Nasionalisme Indonesia Raya di New Century

Buyarnya koalisi indah yang dibangun pemerintahan SBY seri II sebab century case mengindikasikan sesuatu. Semenjak Reformasi 98, konsolidasi nasional bangsa Indonesia terasa untuk bertahun-bertahun mengalami sebentuk kerapuhan. Desentralisasi eksponen kekuatan politik ke berbagai kelompok-kelompok bangsa akibat tumbangnya otoritas mapan Orde Baru seperti meretakkan jalinan ika yang selama ini diikat bhineka. Dalam waktu lima tahun hanya--1998 hingga 2004--Republik Indonesia ini memproduksi empat orang presiden sebagai pemimpin; setelah sebelumnya seorang Soeharto bisa berkuasa selama 32 tahun dan seorang Soekarno sepanjang 20 tahunan. Pasca Reformasi 98, ada institusi TNI yang setidaknya punya peran politik yang baik berupa menjaga kesatuan bangsa. Menariknya, petinggi TNI terlibat sedikit serius saat menjadi pihak yang memihak pada proses politik "kancil pilek" jatuhnya K.H Abdurrahman Wahid, komando tertingginya, yang gagal membuat Maklumat Presiden menjadi hukum sebab tidak didukung tentara.

Sehabis SBY terpilih untuk kedua kalinya, dengan dukungan langsung lewat suara rakyat 60% plus, terlihat seperti ada harapan akan adanya otoritas dominan baru di negeri yang sangat bhineka dan rentan ini. Pasca Pilpres 2009 bahkan SBY memperkuat tampuk otorisasinya dengan membentuk koalisi yang telah terbina sebetulnya sejak masa kekuasaannya yang pertama. Koalisi ini sangat gemuk; bahkan terlihat merangkul partai oposisi terkuat, PDIP, dengan menghantarkan Taufik Kiemas ke kursi ketua MPR. Tentu saja teman-teman koalisi SBY menjadi nyaman dan makin yakin dengan Partai Demokrat yang menjadi kuda sangat hitam dan langsung mayoritas di masa pemerintahan kedua ketua dewan pembina dan pendirinya tersebut. Tapi kenapa baru sebulan pemerintahan spektakuler SBY jilid II ini resmi berjalan, koalisi indah tersebut seperti dengan mudahnya retak berkah kasus century dan isu aliran dana yang tidak atau belum terbukti?

Kemapanan otoritas baru yang kuat sepertinya menjadi masih butuh waktu. Kemapanan politik yang diharapkan menghasilkan kestabilan jalannya pemerintahan pun terganggu. Kader-kader partai baru Demokrat sepertinya harus lebih belajar banyak untuk bisa berpolitik cantik dan indah; bersaing dengan bhineka politik lain yang tidak kalah mapannya; mulai dari Golkar, PDIP, hingga PK Sejahtera. Semua nasionalis, tapi pecah kongsi. Sejarah nasionalisme Indonesia, jika kita telisik kembali, adalah persatuan anak bangsa yang sama-sama tertindas oleh penjajahan selama beratus-ratus tahun. Sejarah persatuan kita bukanlah persamaan ideologi, primordial, bahkan asal-usul, melainkan ketertindasan oleh penjajahan asing. Asing yang merampok kekayaan negeri makmur sentosa Indonesia Raya. Semangat persatuan kita pada akhirnya mewujud dalam ikhtiar untuk kembalinya kekuatan politik, ekonomi, hingga sosial kepada bangsa sendiri. Di sinilah kemudian muncul kebersamaan dengan landasan keadilan untuk kita semua; dari berbagai suku, keyakinan, hingga gank pergaulan. Tapi apa yang terjadi? Sudahkah kembalinya otoritas politik dan kekuasaan kepada anak bangsa sendiri tersebut juga sejalan menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat bangsa sendiri yang aneka dan yang telah lama tertindas ini? Selain tertulis dengan indah saja di butir kelima Pancasila....

Kemapanan otoritas politik dan pemanfaatan kekuatan militer oleh pemimpin-pemimpin kita selama ini telah sanggup menjaga situasi persatuan meski keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tersebut masih jauh panggang dari api. Bahkan petinggi-petinggi bangsa ini ada yang dicap antek-antek asing dan muncul istilah dalam langgam dangdut berupa: kini giliran bangsa sendiri yang menjajah sesama bangsa sendiri. SDM-SDM terbaik bangsa ini kabarnya dimanfaatkan dan lebih dihargai oleh negara lain; sejalan seiring dengan terus keluarnya dengan harga murah SDA-SDA terkualitas bumi pertiwi ini. Sebab para penyelenggara pemerintahan justru direkrut melalui jalur-jalur kotor, SDM-SDM kelas kolor; dari generasi ke generasi. Manusia-manusia low-mid quality (seperti Q); yang mesti menjalankan politik kantor untuk dapat posisi. Berbekal networking, nepostism, dan negoisasi, nilai riilnya bisa dikatrol dan kontrol. Sementara otak-otak cemerlang terpakai oleh sektor swasta; yang terang saja tentunya akan berorientasi profit semaksimal mungkin untuk berbakti pada para pemodalnya; alih-alih kejayaan nusantara. Indon... indon....

Konsolidasi kesatuan kekuatan eksponen-eksponen berbagai kelompok bangsa yang dipilih dilalui secara demokratis oleh SBY kini sebenarnya cukup memberi harapan baru. Sekian puluh tahun merdeka dan telah memasuki abad teknologi informasi membuat sudah cukup ragam penyebaran SDM anak bangsa kita. Memang masih di tahap paling sangat awal untuk keluar dari tradisi-tradisi sebelumnya. Apa yang terjadi dalam kasus century dan mandegnya konsolidasi nasional zaman baru era demokrasi yang dirintis SBY sebetulnya juga cukup wajar. Ibarat pengantin baru, kita baru direkatkan lagi setelah sekian sumpek dalam bentuk ikatan lama. TNI sekarang telah menjadi institusi militer profesional dan dikabarkan termasuk sektor yang paling berhasil proses reformasinya. Sudah tidak zamannya lagi kini aparat militer menjadi alat represi sepihak penguasa. Kesadaran kesatuan nasional sekarang berlangsung lebih modernis lewat ideologi demokratis dan bukan nostalgia bentuk persatuan embeer lama. Sebuah persatuan yang telah terbukti berpuluh-puluh tahun hanya menghasilkan penindasan--mulai kultural, informasi, hingga kapital--dari kelompok yang punya kuasa terhadap kelompok bangsa lainnya yang tidak punya kekuatan.

Persatuan nasional di era baru ini harus disadari oleh para pemimpin-pemimpin bangsa masa kini janganlah lagi berbentuk perkawanan palsu, pertemanan semu seperti di masa lalu. Ya, mau tidak mau harus diakui kebhinekaan kelompok-kelompok bangsa kita ini sangat multikultural dan kurang homogen; mulai dari adanya yang paling mayoritas hingga yang paling minoritas dari berbagai segi. Negara kita yang mahaluas ini harus memiliki kesadaran akan realitas kebhinekaan tersebut. Konsolidasi dan persatuan nasional akan bisa terwujud secara jujur dan mapan jika cita-cita perjuangan pendahulu kita dahulu dulu kembali diingat dan saatnya kini dilaksanakan. Keadilan nasional, inilah seharusnya buah dari perang kemerdekaan yang susah payah penuh banjir darah mereka rebut dari penjajah. Jika rakyat kebanyakan masih harus hidup susah, dan keuntungan kue kemerdekaan hanya dinikmati oleh segelintir penguasa dan kroni-kroninya, bukankah lebih baik bagi mereka jika pemerintahan penjajah saja yang menjadi pelayan kehidupan bermasyarakat mereka. Setidaknya "asing" tersebut mungkin akan lebih menghargai SDM-SDM cemerlang, dan berpolitik balas budi terhadap SDA-SDA gemilang, dibanding kebudayaan nepotism akut kultur komunal buta ketimuran kita.

