Selasa, 27 Oktober 2009

RELAWAN GANTENG part 2

Tak ada kejahatan cinta di Amerika. Mereka hanya membunuh untuk uang dan narkoba. (Orang Prancis)

ya olahraga. berdasarkan pengalaman, foot way inilah alternatif yang kumiliki untuk menjaga kesehatan untuk saat ini. dulu2 sewaktu di jawa barat aku tidak begitu sesering di rumah ini sakit2an karena hobinya jalan kaki kemana2 (separo kota bandung itu sudah kutelusuri dengan jalan kaki). sekalian ngirit he2 (heran deh padahal teman2 gw yang betul2 miskin saja ndak se-kere2 gw bener hidup). pengalaman jalan kaki yang paling kejam ya selama hidup di tanjung sari lah. awalnya demi berhemat (sekaligus sehat) gw selalu jalan pas turun di alun2 hingga ke perum. tapi lama2 ya tukang ojek tau juga en tentu aja gw dimusuhin. jadi pas gw lagi capai en butuh ojek jadi kudu berpikir 10x. walaupun ndak tiap hari (karena lagi skripsi) tapi lumayan juga capeknya menjalani rutinitas foot way sepanjang -/+ 2-3 km pada tiap hari ada perlu ke jatinangor atau ke luar rumah yang lain (bahkan mungkin pernah juga untuk sekedar nyari makan ke alun2). tapi ya lumayan: kesehatan fisik dan jiwa gw jadi jauh lebih baik disana.

kembali ke ikur koto. selesai jumatan orang2 di mesjid mengikuti prosesi pemakaman (termasuk fb), gw nongkrong nunggu angkot lagi. tapi kemudian aku pergi nengok mairizal dulu sebentar. kemudian aku kembali manyun nunggu angkot. sempat datang siil yang ngajak balik. tapi aku puguh untuk kali ini nunggu angkutan buat jalan (walau misi pergi jumatan keluarnya udah beres). akhirnya nongol juga tuh angkot. sempat pula gw nanya dulu ongkos berapa (maklum saat itu lagi serba kesulitan bensin di kota ini). tapi ga dijawab, tapi gw naik juga. dalam kultur minang, pelit itu sudah biasa tapi gengsi dan jaim itu jauh lebih penting dan orang minang lebih suka menyembunyikan kekurangannya alias sulit untuk jujur. kalo buat gw dalam transaksi dagang (termasuk menggunakan jasa transportasi) sudah selayaknya terjadi tawar menawar dan lagi pula gw memang sedang miskin dan berusaha menghemat pengeluaran, soal jaim2an ke laut aja deh. dan sepanjang perjalanan dengan angkot ini mulailah gw melihat kehancuran kota padang yang lumayan meski engga berat2 amat sih.

satu hal yang kuniatkan dalam perjalanan ini adalah pengen daftar jadi relawan, dari pada manyun cos tak ada listrik di rumah. tapi sebetulnya hingga kini gw masih bertanya2 apa mau ikhlas menolong masyarakat minang-KABAU kalera ini. dan sebetulnya kondisi ini juga dipengaruhi oleh pengalaman hidupku berinteraksi dengan berbagai jenis manusia lainnya sih. secara teoritis gw bisa netral, ketawa2, hingga memetakannya; tapi tak dinafikan jauh di lubuk hati ini tetap tersimpan perasaan yang terluka ceilee. yang jelas gw terus berproses untuk belajar, mencari ilmu, dan bukan berjenis orang2 sengsara baru (dibanding gw yang udah sengsara sejak dulu) yang baru mendengar dan terkagum2 ketika didoktrin oleh dogma2 tentang berpikir "positif" versi kaum materialistis. gw punya idealisme, meski menambah ilmu dan pengalaman baru tentu bisa akan membuatnya lebih elastis lagi. tapi bukan menjadi oportunis babi munafik itu lho. ga tau juga kalo orang2 seperti itu yang lebih dicintai oleh allah swt. gw masih belajar dan haus akan ilmu. cup cup cup...

seperti biasa2 juga, nyampe pasar gw turun di m yamin sebelum angkot lumintu mengkol ke pangkalannya di dalam. lalu seperti biasa lagi gw jalan ke arah bundaran air mancur. terlihat di sebelah kiri gw gedung sentral pasaraya yang hancur belum tersentuh jadi tontonan di hari ketiga pasca goyangan alam ini. satu hal menarik bahwa pendirian bangunan ini cukup kontroversial karena menggusur terminal lama goan hoat dan sejumlah mata pencarian pedagang. hingga kemudian mengimbas pada fenomena kemacetan dan banyaknya parkir liar di kota padang hingga kosong melompongnya terminal baru di air pacah. gw sendiri juga tidak terlalu mendalami lagi masalah ini karena sudah lama banget dan udah banyak lupa. yang jelas gw juga ndak sepenuhnya juga nyalahin fb yang memang bertipe praktisi, tekhnisi, dan enggak banyak mikir sehingga sulit untuk menahan diri dari godaan koneksi2 investasinya. tambah pula ia memang berotot. dan hasilnya toh ada saja kan yang mengeruk keuntungan di air keruh, orang2 yang berjiwa wirausahawan licik dan enterprenuer amoral. dan hasilnya sekarang mampus tuh dihoyak gampo.