Kamis, 17 September 2009

MENARA SELULER, SERRRRR part I

"Cintailah sahabat Anda sampai ke suatu batas, karena mungkin ia akan berbalik menjadi musuh Anda di suatu hari. Dan bencilah musuh Anda hingga ke suatu batas karena mungkin kelak ia berbalik menjadi sahabat Anda."


akhirnya sejak beberapa hari terakhir ini tepat di depan seberang rumahku (<-- maksod looo?) berdiri kokoh-menjulang tinggi sebuah menara operator selular. proses negoisasi (mungkin sewa tanah-keluarga kami) telah berlangsung berbulan sebelumnya (sebelum aku pergi dan kini terpaksa balik lagi dari javanese, sementara). sepertinya jadi "deal" karena siapa yang enggak doyan duit. dan entah persoalan apa yang nanti akan bersisa belakangan. walau tahu, walau aku cucu lelaki tertua di keluarga besar nenekku (dan mungkin membuat was2 beberapa pihak, sehingga sangat senang sekali kalo aku mampus saja di tanah jawa sana), seperti biasa aku "tak mau tahu" dan memang, seperti biasa lagi, tidak terlalu dilibatkan. dan buat gw sebetulnya ndak masalah, fuck off that fuck'n shit. demi kecintaan gw pada kehidupan yang "sederhana" dan "kebencian" menyala2ku kepada manusia2 matree, demi alloh dan rasulnya, gw bersumpah lebih cenderung untuk "tak mau tahu" soal duit panas ini (meski kadang2 terpikir--apalagi pas sedang kelaparan--sayang juga ya hehe). tapi kita manusia hidup berkait2 dan andai saja gw bisa menemukan landasan ilmu untuk lepas dari kaitan ini. dan dalam posisi yang ada, gw pun mesti berbuat yang terbaik yang gw bisa. nb:bukan orang lain seharusnya yang merasa paling tahu apa yang gw bisa.

sebuah persoalan "kecil" yang tentu saja telah tersumbu cukup lama muncul beberapa hari kemaren. alhamdulillah, belum konflik internal keluarga dan mohon maaf gw selalu berusaha untuk saat ini menghindari berbicara dengan objek ini sebetulnya. tapi lebih penting: gw punya kebencian (lagi2 benci mulu, kamu ih) pada kebusukan yang ditutup2i, munafik. hanya sabar dan tawakal (sok alim *mode on*) yang menjadi obat sifat kurang baikku karena terlalu "agresif" ini. jadi persoalan yang muncul kemaren berkait menara selular dan cipratan duitnya ini adalah: sekelompok orang yang ngakunya mewakili pemuda setempat (babi elo semua, gw-lah yang dari bayi sampai jadi pemuda ganteng seperti sekarang ini tumbuh dan besar di atas tanah berdirinya menara seluler tersebut goblok!) datang menghentikan proyek dan tentunya uud $$. sebetulnya ini lumrah (dalam kebudayaan anjingg masyarakat kita saat ini) dan pimpro proyek menara tersebut pun kabarnya sudah menyiapkan dana untuk itu sebelumnya. tapi cara yang mereka gunakan dengan tidak mengomunikasikannya dengan keluarga kami terlebih dahulu (atau bisa jadi "pihak keluarga" gw yang serakah ndak mau bagi2 rejeki) dan kabarnya sampai menghentikan kegiatan pekerja sampai pimpro (dan tentu keluarga kami) datang sungguh memilukan, apalagi dalam tradisi orang minang.

