MIYABI HAMIL

Tidak usah takut. Saya bukan polisi. Tempat ini juga bukan kantor kepolisian. Jadi semuanya terbuka. Tidak ada yang ditutup-tutupi. (Boss Koruptor - Doa Yang Mengancam)

CICAK VS BUAYA

ramai diberitakan pemberitaan berupa berita gesekan antara institusi kpk dan polri beberapa minggu belakangan ini. peristiwa ini semakin menarik ketika nama2 komjen susno duadji (sd), kabareskrim polri, mulai jadi sorotan. sd kabarnya diduga menerima uang terimakasih dalam kasus bank century. informasi ini berkat penyadapan yang dilakukan oleh kpk (edunn jenderal polisi berani mereka senggol juga euy). bersamaan pula barangkali dengan ter-publish-nya kasus bank century (dan entah apa ini ujung2nya bisa sampai pula ke presiden cos' boediono udah mulai kebawa2) termulailah genderang perang antara kpk (yang terlibat atau melibatkan diri) vs sd (atau polri). istilah cicak vs buaya pun muncul dari mulut sd untuk menggambarkan perbandingan kekuatan antara adik bau kencur kpk vs kakak bau kentut polri. dan entah apa hubungannya pula dengan antasari gate.

HARI PELANGGAN NASIONAL, OYEAH

I am a nurse and have worked over 35 years in the healthcare field and have seen with my eyes the discrimination of the poor and middleclasses. This has got to stop! (Cassandra Mcmath kpd Obama ttg systim askes AS)


beberapa menit yang lalu gw mengakses detikinet dari henpun. kebetulan pelanggan pln sini lagi padam lampunye seperti biase, tapi jadwalnya tak menentu pule. gw surfing hingga ke suatu artikel beryudul "sehari bak raja di galeri indosat". isunya dalam rangka hari pelanggan nasional, indosat memberikan fasilitas plus2 selama sehari itu (yakni beberapa hari yang lalu). memang sepengetahuan gw memang indosat ini sering mendapat coorporate award untuk urusan pelayanan pelanggan memang. ah... jadi ingat pengalaman gw berurusan dengan "orang indosat" setahunan yang silam... tapi tenang tetep saja tulisan kali ini nggak sekedar gossipin indosat doang pada akhirnya.

stress menyari sarana koneksi inet yang irit, gw dapat info tentang im2 unlimited yang cukup bayar 100 ribuan per bulan dengan terlebih dahulu membeli paket bundling dengan modemnya seharga 1 juta 499 jika ndak punya modem sendiri. datanglah aku (seperti biasa dengan tampilan kucel layaknya orang miskin) ke galeri indosat padang yang ternyata ada di jalan khatib. lalu gw (setelah menunggu dan dicuekin cukup lama) akhirnya "dilayani" salah seorang penanggung jawab marketing produk im2 yang cewek seumuran gw juga dan belakangan aku baru tahu die sepertinya, dan kalo ndak salah, juga masih outsourcing disana. sebetulnya gw di satu sisi merasa kasihan juga jadinya membuat "repot". singkat cerita akupun bertransaksi dengan keyakinan ga bakal ada masalah dan gw bisa mendapatkan barang sesuai yang dijanjikan (iklan).

eh pas dicoba di rumahku ternyata kecepatan koneksi yang kudapat minta ampun lambrettanya. dari promosinya di brosur minimum 64 kbps dan up to 200-an ternyata selama 2-3 hari kucoba pagi, siang, ataupun malam hanya dapat maksimum 10-15 kbps dan tidak jarang 0 kbps. kebetulan sebelumnya gw cuma bayar dp 100 ribu dan janji akan melunasi dalam 2-3 hari yang 1.399 juta-nya. sebetulnya juga waktu itu udah siap bayar tunai tapi ternyata sdri fxxri yg marketing tersebut sendiri yang menawarkan dp. mungkin (kasihan) karena gw terlihat sebagai orang miskin dan ada kemungkinan yang kedua yang kucukup yakin ada: dia (semula) jatuh cinta sama gw hahaha. karena aku tidak mendapatkan yang im2 janjikan dalam iklan maka aku pun menunda membayarnya. sebelumnya sama saudariku itu sudah kutanyakan apa ada masalah dengan akses indosat disini. kusebut pula rumahku yang di pinggir kota dan dia menyebut tentang customer yang di kampus unand di bukit sana. meski 3g belum ada (ceritanya waktu itu bakal launching dalam beberapa bulan lagi) toh gprs juga bisa dengan 64 kbps tersebut dan sinyal indosat di rumahku baik2 saja full 100%. tapi dengan 0-10 kbps buat apa gw punya kuota per-bulan 3 GB? bahkan membuka situs google.com butuh waktu 5 menit dan membuka www.barrackobama.com bisa setengah jam bokkk (waktu itu gw belum kenal gateway mobile).

lalu karena gw engga datang2 ke kantornya nelponlah saudari ini, mulai dari bicara masih halus hingga mulai marah2. aku terus bilang nggak mau bayar selagi koneksi macem gini dan berharap dalam beberapa hari bisa bener atau dapat garansi teknis dari dia. dengan terlihat mulai marah2 besoknya dia mengutus 2 teman prianya datang ke rumahku buat mengecek. ternyata orang tersebut juga ndak bisa berbuat apa2 dan akhirnya transaksi gagal, barang kukembalikan, tapi duit 100 ribuku melayang (tapi sudah kuikhlaskan koq). masalahnya disini berawal karena: saudari ini sebagai orang marketing mungkin ga ngerti hal teknis barang yang dijualnya atau mungkin memang nggak mau tahu. sewaktu negoisasi saya juga udah bilang bahwa gw bukan beli barang di pedagang kaki lima dan indosat sebagai yang ber-branding the best customer service harusnya bisa mencarikan solusi bagi costumernya donx. dan tidak ada solusi... bahkan negoisasi berlangsung dengan kurang enak dan penuh emosi. satu hal yang bisa kumaklumi karena dia pegawai outsourcing ya ndak bisa juga berbuat banyak (baca: takut ditekan dari atas kalo bawa2 masalah). tapi tetap mana tanggung jawab perusahaanmu yang katanya sangat peduli pelanggan itu hah?

nb: lagian seandainya mereka bisa bersabar lebih dan lebih perhatian kemungkinan aku mungkin akan tetap bayar karena dana toh udah disiapkan. tapi dia malahan "mencaci" gw ditelpon dengan bilang nggak punya duit, miskin, dan dasar kere (betul sih hehe). mendengar itulah aku bilang saja silahkan ambil barangnya dan saya juga nggak bakalan minta dibalikin yang 100 ribu gw. padahal seandainya diberi support tekhnis atau misal diperkenalkan dengan proxy gateway untuk bandwith lemot macam ini pasti saat itu aku tetap beli. karena layanan lain yakni telkomsel flash sepengetahuanku mahal saat itu, apalagi dengan area only gprs, juga speedy (hingga kini), dan starone gw engga yakin signalnya ok. tapi yahh tak ada support dan service dan value sepertinya bagi customer yang terlihat kere (meski kece). apalagi yang ngejual pegawe outsourcing, lapak kaki lima... just sale no serve. leave and let die...

oh ya saya lupa... kalo datang ke kantornya bawa mobil mengkilap, rapi berdasi, dan kelihatan tajir pasti bakal lebih diperhatiin deh,,

beberapa hari yang lalu gw mampir ke pameran 3g telkomsel di basko plaza dan kembali lagi menemukan kenyataan yang sama: kalo kita terlihat miskin maka pelayanan maaf saja akan sedikit (tepatnya: sangat banyak) berkurang. saya waktu itu sempat berpikir mau menonjok seseorang (yang bisa jadi sekedar eo di event itu) yang terlihat sengaja menghina2 orang kere di dekat gw (meski secara enggak langsung--dan emang yang begini yang menyakitkan--meski dia gituan juga bisa jadi karena nggak ada bahan obrolan lain dan melihat objek unik yang bisa dicela, dicemooh, dan dihina untuk sekedar meramai2kan suasana). tapi lagi bulan puasa, lagian ngapain nambah2 masalah kalo dia nggak secara zahir menunjukkan permusuhan padaku karena bagaimanapun prasangka buruk (walaupun sangat yakin benar) harus dihindari sebagaimana nasehat nabi tentang apa yang terlihat vs yang tidak terlihat. kalo tuh orang ngomong terus terang menghina aku sebagai orang miskin (walau benar haha), gw jamin kalo ada beceng di tangan waktu itu enggak bakal segan2 membacoknya seketika. tapi pastilah gw masih mikir secara hukum agamanya bagaimana membunuh orang teh akang.

dan masih akan banyak lagi cerita berkaitan pelayanan pelanggan ini. intinya: seperti politik, narkotik, bahkan agama bisa jadi, dan bidang2 lainnya, perihal pelayanan pelanggan ini tetaplah tidak netral. bahkan yang punya award profesional sekelas customer care indosat pun, meski tentu sebagian ada yang sanggup untuk berjiwa pelayanan yang bagus tersebut. apalagi untuk kasus karyawan2 perusahaan nasional top sekalipun di ranah minang, sudah mental rang minang untuk tidak mau menjadi "pelayan" bagi orang lain. tapi kalo sudah berjudul duit, maka babi sekalipun akan menjilat pantat ke atas sana. mungkin ada juga yang bisa terpikirkan bahwa bagaimana pun sebuah perusahaan terkait dengan kepentingan ekonomi dan memang kerjanya jualan barang. ya sebagai perusahaan tentu dia sudah mempunyai strategi dan terbukti bahwa perusahaan2 yang punya customer care yang bagus justru akan menguntungkan. namun jika berbicara akhlak individu dan personal tetap saja orang yang baik sama orang lain itu (secara tulus) ndak gampang bertemunya. berbagai perusahaan2 yang telah berjiwa modern di indonesia telah menggelontorkan dana cukup besar untuk melatih karyawannya dalam berbagai bentuk dan macam agar menjadi pribadi yang "baik" kepada pelanggan ini. tapi hasilnya sejauh ini saya lihat belum banget lah.

