Bang Thoyb Pulkam Nih

Sebetulnya sudah sejak awal dari bahwa Bang Thoyb (BT) pengen keluar dari kontrakin itu. Cukup luar biasa juga dia bisa bertahan sekitar 3 bulanin. Mana tempat lagi di ibukota Jakarta gitu dapet kos hanya 200 ribu sebulanin. Include listerik pula. Sewaktu punya laptop seharian BT ngabis2in listerik bu kosnya. Belum heater yang selalu diandalkan buat masak mie dan teh sebab gak punya duit buat sering beli makanan pokok di luarin.

Karena gak punya laptoy (dan gawean) lagi juga, maka sesuai dengan salah satu rencana yang sebelumnya pernah ada BT memutuskan saat itu untuk melaksanakan keinginannya hiking kematian menyusurin pantai pasundan selatan. Sebetulnya kerjaan sih mungkin ada aja, walau buat nyari makan halal murni 100% di jalanan belum ketemu hitungan yang masuk akalin dirinya.

Di Senen dia ketemu "grosir" donat yang lumayan bisa "dipraktikkan" menurut hematnya. Tak jauh dari situ ia juga udeh diterima "training" di sebuah toko printing digital milik Orang Sitoli. Deket stasiun BT juga dapat info tentang kebutuhan akan sales obat-obat herbal dan produk sejenisnya yang cukup sesuai dengan nurani dan passion-nya. Artinya kalo jadi salesnya orang, ia gak perlu ngemodal duit yang dia "engga" ada. Belum lagi rencana jadi pedagang keliling bukunya. Dan yang lebih ngejongos lagi di Kepu dia lihat sebuah tempat yang butuh tukang seterika. Ini tentu lebih pasti, minimal buat makan nasi 2x sehari dan mendapat community.

Tapi ini semua terjadi di saat kontrakannya hendak berakhir. Sebetulnya BT tinggal sebulan lagi disana tanpa bayar pun mungkin bisa saja diakal-akalin. Tapi BT memilih untuk tetap jangan sampai jadi punya hutang di akhirat nanti. Plus keinginan untuk keluar, mulai jenuh di Jakarta, dan pengen "traveling". Hidup menggembel di jalanan Jakarta untuk saat ini ia lihat juga belum "baik" untuk dipraktikkan lebih masif. Padahal banyak lokasi sudah yang ia tandain, mulai dari kawasan elit seperti Taman Menteng, tempat sepi sekitar PRJ Kemayoran, hingga ikut gabung sepanjang gubug-gubug derita di bantaran rel Tanah Tinggi hingga Kramat. Dan, wah, terlalu banyak lokasi lainnya lah buat jadi preman dan manusia bunglon (munafik) di Jakarta mah.

Kenyataannya pagi itu BT melangkahkan kaki ke Stasiun Kemayoran, naeg KRD ke Purwakarta, terus ke Kiara Condong. Nah di Bandung ini BT dapet sms dari adiknya tentang keadaan di rumah. Setelah menginap semalaman untuk mikir di sebuah mesjidnya Orang Padang deket stasiun tersebut bersama sejumlah tuna wisama, BT akhirnya memutuskan untuk lebih baik pulang dulu dan menunda keinginannya untuk, baik ke Jawa, maupun hiking gelo di pantai selatan Jawa Barat. Kebetulan hingga hari itu ia belum juga mendapat informasi yang cukup memadai baginya untuk memulai start dari daerah mana dengan transportasi yang minim dana.

Untuk ke Cilacap sekalipun dia juga belum yakin harus ganti kereta dimana dan bahkan bagusnya naeg kereta yang mana dan apakah ada KRD juga hingga sana. Padahal targetnya adalah menjajal dari selatan Garut terus ke barat hingga Sukabumi. Tanpa peta; cuman modal pernah lihat dari Google Maps daerah-daerah seperti Cidaun, Bungbulang, dan seterusnya. Padahal niat BT bagus juga ingin menghafal Quran sepanjang perjalanan tersebut dan sepertinya sampai saat ini belum juga bisa dilaksanakeun; pantes aja BT belum diijinkan ku Gusti buat mampus aza dan menyelamatkan diri dari dunia yang memuakkan tapi lucu ini serta networkingnya Jaringan Alwahn Laknatullah dengan empat sifat kemunaannya: Tamak, Licik, Dengki, Bunglon.

Sebetulnya BT juga sangat sangat pengen eksperimen menggelandang total di Jakarta dan atau kota lainnya untuk kemudian "ribut" sama Satpol PP dan menikmati "seni"-nya. Namun karena prioritas adalah rencana hiking ke hutan pantai selatan tersebut jadilah ia sudah terlanjur mengambil cukup banyak duit modal hidup di desa dari ATM. Dan cukup beresiko berkeliaran di koto-koto dengan uang kes buaaaanyak di dompet. Dengan pertimbangan itulah BT menghindarin rencana pulang ngetengnya dengan jalur ke Jakarta dulu, terus naik kereta ke Merak, baru nyegat bis ke Padang. Oh ya tambah pula bawaannya cukup banyak yang sewaktu check in di Cengkareng katanya sampai 9 kilo berat kerelnya yang padahal sudah dikurang-kurangin di Kiara Condong. Tambah lagi kebetulan ia terlambat beberapa menit untuk naik KRD ekonomis banget tujuan Purwakarta itu dan kudu nunggu berjam-jam lagi. Tambahhhh pula stasiun itu cukup dekat dengan BSM tempat bis yang ia tahu lebih murah untuk ke Cengkareng dibanding nge-nravel.

Singkat kata balik lagilah BT dengan naeg bis ke Jakarta terus ke Bandara. Dan ia beli tiketnya disana aja berharap bisa dapet murah juga. Kalo kemahalan ia sudah berencana untuk balik lagi aza ngemper di Jakarta hehe. Setelah nanya-nanya sana-sini beberapa kali akhirnya dapatlah ia untuk hari itu juga dengan standar harga yang sama dengan jikalo beli tiket promo jauh hari sebelumnya, baik lewat travel ataupun langsung di internet. Ada bahkan maskapai lain yang bisa sedikit lebih murah cuman harus nunggu besok dan nelpon dulu ke call centernya. BT pun akhirnya walau kere pulang naeg pesawat terbang juga hari itu, berkebetulan duit udah terlanjur diambil dan untungnya tidak diambil orang lain semalam sebelumnya sewaktu nginap di emperan mesjid di Bandung. Di masjid deket Stasiun Kiara Condong ini sebuah tasnya sempat dimaling tengah malam saat semua terlelap bobo menjelang subuh namun bisa digagalkan.

TiviVVan

Satu menit lagi 6.30 (nah, sudah). Jam segini dulunya biasanya adalah jadwal untuk nongkrong depan TV. Mantengin salah satu stasion yg membuat format baru wawancara/diskusi cukup menarik untuk tema-tema politik dengan narasumber yang juga kerap cukup menarik dan tidak banyak basa basi macam TV Negara Indonesia.

Tapi itu dulu, sekarang masih hahahahahaha cuman kadang-kadang sekarang (yang mana lucunya ya?). Entahlah Esmeralda, henfon ku masih di-charge. Semalem mati sendiri karena aqu ketiduran sembari mendengar Ebiet Gade bersenandung "Kepada Kawan". Lho ada hubungan apa yang terjalin antara TV itu dan hpmu/HP-mu?

Tidak ada yang spesial. Aqu cuman kebetulan membeli henfon cina seharga NewIndRp 399,- kemaren waktu di Roxxxi yang katanya komplit semua ada di sana (kecuali os/java dan 3g) termasuk TV. HP TV inilah yg kugunakan untuk menonton (sewajibmungkin) setiap senin malam acara Jakarta Law Club-nya Presiden Karni Ilyas, pun meski sayah mah buta hukum kolonial apalagi hukum syariat formal.

Entahlah Estefan, ada sejenis katartik tersendiri melihat komentar2 rakyat homo homini lupus melihat kenyataan negeri dgn kebudayaan centang perenang dan "kebancian" identitas ini (termasuk mendenger omel2an politik di radio dan komen2 lucu di blog). Padahal kata guru spiritual sientik-ku Abang Mario Tegang harus/idealnya aqu harus lebih fokus pada kepentingan diri sendiri (dgn jalan semaksimal mungkin memanfaatkan orang lain) untuk meraihkan "kesuksesan" dunia yang diimpikan dan sukses akhirat yang dikhayalkan.

Meski lebih suka bergelut dengan kitab di ruang-ruang kesunyian tapi saya sudah juga cukup kerap menyaksikan langsung perjuangan orang kecil yang sayangnya tidak sanggup sabar-ikhlas dengan kemelaratannya, sehingga sampai saya suka ketawa sendiri dengan idiom-idiom Bang Tegang tadi tentang sukses dunia akhirat, apalagi diberi embel-embel pula dengan Hadits kemiskinan dekat dengan kekufuran yang lemah riwayatnya itu. Ah, pantaslah Muhammad mengatakan pada saatnya nanti berbahagialah "orang-orang yang asing".

Sekarang sudah 6.47, entah siapa yang sedang diwawancarai Indi yang ngemesin itu. Apakah masih berduet dengan Andi Jarot yang membawa style segar dalam memperbincangkan makanan berat untuk konsumsi publik, publik generasi mie instan. Entahlah entahlah saat ini aqu sudah terlanjur login ke kompasiana.com dan sedang hepi menulis humor tak lucu ini. Biarlah, inilah semata-mata agar pembaca menangkap makna bahwa saya tidak membawa pesan apapun dan bisa dipesan siapapun.^^

Lho, Koq?

Karena tak ingin merepotkan admin saya bertanya lewat postingan aja. Loh, koq kompasiana mobile ndak bisa diakses lagi dari browser modif gw ??? Jadi kesedot deh quota nih buka full site, ndak makan lah awak seminggu hi2. But its okay, udah lama gak masuk sini. Jadi sempet accepted friend request. Oya thx buat semuanya. Setidaknya sebuah persahabatan virtual lebih potensial utk terjalin secara nirkepentingan (pada awalnya) hehehehe.


Oks sekian aza dulu. Seperti admin sayah juga lagi sibuk2nya jadi ndak bisa nulis panjang2 mesti (bukan meski ya) terus mengikuti aneka peristiwa yang terus berkembang–di luar kepentingan ekonomis gw sendiri–mulai dari Bu Diono yang sekarang keliatan gagah jadi penguasa ad interim sepeninggal Pak Beye yang sedang kondangan ke Sang Khailk hingga matinya Alm Mbah Marjan. Aku juga heran lho kok “orang” sakti dan orang “kaya” dan orang “kelihatan” religius koq bisa meninggal tewas juga seperti kami para gembel sampah bangsa yang diuber-uber preman berseragam nan makan uang negara dari pembayar pajak ituh.



Tuh kan, loh koq, jadi kepanjangan. Semakin panjang akan makin sulit dimengerti karena tidak setiap otaq memenuhi syarat2 formal sebagai mufassir kehidupan (yang dibuktikan dgn cv yang masih laku) dan tanda baiat dari sekte yang menjaga otoritas kekuasaan. Walah ngomong apa ini: kekuasaan? Loh kok jadi menyimpang. Ya, dengan menyimpang jadi ada pilihan demi pilihan, kepedihan demi kepedihan. Selesai. Belum dong kar (...not read more)

Bang Thoyb, (Calon) Istri dan Anak-Anakmu Menantiku Part. 6

Di saat tengah berbuka dengan beberapa potong buah2an tersebut lewatlah di depanku seorang cowok suspected gays. Mungkin karena ngeliat gw ganteng (hi2) tiba2 aja dia setelah sempat melewati pura2 balik dan numpang duduk ke bangku taman sebelahku. Tentu tak lama kemudian kami mulai terlibat obrolan. Dan akhirnya puannnnjaaanggg. Kebetulan Mr.guy ini juga jago ngomong. Sekarang tentu saja aku tambah yakin bahwa kebanyakan dari apa yang dia omongkan dulu itu adalah bull shit sebagian besarnya; sekedar alat untuk pdkt sama aqu, he2. Tapi jujur saja kulihat retorika ceritanya (pengetahuannya) luar biasa juga sih. Seingatku beberapa kali kulakukan tes kebohongan ia mampu melewati. Mungkin, meski gombal tapi basicly dia punya pengetahuan atas apa yang ia akan ceritakan. Mungkin juga karena sudah terlatih.

Materi ceritanya di antaranya: dia sekampus juga dan lebih senior dariku, keturunan campuran sunda-minang, istri sudah meninggal dan jadi singel parent bagi dua anak di Bandung, berprofesi sebagai penyanyi dan juga punya event organizer, dan segudang pengetahuan luar biasanya tentang teknik menghasilkan puluhan juta dari mensponsori acara2, utamanya lewat lobby ke pemda2 dan marketing2 perusahaan. Khusus untuk bagian terakhir ini terus terang gw sampai sekarang masih tersinggung dikiranya seperti m-anus-ia kebanyakan yang bisa dirayu dengan cerita berjudul duit yang buaaanyak, hi2. Tapi wajar, penampilan gw yang payah sehari2 ini tentu saja akan mengundang prejudice orang "butuh" duit dari manus-ia kebanyakan. Tapi ada untungnya juga--sebagai minangkebo mata gw langsung jelalatan jika merasakan atmosfer keuntungan yang bisa diraih--seingat gw setidaknya saat itu gw dapat sedikit makanan ringan dan sedikit cairan dari sebuah minuman teh kotak.

Lebih sejam kami--lebih tepatnya 90%-nya dia--bercerita, ia pun mengajak untuk ke istiqlal dan menceritakan kalo selama bulan puasa di sana sekarang bisa nginap. Tentu meski tidak 100% percaya saat itu gw sangat bahagia bisa dapat teman "seperjalanan" di tengah segala "persendirian", he2. Apalagi dari beliau gw jadi tahu ada KRD ekonomis banget lewat Purwakarta yang cukup menyediakan dana 3 ribu + 2 ribu untuk ke Bandung. Lalu sesampai di istiqlal kami mojok di dekat tangga sudut tenggara (atau sebelah timur laut itu ya?)--yang tertutup untuk ke peturasan umum utama. Pemilihan lokasi tempat yang lebih gelap gini memang sudah mulai mencurigakan gw. Sebelumnya juga tentu dari cara pandang dan secara instink gw juga merasa ada yang aneh. Lalu kami pun sholat masing-masing. Seingat gw karena faktor trust ini juga gw mengupayakan untuk tidak perlu berjamaah dengannya. Setelah itu kami pun tiduran bersebelahan; gw berupaya menggeser2 posisi tidur agak menjarak dikit dari dia yang sebaliknya seperti berupaya mendekatkan. Dan dia melanjutkan cerita yang mulai nyerempet2 ke kisah yang mengindikasikan "penyimpangan" seksual. Nah bukti kemudian yang lebih meyakinkan adalah ketika cerita sudah tak ada melantun terdengar, senyap, tapi mataku belum terlelap, kurasakan tangannya menggerayang mengelus2 rambutku, kemudian juga mulai megang2 tanganku! Aw aw aw!

