan sulit untuk melihat gerakan nan lebih halus.

tapi sejauh yang saya lihat dan perhatiken aktifitas intelijen ini belumlah terlalu kentara untuk ukuran indonesia. disebabkan berbagai aspek; diantaranya tadi: sikon negara, SDM personelnya, support aturan hukum, argumentasi ilmiah, hingga moralnya, dan bisa jadi niat juga hehe. contoh konkrit dan berjelas2nya adalah: tabloid intelijen--keluaran grup tabloid pulsa yang sekarang gonta-ganti berformat majalah--keliatan ndak laku2 pemasang iklannya dan saya lihat agak parah SDM redaktur tatabahasanya yang ini tentu disebabkan sepi interest, order pasar, pembeli, konsumen, masyarakat. tapi ini cuma contoh kecil2an, masalah utamanya lebih kompleks dari itu. paling sejak tragedi bom bali dan dinamika baru politik keagamaan yang tengah menjadi sorotan mulai "memasuki" dunia kebiasaan masyarakat indonesia terasa dunia intelijen mulai jadi perbincangan di masyarakat. dan tren masyarakat tentunya pula akan jadi warna bagi prioritas program (dan anggaran) dari para pemimpin kita. namun pun begitu, dinas intelijen tetap bekerja (bersama kediam2annya).

bicara dinas intelijen indonesia sekali ndak bisa lepas dari koneksi ke "asing" yang menjadi musuh sekaligus sahabat--inilah wacana kontradiktif ala dunia intelijen, bingung ndak hihi? sejarah intelijen modern indonesia barangkali dimulai dari "dugaan" campur tangan CIA dan komunis tiongkok-soviet dalam gejolak politik indonesia di bawah soekarno hingga ke masa peralihan kekuasaannya ke tangan soeharto lewat peristiwa G30S/PKI/bukanPKI. semasa pemerintahan pak harto pun kita bisa merasakan aktifitas intelijen dalam rangka "membungkam" rakyat sendiri tapi "diduga" malahan menerima orderan intelijen asing yang berjasa menaikkannya. dan setelah reformasi 98 ini jadi makin menarik lagi karena arah badan intelijen kita taklagi berdasarkan petunjuk "bapak" atau "pembisik bapak". memang pada masa pak harto dulu dalam peristiwa malari (kalo ndak salah taon 1975) kita pernah mendengar konflik intelijen paling panas, antara jenderal soemitro versus (ah guwe lupa namanya tapi orang inilah sepertinya cikal bakal indoktrinasi aparat dinas intelijen kita hingga kini; nanti kalo ingat dan sempat kutulis deh). tapi pada akhirnya itu semua kembali lagi ke "bapak". dan "bapak" sendiri adalah jenius intelijen indonesia tersendiri lewat manipulasi serangan fajar dan "kudeta" soekarno-nya. tapi sekarang?

kembali lagi berkait dengan wacana peta konfigurasi gap2 petinggi militer indonesia tadi. karena sekali lagi peran militer masih cukup sangat dominan hingga kini untuk aktifitas intelijen negara civil society ini. memang sejak SBY yang agak demokratis sudah memimpin terasa hal itu mulai berkurang; tapi tetap masih cukup ada dan "sangat eksis". apalagi menjelang periode suksesi kekuasaan. apalagi ada kenyataan pula bahwa eks-pati senior TNI 98 dominannya terbagi ke tiga kubu plus satu yang benar sungguh netral. kemana arah "petunjuk" dinas intelijen kita?

berlanjut ke BIN: INTELIJEN NEGARA KITO IV yahh..