polri saja sudah mengubah logonya sebagai pelayan masyarakat sehingga bisa kita lihat sekarang bahwa polisi kesannya tidak lagi terlalu arogan. mudah2an ini menebar ke pns2 abdi negara pada berbagai bagian pelayanan masyarakat untuk ingat bahwa ia dibayar dengan uang rakyat dan naif sekali kalo bersikap arogan kepada orang yang membayar/menghidupinya (apalagi jika mengingat embel2 abdi negara) meski kebudayaan error kita memang menempatkan mereka pada strata sosial penuh gengsi (sehingga terpaksa korup untuk memenuhi tuntutan gengsi sosial tersebut). ya upaya membudayakan "bersikap baik" kepada orang secara profesi(onal) ini memang menjadi penyeimbang di tengah secara alamiah akan terus tergerusnya "sikap baik tradisional" di masyarakat kita. ah pelayanan pelanggan secara profesional di indonesia memang terlihat agak semakin tapi belum signifie deh, apalagi jika berkait duit tak-berduit tadi tuh... ha2 tapi inilah salah satu pola hukum alam kehidupan duniawiah ceileey. pelayanan pelanggan yang baik, penuh senyum, hangat, keakraban, intregitas, profesional dari perusahaan kelas kakap dengan manajemen terakreditasi dan branding top success stories sekalipun terkadang (maksudnya: lebih acap) say no buat orang2 yang terlihat miskin!! coz, practical in field its not just about relationship books theory nor instruction catalogue, not too about company standar operasi and citra image, but its about person(al) character n impression n force karyawan interest pada praktiknya di lapangan. kaciannnn deh lu!


KOMPAS.com | Surat Pembaca | Dibaca 760 Kali
Perhatian Untuk Semua Perusahaan Penyedia Layanan Jasa!
Sabtu, 12 September 2009 | 11:34 WIB

Begitu banyak keluhan dari berbagai pembaca dari berbagai daerah yang masuk ke kompas setiap harinya. Isinya kurang lebih selalu mengenai ketidak puasan dan ketidak profesionalisme perusahaan yang memberikan pelayanan dari berbagai bidang. Tetapi anehnya, biarpun sudah sering dikritik dan ditanggapi tetapi tetap aja sering terulang-ulang. Misalnya Customer Service yang susah dihubungi, pelayanan yang tidak professional, cuek, dan lain-lain. Tetapi setelah muat di surat pembaca kompas baru segera ditanganin dan penyelesaiannya sungguh ekspress (bisa dalam hari yang sama).

Hal tersebut telah membuktikan betapa parahnya pelayanan di negara kita ini dibandingkan dengan negara lain dimana menawarkan sesuatu dengan manis dan rayuan tetapi dicuekin bila ada masalah. Di sini saya berharap kesadaran dan peningkatan layanan dari semua perusahaan di berbagai bidang yang sudah pernah dikritik di surat pembaca. Kalau bisa dari Kompas sendiri membuat daftar perusahaan yang paling sering dikritik yang mana guna meningkatkan kesadaran serta peningkatan kualitas pelayanan.

Yanto, Kezia Residence G/19 Batam

PUISI CANTIK:TAK BISA BOBOK

Di gereja St Josef
tanggal 31 Maret 1959
di pagi yang basah
seorang malaikat telah turun.
Seorang malaikat remaja
dengan rambut keriting
berayun di lidah lonceng.
Maka sambil membuat bahana indah
dinyanyikan masmur
yang mengandung sebuah berita
yang bagus.
Dan kakinya yang putih indah
terjuntai

Fantastis.
Di satu Minggu siang yang panas
di gereja yang penuh orangnya
seorang padri muda berdiri di mimbar.
Wajahnya molek dan suci
matanya manis seperti mata kelinci
dan ia mengangkat kedua tangannya
yang bersih halus bagai leli
lalu berkata:
"Sekarang kita bubaran
Hari ini khotbah tak ada"
.
"Lihatlah aku masih muda.
Biarkan aku menjaga sukmaku.
Silakan bubar.
Ijinkan aku memuliakan kesucian.
Aku akan kembali ke biara
Merenungkan keindahan Ilahi." (Rendra)



TAK BISA BOBOK*)

lagi kelaparan tengah malam, meski sudah menjadi kebiasaan, tapi tetap saja yang namanya lapar terasa kurang nyaman, sementara di luar deras mengalir air hujan, pintu rumah boknyo (tempat selalu numpang makan dan parkirnya honda pinjaman) dikunci dari dalam, sahur masih sekian jam, buka puasa pun tadinya merasa cukup dengan porsi yang pas2an, tiada sepotong remah sisa pun yang bisa ditelan, tapi tak bisa bobok, hanya sebatang rokok dan segelas air mineral jadi ganjelan, tidak punya pulsa buat internetan, apalagi telpon2an bahkan sms-an (lagian, di phonebuk nyaris tak ada yang bernama teman) lalu selalu gak konek mencoba2 iklan akses gretongan, terkantuk2 baca2 ebook dan hanya sanggup se-kalimat bikin tulisan, sudah lama pula tak menjamah kor'an, sudah lupa bacaan buat shalat malam, tapi tetap tidak bisa bobok, daripada mengkhayal yang bukan2, memutar file jagad x code.dat yang di hard disk kompi tersimpan, nonton adegan: ringgo agus rahman sedang dengan nikmatnya makan....

"... beberapa detik kemudian, lampu tiba2 padam, lalu next apa gerangan yang terjadikah ?? @lhamduilah, masih sanggup hidupp basitahan, thx han, "bantu aku jadi artiss...**)"

*) berdasarkan kisah nyata pada perpindahan malam 14-15 september 2009 meski beberapa bagian kubikin hiperbolik-methapotik (mewakili kecenderungan hari2 lainnya) sehingga berkesan berlebih2an
**) cuplikan lagu reliji yang nge-hit dari sebuah band new komer pada romadhan tahun ini ^_^

BOEDAYA CORRUPT V.D-MANA-MANA

"Segosegawe ternyata merupakan kependekan dari "sepeda kanggo sekolah dan nyambut gawe", yaitu merupakan gerakan mengembalikan dan membangkitkan nilai kebutuhan masyarakat untuk menggunakan sepeda sebagai salah satu alternative moda transportasi jarak dekat. Gerakan segosegawe dalam jangka pendek agar dapat membangkitkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat bahwa menggunakan sepeda sebagai alat transportasi alternatif dapat mengurangi polusi dalam rangka antisipasi pemanasan global. Dari sisi implementasi kebijakan, target awal adalah mengajak warga jogja untuk menggunakan alat transportasi sepeda untuk ke sekolah, bekerja maupun kegiatan lainnya dalam jarak dekat. Sedang dalam jangka panjang diharapkan gerakan ini akan berimplikasi kepada penurunan penggunaan kendaraan bermotor sehinga mengurangi polusi, terjadi efisiensi energi, menuju kota yang lebih humanis, meningkatkan derajad kesehatan dan sebagainya. Sedang bagi anak sekolah, bersepeda akan membangkitkan semangat kesederhanaan, percaya diri dan penghormatan kepada prestasi bukan materi."


Banyak korupsi di Indonesia, itu sudah jelas. Dan kita tidak boleh bangga. Tapi kita juga harus mewaspadai korupsi ala AS. Kalau korupsi di Indonesia itu memasyarakat, maka korupsi di AS itu menginstitusi. Sama-sama berbahaya.

Suatu hari saya baca di blog sebuah kisah sedih di India. Seorang ayah dari keluarga miskin meratapi kematian putri satu-satunya. Rupanya anak ini diinfus di rumah sakit kemudian keracunan infus. Setelah diselidiki, ternyata labuh/botol infus ini palsu. Biro pembelian rumah sakit ini disogok seorang pemasok. Supaya untung, pemasok ini mengambil semua labuh infus bekas, mencucinya di rumah, dan mengisinya dengan air. Dia pikir air ini bersih. Ternyata labuh terkontiminasi berbagai penyakit. Akhirnya putri sang ayah ini mati di rumah sakit akibat infus ini.

Inilah maksud saya dengan korupsi yang memasyarakat. Semua anggota masyarakat, termasuk masyarakat kelas menengah ke bawah, mencari nafkah dengan menipu dalam berbagai bentuk. Mulai dari pemasok sampai ke pegawai rumah sakit. Akibatnya bisa tidak terduga, dan dibayar mahal oleh masyarakat sendiri.

Krisis keuangan di AS itu juga dipicu oleh korupsi. Tapi dilakukan oleh orang kaya, dan didukung oleh orang kelas menengah yang ingin kaya tanpa bekerja. Berbagai skema trik penipuan canggih diinovasikan, kemudian di bawa ke pasar saham dan perbankan yang dilindungi oleh peraturan legal. Karena penipuan ini canggih, maka aparat hukum mengalami kesulitan mencegahnya.