Bang Thoyb, (Calon) Istri dan Anak-Anakmu Menantiku Part. 5

Selesai belanja di supermarket di mall bersangkutan gw mendapatin bahwasanya di luar sedang hujan. Aku pun tetep menunggu cukup lama hingga betul2 reda dan ridha 'coz basah2 sedikit ajja di kepalaku niy bakal sangat berbahaya buat kesehatan q yang saat ini musti dijaga ketat sebisanya. Selain tentu saja bakal repot nyuci kalo pakaian baseuh. Setelah gerimisnya cukup sangat tipis baru aku beranjak. Menjelang HI gw sempat muter2 sebentar mencari sebuah alamat travel dalam daftar q yang diiklannya membutuhkan jongos tapi ndak ketemu waktu itu. Maklum, aku juga sedang diburu waktu.

Keinginan bersantai di bundaran HI--mungkin ini baru yang kedua kalinya q ke sini karena yang masih kuingat untuk pertama kalinya dulu 10 tahun silam sewaktu "demo" ke monas bareng kakak2 mentor di PK(belum S)--terpaksa kutunda dulu meski di sebuah sudut kulihat sedang ada "acara". Sebentar lagi magrib dan aqu sudah merencanakan untuk mengincar buka gratis di istiqlal. Pas lewat BI aqu juga lihat orang pada buka bareng di basementnya tapi waktu itu q ndak tahu kalo terbuka bagi umum dan para pendatang liar, tidak hanya untuk lingkungan koneksi elite atawa jet set. Belakangan baru kutahu lingkaran koneksi kaum kere juga berduyun-duyun ke sini.

Pas nyampe gerbang selatan monas aqu makin deg2an karena hari terlihat makin beranjak gelap dan tak lama kemudian--sebelum nyampe gw ke tengah2nya--adzan sayup-sayup berkumandang. Walhasil gw berbuka saja di tengah perjalanan yang nyaris saja ini dan untungnya tadi sempat beli buah2an. Kebetulan juga di saat itu aqu dilanda haus yang sangat hebat bin mahadahsyat setelah jalan kaki dalam keadaan berpuasa di bawah teriknya mentari dan sangarnya polusi ibukota penuh kotoran ini selama seharian. Kalo ndak salah waktu itu aqu juga ndak punya air tapi merasa cukup dengan buah2an. Keinginan membeli makan-minum di parkir selatan monas kutunda dulu walau di sana aqu udah nandain sebuah warung tenda masakan padang yang mau jual nasi + telor dadar enam rebuan. Dan di saat bersantai mengunyah buah2an inilah aku berkenalan lagi dengan serang kawan yang belakangan kusinyalir kuat sebagai homo/gay namun cukup berjasa besar kehadirannya di saat itu buat kehidupanku sebulan ke depan.

Bang Thoyb, (Calon) Istri dan Anak-Anakmu Menantiku Part. 4

Pencarian dan rencana dagang kurmaku akhirnya ternyata kandas. Meski belakangan aku tahu kalo disini juga tempat ngecer bukan grosir tapi sebetulnya aku dapat juga harga grosir yang cukup murah dibanding lain-lainnya. Cuma harga kurma tahun ini kelewatan banget mahal. Aqu sendiri rasanya tak tega ngejual dengan harga pasaran segitu. Belum lagi aqu masih penasaran dengan murahnya harga kurma yang diecer pedagang asongan di kereta yang entah siapa supliernya. Untuk sementara dan hingga kini rencana dagang kurma pun dipending meski aqu juga punya daftar alamat tempat grosir di tempat lain. Sayangnya waktu itu aqu belum tahu (atau lupa) tentang alamat grosir2 parfum di jalan fachruddin dan hingga kini pun belum sempat--ceilee, sok sibuk--ke sana lagi.

Lalu sehabis meriksa2 kedai kurma yang kutemui ndak seberapa itu sampailah aku di jembatan penyebarangan pejalan kaki dekat jembatan ke arah petamburan yang kuduga di sinilah tempat Hercules pertama kali meniti karir dengan sebilah golok, tangan buntung, dan mata bolongnya. Di atas jembatan itu selama beberapa waktu aqu ngobrol sama wts2 yang sedang ngetem menjual dirinya. Salah seorang wts pada termin pembicaraan agak akhir sempat marah2 dan agak sedikit ngancem mungkin karena ada omongan gw yang tiada berkenan di hatinya. Lalu dari sini aqu pergi menemui sebuah masjid di lantai paling atas pasar "daging" untuk shalat jumat dengan berbekal petunjuk seorang wts pula, hahahahahaha.

Seusai jum'at dan menikmati pemandangan atap Jakarta, dengan rasa enggan aku kembali untuk menunaikan perjanjian bertemu lagi dengan anak malang yang sekepergian denganku ke Tenabang niy. Cuman gw agak licik juga melambat2kan pertemuan kita--ke seusai shalat, tapi emang kebetulan bisanya begini sih--dan alhamdulillah nggak ketemu. Tetapi sesudah ketakbertemuan itu tetap saja gw ndak bisa menjalankan rencana semula jika si dia ndak ada dikarenakan sebab2 lain, he2. Setelah selesai sementara urusan di Tanah Abang aqu lalu berjalan menyusuri arah selatan lalu belok kiri hendak menuju Sudirman untuk rute pulang lewat bunderan HI. Eh, ternyata kemudian aqu malah nyangkut di Mall Thamrin Square dan shopping2 dikit sebentar--yang aqu ingat cuma belanja potongan2 buah (menjelang busuk) yang di campur dandidiskon dan ternyata memang berguna untuk berbuka yang tak sesuai rencana nantinya--he2.

Bang Thoyb, (Calon) Istri dan Anak-Anakmu Menantiku Part. 3

Pagi harinya--sesudah tidur segar di atas masjid pemerintah yang mana daripada keluarga saya adalah pembayar pajak guna menggaji yang mana daripada para pengurusnya merasa itu adalah asset dan privat (kapital) milik bapaknya--sekitar waktu dhuha aku bangun lalu keluar untuk bersiap jalan. Oh ya, kalo gak salah bangunnya juga terpaksa karena dipriwit sama pluit satpam. Seperti rencana semula aku hendak ke Tanah Abang dengan niat cari grosir kurma. Kebetulan di luar pas lagi mengikat tali sepatu di pintu istiqlal yang depan gereja aku secara kebetulan menjalin pula tali pertemanan dengan seseorang.

Anak ini--aku sudah lupa namanya, he2--mengaku sebagai kenek bis pariwisata dari Malang yang sedang malang. Rencana ia, ngakunya, mau mencegat rombongan yang datang nantinya ke istiqlal--karena kenal para awak bis pariwisata dari kota itu--sehingga jadi bisa numpang sekaligus nebeng makan dan rokok buat pulang. Singkat cerita ia ikut aku ke Tanah Abang. Sebelumnya convertation kami sempat saling pingpong untuk menyepakati tujuan kami berdua hendak kemana jalan karena tentu saja aqu tak bisa untuk 100% percaya sama orang gak jelas yang tiba2 dateng dari langit gini. Lah berdasar pengalaman pribadiku, yang sudah jelas 1000% ajja tidak menutup pintu untuk kemungkinan dusta dan khianat. Kenapa? Karena maklum inilah politik dan siasat manusia mempertahankan kepentingannya di dunia, walahhh.

Lalu kami jalan menyisiri jalan samping veteran, lalu menyebrang dan menyilangi monas, lalu menyusuri thamrin, belok di wahid hasyim dan sampailah. Di tengah perjalanan anak malang ini buka puasa duluan--atau bisa jadi emang engga puasa--sedangkan aqu "kebetulan" di hari itu sanggup bertahan hingga maghrib meski nantinya pas balik ke istiqlal juga jalan kaki lagi di bawah panas terik mentari. Meski tidak lagi mau tertipu oleh Islam tampilan luar tapi terus terang gw agak kurang sreg pas dia ngajak minum dan batalin puasa. Kemudian setiba di TKP, di bawah jembatan mall tenabang itu kami berpisah untuk berkesepakatan bertemu lagi. Kebetulan dia pengen nyari tempat boker dan kebetulan gw emang pengen memisahkan diri karena sebuah keperluan tertentu yang sebaiknya tidak melibatkan beliau. Lalu aku jalan sendiri nyari lokasi orang jualan kurma.

Bang Thoyb, (Calon) Istri dan Anak-Anakmu Menantiku Part. 2

Hi penggemar2 qu. Berikut2 kisah2 berikutnya. Mana tau suatu saat bisa jadi pentink untuk (pijit) refleksi (peng)hidup(an) Anda. Di ujung pertengahan agus, ke Jakarta aku 'kan kembali. Dari Bandung tetapi. Setelah nawar2 ongkos angkot, qu naikin salah satunya hingga Kiara Condong. Di sana cukup lama baru qu dapat naikin kereta serayu (sekian) dari Kroya tujuan stasiun kota dengan tiket seharga 19.000 (tarif Kota-Tasik). Eh, ternyata kereta kelas kambing (ekonomi) ini jugak berhenti di stasiun bandung. Jadi cape deh.

Tadinya aku berencana untuk ikut hingga ke Kota supaya (mana tau) bisa nginap di mesjid yang dulu pernah kukunjungin sewaktu ke kampung bandan; yang ternyata bisa tembus langsung juga dari ujung stasiun djakarta kota itu. Tapi karena dah mau buka puasa sementara aku belum shalat ashar, kuturunkan kaki sewaktu ia ngetem di senen. Alhamdulillah (ceilee, "keliatan" saleh niyeee), sempat. Nah, selesai buka dan maghrib di stasiun ini baru aku bingung lalu mau kemana. Kalo ndak salah sih aku sudah merencakan juga sebelumnya buat ke istiqlal tetapi faktanya saat itu sudah mulai malam. Aku tak hafal jalur transportasi tapi tau jalur jalan kaki 'coz punya map, hue he. Lalu keluarlah aku dari stasiun ini tanpa tujuan dan arah yang pasti.

Setelah muter ke terminalnya, aku lihat2 dulu pasar kue dadakannya--senyampang emang bingung mau kemana yaa. Lalu kuisya di mesjid yang biasa yang ndak bisa diinapi 'coz digembok. Lalu aqu duduk2 di taman monumen (entah apa namanya) yang mana daripada disana sedang kumpul2 di dekatku komunitas gay! Salah seorang homo disana mengingatkanku untuk hati2 akan kriminalitas disana, termasuk copet. Ah baik juga dia; jarang2 kutemuin orang baik (walau kelihatan saleh tampilan luar) di jaman manusia2 pendengki tukang celetuk tanpa sebab yang jelas ini. Salah seorang dari para homo itu menawarkan tidur di kosannya dia yang tentu saja aku tolak dengan perasaan ngeri he2. Nb: kelak di bagian cerita berikutnya ternyata aku juga akan mendapat pertolongan dari seorang homo lagi! Lalu dari situ aku jalan ke arah kwitang--mungkin dengan tujuan istiqlal--namun ternyata kemudian disana aku memutuskan tidur di taman2 yang ada bangkunya. Sempat pula pindah posisi ke yang depan mako brimob atau marinir. Di sana pas bangun dapat teman bercerita sebentar; remaja priok yang katanya kemaleman buat dapat bis. Lalu aku sahur di warteg yang ada buka kebetulan disana; deket "hotel" tempat tidurku. Lalu aku jalan untuk menunaikan shalat subuh ke istiqlal. Kelak di bagian cerita berikutnya nanti, tiduran kemaleman di emperan kwitang begini, sahur di warteg yang itu lagi, lalu jalan ke istiqlal untuk subuh akan kulakoni lagi.

Setelah subuh tentunya akhirnya aku bisa tidur cukup enak pagi itu di atas karpet mesjid hingga mentari terbit memanggil bagi sebuah episode berikutnya: perjalanan (kaki) ke Tanah Abang. Sebagai catatan psikologis-kejiwaan sosial-massa untuk episode pertama ini: karena tentu saja pada waktu itu (dan juga waktu seterus2nya he2) aku terlihat banget tampil bagai gembel (eh, emang gembel koq) dan terlihat amat kelihatan dan diperlihatkan miskinnya, aku bisa menyaksikan wajah2 kebahagiaan (meski tentu tidak 100% semua gitu), penghinaan, peremehan dari para si miskin yang mengalami internalisasi penindasan (teorinya). Satu2nya cara bahagia bagi orang-orang susah ini (katanya) adalah bisa melihat ada orang yang lebih susah dari dia. Hahahahahahahahahahaha, oke cape dulu nih, bersumbang.....

Agama Semua Manusia

Tamak, licik, pendengki, dan bunglon. Saya merumuskan empat hal ini untuk memperjelas penanda bagi "konsepsi" orang-orang munafik meski secara person(al) kita memang tidak bisa main tunjuk hidung. Karena untuk kejahatan (dan kebusukan yang tersembunyi) hanya Tuhan atau Hantu yang akan membuat perhitungannya sendiri di hisab akhirat nanti. Adalah suatu yang menggelitik bagi saya ketika mendapati kenyataan bahwa dalam ajaran Islam (salah satu bendera klaim kebenaran agama yang penuh warna) diberikan keterangan jika manusia munafik (artinya, busuknya tidak ketahuan) ditempatkan di neraka jahanam melebihin tempat bagi orang-orang engkar, fasik, dan atheis sekalipun.

Sejak beberapa hari i'ni beberapa kali i'ni saya sering mendapat jatah makanan "gratis" sehingga mengakibatkan pengeluaran searahku menjadi turun drastis. Bener juga "katanya" bahwa jika kita sabar serta mengimani qadha dan qadhar (rukun iman yang bernasib seperti pluto, berstatus planet kerdil yang tak dianggap hi hi) maka akan diberikan rejeki dari arah yang tidak diduga-duga. "Rasaki indak bapintu," kata petuah Minangkebo. Indahnya pulak kalopun ndak dapat ya no problem juge lah yaw. Makanya Nabinya orang Islam tidak terlalu menganjurkan memberi kepada orang-orang yang sengaja (licik) meminta-minta. Peminta-minta ini termasuk yang omsetnya Trilyunan lhoo yaa; meski dikamuflase atas nama jiwa wirausaha, enterporneur, kerja keras, kerja culas atau apalah (selingkungan dan berkelindan dalam konsep permainan petanda penandanya Derrida). Lalu memberi terang-terangan dibenarkan jika sanggup untuk tidak riya. Tapi, ah, taulah politik umat dunia. Atau mungkin si sayah ini sajah yang anggaplah gitu kalee.