Sekali lagi, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia; hey, kamu-kamu para pemimpin bangsa punya tugas mahaberat untuk harus mewujudkannya dan memberi arti indah pada apa itu merdeka. Memberi makna, sense, dan sensasi dari apa itu menjadi seorang nasionalis. Indonesia ini ragam; tidak hanya kultur dan lingkungan seputar koneksi pihak sana. Memang, tidak perlu utopis juga dengan tagline Indonesia yang telah makmur, sejahtera, dan sentosa. Kaya-miskin, cerdas-bodoh itu adalah keniscayaan yang tidak perlu dihapuskan juga tidak dientaskan. Melainkan seperti nyanyian Prof. Iwan Fals: peraturan yang sehat, itu yang kami mau. Keadilan memang tidak hitam putih dan punya banyak perspektif, seperti kacamatanya Wimar. Setiap orang punya medan dan ruang juang unik masing-masing dalam lingkaran ketetapan individual hidupnya. Tugas kalian para pemimpin--sekaligus penyelenggara dan pelayan rakyat ini--hanyalah menjalankan pengaturan kehidupan berbangsa yang sehat, konsisten, fair, dan benar bagi semuanya, semua pihak, sehingga terwujudlah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tersebut. Dengan begitu anak-anak bangsa ini akan mengerti arti dari jiwa dan semangat ke-nasionalisme-an tanpa sekedar ikut-ikutan, ditunggangi, apalagi dusta.

Koalisi, konsolidasi, konstruksi nasional kita masa kini sedang berproses mencari jati diri kontemporernya. Sebagian kelompok persatuan temporal yang cair--kumpulan semangat-semangat muda, bukan umur muda jiwa tua, yang tidak mau terbelenggu lagi dengan pola-pola bau kentut para pendahulunya dan terkadang mem-bypass struktur proses politik normal penghambat perubahan--ada misalnya menamakan diri Gerakan Indonesia Baru. Faktanya resistensi akan selalu ada dari pihak-pihak yang telah akrab dengan kebudayaan kolor kotor dulu itu sebagai zona nyamannya. Kita tidak bisa terus-terusan begini. Kita harus mencoba lepas dari doktrin kering, lagu usang, dan janji palsu yang telah menjadi sangat membosankan itu. Ini era baru bung, abad blue bang; nasionalisme itu harus punya konteks kekinian setelah tersingkapnya berbagai tabir borok-borok masa dulu tersebut. Sebuah persatuan nasional di tengah-tengah kebhinekaan kultural, pergelutan etika demokrasi, dan arus informasi hari gini? Tenang setidaknya di sini ada guwa yang sedang memikirkannya tetapi gimanaaa ya? Ah, menuliskannya saja sudah tidak mudah; bagaimana pula melaksanakannya, oyee!

Kotor(an) Kita Sama Tapi Tak Sama

Sorry to Say, lagi-laga musti bicara soal yang kotor dan kotoran. Tidak positif, tidak de secrets, tidak pula menginspirasi, memberi solusi; barangkali seperti itulah paradigma pikir pemirsa yang senang denger yang indah-indah sajalah. Seperti hantu katanya. Di depan legislator perpajakan Komisi III DPR-RI, enterpreneur toko kelontong yang memiliki sambilan sebagai Ditjen Pajak menyatakan bahwa Kyai pun imannya bisa turun naik. Intinya gak usah koar-koar deh menyudutkan "permainan" orang pajak toh masing-masing kita juga pasti pernah kecipratan kotoran. Siapa yang bisa membantahnya kecuali aktor sinetron dan retorika pendusta. Pun ketika diprotes karena simbolisasi pada Kyai tersebut akan bisa sangat-isu-sensitif (meskipun benar) di akar rumput, Ditjen Pajak koaya raya yang belum tentu sanggup untuk dibuktikan sebagai koruptor selama masih di dunia edan ini itu telah mendapatkan pahala award bagiku atas kejujuran dan keberanian dan kebenaran pernyataannya.

Pasalnya kemudian adalah kemudian apakah itu bisa jadi pembenaran akan kelumrahan bermain dengan kotoran. Kita sama-sama kotor tapi bukan berarti dengan kotoran yang sama. Dan pula tidak ada alat ukur pastinya--secara komprehensif--karena di dunia ini kita hanya bisa bertindak dan memiliki fokus pilih-pilih, parsial, segementasi, sextoral. Karena toh dalam ontologik orang beragama di tangan hantu nantilah pembuktian yang sebenar-benar-benarnya. Dunia ini memang sengaja dikonstruksi abu-abu olehnya ataupun Nya agar setiap orang bisa memiliki pilihan akan ke wilayah mana dan berproses terlebih dahulu sebelum ke sana ataupun Sana. Jadi jika ada melekat kotoran dalam diri ini lantas ia tidaklah ia menjadi benar karena orang lain juga memiliki kotoran. Kotoran tahi manusia saja bisa akan sangat variatif varietas bentuk, rasa, dan detil warnanya. Jadi jangan main klaim sama rata, menjadi alat pembenaran, lalu tambah mengaburkan kebenaran yang sejatinya sudah sangat kabur.

Jika saya kotor tentu saja saya punya hak untuk membela diri dan menyembunyikan busuknya kotoran saya dan berharap biar hantu saja deh yang ampuni dosa saya nantinya dengan menyisihkan sebagian sangat sedikit dari dana kotor itu untuk pembangunan mesjid, sumbang sana-sini, dan ujung-ujungnya sebetulnya berpolitik (uang). Dan memang tantangan tugas dari para pembersih kotoran yang juga punya kotoran sama tapi tak sama pulalah untuk semaksimal mampunya berusaha mengusut. Jadi sebetulnya kita hanya menunaikan tugas masing-masing; di pihak manapun pilihan kita ada dan hadir. Toh meski tidak komprehensif sempurna, secara parsial, hukum tetap saja telah membuat kategori-kategori kepastiannya untuk sebagai alat uji dan kanalisasi. Untuk kotoran seberat ini rewardnya segini dan untuk kotoran yang segitu barangkali hukumnya akan bisa saja jadi abu-abu. Kecuali kalee ajja nanti ada doktor mbeling yang bisa dapat nobel--yang hadiah uangnya belum bisa diputuskan apakan akan ia makan--berkat kepastian pada ilmu matematika kotoran. Jadi janganlah saling melempar kotoran itu untuk justifikasi, merasa benar, dan akhirnya kemahfuman akan kekotoran justru akhirnya-bahayanya membuat kita tidak lagi bisa membedakan yang mana kotoran, yang mana Kebenaran.

Paradigma Matre dalam Reformasi Birokrat

Kasus Gayus Tambunan yang terkuak membuat banyak kalangan menjadi bertanya tentang efektifitas renumerasi gaji dan kesejahteraan PNS untuk memberantas kebudayaan korupsi Indonesia. Bahkan terakhir lewat rapat dengar pendapat, anggota DPR "baru" mendapat informasi dari 10 orang pejabat direktorat pajak non-aktif di instansi Gayus bahwa hal yang seperti itu "sebetulnya" juga dilakukan banyak orang. Saya sendiri ndak kebayang dengan gaji formal 12 juta per bulan kenapa seorang muda yang umurnya cuma sekitar tiga tahun di atas saya bisa merasa masih begitu "kurangnya". Saya sendiri dengah "hasil resmi" (bukan proses) 0 rupiah per bulan selama bertahun-tahun toh rasa-rasanya juga "asyik-asyik" saja dan mendidik diri ini untuk qanaah dan semakin percaya pada ketetapan Tuhan ataupun Hantu.

