LAYANAN GPRS OPERATOR GSM

Banyak orang membuat kesalahan yang sama dengan menganggap kegagalan sebagai musuh kesuksesan. Anda seharusnya menganggap kegagalan dapat mendatangkan hasil. Teruslah maju dan buatlah kesalahan. Berbuatlah sebanyak mungkin. Ingat disitulah anda menemukan kesuksesan. Di penghujung kegagalan (Thomas J Watson)


setelah pengalaman kesulitan untuk mengaktifkan paket data telkomsel pagi ini dan pengalaman beberapa hari terakhir mencoba2 saluran gprs 3 dan axis, gw jadi pengen nulis tentang ini. pagi ini gw mencoba mengaktifkan paket data 5 mb kartu as gw dengan mengetik sesuai instruksi--baik pada buku petunjuk perdana terbarunya, maupun dari promo yang gencar terdengar--kata2 flash on 5k ke 3636. ternyata ditunggu beberapa saat status message gw ndak delivered. lalu aku ganti bunyi pesannya dengan flash on 5000. tetap tidak delivered. lalu kuganti dengan flash info. masih tidak. sekedar ketik flash (prosedur standar mengaktifkan gprs-nya mana tahu status layanan gprs kartu as yang kupakai ini belum aktif--kalo operator lain biasanya sih otomatis aktif), juga tak ada reaksi. akhirnya aku mengakses 3636 melalui nomor *116# dan jalan! kemudian aku coba lagi dengan cara kirim sms biasa untuk mengakses fitur 3636, ndak delivered lagi!

satu hal yang menarik dari ini adalah bahwa nomor *116# kulihat tidak tercantum dalam buku panduan perdana telkomsel terbaru yang baru kemaren kubeli (apalagi perdana as yang tanpa buku panduan coz tergolong kelas lebih bawah). dalam promo2 telkomsel lewat iklan ataupun billboard nomor ini rasa2nya jarang terdengar. padahal ada belasan atau mungkin puluhan nomor akses fitur2 telkomsel lain yang tercantum di buku petunjuknya, maupun yang dipromosikan lewat iklan. dan gawatnya hanya lewat nomor yang asing ini pulalah fitur paket data flash di kartu as-ku ini bisa diaktifkan. walaupun ujung2nya tetap saja mengakses ke 3636 tapi tetap harus melalui aktivasi dari *116# ini supaya bisa aktif! what happen?

saya lupa lagi bagaimana bisa mendapatkan nomor ini. mungkin dari info tambahan telkomsel tiap kali mengakses *888#-nya. yang jelas nomor ini ndak se-populer 888, 116, *999#, *100#, dan masih banyak lagi. pertanyaannya apakah telkomsel memang mempersulit akses untuk mengaktifkan layanan datanya? ada apa dengan beban jaringan data telkomsel? menariknya lagi serasa2nya guwa neh justru akses internet dengan telkomsel inilah yang paling cepat dibanding yang lain. bahkan produk indosat yang paling lawas. jadi, entahlah dan aneh?

kemudian ada hal menarik lagi dengan akses internet operator lain. salah satu provider yang juga murah tarifnya seperti indosat tanpa perlu berbelit2 registrasi macam telkomsel adalah axis. dulu saya membeli perdananya yang diobral di jakarta dan sewaktu mengakses internet disana dari browser di hp ndak ada masalah dan lumayan cepat. tiba disini saya melihat sinyal axis emang kurang baik di rumahku tapi akses datanya aktif. masalahnya, mungkin karena kondisi sinyal, leletnya minta ampun dan 99% gagal untuk mengakses (tapi terbukti kadang2 banget bisa juga, bahkan lewat browser kompi sekalipun). dan menariknya lagi ternyata pas gw cek pulsa saya dikenakan tarif berkali2 lipat lebih mahal dibanding tarif sewaktu mengakses di jakarta. sudah gagal loading, kena charge lebih pula. ada apa ini? apa layanan akses gprs axis mengenal roaming jadi gw harus beli perdana yang nomor padang agar dapat tarif normal?

begitu pula ketika mencoba gprs 3. sinyal 3 di rumahku yang pinggir banget kota ini lumayan normal. dan dulu seingatku terbukti bisa, biasa, dan bahkan lebih cepat dari telkomsel (karena mungkin masih jarang yang make). cuma tarifnya yang jauh lebih mahal saja yang membuat aku jarang memakainya. tapi pas coba yang kemaren ini--dan ini nomor padang yang baru kubeli obral di pasar raya--ternyata gagal loading mulu juga macam axis (tapi terbukti aktif karena kadang bisa masuk). biasanya loading yang lebih gampang itu--baik untuk axis ataupun 3--adalah ketika membuka situs tanpa akses password atau cookies (dan dengan server proxy semacam menggunakan browser mobile ucweb dan opera mini). dan gw juga udah mencobanya jam2 tengah malam, tetep sami mawon. jadi ada apa ini? ada apa dengan layanan data operator seluler kita? kalo settingan gw yang salah rasa2nya ndak juga karena sebelum2nya terbukti berhasil.

jadi kesimpulan gw untuk tulisan kali ini mengenai layanan gprs operator gsm ini adalah kadang, atau mungkin seringnya, sepertinya "infrastruktur" maupun "sdm" mereka di daerah "mungkin" kurang menunjang untuk berbagai program2 promosi yang gencar mereka tawarkan dan gombalkan di berbagai media. ah jadi ingat lagi kasusku ber-kontra dengan pegawai cantiknya im2 beberapa tahun silam. hmmmmm jadi kapan nich layanan semacam paket speedy multiple speed bakal lebih merata ke se-antero berbagai bagian wilayah rakyat indonesia? aku ingin tinggal di hutan dengan tetap memunyai akses di tangan kepada kabar kecamuk dunia,,,

"nb ++_an update *_^ dari kemaren sore ampe niy subuh koneksi telkomsel gagal mulu uy tapi kadang masuk, sebentar keluar lagi, lalu nyoba masuk lagi duh konak ke telkomsel macam senggama aza ah sayang padahal udah terlanjur beli paket datanya yang justru ada time limit getho kumaha iye teh aya2 wae naon dengan jaringan internet darurat (selular selalu)-ku?? whats up blondee?"