Sejatinya agama adalah tauhid atau iman, yang dengan "sarana syariat" ritual dan muamalah, berbuah akhlak cantik. Ini input dan itu outputnya. Tapi dalam paradigma materialism penanda kongkrit berupa sarana, baik yang ritual maupun muammalat, tadi menjadi seolah terpenting dan menjadi inti karena lebih riil dan kongkret. Apalagi sekarang jadi merk-brand-nama bank he he he tentunya dalam psikologi komunikasi bisa dipahami adanya sebuah sugesti tanda. Iman dan akhlak apa itu? Relatif dan abstrak! Padahal disinilah nilai sesungguhnya: awal yang baik (niat) menghasilkan (bukti ter-)akhir yang indah. Sementara banyak orang terlena (serius banget) dalam proses (permainan) sementara sarana-alat-tools yang sebetulnya bersifat alternatif dan berjenis subtitusi sejauh berpegang tegar pada esensi atau substansinya pada "niat dan tujuan" tadi. Sekali lagi, ini semua dalam permainan kelindan tanda-tanda dengan ribuan symbol, icon, index dunia fana yang oleh orang-orang "pintar" dipertakmudahngerti dengan istilah diskursus atau biar makin gagah (kelihatannya): diskorse yang dialektik ini hahahahaha.

Sejak Adam, Ibrahim, Musa, Yesus hingga Muhammad sebetulnya inti yang dibawa dan rentan rusak itu adalah tauhid. Peng-Esaan. Disebut gampang rusak karena sangat halus wujud petandaannya. Disebut-sebut bahwa hanyalah ada batas tipis antara keadaan beriman dan tak beriman. Kenapa? Karena "kesadaran" bisa membuat kita setiap milidetik berpeluang ingkar kepada yang bukan tampakan kontra realitas; sekali lagi nama lainnya (mohon maaf kalo saya berkesan menjelek-jelekan impian Anda): materiil. Apakah kita mengimani yang abstrak itu karena an sich, fitrah, quo vadis, id, hidayah, cahaya ataukah karena dengan gitulah bisa mendapatkan posisi, status, peran, perlindungan, pelibatan di tengah-tengah masyarakat riil realitasku; lagi-lagi dipengaruhi (atau dikuasaikah!) oleh kesadaran materiil. Ini apakah soal perpilihan ataukah "keterikutan"? Makanya disebut-sebut lagi bahwa nabinya agama dari langit terakhir, Mr. Muhammad, datang diutus cumanlah sekedar kembali memurnikan tauhid yang secara alamiah senantiasa diabaikan bahkan dirusak generasi penerus umat pendahulu-pendahulunya. Lalu aplikasi orientatifnya adalah kesempurnaan akhlak. Seorang mukmin yang berjalan rendah hati di muka bumi ini meski dihina oleh orang-orang bodoh (kader-kader Jaringan Alwahn Laknatullah) sembari tetap mendoakan keselamatannya (ah, aqu yang masih nista dan juga bodoh banged ini koq belum juga sanggup untuk begitu). Bahkan juga difitnah sebagai bertujuan kaya raya dan bertujuan tahta, padahal anak penggembala kambing dan jongos calon istrinya ini menjahitkan sendiri bajunya yang sobek dan melipatkan batu ke perutnya untuk menahan lapar tanpa merasa perlu berpolitik licik dan minta-minta "jatah" sama "networking" Sahabatnya yang lebih tepatnya merupakan pengikut (follower) yang taat total bukan kumpulan kongkalingkong saling jilat dan tipu-tipu politis dan puitis erotis (keindahan nan jorok seronok woii).

Lalu kemudian selalu ada yang akan kembali melencengkan akidah ini. Berjamaah dalam kesesatan arus majoritas, seperti disebut-sebut Kor'an bahwa hanya bagian sedikit yang betul-betul sanggup untu bertahan beriman, karena keterpukauan nya (atau para nya) pada alam "kesadaran palsu" dan realitas kongkrit fiktif temporal yang sebetulnya tak lebih dari dunia imajiner, simulasi, atau kefanaan ini. Seberharga apakah imajinasi sehingga seorang Prof. Einstein pun lebih memujanya dibandingkan ilmu pasti? Barangkali memang sangat tipisnya batas beriman dan tidak beriman itu sehingga seorang mukmin senantiasa "idealnya" harus takut jatuh ke lembah kenistaan hidup sebagai munafikun (walau tentu saja tak ketahuan); merasa benar sehingga lengah, bisa menipu relasi dan fans tapi tidak Tuhan atau Hantu (sorry Jack, dengan permainan konsep "pilihan" tanda ini) yang tentu banyak, dan segala, dan sempurna Tahu. Makanya, kata Tuhan semua agama kepada para malaikat, seandainya bumi ini diisi oleh orang-orang patuh yang tanpa cacat maka akan dimusnahkan dan diganti dengan hamba-hamba yang bermaksiat namun mau untuk bertaubat. Karena intinya sederhana saja: tauhid. Pengakuan, ketergantungan, ketundukan ke ke-Esa-an-Nya yang tidak disekutukan dengan aneka bentuk materi dan material lian "yang lain-lain". (Te)tapi macam-macam tingkah kita dan kami berkilah. Seperti tipisnya batas keimanan dan ketidak berimanan ketika harus mencari tahu, men-cek, mempertanyakan keikhlasan ibadah dan keinginan mencari "ridha" ilahiah. Apakah beriman "supaya" mendapat Surga (dunia) ataukah beriman Sehingga mendapatkan syurga. Berbicara pegangan dan titik terang saya menyarankan kepada pemirsa yang mau mengimani agama untuk semua manusia ini--dan bisa menerima faham non formalitas (surface structure, waw) melainkan substantif dan eusi yang jujur--untuk menjauhkan diri dari penanda kemunaan dan kejahanaman di awal tadi: tamak, licik, pendengki, dan bunglon. Sudah seyogyanya iman, akidah, dan tauhid akan berbuah akhlak manis nan, sekali lagi perlu banget ditekankan, substantif (bukan formalitas tampilan permukaan yang penuh kamuflase, intrik, dan lagi-lagi, pepesan kosong tipu-tipu) sebagaimana pedoman kepada sunah Muhammad yang "idealnya" kontras dengan sifat perangai masyarakat jahiliah matreliniah. Pernah di sebuah ketika Abdullah bin Amr berkata: "Rupanya itulah yang menyebabkan kamu mencapai derajat itu, sebuah amalan yang kami tidak mampu melakukannya". Pernah juga di sebuah ketika yang maha Ketika (karena tidak bisa ditelusurin dengan kalender duniawi) Syetan bin Medit bertutur: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil." Entahlah, jangan terlalu banyak mengigau ceramahin orang dan sese(ring)kali ngacalah wahai Derridas....

Syirik Matrelinial dan Penyakit Al Wahn

Pada masa hidupnya Muhammad SAW telah memprediksi bahwa umatnya akan mengidap penyakit Al Wahn. Dalam hadits lain pula Nabi juga menyatakan ("meramalkan") bahwa kelak umatnya akan mengikuti tingkah laku para pendahulu mereka (yakni Yahudi dan Nasrani) sedikit demi sedikit lalu lama-lama menjadi bukit. Apalagi kalo bukan seputar upaya mengejar kesenangan duniawi; seputar harta, kekuasaan, dan seks.

Pada masa kini--yang sebetulnya hanya sebuah perbuatan repetitif terhadap tingkah-tingkah masa lalu tetapi dalam bentuk dan bungkus baru--mulai muncul dengan menguat aliran-aliran Islam yang berlandaskan dan berfondasikan keduniawian. Menariknya mereka-mereka ini mengklaim diri sebagai Islam yang paling benar (dan besar). Ulama-ulama atau insan-insan yang zuhud dan menjauh dari keduniawian akan disangkakannya sebagai orang yang lemah dan Islam yang lembek. Sementara yang terlalu keras--kaum khawarij yang tidak terlalu jauh sesatnya dibanding mereka--dituduh pula tidak ke "tengah" dan "rahmatan lil alamin". Dalil-dalil agama yang mereka keluarkan dipilih-pilih yang bisa diretorikakan untuk pembenaran bagi penyakit Al Wahn mereka. Penyakit cinta dunia dan takut mati.

Orang-orang ini--yang tidak hanya satu segmen, celakanya, variatif pula dan saling berebut pengaruh (duniawi)--berasumsi seolah-olah Islam dan dakwah tidak akan bisa tegak tanpa upaya ambisius (kelompok dan aliran versi) mereka. Cape deh. Maka benarlah apa yang ditangisi Umar RA pada saat Haji Wadha bahwa sesudah kesempurnaan yang ada adalah kemunduran. Generasi Islam terbaik adalah pada masa Nabi Muhammad hidup bersusah payah, ditindas, dan penuh kesabaran tanpa pragmatisme apalagi upaya licik oportunisme. Sementara orang-orang yang silau dunia ini membayangkan Islam yang berjaya dengan harta benda dan buncitnya perut.

Mereka-mereka ini menafsiran manfaat kehidupan dalam perspektif yang tidak berbeda dengan orang kafir karena mereka sudah menjadi munafik dan menggunakan "keunggulan duniawi" untuk struktur nilai akhirat. Ya, sepengetahuan saya dalam Quran hanya menyebutkan dua hal yang membedakan hierarki nilai manusia secara vertikal. Yaitu, ketaqwaan dan keilmuan. Yang kedua tidak lebih abstrak dari yang pertama. Nah, aliran-aliran Islam Al Wahn ini karena sudah menjadi munafik dan separadigma dengan kaum kafir tidak sanggup untuk menerima konsepsi begini dan membutuhkan struktur penilaian yang lebih riil dan kongkrit. Yaitu, duit dan kekuasaan. Salah satu penanda orang-orang ini adalah mereka suka bersembunyi di balik topeng formalitas dan tampak luaran. Niat, substansi, filsafat, konsep, dan hal-hal yang abstrak (non materiil) sangat mereka benci. Betullah kata Rasulullah bahwa ulama yang dekat dengan penguasa itu adalah pencuri.

Menolak ideologi kaum Al Wahn bukan berarti membuat kita manusia yang tidak membutuhkan fasilitas duniawi. Ini juga tidak ada kaitan dengan soal kaya miskin, melainkan soal tamak atau qanaah. Tidak sedikit si anjing miskin yang tamaknya melebihin si kaya raya; kacian banged deh gak kesampaian. Makanya juga kata Rasulullah lagi orang kaya itu pahalanya sedikit, kecuali yang zuhud, dan bahwa pada harta orang kaya itu terdapat hak orang miskin. Bagi penderita Al Wahn dan manusia-manusia ambisius terdapat pandangan bahwa apa yang dihasilkannya itu adalah buah kerja keras dan orang yang tak kaya adalah karena malas. Bagi saya kerja keras adalah sesuai kemampuan masing-masing yang berbeda-beda takdirnya dan merupakan wilayah proses; sedangkan hasil adalah sepenuhnya sudah ditakdirkan dari sononya. Maka ibaratnya, kita bisa melihat dunia ini seperti cewek cantik. Kita boleh suka semuanya, dan kepengen, tapi cukuplah mencintai empat saja. Bagi orang tamak tak ada batas kecintaannya pada ambisi dunia kecuali mati--yang sangat tidak mereka inginkan datang itu.

Menariknya, sebetulnya disinilah kesalahan fatal dan sangat radix dari aliran Islam Al Wahn. Kesesatan mereka terdapat pada hal paling fundamental yakni akidah. Sesuatu yang abstrak dan bisa dimanipulasi lewat tampilan luar. Orang-orang yang cinta dunia ini telah menyekutukan Tuhannya (yang tidak realitas itu) dengan materi yang lebih riil dan nyata dan kasat mata. Walaupun, tentu saja mereka akan berkilah. Barangkali mereka akan bersiap-siap lagi membuat sejarah sebagaimana perjanjian konstantin menyatakan Yesus sebagai Tuhan, atau masyarakat Yunani yang membutuhkan Hercules sebagai putra Zeus yang nyata dan buka praktek riil, karena mereka kaum Al Wahn ini butuh meteriil yang kongkrit yaitu Tuhan yang berdaging. Kebodohan memang sulit mencerna abstraksi. Wallahualam.

Bang Thoyb, (Calon) Istri dan Anak-Anakmu Menantiku Part. 1

Sudah berbulan-bulan Aku ndak nulis blog, berbulan-bulan sudah pula Abang tak pulang-pulang. Kalo kuperhatikan titit mangsa di blog Gw, terakhir update sekitar April silam.

Sekitar awal tanggal 12 Juni Gw berangkat ke Jakarta. Oks, kali ini berupa summary aja; guna menyingkat waktu--berharga Anda, dan Andi. Kalo setahun sebelumnya Aku merantau (lagi) ke Jawa seingatku Bulan Julinya--untuk "terpaksa" kembali pulang Agustusnya--kali ini setidaknya aku bertahan hingga akhir Juli ini. Sementara "idle" di kosan adikku di Bandung.

Tanggal 12 Juni tersebut "akhirnya" Gw dapat "ijin" untuk "berangkat" lagi. Bertepatan dengan dapat harga tiket pesawat yang cukup murah. Ini untuk pertama kalinya aku berangkat dari Bandara International Minangkebo; sebelumnya untuk pertama kali dulu dari dan sewaktu menjelang Bandara Tabing hendak ditutup; sementara satunya lagi sewaktu pulang sehabis selesai kuliah dari Cengkareng di Tahun 2007. Ciehhhhhhh.

