Minggu, 20 September 2009

BOEDAYA CORRUPT V.D-MANA-MANA

"Segosegawe ternyata merupakan kependekan dari "sepeda kanggo sekolah dan nyambut gawe", yaitu merupakan gerakan mengembalikan dan membangkitkan nilai kebutuhan masyarakat untuk menggunakan sepeda sebagai salah satu alternative moda transportasi jarak dekat. Gerakan segosegawe dalam jangka pendek agar dapat membangkitkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat bahwa menggunakan sepeda sebagai alat transportasi alternatif dapat mengurangi polusi dalam rangka antisipasi pemanasan global. Dari sisi implementasi kebijakan, target awal adalah mengajak warga jogja untuk menggunakan alat transportasi sepeda untuk ke sekolah, bekerja maupun kegiatan lainnya dalam jarak dekat. Sedang dalam jangka panjang diharapkan gerakan ini akan berimplikasi kepada penurunan penggunaan kendaraan bermotor sehinga mengurangi polusi, terjadi efisiensi energi, menuju kota yang lebih humanis, meningkatkan derajad kesehatan dan sebagainya. Sedang bagi anak sekolah, bersepeda akan membangkitkan semangat kesederhanaan, percaya diri dan penghormatan kepada prestasi bukan materi."


Banyak korupsi di Indonesia, itu sudah jelas. Dan kita tidak boleh bangga. Tapi kita juga harus mewaspadai korupsi ala AS. Kalau korupsi di Indonesia itu memasyarakat, maka korupsi di AS itu menginstitusi. Sama-sama berbahaya.

Suatu hari saya baca di blog sebuah kisah sedih di India. Seorang ayah dari keluarga miskin meratapi kematian putri satu-satunya. Rupanya anak ini diinfus di rumah sakit kemudian keracunan infus. Setelah diselidiki, ternyata labuh/botol infus ini palsu. Biro pembelian rumah sakit ini disogok seorang pemasok. Supaya untung, pemasok ini mengambil semua labuh infus bekas, mencucinya di rumah, dan mengisinya dengan air. Dia pikir air ini bersih. Ternyata labuh terkontiminasi berbagai penyakit. Akhirnya putri sang ayah ini mati di rumah sakit akibat infus ini.

Inilah maksud saya dengan korupsi yang memasyarakat. Semua anggota masyarakat, termasuk masyarakat kelas menengah ke bawah, mencari nafkah dengan menipu dalam berbagai bentuk. Mulai dari pemasok sampai ke pegawai rumah sakit. Akibatnya bisa tidak terduga, dan dibayar mahal oleh masyarakat sendiri.

Krisis keuangan di AS itu juga dipicu oleh korupsi. Tapi dilakukan oleh orang kaya, dan didukung oleh orang kelas menengah yang ingin kaya tanpa bekerja. Berbagai skema trik penipuan canggih diinovasikan, kemudian di bawa ke pasar saham dan perbankan yang dilindungi oleh peraturan legal. Karena penipuan ini canggih, maka aparat hukum mengalami kesulitan mencegahnya.

Salah satu skema adalah dengan menawarkan kredit rumah pada orang yang tidak memiliki penghasilan cukup. Kredit ini dibungkus dengan berbagai skema finansial, termasuk asuransi dan bond/obligasi, kemudian dilepas ke pasar sekunder, lalu pengemas ini kabur membawa uang dari pasar. Semua legal. Kecuali bahwa skema keseluruhan ini pasti gagal, karena pada dasarnya orang yang mendapatkan kredit rumah itu pasti tidak mampu membayarnya. Penggerak primernya gagal, sehingga skema sekundernya pasti ikut ambruk.

Model penipuan sejenis adalah dengan skema piramida yang ditemukan oleh Charles Ponzi di tahun 1919. Skema Ponzi ini adalah dengan mengumpulkan dana dari masyarakat melalui jenjang piramida, dengan janji mendapatkan bunga tinggi setiap tahun. Dowliners mengumpulkan uang dengan janji yang sama, tapi uang itu digunakan untuk membayar bunga mereka yang di atas piramida.

Dan saran saya: jangan serakah. Dan jangan pernah ingin kaya tanpa bekerja atau menghasikan inovasi nilai.

tulisan menari ini saya kutip dari: sini euy,,