MERANTAU 2.1 part 5

Life can be understood only by looking behind, but can be lived only by looking ahead (Soren Kierkegaard)


paginya badan agak mendingan meski masih agak pusing maklum demam ruar biasa semalam dan tentu saja dalam keadaan batuk2. obat konidin kuhentikan dulu sementara minum oskadon yang sekalian buat sakit kepala. nyoba nyari tiket pesawat pagi itu di margonda nggak dapat, pada belum buka. kemudian aku naik kopaja ke pasar minggu. semula kuperkirakan kalo nggak jadi naik bis ke bandara yang aku naik busway aja ke rawamangun eh ternyata shelter transjakarta ndak ada disana, kudu ke ragunan dulu katanya. cukup lama juga aku putar2 nyari travel disana, dari beberapa yang buka harga yang dikasih gila semua di atas sejuta. ada saran juga langsung ke bandara mana tau masih bisa dapat tiket promo. mana tau kan mbak ya akhirnya aku makan dulu di sebuah warung padang. cuma abiss dikit karena selera lidah minta ampun pahitnya lagi makan obat udah beberapa hari ini dan sejak pagi itu hingga dua hari kemudian nyampe di padang aku ndak pernah lagi makan nasi.

sama ibu penjual nasi ditunjuki untuk naik angkot ke kampung melayu. dari sana kemudian aku naik metromini arah pulo gadung dan turun di rawamangun udah agak siangan. disini juga ada bis ke bandara jadi aku coba nanya sekali lagi ke sebuah travel dan tetap saja harga tiket untuk pulang hari itu ataupun besok selangit jumlahnya. lalu gw masuk ke terminal, ternyata npm ekonomi sudah nggak ada lagi yang ke padang hari itu dan setahuku ini yang termurah. tadinya mau naik yang npm ac dari bandung kalo datang tapi kemudian dicegat calo family raya dan ditawari kursi bis ac-toilet-tv dengan harga 200. meski nggak kuat dingin kuambil juga, lumayan itu sptnya harga nego naik di jalan yang untuk jakarta tentu saja aku kurang tau kudu nyegat dimana. lalu berbatuk2 ria dan kelaparan lah selama dua hari sepanjang padang-jakarta. tapi maklum udah biasa hidup sengsara toh aku bisa koq melewatinya (tepatnya masih menjalani kali ya karena batuknya enggak sembuh2 juga toh hingga hari ini menjelang akhir bulan agustus yang bikin kurus).

hidup di rumah sendiri berarti berdiam di kamar bagai terpenjara lagi, bahkan penjara hati. kalo niat membara gw sih tetep pengen nya beres ortu pergi haji guwa go show lagi ke jawa kowek sana. tapi entahlah apa kesihatan fisik dan mungkin jiwa ini mengijinkan nya haha. mungkin juga mulai mencoba bergerak disini juga kalo keadaan memungkinkan meski mungkin tak mungkin. mungkin juga mencuba jadi pns hasyeum kalo ada kesempatan dan mungkin mulai doyan bertopeng kemunaan mungkin. mungkin menulis kalo ada ke-ghirah-an. yang jelas kegilaan ini mesti tetap dipelihara dan guwe bukanlah ORANG KEBANYAKAN macam kalian meski kupikir2 mulai juga MATA DUITAN hihi. biarlah untuk sementara waktu bersabar lagi sabar deui beterehe guwe, mampuzz wae lha Be. namun seperti ujar almarhum ws rendra untuk sri datuk anwar ibrahim kolega serumpun nya: '... terali besi tak akan membuat seekor rajawali menjadi burung nuri!

MERANTAU 2.1 part 4

... “tertib” adalah pergulatan, bukan akhir ... karena kita manusia dengan segala isinya hanya mampu menciptakan kemungkinan, tanpa memberi titik. (Ibra dan Neno - Komentator Tulisan Caping GM)


beberapa waktu sebelum pulang aku menyempatkan juga nyari2 kos yang lebih murah ke bojonggede dan citayam. selain di kos yg depok ini terasa mulai ndak enak. maklum pengangguran, atau orang nggak jelas, sakit2an pula, tinggal sama betawi matre pula. haha ramahnya tuh pak haji cuman sebelum uang kontrakan dibayar lunas. gw yang sebelumnya shalat ke mushallanya pak haji dibawah jadi eneg dan kalo mau jamaah ngusahain ke mesjid yang walau agak jauh (oya, cobalah kau cari mesjid di sepanjang jalan margonda raya tersebut, pasti kesulitan maklum disini orang 'kafir' semua hihi kalo pun islam ya islam aliran matre dan buruk sangka). luar biasa memang perasaan kita menjadi orang yang tertindas xixixi. di bojonggede aku sempat dapat yang kamar kos tapi masih ndak bisa dibawah 100 (haha mungkin nggak ya), kosong melompong, wajah bapak kos nya juga bukan tipe yang 'baik', dan satu kos sama polsus krl. lha gimana toh, mana tahu gw musti jadi copet di kereta, masak penjahatnya satu kontrakan sama polisinya. yang lain rata2 rumah petak untuk yang sudah bekeluarga. belakangan nyampe sini baru guwe kepikir untuk nyari di cilebut aja yang sebelum bogor, lebih memungkinkan kayaknya dapat kontrakan singel murah dan akses makanan irit disana. dasar otak niy kerap tidak berfungsi saat diperlukan. tapi kenyataannya toh penyakit ini memaksa untuk mesti pulang atau keluar biaya besar berobat di negeri antah berantah sana.

oya nb beberapa hari sebelum pulang ini aku juga kebetulan ketemu lukman yang baru buka warnet di gang jalur lewatku dari kos ke stasiun. dia sudah beristri dan mengira aku melanjutkan studi es teler di ui, padahal aku anak jalanan meski tetap hidup sendiri. kalo ndak salah lukman ini ngajinya di ht meski kami satu fakultas, pantas sekarang kuingat2 dia tidak terlalu ingat sibos cahya karena di dkm fakultas beliau kan nggak ngabsen. kalo gw kan orangnya lintas aliran sehingga sekarang tersesat hehe. sayang gw lupa nyinggung mas barkah, padahal tuh anak sempat datang ke musyawarah ulama nasional segala ceritanya di senayan, datang secara berombongan dari purwokerto. disuruh mampir ke kos gw di depok ndak sempat. kalo ndak kita kan bisa ngenet gratis tuh di warnet mr.lukman hehe. tapi penyakit ya penyakit aku harus pulang biar tak dituduh malin kundang, membiarkan diri mampus di jalan sementara ortu masih ada di padang. kota kelahiran dan tempat besar yang kini justru terasa sangat asing se-asing2-nya.

dua hari sebelum pulang gw juga menyempatkan jalan2 seharian ke kota bogor. waktu itu badan terasa agak fit meski masih batuk2 terus2an. jalan ke mangga dua aku juga ndak yakin ada barang yang bakal kubeli untuk dibawa pulang dan dijual di rumah. akhirnya aku pun mengarah ke stasiun bogor meski untuk pertama kalinya. dulu2 seingatku paling lewat pake bis disana. keluar dari stasiun gw jalan asal jalan keluar eh ternyata gw ngelilingi istana bapak presiden. cukup jauh jalan hingga pintu timur kebun raya. kemudian gw nongkrong dulu disana (sehabis kencing dan solat di mall hantu) tempat bis2 dari terminal lewat sambil nunggu maghrib karena pengen balik lagi melewatkan suasana malam lewat depan istana bogor. belakangan aku baru tahu setelah liat peta di komputer rumah ini bahwa sebetulnya juga tidak terlalu jauh kalo aku jalan berkeliling nggak balik lagi ke arah semula. kemudian grasa-grusu lagi luntang-lantung beberapa waktu setelah memperkirakan jam terakhir kereta buat balik. tapi ya tanpa peta tercetak di tangan tak banyak yang bisa kulakukan. nah balik dari bogor ini aku tiba2 demam luar biasa lagi malamnya atau besoknya. itulah titik nadir kembali bahwa aku memutuskan mau tak mau harus pulang besok, kalo perlu pake pesawat maklum darurat daripada dirawat inap di icu meski dengan suster2 secantik dirimu.