Hari itu tak disambut hujan macam setahun sebelumnya. Dari rumah Aku melangkah beberapa meter ke Simpang Bypass. Setelah menunggu beberapa saat di bawah teriknya mentari--padahal "wilayah" Gw sendiri--Aku bisa mendapatkan tumpangan truk untuk ke Simpang Duku. Lumayan hemat ongkos dibanding mesti ke Tabing dulu buat nyari bis bandara. Dari simpang tersebut Aku jalan ke dalam--lagi di bawah sangat dan sengatnya terik mentari--dan kelewat shalat jumat karena ndak nemu mesjid. Nggak sampai sekilometer, aku berhenti di sebuah warung dan setelah diam beberapa waktu di sana akhirnya aku dapat tumpangan mobil--sedan pulak--dari seorang gadis remaja. Sesampai di BIM--cukup earlier--baru Aku sembahyang--setelah survey-survey dulu di luar sebentar melihat terminal ramai nian ini. Sebelum pesawat take on, Gw sempat-sempatkan berusaha menjual modem usbku ke orang-orang--include sepasang bule. Tapi teu payu.

Lalu sampailah Aku di Bandara Cengkareng Propinsi Banten pas maghrib. Di sini aku menginap hingga pagi, sembari memperhatikan aktivitas terminal internasional niy, mana tahu bisa dagang di sini. Tidur(-tiduran)nya ya di bangkulah. Paginya lantas Aku naik Damri jurusan Pasar Minggu. Untunglah di sana hari itu juga aku bisa dapat kosan dengan harga cukup murah tapi smoga aja tidak murahan. Kemudian hari itu juga kusempatkan dulu sebentar main ke rumah Miza di Parung. Balik dari sana Aku bisa bawa matras untuk tempat tidur--daripada meniduri yang engga-engga, he2.

Nggak sampai sebulan di sana--yang tepi bangetnya Kali Ciliwung--Aku dua kali jatuh demam. Praktis ndak bisa ngapa-ngapain benar Aku. Baik mencari kerja--sebagai jongos--maupun bisnis sendiri (diutamakan). Tapi sempat juga beberapa kali kelayapan, termasuk nginap sama Sibos di Bekasi. Adikku sempat pula ngantar laptop yang tak bisa "dipakai" karena juragan kosku mulai matree ngincar bayaran tambahan dengan alasan uang listrik. Waktu baru sembuh dari sakit yang pertama kali--berobatnya bayar di puskesmas--cuman sekitar tiga hari kemudian aku demam lagi dan walhasil sekurang-kurangnya selama seminggu lagi ndak bisa ngapa-ngapain. Cuman pada sakit yang kedua ini Aku beli obat luar aja.

Singkat cerita karena salah satu adikku mau pulang dulu ke Padang, Gw memutuskan tinggal sementara di kosnya dia. Lalu pergilah Aku dengan K.A Argo Parahyangan ke Bandung lautan cakil. Satu hal yang paling kupentingkan dengan keadaanku yang masih kurang baik secara kesehatan gini adalah: di kos adikku ada dispenser buat bikin air panas dan tentunya: tempat tidur plus selimut. Sekarang di sinilah Aku kembali di Kota Kembang. Sementara prioritasku tetap balik ke Jakarta nantinya sembari memikirkan alternatif lain. Sembari itu Aku untuk pertamaxxx kalinya menikmatin akses internet unlimited--walau dengan bandwith terbatas dari Tri. Bahkan sehari ini sinyal EDGE-nya hilang-hilang muncul. Tapi (kadang-kadang) signal WCDMA atau HSDPA-nya muncul juga 0-1 baris (di hari lain). Dan, yang, pasti di sini, di tempat yang cold gini: Aku jadi jarang mandi (lagi).

Menariknya di Java Island ini bagiku sama saja mau mandi subuh, pagi, siang, atau sore--sebaiknya jangan malam--karena--ada di kalimat selanjutnya. Kalo di Jakarta saking panasnya mandi pagi juga rasanya biasa-biasa aja. Kalo di Bandung saking dinginnya, mau mandi siang, sore, atau subuh rasa-rasanya juga tetap sama-sama dingin juga.

Kembali ke bisnis dan enterporneur,--Gw tetap berusaha menghindarin kemungkin menjadi jongos tawakal asal tajir status karena kurang berbakat jilat pantat dan muka topeng--sebetulnya selain di Jakarta, di sini juga ada beberapa hal yang tampaknya sekarang bisa untuk digarap. Dan, berbagai kemungkinan terus terbuka; termasuk (hingga) ekspansi ke Indonesia Timur, he2. Oh ya (<--sepucuk surat banged eaa) jadi ingat kalo dulu Gw pernah punya rencana untuk lebih mengorganisir sekaligus "membetulkan" ideologi OPM di Pengunungan Puncak Jaya sana dalam menghadapi (sebagian) bandit-bandit di TNI-Polrinya NKRI penuh manusia bertopeng ini. Tapi ya keaknya "investor" dan "promotor" asing juga sudah cukup kuat bermain di sana, plus pula politik dua kaki mereka dengan komprador-komprador plus pelacur intelektual negeri indon oportunism ini. Ok dahhh, yang lebih deket dulu aja: jual ini, jual itu yang halal, thoyb, dan dengan kultur jujur karena Hantu menyukai hambanya yang "bersusah payah" namun qanaah dalam mengais rezeki. Yang, penting tetap menjaga idealism untuk tidak bernetworking apalagi politik muka topeng dan jilat pantat dengan jemaat aliran Islam Alwahn dan ras ambisius denki matrelinial. Kalo bermuamalah, bolehlah. Sepertinya halnya dengan orang kafir, juga anjing. (bersumbang...)

Nasionalisme Indonesia Raya di New Century

Buyarnya koalisi indah yang dibangun pemerintahan SBY seri II sebab century case mengindikasikan sesuatu. Semenjak Reformasi 98, konsolidasi nasional bangsa Indonesia terasa untuk bertahun-bertahun mengalami sebentuk kerapuhan. Desentralisasi eksponen kekuatan politik ke berbagai kelompok-kelompok bangsa akibat tumbangnya otoritas mapan Orde Baru seperti meretakkan jalinan ika yang selama ini diikat bhineka. Dalam waktu lima tahun hanya--1998 hingga 2004--Republik Indonesia ini memproduksi empat orang presiden sebagai pemimpin; setelah sebelumnya seorang Soeharto bisa berkuasa selama 32 tahun dan seorang Soekarno sepanjang 20 tahunan. Pasca Reformasi 98, ada institusi TNI yang setidaknya punya peran politik yang baik berupa menjaga kesatuan bangsa. Menariknya, petinggi TNI terlibat sedikit serius saat menjadi pihak yang memihak pada proses politik "kancil pilek" jatuhnya K.H Abdurrahman Wahid, komando tertingginya, yang gagal membuat Maklumat Presiden menjadi hukum sebab tidak didukung tentara.

Sehabis SBY terpilih untuk kedua kalinya, dengan dukungan langsung lewat suara rakyat 60% plus, terlihat seperti ada harapan akan adanya otoritas dominan baru di negeri yang sangat bhineka dan rentan ini. Pasca Pilpres 2009 bahkan SBY memperkuat tampuk otorisasinya dengan membentuk koalisi yang telah terbina sebetulnya sejak masa kekuasaannya yang pertama. Koalisi ini sangat gemuk; bahkan terlihat merangkul partai oposisi terkuat, PDIP, dengan menghantarkan Taufik Kiemas ke kursi ketua MPR. Tentu saja teman-teman koalisi SBY menjadi nyaman dan makin yakin dengan Partai Demokrat yang menjadi kuda sangat hitam dan langsung mayoritas di masa pemerintahan kedua ketua dewan pembina dan pendirinya tersebut. Tapi kenapa baru sebulan pemerintahan spektakuler SBY jilid II ini resmi berjalan, koalisi indah tersebut seperti dengan mudahnya retak berkah kasus century dan isu aliran dana yang tidak atau belum terbukti?

Kemapanan otoritas baru yang kuat sepertinya menjadi masih butuh waktu. Kemapanan politik yang diharapkan menghasilkan kestabilan jalannya pemerintahan pun terganggu. Kader-kader partai baru Demokrat sepertinya harus lebih belajar banyak untuk bisa berpolitik cantik dan indah; bersaing dengan bhineka politik lain yang tidak kalah mapannya; mulai dari Golkar, PDIP, hingga PK Sejahtera. Semua nasionalis, tapi pecah kongsi. Sejarah nasionalisme Indonesia, jika kita telisik kembali, adalah persatuan anak bangsa yang sama-sama tertindas oleh penjajahan selama beratus-ratus tahun. Sejarah persatuan kita bukanlah persamaan ideologi, primordial, bahkan asal-usul, melainkan ketertindasan oleh penjajahan asing. Asing yang merampok kekayaan negeri makmur sentosa Indonesia Raya. Semangat persatuan kita pada akhirnya mewujud dalam ikhtiar untuk kembalinya kekuatan politik, ekonomi, hingga sosial kepada bangsa sendiri. Di sinilah kemudian muncul kebersamaan dengan landasan keadilan untuk kita semua; dari berbagai suku, keyakinan, hingga gank pergaulan. Tapi apa yang terjadi? Sudahkah kembalinya otoritas politik dan kekuasaan kepada anak bangsa sendiri tersebut juga sejalan menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat bangsa sendiri yang aneka dan yang telah lama tertindas ini? Selain tertulis dengan indah saja di butir kelima Pancasila....

Kemapanan otoritas politik dan pemanfaatan kekuatan militer oleh pemimpin-pemimpin kita selama ini telah sanggup menjaga situasi persatuan meski keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tersebut masih jauh panggang dari api. Bahkan petinggi-petinggi bangsa ini ada yang dicap antek-antek asing dan muncul istilah dalam langgam dangdut berupa: kini giliran bangsa sendiri yang menjajah sesama bangsa sendiri. SDM-SDM terbaik bangsa ini kabarnya dimanfaatkan dan lebih dihargai oleh negara lain; sejalan seiring dengan terus keluarnya dengan harga murah SDA-SDA terkualitas bumi pertiwi ini. Sebab para penyelenggara pemerintahan justru direkrut melalui jalur-jalur kotor, SDM-SDM kelas kolor; dari generasi ke generasi. Manusia-manusia low-mid quality (seperti Q); yang mesti menjalankan politik kantor untuk dapat posisi. Berbekal networking, nepostism, dan negoisasi, nilai riilnya bisa dikatrol dan kontrol. Sementara otak-otak cemerlang terpakai oleh sektor swasta; yang terang saja tentunya akan berorientasi profit semaksimal mungkin untuk berbakti pada para pemodalnya; alih-alih kejayaan nusantara. Indon... indon....

Konsolidasi kesatuan kekuatan eksponen-eksponen berbagai kelompok bangsa yang dipilih dilalui secara demokratis oleh SBY kini sebenarnya cukup memberi harapan baru. Sekian puluh tahun merdeka dan telah memasuki abad teknologi informasi membuat sudah cukup ragam penyebaran SDM anak bangsa kita. Memang masih di tahap paling sangat awal untuk keluar dari tradisi-tradisi sebelumnya. Apa yang terjadi dalam kasus century dan mandegnya konsolidasi nasional zaman baru era demokrasi yang dirintis SBY sebetulnya juga cukup wajar. Ibarat pengantin baru, kita baru direkatkan lagi setelah sekian sumpek dalam bentuk ikatan lama. TNI sekarang telah menjadi institusi militer profesional dan dikabarkan termasuk sektor yang paling berhasil proses reformasinya. Sudah tidak zamannya lagi kini aparat militer menjadi alat represi sepihak penguasa. Kesadaran kesatuan nasional sekarang berlangsung lebih modernis lewat ideologi demokratis dan bukan nostalgia bentuk persatuan embeer lama. Sebuah persatuan yang telah terbukti berpuluh-puluh tahun hanya menghasilkan penindasan--mulai kultural, informasi, hingga kapital--dari kelompok yang punya kuasa terhadap kelompok bangsa lainnya yang tidak punya kekuatan.

Persatuan nasional di era baru ini harus disadari oleh para pemimpin-pemimpin bangsa masa kini janganlah lagi berbentuk perkawanan palsu, pertemanan semu seperti di masa lalu. Ya, mau tidak mau harus diakui kebhinekaan kelompok-kelompok bangsa kita ini sangat multikultural dan kurang homogen; mulai dari adanya yang paling mayoritas hingga yang paling minoritas dari berbagai segi. Negara kita yang mahaluas ini harus memiliki kesadaran akan realitas kebhinekaan tersebut. Konsolidasi dan persatuan nasional akan bisa terwujud secara jujur dan mapan jika cita-cita perjuangan pendahulu kita dahulu dulu kembali diingat dan saatnya kini dilaksanakan. Keadilan nasional, inilah seharusnya buah dari perang kemerdekaan yang susah payah penuh banjir darah mereka rebut dari penjajah. Jika rakyat kebanyakan masih harus hidup susah, dan keuntungan kue kemerdekaan hanya dinikmati oleh segelintir penguasa dan kroni-kroninya, bukankah lebih baik bagi mereka jika pemerintahan penjajah saja yang menjadi pelayan kehidupan bermasyarakat mereka. Setidaknya "asing" tersebut mungkin akan lebih menghargai SDM-SDM cemerlang, dan berpolitik balas budi terhadap SDA-SDA gemilang, dibanding kebudayaan nepotism akut kultur komunal buta ketimuran kita.

Sekali lagi, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia; hey, kamu-kamu para pemimpin bangsa punya tugas mahaberat untuk harus mewujudkannya dan memberi arti indah pada apa itu merdeka. Memberi makna, sense, dan sensasi dari apa itu menjadi seorang nasionalis. Indonesia ini ragam; tidak hanya kultur dan lingkungan seputar koneksi pihak sana. Memang, tidak perlu utopis juga dengan tagline Indonesia yang telah makmur, sejahtera, dan sentosa. Kaya-miskin, cerdas-bodoh itu adalah keniscayaan yang tidak perlu dihapuskan juga tidak dientaskan. Melainkan seperti nyanyian Prof. Iwan Fals: peraturan yang sehat, itu yang kami mau. Keadilan memang tidak hitam putih dan punya banyak perspektif, seperti kacamatanya Wimar. Setiap orang punya medan dan ruang juang unik masing-masing dalam lingkaran ketetapan individual hidupnya. Tugas kalian para pemimpin--sekaligus penyelenggara dan pelayan rakyat ini--hanyalah menjalankan pengaturan kehidupan berbangsa yang sehat, konsisten, fair, dan benar bagi semuanya, semua pihak, sehingga terwujudlah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tersebut. Dengan begitu anak-anak bangsa ini akan mengerti arti dari jiwa dan semangat ke-nasionalisme-an tanpa sekedar ikut-ikutan, ditunggangi, apalagi dusta.

