Selasa, 19 Januari 2010

INDONESIAN DEMOCRACY, ABOUT PRAGMATISM

Kalau mau mendapat posisi di zaman becek, tentulah ada kotoran yang melekat. (Imam Kuncoro - PNS Murtad)

hahahahahahuahahaha, keren juga ya judulnya in english padahal ejaannya belum tentu bener. apalagi nulis kontennya, wkwkwkwkwk. sebuah kejutan peradaban bagi masyarakat indonesia sepertinya baru2 ini terjadi lagi dari drama pansus century di senayan. dimulai dari pemeriksaan pak boed, menghangat saat yang hadir para deputi BI. dan agak memuncak ketika sri mulyani. ya ibuk yang cewek ini kulihat agak gemetaran saat digertak2in oleh bapak2 wakil rakyat di dewan yang terhormat. terlihat sorot kamera tv meliput tangan mbak sri neolib niy yang bertasbih ria selama proses persaksiannya. kupikir faktor gender dan kultur intelektual-jawa ini cukup berperan membikin tekanan psikologis dan sistemik terhadap mbak sri. bayangkan saja bahwa seorang cewek ayu ekonom profesional yang biasa dihormatin (dan dijilatin) di negeri niy (sebagai pejabat), bahkan di forum2 internasional (dan pernah kalo ndak salah mendapat prediket menteri keuangan terbaik dunia tahun lalu), harus menerima kenyataan di-jaksa-in sama cowok2 garang senayan yang gertaknya bak preman terminal kampungan-ndeso (padahal strategi 'komunikasi politik' toh). kemudian juga ada akrobat politik saat jk dipanggil daeng sama mas ruhut, untung jk emang jenaka. reality show ini makin memuncak saat raden pardede (yg kalo ndak salah pernah mencagub/cawagub di sumut gitu) tiap2 bentar kehausan minum air diinterogasi politisi senior golkar yang ketua anggaran dpr yang tahu betul tentang bagaimana penggunaan uang negara. terakhir saat pendekar hukum marsilam simanjuntak yang curiculum vitae-nya menggentarkan sarjana linguistik kritis senayan, bung akbar faizal dari hanura, semalam juga cukup menarik untuk disaksikan gertak2an dan saling uji kemampuan komunikasi/akrobat wacananya.

dalam era serba santun-etika-dan "terlihat berakhlak" sejak dominasi sby dan demokrat ini memang sepertinya pertunjukkan beberapa minggu belakangan dari senayan ini akan cukup menimbulkan cultural shock. sby sendiri pun sampai angkat bicara diberitakan mempertanyakan soal etika gini. tapi toch di satu sisi membiarkan anak buahnya diperiksa dan dihajar para legislator, sehingga bahkan membuat koalisi golkar dan demokrat sekarang jadi terasa renggang. kwik kian gie membuat pernyataan menarik bahwa semua akrobat politik ini akan selesai kalo sudah ada yang menyatakan dengan kesatria saya yang bertanggung jawab, sejalan juga dengan tulisan marsekal (pur) chappy hakim eks-kasau yang saya baca dalam salah sebuah artikelnya. jadi sby kah? atau cukup anak buahnya? menarik melihat bagaimana penelusuran duit century yang tentu tak mudah ini harus kait mengkait dengan kritik terhadap kebijakan politisnya. sekali lagi apakah sampai sby yang harus bertanggung jawab dan terjadi hingga pemahzulan/pelengseran terhadap pemimpin tertinggi negara ini? karena seandainya proses politik ini tidak dipertimbangkan, bayangkan apa yang akan terjadi jika benar sby tahu tentang duit dan kepentingan dalam kasus century ini sementara kepolisian yang akan mengusut tuntas aspek hukum masalah ini adalah anak buahnya? nah, kita tunggu aza, sekarang golkar dkk sedang agak menghajar habis2an teman2 demokratnya yang kini sepertinya ditinggal sendirian guna membahas perlu tidaknya menghadirkan presiden dalam pansus angket century gate yang kabarnya lebih parah dan berat dibanding peristiwa watergate yang menjatuhkan presiden richard nixon di usa amelika celikat tuh. ini saya dengar dari pengamat ekonomi christianto wibisono yang menyebut tim sby melakukan gol bunuh diri sementara lawan kompak menyerang huahahahaha.