Nggak tahu juga ya kalau saya punya kesempatan (anggap saja tidak pernah sama sekali) mungkin juga akan bergabung bersama jamaah koruptor agar tidak dikucilkan, hehe. Seperti kata Dirjen Pajak Muhammad T pada forum tersebut bahwa kyai imannya juga turun naik kalau punya kesempatan. Setidaknya bapak ini ada betulnya juga jika kita merujuk pada ledakan jumlah jamaah koruptor tidak terlihat kasat di Depdiknas dan Departemen Agama. Seperti juga sebuah kisah nyata yang kubaca tentang pegawai pajak baik-baik dan rajin sholat yang akhirnya menyerah juga karena tak tahan terhadap tekanan lingkungan. Sholatnya terlihat tapi korupsinya tersembunyi. Dan memang inilah kaidah fikih hukum duniawi. Apa yang zahir mengalahkan apa yang tersembunyi. Dan orang-orang beriman tentunya yakin dengan pengadilan sebenarnya hanyalah di akhirat nanti.

Menkeu Sri Mulyani Indrawati menjawab kejadian pada Gayus Tambunan tersebut--yang oleh Susno Duadji disebut baru ikan kecilnya dan oleh banyak kalangan disebut-sebut sebagai fenomena gunung es--merupakan penyakit mental. Muhammad Jusuf Kalla yang seorang pedagang saja pun menyindirnya dengan sebutan orang serakah. Dan sayangnya orang serakah dan penyakit mental seperti ini ada di mana-mana. Meski hanya tercium baunya dan secara yuridis fikih dunia tidak bisa dihukum memang sepanjang tidak terbukti sekarang. Ibaratnya barangkali lebih banyak oknumnya daripada benarnya, haha. Dan orang-orang yang sanggup kecenderungan bersih di tengah situasi sosial yang seperti ini memang luar bisa--patut diuji kesabaranya untuk terus menerus dihina--dan saya akan sangat terharu membaca kisah-kisahnya. Tidak seperti saya sama sekali ya, karena belum ada "kesempatan korup" saja nih. Tai ayam!

Banyak juga kalangan yang telah mengusulkan paradigma reward dan punishment untuk membuat pegawai negeri kita profesional seperti swasta. Tentu di swasta juga terjadi, namun pastinya tak seleluasa dan setolol di PNS karena masih bobroknya sistem yang mengorganisir dan terkait dengan sangat banyaknya orang ini. Departemen Keuangan saja yang disebut-sebut sebagai instansi paling berhasil melakukan reformasi dan paling besar menikmati renumerasi, menghabiskan APBN, berkat kasus Gayus Tambunan ini membuat Menterinya mengakui bahwa ada sistem yang masih harus diperbaiki. Bagaimana pula dengan tempat-tempat "basah" yang lain. Termasuk hakim pajak kasus tersebut yang ngakunya sama Komisi Yudisial hanya nerima 50 juta namun disebut-sebut di media massa diduga mencapa di kisaran 50 milyar. Kemana larinya uang yang 49 milyar 950 juta lainnya. Kalau aku punya uang segitu mau jajan cewek berapa banyak ya, haha. Ya hantu, jauhkanlah aku dari beban yang tak akan sanggup kupikul.

Salah satu sifat dasar manusia--yang oleh Freud disebut-sebut dikendalikan oleh id atawa hawa nafsu ini--sebagai makhluk economicus tak akan pernah merasa puas dengan harta yang dikumpulkannya. Seperti ilmu pengetahuan saja, semakin banyak yang ia dapatkan akan semakin besar pula ia merasa kekurangan. Tentu intensitasnya berbeda-beda dan kita semua tidak sama. Kalau tidak, mubazir saja hantu menganggarkan biaya bbm untuk bahan bakar neraka selama bermilyar-milyar tahun atau selamanya dan pula investasi pembagunan infrastruktur surga. Ada manusia yang cukup sabar dan ada pula yang sangat serakah. Karena itu penanganannya akan tidak tepat jika sama. Termasuk cara pandang bahwa dengan kesejahteraan korupsi akan hilang. Tai sapi!

Soal kesejahteraan ini saya kira mestinya sejalan saja dengan kemampuan keuangan negara. Kalau negara kita memang sedang makmur tidak ada salahnya kita manfaatkan dan syukuri rezki dari langit itu untuk kesejahteraan PNS dan seluruh anak bangsa. Bagitu juga jika bangsa kita sedang susah seperti saat ini, baiknya ya kita sama-sama tepa selira atuh. Ini harus dipisahkan dari pemberantasan korupsi yang apapun cerita idealnya tetap harus tegas menjalankan fungsi hukum dunianya semaksimal mungkin. Apapun cerita sejarah kesejahteraan yang dijadikan alasan, hukum tetap harus jalan. Termasuk pendidikan pada generasi penerus bangsa ini setidaknya, jika para pendahulu kita ini memang sudah sebegitu rusak berjamaahnya. Jadi kesejahteraan adalah satu sisi sedangkan pemberantasan koruptor adalah sisi yang lain. Bisa berjalan seiring tetapi jangan disangkutpautsaklekkan karena lagi kembali ia akan dijadikan alasan yang macam-macam saja. Seperti kata hantu kepada Qarun, "apakah engkau berpikir semua harta yang dimiliki itu oleh karena kehebatanmu?"

Warna Warni Indonesiana pada Kompasiana

Idealnya--sebagaimana brand ini dikesan menyanad pada istilah indonesiana--kompasiana menjadi wadah per-blogging-an yang sangat bhineka tunggal ika. Kalo perlu ikal; dinamis penuh gelombang. Idealnya, kompasiana ini akan pernuh warna-warni; reportase dari berbagai sudut pandang, pemikiran dari bermacam perspektif, alotnya sorak-sorai dengan beraneka idiom. Sepanjang mengikuti kompasiana sebagai media baca-tulis komunitas orang indonesia online saya merasakan sekali ragam ini. Ini jugalah keunggulannya. Semenjak 10 tahun lampau sebetulnya telah mulai berdiri pasang surut hilang muncul bermacam komunitas online lainnya yang menghimpun indonesiana. Biasanya forum-forum online tersebut kebanyakan masih menjadi himpunan untuk segmentasi tertentu, hingga--secara halus--kelas "tertentu" atau setidaknya hanya kalangan tertentu. Hingga rasa-rasannya belum ada yang seramai dan seragam-ragam dan seriuh dan se-warna warni kompasiana Q niy. Inilah peristiwa yang terjadi menurut pandangan sudut mata saya dalam menilai keunggulan dan energi potensial besar branding kompasiana bagi konteks indonesiana. Idealnya.

