Sabtu, 05 September 2009

TV LCD MUBAJIRR MESSJID PASAR TAkWA

Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama... (Richards Dawkins, Pakar Biologi)


setelah berhari2 berdiam di rumah (diam dalam artian betul2 berdiam dan bicara hanya yang perlu2 saja) dan paling jauh hanya sekali pergi ke tabing buat nge-rental vcd (yang hingga kini belum selesai kunonton) dan beli sebungkus teh cap petay dan sekali lagi buat balikinnya dan ngerental warnet, akhirnya jumat pekan kemarin aku berkeluar diri juga dari katak di dalam tempurung. sabalun jumatan gw nyetop angkot ungu jurusan lb minturun-pasar raya dan nyaris telat ikut sholat jumatnya. gara2 nyempatin mandi agak siangan dikit (kalo ga salah) setelah (seperti biasa kalo berdiam di rumah) bisa berhari2 ndak mandi2 (toh tak akan ada yang mencium baunya selain gw sendiri, dan baru hanya bisa berkhayal di malam sunyi sepi akan dicium oleh seorang-atau beberapa-isteri).

nyampe di pasar gw shalat ke taqwa sebagai yang terdekat dan termegah. ramai banget. di bulan romadhan spt biasa selalu ada penggelembungan angka (fiktif) orang beriman dus para peminta2 di sepanjang tangga yang tak panjang juga. ah jadi ingat ceramah tafsir qurais shihab (loeloesan al-azhar pertama sebagai pakar koran namun spt-nya punya nama agak dicela oleh sebagian aliran hi2). ada ayat yang menyatakan bahwa mendapat seisi syurga itu tidak ada apa2nya dibanding kenikmatan beramal dengan mendapat ridho ilahi. nah ridho ilahi itu apa? alangkah abstraknya. bahkan jangankan syurga yang masih ilusi, jangan2 orang jadi rajin ber-tuhan untuk meminta2 sukses duniawi-nya. kongkrit dan riil. naudzubillahi min dzalik...

danm ngomong2 tentang korelasi dan kohesi ibadah dengan kepentingan dunia(wi) ini ada hal menarik yang guwa lihat sewaktu sholat di mesjid (aliran) muhammadiyah ini. selain tampilan fresh masjid ini yang telah mulai dipermak sejak beberapa bulan yang lalu adalah yaitu yakni ada terdapatnya dua buah layar lcd yang menggantung di dinding tengah ruang lantai sholat jamaah. tipi ini tersambung onlen ke kamera yang men-shoot mimbar dakwah dan sampingnya tempat posisi shalat imam. yang menarik untuk dikritisi buat saya adalah: kayaknya ini "proyek" gagal deh. dan kalo bicaranya dalam bahasa yang ada landasan celaan agama adalah adanya kemubadziran. secara umum saya memang termasuk orang yang agak terlalu ekstrem untuk mengkritisi budaya mubadzir dalam (justru) "proyek2" agama2an ini. tapi lihat argumentasi yang cukup kuat berikut ini:

tv lcd tersebut menurutku ukurannya tanggung besar alias terlalu kecil kalo dilihat dari barisan belakang shaff. tambah pula posisi dinding tempat menggantungin dua buah lcd tersebut adalah pada 1/4 bagian depan bukan persis di tengah2. jadilah lcd yang mungkin berukuran 29-32 inch ini hanya terlihat jelas dari tengah. nah kalo mau fungsional lcd ini untuk membuat (seluruh/sebanyak mungkin) jamaah bisa melihat langsung penceramah atau imam di depan kenapa ukuran lcd-nya nanggung gini dengan posisi dinding yang seperti itu? kenapa tidak yang ukuran 54 inch aja sekalian, toh secara anggaran kan tanggung udah dikeluarkan (saya tidak menuduh ada yang disunat lho, karena aku emang ndak punya buktinya selain kemungkinan berdasarkan analisa data lain). adakah ini proyek asal2an keluarkan anggaran (umat) yang (sekali lagi dalam bahasa agamanya biar lebih kuat posisiku he2) jadinya mubazir? afala takilun, tidakkah orang2 proyek lcd tersebut tidak mempertimbangkan sebelumnya hal2 yang gw kemukakan di atas? celaka betul kalo sampai ini disengaja "asal ada" demi tetap keluarnya pos anggaran (dana umat) yang emang telah tersedia, sebagaimana budaya proyek akhir tahun asal2an dinas2 pemerintahan untuk menghabiskan anggaran negara. anjxxxng!

kemudian jika kita ambil preseden estetika arsitektural kepada saudi misalnya, sejauh yang guwa lihat pada siaran taraweh dari masjidil haram, ga ada tuh kayaknya disana (yang emang kaya raya) dirasa perlu pake tipi2an (lahh foto2 saja bagi sebagian ulama zuhud sebisa mungkin usaha dihindarkan). lagipula tidakkah dalam shalat yang macam2 begini justru akan mengganggu kosentrasi makmum. emang apa yang mau dilihat? pantat imam? saya bisa mengerti bahwa bagaimanapun ini juga terkait dengan lahan nafkah sebagian pihak tapi tetap saja jika nyata kemubadzirannya seperti ini kurasa tetaplah ini tidak bisa dibuat2 pembenaran. bukankah bersabar dengan kemiskinan itu adalah jalan bagi orang2 yg jujur dalam beriman (sorry yaw dalam hal ini guwa siap berdebut dengan siapapun individu dari aliran islam matre yang kurang ajar banget menafsirkan muhammad sebagai pria kaya raya dan "sukses duniawi"). apalagi jika mendapat harta dengan cara yang syubhat, apalagi haram; meski manusia tak tahu dan bisa ditipu.

tapi begitulah, inilah pasar dunia, mesjid juga harus bersinggungan dengan kenyataan. dan tampilan agamis dari luar tak ada menjamin bahwa secara main belakang toh setan juga ternyata. dan celakanya kadang karena terpukau oleh tujuan baik orang seolah lupa (pura2 lupa) atau memaafkan cara haram yang digunakannya. sebagian orang takut bahwa jika kita terlalu saklek dalam beragama maka agama ini tak akan maju. memang! agama ini tak butuh maju tapi benar! dan banyak orang yang selalu mencari2 pembenaran jika sudah terkait kepentingan (kantong)-nya. oya guwa setan juga sebetulnya, jadi ndak usah khawatir dan heran kenapa di tulisan ini menggunjingkan celanya orang2 yang terlihat dari luar beriman. sekali lagi kubilang, sebagai penggemar aesthetic dan keindahan, jika memang bisa dianggarkan tv dengan lcd layar 54 inch dan dimatikan saat shalat mungkin (sekali lagi mungkin) memang bagus juga karena si tuhan bukankah juga suka ke-cantik-an. tapi kalo ndak sanggup yang engga usah maksa, apalagi mirisnya kondisi ekonomi masyarakat kita tidaklah se-wah bangsa2 di timteng sana misalnya. hmm... jadi pantas saja sebagian khawaridjs "teroris" menjadikan masjid sebagai sasaran pem-bom-annya ya?