Jumat, 30 Oktober 2009

RELAWAN GANTENG part 5

Orang mati tidak terlibat. Orang mati tak punya semangat. Mereka terbaring dalam penantian. (Quiet America)

dalam keadaan gempa, musibah, dan bencana dan wabah gini, gw masih sempatnya curi2 pandang dan menggoda ke seorang anak gadis yang kulihat sedang menyebrang jalan disana. celakanya rupanya ia sedang menuju kesini, ke posko muhammadiyah buat nge-charge hp dan goda menggoda dengan pemuda2 relawan lainnya yang lebih sedang berstatus he2 (lagian ternyata ranjau = rancak dari jawuah). lama manyun disini kemudian gw jalan lagi ke arah matahari dan balaikota. kemudian gw masuk ke jalan sandang pangan. disana kulihat ada iklan nasi goreng murah, kebetulan peyudh sudah sangat amat keroncongan. tapi ternyata nasgornya abiss, yang lain kulihat kurang menarik ndak sebanding sama harganya. oya gw emang selalu nanya harga, bukan pelit apalagi jaim dan gengsi tapi umumnya minangkabau ini selagi memungkinkan ia akan menipu. dan mereka menganggap itu sebagai skill tanpa perasaan berdosa dan ngaku islam pula. bukan pa2, gw belum berada dalam posisi yang bagus untuk menggunakan kekuatan tangan guna memberangus suku yang masyarakatnya rata2 berakhlak penipu ini. haha dimana2 juga ada orang kayak gitu sekarang yaw. sok jujur elu mah. lagian seperti kata hadits nabi, sebagaimana kerja keras meminta2 kesana kemari itu adalah sifat yang buruk maka terlalu mengulurkan tangan juga tidaklah baik. hati2 kaum penipu dimana2, waspadalah2.

(saat nulis ini, artikel yang berhari2 baru gw lanjutkan nulisnya ini, gw sedang ketawa ketiwi denger di radio bapak tua taufik kiemas memimpin sidang mpr pelantikan presiden dengan pelafalan bahasa yang lucu)

dengan perut keroncongan kemudian gw lanjutkan menyusur masuk ke dalam jalan sandang pangan. mana tau nanti di jalan ketemu pengganjal perut yang cocok, baik dengan selera maupun kemampuan kantong sakuku. tapi gw ilfill juga karena gw akan menuju ke tempat yang diduga masih ada mayat manusia terpanggang belum sempat untuk dievakuasi. ya, pusat bahan makanan pasaraya padang yang terletak di belakang balai kota ini terbakar pada malam setelah kejadian gempa dan hingga hari ketiga ini kulihat masih ada bagiannya yang masih mengepulkan asap. meski cukup banyak juga yang nonton tapi di jalan sandang pangan ini aktifitas jual beli makanan sudah mulai hiruk pikuk. orang luar mungkin terkagum2 akan tegarnya orang minang berhadapan dengan bencana besar ini. en lain kali sebagai orang dalam bukan orang luar akan kubuatkan analisisnya nanti kenapa masyarakat minangkabau terlihat tegar dan pejuang tangguh begitu dari luar. tidak selalu harus negatif, tapi sebagai orang dalam aku akan membuatnya lebih objektif karena aku lebih tahu sifat khas orang sini (sekali lagi secara objektif dan pengamatan langsung bertahun2). sehingga tidak perlu tertipu dengan basa-basi palsu dan generalisasi di media massa itu. tapi ga pa2, buat orang minangkabau toh "menguntungkan". siapa juga yang tak mau beruntung, tapi apakah harus kaya kebo?

sementara berjalan menyusuri pasar yang mulai ramai di sandang pangan ini aku berpapasan dengan serombongan jurnalis asing yang langsung nge-shoot ke arah gedung pasar yang hancur dan terbakar. senyum2 pula bapak2 itu dan seorang embaknya sembari melintas jalanan becek pasar sayur dan ikan seger ini, entah apa maksudnya. kemudian nyampe depan padang theatre aku baru bisa menemukan pengisi perut. tukang sate yang mau tanpa muka masam memberikan aku seporsi kecil tanpa daging sehingga sanggup kubayar. maafkan aku rang minangkabau jika terlihat kurang jaim dan gengsi yaw. gw emang kere, so what getho lho. selesai makan mulai berpikir untuk pulang karena sepertinya sudah cukup capek untuk olahraga jalan kesana kemari. tapi kuputuskan untuk jalan lagi ke arah rocky. disini kuburnya ada juga mayit yang terkabar dan bau menyengat jasad manusia belum terevakuasi tersebut mulai mengganggu warga sekitar. sampai disana aku cukup lama juga nongkrong duduk2 karena kecapekan jalan. kuperhati2in bagian atasnya rocky hotel and plaza ini sih sepertinya ga pa2.

setelah ini kemudian aku balik ke arah selatan untuk bersigap pulang. sempat ngiler buat beli koran tapi nahan diri. lagian kuatir juga lihat muka masam dan penghinaan dari penjualnya nanti lihat kita kere lihat2 doang engga beli. ada baiknya dijaga hati ini agar tak selalu tersakiti. nah sebelum menuju halte angkot lumintu aku sempat papasan mobil2 rombongan sby lagi sebagaimana kuceritakan tadinya ini. di jalan samping barat padang theathre, tempat biasanya terdapat pkl sore liar tapi resmi. karena sedang linglung mungkin karena ragu untuk segera pulang (fisik dan keadaan menuntut tapi hati belum, masih pengen jalan2) gw awalnya engga merhatiin kedatangan rombongan presiden ri ini. maklum lagi rombongan kali ini tidak terlalu wah dan semula kukira hanya pejabat yang kecil yang lewat. nah ngeh-nya pas engga sengaja mataku mulai melihat ke sosok ibu ani yudhoyono selintas di balik pintu mobil kedua di belakang mobil patroli. ini perasaan gw ya, bisa jadi salah. sebelum mataku melihat ke arah beliau rasa2nya dia merhatiin atau memandang ke arah aku. cos di sisi jalan tempatku berdiri mungkin hanya ada gw aja objek manusianya, ganteng lagi. toko2 tentu pada tutup semua dan pusat keramaian ada di samping matahari tempat orang berdagang buah. nah seperempat detik setelah mataku melihat ke arahnya kulihat ibu negara kita ini baru berusaha memalingkan muka pura2 lihat ke arah toko2 kain yang berjejer di bangunan padang theatre ini. ini perasaan gw aja yah bisa jadi salah lho. jadi bisa jadi waktu itu sby engga ada di mobil itu hanya ibu ani makanya rombongan pengawalan jadi tidak terlalu mencolok. tambah pula, gw baru ingat sekarang, saat itu gw engga merhatiin karena sedang kosentrasi melihat piringan pecah di tengah jalan yang dilindas mobil2 lewat yang kadang memantul2kan pecahan kacanya ke pinggir jalan bagai peluru.