Namun yang ideal tersebut akankah selalu bersanding dengan kontekstualisasi riilnya dan realisirnya? Dinamika terus terjadi dan tarik menarik berbagai kepentingan serta sudut pandang senantiasa berproses merusak-bangun titik-titik keseimbangan lama untuk menuju titik keseimbangan baru lagi. Gempa-gempa kecil hingga goyangan besar barangkali juga kerap terjadi dan kompasiana terus berproses menuju naturalisasinya sebagai wadah penuh warna-warni. Terkadang ia bergoyang-goyangan sebab kecaman picik, sentilan kecil, amuk badai pikir, tsunami wacana, tirani mayoritas, hingga tekanan yang Di Atas--secara langsung ataupun "halus" ataupun hanya secara ataupun hanya bercanda. Tidak apa-apa. Konteks ideal memang tidak selalu terjadi dan ia akan terus berproses dan berdinamis. Cuma saran dari saya yang pasti bodoh karena hanya bisa upload tulisan dengan fasilitas gateway ini, sebaiknya kompasiana mempertahankan keunggulan branding komunitas online indonesiana ter-warna warninya jika tidak ingin tinggal cerita sebagai situs yang pernah besar (dalam waktu dekat). Dan, itu artinya tidak ada penindasan terhadap kekuatan politis sekecil-kecil apanya pun dan sekatro-katro gimananya pun.

Jika ada yang ingin membikin pandangan segmentatif, meskipun lewat lajur major tiras bahkan jalur topeng monyet, dan jika cinta dia. Membikin comfort zone nye dan lingkaran kepercayaan kelompok. Meredupkan keindahan warna-warni kompasiana ini. Saya pikir--walaupun sudah pasti saya ndak ada otaknya karena tak punya pacar mahasiswi MTI sana--komunitas online baca-tulis kompasiana ini tidak akan punya nilai branding lebih dibanding situs-situs social networking lainnya di jagad maya indonesiana. Barangkali juga akan segera terlindas oleh trend setter baru yang lebih ramah kepada semua orang segala pihak dan bisa melakukan management konflik yang manis terhadap dialektik keniscayaan mayoritas-minoritas, politik penyingkiran, dan kebaruan; sehingga pada kemudian waktu di sesali oleh ownernya kenapa tidak melanjutkan dengan menjalankan secara lebih cakap bisnis menggiurkannya. Atau juga setelah segala terlambat dan segala-galanya tertambat nantinya baru akan melakukan reinkarnasi dengan menanam saham investasi ber-M M dengan target BEP bertahun-tahun seperti kita saksikan pada plasa-telkxm reborn. Hahahahahahahahahahahaha.

Alangkah indah dan cantiknya jika kompasiana ini tetap bisa mempertahankan kewarna-warniannya, secara cakap dan elok. Komunitas mayapada indonesiana yang sanggup menampung beragam latar, beraneka segmen, dan ragamnya perspektif umat bhineka banget indonesiana ini. Setidaknya tulisan di sini adalah surga data tentang ragam tutur, baik deep-surface structure chomskynya ontologis orang indonesia; sepanjang belum distandardisasi oleh selera mahzab bahasa redaksi. Siapapun idealnya berhak eksis di sini dan bersuara lantang menggelegar hingga ke langit nun jauh nan terang di sana, "Hey its me!" Entah itu wartawan, seniman, olahragawan, hartawan, itwan, petaniwan, karyawan, ustadz, pns, ataupun pengangguran. Entah orang beriman, preman, atheis, pragmatis, abangwan, santriwan, politisi, pengamen, pedagang, pebisnis, pelobi, pembisik, makelar, mafia, pencuri, enterpreneur, koruptor, psk, pks, ataupun para pelanggannya, penjilat pantat, pendengki, tukang keki, kaum munafikun, hingga teroris. Entah itu dari aliran pancasila, uud, nasionalisme, topeng nasionalisme, kanan kiri oke, tenggara, barat, timur, lian orang luar, orang dalam, kerabat dekat, asing, ataupun ibu rumah tangga hingga bapak rumahnya tetangga. Tokh itu hanyalah hak pilihan jalan hidup masing-masing yang merepresentasi dan mengartefak lewat tulisan gitu deh. Apapun deh. Bukan partai kok. Tidak ada veto ketum dan dewan pembina kok. Di sini hanya tempat baca-tulis, gak penting apapun ia jenis. Di sini kita hanya sekedar berwacana; berdialog jika bisa saling mengisi, berdebat untuk saling menguji kemampuan berargumentasi, dan sepakat untuk tidak sepakat lalu mengolah wacana baru kembali. Tidak apa-apa. Semakin penuh ragam, semakin banyak ilmu yang didapatkan. Setuju atau tidak setuju adalah pilihan pribadi nantinya di kehidupan nyata nya. Di sini hanyalah wacana dan hanya wacana yang tertoreh, hak asasi nomor nol manusia, aplikasi riilnya di kehidupan terserah pada pilihan masing-masing pembaca yg budiman. Jadi idealnya: bukanlah sebuah masalah untuk menampung berbagai latar untuk alat penguji setiap ikhtiar keyakinan masing-masing; adalah kemustahilan membuat semua sama dan seragam, tanpa topeng. Idealnya menurutku begitu; dan entahlah apa warna-warni kompasiana akan tetap seindah ini ternyata?

Pembalakan Sebabkan Banjir di Padang?

Pada suatu hari (bukan Hari Minggu) aku menyempatkan diri jalan-jalan naik kereta motor ke tanah leluhurku sepanjang kaki bukit barisan. Enggak sepanjang itu banget sih, cuma ke kaki gunung di belakang rumahku. Kota Padang tempatku tinggal ini memang adalah sebuah lembah pinggir pantai cukup luas yang dikelilingi oleh bebukitan yang merupakan bagian dari pegunungan sepanjang Pulau Sumatera ini. Kebetulan pula sebagai warga "pribumi" berstatus papiko (padang pinggir kota) tempatku ini dekat sekali ke lereng pebukitan tersebut. Tepatnya ini tanah leluhur dari pihak ibu 'cos adat minangkebo menganut sistem materelinial. Menurut tambonya keluarga kami, warga papiko pribumi dunsanak-dunsanak di sekitarku ini, leluhur kami berasal dari daerah pinggiran Danau Singkarak di Solok; sehingga perjalanan mereka ke pinggiran Koto Padang pada zaman dahulu kala ini tentunya melewati menjulang tingginya gunung-gunung sepanjang bukit barisan yang memisahkan daerah "darek" dan rantau tersebut. Sementara leluhurku dari pihak bapak juga penghuni dan penguasa bukit barisan; cuma berasal dari kaki kerinci, gunung tertinggi di Sumatera.

Dari daerah rumahku ini sudah sejak lama akan dibangun jalan tembus Padang-Solok sebagai alternatif jalur rawan longsor di Sitinjau Laut arah selatan. Pada saat pertama perintisan jalan dulu--menyusuri jalur tapak kaki tradisional--Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi (sekarang Menteri Dalam Negeri) bersama rombongan sempat hilang selama beberapa hari di hutan. Entah apa hubungannya dengan kerapnya bencana alam di Ranah Minang sekarang ini. Sekarang jalan tersebut sudah (tepatnya: baru) selesai beberapa kilometer yang sudah di aspal. Bahkan sebuah SLTP/SLTA Islam swasta bermutu juga telah mendirikan asramanya di daerah sepi sana; meski belum jauh-jauh amat dari pinggiran kota. Oh ya, sebagai tambahan seingat saya sejak kecil saya sudah punya "de javu" dalam mimpi melihat bahwa daerah sekitar rumahku ini akan ramai di masa depan; bahkan rel kereta api jalur padat akan melintas di sini. Sekarang sepertinya sedikit mulai terbukti dengan berpindahnya pusat perkantoran pemerintah kota padang ke kelurahan saya ini pasca gempa dan karena ancaman tsunami terhadap daerah pinggiran pantai. Sehingga siap-siap ajja deh di sini antar sesama dunsanak saya akan saling berebut klaim tanah yang bisa menghantarkan saya ke gepokan rupiah. Eh, koq sekarang jadi pakai saya padahal tadinya aku.