Salah satu skema adalah dengan menawarkan kredit rumah pada orang yang tidak memiliki penghasilan cukup. Kredit ini dibungkus dengan berbagai skema finansial, termasuk asuransi dan bond/obligasi, kemudian dilepas ke pasar sekunder, lalu pengemas ini kabur membawa uang dari pasar. Semua legal. Kecuali bahwa skema keseluruhan ini pasti gagal, karena pada dasarnya orang yang mendapatkan kredit rumah itu pasti tidak mampu membayarnya. Penggerak primernya gagal, sehingga skema sekundernya pasti ikut ambruk.

Model penipuan sejenis adalah dengan skema piramida yang ditemukan oleh Charles Ponzi di tahun 1919. Skema Ponzi ini adalah dengan mengumpulkan dana dari masyarakat melalui jenjang piramida, dengan janji mendapatkan bunga tinggi setiap tahun. Dowliners mengumpulkan uang dengan janji yang sama, tapi uang itu digunakan untuk membayar bunga mereka yang di atas piramida.

Dan saran saya: jangan serakah. Dan jangan pernah ingin kaya tanpa bekerja atau menghasikan inovasi nilai.

tulisan menari ini saya kutip dari: sini euy,,

MENARA SELULER, SERRRRR part III

"Setiap pilihan mudah hari ini memberi akibat esok hari."
"Kau cuma mau masalahmu selesai lalu hidupmu kembali sederhana."
"Di zaman sparta kuno hal-hal penting diputuskan oleh siapa teriak paling keras." (Suster Aloysius)


...
...

hanya siil balas, sang ketua, saja yang kulihat masih menjaga sikap meski di belakangku tentu saja ikut2an terbawa suasana bersama. mungkin ada yang bakal bilang barangkali masyarakat tolol itu yang benar (karena opini orang kebanyakan secara voting demokratis lebih berhak untuk benar) dan gw semestinya instropeksi diri. tentu, ada bagian2 (tapi sayangnya sangat kecil) yang aku jadikan bahan instropeksi karena tentu gw juga tak luput dari kesalahan. tapi percayalah gw bukan berasal dari golongan tolol-matre-cingkahak tersebut dan punya cukup ilmu untuk berargumentasi meski tentu masih lebih banyak lagi yang harus kupelajari dan terus menambah ilmu pengetahuan hingga mati nanti. persoalannya adalah mereka2 menilai diri gw tanpa cukup tahu tentang persoalan yang gw hadapi sehingga terlihat tidak berstatus "sukses" dan dapat dijilati. apalagi ditambah kalo memang ada yang sudah sejak lama memendam dengki, makin bertambahlah bumbu negatif cerita. jadi alih2 berharap akan dibantu "teman2" ini. hmm, lagian ujian hidupku ini terlalu besar untuk porsi orang2 tolol itu dan pada saatnya nanti mudah2an gw bisa bertemu "teman sejati" untuk berbagi (<-- maksudmu istri wemmy? hi2). sekali lagi sedikit banyaknya gw punya cukup pengetahuan tentang cara pandang dan kira2 apa pikiran orang2 itu secara sosio-kultural-psikologis. makanya kadang2 juga cukup bisa menikmatinya sebagai sebuah lakon drama, bahkan humor. tapi dari sekian kompleksitas persoalan yang aku petakan, dan betul2 aku sendiri yang mengetahui, secara strategis dan taktis memang opsi bersabarlah yang sebaiknya dijadikan pilihan untuk saat ini. ada waktunya untuk bertindak nanti...

gw hidup tujuh tahun di tanah jawa barat dan tentu terkesima dan ter-influence sebagian kultur positifnya. percayalah gw orang paling ramah (tulus bukan karena pekerjaan atawa demi duit) dan jujur yang bisa kalian temui di kota padang ini (hehe2 setidaknya sudah lama gw belum melihat orang baik lagi disini, karena memang lagi tak punya akses pergaulan). baru sekarang2 saja gw mulai bete untuk selalu tersenyum karena yang disenyumi tetap saja bakal muka masam melihat kita ternyata kere (meski kece). tapi itu sudah jadi kebiasaan automatic yang kadang membuat aku kesal belakangan, kenapa harus bersikap baik pada bajingan muka masam tersebut. maka jika itu medan bung, ini padang bang. yang akan membuat orang terpesona bukan sifat, bukan intelektuil, bukan kegantengan, bahkan bukan juga ketaqwaan, melainkan isi kantong. makanya pula status sosial tertinggi sekarang diklaim pihak saudagar. betapapun katanya: orang kaya kalo ndak baik nggak bakal punya teman tapi tetap saja kenyataannya kalo kantong tebal mah banyak yang ngerubung. toh dunia ini panggung sandiwara. dan bagi manusia2 politik dagang sapi bukankah kebaikan itu sepanjang terkait dengan kepentingan? nyumbang mesjid sekalian amal, sekalian tenar. sekalian jaga citra. dasar kabau minang! gw tidak mengutuk2i karena ditakdirkan hidup miskin. toh kupikir2 sejauh ini toh asik2 aja toh dan masih ada2 aja yang iri toh (karena walau miskin gantengnya masih ada). dan gw juga tidak menyesal dijauhi teman2 karena miskin dan "tidak sukses" begini. justru bersyukur ini bisa menjadi proses alami untuk menyeleksi siapa yang memang pantas gw anggap sebagai kawan (termasuk dalam hal kisah percintaan). yang gw sesali itu: kenapa masih juga bertahan hidup di tengah2 masyarakat kabau kalera ini? ayoo, sebagian udah kusinggung sedikit. tapi tetap gw belum mau membicarakannya untuk saat ini.

gw nggak tahu juga apa ada alumni geng lapau siil yang ikut sewaktu peristiwa "demo" itu. tapi tentu saja para pendengki ini juga ada dari sana dan gw dulu juga sempat nyaris ribut konyol kalo seandainya tak bisa mengontrol diri melawan cicak2 newbie disana. mungkin hanya miza di parung yang masih bisa kuanggap teman. dan dia mungkin agak linglung karena gw berkonflik dengan dunsanak2nya juga. tapi aku lihat anak yang satu ini selalu tune up kalo ketemu denganku. meski bertahun2 tak jumpa, dia sudah beranak, aku sedang miskin ngegembel, dia pula yang nyari gw. siil entah, yang jelas tentu dia dalam posisi sulit karena memang dari dulu selalu disini dan bagaimanapun adalah bagian dari sini. apalagi sekitar setahun yang lewat sempat clash denganku karena cewek yang dia suka ternyata suka sama aku he2. ya ayo sekarang saatnya beraksi. mumpung posisi gw lagi (terlihat) lemah. tentu "wajar" mereka sakit sekali menyaksikan gw hidup di keluarga yang mereka pandang bahagia karena lebih berharta sejak dari dulu dan sekarang pun gw santai2 saja di rumah dan ada2 saja uang yang datang ke keluarga gw; sementara mereka hidup susah, menganggur, nyari uang sana-sini, kerja rodi dan tetap tak bisa "bahagia" dan "terlihat" santai2 seperti gw. tapi belum juga menemukan alasan untuk langsung "menuju" gw sebagai sasaran kedengkiannya karena gw belum juga buat kesalahan yang memungkinkan bagi orang sekampung untuk menghukum gw. dua2an sama nak gadis belum muhrim misalnya...

"oh, kami menantikan itu terjadi supaya bisa menghajar habis2an anak orang kaya itu. kenapa dia diam saja di rumahnya dan tidak keluar lalu membuat kesalahan, oh". akhirnya mereka hanya baru menemukan akses tak langsung untuk beperkara denganku, dengan jalan "mendemo" proyek menara seluler itu (mungkin waktu itu berharap gw terpancing emosi). dan justru kini mereka mungkin mesti menghadapi konsekuensi berperkara dengan omku (kalo yang terjadi bukan om pele ini sendiri yang mendalangi mereka karena selenting kudengar awalnya dia tak setuju juga proyek ini dan berselisih dengan uwan). aku, karena gimanapun sebetulnya emosi juga kalo begini, juga menanti2 supaya mereka menemukan jalan untuk "bertemu" denganku lalu bertarung banjir darah (karena ndak mungkin gw yang mulai karena tahu ilmu agama ndak setolol mereka dan bagaimanapun emosi tetap tak akan melakukan hal yang kupercaya perbuatan salah). dan gw hampir tak sabar rasanya membunuh siapa saja di antara orang2 (ah segitunya hi2) yang pernah menjadi temanku dan ternyata diam2 menyimpan iri hati dan kedengkian padaku (karena kegantenganku). sayup2 berceloteh di belakang seperti pengecut; atau malah menikam dari belakang seperti pengkhianat. tapi dipikir2 kalo aku cuekin kayak begini, dan tetap terlihat bahagia-raya, mereka pasti jadi tambah sakit juga ya menyaksikannya dan akan makin besar kedengkiannya hai2. kita lihat saja, kalau tidak tampak di dunia ini, di akhirat nanti tuhan akan membacakan putusan tentang perkara kita!