Koalisi, konsolidasi, konstruksi nasional kita masa kini sedang berproses mencari jati diri kontemporernya. Sebagian kelompok persatuan temporal yang cair--kumpulan semangat-semangat muda, bukan umur muda jiwa tua, yang tidak mau terbelenggu lagi dengan pola-pola bau kentut para pendahulunya dan terkadang mem-bypass struktur proses politik normal penghambat perubahan--ada misalnya menamakan diri Gerakan Indonesia Baru. Faktanya resistensi akan selalu ada dari pihak-pihak yang telah akrab dengan kebudayaan kolor kotor dulu itu sebagai zona nyamannya. Kita tidak bisa terus-terusan begini. Kita harus mencoba lepas dari doktrin kering, lagu usang, dan janji palsu yang telah menjadi sangat membosankan itu. Ini era baru bung, abad blue bang; nasionalisme itu harus punya konteks kekinian setelah tersingkapnya berbagai tabir borok-borok masa dulu tersebut. Sebuah persatuan nasional di tengah-tengah kebhinekaan kultural, pergelutan etika demokrasi, dan arus informasi hari gini? Tenang setidaknya di sini ada guwa yang sedang memikirkannya tetapi gimanaaa ya? Ah, menuliskannya saja sudah tidak mudah; bagaimana pula melaksanakannya, oyee!

Kotor(an) Kita Sama Tapi Tak Sama

Sorry to Say, lagi-laga musti bicara soal yang kotor dan kotoran. Tidak positif, tidak de secrets, tidak pula menginspirasi, memberi solusi; barangkali seperti itulah paradigma pikir pemirsa yang senang denger yang indah-indah sajalah. Seperti hantu katanya. Di depan legislator perpajakan Komisi III DPR-RI, enterpreneur toko kelontong yang memiliki sambilan sebagai Ditjen Pajak menyatakan bahwa Kyai pun imannya bisa turun naik. Intinya gak usah koar-koar deh menyudutkan "permainan" orang pajak toh masing-masing kita juga pasti pernah kecipratan kotoran. Siapa yang bisa membantahnya kecuali aktor sinetron dan retorika pendusta. Pun ketika diprotes karena simbolisasi pada Kyai tersebut akan bisa sangat-isu-sensitif (meskipun benar) di akar rumput, Ditjen Pajak koaya raya yang belum tentu sanggup untuk dibuktikan sebagai koruptor selama masih di dunia edan ini itu telah mendapatkan pahala award bagiku atas kejujuran dan keberanian dan kebenaran pernyataannya.

Pasalnya kemudian adalah kemudian apakah itu bisa jadi pembenaran akan kelumrahan bermain dengan kotoran. Kita sama-sama kotor tapi bukan berarti dengan kotoran yang sama. Dan pula tidak ada alat ukur pastinya--secara komprehensif--karena di dunia ini kita hanya bisa bertindak dan memiliki fokus pilih-pilih, parsial, segementasi, sextoral. Karena toh dalam ontologik orang beragama di tangan hantu nantilah pembuktian yang sebenar-benar-benarnya. Dunia ini memang sengaja dikonstruksi abu-abu olehnya ataupun Nya agar setiap orang bisa memiliki pilihan akan ke wilayah mana dan berproses terlebih dahulu sebelum ke sana ataupun Sana. Jadi jika ada melekat kotoran dalam diri ini lantas ia tidaklah ia menjadi benar karena orang lain juga memiliki kotoran. Kotoran tahi manusia saja bisa akan sangat variatif varietas bentuk, rasa, dan detil warnanya. Jadi jangan main klaim sama rata, menjadi alat pembenaran, lalu tambah mengaburkan kebenaran yang sejatinya sudah sangat kabur.

Jika saya kotor tentu saja saya punya hak untuk membela diri dan menyembunyikan busuknya kotoran saya dan berharap biar hantu saja deh yang ampuni dosa saya nantinya dengan menyisihkan sebagian sangat sedikit dari dana kotor itu untuk pembangunan mesjid, sumbang sana-sini, dan ujung-ujungnya sebetulnya berpolitik (uang). Dan memang tantangan tugas dari para pembersih kotoran yang juga punya kotoran sama tapi tak sama pulalah untuk semaksimal mampunya berusaha mengusut. Jadi sebetulnya kita hanya menunaikan tugas masing-masing; di pihak manapun pilihan kita ada dan hadir. Toh meski tidak komprehensif sempurna, secara parsial, hukum tetap saja telah membuat kategori-kategori kepastiannya untuk sebagai alat uji dan kanalisasi. Untuk kotoran seberat ini rewardnya segini dan untuk kotoran yang segitu barangkali hukumnya akan bisa saja jadi abu-abu. Kecuali kalee ajja nanti ada doktor mbeling yang bisa dapat nobel--yang hadiah uangnya belum bisa diputuskan apakan akan ia makan--berkat kepastian pada ilmu matematika kotoran. Jadi janganlah saling melempar kotoran itu untuk justifikasi, merasa benar, dan akhirnya kemahfuman akan kekotoran justru akhirnya-bahayanya membuat kita tidak lagi bisa membedakan yang mana kotoran, yang mana Kebenaran.

Paradigma Matre dalam Reformasi Birokrat

Kasus Gayus Tambunan yang terkuak membuat banyak kalangan menjadi bertanya tentang efektifitas renumerasi gaji dan kesejahteraan PNS untuk memberantas kebudayaan korupsi Indonesia. Bahkan terakhir lewat rapat dengar pendapat, anggota DPR "baru" mendapat informasi dari 10 orang pejabat direktorat pajak non-aktif di instansi Gayus bahwa hal yang seperti itu "sebetulnya" juga dilakukan banyak orang. Saya sendiri ndak kebayang dengan gaji formal 12 juta per bulan kenapa seorang muda yang umurnya cuma sekitar tiga tahun di atas saya bisa merasa masih begitu "kurangnya". Saya sendiri dengah "hasil resmi" (bukan proses) 0 rupiah per bulan selama bertahun-tahun toh rasa-rasanya juga "asyik-asyik" saja dan mendidik diri ini untuk qanaah dan semakin percaya pada ketetapan Tuhan ataupun Hantu.

Nggak tahu juga ya kalau saya punya kesempatan (anggap saja tidak pernah sama sekali) mungkin juga akan bergabung bersama jamaah koruptor agar tidak dikucilkan, hehe. Seperti kata Dirjen Pajak Muhammad T pada forum tersebut bahwa kyai imannya juga turun naik kalau punya kesempatan. Setidaknya bapak ini ada betulnya juga jika kita merujuk pada ledakan jumlah jamaah koruptor tidak terlihat kasat di Depdiknas dan Departemen Agama. Seperti juga sebuah kisah nyata yang kubaca tentang pegawai pajak baik-baik dan rajin sholat yang akhirnya menyerah juga karena tak tahan terhadap tekanan lingkungan. Sholatnya terlihat tapi korupsinya tersembunyi. Dan memang inilah kaidah fikih hukum duniawi. Apa yang zahir mengalahkan apa yang tersembunyi. Dan orang-orang beriman tentunya yakin dengan pengadilan sebenarnya hanyalah di akhirat nanti.

Menkeu Sri Mulyani Indrawati menjawab kejadian pada Gayus Tambunan tersebut--yang oleh Susno Duadji disebut baru ikan kecilnya dan oleh banyak kalangan disebut-sebut sebagai fenomena gunung es--merupakan penyakit mental. Muhammad Jusuf Kalla yang seorang pedagang saja pun menyindirnya dengan sebutan orang serakah. Dan sayangnya orang serakah dan penyakit mental seperti ini ada di mana-mana. Meski hanya tercium baunya dan secara yuridis fikih dunia tidak bisa dihukum memang sepanjang tidak terbukti sekarang. Ibaratnya barangkali lebih banyak oknumnya daripada benarnya, haha. Dan orang-orang yang sanggup kecenderungan bersih di tengah situasi sosial yang seperti ini memang luar bisa--patut diuji kesabaranya untuk terus menerus dihina--dan saya akan sangat terharu membaca kisah-kisahnya. Tidak seperti saya sama sekali ya, karena belum ada "kesempatan korup" saja nih. Tai ayam!

Banyak juga kalangan yang telah mengusulkan paradigma reward dan punishment untuk membuat pegawai negeri kita profesional seperti swasta. Tentu di swasta juga terjadi, namun pastinya tak seleluasa dan setolol di PNS karena masih bobroknya sistem yang mengorganisir dan terkait dengan sangat banyaknya orang ini. Departemen Keuangan saja yang disebut-sebut sebagai instansi paling berhasil melakukan reformasi dan paling besar menikmati renumerasi, menghabiskan APBN, berkat kasus Gayus Tambunan ini membuat Menterinya mengakui bahwa ada sistem yang masih harus diperbaiki. Bagaimana pula dengan tempat-tempat "basah" yang lain. Termasuk hakim pajak kasus tersebut yang ngakunya sama Komisi Yudisial hanya nerima 50 juta namun disebut-sebut di media massa diduga mencapa di kisaran 50 milyar. Kemana larinya uang yang 49 milyar 950 juta lainnya. Kalau aku punya uang segitu mau jajan cewek berapa banyak ya, haha. Ya hantu, jauhkanlah aku dari beban yang tak akan sanggup kupikul.

Salah satu sifat dasar manusia--yang oleh Freud disebut-sebut dikendalikan oleh id atawa hawa nafsu ini--sebagai makhluk economicus tak akan pernah merasa puas dengan harta yang dikumpulkannya. Seperti ilmu pengetahuan saja, semakin banyak yang ia dapatkan akan semakin besar pula ia merasa kekurangan. Tentu intensitasnya berbeda-beda dan kita semua tidak sama. Kalau tidak, mubazir saja hantu menganggarkan biaya bbm untuk bahan bakar neraka selama bermilyar-milyar tahun atau selamanya dan pula investasi pembagunan infrastruktur surga. Ada manusia yang cukup sabar dan ada pula yang sangat serakah. Karena itu penanganannya akan tidak tepat jika sama. Termasuk cara pandang bahwa dengan kesejahteraan korupsi akan hilang. Tai sapi!

Soal kesejahteraan ini saya kira mestinya sejalan saja dengan kemampuan keuangan negara. Kalau negara kita memang sedang makmur tidak ada salahnya kita manfaatkan dan syukuri rezki dari langit itu untuk kesejahteraan PNS dan seluruh anak bangsa. Bagitu juga jika bangsa kita sedang susah seperti saat ini, baiknya ya kita sama-sama tepa selira atuh. Ini harus dipisahkan dari pemberantasan korupsi yang apapun cerita idealnya tetap harus tegas menjalankan fungsi hukum dunianya semaksimal mungkin. Apapun cerita sejarah kesejahteraan yang dijadikan alasan, hukum tetap harus jalan. Termasuk pendidikan pada generasi penerus bangsa ini setidaknya, jika para pendahulu kita ini memang sudah sebegitu rusak berjamaahnya. Jadi kesejahteraan adalah satu sisi sedangkan pemberantasan koruptor adalah sisi yang lain. Bisa berjalan seiring tetapi jangan disangkutpautsaklekkan karena lagi kembali ia akan dijadikan alasan yang macam-macam saja. Seperti kata hantu kepada Qarun, "apakah engkau berpikir semua harta yang dimiliki itu oleh karena kehebatanmu?"

Warna Warni Indonesiana pada Kompasiana

Idealnya--sebagaimana brand ini dikesan menyanad pada istilah indonesiana--kompasiana menjadi wadah per-blogging-an yang sangat bhineka tunggal ika. Kalo perlu ikal; dinamis penuh gelombang. Idealnya, kompasiana ini akan pernuh warna-warni; reportase dari berbagai sudut pandang, pemikiran dari bermacam perspektif, alotnya sorak-sorai dengan beraneka idiom. Sepanjang mengikuti kompasiana sebagai media baca-tulis komunitas orang indonesia online saya merasakan sekali ragam ini. Ini jugalah keunggulannya. Semenjak 10 tahun lampau sebetulnya telah mulai berdiri pasang surut hilang muncul bermacam komunitas online lainnya yang menghimpun indonesiana. Biasanya forum-forum online tersebut kebanyakan masih menjadi himpunan untuk segmentasi tertentu, hingga--secara halus--kelas "tertentu" atau setidaknya hanya kalangan tertentu. Hingga rasa-rasannya belum ada yang seramai dan seragam-ragam dan seriuh dan se-warna warni kompasiana Q niy. Inilah peristiwa yang terjadi menurut pandangan sudut mata saya dalam menilai keunggulan dan energi potensial besar branding kompasiana bagi konteks indonesiana. Idealnya.

Namun yang ideal tersebut akankah selalu bersanding dengan kontekstualisasi riilnya dan realisirnya? Dinamika terus terjadi dan tarik menarik berbagai kepentingan serta sudut pandang senantiasa berproses merusak-bangun titik-titik keseimbangan lama untuk menuju titik keseimbangan baru lagi. Gempa-gempa kecil hingga goyangan besar barangkali juga kerap terjadi dan kompasiana terus berproses menuju naturalisasinya sebagai wadah penuh warna-warni. Terkadang ia bergoyang-goyangan sebab kecaman picik, sentilan kecil, amuk badai pikir, tsunami wacana, tirani mayoritas, hingga tekanan yang Di Atas--secara langsung ataupun "halus" ataupun hanya secara ataupun hanya bercanda. Tidak apa-apa. Konteks ideal memang tidak selalu terjadi dan ia akan terus berproses dan berdinamis. Cuma saran dari saya yang pasti bodoh karena hanya bisa upload tulisan dengan fasilitas gateway ini, sebaiknya kompasiana mempertahankan keunggulan branding komunitas online indonesiana ter-warna warninya jika tidak ingin tinggal cerita sebagai situs yang pernah besar (dalam waktu dekat). Dan, itu artinya tidak ada penindasan terhadap kekuatan politis sekecil-kecil apanya pun dan sekatro-katro gimananya pun.

Jika ada yang ingin membikin pandangan segmentatif, meskipun lewat lajur major tiras bahkan jalur topeng monyet, dan jika cinta dia. Membikin comfort zone nye dan lingkaran kepercayaan kelompok. Meredupkan keindahan warna-warni kompasiana ini. Saya pikir--walaupun sudah pasti saya ndak ada otaknya karena tak punya pacar mahasiswi MTI sana--komunitas online baca-tulis kompasiana ini tidak akan punya nilai branding lebih dibanding situs-situs social networking lainnya di jagad maya indonesiana. Barangkali juga akan segera terlindas oleh trend setter baru yang lebih ramah kepada semua orang segala pihak dan bisa melakukan management konflik yang manis terhadap dialektik keniscayaan mayoritas-minoritas, politik penyingkiran, dan kebaruan; sehingga pada kemudian waktu di sesali oleh ownernya kenapa tidak melanjutkan dengan menjalankan secara lebih cakap bisnis menggiurkannya. Atau juga setelah segala terlambat dan segala-galanya tertambat nantinya baru akan melakukan reinkarnasi dengan menanam saham investasi ber-M M dengan target BEP bertahun-tahun seperti kita saksikan pada plasa-telkxm reborn. Hahahahahahahahahahahaha.