MERANTAU 2.1 part 3

Ratu Adil bukanlah takhayul. Ia sebuah ideal yang tak hadir. (Goenawan Mohamad)


selain jalan2 mutar2 dengan krl atau busway sebagai sarana transportasi yang lebih bisa gw baca petanya (di-flashdisk gw nyiapin peta virtual jakarta yang jarang dibuka kecuali ketemu kompi dan peta tercetak jakarta yang lama gw juga nggak sempat diambil ke bandung) gw juga sudah memasukkan beberapa lamaran kerja yang bisa lewat email. tapi sepertinya tak ada satupun yang jebol coz file2 arsip lamaran gw emang acak dan asal dan engga sempat terlalu diedit karena kudu ngerental kompi dan pula gw sering2 buka2 chip nomer hp ini. buat mencari perkerjaan melamar langsung sudah ada beberapa yang gw tandai tapi ya itulah dalam keadaaan sakit2an gw nggak bisa berbuat banyak. masih bisa selera untuk makan aja (dan lihat cewek cakep) udah syukur waktu itu.

selain itu beberapa kali pula gw menyempatkan main ke tempat miza di parung dan pondok cabe. sewaktu istri miza si wiwid berasa hendak melahirkan dan ia siaga di klinik, gw juga dinas malam minggu itu menemani joko jual miras hehe (miza khawatir ada apa2nya sama anak pendiam ini) meski sambil batuk2. seusai kedai tutup gw nemani miza di klinik ampe pagi yang ternyata hari itu wiwid nggak jadi melahirkan. dalam salah sebuah perjalanan menginap di pondok cabe tempat bude nya istri miza ini gw pernah sewaktu pulang sampai dua kali pengen mencret di jalan. pertama masuk sembarang ke sebuah klinik (tapi tentu setelah minta izin dan jarang2nya bisa ketemu petugas yang ramah). tiba2 aja sewaktu udah pw di bangku belakang sebuah kopaja bulus-depok (sebelum masuk tol) perut mules. gw asal turun di sebuah parapatan ke fatmawati tanpa bayar ongkos sehingga keneknya yg kebetulan lagi di pintu depan cuma bisa bengong ngeliat seorag copet ini ngeloyor getho aja pergi. setelah duduk2 beberapa lama dan minum obat (awal2 sakit ini gw menghindari obat tablet dan paling hanya minum antangin cair yg sachet untuk flu atau komix untuk batuk) gw lalu bersiap untuk pulang (tadinya jadi ada niat mau jalan2 dulu entah kemana kek tapi rasanya badan ndak kuat waktu itu). eh tiba2 pengen mencret lagi untuk kedua kalinya dan gw pun numpang di sebuah travel ke bandung yang tak jauh dari klinik tempat boker yang pertama (malu aja kalo balik lagi ke klinik tersebut). terakhir main ke parung selain ketemu surya gw juga ketemu lagi musuh masa ketek budi kriting yang dulu jadi pemicu tawuran di bypass. terakhir main kesana wiwid udah melahirkan sekalian gw pamitan ke sohib yang berencana usaha halal beternak kambing saja di kampung mertuanya di yogya ini. kondisi kesehatan gw udah betul2 tidak memungkinkan diajak kompromi sementara biaya hidup jalan terus tanpa pemasukan (dan guwa nggak suka punya hutang-budi dan banyak urusan dengan manusia di padang hisab akhirat nanti). aku harus pulang dulu. kedua adikku sekarang juga di jawa dan lebaran besok ortu mau pergi haji pula. sekarang waktu yang tepat untuk pulang.

terakhir balik dari pondok cabe gw nyoba jalan sepanjang cirendeu raya yang ternyata jauh juga (tentu gw jalan2 begini setelah mempelajari peta jakarta sebelumnya meski gw jalan ke tempat2 yang untuk pertama kalinya gw kesana). karena begadang semalam sebelumnya di tengah jalan kaki itu gw tiba2 merasa ngantuk sehingga duduk2 dulu di emperan toko tapi nggak nemu tempat yang bagus untuk tidur. lalu gw pun jalan lagi. menyempatkan juga minum obat di jalan dan kencing macam anjing di sembarang tempat. nyampe lebak bulus gw naik busway lagi bukan kopaja langsung depok yang ternyata emang agak jarang. tujuan ke stasiun kota untuk nanti naik krl ke pondok cina. tapi waktu transit di harmoni karena ramenya yang di pintu ke kota gw naik arah ke senen dan ehhhh harus balik lagi kemudian ternyata ke harmoni. gw berputar2 linglung kayak gini dalam keadaaan fisik yang drop, badan panas-dingin, dan batuk2 tiap sebentar. di shelter ini ternyata masih rame aja dan dengan memperkirakan ke kota bisa ditempuh dengan jalan kaki gw keluar halte harmoni buat nyari tempat kencing.

awalnya gw kira gw masuk ke mall carrefour eh ternyata gw nemu tempat kencingnya di sebuah ruang yang sepertinya difungsikan untuk gereja duta merlin dan orang sepertinya lagi misa atau apa. pantas aja beberapa sekuriti sana panjang liat sama aku but thanks. ah lumayan gw kudu naik turun beberapa lantai buat kencing doang. selesai hajat gw memutuskan untuk jalan kaki ke stasiun juanda mana tau lebih dekat dibanding kota dan ternyata jauh juga. nyampe disana baru makan dan jadi pengen boker, gw lalu ke istiqlal dulu. nah di mesjid ini gue akhirnya baru bisa menemukan tempat untuk tidur sebentar. waktu gw kesana lagi rame entah acara dzikir arifin ilham atau aa gym yang jelas gw betul2 butuh istirahat saat itu. selesai tidur baru gw ke stasiun. untuk sakit2an malamnya di kos.