~end~

MENARA SELULER, SERRRRR part II

Ada hal-hal di luar pengetahuanmu. Bahkan jika engkau merasa pasti, itu adalah emosi bukan fakta. (Pastur Firly)


...
...

dulu waktu zaman2 smu pernah juga sekali mimpin misi tempur melawan kampung seberang (vs budi kriting cs yang kemaren kutemukan di parung) atau menaikkan nama geng "lapau siil" dengan ekspedisi nakal ke berbagai tempat. memang dibanding kampung2 tetangga, pemuda2 sekitar rumahku ini tergolong "kurang pemberani". gw sendiri karena sejak smp-smu skul ke kota padang memang jadi kuper di sekitar rumah, tambah pula status sosial ortuku yang membuat gw terlalu menonjol dibanding yang lain. dan gw yakin sejak dulu benih2 kedengkian bukan tak mungkin sudah tumbuh. dan gw bisa meraba2 tanda2nya sejak zaman2 kami masih mandi2 telanjang bersama di sungai belakang rumah dari bagaimana sikap mereka kepadaku. mulai dari yang terang2an menunjukkan permusuhan, sampai yang menjilat pantat karena memang waktu itu gw-lah yang paling tajir di antara mereka he2. tambah pula perbedaan "kapasitas" intelektual antar kami dan inilah masalah utama gw hingga kini.

dipikir2 sekarang, sebenarnya dari dulu pun gw merasa ndak nyaman main bersama pemuda2 kampung dungu odoy itu. hanya karena merasakan neraka di rumahlah gw mencari pelarian ke tempat mereka dan dalam hal ini demi allah bagaimanapun saya merasa berterima kasih atas jasa mereka. oya pergaulanku utamanya akhirnya mengerucut kepada geng lapau siil dan gw tidak terlibat dengan arus utama pemuda sini (yang sebetulnya dunsanak2 gw juga). dan karena eksklusif justru geng kami, yang sebetulnya lebih sedikit dan tak ada preman senior, inilah yang lebih punya nyali (sebetulnya gw aja dan satu-dua yang terdekat dan selebihnya tetap mental pengecut seperti kakak2nya) melawan penindasan preman kampung2 lain. karena gw sekolahnya bukan di sekitar rumah (ini juga menambah citra eksklusif gw, yang membikin jarak dengan anak2 lain dan menciptakan kedengkian bagi sebagian yang lain), jadi gw tak begitu tahu siapa2 yang ditakutin orang dan karena nggak tahu gw jadi (anggap saja) nggak takut siapapun. waktu itu. sekarang bertahun2 di jawa tentu petanya telah berubah, gw tak lagi punya saham. hanya bisa mengamati.

singkat cerita (lain kalilah kalo khusus nulis soal me and "friends" ini <--- dari dulu gw rencana belum ditulis2 juga yaw): sekarang gw terlihat begitu hina di mata mereka (pemuda2 sekitar rumah) sebagai pengangguran intelek. dan dikiranya nggak bisa ngapa2in. dan kinilah momentumnya memuaskan kedengkian sebagian mereka (sejak dulu). dan yang lainnya tentu saja ikut2an suara mayoritas. dan terjadilah aksi kelompok pemuda yang "melangkahi" gw dan keluarga gw tersebut. kalo mereka sekedar memusuhi gw karena taroklah gw mungkin ada kesalahan sama mereka bolehlah. gw selalu bersedia menjalani setiap konsekuensi atas segala perbuatan gw. tapi disini gw melihat "pengkhianatan" mereka pada kebaikan keluargaku. di kampung sini keluargaku termasuk berpengaruh dan punya peran cukup signifie di tengah masyarakat (sehingga memang gara2 ini juga banyak yang sirik; ortuku bahkan beberapa kali cerita2 tentang kemungkinan ini, mulai dari dukun2an hingga longgarnya tali persaudaraan antar dunsanak disini karena mereka saling "bersaing"; maklum orang minang: anjing kalera babi!). gw kadang kasihan melihat ortu masih juga berbakti, misal, dengan ngajar anak2 tpa mesjid kampung di belakang rumah padahal sudah "pahit" begitu sikap mereka pada kami. atau bagaimana ortu repot ngurusin proyek konveksi kelurahan sini. kupingku suka merah menahan amarah mendengar celoteh2 mereka yang mau makan duit kami tapi tetap saja di belakang berkomentar miring. dasar orang minang anjing kalera babi! tapi tentu ada hal2 yang tak aku tahu dan aku memang tiada mau tahu.

ortuku sendiri tetap terhormat sebetulnya setidaknya di mata kaum2 tua. yang mulai gak ada respek itu ya (sebagian) yang muda2nya itu tadi, yang karena kontra denganku juga, yang sejak awalnya dengki melihat keluarga kami terlalu bersinar itu tadi. dan sekarang menemukan celah untuk menyerang dan memuaskan hawa nafsu kedengkian mereka. gw siap bersiteru dengan kalian dunia-akhirat guys! tentu gw menghindari prasangka buruk. tapi yang namanya bau busuk itu tetap akan tercium dan terasa. dan toh gw tidak melakukan tindakan apa2 sebelum mereka nyata2 dan secara zahir mengatakan di depan gw: nggak suka sama elo (karena terlalu tampan), kita bacok2an yuk. ayukkk.

oya sebetulnya gw juga udah cukup persuasif dan tetap berusaha bersikap baik sama mereka. mungkin di tulisan ini kelihatannya gw begitu bencinya dan enggak toleran banget. percayalah guys ini sudah melalui proses begitu panjang dan gw sudah melewati tahap batas demi batas. memang sudah lama gw ndak main lagi ke lapau siil karena besar kemungkinan gw bakal ribut disana dan mencoreng imej keluarga. tapi sehari sebelum kejadian datangnya gerombolan pemuda itu gw juga masih sempat ngobrol2 sama siil sebentar (kebetulan ketemu karena dia lagi berteduh di depan rumahku). kalo yang lain2 biasanya aku udah males kalo pun ketemu untuk menyapa. kebetulan dia dan beberapa orang diajak kerja sebentar ngangkat2 disana kabarnya. yang lain aku ndak tahu siapa saja karena hanya siil yang memanggil lalu menyusulku ke beranda rumah untuk cerita2 dikit tentang sepupunya di parung sana dan upayaku memanas2i beliau untuk ke jawa ninggalin anak2 odoy kampung ini. mendengar "lowongan kerja" tadilah mungkin sebagian mengira kami sedang "butuh merangkul" mereka dan merasa sayang oportunity ini tak diolah jadi lebih menguntungkan. sekalian ada misi lain. yah ternyata perbuatan baik itu selalu punya potensi untuk mendapatkan balasan yang malah buruk. sabar, subur...

ada seorang anak ingusan (masih tetangga, keluarganya teman baik keluarga kami, dan sebetulnya sudah kuanggap adik pula sehingga sebaiknya untuk saat ini disini tak saya sebut namanya) yang dulunya jadi kacung di kelompok kami saking pengecutnya (tapi sekarang kabarnya sudah jadi preman terminal) yang barangkali dulunya hanya gw satu2nya yang bersikap baik padanya dan tidak mengolok2nya seperti yang lain, ikut2an menyindir gw di suatu hari sewaktu berkunjung ke lapau siil. meski tentu tetap saja manggil abang sama gw. keluarganya dulu sangat miskin dan keluargaku kerap membantu. dan sekarang pun mereka punya usaha besar juga menyewa di atas tanah kami. tapi mungkin juga inilah yang sudah sejak lama menumbuhkan benih dengki di hatinya. mengira hidupku begitu mudah, tidak sesengsara keluarganya (dulu). tentu saja dia bakal berperkara besar jika konflik denganku. tapi gw juga bakal repot oleh "hal2 lain". begitulah, dia melihat sekarang kesempatan menyerangku (saking begitu lemahnya dia dulu dan kedengkian terpendam membuat dia lupa siapa yang baik kepadanya dulu). saat itu saya cukup shock karena sampai hari kejadian itu saya nggak menyangka sama sekali bahwa kacung tersebut akan berani ikut2an bersikap begitu juga kepadaku. apalagi baru beberapa waktu sebelumnya gw ngobrol2 cukup akrab dengan adiknya yang baru balik dari malang-melintang ke pulau jawa. tapi begitulah, orang2 yang menyimpan kedengkian terpendam melihatnya posisiku begitu sangat lemah saat ini. apalagi toh bagaimanapun dia dan siapapun adalah bagian dari dan telah ter-influence opini bersama yang mungkin tengah beredar sekarang tentangku disini.

bersambung...