Alangkah indah dan cantiknya jika kompasiana ini tetap bisa mempertahankan kewarna-warniannya, secara cakap dan elok. Komunitas mayapada indonesiana yang sanggup menampung beragam latar, beraneka segmen, dan ragamnya perspektif umat bhineka banget indonesiana ini. Setidaknya tulisan di sini adalah surga data tentang ragam tutur, baik deep-surface structure chomskynya ontologis orang indonesia; sepanjang belum distandardisasi oleh selera mahzab bahasa redaksi. Siapapun idealnya berhak eksis di sini dan bersuara lantang menggelegar hingga ke langit nun jauh nan terang di sana, "Hey its me!" Entah itu wartawan, seniman, olahragawan, hartawan, itwan, petaniwan, karyawan, ustadz, pns, ataupun pengangguran. Entah orang beriman, preman, atheis, pragmatis, abangwan, santriwan, politisi, pengamen, pedagang, pebisnis, pelobi, pembisik, makelar, mafia, pencuri, enterpreneur, koruptor, psk, pks, ataupun para pelanggannya, penjilat pantat, pendengki, tukang keki, kaum munafikun, hingga teroris. Entah itu dari aliran pancasila, uud, nasionalisme, topeng nasionalisme, kanan kiri oke, tenggara, barat, timur, lian orang luar, orang dalam, kerabat dekat, asing, ataupun ibu rumah tangga hingga bapak rumahnya tetangga. Tokh itu hanyalah hak pilihan jalan hidup masing-masing yang merepresentasi dan mengartefak lewat tulisan gitu deh. Apapun deh. Bukan partai kok. Tidak ada veto ketum dan dewan pembina kok. Di sini hanya tempat baca-tulis, gak penting apapun ia jenis. Di sini kita hanya sekedar berwacana; berdialog jika bisa saling mengisi, berdebat untuk saling menguji kemampuan berargumentasi, dan sepakat untuk tidak sepakat lalu mengolah wacana baru kembali. Tidak apa-apa. Semakin penuh ragam, semakin banyak ilmu yang didapatkan. Setuju atau tidak setuju adalah pilihan pribadi nantinya di kehidupan nyata nya. Di sini hanyalah wacana dan hanya wacana yang tertoreh, hak asasi nomor nol manusia, aplikasi riilnya di kehidupan terserah pada pilihan masing-masing pembaca yg budiman. Jadi idealnya: bukanlah sebuah masalah untuk menampung berbagai latar untuk alat penguji setiap ikhtiar keyakinan masing-masing; adalah kemustahilan membuat semua sama dan seragam, tanpa topeng. Idealnya menurutku begitu; dan entahlah apa warna-warni kompasiana akan tetap seindah ini ternyata?

Pembalakan Sebabkan Banjir di Padang?

Pada suatu hari (bukan Hari Minggu) aku menyempatkan diri jalan-jalan naik kereta motor ke tanah leluhurku sepanjang kaki bukit barisan. Enggak sepanjang itu banget sih, cuma ke kaki gunung di belakang rumahku. Kota Padang tempatku tinggal ini memang adalah sebuah lembah pinggir pantai cukup luas yang dikelilingi oleh bebukitan yang merupakan bagian dari pegunungan sepanjang Pulau Sumatera ini. Kebetulan pula sebagai warga "pribumi" berstatus papiko (padang pinggir kota) tempatku ini dekat sekali ke lereng pebukitan tersebut. Tepatnya ini tanah leluhur dari pihak ibu 'cos adat minangkebo menganut sistem materelinial. Menurut tambonya keluarga kami, warga papiko pribumi dunsanak-dunsanak di sekitarku ini, leluhur kami berasal dari daerah pinggiran Danau Singkarak di Solok; sehingga perjalanan mereka ke pinggiran Koto Padang pada zaman dahulu kala ini tentunya melewati menjulang tingginya gunung-gunung sepanjang bukit barisan yang memisahkan daerah "darek" dan rantau tersebut. Sementara leluhurku dari pihak bapak juga penghuni dan penguasa bukit barisan; cuma berasal dari kaki kerinci, gunung tertinggi di Sumatera.

Dari daerah rumahku ini sudah sejak lama akan dibangun jalan tembus Padang-Solok sebagai alternatif jalur rawan longsor di Sitinjau Laut arah selatan. Pada saat pertama perintisan jalan dulu--menyusuri jalur tapak kaki tradisional--Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi (sekarang Menteri Dalam Negeri) bersama rombongan sempat hilang selama beberapa hari di hutan. Entah apa hubungannya dengan kerapnya bencana alam di Ranah Minang sekarang ini. Sekarang jalan tersebut sudah (tepatnya: baru) selesai beberapa kilometer yang sudah di aspal. Bahkan sebuah SLTP/SLTA Islam swasta bermutu juga telah mendirikan asramanya di daerah sepi sana; meski belum jauh-jauh amat dari pinggiran kota. Oh ya, sebagai tambahan seingat saya sejak kecil saya sudah punya "de javu" dalam mimpi melihat bahwa daerah sekitar rumahku ini akan ramai di masa depan; bahkan rel kereta api jalur padat akan melintas di sini. Sekarang sepertinya sedikit mulai terbukti dengan berpindahnya pusat perkantoran pemerintah kota padang ke kelurahan saya ini pasca gempa dan karena ancaman tsunami terhadap daerah pinggiran pantai. Sehingga siap-siap ajja deh di sini antar sesama dunsanak saya akan saling berebut klaim tanah yang bisa menghantarkan saya ke gepokan rupiah. Eh, koq sekarang jadi pakai saya padahal tadinya aku.

Nah, dalam perjalanan menyusuri jalan rintisan yang sudah diaspal sebagian untuk tembus ke Solok itu aku melihat di salah satu lokasi sepertinya sedang ada proyek penebangan kalo enggak penambangan. Tapi ndak tahu nih legal atau ilegal. Di salah satu lokasi di pinggir jalan sepi di sana juga kulihat plank klaim dari TNI AU atas kepemilikan sebuah lahan yang tentunya banget luasnya. Salah satu daerah langganan banjir paling parah di Kota Padang ini dua buah sungainya berhulu di tempat yang kumaksud. Asal daerah leluhurku, yang kusinyalir dipraktekkan ilegal logging. Karena setahuku pula, baik dari WALHI ataupun pemerintahan provinsi, di Sumatera Barat sudah tidak ada lagi lahan yang bisa dibuka dan ditebang. Seharusnya sebagai tanggung jawab psikhologhis kepada nenek-nenekku aku harusnya melakukan sesuatu terkait ini. Tapi dengan pertimbangan strategis dan takhtis lebih baik aku diam; setidaknya nggak ikut-ikutan dan berdoa ajja ada pihak lain yang mau menyelidikin ini.

Setidaknya lewat tulisan ini aku berusaha memberi tahu, karena menurutku masyarakat sekitar sini masih cukup buta pengetahuan untuk ditipu investor berduit atau pengecut untuk menghadapi tawaran "urang bagak" dari luar. Barangkali ada di antara saudara-saudara yang punya kekuatan dan lebih tepat secara takhtis dan strategis untuk menangani ini. Kalau aku mah bisa banjir darah nanti main golok dengan dunsanak-dunsanakku sendiri--dan ini baru-baru beberapa waktu lalu hampir terjadi dengan sebab lain--karena perbedaan tajam cara pikir kami, tentunya. Meski satu-satunya alasan bagiku hanyalah demi menjaga perasaan Ortu yang bagaimanapun hidup dalam alam berpikir masyarakat sini. Kalau aku sih terus terang saja menyatakan diri "murtad" dari pandangan hidup mayoritas kultur minangkebo materelinial ini. Maklum nih masih darah muda, jadi sebaiknya pura-pura tidak memikirkan saja deh daripada terpancing esmosi. Setidaknya aku berpegang pada nasehat Rasulullah pada Abi Dzar yang mengasingkan diri sendiri di tengah konstalasi perpolitikan Islam di Madinah pasca kematian Muhammad yang terus bergolak hingga berabad-abad berikutnya hingga era al-Qaeda dan PKS niy.

"Nenekanda maafkan aku Si Cucu, belum menemukan cara paling baik untuk menjaga alam peninggalanmu. Sebentar lagi bakal diperebutkan nih, oleh cucu-cucu mata ijo duitanmu!"

Sinopsis Perjalanan Orang Guanteng Nabung Syariah

Mungkin sudah sejak 2004-2005 lampau aku memulai nabung di bank syariah. Namun terus terang tidak ingat persis. Yang jelas teringat aku jadi orang s0leh sepanjang 2001-2003-an; secara formil permukaan, 'cos tercatat dalam salah sebuah aliran sosial jaringan ahirat-duniawi hahahahaha. Baru beberapa tahun kemudian, setelah menjadi manusia jahiliah kembali (secara formal), aku mengenal produk tabungan bank syariah. Maklum sebagai mantan anak aliran, bagaimanapun juga ghiroh ijtihad aku masih akan selalu kuat. Waktu itu aku mendengar tentang tabungan shar-e Bank Muamalat yang bisa dibeli di kantor pos.

Memang--sekali lagi sebagai mantan anak aliran dan punya ideologi tanpa idealisme--aku tentunya juga sudah sejak lama mengenal tentang riba pada bunga bank konvensional. Nah, begitu di kesempatan pertama mendapat info tentang tabungan syar'i yang dapat kuakses maka kuamalkanlah keyakinanku ini. Tapi aku lupa lagi nih apakah itu kujadikan rekening penampung uang korupsi atas duit ortu. Sekitar saat itu juga aku punya pula rekening cadangan di BRI, selain BNI yang menjadi ATM kartu kampusku. Oh ya seingatku kemudahan setoran shar-e dari kantor pos di manapun inilah yang juga jadi pertimbanganku supaya lancarnya kiriman ortu, hihi.

Ya waktu itu aku masih berstatus mahasiswa gombal gembel di Jatinangor, Sumedang. Seingatku lagi baru beberapa lama kemudian (mungkin tahunan) baru Bank Muamalat mendirikan kantor kasnya di Jatinangor. Sehingga bisa kugunakan untuk mencetak rekening koran. Sebab buku tabungannya gak ada gitu dan cek saldo dari mesin ATM bayar, hehe. Menariknya kalo narik uang di ATM sih gratis (BNI, BCA, dan Bersama). Juga tidak ada biaya administrasi terhadap pemeliharaan bulanan rekening selain potongan 25 rebo di awal beli perdananya.

Sewaktu hidup kembali di Padang yang berjarak 1.000 KM dari Sumedang saya membeli lagi perdana shar-e di kantor cabang sini. Salah satu pertimbangan adalah karena berkas-berkas aplikasi shar-e lamaku ditinggal di Bandung dan kuatir sudah hilang. Namun kenyataannya aku tetap 'menghidupkan' kedua rekening shar-e-ku itu. Baru belakangan aku menyesal juga karena demi semangat islami aku malah bertindak mubazir syaithon. Gawatnya lagi aku baru tahu belakangan setelah hitungan tahunan ternyata Bank Muamalat sudah menerapkan biaya administrasi bulanan pada kedua rekening shar-e-ku tanpa pemberitahuan, kecewa mode on.

Celakanya lagi sebetulnya jumlah tabunganku itu juga ndak seberapa dan ATM-nya juga jarang dipakai (sehingga tidak terlalu memantau perkembangan statik uang ndak seberapaku itu) kecuali sewaktu sedang ada perlu ngegembel ke Jakarta beberapa waktu lalu. Aku juga heran kenapa aku masih nabung di bank syariah ini padahal aku sama sekali ndak islami, dan juga tidak urgent bagiku. Tapi terus terang saja, meski baru beberapa waktu yang lalu memutuskan untuk menutup salah satunya aku juga ndak terlalu keberatan lah duitku yang tidak seberapa tersebut yang motong bank syariah. Gak apa-apalah demi bayar gaji pegawainya dan kelangsungan publikasi ekonomi syar'i; meski aku sama sekali ndak islami dan jarang sholat. Aku masih merasa perlu belajar banyak tentang apa itu muslim; beda dengan sahabat-sahabatku yang sudah merasa pasti dirinya masuk syurga.

Sekarang selain product-nya Muamalat ini aku juga baru saja buka rekening baru lagi di BRI Syariah yang baru buka cabang di sini baru saja, ya baru. Sebelumnya aku juga sempat nanya-nanya ke BNI Syariah yang baru mau di spin-off katanya dan juga ke BSM yang jarang-jarang mendapatkan sambutan hangadd. Waktu itu aku nanya-nanya sama mereka tentang program tabungan bebas biaya administrasi dari BI yang kubaca di koran. Heran juga pegawai-pegawai bank itu menganggap aku ngawur dan kalah pengetahuan perbankan ter-up date dariku yang pengangguran. Akhirnya aku tanyakan sama temanku yang sarjana ekonomi islam tetapi lebih dirangkul oleh bank konvensional ehh dia tak tahu dan tak mau tahu juga hehehehe.

Waktu itu aku rencana juga mau mindahin sebagian modal kapital hidupku yang ndak seberapa itu ke BRI konvensional. Alasannya saat itu aku ada rencana dagang ngegembel ke desa-desa (di Jawa/antar pulau) sehingga butuh bang yang lebih mencabank; selain buat cadangan kalau-kalau aku dirampok dan musti bunuh orang, hahahaha. Ah, sekarang aku jadi ingat wajah manis mbak receptionist BRI Syariah itu yang memuji semangat enterpreneur-ku. Gak sengaja aku ada kesalahan kecil waktu nulis di formulir pertama yang sudah tercatat nomor telponku dan disimpan olehnya diganti formulir baru. Tapi sampai detik ini belum nelpon juga tuh, wkwkwkwk. Gak tau juga ya, meski gak semuanya dan ada juga yang jutek, biasanya kalo cewek jadi terasa lebih akrab denganku tetapi kalo sama laki-laki batangan mereka koq rasanya muka masam ajja ngelihat aku. Apa karena aku ganteng?