Nah, dalam perjalanan menyusuri jalan rintisan yang sudah diaspal sebagian untuk tembus ke Solok itu aku melihat di salah satu lokasi sepertinya sedang ada proyek penebangan kalo enggak penambangan. Tapi ndak tahu nih legal atau ilegal. Di salah satu lokasi di pinggir jalan sepi di sana juga kulihat plank klaim dari TNI AU atas kepemilikan sebuah lahan yang tentunya banget luasnya. Salah satu daerah langganan banjir paling parah di Kota Padang ini dua buah sungainya berhulu di tempat yang kumaksud. Asal daerah leluhurku, yang kusinyalir dipraktekkan ilegal logging. Karena setahuku pula, baik dari WALHI ataupun pemerintahan provinsi, di Sumatera Barat sudah tidak ada lagi lahan yang bisa dibuka dan ditebang. Seharusnya sebagai tanggung jawab psikhologhis kepada nenek-nenekku aku harusnya melakukan sesuatu terkait ini. Tapi dengan pertimbangan strategis dan takhtis lebih baik aku diam; setidaknya nggak ikut-ikutan dan berdoa ajja ada pihak lain yang mau menyelidikin ini.

Setidaknya lewat tulisan ini aku berusaha memberi tahu, karena menurutku masyarakat sekitar sini masih cukup buta pengetahuan untuk ditipu investor berduit atau pengecut untuk menghadapi tawaran "urang bagak" dari luar. Barangkali ada di antara saudara-saudara yang punya kekuatan dan lebih tepat secara takhtis dan strategis untuk menangani ini. Kalau aku mah bisa banjir darah nanti main golok dengan dunsanak-dunsanakku sendiri--dan ini baru-baru beberapa waktu lalu hampir terjadi dengan sebab lain--karena perbedaan tajam cara pikir kami, tentunya. Meski satu-satunya alasan bagiku hanyalah demi menjaga perasaan Ortu yang bagaimanapun hidup dalam alam berpikir masyarakat sini. Kalau aku sih terus terang saja menyatakan diri "murtad" dari pandangan hidup mayoritas kultur minangkebo materelinial ini. Maklum nih masih darah muda, jadi sebaiknya pura-pura tidak memikirkan saja deh daripada terpancing esmosi. Setidaknya aku berpegang pada nasehat Rasulullah pada Abi Dzar yang mengasingkan diri sendiri di tengah konstalasi perpolitikan Islam di Madinah pasca kematian Muhammad yang terus bergolak hingga berabad-abad berikutnya hingga era al-Qaeda dan PKS niy.

"Nenekanda maafkan aku Si Cucu, belum menemukan cara paling baik untuk menjaga alam peninggalanmu. Sebentar lagi bakal diperebutkan nih, oleh cucu-cucu mata ijo duitanmu!"

Sinopsis Perjalanan Orang Guanteng Nabung Syariah

Mungkin sudah sejak 2004-2005 lampau aku memulai nabung di bank syariah. Namun terus terang tidak ingat persis. Yang jelas teringat aku jadi orang s0leh sepanjang 2001-2003-an; secara formil permukaan, 'cos tercatat dalam salah sebuah aliran sosial jaringan ahirat-duniawi hahahahaha. Baru beberapa tahun kemudian, setelah menjadi manusia jahiliah kembali (secara formal), aku mengenal produk tabungan bank syariah. Maklum sebagai mantan anak aliran, bagaimanapun juga ghiroh ijtihad aku masih akan selalu kuat. Waktu itu aku mendengar tentang tabungan shar-e Bank Muamalat yang bisa dibeli di kantor pos.

Memang--sekali lagi sebagai mantan anak aliran dan punya ideologi tanpa idealisme--aku tentunya juga sudah sejak lama mengenal tentang riba pada bunga bank konvensional. Nah, begitu di kesempatan pertama mendapat info tentang tabungan syar'i yang dapat kuakses maka kuamalkanlah keyakinanku ini. Tapi aku lupa lagi nih apakah itu kujadikan rekening penampung uang korupsi atas duit ortu. Sekitar saat itu juga aku punya pula rekening cadangan di BRI, selain BNI yang menjadi ATM kartu kampusku. Oh ya seingatku kemudahan setoran shar-e dari kantor pos di manapun inilah yang juga jadi pertimbanganku supaya lancarnya kiriman ortu, hihi.

Ya waktu itu aku masih berstatus mahasiswa gombal gembel di Jatinangor, Sumedang. Seingatku lagi baru beberapa lama kemudian (mungkin tahunan) baru Bank Muamalat mendirikan kantor kasnya di Jatinangor. Sehingga bisa kugunakan untuk mencetak rekening koran. Sebab buku tabungannya gak ada gitu dan cek saldo dari mesin ATM bayar, hehe. Menariknya kalo narik uang di ATM sih gratis (BNI, BCA, dan Bersama). Juga tidak ada biaya administrasi terhadap pemeliharaan bulanan rekening selain potongan 25 rebo di awal beli perdananya.

Sewaktu hidup kembali di Padang yang berjarak 1.000 KM dari Sumedang saya membeli lagi perdana shar-e di kantor cabang sini. Salah satu pertimbangan adalah karena berkas-berkas aplikasi shar-e lamaku ditinggal di Bandung dan kuatir sudah hilang. Namun kenyataannya aku tetap 'menghidupkan' kedua rekening shar-e-ku itu. Baru belakangan aku menyesal juga karena demi semangat islami aku malah bertindak mubazir syaithon. Gawatnya lagi aku baru tahu belakangan setelah hitungan tahunan ternyata Bank Muamalat sudah menerapkan biaya administrasi bulanan pada kedua rekening shar-e-ku tanpa pemberitahuan, kecewa mode on.

Celakanya lagi sebetulnya jumlah tabunganku itu juga ndak seberapa dan ATM-nya juga jarang dipakai (sehingga tidak terlalu memantau perkembangan statik uang ndak seberapaku itu) kecuali sewaktu sedang ada perlu ngegembel ke Jakarta beberapa waktu lalu. Aku juga heran kenapa aku masih nabung di bank syariah ini padahal aku sama sekali ndak islami, dan juga tidak urgent bagiku. Tapi terus terang saja, meski baru beberapa waktu yang lalu memutuskan untuk menutup salah satunya aku juga ndak terlalu keberatan lah duitku yang tidak seberapa tersebut yang motong bank syariah. Gak apa-apalah demi bayar gaji pegawainya dan kelangsungan publikasi ekonomi syar'i; meski aku sama sekali ndak islami dan jarang sholat. Aku masih merasa perlu belajar banyak tentang apa itu muslim; beda dengan sahabat-sahabatku yang sudah merasa pasti dirinya masuk syurga.

Sekarang selain product-nya Muamalat ini aku juga baru saja buka rekening baru lagi di BRI Syariah yang baru buka cabang di sini baru saja, ya baru. Sebelumnya aku juga sempat nanya-nanya ke BNI Syariah yang baru mau di spin-off katanya dan juga ke BSM yang jarang-jarang mendapatkan sambutan hangadd. Waktu itu aku nanya-nanya sama mereka tentang program tabungan bebas biaya administrasi dari BI yang kubaca di koran. Heran juga pegawai-pegawai bank itu menganggap aku ngawur dan kalah pengetahuan perbankan ter-up date dariku yang pengangguran. Akhirnya aku tanyakan sama temanku yang sarjana ekonomi islam tetapi lebih dirangkul oleh bank konvensional ehh dia tak tahu dan tak mau tahu juga hehehehe.

