Senin, 08 Juni 2009

BIN: INTELIJEN NEGARA KITO (bagian IV)

Seorang yang berjiwa besar akan memperlihatkan kebesarannya dari cara dia memperlakukan orang kecil. (Carlyle)


lanjutan dari BIN: INTELIJEN NEGARA KITO III yahh..

BIN, badan intelijen nasional, yang sekarang dipimpin syamsir siregar sudah jelas akan menerima arahan dari SBY--apalagi doi kabarnya loyalisnya dia; dan sepertinya sepenglihatan saya jenderal2 dari divisi2 selain diponegoro pada berhasil dirangkul SBY, padahal tradisinya sudah sejak lahirnya TNI daerah militer diponegoro (yang meliputin jawa tengah dan yogya) lah yang jadi "anak emas". inilah kekuatan prabowo dan wiranto untuk merebut lagi kekuasaan dari tangan SBY yang jawa timuran alias brawijaya. lalu pertanyaannya: apakah dengan kepala BIN orangnya SBY lantas institusi BIN sekarang adalah loyalis SBY. saya sangat menyangsikannya; apalagi melihat "ketidakmampuan" SBY menindas rivalitas dari mantan2 koleganya di TNI dulu itu kini.

BIN telah punya sejarah begitu lama dalam
aktifitas intelijen gerak2--dan sangat berbau militer--yang loyalis aliran soeharto banget:
konservatif untuk urusan jati diri tapi sangat terbuka jika bicara "uang" dari "luar". pak syamsir ini hanya orang yang baru sahaja memimpin lembaga ini setelah sekian lama di tangan AM hendropriyono yang telah sangat malang melintang dalam aktifitas
intelijen sejak era-soeharto. dan disanalah ada anak2 buah hendropriyono ini serta tentu saja indoktrinisasinya. dan untuk mengganti warna lembaga ini tidaklah semudah seperti dengan cara rekruitmen pegawai baru yang diumumkan di media massa. bagaimana cara ompung batak--yang mungkin seide dengan politik pembaharuan SBY--ini untuk mengendalikan aset2 lama yang loyalis soeharto dengan ide konservatif cinta "duit"-nya? sebetulnya siy SBY ndak beda2 amat dengan soeharto. tapi...

sosok soeharto akan lebih kentara (dalam beberapa segi) pada ajudannya wiranto dan menantunya prabowo. walaupun dari segi ekonomi pak harto sangat cinta "asing" sebagaimana SBY, tapi secara jejak kejiwaan tetap saja pegawai2 BIN ini lebih melihat jejak nyata pada indoktrinisasi cinta mati NKRI ini. lebih inti dan prinsipil untuk dikenang. dan apakah cinta NKRI dan cinta asing itu berlawanan? siapa yang meragukan kecintaan pada negaranya eks-kasospol mabes TNI dan menkopolhukam seperti SBY? tapi bagaimanapun upaya diferensiasi bisa dilakukan dan kenyataannya ada. ini menjadi terlihat lebih nyata seiring berkembangnya
"wacana penuduhan" pro-asing kepada SBY oleh kubu wiranto-prabowo. lalu apakah proses privatisasi BUMN, kelonggaran investasi (baca: kekuasaan kapital) asing, dan hobinya SBY menghadiri berbagai forum2 ketemuan2 pimpinan2 bangsa2 internasional menunjukkan kurangnya cinta pada pancasila? akan panjang debat kita untuk ini; mari kita nantikan aza ruhut sitompul SH bertengkar versus peramal permadi SS.

ruang klasifikasinya adalah proses identitasi (atau simpulan identifikasi, yang itu berarti terjadi upaya generalisasi) dari sekian anasir2 yang saling berelaborasi. orang hanya akan melihat aspek dominannya (atau bahkan mungkin kesannya) saja (yang bisa saja salah karena mengabaikan detil) untuk mencap SBY sebagai neolib--cuman gara2 menyunting boediono yang tentunya berhak secara teoritis sebagai seorang akademisi profesional mempunyai pilihan keyakinan mahzab tersendiri--dan wiranto-prabowo sebagai pro-rakyat--cuma gara2nya makan nasi tiwul atau melahap jajanan gendong pedagang asongan di atas panggung kampanye. disinilah wacana publikasi umum dan populer mengalami distorsi dan kooptasi! karena orang menghindari kerumitan identitas substansi wacana namun menyukai sulap atau tontonan
akrobat politik; karena terlihat riil, kasat mata, biarpun sesaat. dan yang sesaat ini yang gampang diingat; dan nikmat...

lanjutkan!

lalu di tengah perang bintang antar tiga jenderal bintang bersinar menuju pilpres 2009 ini
BIN akan bagaimana dan berseperti apa? bukan cuma syamsir, tapi aparatus2 "ghaib" di bawahnya? syudah menjadi rasia umum bahwa cara kerja intelijen agak sedikit modifikasi daripada struktur militer. meskipun ada garis komando tapi pada prinsipnya setiap "agen" diberi ruang leluasa untuk berakselerasi sendiri; setelah dengan jaminan cinta mati mereka pada negara dan terdoktrin demi tujuan kepentingan pancasila. meski lagi2 untuk ukuran indonesia tentunya belum sekomplikated banget lah. manakah di antara tiga purnawirawan ini yang (paling) mendukung kepentingan nasional? dan apakah pula yang dilakukan masing2 jaringan mereka bertiga untuk menyusupi BIN dan mendayagunakan SDM-nya untuk kepentingan mereka? apa iya mereka (masing2) person bisa netral dan apanya yang perlu dinetralkan? bullshit! ini adalah indonesia: kebenaran adalah nomor tiga setelah perkawanan dan duit. tentu sulit untuk tak dipungkiri bahwa ketiga orang paling berpengaruh itu masing2nya memanfaatkan akses jaringan mereka ke BIN; setidaknya secara gerakan desertif masing2 agen yang mau terlibat. bukankah mereka sudah terbiasa dengan gerakan halus dan hening nyaris tak bersuara.


berlanjut ke BIN: INTELIJEN NEGARA KITO V yahh..