MENARA SELULER, SERRRRR part I

"Cintailah sahabat Anda sampai ke suatu batas, karena mungkin ia akan berbalik menjadi musuh Anda di suatu hari. Dan bencilah musuh Anda hingga ke suatu batas karena mungkin kelak ia berbalik menjadi sahabat Anda."


akhirnya sejak beberapa hari terakhir ini tepat di depan seberang rumahku (<-- maksod looo?) berdiri kokoh-menjulang tinggi sebuah menara operator selular. proses negoisasi (mungkin sewa tanah-keluarga kami) telah berlangsung berbulan sebelumnya (sebelum aku pergi dan kini terpaksa balik lagi dari javanese, sementara). sepertinya jadi "deal" karena siapa yang enggak doyan duit. dan entah persoalan apa yang nanti akan bersisa belakangan. walau tahu, walau aku cucu lelaki tertua di keluarga besar nenekku (dan mungkin membuat was2 beberapa pihak, sehingga sangat senang sekali kalo aku mampus saja di tanah jawa sana), seperti biasa aku "tak mau tahu" dan memang, seperti biasa lagi, tidak terlalu dilibatkan. dan buat gw sebetulnya ndak masalah, fuck off that fuck'n shit. demi kecintaan gw pada kehidupan yang "sederhana" dan "kebencian" menyala2ku kepada manusia2 matree, demi alloh dan rasulnya, gw bersumpah lebih cenderung untuk "tak mau tahu" soal duit panas ini (meski kadang2 terpikir--apalagi pas sedang kelaparan--sayang juga ya hehe). tapi kita manusia hidup berkait2 dan andai saja gw bisa menemukan landasan ilmu untuk lepas dari kaitan ini. dan dalam posisi yang ada, gw pun mesti berbuat yang terbaik yang gw bisa. nb:bukan orang lain seharusnya yang merasa paling tahu apa yang gw bisa.

sebuah persoalan "kecil" yang tentu saja telah tersumbu cukup lama muncul beberapa hari kemaren. alhamdulillah, belum konflik internal keluarga dan mohon maaf gw selalu berusaha untuk saat ini menghindari berbicara dengan objek ini sebetulnya. tapi lebih penting: gw punya kebencian (lagi2 benci mulu, kamu ih) pada kebusukan yang ditutup2i, munafik. hanya sabar dan tawakal (sok alim *mode on*) yang menjadi obat sifat kurang baikku karena terlalu "agresif" ini. jadi persoalan yang muncul kemaren berkait menara selular dan cipratan duitnya ini adalah: sekelompok orang yang ngakunya mewakili pemuda setempat (babi elo semua, gw-lah yang dari bayi sampai jadi pemuda ganteng seperti sekarang ini tumbuh dan besar di atas tanah berdirinya menara seluler tersebut goblok!) datang menghentikan proyek dan tentunya uud $$. sebetulnya ini lumrah (dalam kebudayaan anjingg masyarakat kita saat ini) dan pimpro proyek menara tersebut pun kabarnya sudah menyiapkan dana untuk itu sebelumnya. tapi cara yang mereka gunakan dengan tidak mengomunikasikannya dengan keluarga kami terlebih dahulu (atau bisa jadi "pihak keluarga" gw yang serakah ndak mau bagi2 rejeki) dan kabarnya sampai menghentikan kegiatan pekerja sampai pimpro (dan tentu keluarga kami) datang sungguh memilukan, apalagi dalam tradisi orang minang.

gw sendiri ada di rumah waktu itu dan sengaja tidak "ikut" melihat ke lapangan karena khawatir bisa2 gw bunuh orang. dan gw haqul yakin benar (meski membunuh sesama muslimnya kemungkinan besar salah); yang gw takutkan--yah terpaksa sedikit disebutkan--hanyalah kalo ada orang yang mati di tangan tak berdosaku ini hi2 atau gw sendiri yang mati dikeroyok mereka rame2 ortu gw pasti memilih jalan yang lebih mudah untuk menyalah2kan gw (yang berada dalam kekuasaan-hegemoni-otoritas mereka sepenuhnya) daripada repot2 dan "mungkin takut" untuk, justru, berkonflik dengan orang lain dan merusak imej dan gengsi. berkonflik dengan orang lain buat gw nggak masalah selama gw yakin berada di "jalan yang benar" dan demi alloh dan rasulnya--setidaknya untuk saat ini, sebab kalo udah kawin dan bekeluarga bisa membuat seorang lelaki menjadi "pengecut" kabarnya--tidak ada manusia yang bernapas di muka bumi ini yang bisa membuat gw takut selain hitler barangkali he2. gw nggak tahu, waktu itu om pun sampai datang apa sampai nonjok tuh bujang2 kampung gadung. sepertinya uwan terlalu pengecut untuk menangani sendiri deh. yang jelas penjelasan sejauh yang gw denger uang memang tetap akan dibayarkan dan saat itu mereka melakukan perundingan sesudahnya. anjing lo babi2, gw yang sehari2 sewaktu disana masih sawah (sekedar) mangaro atau ngangkut2 jerami saja ndak dapat apa2 (<-- ternyata gw babi matree juge yee he2). ah, biar kere asal cuek. gw sengaja nggak mau tahu dan mendengar lagi sebab khawatir es-mosi, apalagi pas bulan puasa begini. sempat terpikir waktu itu diam2 mau menemui pimpro menara bts tersebut, meminta uang jatah "pemuda" tersebut karena gw lebih pantas mewakili nama "pemuda setempat" tapi kemudian gw simpan duitnya di kolor gw dan menunggu kira2 siapa dari pemuda2 kampung ini yang harus gw jabanin atu2. dan apa mereka punya nyali yang sesungguhnya (ingat: gw lahir hingga besar disini dan tahu persis karakter dan peta per-preman-an disini, apalagi tradisi minang sangat tidak menggampangkan terjadinya konflik)? masalahnya cuma satu: sebelum sempat "bertempur" dengan bajingan2 katrok tersebut gw justru harus akan dimusuhi dulu oleh keluarga sendiri...

beberapa hari sebelumnya di awal ramadhan (sewaktu baru balik dari jawa dan masih dalam masa penyembuhan penyakit) gw juga sempat hampir bikin ribut sama si pedagang sate madura yang entah orang madura atau palembang di sebelah rumah sana. waktu itu (malam2) gw denger ada orang yang teriakin kata2 kotor dan ternyata dia. sebetulnya gw juga bukan orang suci dan bisa maklum kenakalan remaja, tapi tetap saja ndak enak dengernya di kuping diteriakin orang (apalagi orang asing) di depan rumah sendiri. bukan sekali dua kali gw keluar rumah buat marah2 jika melihat ada segerombolan anak muda agak "nakal2" ngumpul di depan rumahku. dan malam itu ke arah muka si palembang sempat pula tinjuku melayang ringan sehingga bisa ditepisnya hingga kami dilerai. untung ortuku juga (mungkin) ndak tahu karena memang sepi waktu itu. dan gw segera pergi karena ingat "justru hal lain" yang bakal bikin gw repot kalo sampai ribut2 disini, lagi pula ingat bulan puasa. gw bukan preman disini dan nggak terlalu punya record kriminiil disini (satu2nya barangkali yang membuat pemuda2 setempat berpikir 10x untuk ribut denganku barangkali adalah status omku yang polisi preman atau kemenakan bapakku yang tentara dan tentu juga status sosial keluargaku sendiri <-- dan inilah sebagai akan kusinggung nanti: menjadi bibit dengki) dan bersilat juga ndak bisa, tambah kurus penyakitan pula. tapi soal mental boleh diadulah (walau sepertinya belum terlalu teruji nih). inilah bodohnya gw kalo sampai "tarung" beneran: modal esmosi doang. dan untung kadang gw kembali bisa kontrol diri. dan pemberani dan bernyali buat gw bukan berarti tak punya otak dan perhitungan. tapi kalo dalam keadaan terdesak (ini juga yang kukuatirkan, terlebih saat2 seperti sekarang ini): bisa2 gw berbuat hal diluar kontrol dan perhitungan yang baik. tapi siapa takut arggghh!

bersambung...

TV LCD MUBAJIRR MESSJID PASAR TAkWA

Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama... (Richards Dawkins, Pakar Biologi)


setelah berhari2 berdiam di rumah (diam dalam artian betul2 berdiam dan bicara hanya yang perlu2 saja) dan paling jauh hanya sekali pergi ke tabing buat nge-rental vcd (yang hingga kini belum selesai kunonton) dan beli sebungkus teh cap petay dan sekali lagi buat balikinnya dan ngerental warnet, akhirnya jumat pekan kemarin aku berkeluar diri juga dari katak di dalam tempurung. sabalun jumatan gw nyetop angkot ungu jurusan lb minturun-pasar raya dan nyaris telat ikut sholat jumatnya. gara2 nyempatin mandi agak siangan dikit (kalo ga salah) setelah (seperti biasa kalo berdiam di rumah) bisa berhari2 ndak mandi2 (toh tak akan ada yang mencium baunya selain gw sendiri, dan baru hanya bisa berkhayal di malam sunyi sepi akan dicium oleh seorang-atau beberapa-isteri).

nyampe di pasar gw shalat ke taqwa sebagai yang terdekat dan termegah. ramai banget. di bulan romadhan spt biasa selalu ada penggelembungan angka (fiktif) orang beriman dus para peminta2 di sepanjang tangga yang tak panjang juga. ah jadi ingat ceramah tafsir qurais shihab (loeloesan al-azhar pertama sebagai pakar koran namun spt-nya punya nama agak dicela oleh sebagian aliran hi2). ada ayat yang menyatakan bahwa mendapat seisi syurga itu tidak ada apa2nya dibanding kenikmatan beramal dengan mendapat ridho ilahi. nah ridho ilahi itu apa? alangkah abstraknya. bahkan jangankan syurga yang masih ilusi, jangan2 orang jadi rajin ber-tuhan untuk meminta2 sukses duniawi-nya. kongkrit dan riil. naudzubillahi min dzalik...