MERANTAU 2.1 part 2

Never walk on the travelled path, because it only leads you where the others have been (Graham Bell)


tiga-empat hari atau semingguan numpang disana mulai ada terlihat masalah, aku pun akhirnya ngambil kontrakan ke depok. meski bisa mengerti kamil dalam posisi sulit terhadap teman2nya tapi buat gw kali ini udah kelewatan dan dia toh sudah memilih untuk berperkara denganku. lagian gw emang udah rencana dan nyiapin budget buat ngontrak sendiri tapi tetep aja cara pergi kemaren nggak enak. padahal gw sebetulnya juga males numpang, merasa utang budi sama orang lain, dan hadir disana sekedar unjuk muka khawatir dianggap ndak nganggap dia sbg teman. waktu nyari2 kontrakan ke depok gw juga sudah amat terburu2 sangat dan bagai orang linglung walahhh maklum udah lama engga merambah ibunya kota tiba2 harus segera mendapatkan kontrakan hari itu juga biar ndak jadi gembel. alternatif tinggal di rumah sodara2 ato teman2 lain yang kukenal berhasil dianulir (karena menurut analisisku bukan opsi yang bagus). dengan modus jalan2 keliling2 akhirnya aku dapat satu. setelah punya tempat tinggal sendiri aku mulai episode mencoba2 jalan, membaca2 situasi, karena dekat stasiun kereta sejak tinggal disini aku paling sering nyoba krl yang tiketnya cuma seceng gopek itu. mana tau pula nanti gw kudu nyari nafkah disini. meski beberapa kali lewat stasiun kota tapi seingatku cuman sekali aku sempatkan untuk jalan (kaki) ke mangga dua (dengan nebak2 pula berdasarkan peta yang sempat kulihat) buat liat2 doang lagi (termasuk ngiler juga liat peralatan bisnis sablon kaos digital dipajang bagai barang obralan disana). tapi tetap mikir 100x buat bawa barang ini untuk berbisnis di rumah. uang dan keuntungan yang bakal diraih bukanlah segala2nya halahhhh haha.

beberapa hari tinggal di kos baru seingatku aku mulai diserang penyakit. yang nggak sembuh2 hingga aku pulang sekarang ini. nah di sela2 acara sakit2an ini jika kondisi badan agak mendingan dan gw betul2 bosan tiduran di kamar kusempatkan juga jalan (mungkin ini sebabnya jadi nggak pernah sembuh hehe). pernah sekali gw dalam keadaan selesma berat (bersin2) putar2 semalaman di pinggir jalan margonda, tidur2an di halte atau emper toko coz bapak kos 'nggak mau' bukain pintu hingga subuh. pernah juga karena bosan di kamar meski sedang sakit aku ngerental warnet yang murah semalaman dan ternyata malah diskonek mulu sehingga jadinya numpang tidur doang nyampe subuh. yang jelas aku tidak mengobati penyakit ini selama beberapa waktu (berharap sembuh sendiri) dan baru beberapa waktu menjelang memutuskan pulang gw pake obat2an luar yg dijual murahan. waktu jalan di ciputat aku juga nggak lihat klinik berobat gratis dompet dhuafa republika yang dimaksud sibos cahya. puskesmas yang kutau waktu itu cuma yang di parung karena liat pas lewat ke tempat miza. dan akhirnya nyampe di rumah ini baru aku berobat ke dokter di puskesmas, setelah sebulan lamanya. sialnya pas aku kesana itu rupanya memang jakarta lagi musim penyakit sampe2 sby pun kabarnya terserang flu.

dalam keadaan atit2an gw nyempati juga ke bekasi ketemu sibos. kebetulan disana lagi ada bursa kerja. tapi karena bayar gw nggak jadi masuk. lagian gw juga belum persiapan dengan baik dan cuma pake celana dan baju jeans kesana, emang mau ngelamar jadi satpam. kesana nya juga dengan maksud mau minjam pakaian formal sibos karena gw merasa sayang beli nanti nggak kepake (mana tau jadi pkl kereta cq preman). dan sejak kepergian hari itu gw belum sempat lagi balik kesana ketemu sibos. waktu itu kami betul2 jalan kaki keliling pusat kota bekasi yang penuh debu sehingga fisik saya makin drop dan batuk dibikin makin manjadi2. pas gw hendak balik ke jakarta dapat kereta ekonomi jam terakhir. sempat ceroboh juga waktu itu, karena kereta kosong aku meletakkan tas (yang memang tidak ada barang berharga apa2 haha) secara sembarangan en baru sadar pas ada peristiwa penjambretan yang gagal terhadap seorang anak gadis di gerbong gw. weleh2 abis itu sorot mata penumpang justru tertuju pada guwe, dikira anggota komplotannya kali.

MERANTAU 2.1 part 1

Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit. Karna jika langit tidak terjangkau, paling tidak kita masih bisa menyentuh awan. (Herison)


hari itu sabtu awal juli 2009, hujan deras yang tiba2 mulai mengguyur koto padang tak sanggup menghentikan azann di dadaku untuk 'khabur' ke jakarta seketika hari itu juga. secara tiba2 dan mendadak dangdut. tiba2 tidak juga ya juga. sebelumnya sudah niat sangat dan suatu kali kesempatan untuk pergi lagi2 pernah dihalangi penyakit tiba2 tepat dua hari sebelum mestinya dan rencananya berangkat. waktu itu ada jatah tiket air asia rio yang engga jadi dipake karena ternyata nggak bisa pulang sehingga gw bisa pergi tanpa perlu terlalu 'terlihat' minta duit buat ongkos. akhirnya tiket itu dipake aan pulang dari kediri. dan salah satu alasanku pergi buru2 kali ini mungkin juga adalah demi mendahului adikku ini yang hendak balik ke bandung coz gw pengen nya dia aja yg lebih baik jaga ortu di rumah. tapi pagi itu meski kemungkinan sakit2an lagi terbuka lebar karena aku berjalan menembus guyuran hujan aku putuskan tetap berangkat. kalo emang demam di tengah jalan ya balik lagi lah, gitu aja koq repot.

pertama aku ke plaza andalas nyoba nyari tiket pesawat dulu, jaringan internetnya ternyata lagi putus. lalu ke loket air asia di seberangnya, harga minta ampun. sempat ada niat langsung ke bandara, tapi urung kulakukan. sementara aku ada pesan tiket lewat sms yang nggak jadi walau sempat aku ditelpon sewaktu di angkot mau ke pool npm. kemudian aku singgah dulu di travel di pangeran beach. dapat harga 450 untuk hari itu tapi tetap saja lewat dari batas maksimal yang kutetapkan 400, aku pun memutuskan naik bis npm ekonomi class. beda 100-200 itu lumayan utk bertahan hidup beberapa hari di rantau toh. syukur2 ternyata di jalan gw engga sakit2an dan lumayan bisa menikmati nostalgia perjalanan (kecuali tentu bagian pengen kencing tiap sebentarnya) coz udah lama juga nggak lewat jalur darat. bukan karena keseringan naik pesawat ataupun kapal lautan tapi karena emang udah lama ndak ke p.jawa lagi. lumayan, jalan darat mulus dan banyak yang berubah setelah lama diam di rumah.