Efek Negatif Internet Gratis Nich

Senyampang di USA para paramedis sedang ribut-ributin merasa kue ekonominya terganggu kebijakan health insurence Mr. Obama bagi kelas miskin in the middle, baik juga kita bahas lagi yang gratis-gratis. Kebijakan Mendiknas BS yang promosikan sekolah gratis juga sempat dikecam beberapa waktu lalu sebagai sebuah ketidakbijakan. Emank yang gratis-gratis begini menimbulkan persoalan tersendiri pula dalam perspektif sirklus ekonomi. Meski kita perlu juga bertanya apakah yang diiklanin gratisan itu betul-betul gratististis. Karena bagaimanapun manusia sebagai homoeconomicus tentunya, dalam perspektif neolib, akan bergerak menyembuhkan sendiri kerugiannya. "Jangankan rugi, impas ajja ogah," begitu bunyi akidah Minangkabau dalam mengarungi bahtera ganasnya kehidupan tipu-tipu. Ah, ingat Padang Rang Minang dengan adat bersendi syariatnya (secara teori) saya njadi tringat ajaran Muhammad yang membolehkan/menganjurkan hadiah namun mengharamkan suap. Ah, saya (pura-pura) tidak tahu ajja ah bedanya cos' gimanapun gw makhluk politik. Selanjutnya kali ini saya tidak akan bicara aspek ekonomiknya yang menurut hemat saya tidak terlalu menarik karena menurut pendapat saya sendirian syetan bebas gerak di daerah sana. Ya, di tengah ramai dan pasar hati nurani lebih sulit untuk terdengar.

Tentu perudd perlu sangaddd juga diisi meski, tentu juga, takmesti sebuncit Kang Gayus. Tapi juga tidak saya kan bicara bidang politik. Gak ngerti. Kalo mo ngurus kotoran mending sambil cebok di WC. Apalagi, oh tidak, saya gak mau ngurusin soal agama yang buatku sesuatu yang "taken for granted" gak penting buat ditelusur lebih lanjut. Cukup dasar-dasar yang dasarrrr ajja, entah apa iya orisinil dasarnya. Apa pula itu orosinal-orosinalan, sekarang aku justru sedang bermasalah dengan permoralan. Justru gara-gara berkah dari Langit Maya. Sorry yaw orang muna ini jijay banget gak tau malu mengumbar aibnya sendiri. Sok terpukau dengan kebudayaan jujur yang sangat ia kagumi di sana di negeri rantau. Tidak memberi prioritas pada kepentingan politik jangka pendek yang riil. Apa pula itu riil. Ini dia yank riil. Beberapa waktu lalu gw kebetulan ketemu lagi sebuah proxong gretongin untuk akses internet gratis. Ternyata yang ini berhasil juga. Udah berhari-hari nih, meski biasaaa dengan saluran koneksi yang putus nyambung seperti cinta monyet.

Nah, jarang-jarang gw bisa ketemu limpahan bandwith akses ke net seperti ini. Meskipun sudah sejak 10 tahun lampau bermain internet yang dimulai dari sebuah warung di Koto Bandung sembari nanya operatornya: cara chating MIRC itu gimana? Sehabis itu hari demi hari banyak kuhabisin untuk menjelajah kreatifitas-kreatifitas web desainer merancang berjuta situs-situs yang begituan. Bertahun-tahun kemudian dengan situasi putus-putus nyambung juga, udah lama pula gw jarang lihat yang begituan karena berkah akses net yang terbatas. Nah, gara-gara pengetahuan tentang ini gw jadi terpancing juga (KARENA GRATIS) untuk coba-coba lagi buka yang gituan. Apa dengan proxong ini bisa? Gak diblokir? Sekaligus ingin experience apa bisa download dengan cara ini pada jaringan yang speednya maksimum 1/100 kemampuan speedy. Kabarnya akses dengan cara begini "fiturnya" jadi lebih terbatas. Ya, buat gw hanya dengan mekanism trial and error inilah gw bisa menambah sedikit demi sedikit pengetahuan sendirian. Dari bayi sampai mencoba berbisnis terkait internet ini nggak sekalipun pernah diriku secara formal ikut yang namanya kursus-kursus komputeran. Paling dulu selama beberapa bulan pernah ada teman tempat bertanya sehingga bongkar-bongkar onderdil hardware kompi (berkah punya kompi jangkrik--istilah ini pertama kali saya dengar di majalah BOBO/ANANDA--waktu itu), rakit lagi, atau install ulang gw jadi ketularan sedikit bisa. Selebihnya ya gw coba-coba ajja ndiri dan cari sumber bacaan, sekedarnya untuk keperluan gw juga agar punya akses ke jendela pengetahuan dunia.

Dan ternyata, gara-gara ketemu akses internet gratis ini gw tidak hanya tertarik pada ilmu pengetahuan tetapi juga ilmu begituan. Maklum masih perjaka tingtingting, hahahahaha. Dengan pedenya gw juga menambah tumpukan dosa dengan kemungkinan bahwa akses internet gratis yang gw dapatkan juga tak lebih tak kurang adalah pencurian. Tapi kucoba untuk memakluminya karena kulihat operator jaringan yang kugunakan berlangganan juga tidak konsisten dengan apa yang seharusnya mereka berikan. Salah satunya pernah kubicarakan mengenai automatic loading yang gw gak ngertiin di tulisan tentang "Internet Buat Orang Kere" dan "Internet Buat Orang Kece". Termasuk juga soal putus nyambungnya koneksi yang gak jelas kapannya. Tapi tetap ada perasaan berdosa nih, terlebih kaitannya dengan yang begituan. Terus-terusan gak bisa nahan diri dan memenuhinya dengan mendompleng kepentingan ingin cari pengetahuan. Ya, tapi setidaknya saya gak ngajak-ngajak orang lain (tipe dosa komunal massif) sehingga lebih mudah bagi Yang Di Atas Sana buat ampuni aku mudah-mudahan. Tulisan ini semata bertujuan memperlihatkan perspektif lain kepada saudara-saudara pembacaku yang (terlihat) Budiman sekalian mengenai sisi negatif dari yang gratis-gratis. Sotoy bangeddd ya jenis tulisan peteuy ini memperjelas amanat ceritanya, apalagi orang muna ini cuba nunjuk-nunjuki orang lain pula. Jika ada yang punya kemampuan lebih dari gw untuk bersabar, kuingin berguru kepada Anda. Tunjuki saya, perswami Dia !!

Relasi Manusia Era Kini

Di zaman sekarang ini, katanya, kunci sukses utama adalah relasi atau kemampuan untuk menjalin networking. Sebetulnya itu barangkali memang telah berlangsung sepanjang zaman. Namun intensitas dan insentifnya sekarang barangkali telah jauh meningkat drastis. Pada zaman batu dulu, misalnya, aspek interaksi antar manusia tidak sekerap kini. Sehingga itu makanya faktor kesuksesan komunikasi sosial seorang manusia tidaklah begitu besar untuk mempengaruhi kehidupan individunya. Tidak sedikit barangkali pada zaman dahulu orang yang sepanjang hayatnya tidak pernah bertemu orang-orang selain keluarga atau manusia yang berada di garis keturunannya. Apalagi jika ada yang memiliki garis keturunan terputus, baik ke atas maupun ke bawah, dan hidup sendirian di hutan. Menjadi rajanya hutan. Sukses dalam kriterianya.

Di masa sekarang ini, aspek interaksi antar manusia sangatlah intensif untuk memberikan insentif kredit poin bagi penilaian kesuksesan kehidupan seorang manusia. Di era yang dunia melipat dan abad kini berlari inipun kunci kesuksesan mau tak mau sangat ditentukan oleh faktor keunggulan individu seseorang pada sisi interaksi antar manusianya yang mau tak mau lagi menguasai 90% sisa waktu tidak tidurnya. Bahkan di saat sedang tidur pun orang bisa saja sempat-sempatnya menjalin "interaksi sosial" lewat mimpi. Interaksi dan komunikasi antar manusia inipun tidak lagi hanya mempunyai sarana fisik berupa pertemuan dan pembicaraan langsung. Kemajuan pesat cucunya abad literasi yang kini telah memasuki fase multimedia ataupun dengan istilah secondary orality menghadirkan teknologi internet dan pergerakan kilat data komunikasi antar individu. Meminjam istilah sebuah perusahaan telekomunikasi: dunia kini di tangan Anda. Dengan telah adanya dunia di dalam genggamannya tersebut, manusia bisa menghemat waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah proses komunikasi antar mereka. Kemudian hal itu mengakibatkan intensitas pada proses-proses komunikasi dan interaksi yang berikutnya berlangsung, lalu kemudian kembali lewat berlalu dengan cepat, dan kejap.

Kehadiran teknologi internet yang membawa percepatan (istilah yang membuat saya pusing dulu belajar fisika karena diajarkan oleh guru killer) drastis proses komunikasi antar manusia membuat adanya kepadatan tingkat tinggi pada aspek interaksi antar individu. Ini menghadirkan kebudayaan instan, sekaligus mewabah masif seiring ledakan terus menerus populasi penduduk dunia yang semakin sempit harus berbagi lapak dengan sesamanya. Situasi masif yang tak sempat lagi mencatat setiap aspek unik dan khas kualitas hubungan antar dan per individu. Di tengah kepadatan dan kebergegasan ini kita lalu saling berdempet bernegoisasi.

Tidak betul juga barangkali jika kita menyalahkan social engineering masa kini sebagai sebuah pemelencengan terhadap proses alam karena sesungguhnya situasi ini adalah proses alami juga. Dalam bahasa lainnya orang menyebutnya sebagai sebuah keniscayaan. Justru seorang individu masa kini tidak akan lagi dapat bertemu hutan yang layak untuk dirinya berkuasa jika ingin melarikan diri dari sempitnya populasi rakyat dunia dan intensnya peradaban komunikasi kita. Pertanyaan yang perlu diajukan adalah bagaimana caranya kita tetap bisa menjalin sebuah relasi antar individu, yang berkualitas? Apakah keniscayaan proses interaksi dan komunikasi yang instan dan lekas itu hanya akan membuat kita menciptakan hubungan sosial antar manusia yang tak tercatat bahkan tak lagi punya tempat untuk diingat? Sebagaimana hubungan antar manusia slow motion dahulu kala juga tidaklah merupakan jaminan bahwa selalu menghasilkan relasi sosial yang baik, maka faktor-faktor apakah yang harus kita perhatikan untuk mengambil keputusan akan tsunami pilihan berbagai model relasi antar individu di era kini? Ya, tulisan ini sedang bertanya.

Kucingku Doyan Roti, Gak Mau Nasi

Ikan dan kucing adalah dua makhluk ciptaan Tuhan yang sudah ditakdirkan untuk berada dalam rantai makanan mangsa-pemangsa. Tapi ikan makanan sisa dimakan manusia maksudnya. Karena ikan hidup di air sementara kucing takut air. Oleh karena itu ada yang namanya "kucing air". Kira-kira begitulah nasib kita yang suka iri dengki pada hijaunya rumput tetangga. Setiap orang berhak untuk kaya sebagaimana setiap manusia juga punya hak untuk kemiskinannya. Qanaahlah jadi manusia. Kalo perlu dan jika sanggup, jadilah zuhud. Jangan melecehkan makna kata ikhtiar yang mulia itu hanya sekedar untuk mencari pembenaran atas sifat tamak dan ambisius pada DNA Anda. Meskipun bisa jadi juga itu bukanlah karena faktor genetik turunan dari pihak leluhurmu, melainkan terlebih hanyalah karena tekanan trend eksternal kehidupan masa kini yang sebetulnya berulang-ulang sepanjang masa juga hingga nanti. Berikhtiarlah, berdjoeanglah tanpa perlu ambisi-ambisian dan (lalu) menjadi manusia yang melampaui batas. Terimalah peran masing-masing Anda oleh Sang Pencipta tersebut. Jauhi keinginan menggebu-gebyar untuk mencaplok "hak dan tanggung jawab" pihak lain jika Anda tidak ingin seperti kucing merindukan ikan yang punya kehidupan di dalam sebuah kolam. Kucing pun mengerti perairan adalah batas takdirnya.

Nah, kalo ikannya sudah keluar dari water, dimasak di penggorengan, dikunyah-kunyah oleh sang tuan, lalu sikat deh sedapnya. Seperti pelajaran yang diberikan oleh kucing saya. Kucing terakhir ini punya sejarah kemunculan dari negeri antah berantah. Setelah silih berganti dinasti kucing di rumah ini sejak saya kecil, tiba-tiba kucing terakhir ini muncul. Mungkin ia lahir di rumah tetangga atau dibuang orang di tengah jalan. Sebelum si kecil ini sudah cukup lama juga di rumah sedang ndak ada kucing tetap, selain kucing-kucing outsourcing. Kebetulan kedua ortu sedang pergi haji dan kedua adikku sekarang hidup di jawa; saya jadi punya privilige untuk memeliharanya saat itu. Ya lumayanlah daripada saya bengong sendirian di rumah, sekarang jadi ada teman si kecil ini. Lebih baik berteman dengan binatang daripada bergaul dengan manusia-manusia pendengki matre dan politisi-politisi lokal tolol tapi licik di sekelilingku kini. Sewaktu datang, kucing kecil ini terlihat membawa ekor mungilnya yang seperti bekas patah. Mungkin di tempat asalnya pernah disiksa manusia. Hmmm, saya jadi tambah semangat untuk memeliharanya. Senang sekali bisa menyelamatkan makhluk Tuhan yang tertindas ini. Akan tetapi, meski dalam menyelamatkan binatang tertindas kita mesti tetap waspada, menghadapi manusia yang tertindas kita musti lebih waspada lagi. Karena di lain waktu mereka bisa tiba-tiba jadi serigala karena politik kepentingan katronya. Sebab itu saya tidak jadi mendaftar sebagai anggota PKI; cari yang lebih menguntungkan ajja dech.