danm ngomong2 tentang korelasi dan kohesi ibadah dengan kepentingan dunia(wi) ini ada hal menarik yang guwa lihat sewaktu sholat di mesjid (aliran) muhammadiyah ini. selain tampilan fresh masjid ini yang telah mulai dipermak sejak beberapa bulan yang lalu adalah yaitu yakni ada terdapatnya dua buah layar lcd yang menggantung di dinding tengah ruang lantai sholat jamaah. tipi ini tersambung onlen ke kamera yang men-shoot mimbar dakwah dan sampingnya tempat posisi shalat imam. yang menarik untuk dikritisi buat saya adalah: kayaknya ini "proyek" gagal deh. dan kalo bicaranya dalam bahasa yang ada landasan celaan agama adalah adanya kemubadziran. secara umum saya memang termasuk orang yang agak terlalu ekstrem untuk mengkritisi budaya mubadzir dalam (justru) "proyek2" agama2an ini. tapi lihat argumentasi yang cukup kuat berikut ini:

tv lcd tersebut menurutku ukurannya tanggung besar alias terlalu kecil kalo dilihat dari barisan belakang shaff. tambah pula posisi dinding tempat menggantungin dua buah lcd tersebut adalah pada 1/4 bagian depan bukan persis di tengah2. jadilah lcd yang mungkin berukuran 29-32 inch ini hanya terlihat jelas dari tengah. nah kalo mau fungsional lcd ini untuk membuat (seluruh/sebanyak mungkin) jamaah bisa melihat langsung penceramah atau imam di depan kenapa ukuran lcd-nya nanggung gini dengan posisi dinding yang seperti itu? kenapa tidak yang ukuran 54 inch aja sekalian, toh secara anggaran kan tanggung udah dikeluarkan (saya tidak menuduh ada yang disunat lho, karena aku emang ndak punya buktinya selain kemungkinan berdasarkan analisa data lain). adakah ini proyek asal2an keluarkan anggaran (umat) yang (sekali lagi dalam bahasa agamanya biar lebih kuat posisiku he2) jadinya mubazir? afala takilun, tidakkah orang2 proyek lcd tersebut tidak mempertimbangkan sebelumnya hal2 yang gw kemukakan di atas? celaka betul kalo sampai ini disengaja "asal ada" demi tetap keluarnya pos anggaran (dana umat) yang emang telah tersedia, sebagaimana budaya proyek akhir tahun asal2an dinas2 pemerintahan untuk menghabiskan anggaran negara. anjxxxng!

kemudian jika kita ambil preseden estetika arsitektural kepada saudi misalnya, sejauh yang guwa lihat pada siaran taraweh dari masjidil haram, ga ada tuh kayaknya disana (yang emang kaya raya) dirasa perlu pake tipi2an (lahh foto2 saja bagi sebagian ulama zuhud sebisa mungkin usaha dihindarkan). lagipula tidakkah dalam shalat yang macam2 begini justru akan mengganggu kosentrasi makmum. emang apa yang mau dilihat? pantat imam? saya bisa mengerti bahwa bagaimanapun ini juga terkait dengan lahan nafkah sebagian pihak tapi tetap saja jika nyata kemubadzirannya seperti ini kurasa tetaplah ini tidak bisa dibuat2 pembenaran. bukankah bersabar dengan kemiskinan itu adalah jalan bagi orang2 yg jujur dalam beriman (sorry yaw dalam hal ini guwa siap berdebut dengan siapapun individu dari aliran islam matre yang kurang ajar banget menafsirkan muhammad sebagai pria kaya raya dan "sukses duniawi"). apalagi jika mendapat harta dengan cara yang syubhat, apalagi haram; meski manusia tak tahu dan bisa ditipu.

tapi begitulah, inilah pasar dunia, mesjid juga harus bersinggungan dengan kenyataan. dan tampilan agamis dari luar tak ada menjamin bahwa secara main belakang toh setan juga ternyata. dan celakanya kadang karena terpukau oleh tujuan baik orang seolah lupa (pura2 lupa) atau memaafkan cara haram yang digunakannya. sebagian orang takut bahwa jika kita terlalu saklek dalam beragama maka agama ini tak akan maju. memang! agama ini tak butuh maju tapi benar! dan banyak orang yang selalu mencari2 pembenaran jika sudah terkait kepentingan (kantong)-nya. oya guwa setan juga sebetulnya, jadi ndak usah khawatir dan heran kenapa di tulisan ini menggunjingkan celanya orang2 yang terlihat dari luar beriman. sekali lagi kubilang, sebagai penggemar aesthetic dan keindahan, jika memang bisa dianggarkan tv dengan lcd layar 54 inch dan dimatikan saat shalat mungkin (sekali lagi mungkin) memang bagus juga karena si tuhan bukankah juga suka ke-cantik-an. tapi kalo ndak sanggup yang engga usah maksa, apalagi mirisnya kondisi ekonomi masyarakat kita tidaklah se-wah bangsa2 di timteng sana misalnya. hmm... jadi pantas saja sebagian khawaridjs "teroris" menjadikan masjid sebagai sasaran pem-bom-annya ya?

GEMPA TASIKMALAYA: DEKONTRUKSI BAHASA CINTANYA

seorang rekan jadi tambah tak percaya kepada tuhan, melihat aku makin hidup miskin sengsara dengan kian mendekap erat iman di dada; dasar anjinggg2 dunia fana, apa loe pikir beragama itu berhadiah unta dan sepasang payudara??

x: kadang ya kadang ndak ... randomize terserah ialah,
y: dia bener hehe dia punya otoritas dan mutlak meski tafsirnya bermacem,
x: akh jadi nyerah aja nih ... dasar makhluk pesimis,
y: mungkin perlu koreksi memaknakan nyerah dengan "nrimo" tapi menyandingkan berserah dengan kata ambisious sudah pasti lelucon,

dan dia tawa, karna itu terjadi di ke akhir hari kini ^_^


... ia akan dibayar sebesar US $ 10 ribu. Merasa tertantang, Banks memutuskan melakukannya. Kuda jantan pun dikeluarkan. Banks sendiri tengah bersiap-siap melakukan aksinya. Tanpa menunggu waktu Banks berhubungan seks dengan kuda tersebut. Tak beberapa lama, Banks merasa pusing. Ia pun jatuh pingsan. Tubuhnya kejang-kejang. Banks segera dilarikan ke rumah sakit. Selama di rumah sakit, Banks merasa tersiksa. Dia meraung-raung kesakitan. Apa yang terjadi? Sesaat setelah penis kuda dicabut dari vagina Banks, nampak dari segar mengalir deras. Banks tak sadarkan diri. Melihat itu, si pemilik kuda langsung mengambil tindakan. Banks pun dilarikan di rumah sakit terdekat. Beberapa undangan yang hadir di pesta nampak shock. Mereka tak menyangka sesuatu bakal terjadi pada diri Banks. Padahal sebelumnya, Banks terlihat baik-baik saja. Beberapa dari undangan yang hadir, mulai saling berbisik. Ada yang membodohkan tindakan Banks. "Dia itu konyol sekali. Masak ngeseks sama kuda sich."

Namun ada pula menyayangkan kejadian tersebut. Menangis. Meratapi nasib si bintang porno. Dan berdoa semoga Banks lekas sembuh. Sementara di rumah sakit Banks masih bergelut dengan penderitaannya. Dokter yang memeriksa menyatakan, vagina Banks mengalami sobek yang cukup lebar. Dinding-dinding vaginanya robek. Ini yang menyebabkan Banks mengeluarkan darah cukup banyak. Dokter yang memeriksa, tak tega melihat penderitaan Banks. Banks terkena karmanya sendiri. Setiap kali siuman ia meronta kesakitan. Tangan dan kakinya tak henti-hentinya bergerak. Dokter dan perawat yang menangani Banks nampak kewalahan. Dokter pun sempat melakukan operasi. Dinding vagina Banks dijahit hingga 30 jahitan, tapi hal ini tak membuat darah yang keluar berhenti. Justru semakin banyak.

Dokter akhirnya lepas tangan. Mereka tak tahu bagaimana cara menghentikan pendarahan tersebut. Hanya satu yang bisa mereka lakukan, yakni memberi obat bius untuk menenangkan Banks. Dokter hanya bisa memberi obat penenang. Namun, hal itu tak pernah menghentikan pendarahan di bagian alat kelaminnya. Darah terus mengucur. Bersamaan itu, Banks pun meronta-ronta bagai orang disiksa. "Ahhh, ahhh, ahhh," ini bukan rontaan Banks ketika bermain film. Bukan pula rontaan menahan rasa nikmat. Sebaliknya, ini adalah rontaan orang yang sedang menghadapi sekarat. Dokter sudah lepas tangan. Mereka sudah tak sanggup menyembuhkan Banks. Hanya waktu yang bisa menentukan, apakah Banks bisa bertahan atau malah sebaliknya. Bahkan, anggota keluarga yang menjenguk tak sanggup melihat penderitaan Banks. Demikian pula dengan Banks, dia tak lagi mengenal sanak saudaranya.

Rintihannya, teriakannya, kepedihannya, membuat semua orang gemetaran. Beberapa dari keluarga mereka malah menyarankan agar dokter segera menghilangkan rasa sakit Banks. Artinya, Banks harus disuntik mati. Sayangnya para dokter tak sanggup melakukannya. Tak pelak, gadis berkebangsaan Jerman dan Italy ini pun dipaksa untuk menahan siksaan yang teramat pedih. Tak terasa sudah hampir 10 jam Banks tergeletak menahan sakit. Darah masih mengucur dari kemaluannya. Entah sudah beberapa kali perawan mengganti kain. Bersamaan itu, seorang pastur dan pendeta didatangkan. Mereka mendoakan Banks. Berharap agar Banks bisa selamat. Nahas, Tuhan berkata lain. Setelah sekian jam beradu kekuatan melawan maut, akhirnya bintang porno dunia itu menghembuskan nafas terakhir. Banks meninggal. Kontan, seluruh dunia menangis. Kini para penggemar porno tak bisa lagi melihat acting Banks. Kematian Banks sungguh tragis. Matanya terbelalak. Kemaluannya tak henti hentinya meneteskan darah ...