Waktu itu aku rencana juga mau mindahin sebagian modal kapital hidupku yang ndak seberapa itu ke BRI konvensional. Alasannya saat itu aku ada rencana dagang ngegembel ke desa-desa (di Jawa/antar pulau) sehingga butuh bang yang lebih mencabank; selain buat cadangan kalau-kalau aku dirampok dan musti bunuh orang, hahahaha. Ah, sekarang aku jadi ingat wajah manis mbak receptionist BRI Syariah itu yang memuji semangat enterpreneur-ku. Gak sengaja aku ada kesalahan kecil waktu nulis di formulir pertama yang sudah tercatat nomor telponku dan disimpan olehnya diganti formulir baru. Tapi sampai detik ini belum nelpon juga tuh, wkwkwkwk. Gak tau juga ya, meski gak semuanya dan ada juga yang jutek, biasanya kalo cewek jadi terasa lebih akrab denganku tetapi kalo sama laki-laki batangan mereka koq rasanya muka masam ajja ngelihat aku. Apa karena aku ganteng?

Efek Negatif Internet Gratis Nich

Senyampang di USA para paramedis sedang ribut-ributin merasa kue ekonominya terganggu kebijakan health insurence Mr. Obama bagi kelas miskin in the middle, baik juga kita bahas lagi yang gratis-gratis. Kebijakan Mendiknas BS yang promosikan sekolah gratis juga sempat dikecam beberapa waktu lalu sebagai sebuah ketidakbijakan. Emank yang gratis-gratis begini menimbulkan persoalan tersendiri pula dalam perspektif sirklus ekonomi. Meski kita perlu juga bertanya apakah yang diiklanin gratisan itu betul-betul gratististis. Karena bagaimanapun manusia sebagai homoeconomicus tentunya, dalam perspektif neolib, akan bergerak menyembuhkan sendiri kerugiannya. "Jangankan rugi, impas ajja ogah," begitu bunyi akidah Minangkabau dalam mengarungi bahtera ganasnya kehidupan tipu-tipu. Ah, ingat Padang Rang Minang dengan adat bersendi syariatnya (secara teori) saya njadi tringat ajaran Muhammad yang membolehkan/menganjurkan hadiah namun mengharamkan suap. Ah, saya (pura-pura) tidak tahu ajja ah bedanya cos' gimanapun gw makhluk politik. Selanjutnya kali ini saya tidak akan bicara aspek ekonomiknya yang menurut hemat saya tidak terlalu menarik karena menurut pendapat saya sendirian syetan bebas gerak di daerah sana. Ya, di tengah ramai dan pasar hati nurani lebih sulit untuk terdengar.

Tentu perudd perlu sangaddd juga diisi meski, tentu juga, takmesti sebuncit Kang Gayus. Tapi juga tidak saya kan bicara bidang politik. Gak ngerti. Kalo mo ngurus kotoran mending sambil cebok di WC. Apalagi, oh tidak, saya gak mau ngurusin soal agama yang buatku sesuatu yang "taken for granted" gak penting buat ditelusur lebih lanjut. Cukup dasar-dasar yang dasarrrr ajja, entah apa iya orisinil dasarnya. Apa pula itu orosinal-orosinalan, sekarang aku justru sedang bermasalah dengan permoralan. Justru gara-gara berkah dari Langit Maya. Sorry yaw orang muna ini jijay banget gak tau malu mengumbar aibnya sendiri. Sok terpukau dengan kebudayaan jujur yang sangat ia kagumi di sana di negeri rantau. Tidak memberi prioritas pada kepentingan politik jangka pendek yang riil. Apa pula itu riil. Ini dia yank riil. Beberapa waktu lalu gw kebetulan ketemu lagi sebuah proxong gretongin untuk akses internet gratis. Ternyata yang ini berhasil juga. Udah berhari-hari nih, meski biasaaa dengan saluran koneksi yang putus nyambung seperti cinta monyet.

Nah, jarang-jarang gw bisa ketemu limpahan bandwith akses ke net seperti ini. Meskipun sudah sejak 10 tahun lampau bermain internet yang dimulai dari sebuah warung di Koto Bandung sembari nanya operatornya: cara chating MIRC itu gimana? Sehabis itu hari demi hari banyak kuhabisin untuk menjelajah kreatifitas-kreatifitas web desainer merancang berjuta situs-situs yang begituan. Bertahun-tahun kemudian dengan situasi putus-putus nyambung juga, udah lama pula gw jarang lihat yang begituan karena berkah akses net yang terbatas. Nah, gara-gara pengetahuan tentang ini gw jadi terpancing juga (KARENA GRATIS) untuk coba-coba lagi buka yang gituan. Apa dengan proxong ini bisa? Gak diblokir? Sekaligus ingin experience apa bisa download dengan cara ini pada jaringan yang speednya maksimum 1/100 kemampuan speedy. Kabarnya akses dengan cara begini "fiturnya" jadi lebih terbatas. Ya, buat gw hanya dengan mekanism trial and error inilah gw bisa menambah sedikit demi sedikit pengetahuan sendirian. Dari bayi sampai mencoba berbisnis terkait internet ini nggak sekalipun pernah diriku secara formal ikut yang namanya kursus-kursus komputeran. Paling dulu selama beberapa bulan pernah ada teman tempat bertanya sehingga bongkar-bongkar onderdil hardware kompi (berkah punya kompi jangkrik--istilah ini pertama kali saya dengar di majalah BOBO/ANANDA--waktu itu), rakit lagi, atau install ulang gw jadi ketularan sedikit bisa. Selebihnya ya gw coba-coba ajja ndiri dan cari sumber bacaan, sekedarnya untuk keperluan gw juga agar punya akses ke jendela pengetahuan dunia.

Dan ternyata, gara-gara ketemu akses internet gratis ini gw tidak hanya tertarik pada ilmu pengetahuan tetapi juga ilmu begituan. Maklum masih perjaka tingtingting, hahahahaha. Dengan pedenya gw juga menambah tumpukan dosa dengan kemungkinan bahwa akses internet gratis yang gw dapatkan juga tak lebih tak kurang adalah pencurian. Tapi kucoba untuk memakluminya karena kulihat operator jaringan yang kugunakan berlangganan juga tidak konsisten dengan apa yang seharusnya mereka berikan. Salah satunya pernah kubicarakan mengenai automatic loading yang gw gak ngertiin di tulisan tentang "Internet Buat Orang Kere" dan "Internet Buat Orang Kece". Termasuk juga soal putus nyambungnya koneksi yang gak jelas kapannya. Tapi tetap ada perasaan berdosa nih, terlebih kaitannya dengan yang begituan. Terus-terusan gak bisa nahan diri dan memenuhinya dengan mendompleng kepentingan ingin cari pengetahuan. Ya, tapi setidaknya saya gak ngajak-ngajak orang lain (tipe dosa komunal massif) sehingga lebih mudah bagi Yang Di Atas Sana buat ampuni aku mudah-mudahan. Tulisan ini semata bertujuan memperlihatkan perspektif lain kepada saudara-saudara pembacaku yang (terlihat) Budiman sekalian mengenai sisi negatif dari yang gratis-gratis. Sotoy bangeddd ya jenis tulisan peteuy ini memperjelas amanat ceritanya, apalagi orang muna ini cuba nunjuk-nunjuki orang lain pula. Jika ada yang punya kemampuan lebih dari gw untuk bersabar, kuingin berguru kepada Anda. Tunjuki saya, perswami Dia !!