dua hari kemudian nyampe tengah2 malam di rawamangun. meski udah berusaha mengakrabkan diri dengan tulus dengan penumpang2 lain tapi tetep aja nggak ada yang ngajak nginap coz terasa banget orang makin memperhatikan--dan siaga akan--kepentingan individualisnya hehe akhirnya aku manyun nunggu subuh di terminal tersebut. ada juga kemudian sih seseorang yg ngaku nya nyopir angkot di pulo gadung yg nemeni manyun tapi tetep aja nggak ngajak2. sempat juga kenalan sama seorang penumpang bis lain yg seumuran yang menawarkan padaku utk cari kerja sebagai desainer grafis di daerah dekat senen yang katanya banyak tuh. tempat tinggalnya ortu dia disana tapi saat itu ia mau ke serang baru dapat job dari kakaknya. kami kebetulan saling ngobrol waktu aku tidur2an di mushalla di sebuah rumah makan di baturaja dan nyaris ketinggalan bis waktu itu. tapi hingga sebulan di depok gw belum sempat pula nyari2 tempat yang dimaksud (termasuk gara2 sakit2an tentu). beres shalat di mesjid yang nemu samping terminal gw ngenet dulu nunggu lebih agak siang kemudian aku jalan ke arah melintasnya jalan tol (kuperkira2kan aza) dan lihat shelter busway. setelah bermenung2 lama nyari keputusan dan nanya2 dikit, dengan transjakarta kemudian gw naik sampai dekat2 parapatan jalan ke pondok gede (shelter sebelum kampung rambutan). lalu dgn sekali naik angkot nyampe di tempat kelompoknya kamil. untung gw masih ingat kiosnya yang berada persis di samping pintu masuk monumen lobang buaya. disana ternyata juga ada wendi.

TENTANG CINTA 14 (SELESAI)

~ Cinta & Kebencian ~


Tenaga apakah yang menggerakkan kehidupan? Cinta dan kebencian. Kedua-dua itulah yang mewarnai sejarah hidup manusia menjadi putih atau hitam. Kerana cinta, Adam dan Hawa bersatu. Kerana cinta, Taj Mahal di India terbina. Dan banyak lagi bukti di dalam dunia nyata ini betapa agungnya cinta itu.

Berawal dari cinta, cerita kehidupan diputar. Tapi sayang, sejak awal mula kisah sejarah manusia ini, cinta telah dikotori oleh kebencian. Kebencianlah yang menyebabkan Qabil membunuh Habil, sebuah tragedi paling tragis untuk pertama kalinya dalam sejarah kemanusiaan. Pembunuhan manusia oleh manusia. Ya, cinta dan kebencian pulalah yang saat ini kita saksikan
meramaikan drama kehidupan. Dunia ini dipenuhi dengan kisah cinta yang begitu mempesona, juga kisah kebencian yang sangat memilukan.

Cinta membuat dunia menjadi kelihatan 'hidup', damai, sejuk, indah, penuh pesona. Sebaliknya kebencian menjadikan dunia ini nampak membujur kaku seperti mayat, seperti perkuburan. Aromanya menyengat tak ubahnya bangkai. Bunga-bunga menjadi layu. Setiap mata menatap penuh kekosongan, kesedihan dan kepiluan.

Cinta menawarkan titis-titis air yang sungguh menyejukkan. Setiap titisannya menghidupkan jiwa yang gersang. Tiap titisannya adalah syurga. Kebencian menyebarkan aroma darah, menitiskan air mata. Tiap titisnya membuat jiwa menjadi gersang. Tiap titisnya adalah api, membakar kehidupan. Panas yang luar biasa. Cinta menggerakkan kebaikan. Kebencian memunculkan kejahatan. Sejarah kebaikan adalah sejarah cinta. Sejarah kejahatan adalah sejarah kebencian. Maka tebarkanlah cinta di segenap penjuru dunia. Berjalanlah dengan cinta. Siramlah setiap relung jiwa yang hampa dengan cinta, niscaya ia menjadi hidup dan penuh pesona.

Pada tahun 1932 Albert Einstein menulis surat kepada Sigmund Freud untuk bertanyakan pendapatnya. Antara kandungan suratnya berbunyi, Apa yang dapat dilakukan manusia agar terhindar dari kutukan peperangan?

Pertanyaan itu muncul barangkali kerana dunia pada masa itu mash dihantui oleh Perang Dunia Pertama yang mengejutkan manusia diseluruh eropah, justeru akibat kerosakan dan penderitaan yang harus ditanggung oleh mereka. Sebagai seorang yang mempunyai keahlian ilmu jiwa, Freud menjelaskan dalam surat yang ditulis sebagai esei yang terkenal iaitu Why War (Mengapa Perang).

Dia menghuraikan tentang adanya dua insting atau lebih mudah disebut sebagai sifat utama manusia iaitu insting Cinta dan insting Benci.

Insting cinta itu baik. Kerana manusia yang memiliki insting ini akan mempunyai sikap positif dengan membawa kepada sikap peduli dan saling memberikan kasih sayang. Ini mengandaikan adanya kepedulian terhadap hidup orang lain, keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain.

Namun begitu insting ini juga membawa sekaligus insting kebencian kalau sikap cinta dan kasihnya terhadap orang lain disertai dengan niat memiliki kepada yang dicintainya itu. Dengan itikad ingin memiliki itu, maka terjadilah penguasaan, diktator dan penjajahan dari si pencinta kepada yang dicintai.

Dan kalau perasaan merasa tidak bebas dari yang dicintai ini memberontak, maka terjadilah konflik. Dan konflik ini selalunya diakhiri dengan pemberontakan dan saling mengadu kekuatan. Siapa yang kalah akan menjadi hamba dan siapa yang memang akan menjadi majikan atau dengan kata lain menjadi penguasa.

Maka dari itu bermulalah penderitaan manusia. Pada dasarnya hal-hal yang mirip dengan kedaan sedemikian dapat dilihat dalam praktikal kehidupan sehari-hari kita. Contohnya kedua ibubapa sering mengatakan dirinya sangat mencintai anak-anaknya, seringkali berubah menjadi diktator kepada anak-anaknya. Mereka mahu membentuk anak-anak itu mengikut kemahuanya sendiri.

Anaknya mesti menjadi seorang doktor agar hidupnya kelak tidak sia-sia dan mempunyai masa depan yang baik meskipun si anak merayu mahu memilih jurusan dalam bidang kesastrawan atau mungkin bidang-bidang lain yang sangat jauh bezanya dari bidang kedoktoran. Inilah salah satu konflik yang banyak terjadi dalam masyarakat kita. Bila hal-hal ini terjadi, kebanyakkan dari orang tua akan mengunakan kuasa veto mereka kepada si anak tadi supaya harus mengkuti kemahuanya. Dalam hal ini, kebahagiaan siapakah yang ingin diwujudkan? Kebahagiaan ibu bapa atau kebahagiaan anak?