MERANTAU 2.1 part 8

Bagaimana jawab Muhammad kepada Tuhannya sekiranya ia menghadap-Nya sedangkan ini [sejumlah harta] masih ada di tangannya? (Muhammad)


selanjutnya aku juga mau cerita sedikit perjalanan ke blok m sebagaimana kujanjikan sebelumnya kebetulan masih agak ingat nih. setelah lama bingung bagusnya nyari sepatu yang murah di jakarta ini dimana aku akhirnya jalan ke blok m, sekalian nyari kolor. edannn seluas itu depok apalagi dki jakarta gw bingung sekedar buat nyari sepatu dan kolorrrr! dasar wong kere!

dari depok aku naik kopaja langsung nyampe blok m. awalnya truck ini nurunin penumpang di jalan ndak masuk terminal tapi aku ikutin orang aja (tepatnya: segerombolan anak gadis) dan tak jauh sampailah di blok m. lalu putar2lah aku di mall bawah tanah itu. emang cukup banyak juga yang jual sepatu disitu. tapi saat itu aku ndak tau pasaran harga dan survey2 aja dulu. kemudian aku juga nandain sebuah merk kolor yang kupandang paling irit di sebuah supermarket. tidak membeli dulu karena mana tau nanti liat barang bagus di kaki lima di tempat lain yang aku juga ndak tahu dimana. kemudian gw keluar dari mall bawah itu buat nyari tempat sholat, muter2 dan nanya2 akhirnya gw mutusin pergi sholat ke atap gedung blok m square di lantai 9 entah 10 entah 11. ada lift sih jadi lebih efektif dibanding nyari mesjid di tempat lain yang ku takhafal dan mana tahu jarang karena di sekitar sini kayaknya ndak ada komplek perumahan. masuklah aku ke salah satu mall yang atas tanahnya blok m yang kayaknya masih baru dan kios2nya masih banyak yang kosong itu. haha jadi kepikiran juga pengen jadi pedagang mall nyewa kios waktu itu, tapi jualan apa yah kolor aja kaleee. lalu naik lift lah aku dan sampai jua di atas. mushalla blok m square ini betul2 dibuat di atap paling atas dan di tempat terbuka. masjidnya kulihat adalah masjid terindah yang pernah dibikin di mall yang seingatku pernah kulihat.

bandingkan misalnya dengan mesjid/mushalla di depok town square yang pengap di tengah2 tempat parkir yang gelap. gw bahkan sempat serasa sedang berada di lorong2 penjara waktu turun tangga dari parkir luar ke situ waktu itu. kebetulan di sekitar stasiun pondok cina inilah mushalla yang terdekat (yang kutahu) dan pada waktu itu melaksanakan shalat jumat. padahal di mall itu kayaknya ada banyak mushalla tapi mushalla utamanya aza yang menyelenggarakan jumatan cukup parah. begitu pula margonda city yang segede bagong itu mushallanya kecik cilik di tempat yang sulit diakses pula. kembali ke atap blok m square, dari sana pemandangannya indah luar biasa ke se-antero dki jakarta. cuma sayang kabut polusi cukup menghalangi pandangan jauh mata. seingatku disana aku sempat tidur pula sebentar dan cukup lama pula lihat2. karena merasa asyik aku memutuskan menunggu hingga malam untuk melihat pemandangan dari atas sana. menjelang maghrib aku turun dulu ke bawah dan putar2 lagi di seputaran kawasan blok m untuk nyari2 sepatu dan kolor. kebetulan di dalam mallnya sendiri tak ada yang cukup menarik untuk dilihat selain sebuah panggung organ kecil di tengah2 mall yang sepi pengunjung. panggung kecil melantai dan lebih mirip ngamen atau karokean lah. lagian norak pula aku yang tampang kumuh dan gembel ini untuk lama2 lihat disana.

sewaktu lagi muter2 aku lihat counter bakso lapangan tembak senayan dan tergoda oleh iklan pangsit gorengnya. sempat ragu untuk masuk karena khawatir harganya bokkk tapi mungkin gara2 balik lagi mentok menyusuri trotoar aku akhirnya masuk kesana. kebetulan emang lapar dan ternyata harganya emang luar biasa. haha merasa lucu juga waktu pelayan warung bakso ini berusaha bersikap ramah kepada gw secara profesional tapi dari sorot matanya yang melihat kepadaku terbaca antara menertawakan dan kasihan. memang luar biasa manajemen hati yang harus dimainkan jika mencoba bermain2 dengan perasaan. gw emang biasa cuek dalam hal penampilan. gw emang miskin tapi setidaknya belagak dikitlah biar tidak dipandang hina orang terus cos orang baek jumlahnya tak banyak di muka bumi terkutuk ini hehe. oya satu hal yang menarik lagi disana kalo ndak salah juga lagi makan sodara irwan prayitno dan istrinya. mungkin juga karena dari luar lihat tokoh ini gw jadi kesedot pengen masuk sana meski gw juga ndak menyapa dengan sok kenal sok akrab (kadang2 gw bisa juga segila ini, spontanitas aja). waktu gw tanyain sang pelayan dia bilang engga entah karena si bego ini yang ndak tahu atau emang gw yang salah kira. cuma sayang pak irwan tidak bayarin makan gw, cuma tersenyum entah kasihan entah menghina hihi.

beres gw makan terdengar suara adan maghrib dan bergegaslah gw balik lagi ke atas blok m square. oya disini jugalah tercipta ide untuk status facebook ku yang kira2 berbunyi: "hendak loncat dari atap blok m square mana tau bisa terbang, terdengar suara adzan jadi teringat hendak sembahyang" mungkin karena terlihat bagai orang frustasi seorang teman facebook/bloger berinisial "gr" yang sepertinya hidup sebagai anak gadis perantauan di negeri china menunjukkan atensinya. selesai sholat aku lanjutkan menikmati malam dan kelip gedung2 ibukota dari atap mall yang bukan tak mungkin jadi target teroris ini. norak ya gw. mungkin sampai isya gw disana. kemudian aku turun dan agak terburu2 untuk pulang karena khawatir ndak ada kopaja itu tadi dan gw juga ndak tau pasti dimana mesti menunggunya. sebelum pulang akhirnya gw beli sepatu sama sesama urang awak di kaki lima sebelum masuk lagi ke mall bawah tanah terminal blok m. di supermarket mall gw jadi beli kolor yang ditandai siang tadi. lalu dengan terburu2 dan asal nebak gw keluar di salah satu pintu terminal ke atas. akhirnya malah gw nunggu kopaja ke depok di luaran terminal aja dan nemu. nyampe di rumah aku baru sadar sesuatu: sewaktu beli kolor di supermarket yang pegawainya terlihat masam (entah karena udah kelelahan atau jatuh cinta padaku) dan aku juga entah karena merasa ndak enak, kecapekan juga, sehingga serba linglung melihat barang yang sebetulnya udah dari tadi kutandai, aku jadi lupa lihat ukurannya. dan terbelilah kolor yang ukurannya agak kecil dan bersempit2lah burungku sekarang....

MERANTAU 2.1 part 7

Pertama mereka tidak mempedulikanmu, lalu menertawakanmu, lalu mereka berkelahi denganmu, dan kamu menang. (Mahatma Gandhi)


sehabis kecemplung got tanah pinggir lapangan bola ini aku pergi ke area kampung bandannya dimana yangmana kamanaeuy terdapat sebuah mushalla. sholat dulu kemudian disini. pas orang lagi jamaah, kemungkinan waktu ini udah ashar kalo aku zuhurnya di mushalla yang gede tadi bukan sebaliknya (maklum kemampuan mengingat terbatas nih euy). oya kebetulan ingat lagi waktu di mushalla gede dekat st.kota tadi aku melihat seorang anak yang kayaknya jadi pedagang asongan sedang istirahat di mushalla sambil berbenah barang dagangannya yang semacam kalung asesoris getho. wah jadi kepengen juga pkl waktu itu daripada gw jalan2 ndak jelas macam gini hi2 cuma bingung juga gimana caranya karena maklum non-pengalaman dan belum ketemu ide barang menarik apa yang hendak kujual di jalanan selain ide semula. ya sewaktu masih di padang dan mungkin sudah sejak 2 tahun sebelumnya aku emang udah punya ide jual newsletter humorku di kereta2 dan jalanan ibukota jakarta. waktu pergi sekarang aku bawa dua eksemplar yang sudah kucetak jadi tapi ya hingga pulang belum sempat juga jualannya. di jakarta ini pasti banyak orang stress maka aku agak yakin barangku bisa kejual disini, masalahnya cuma aku belum terbiasa jualan aza. sempat juga kepikir jual ke pos2 satpam di sepanjang bantaran kuningan-sudirman daripada manyun lho pak. tapi masih kepikiran apa hasil yang didapat tidak justru tekor dibanding ongkos yang keluar?

kembali ke kampung bandan, waktu habis sholat disini dan liat2 penduduk miskin kota di sekeliling mushalla itu jadi pengen juga tinggal disana. tapi ragu juga karena jaraknya lumayan jauh juga kalo ditempuh dengan jalan kaki ke st.kota sebagai alternatif transportasi murah kemana2 di jakarta. ndak tahu juga kalo ada jalan2 tikus yang deketnya coz kalo dari peta sebetulnya sih ndak jauh2 amat dari stasiun. cuma gw aja yang keliling2 jauh untuk sampai kesana, maklum buta wilayah dan bondo nekat. waktu udah nyampe disana dan lihat rel kereta baru sadar kalo aku jalannya udah muter2. aku tidak bisa lagi mengandalkan ingatan untuk menebak2 arah berdasarkan peta karena tempat ini bukan sebuah susunan blok yang cukup rapi. untuk balik lagi ke jalur semula merasa sayang. tapi waktu itu aku tidak tahu kemana jalan yang akan kutempuh hendak membawa selanjutnya? ke sarang penyamunkah? ataukah sarang gadis perawan?