Relasi Manusia Era Kini

Di zaman sekarang ini, katanya, kunci sukses utama adalah relasi atau kemampuan untuk menjalin networking. Sebetulnya itu barangkali memang telah berlangsung sepanjang zaman. Namun intensitas dan insentifnya sekarang barangkali telah jauh meningkat drastis. Pada zaman batu dulu, misalnya, aspek interaksi antar manusia tidak sekerap kini. Sehingga itu makanya faktor kesuksesan komunikasi sosial seorang manusia tidaklah begitu besar untuk mempengaruhi kehidupan individunya. Tidak sedikit barangkali pada zaman dahulu orang yang sepanjang hayatnya tidak pernah bertemu orang-orang selain keluarga atau manusia yang berada di garis keturunannya. Apalagi jika ada yang memiliki garis keturunan terputus, baik ke atas maupun ke bawah, dan hidup sendirian di hutan. Menjadi rajanya hutan. Sukses dalam kriterianya.

Di masa sekarang ini, aspek interaksi antar manusia sangatlah intensif untuk memberikan insentif kredit poin bagi penilaian kesuksesan kehidupan seorang manusia. Di era yang dunia melipat dan abad kini berlari inipun kunci kesuksesan mau tak mau sangat ditentukan oleh faktor keunggulan individu seseorang pada sisi interaksi antar manusianya yang mau tak mau lagi menguasai 90% sisa waktu tidak tidurnya. Bahkan di saat sedang tidur pun orang bisa saja sempat-sempatnya menjalin "interaksi sosial" lewat mimpi. Interaksi dan komunikasi antar manusia inipun tidak lagi hanya mempunyai sarana fisik berupa pertemuan dan pembicaraan langsung. Kemajuan pesat cucunya abad literasi yang kini telah memasuki fase multimedia ataupun dengan istilah secondary orality menghadirkan teknologi internet dan pergerakan kilat data komunikasi antar individu. Meminjam istilah sebuah perusahaan telekomunikasi: dunia kini di tangan Anda. Dengan telah adanya dunia di dalam genggamannya tersebut, manusia bisa menghemat waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah proses komunikasi antar mereka. Kemudian hal itu mengakibatkan intensitas pada proses-proses komunikasi dan interaksi yang berikutnya berlangsung, lalu kemudian kembali lewat berlalu dengan cepat, dan kejap.

Kehadiran teknologi internet yang membawa percepatan (istilah yang membuat saya pusing dulu belajar fisika karena diajarkan oleh guru killer) drastis proses komunikasi antar manusia membuat adanya kepadatan tingkat tinggi pada aspek interaksi antar individu. Ini menghadirkan kebudayaan instan, sekaligus mewabah masif seiring ledakan terus menerus populasi penduduk dunia yang semakin sempit harus berbagi lapak dengan sesamanya. Situasi masif yang tak sempat lagi mencatat setiap aspek unik dan khas kualitas hubungan antar dan per individu. Di tengah kepadatan dan kebergegasan ini kita lalu saling berdempet bernegoisasi.

Tidak betul juga barangkali jika kita menyalahkan social engineering masa kini sebagai sebuah pemelencengan terhadap proses alam karena sesungguhnya situasi ini adalah proses alami juga. Dalam bahasa lainnya orang menyebutnya sebagai sebuah keniscayaan. Justru seorang individu masa kini tidak akan lagi dapat bertemu hutan yang layak untuk dirinya berkuasa jika ingin melarikan diri dari sempitnya populasi rakyat dunia dan intensnya peradaban komunikasi kita. Pertanyaan yang perlu diajukan adalah bagaimana caranya kita tetap bisa menjalin sebuah relasi antar individu, yang berkualitas? Apakah keniscayaan proses interaksi dan komunikasi yang instan dan lekas itu hanya akan membuat kita menciptakan hubungan sosial antar manusia yang tak tercatat bahkan tak lagi punya tempat untuk diingat? Sebagaimana hubungan antar manusia slow motion dahulu kala juga tidaklah merupakan jaminan bahwa selalu menghasilkan relasi sosial yang baik, maka faktor-faktor apakah yang harus kita perhatikan untuk mengambil keputusan akan tsunami pilihan berbagai model relasi antar individu di era kini? Ya, tulisan ini sedang bertanya.

Kucingku Doyan Roti, Gak Mau Nasi

Ikan dan kucing adalah dua makhluk ciptaan Tuhan yang sudah ditakdirkan untuk berada dalam rantai makanan mangsa-pemangsa. Tapi ikan makanan sisa dimakan manusia maksudnya. Karena ikan hidup di air sementara kucing takut air. Oleh karena itu ada yang namanya "kucing air". Kira-kira begitulah nasib kita yang suka iri dengki pada hijaunya rumput tetangga. Setiap orang berhak untuk kaya sebagaimana setiap manusia juga punya hak untuk kemiskinannya. Qanaahlah jadi manusia. Kalo perlu dan jika sanggup, jadilah zuhud. Jangan melecehkan makna kata ikhtiar yang mulia itu hanya sekedar untuk mencari pembenaran atas sifat tamak dan ambisius pada DNA Anda. Meskipun bisa jadi juga itu bukanlah karena faktor genetik turunan dari pihak leluhurmu, melainkan terlebih hanyalah karena tekanan trend eksternal kehidupan masa kini yang sebetulnya berulang-ulang sepanjang masa juga hingga nanti. Berikhtiarlah, berdjoeanglah tanpa perlu ambisi-ambisian dan (lalu) menjadi manusia yang melampaui batas. Terimalah peran masing-masing Anda oleh Sang Pencipta tersebut. Jauhi keinginan menggebu-gebyar untuk mencaplok "hak dan tanggung jawab" pihak lain jika Anda tidak ingin seperti kucing merindukan ikan yang punya kehidupan di dalam sebuah kolam. Kucing pun mengerti perairan adalah batas takdirnya.

Nah, kalo ikannya sudah keluar dari water, dimasak di penggorengan, dikunyah-kunyah oleh sang tuan, lalu sikat deh sedapnya. Seperti pelajaran yang diberikan oleh kucing saya. Kucing terakhir ini punya sejarah kemunculan dari negeri antah berantah. Setelah silih berganti dinasti kucing di rumah ini sejak saya kecil, tiba-tiba kucing terakhir ini muncul. Mungkin ia lahir di rumah tetangga atau dibuang orang di tengah jalan. Sebelum si kecil ini sudah cukup lama juga di rumah sedang ndak ada kucing tetap, selain kucing-kucing outsourcing. Kebetulan kedua ortu sedang pergi haji dan kedua adikku sekarang hidup di jawa; saya jadi punya privilige untuk memeliharanya saat itu. Ya lumayanlah daripada saya bengong sendirian di rumah, sekarang jadi ada teman si kecil ini. Lebih baik berteman dengan binatang daripada bergaul dengan manusia-manusia pendengki matre dan politisi-politisi lokal tolol tapi licik di sekelilingku kini. Sewaktu datang, kucing kecil ini terlihat membawa ekor mungilnya yang seperti bekas patah. Mungkin di tempat asalnya pernah disiksa manusia. Hmmm, saya jadi tambah semangat untuk memeliharanya. Senang sekali bisa menyelamatkan makhluk Tuhan yang tertindas ini. Akan tetapi, meski dalam menyelamatkan binatang tertindas kita mesti tetap waspada, menghadapi manusia yang tertindas kita musti lebih waspada lagi. Karena di lain waktu mereka bisa tiba-tiba jadi serigala karena politik kepentingan katronya. Sebab itu saya tidak jadi mendaftar sebagai anggota PKI; cari yang lebih menguntungkan ajja dech.