Dalam akhbar harian atau tabloit mingguan seriang kita membaca tentang berita ada seorang lelaki yang telah beristri mencintai seorang gadis yang masih dara. Lalu cinta si lelaki tadi berbalas. Akan tetapi apabila istri kepada si lelaki tadi mengetahui bahawa suaminya mencintai wanita lain yang masih muda jelita apa lagi ianya masih dara, berkobarlah rasa bencinya dan dengan begitu tega membunuh si wanita jelita yang dicintai suaminya itu.

Insting cintanya telah berubah menjadi insting merosakan dan membenci, kerana lelaki yang telah mempunyai istri tadi ingin memiliki si gadis bagi kesenanganya sendiri. Boleh jadi juga si istri yang sebelum itu sangat mencintai suaminya akan turut sama membunuh suaminya kerana cintanya telah bertukar menjadi benci dengan mendadak.

Ada juga sebuah sekolah yang sangat ingin menjadi sekolah terbaik dalam negeri itu bahkan sangat ambisi untuk menjadi salah satu dari 10 buah sekolah yang terbaik dalam negara dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi yang secara luarannya sangat terpuji. Maka demi ambisinya itu pemimpin sekolah tersebut sama ada Pengetua atau Guru Besar termasuk guru-guru pengajar menjadi diktator atas murid-muridnya. Dijalankan disiplin yang keras dan berunsur paksaan untuk belajar di luar kewajaran. Hari-hari murid, di sekolah atau di rumah, harus diisi dengan belajar dan belajar. Murid-murid dijadikan korban atas ambisi dan cita-cita sekolah.

Dari episod-episod diatas dengan mudah kita membuat kesimpulan betapa insting cinta boleh berubah menjadi insting benci jika disertai niat menguasai.

Ajaran-ajaran moral terbesar dalam sejarah umat manusia selalu menekankan adanya kasih sayang, cinta antara sesama manusia. Cintailah orang lain seperti saudaramu, meskipun ia berlainan budaya, berlainan kelas sosial, berlainan bangsa, berlainan negara, berlainan agama, usia, keturunan hingga berlainan taraf kehidupan.

Cinta menyatukan, mendamaikan, membahagiakan dan menyenangkan. Kebencian pula melahirkan konflik, kekerasan, perosakan, kebinasaan dan kehancuran umat manusia.

Seperti yang dikatakan Freud, naluri cinta itu berubah menjadi benci kalau disertai dengan nafsu ingin memiliki, iaitu dijadikan objek yang dicintai itu sebahagian dari kebahagiaan dirinya sendiri. Pemikiran ini dikembangkan oleh Erich Fromm dalam bukunya yang terkenal To Have and To Be (Memiliki Dan Menjadi).

Cara hidup ingin memiliki sebenarnya adalah naluri cinta yang berakhir dengan penderitaan, kerosakan, kebinasaan sehingga kematian dari yang dicintai. Cara hidup menjadi inilah hakikat cinta manusia yang sesungguhnya.

Kita mencintai seseorang bukan demi kepentingan semata-mata, tetapi demi yang kita cintai agar tumbuh dan berkembang mencapai kebahagiaanya sendiri. Dengan menolong orang lain, kita menjadi seorang penolong. Dengan memberi kepada orang lain, kita akan tumbuh menjadi seorang pemberi. Dengan melakukan kebaikan terhadap orang lain, diri kita akan tumbuh menjadi orang baik.

Nafsu ingin memiliki ini pula berpusat pada kepentingan diri sendiri. Dengan memiliki kita akan menguasai dan bebas mempergunakan kepemilikan kita untuk kebahagian kita sendiri.

Dalam cara mencintai dan cara hidup ini, maka harus ada yang manjadi korban kepemilikan. Anak menjadi korban kepemilikan ibubapa, si gadis menjadi korban nafsu seksualiti lelaki beristri, murid-murid menjadi korban atas pemburuan ranking nasional. Dari hal demikian, siapakah yang sebenarnya bahagia? Kita mencintai anak-anak kita justeru kerana sedar bahawa mereka adalah manusia dengan karakter dan bercita-cita lain dan tidak sama dengan kita sebagai ibubapanya. Kewajiban cinta kita pada mereka adalah membantu mewujudkan apa yang di inginkan dan apa yang boleh membantu mereka bahagia oleh kita kepada mereka yang kita cintai.

Mencintai , menolong, membantu, berbuat baik kepada orang lain boleh berubah menjadi tindakan diktator dan berakhir dengan jatuhnya korban percintaan, kalau kondisi dan keperluan yang kita cintai tidak di perhitungkan. Mencintai orang lain, berbuat baik untuk orang lain, ternyata tidak semudah yang kita duga. Mencintai dan berbuat baik itu bukan sekedar niat dan tindakan, tetapi juga dengan pengenalan, pengetahuan, pengorbanan, strategi terhadap yang kita cintai dan yang paling utama adalah keikhlasan mencintai tampa ada mempunyai rasa ingin memiliki terhadap sesuatu yang kita cintai itu. Kalau tidak demikian, maka cinta boleh menjadi malapetaka bagi yang kita cintai itu.

Kalau anda jatuh cinta, anda ingin tahu secara terperinci hidup orang yang anda cintai. Misalnya ketika pertama kali bertemu dalam kereta api atau dalam bas dalam sebuah perjalanan yang panjang. Bagaimana riwayat hidupnya, keluarganya, bintang horoskopnya, kesihatannya, cita-citanya dan lain-lain dalam erti kata hal-hal yang terpenting dalam hidupnya. Dan anda mempergunakan taktik melalui informasi itu untuk menyusun strategi bagaimana lebih jauh menaklukan hatinya.

Kalau kita mencintai orang miskin, orang menderita stres (dalam tekanan), orang kena musibah, orang yang sedang bingung, maka kita harus berbuat yang sama sepertinya dan turut merasakan betapa anda simpati dan ingin membahagiakannya.

Surat Einstein kepada Freud menyangkut hal-hal berkenaan dengan perang dan penderitaan serta membuat beberapa andaian kemungkinan lenyapnya spisis bernama manusia akibat perang di muka bumi ini. Konflik kepentingan, kepemilikan, pemusnahan adalah naluri kebencian manusia. Seperti cinta, manusia juga harus mengenali, memahami dan merasakan akibat kebencian terhadap orang lain.

Dannion Brinkley yang menceritakan pengalaman mati sehingga dua kali dalam bukunya yang bertajuk Saved By The Light, mengisahkan bagaimana dirinya merasa rendah dan hina oleh kejahatan-kejahatanya memukuli orang lain semasa hidupnya. Ia bukan sahaja ingat secara terperinci akan perbuatanya, tetapi juga suasana dan perasaan si korban semasa dia menganiayanya. Dengan mengenali dan merasakan akibat kejahatanya, jiwa Brinkley menilai perbuatan ya sendiri yang tidak baik itu. Mengenali dengan baik penderitaan, kebahagiaan, keinginan, kekuatan dan kelemahan yang kita cintai atau kita benci, kiranya dapat mengajar dan memberikan keinsafan kepada kita agar kita mencintai orang lain dengan lebih baik dan benar.