next. akupun meneruskan aspal setapak yang kususuri, muter2 bikin bingung. di sebuah persimpangan yang mulai ketemu jalan besar (bahkan di atas ada jalan tol ke ancol atau priok) akupun memutuskan untuk balik ke arah datangku yang kuperkirakan. tapi tidak balik di jalan semula lagi, ndak asyik dong. karena di arah sebaliknya sejauh mata melihat aku tidak melihat parapatan lampu merah. semula gw kan menargetkan akan melintasi jalur kereta sebelah timur st.kota lalu belok ke barat dan balik ke stasiun untuk pulang tanpa melewati lagi jalur keberangkatanku ke posisi ini. tapi ternyata aku tetap berputar2 di arah timur lautnya. masalahnya di stasiun segede kota jalur kereta tidak hanya satu, baik yang ke bogor, bekasi, atau ancol, atau malah banten. jadi bagaimana gw memastikan sudah berada di sebelah selatan st. kota? belakangan kulihat peta ternyata emang jalan gede yang melintas di sebelah timur stasiun ini masih jauh minta ampun. kecuali mungkin kita lewat jalan setapaknya tikus2 kota yang sejauh kuberjalan tak kulihat.

balik arah aku malah tambah bingung karena wilayah sebelumnya yang kuperkirakan tidak juga tampak. sayup2 dari jauh aku melihat bangunan2 kota tua dan gw pun mematok arah ke arah sana. tapi ya ampun ternyata muternya jalan besar tersebut jauhnya minta ampun. gw berjalan kaki di pinggir jalan yang penuh debu dan macet pula saat itu. kalo nanya selain belum merasa terlalu perlu nanti malah disuruh naik angkot untuk keluar duit lagi alih2 pula kalo yang ditanya ternyata tukang ojek yang bawa golok pula hihi. akhirnya dibawah lindungan flyover tol yang disesaki rumah2 gembel ibukota aku memutuskan berhenti mengikuti alur jalan besar. di pinggir jalan kulihat sekelompok bencong sedang berdiri dan disana ada jalur tikus yang arahnya ke sayup2 gedung kota tua nun jauh disana. masuk jalur tikus di tempat yang tak kukenal adalah sebuah resiko, mana tau aku musti melewati sarang preman, pemabuk dan sejenisnya. tapi aku ambil resiko itu karena udah stress kena debu di pinggir jalan besar. bahkan sewaktu lewat di depan bencong2 itu aku juga khawatir jangan2 gw ditarik ke semak2 disana untuk diperkosa hehe. kebetulan itu ditempat yang sepi pula dan sedikit melintasi terowongan bawah rel kereta dan sedikit petak sawah tak terurus (jadi emang besar kemungkinan ada sarang penyamun disini).

ternyata oh ternyata jalan kecil ini tembus ke sebuah semacam komplek pergudangan kumuh dan akhirnya keluar di jalan semula aku masuk ke wilayah kampung bandan. semula aku ndak ingat jalan itu, maklum perjalananku selama ini muter2 sembarang arah, kadang belok kiri, kadang serong kanan jadi lieur deh. aku malah jalan ke arah yang balik lagi ke kampung bandan bukan yang ke arah stasiun (yang nanti juga kudu belok2 lagi) dan setelah beberapa ratus meter baru rada2 ingat setelah melewati sebuah gedung showroom mobil yang bisa jadi penanda. langsung aja kemudian ngeluyur muter arah jalan 180 derajat. dari sini aku menempuh track semula untuk kembali ke stasiun, kalo ndak salah nyampe kos juga udah cukup malam, tapi masih dapat kereta ekonomi coz yang dari kota ke bogor cukup banyak. fiuhhh capainya minta ampun hari itu, mungkin ada belasan kilo sudah jalan yang kutempuh waktu itu. cuman buat liat2 doang menelusuri rasa keingintahuan dan membunuh bosan, wisatawan tapi kere. tapi tentu sedikit banyak ada pengetahuan, mulai dari geolokasi hingga geolkultural, yang bisa kudapat.

MERANTAU 2.1 part 6

Saya tidak tahu kunci sukses, tetapi kunci kegagalan adalah mencoba menyenangkan setiap orang. (Bill Cosby)

Gerilyawan menang jika mereka tidak kalah. (Henry Kissinger)


okay sekarang bagian tambahan dari hal2 mungkin menarik yang tadinya lupa dan belakangan baru kuingat. salah satunya adalah perjalananku dengan kedua kaki ini seharian penuh di sekitar kampung bandan, jakut. nama tempat ini sendiri baru kutahu bernama kampung bandan setelah mencek jalur yang pernah kutempuh di peta kemudian. tempat ini letaknya sekitar timur laut dari stasiun kota. sebelumnya jika lihat peta mungkin fokusku pada arah jalan ke mangga dua atau seputaran gunung sahari hingga monas. sebelumnya aku pernah punya target untuk jalan dari st.kota menyusuri sepanjang rel ke selatan sehingga kalo capek tinggal naik krl dari stasiun terdekat. dengan mengikuti jalur kereta lebih mudah untukku mempelajari dan mengingat peta rutenya dibanding asal jalan muter2 yang lain; cause gw engga punya peta tercetaknya ataupun gadge portable untuk membuka file virtualnya di jalan jadi hanya ingatan mesin kepala ini yang bisa kuandalkan dengan tidak perlu menyedot pulsa jika mengakses gmaps misalnya hehe.

tapi rencana ini malah ndak jadi. suatu hari entah ada angin apa, entah pengen jalan2 aja karena suntuk di kos, gw pergi ke kota. awalnya gw keluarnya sih di pintu selatan yang jika kita lurus jalan ke kiri sepanjang 2-3 kiloan maka akan sampai di pusat grosir mangga dua dan terus hingga ke sunter, bekasi, karawang sana. tapi hari itu aku melangkahkan kaki ke arah kanan, ternyata muter ngeliling hingga pintu utara stasiunnya. oya mungkin juga hari itu gw udah rencanakan untuk jalan2 mencari dimana lokasi yang disebut wilayah kota tua (halahh macam turis aja guwa). di samping barat stasiun ini seberang jalannya adalah halte busway yang ditembus lewat terowongan ke bawah. gw juga baru sekali lewat shelter canggih ini, kalo ndak salah dalam salah satu episode main ke pondok cabe. dan kemudian di sebelah utara st. kota ini ada halte yang bisa dan biasa jadi tempat tongkrongan bus gede dalam kota jakarta. nyampe di pintu utara ini gw sempat santai2 dulu di halte itu nguping obrolan preman2 disana.

ternyata oh ternyata di halte ini kayaknya yang dominan preman sunda. ya sunda betawi atau sunda pinggiran jakarta macam bogor, banten, dan karawang kalee. salah satu yang menarik dari obrolan mereka yang kebetulan sekarang kuingat adalah kata salah seorang preman (atau awak transportasi) sana pada preman lainnya bahwa ia cuma percaya omongan orang sunda (teman premannya yang lain) kalo ada kata demi allohnya. good, good harusnya gw tahu tekhnik ini dari dulu hehe. kemudian setelah bosan duduk2 dan membatalkan niat melamar pekerjaan untuk jadi preman disana gw melanjutkan jalan ke arah utara dan tak jauh sampailah aku di museum area kota tua yang ada wisata sepeda ontelnya itu. disana aku kemudian makan nasi padang pkl yang dibandrol serba 7000 tapi kudu beli cai botol sendiri haha. abis makan, minum, dan udut aku gerak nyari tempat sembahyang. sempat nanya seseorang yang awalnya terlihat melihat buruk kepadaku (karena tampang gembel kali) dan langsung jadi baik ketika aku nanya2 soal sholat. ia ngajak ibadah di kantornya aja tapi aku menolak sambil tersenyum tak bermuka masam dan nerusin nyari mushallah dan atau mesjid.

ketemu sebuah mushalla di dekat terminal angkot, tapi karena bayar kencingnya aku nerusin jalan nyari yang lain yang gratis hi2. muter2 lah aku timur barat selatan utara hingga ternyata balik lagi ke belakang gedung gede yang di depannya ada halte bis preman sunda tadi. mesjid lumayan gede, aku mungkin sempat tiduran sebentar dulu disana, atau bisa jadi episode tidurannya setelah balik karena kecapekan dari wilayah kampung bandan nanti. nah dari sini baru aku bergerak lagi asal jalan. ya waktu itu tujuan paling ke area kota tua tapi aku justru melangkah terlalu jauh ke arah timurnya. hingga akhirnya aku sampai di kampung bandan ini. sebuah pemukiman kumuh di sesaknya kota. wilayah yang agak jarang gedung dan banyak semak2 milik pt kereta api mungkin, hanya dari jauh keliatan gedung2 tinggi mengelilinginya. disini aku sempat keserempet ke dalam got kecil dan untung cuma kaki yang kotor2 dan sendal tak putus. ya aku jalan jauh ini cuma make sendal, waktu itu mungkin belum beli sepatu (oya jadi ingat, nanti juga akan ada episode ceritaku jalan2 ke blok m square buat beli sepatu dan seperang kolor yang salah ukuran hihi).

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...