Tidak tahu apakah kucing saya si kecil ini seorang Komunis ataukah beragama Atheis. Setiap saya tanya ia selalu menjawab dengan, "meooonggg...." Namun kucing ini meongnya itu agak katro juga jadinya berbunyi, "eeeeee". Maklum mantan anjal. Sekarang-sekarang saja bulu-bulunya sudah agak terawat karena sudah menjadi binatang piaraan dan kesayangan. Sisa-sisa akhlak brutalnya kadang masih terlihat juga. Beda dengan kucing-kucing yang sudah sejak kelahirannya hidup bersama kita dan belajar etika serta tatakrama. Kucingku yang eks anak jalanan ini kadang suka nakal dan merepotkan juga ketika sedang mengeong-ngeong minta makan. Ia sepertinya juga sudah alergi untuk hidup di dunia luar karena terus berusaha menyusup-nyusup masuk ke dalam rumah kalau kita keluarkan. Dalam hal jenis makanan pun sekarang dia sudah pilih-pilih. Karena ia penguasa tunggal disini (sebagai hewan), (maka) ia memonopoli penguasaan limbah sisa konsumsi dapurku. Terlebih setelah ortu pulang ke rumah. Dia lama kelamaan mulai menjadi ogah-ogahan memakan nasi, terutama jika tidak kita campur gulai dan yang berbumbu-bumbu serta aroma lainnya. Maunya lauk pauk atau yang ada tulang belulangnya saja. Padahal stock makanan juga kerap dalam posisi empty di rumah karena yang sehari-hari paling sering di rumah hanyalah aku saja. Karena aku lebih suka dalam posisi kelaparan daripada masak banyak lalu mubazir gak ada yang makan karena emang nggak enak masakanku, hahahahaha. Ya kekurangan adalah lebih baik bagiku daripada kelebihan. Kalo sanggup sich. Gak tau juga besok-besok ternyata matanya ijo juga. Seperti kucing saya si kecil ini yang ogah-ogahan makan nasi tetapi kalo dikasih roti doyan dianya!!!!

Kenapa Si Buya Mencintaimu, Bu Diana?

Janganlah harus Anda tafsirkan Si Buya dalam cerita saya ini sebagai SBY dan Bu Diana sebagai Bapak Boediono. Memang istilah Si Buya sebulan terakhir ini jadi topik trend di Nkritter; berkat performance primanya pada aksi 28 Januar lalu di tepi kolam bundaran HI. Sekedar info tambahan gak pentink: beberapa kali melintas Kota Jakarta saya sudah lupa apakah pernah melintas tempat itu, saking penuhnya otak saya memikirkan keadaan negara ini yang tidak pernah memikirkan keadaan saya. Oh, I luv my-"fxxkin"-country. Hahahaha, becanda ya bumbu ajja deh. Tapi terserah dech Anda mau tafsirkan apa. Sebab belum tentu persis, apalagi mutlak benar. Lebih baik kita kembali fokus pada kerbau Si Buya tadi. Di kampung saya yang matrelinial niy ajja sebetulnya istilah buya tersebut sangatlah dihormati (dulunya); sebagaimana Anda kenalin dalam istilah Buya Hamka. Tapi di bundatan HI tadi ia berubah jadi sebuah graffiti moural pilox pada body bongsor seekor kerbau yang di pantat sebelah kanannya ditempelin foto sbypresidenku yang biasanya sangat menjaga wibawa. Patut saja SBY curiga kepada kerbau yang bisa menyimbolkan ukuran besar, seperti tubuhnya.

Akhirnya boleh terindikasi juga deeh bahwa antara buya, kerbau, dan kampung minang matrelinial saya ada hubungan seperti memangnya. Apalagi salah satu aktor intelektual aksi komunikasi politik kerbau politis tersebut adalah juga doktor lulusan amerika keturunan kampung saya tadi tersebut. Duh, bangganya. Sayang banget saya ndak bisa mengeruk keuntungan pribadi apa-apanya. Tapi cerita ini belum berakhir, karena masih paragraf dua. Kita lanjutkan saja. Baiklah, anggaplah kita benarkan saja tafsiran Anda tentang SBY dan Boediono tadi. Apalagi kalau sampai Anda mengait-ngaitkan kisah Si Buya dan Bu Diana tersebut dengan peristiwa nasional akhir-akhir ini. Hmmm, mungkin saya perlu juga memikirkannya. Karena seperti Pak Doktor tadi, Bu Diana namanya juga terdengar bernama dan dimilik asing; tak seakrab nama Si Buya yang doktor juga ternyata, meski produk lokal. Kenapa mereka bisa jadinya menjalin sesuatu. The Perawan melagukannya dengan hits Cinta Terlarang. Entah apa hubungannya dengan SBY-Boediono, tetapi saya sekarang teringat akan advice politik "kancil pilek" Amien Rais sewaktu SBY memutuskan cawapresnya jelang pemilu kemaren.

Dulunya kupikir provokasi Amien hanyalah tawar menawar politik yang gampang ditebak dengan kader Hatta Rajasanya. Ternyata memang ada sesuatu yang lebih DEEP, ketika Amien mengingatkan SBY akan besarnya resiko mengambil Pak Boed sebagai cawapresnya. Hehe, keren ajja rasanya pake bahasa asing nih untuk ungkapkan sesuatu yang kurang cita rasa dan maknawi dalam bahasa indonnya. Seperti teladan dari pemimpin-pemimpin kita juga toh. Tapi bisa jadi juga pemimpin-pemimpin kita seperti Amien tadi ndak sejauh itu juga pengetahuan ataupun terawangnya. Meski sekampus dengan Pak Boed, bukan berarti ia sudah tahu sejak lama dugaan ketidakbijakan pejabat negara terkait dalam kasus bailout Bank Century. Tapi bisa juga dia sudah punya pertimbangan general akan efek politis dan peradaban bagi negara ini terkait pandangan mahzab ekonomi Pak Boed yang ia ketahui dan isu asingisasi atau antek-antek neoliberalism. Lalu kenapa SBY tidak mendengar dan hingga berkasus macam kini seperti tetap berusaha mempertahankan Bapak Boediono berada di sisinya?

Karena SBY punya ambisi karir internasional. Beberapa kali saya sudah temui tulisan-tulisan analisis terhadap hal yang seperti ini. Tapi masih kurang menggigit dan ini saya tambahin rasa pedasnya. Jika betul target SBY misal Sekjen PBB di Niuw York--daripada nantinya semi-nganggur macam JK ataupun total-nganggur seperti gua--dan ini lalu kita kaitkan dengan nilai jual Indonesia yang sedang membentuk kurva mendaki berkat kemenangan Obama Si Anak Menteng di Rumah Putih, (maka) adalah kesempatan emas bagi SBY untuk merebut momentum empuk ini dengan menarik hati Saudara Amerikanya. Keberadaan Bu Diana eh Boediono yang lulusan Amerika dan dituduh bermahzab neoliberal ini adalah senjata tawar yang cukup menggiurkan saya kira. Termasuk duet paketnya dengan mantan Direktur IMF Menkeu kita sekarang Ibu Sri Mulyani. Kursi empuk sebagai Sekjen PBB sepertinya sangat penting bagi cita-cita karir kehidupan Bapak SBY sehingga ia mau melewati riskannya mencawapresi Boediono pada Pilpres 2009 lalu. Terlepas dari tentunya sudah diperhitungkan matang akan bantuan propaganda hingga dana bahkan back up kekuatan militer Armada ke-VII wilayah Pasifik dari saudara se(entah apa) yang jadi sponsornya itu. Tak bisa juga disalah-salahkan karena sepertinya inilah yang memang pilihan hidup SBY yang rajin membentuk english club sewaktu masih kadet calon perwira TNI ceriteranya doeloe. Dan, skill pragmatism dan realistis beliau saya kira sudah cukup teruji untuk bisa menjadi seorang diplomat ulung nantinya. Jenis cari aman yang barangkali memang dibutuhkan untuk menciptakan keamanan bagi dunia lapaknya aneka bangsa. Plus sokongan sisi metafisika ala orang timur yang klenik mania.

Entahlah, saya merasa koq kalimat saya yang terakhir sebelum ini akan berkesan retorika pesimis bagi pembacanya. Jelasnya saya dalam tulisan kali ini berkesan mengerucut pada tema: ambisi karir internasional Bapak SBY; dan aku sudah berusaha menetralisirnya dengan mengatakan bahwa setiap orang punya hak akan pilihan hidupnya sendiri toh. Jika hanya kata-kata "SBY PUNYA AMBISI KARIR INTERNASIONAL" yang saya tulisin untuk menjawab pertanyaan kenapa Si Buya mempertahankan mati-matian cinta kasihnya kepada Bu Diana sebagaimana marwah judul, bisa jadi admin kompasiana bakal menghapus tulisanku ini karena isinya hanya satu kalimat yangmana isi tersebut pun taknyambung pula sama judulnya. Ini jadinya berkait-kaitan sekarang karena begitulah mungkin Anda pembaca akan mencoba-coba menafsirkannya. Tapi gak apa-apa, toh kemungkinan dugaan ngelantur Anda tersebut bisa memperpanjang tulisan saya ini dan dengan kriteria terukur secara kuantitas begini ia akan memenuhi syarat dari editor untuk bisa sah sebagai artikel. Jadi, (jika) Anda masih juga heran kenapa Si Buya yang lokal tetap cinta mati untuk mempertahan Bu Diana yang import luar berada di sisinya, kenapa kenapa? Anggaplah jawaban seperti ini ngawur dan nggak kena pak.

Boediono Disebut BEO oleh Golkar

Entah apa yang dimaksudin dengan rasa eweuh pakeweuh, atika, dan tata karma. Jelasnya dalam tinjuan kacamata feodal, rasa hormat kepada kaum "atasan" barangkali emang kian luntur. Tapi memang inilah bentuk perubahan hierarki sosial zaman sekarang. Dari otoritas pemegang wahyu, warisan darah biru, landing lord, lord off the "ring", atau ada masanya pula kaum intelektual (para pemikir dan pujangga, bukan tukang apalagi jongos jagoannya boss) meski era renaissance ituh udah sangat teramat lama banget jauh berlalu, hingga sumber daya kapital sebagai ideologi umat kembali ke zaman sekarang. Uniknya kini, sejak zaman Rockefeler ceritanya menghilangkan penjaminan uang kertas yang beredar (atau terkumpul) kepada cadangan emas, apa yang kita sebut kapital itu hanyalah perlombaan sederetan variasi atas 10 bentuk angka di butab atau NPWP. Mungkin itulah kiranya Wapres Boediono, juga Bunda Sri Muliani Inderawati, perlu kurasa untuk tunjukin bahwa dirinya orang kaya banget agar ditakuti dalam hierarki vertikal masa kini tersebut.

Tapi kalo ga bermasalah ya diem-diem ajja emang bagus. Maaf kalo kalimat terakhir paragraf pertama di atas ini sepertinya melakukan sebuah loncatan tema. Dalam tulisan kali ini saya ingin ceritain tentang pendengaranku atas penyebutan nama wapres kita pada laporan pandangan akhir pansus bailout century oleh Fraksi Partai Golkar melalui juru bicara Pak Ade (apa gitu, maaf sedang lupa). Tadinya, maksudku kemarennya, aku pengen nulis ini selekas mungkin detik itu juga setelah itu kudengar agar tulisanku menjadi publikasi premiere gosip bertema ini di jagat dunia (data) internet mendahului kamu-kamu detik-detik yang lainnya. Tapi kenyataannya mewujudkan ide tak semudah itu sayang. Sayang memang baru kini bisa kukonkretkan cita-citaku (kemaren). Jadi maaf kiranya barangkali ada juga yang sudah nulis tentang ini. Tapi bisa jadi juga pendengaran saya waktu itu barangkali berbeda dengan jutaan rakyat Indonesia lainnya. Begini, sebenarnya aku cuman pengen ngomong kalo aku mendengar Golkar menyebutkan Bapak Boediono disingkat jadi BO dan terdengar ditelingaku jadi beo (nama burung).

Oh pendengaran. Gak tahulah apa Partai Golkar punya maksud-maksud tertentu ataupun tidak menentu dengan hal-hal semacam ini. Terkadang Pak Ade memang terdengar cukup fasih melafalkan huruf be dan o, tetapi juga kerap sedikit terjadi dissfonansi menjadi beo. Ya burung itu. Entah apa kemiripannya dengan Bapak Boediono. Sekian cukup panjang proses lobi-lobi yang dilakukan Demokrat--yang barusan di news ticker televisi kubaca dinilai PPP masih kurang lihai--ternyata tak sanggup menghentikan langkah Fraksi Partai Golkar untuk tidak menyebutkan nama pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam kasus bailout century. Terlebih di akhir pembacaan laporannya kemudian Golkar memberikan notes untuk menyebutkan penjelasan atas nama-nama yang diberi inisial macam tersangka atau buron itu. Ini jadinya lucu-lucuan, atau apa. Kenapa tidak dari awal saja disebutkan atau tidak disebutkan nama-nama tersebut yang sebetulnya sejak awal juga sudah disebut-sebut dan tetap menjadi pihak yang bertanggungjawab pun tanpa disebu-sebut karena sudah terlalu sering disebut.

Ya iyalah, masa ya iya dong. Mungkin Demokrat masih terlalu muda dan masih kurang pengalaman dan kelihaian untuk bisa "bermain" dengan organisasi politik seberumur Golkar. Cantiknya ini: penyebutan inisial pejabat yang bertanggungjawab tersebut juga berarti memosisikan Golkar untuk sedikit kompromistis "tidak menyebut nama" sebagaimana ditawarkan pihak Demokrat. Artinya, ada "deal" yang harus dihargai Demokrat nantinya. Tapi dari sisi sudut pandang yang lain penyebutan nama tapi dengan inisial tersebut justru juga bisa dianggap justru lebih mempermalukan. Akhirnya Golkar jadi menang di sana, ataupun di posisi sini. Apa ya nama taktik politik atau intelijennya yang macam gini. Entah juga, apa betul hal ini sudah melalui perencanaan matang oleh lembaga think-thank-nya; bukan tindakan yang hanya mentah apalagi spontan. Tapi bisa saja Golkar memang sudah memiliki SDM analis-analis profesional ataupun konsultan politik berkelas yang modern-kontemporer berijazah Amerika, Syam, bahkan Israel. Jikalo bagian litbang pada dinas-dinas pemerintahan akan sangat kurang gizi dan hidup hina dalam idealisme bahlul (yang tak punya tempat di struktur hierarki sosial masa sekarang seperti yang saya ungkapkan di awal tadi), (namun) untuk parpol mapan seperti Golkar saya kira mereka lebih dari sekedar punya cukup modal guna memakmurkan kemampuan berpikir lembaga analisisnya. Lagi entah, apa penyebutan inisial Boediono dengan BO yang terdengar menjadi beo (burung) tersebut semata "kreatifitas" Pak Adekah. Karena saya jadi mulai curiga untuk membuat kemiripan Pak Boediono dengan burung beo....

Tuannye bakal dateng untuk nostalgia bulan depan tuch, hahahaha!!!

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...