Mencintai sesama manusia itu tidak semudah yang difikirkan. Lebih mudah untuk ditulis dan dihuraikan serta dianalisis dari dijalankan atau di praktikalkan. Sebab cinta itu perbuatan nyata tetapi juga tidak nyata. Kerana ia melibatkan perasaan yang disertai dengan niat yang baik. Dan niat itu juga haruslah dibekali dengan keikhlasan dari keinginan untuk memiliki dan menguasai. Dan perasaan serta perbuatan itu hanya ada dalam diri si pencinta dan yang dicinta. Maka pengetahuan dan pengenalan ketiga unsur cintai itu harus di fahami sebelum terlibat dengan apa yang dinamakan CINTA.

the end

ditulis oleh Syaiful Bakri (Sy41ful@GMail.Com)

TENTANG CINTA 13

Selama ini, cinta dianggap sebagai sesuatu yang dapat dimiliki, dimana dari itu muncul naluri untuk mengatur dan menguasai. Cinta dalam masyarakat sekarang adalah cinta yang didasarkan pada modus memiliki (to have) dan bukan didasarkan pada modus menjadi (to be).


~ Cinta, Kuasa Dan Kekuasaan ~


BANYAK orang berkata dan meyakini bahwa dirinya mencintai orang lain. Pecinta mengatakan bahwa dirinya mencintai kekasihnya. Suami mengatakan bahwa ia mencintai istrinya. Guru-guru mengatakan bahwa mereka mencintai murid-muridnya. Para ibu bapa mengatakan bahwa mereka mencintai anak-anaknya. Dan negara juga mengatakan bahwa ia sangat mencintai rakyatnya.

Sampai sekarang, kita tidak tahu apa erti sesungguhnya dari kata cinta dan mencintai. Para ahli falsafah menafsirkan dan menjelaskannya dengan berbelit-belit, yang justru membuat kita kebingungan. Maka tidak hairan jika kemudian setiap orang memilih untuk menafsirkan sendiri kata tersebut. Dengan cara itu, setiap orang punya penafsiran sendiri tentang cinta, tanpa harus terkongkong oleh logosentrisme definisi cinta yang dibuat oleh mereka kaum intelektual.

Dari common-sense masyarakat, cinta dapat difahami sebagai sebuah rasa perhatian dan kasih sayang terhadap yang lain. Cinta adalah pancaran perdamaian, persahabatan, keakraban, kepedulian terhadap sesama. Dari pemahaman yang sederhana dan simplistis ini, cinta dapat dimasukan dalam kerangka pembentukan peradaban yang manusiawi, peradaban yang menjamin hak untuk mencintai dan dicintai, memperhatikan dan diperhatikan, mempedulikan dan dipedulikan.

Semua agama mengajarkan tentang cinta. Rgveda, Atharwaveda dan Yajurveda dalam Hindu serta Bible dalam Kristain banyak mengajarkan tentang pentingnya cinta terhadap sesama. Begitu juga dengan Budha dan Islam. Dalam sebuah Hadist disebutkan bahwa, 'Tuhan tidak akan mencintai seseorang hingga ia mencintai jiran-tetangganya (orang lain selain dirinya) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri'.

Projeksi dari cinta boleh jadi macam-macam. Seorang pecinta membahasakan cintanya terhadap kekasihnya dengan cara mendatangi, memperhatikan dan mempedulikannya. Guru membahasakan cinta terhadap murid-muridnya dengan bimbingan dan pendidikan yang setulusnya. Ibu bapa membahasakan rasa cintanya terhadap anak-anaknya dengan memperhatikan, melindungi, mencukupi keperluan, serta memikirkan masa depan sang anak. Sedang negarawan atau negarawanita membahasakan cinta terhadap rakyatnya dengan pembangunan, perkhidmatan atas keperluan rakyat dan pelbagai keperluan insfratuktur.

KEMUDIAN apakah cinta yang begitu agung dan tulus itu sudah terjelma dalam kehidupan sehari-hari? Jawabnya adalah belum. Mengapa? Karena cinta yang selama ini ada masih diwarnai dengan naluri kepemilikan, pengaturan dan penguasaan. Dan itu nampaknya sudah dianggap wajar dan diterima begitu saja (taken for granted). Para pecinta masih banyak yang membatasi ruang gerak kekasihnya dengan berbagai alasan, dimana ini boleh membunuh kreativiti serta produktiviti si kekasih. Para guru masih banyak yang mendiskreditkan muridnya, kerana keberanian sang murid dalam melontarkan kritikan terhadapnya. Dalam sistem kekeluargaan, fenomena ini pun sering terjadi. Orang tua mengawal anak-anaknya dengan begitu ketat dan menekankan si anak untuk mengikuti segala nasihat-nasihatnya, keinginannya, kemauannya, ambisi-ambisinya, tanpa memberi kebebasan kepada si anak untuk memilih. Maka yang terjadi kemudian adalah tekanan psikologi yang membuat anak rasa terpaksa dari dirinya dan dari apa yang dilakukannya.

Di sini dapat dilihat bahwa pecinta, guru dan ibubapa lebih mencintai dirinya sendiri daripada kekasihnya (murid dan anaknya). Dengan apa yang mereka lakukan, sebenarnya mereka ketakutan jika kuasa dan autoritinya yang tertanam dalam diri orang-orang yang mereka cintai itu pudar.

Dalam sebuah sistem kekuasaan, naluri pengaturan dan penguasaan itu kelihatan semakin jelas. Bahkan jika kita melihat berbagai fakta yang ada, terlihat bahwa unsur kuasa lebih dominan dari unsur cinta. Kita boleh bercermin dengan negara kita sendiri. Negara, yang dalam perkembangannya di identikkan dengan pemerintah, penguasa, state, memang boleh diakui telah memperhatikan nasib rakyatnya. Namun sayang, projeksi dari rasa cinta negara itu seringkali tidak sebanding dan seimbang dengan rasa kuasa yang timbul.

Rakyat diberi makan melalui peluang-peluang pekerjaan, tetapi tidak boleh menuntut lebih banyak. Tidak boleh bercakap terlalu banyak tentang ini dan itu, kerana tidak sesuai dengan budaya sendiri, tidak boleh berbuat ini dan itu, kerana boleh mengganggu stabiliti. Dengan alasan demi kepentingan dan kebaikan rakyat, negara mengatur, mengawal, menguasai, bahkan menindas, yang semua itu tidak lain adalah projeksi rasa cinta negara terhadap dirinya sendiri, terhadap kekuasaannya, terhadap status-quo.

