Selasa, 02 Februari 2010

DEMO DAN PERUT SI MINANGKEBO

Kita boleh menerima kekecewaan sementara, namun jangan sampai kehilangan harapan yang tak berbatas. (ML King)

gara2 denger wawancara penyiar brm senior kang tatang permana dengan khairul 'singgalang' jasmi yg sepintas menyinggung tema masyarakat minang dan demo ndak beberapa lama waktu berlalu, gw jadi kepengen nulis tentang ini. mengenai demo2 'anti-sby' yang baru2 aza marak di jakarta singgalang melihat 2 sikap masyarakat minangkabau. pertama, para pakar dan kaum intelektual cenderung apresiatif atas sikap kritis terhadap pemerintah tersebut. kedua, rakyat badarai cenderung apatis hingga sinis. kata jasmi karena 'para pakar' cenderung mapan secara ekonomi sedang masyarakat kebanyakan masih kudu bergelut dengan usaha isi perut. sebuah generalisasi yang menurut gw kurang tepat jua, bahkan bisa jadi sedikit menyesatkan. ya boleh dunk gw juga menilai dengan kemampuan analisis sosio-kultural gw yang terbatas dan pengalaman hidup gw yang lebih terbatas lagi dalam mengenal dengan begitu dekat karakter rang minang.

pertama, alasan kemapanan ekonomi saya rasa (bukan pikir) juga tidak mutlak tepat untuk kategorisasi sikap kritis seseorang (minangkabau). saya rasa, dan rakyat minangkabau kebanyakan juga bisa dengan mudah mencari deh, dapat kita temukan contoh orang yang ndak bisa kritis meski mapan secara finansial (rasanya manusia 'beruntung' macam gini juga ndak dikit deh). karena, sikap kritis terhadap pemerintah atau peristiwa politik ini lebih terkait pada kapasitas intelektual (non-tekhnis). ingat, sikap kritis adalah kepedulian dan kemau-tahuan bukan berarti selalu pertentangan. tentu kemudian ini juga terkait interest personal dan segudang faktor sosial lainnya. tapi sederhananya dan generalnya, faktor intelektual (non-tekhnis) ini saya kira lebih masuk akal untuk menganalisis sikap kritis atau tidak kritisnya person minangkabau dibanding kategorisasi finansial. saya, rasanya lagi, juga tidak jarang bertemu lansia2 pengomel karena tertindas dan tersingkir secara ekonomi meski terlihat cerdas kayaknya yang begitu berapi2 kalo sedang mengecam pemerintah (macam guwa, hahahaha).

kedua, alasan bahwa rakyat badarai minangkabau tidak peduli dengan demo2 gituan karena sibuk nyari duit primer dan pemenuhan kebutuhan perut juga rasanya ndak gitu2 amat deh. orang minang sebagai bagian dari masyarakat melayu sudah sangat terkenal dengan kebudayaan sarungnya. dengan tidak memungkiri 'kerja keras'-nya bagi sebagian-'nya'--utamanya para perantau--tapi orang kebanyakan juga sudah tahu bagaimana dalam hal kerja keras ini suka diperbandingkanlah kita2 dengan buruh2 proyek dari jawa. kadang kita suka berdalih kerja cerdas (maksudnya culas, hahahaha). tidak, kita sebetulnya dalam hal ngisi perut mah emang semangat tapi santai koq. karena selagi bisa ngakalin kita pasti ngakalin. kalopun terlihat rajin itu biasanya juga demi menghindari cap buruk dan takut akan apa kata orang lain. karena minangkabau biasanya sangat berjiwa 'sosial' tinggi dan amat takut pada pendapat kebanyakan. maka itu pula disini imej, tampilan luar, dan gengsi itu puentiiiinggg bangeddd. maka pura2 sibuk ajja deh, sambil nyari akal.

di lapau2 rakyat mingkabau yang berideologi materialisme ini sebetulnya selalu punya waktu luang untuk bergunjing dan ajang pamer sok punya pengetahuan. kalo perlu dari pagi, siang, sore, hingga malam. sesekali pura2 sibuk lagi ada kerjaan, kalau ndak malu kita. karena sebetulnya emang sedikit cerdas, minangkabau sebetulnya peduli dan punya cukup waktu untuk memperhatikan peristiwa2 nasional. tapi selain ndak mau repot karena terlibat untuk sesuatu yang tak langsung jelas untungnya buat dirinya sendiri ya minangkabau biasanya ndak tahan melihat ada orang lain yang lebih pintar darinya dan kapabel berkoar2 menceramahi diri pribadinya yang merasa tahu segala hal, segala tema, segala bidang di rapat2 dewan lapau. contohnya guwa hahahahaha.

jadi gitu deh menurut pendapatku yang bisa saja salah niy. and silakan diperkaya atau dibantah jika ada sudut pandang lain. bukan bersikap sara (dianggap) menghina sebuah suku apalagi kebudayaan tertentu. tapi ya tentu saja sukuku inilah yang paling gw tahu kulturnya dibanding gw berbicara tentang kekurangan pihak lain yang secara pihak luar bisa saja kurang kompeten bagiku. menurut guwe kalo si minangkabau ndak bertelinga panas dan bisa meredam tabiat pendenkinya pastilah kapasitas intelektual(non-tekhnis)nya cukup mumpuni untuk berpikir neutral tentang hal ini. dan di satu sisi tentu saja guwa bangga sebagai minangkabau dengan tokoh2 nasionalnya yang kritis2man dalam pemikiran kabarnya. tapi entah kenapa kini semua seperti menghilang karena semua orang sepertinya sedang fokus pada tema uang....