gw sendiri ada di rumah waktu itu dan sengaja tidak "ikut" melihat ke lapangan karena khawatir bisa2 gw bunuh orang. dan gw haqul yakin benar (meski membunuh sesama muslimnya kemungkinan besar salah); yang gw takutkan--yah terpaksa sedikit disebutkan--hanyalah kalo ada orang yang mati di tangan tak berdosaku ini hi2 atau gw sendiri yang mati dikeroyok mereka rame2 ortu gw pasti memilih jalan yang lebih mudah untuk menyalah2kan gw (yang berada dalam kekuasaan-hegemoni-otoritas mereka sepenuhnya) daripada repot2 dan "mungkin takut" untuk, justru, berkonflik dengan orang lain dan merusak imej dan gengsi. berkonflik dengan orang lain buat gw nggak masalah selama gw yakin berada di "jalan yang benar" dan demi alloh dan rasulnya--setidaknya untuk saat ini, sebab kalo udah kawin dan bekeluarga bisa membuat seorang lelaki menjadi "pengecut" kabarnya--tidak ada manusia yang bernapas di muka bumi ini yang bisa membuat gw takut selain hitler barangkali he2. gw nggak tahu, waktu itu om pun sampai datang apa sampai nonjok tuh bujang2 kampung gadung. sepertinya uwan terlalu pengecut untuk menangani sendiri deh. yang jelas penjelasan sejauh yang gw denger uang memang tetap akan dibayarkan dan saat itu mereka melakukan perundingan sesudahnya. anjing lo babi2, gw yang sehari2 sewaktu disana masih sawah (sekedar) mangaro atau ngangkut2 jerami saja ndak dapat apa2 (<-- ternyata gw babi matree juge yee he2). ah, biar kere asal cuek. gw sengaja nggak mau tahu dan mendengar lagi sebab khawatir es-mosi, apalagi pas bulan puasa begini. sempat terpikir waktu itu diam2 mau menemui pimpro menara bts tersebut, meminta uang jatah "pemuda" tersebut karena gw lebih pantas mewakili nama "pemuda setempat" tapi kemudian gw simpan duitnya di kolor gw dan menunggu kira2 siapa dari pemuda2 kampung ini yang harus gw jabanin atu2. dan apa mereka punya nyali yang sesungguhnya (ingat: gw lahir hingga besar disini dan tahu persis karakter dan peta per-preman-an disini, apalagi tradisi minang sangat tidak menggampangkan terjadinya konflik)? masalahnya cuma satu: sebelum sempat "bertempur" dengan bajingan2 katrok tersebut gw justru harus akan dimusuhi dulu oleh keluarga sendiri...

beberapa hari sebelumnya di awal ramadhan (sewaktu baru balik dari jawa dan masih dalam masa penyembuhan penyakit) gw juga sempat hampir bikin ribut sama si pedagang sate madura yang entah orang madura atau palembang di sebelah rumah sana. waktu itu (malam2) gw denger ada orang yang teriakin kata2 kotor dan ternyata dia. sebetulnya gw juga bukan orang suci dan bisa maklum kenakalan remaja, tapi tetap saja ndak enak dengernya di kuping diteriakin orang (apalagi orang asing) di depan rumah sendiri. bukan sekali dua kali gw keluar rumah buat marah2 jika melihat ada segerombolan anak muda agak "nakal2" ngumpul di depan rumahku. dan malam itu ke arah muka si palembang sempat pula tinjuku melayang ringan sehingga bisa ditepisnya hingga kami dilerai. untung ortuku juga (mungkin) ndak tahu karena memang sepi waktu itu. dan gw segera pergi karena ingat "justru hal lain" yang bakal bikin gw repot kalo sampai ribut2 disini, lagi pula ingat bulan puasa. gw bukan preman disini dan nggak terlalu punya record kriminiil disini (satu2nya barangkali yang membuat pemuda2 setempat berpikir 10x untuk ribut denganku barangkali adalah status omku yang polisi preman atau kemenakan bapakku yang tentara dan tentu juga status sosial keluargaku sendiri <-- dan inilah sebagai akan kusinggung nanti: menjadi bibit dengki) dan bersilat juga ndak bisa, tambah kurus penyakitan pula. tapi soal mental boleh diadulah (walau sepertinya belum terlalu teruji nih). inilah bodohnya gw kalo sampai "tarung" beneran: modal esmosi doang. dan untung kadang gw kembali bisa kontrol diri. dan pemberani dan bernyali buat gw bukan berarti tak punya otak dan perhitungan. tapi kalo dalam keadaan terdesak (ini juga yang kukuatirkan, terlebih saat2 seperti sekarang ini): bisa2 gw berbuat hal diluar kontrol dan perhitungan yang baik. tapi siapa takut arggghh!

bersambung...