kalo saya juga agak kurang percaya jika sby betul mau sengaja makan uang haram tersebut. atau setidaknya kita bisa ambil preseden kasus ke luar negeri yang kabarnya tim kampanye obama mengembalikan duit sumbangan bernie (atau bernard ya) madoff penipu ulung gaul yang setelah ketahuan diganjar hukuman kabarnya 150 tahun penjara. beda 145 tahun dengan robert tantular yang setelah banding ke pengadilan tinggi hanya naik dari 4 tahun menjadi 5 hahahahahaha. kembali ke sby, satu hal yang paling saya sesalkan di antara berbagai sisi positif lainnya adalah sikap pragmatisnya. tapi barangkali sikap pragmatik-realistis-oportunis ini jugalah yang membawa dia ke jabatan petinggi negeri ini. kalo tidak tahu ndirilah INDONESIA RAYA NKRI, sejak awal juga bakal disingkirkan orang hehe ini kayaknya juga sudah hukum alam bakal terjadi dimana2 ya. sifat pragmatis ini yang saya lihat membuat ia tidak berani berkonfrontasi dengan orang2 yang dia tahu salah tapi kekuatan orang2 tersebut akan membahayakan posisinya. ya iyalah sebagai presiden yang eks-TNI pula beliau kan punya dinas intelijen bokk. lebih aman memang bagi beliau membiarkan diskursus ini mewacana sedemikian rupa dengan segala pentas akrobat politiknya hingga secara pragmatis waktu dan tempat mengijinkan untuk berbuat secara 'cari aman', dan tentu saja ini sangat membutuhkan kepintaran strategis. akibatnya seperti tidak ada ketegasan dalam meng-culture-shock setiap kejadian pada rakyat yang dipimpinnya meski itu harus dibayar dengan diturunkan dari kekuasaanya, bahkan kalo perlu pengorbanan dipotong kepalanya. kenapa tidak demi kebenaran? tapi bagi manusia pragmatis mereka selalu cari aman. inilah situasi yang mesti kita hadapi di alam demokrasi, kebenaran ditentukan oleh yang banyak dan yang sudah men-tradisi/biasanya. demokrasi sebetulnya anti terhadap perubahan. dan perubahan yang drastis selalu butuh seorang pemimpin yang kuat, monarkhi yang berakhlak, RATU ADIL. menegakkan yang benar meski itu harus mengakibatkan langit menjadi runtuh.

sepahit2nya, adigium dari seorang ahli ilmu menyatakan bahwa 100 tahun dibawah seorang diktator adalah lebih baik daripada keadaan tanpa pemimpin. karena demokrasi sesungguhnya adalah chaotic, pasar, transaksional, dan pada praktiknya demokrasi2 yang terlihatnya mengagumkan di negara2 barat masa dewasa kinipun sesungguhnya selalu dikendalikan oleh invisible hand. dalam bahasa merakyatnya: uang. ya inilah yang akan menjadi pemimpin kita dalam alam demokrasi dan suara mayoritas meski berbagai pemikir menambal sulamnya dengan syarat2 bahwa demokrasi akan bisa dipraktikkan lebih baik dalam masyarakat yang terdidik. apalagi rakyat kita yang kalopun terdidik paling banter secara teknis/pertukangan ini. mental rakyat kerajaan masih melekat pada kita tapi rakyat indonesia hyper-euphoria dengan demokrasi sehingga tampaklah di mata kita pertunjukkan demi pertunjukkan pragmatisme politik, uang, retorika cari aman. terlepas dari segelintir ilmuwan yang memang menjadikan ideologi/agama demokrasi sebagai pilihan keyakinannya (yang entah jangan2 karena terbawa arus pragmatisme juga) sesungguhnya dan sejatinya demokrasi adalah situasi tak berbentuk tempat terciptanya pragmatisme demi pragmatisme dalam berbagai bentuknya. tempat dimana setiap pembaruan/perubahan yang tak disokong situasi pragmatis akan tersingkir. dan indonesia adalah contoh menarik untuk ini. terlebih semenjak lepas dari ideologi pancasila pembangunan ala orde baru dan serbuan deras serta pergulatan berbagai bentuk kultural baru, ditengah keragaman mahzab politik, keyakinan, kultural yang barangkali tak kunjung2 jelas bentuknya setelah berpuluh2 tahun merdeka. demokrasi indonesia saat ini adalah sebuah contoh kajian menarik tentang bagaimana demokrasi dipraktikkan sebagai agama pragmatism, oportunisme religion. begitulah, akhirnya kita justru jadi belajar banyak dari segala sesuatu iniy. berpikir tentang segala dialektik-dinamika-kerumitan iniy. bukan berbuat, praktek, dan tekhnis seperti binatang, mesin, dan belatung mengulang2 apa2 yang sudah2 sebelumnya terjadi dan terus terjadi dan pasti akan terjadi. berpikir, berpikir, dan berpikir, membaca buah tangan mahaagung karya (katanya) tuhan sang pencipta misterius qta niy. bukankah inilah kegiatan seharusnya sambil menunggu giliran mati?