Dari realiti di atas dapat ditarik satu kesimpulan bahwa cinta yang ada selama ini selalu berbalut erat dengan kuasa. Rasa cinta selalu diiringi dengan penguasaan, pengaturan, yang justru boleh mengaburkan tentang adanya cinta. Cinta bukan lagi pengorbanan, tetapi tuntutan. Dan jika tuntutan tidak dipenuhi, seringkali terjadi kekerasan, baik kekerasan fizikal mahupun psikologi, yang sangat bertentangan dengan prinsip dasar cinta yang ramai, penuh kasih dan penuh kedamaian.

Cinta yang terbalut erat dengan kuasa dan dominasi itu oleh Erich Fromm didefinisikan sebagai akibat dari pemahaman keliru tentang cinta. Selama ini, cinta dianggap sebagai sesuatu yang dapat dimiliki, dimana dari itu muncul naluri untuk mengatur dan menguasai. Cinta dalam masyarakat sekarang adalah cinta yang didasarkan pada modus memiliki (to have) dan bukan didasarkan pada modus menjadi (to be).

Yang ada dalam masyarakat sekarang adalah keinginan untuk memiliki cinta, bukannya keinginan untuk mencintai. Dengan modus ingin memiliki (to have) ini, cinta menjadi beku dan tidak membebaskan, kerana ada yang menjadi subjek dan ada yang menjadi objek, ada yang menguasai dan ada yang terkuasai.

Menurut Erich Fromm cinta harus mengandung unsur pembebasan dan pemerdekaan, bukan penguasaan apalagi penindasan. Untuk mewujudkan cinta yang membebaskan ini - Erich Fromm menyebutnya sebagai cinta produktif - harus memiliki elemen-elemen dasar yaitu: perlindungan, tanggung-jawab, penghormatan dan pengetahuan. Begitulah sedikit sebanyak yang telah dihuraikan oleh Erich Fromm dalam bukunya Man for Himself, 1947.

Perlindungan dan tanggungjawab menunjukkan bahwa cinta adalah sebuah aktiviti dan bukan sebuah nafsu dimana olehnya orang terkuasai, dan bukan sebuah pengaruh (affect) yang mana orang terpengaruh olehnya. Dalam perlindungan dan tanggung jawab yang ada hanya kerelaan untuk berbuat dan berkorban, tanpa diwarnai tuntutan untuk diakui, diikuti, ditaati, apalagi ditakuti.

Ibubapa yang mencintai anaknya berbuat untuk anaknya tanpa keinginan agar si anak taat dan patuh kepadanya, mengakui autoriti dan kekuasaannya sebagai orang tua. Negara pun begitu. Negara yang mencintai rakyat adalah negara yang berbuat untuk rakyat, berkorban untuk rakyat, berbicara atas kepentingan rakyat, dan bukan negara yang selalu ingin dipatuhi dan ditakuti oleh rakyat dengan cara menetapkan berbagai peraturan yang tidak memerdekakan rakyat. Pencekalan, kezaliman serta pelarangan untuk berpendapat, bersuara dan bersyarikat (mempunyai kesepakatan) adalah watak-watak yang melekat dalam sesebuah negara yang tidak mencintai rakyatnya.

Perlindungan dan tanggung jawab adalah unsur asas dari cinta. Dari situlah cinta dapat dinilai, apakah yang ada memang cinta atau hanya keinginan untuk memiliki dan menguasai. Namun cinta akan membusuk dan layu jika hanya didasari pada semangat perlindungan dan pertanggungjawapan sahaja, tanpa diiringi dengan dua unsur lainnya, iaitu penghormatan dan pengetahuan.

Dengan penghormatan, diharapkan cinta akan terbebas dari penguasaan, karena penghormatan menunjukkan pengakuan atas autonomi yang dicintai. Penghormatan diorientasikan untuk mengikis rasa kepemilikan dan penguasaan yang dapat muncul dari aktiviti perlindungan dan tanggungjawab. Ini tidak lepas dari kecenderungan masyarakat - apalagi lembaga kekuasaan - sekarang, yang merasa punya hak ketika sudah berkorban untuk orang lain.

Namun penghormatan akan buta jika tanpa pengetahuan atas yang dicintai. Di sini dituntut adanya sikap jujur dan realiti dalam menyingkapi dan mengamati, menghormati dan melindungi yang dicintai. Dalam konteks kebangsaan, ini boleh dikaitkan dengan nasionalisme. Nasionalisme selama ini difahami sebagai kecintaan dan pembelaan yang membabi-buta terhadap bangsa sendiri, tanpa kejujuran untuk bercerminkan diri. Kemunculan nasionalisme yang membabi-buta ini kelihatan dari ada-nya ungkapan right or wrong is my country. Maka cukup beralasan jika Erich Fromm dalam The Sane Society -nya menyebut nasionalisme sebagai inzes zaman ini, berhala kita, ketidak-sihatan, yang dipuja melalui patriotisme. Patriotisme yang dimaksud Fromm adalah sikap meletakkan bangsa sendiri di atas kemanusiaan, di atas prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan.

DARI apa yang terungkap di atas, kita melihat bahwa elemen-elemen dasar dari cinta boleh menjadi dasar bagi terciptanya sebuah kekuasaan yang ramah, adil dan bertanggungjawab. Jika kita disuruh memilih antara kekuasaan yang berdasarkan cinta dan kekuasaan yang berdasarkan logik kuasa, maka tentu kita akan memilih yang pertama. Hanya orang-orang 'gila' saja yang akan memilih yang kedua.

Kekuasaan yang berasaskan nilai-nilai cinta akan mampu mengambil hati rakyat, memenuhi keperluan dan kepentingan rakyat. Sedang kekuasaan yang berasaskan atas semangat naluri kuasa hanya akan menimbulkan kesenjangan, ketidak-adilan, sentralisasi kekuasaan untuk kepentingan golongan, parti, keluarga, bahkan seseorang individu.

Kekuasaan yang dibangun di atas semangat kuasa hanya akan menciptakan kekuasaan ala Fir'aun, yang tega membunuh anak-anak bangsanya demi kepentingan dan kelanjutan kekuasaannya. Politik yudzabbihuna abna'akum (menyembelih anak-anaknya sendiri), itulah yang akan terjadi.

Untuk menilai sebuah kekuasaan apakah ia dibangun di atas cinta atau kekuasaan, sebenarnya boleh dengan cara melihat sejauh mana kekuasaan itu dicintai oleh rakyatnya. Jika rakyat masih banyak yang menangis, berteriak dan menjerit, tidak puas hati dan jengkel, maka kita patut meragukan bahwa kekuasaan itu dibangun di atas prinsip cinta.

to be continued...

ditulis oleh Syaiful Bakri (Sy41ful@GMail.Com)

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...