Senin, 26 Oktober 2009

RELAWAN GANTENG part 1

Ksatria jatuh cinta pada putri dari Kerajaan Bidadari. Sang Putri naik ke langit membuat ksatria kebingungan. Ksatria pintar naik kuda dan bermain pedang, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya terbang. (Dewi Lestari)

pada hari jumatnya sesudah gempa sebiasa perti, aku sebisa mungkin jalan keluar. selain semungkin bisa ngindarin "muthmainnah" guwa juga biasanya menjadiin program se-x seminggu ini buat olahjiwa fav gw yakni jalan kaki. kelamaan nunggu oto "datsun" en waktu jumat makin mepet gw jalan ke by pass en kali ini nerusin jalan ke "baruh" (tapi ndak mampir di bawah asam). en sampai ikur koto ndak juga lewat angkotku tercinta. sempat nongkrong dulu cukup lama juga di warung depan maransi. belum juga. lalu jalanlah hingga jumatan akhirnya di mesjid raya ikur koto.

waktu itu lampu masih mati. tapi genset menyalakan penerangan mesjid. tapi air habis. jemaat yang telat sepertiku berwudhu lah di kali (menjurus selokan, dan agak kotor sebab sehabis hujan). kemudian masuklah aku ke beranda masjid ini. rupanya sedang ada kematian. mungkin korban gempa. beberapa menit kemudian datang mobil plat merah yang ternyata pak wako. pantes aja, sebelumnya aku udah curiga ada kapten fauzi bahar disini cos banyak mobil bagus nongkrong jumatan di mesjid kampung padang pinggir kota (papiko) ini. selintas yang kutangkap sepertinya yang kematian adalah kemenakan bapak walikota kita ini. tapi yang jelas di mesjid inilah beliau menghabiskan masa kecilnya cos disini terdapat salah satu perkumpulan silat ternama di kanagarian ini. yang membuat keder preman2 tetangga rumahku (padahal biasanya sejak dulu kudengar justru kalo fauzi yang komandan pasukan katak sewaktu masih aktif di tni al ini datang ke rumah, para preman disana bakal tiarap sementara).

satu yang cukup menarik untuk diamati adalah cueknya penduduk mesjid atas kedatangan fauzi. emang nama fauzi agak cacat karena dianggap kurang "mementingkan" kerabat dekat; sebagaimana azyumardi azra (rektor uin/intelektual islam modern) yang agak hina karena rumah ortunya di kampung ndak dibagus2in. selain ia (sebenarnya justru) emang "merakyat" atau kurang menjaga gengsi seperti minangkabau lain sehingga "imejnya jatoh". tapi karena jenis tajir yang "gampang" kali bagi2 duit insaallah tetap banyak yang "senang". salut asli gw liat cueknya rakyat badarai ini. padahal gw yang setidaknya udah 2x berpapasan dengan SBY aja dan orang terasing dan tercuek di nagari ini saja apreciate melihat kedatangannya. padahal gw juga bukan pengagum berat fb cos disamping segala kelebihannya yang guwa kagumi toh juga ada sifat2nya yang bikin gw kurang respect sebetulnya.

oya tentang ketemu SBY perlu dikonfirmasi bahwa papasannya ya secara tak sengaja dan bukan di istana alias pas beliau kebetulan lewat. herannya gw setidaknya pernah 2x ngegembel malem2 di seputaran monas/istana eh ketemu SBY malah selalu di kampungku ini. yang pertama di simpang tabing di sela2 barisan kibar bendera plastik anak2 SD. saat itu aku sedang dengan ustadz eko entah mau kemana. kemungkinan paling ke unand atau pusda. yang jelas saat itu, kemudian, setelah naik bis kota kami turun di tengah jalan begitu eko mendengar suara adzan dan mencari mesjid di belakang kantor gubernur dan saat kami berputar2 nyari mesjid itu SBY sedang audiensi di gubernuran. aku pengen lihat tapi pak ustadz pengen sholat. yang kedua di pasaraya, kembali ke hari kukisahkan cerita ini yang mana sebagaimana kuceritakan nantinya sehabis jumatan di mesjid bersilat pak wali aku akan ke pasar untuk "olahraga".