Rabu, 02 September 2009

MERANTAU 2.1 part 7

Pertama mereka tidak mempedulikanmu, lalu menertawakanmu, lalu mereka berkelahi denganmu, dan kamu menang. (Mahatma Gandhi)


sehabis kecemplung got tanah pinggir lapangan bola ini aku pergi ke area kampung bandannya dimana yangmana kamanaeuy terdapat sebuah mushalla. sholat dulu kemudian disini. pas orang lagi jamaah, kemungkinan waktu ini udah ashar kalo aku zuhurnya di mushalla yang gede tadi bukan sebaliknya (maklum kemampuan mengingat terbatas nih euy). oya kebetulan ingat lagi waktu di mushalla gede dekat st.kota tadi aku melihat seorang anak yang kayaknya jadi pedagang asongan sedang istirahat di mushalla sambil berbenah barang dagangannya yang semacam kalung asesoris getho. wah jadi kepengen juga pkl waktu itu daripada gw jalan2 ndak jelas macam gini hi2 cuma bingung juga gimana caranya karena maklum non-pengalaman dan belum ketemu ide barang menarik apa yang hendak kujual di jalanan selain ide semula. ya sewaktu masih di padang dan mungkin sudah sejak 2 tahun sebelumnya aku emang udah punya ide jual newsletter humorku di kereta2 dan jalanan ibukota jakarta. waktu pergi sekarang aku bawa dua eksemplar yang sudah kucetak jadi tapi ya hingga pulang belum sempat juga jualannya. di jakarta ini pasti banyak orang stress maka aku agak yakin barangku bisa kejual disini, masalahnya cuma aku belum terbiasa jualan aza. sempat juga kepikir jual ke pos2 satpam di sepanjang bantaran kuningan-sudirman daripada manyun lho pak. tapi masih kepikiran apa hasil yang didapat tidak justru tekor dibanding ongkos yang keluar?

kembali ke kampung bandan, waktu habis sholat disini dan liat2 penduduk miskin kota di sekeliling mushalla itu jadi pengen juga tinggal disana. tapi ragu juga karena jaraknya lumayan jauh juga kalo ditempuh dengan jalan kaki ke st.kota sebagai alternatif transportasi murah kemana2 di jakarta. ndak tahu juga kalo ada jalan2 tikus yang deketnya coz kalo dari peta sebetulnya sih ndak jauh2 amat dari stasiun. cuma gw aja yang keliling2 jauh untuk sampai kesana, maklum buta wilayah dan bondo nekat. waktu udah nyampe disana dan lihat rel kereta baru sadar kalo aku jalannya udah muter2. aku tidak bisa lagi mengandalkan ingatan untuk menebak2 arah berdasarkan peta karena tempat ini bukan sebuah susunan blok yang cukup rapi. untuk balik lagi ke jalur semula merasa sayang. tapi waktu itu aku tidak tahu kemana jalan yang akan kutempuh hendak membawa selanjutnya? ke sarang penyamunkah? ataukah sarang gadis perawan?

next. akupun meneruskan aspal setapak yang kususuri, muter2 bikin bingung. di sebuah persimpangan yang mulai ketemu jalan besar (bahkan di atas ada jalan tol ke ancol atau priok) akupun memutuskan untuk balik ke arah datangku yang kuperkirakan. tapi tidak balik di jalan semula lagi, ndak asyik dong. karena di arah sebaliknya sejauh mata melihat aku tidak melihat parapatan lampu merah. semula gw kan menargetkan akan melintasi jalur kereta sebelah timur st.kota lalu belok ke barat dan balik ke stasiun untuk pulang tanpa melewati lagi jalur keberangkatanku ke posisi ini. tapi ternyata aku tetap berputar2 di arah timur lautnya. masalahnya di stasiun segede kota jalur kereta tidak hanya satu, baik yang ke bogor, bekasi, atau ancol, atau malah banten. jadi bagaimana gw memastikan sudah berada di sebelah selatan st. kota? belakangan kulihat peta ternyata emang jalan gede yang melintas di sebelah timur stasiun ini masih jauh minta ampun. kecuali mungkin kita lewat jalan setapaknya tikus2 kota yang sejauh kuberjalan tak kulihat.

balik arah aku malah tambah bingung karena wilayah sebelumnya yang kuperkirakan tidak juga tampak. sayup2 dari jauh aku melihat bangunan2 kota tua dan gw pun mematok arah ke arah sana. tapi ya ampun ternyata muternya jalan besar tersebut jauhnya minta ampun. gw berjalan kaki di pinggir jalan yang penuh debu dan macet pula saat itu. kalo nanya selain belum merasa terlalu perlu nanti malah disuruh naik angkot untuk keluar duit lagi alih2 pula kalo yang ditanya ternyata tukang ojek yang bawa golok pula hihi. akhirnya dibawah lindungan flyover tol yang disesaki rumah2 gembel ibukota aku memutuskan berhenti mengikuti alur jalan besar. di pinggir jalan kulihat sekelompok bencong sedang berdiri dan disana ada jalur tikus yang arahnya ke sayup2 gedung kota tua nun jauh disana. masuk jalur tikus di tempat yang tak kukenal adalah sebuah resiko, mana tau aku musti melewati sarang preman, pemabuk dan sejenisnya. tapi aku ambil resiko itu karena udah stress kena debu di pinggir jalan besar. bahkan sewaktu lewat di depan bencong2 itu aku juga khawatir jangan2 gw ditarik ke semak2 disana untuk diperkosa hehe. kebetulan itu ditempat yang sepi pula dan sedikit melintasi terowongan bawah rel kereta dan sedikit petak sawah tak terurus (jadi emang besar kemungkinan ada sarang penyamun disini).

ternyata oh ternyata jalan kecil ini tembus ke sebuah semacam komplek pergudangan kumuh dan akhirnya keluar di jalan semula aku masuk ke wilayah kampung bandan. semula aku ndak ingat jalan itu, maklum perjalananku selama ini muter2 sembarang arah, kadang belok kiri, kadang serong kanan jadi lieur deh. aku malah jalan ke arah yang balik lagi ke kampung bandan bukan yang ke arah stasiun (yang nanti juga kudu belok2 lagi) dan setelah beberapa ratus meter baru rada2 ingat setelah melewati sebuah gedung showroom mobil yang bisa jadi penanda. langsung aja kemudian ngeluyur muter arah jalan 180 derajat. dari sini aku menempuh track semula untuk kembali ke stasiun, kalo ndak salah nyampe kos juga udah cukup malam, tapi masih dapat kereta ekonomi coz yang dari kota ke bogor cukup banyak. fiuhhh capainya minta ampun hari itu, mungkin ada belasan kilo sudah jalan yang kutempuh waktu itu. cuman buat liat2 doang menelusuri rasa keingintahuan dan membunuh bosan, wisatawan tapi kere. tapi tentu sedikit banyak ada pengetahuan, mulai dari geolokasi hingga geolkultural, yang bisa kudapat.