Tidak tahu apakah kucing saya si kecil ini seorang Komunis ataukah beragama Atheis. Setiap saya tanya ia selalu menjawab dengan, "meooonggg...." Namun kucing ini meongnya itu agak katro juga jadinya berbunyi, "eeeeee". Maklum mantan anjal. Sekarang-sekarang saja bulu-bulunya sudah agak terawat karena sudah menjadi binatang piaraan dan kesayangan. Sisa-sisa akhlak brutalnya kadang masih terlihat juga. Beda dengan kucing-kucing yang sudah sejak kelahirannya hidup bersama kita dan belajar etika serta tatakrama. Kucingku yang eks anak jalanan ini kadang suka nakal dan merepotkan juga ketika sedang mengeong-ngeong minta makan. Ia sepertinya juga sudah alergi untuk hidup di dunia luar karena terus berusaha menyusup-nyusup masuk ke dalam rumah kalau kita keluarkan. Dalam hal jenis makanan pun sekarang dia sudah pilih-pilih. Karena ia penguasa tunggal disini (sebagai hewan), (maka) ia memonopoli penguasaan limbah sisa konsumsi dapurku. Terlebih setelah ortu pulang ke rumah. Dia lama kelamaan mulai menjadi ogah-ogahan memakan nasi, terutama jika tidak kita campur gulai dan yang berbumbu-bumbu serta aroma lainnya. Maunya lauk pauk atau yang ada tulang belulangnya saja. Padahal stock makanan juga kerap dalam posisi empty di rumah karena yang sehari-hari paling sering di rumah hanyalah aku saja. Karena aku lebih suka dalam posisi kelaparan daripada masak banyak lalu mubazir gak ada yang makan karena emang nggak enak masakanku, hahahahaha. Ya kekurangan adalah lebih baik bagiku daripada kelebihan. Kalo sanggup sich. Gak tau juga besok-besok ternyata matanya ijo juga. Seperti kucing saya si kecil ini yang ogah-ogahan makan nasi tetapi kalo dikasih roti doyan dianya!!!!

Kenapa Si Buya Mencintaimu, Bu Diana?

Janganlah harus Anda tafsirkan Si Buya dalam cerita saya ini sebagai SBY dan Bu Diana sebagai Bapak Boediono. Memang istilah Si Buya sebulan terakhir ini jadi topik trend di Nkritter; berkat performance primanya pada aksi 28 Januar lalu di tepi kolam bundaran HI. Sekedar info tambahan gak pentink: beberapa kali melintas Kota Jakarta saya sudah lupa apakah pernah melintas tempat itu, saking penuhnya otak saya memikirkan keadaan negara ini yang tidak pernah memikirkan keadaan saya. Oh, I luv my-"fxxkin"-country. Hahahaha, becanda ya bumbu ajja deh. Tapi terserah dech Anda mau tafsirkan apa. Sebab belum tentu persis, apalagi mutlak benar. Lebih baik kita kembali fokus pada kerbau Si Buya tadi. Di kampung saya yang matrelinial niy ajja sebetulnya istilah buya tersebut sangatlah dihormati (dulunya); sebagaimana Anda kenalin dalam istilah Buya Hamka. Tapi di bundatan HI tadi ia berubah jadi sebuah graffiti moural pilox pada body bongsor seekor kerbau yang di pantat sebelah kanannya ditempelin foto sbypresidenku yang biasanya sangat menjaga wibawa. Patut saja SBY curiga kepada kerbau yang bisa menyimbolkan ukuran besar, seperti tubuhnya.

Akhirnya boleh terindikasi juga deeh bahwa antara buya, kerbau, dan kampung minang matrelinial saya ada hubungan seperti memangnya. Apalagi salah satu aktor intelektual aksi komunikasi politik kerbau politis tersebut adalah juga doktor lulusan amerika keturunan kampung saya tadi tersebut. Duh, bangganya. Sayang banget saya ndak bisa mengeruk keuntungan pribadi apa-apanya. Tapi cerita ini belum berakhir, karena masih paragraf dua. Kita lanjutkan saja. Baiklah, anggaplah kita benarkan saja tafsiran Anda tentang SBY dan Boediono tadi. Apalagi kalau sampai Anda mengait-ngaitkan kisah Si Buya dan Bu Diana tersebut dengan peristiwa nasional akhir-akhir ini. Hmmm, mungkin saya perlu juga memikirkannya. Karena seperti Pak Doktor tadi, Bu Diana namanya juga terdengar bernama dan dimilik asing; tak seakrab nama Si Buya yang doktor juga ternyata, meski produk lokal. Kenapa mereka bisa jadinya menjalin sesuatu. The Perawan melagukannya dengan hits Cinta Terlarang. Entah apa hubungannya dengan SBY-Boediono, tetapi saya sekarang teringat akan advice politik "kancil pilek" Amien Rais sewaktu SBY memutuskan cawapresnya jelang pemilu kemaren.

Dulunya kupikir provokasi Amien hanyalah tawar menawar politik yang gampang ditebak dengan kader Hatta Rajasanya. Ternyata memang ada sesuatu yang lebih DEEP, ketika Amien mengingatkan SBY akan besarnya resiko mengambil Pak Boed sebagai cawapresnya. Hehe, keren ajja rasanya pake bahasa asing nih untuk ungkapkan sesuatu yang kurang cita rasa dan maknawi dalam bahasa indonnya. Seperti teladan dari pemimpin-pemimpin kita juga toh. Tapi bisa jadi juga pemimpin-pemimpin kita seperti Amien tadi ndak sejauh itu juga pengetahuan ataupun terawangnya. Meski sekampus dengan Pak Boed, bukan berarti ia sudah tahu sejak lama dugaan ketidakbijakan pejabat negara terkait dalam kasus bailout Bank Century. Tapi bisa juga dia sudah punya pertimbangan general akan efek politis dan peradaban bagi negara ini terkait pandangan mahzab ekonomi Pak Boed yang ia ketahui dan isu asingisasi atau antek-antek neoliberalism. Lalu kenapa SBY tidak mendengar dan hingga berkasus macam kini seperti tetap berusaha mempertahankan Bapak Boediono berada di sisinya?

Karena SBY punya ambisi karir internasional. Beberapa kali saya sudah temui tulisan-tulisan analisis terhadap hal yang seperti ini. Tapi masih kurang menggigit dan ini saya tambahin rasa pedasnya. Jika betul target SBY misal Sekjen PBB di Niuw York--daripada nantinya semi-nganggur macam JK ataupun total-nganggur seperti gua--dan ini lalu kita kaitkan dengan nilai jual Indonesia yang sedang membentuk kurva mendaki berkat kemenangan Obama Si Anak Menteng di Rumah Putih, (maka) adalah kesempatan emas bagi SBY untuk merebut momentum empuk ini dengan menarik hati Saudara Amerikanya. Keberadaan Bu Diana eh Boediono yang lulusan Amerika dan dituduh bermahzab neoliberal ini adalah senjata tawar yang cukup menggiurkan saya kira. Termasuk duet paketnya dengan mantan Direktur IMF Menkeu kita sekarang Ibu Sri Mulyani. Kursi empuk sebagai Sekjen PBB sepertinya sangat penting bagi cita-cita karir kehidupan Bapak SBY sehingga ia mau melewati riskannya mencawapresi Boediono pada Pilpres 2009 lalu. Terlepas dari tentunya sudah diperhitungkan matang akan bantuan propaganda hingga dana bahkan back up kekuatan militer Armada ke-VII wilayah Pasifik dari saudara se(entah apa) yang jadi sponsornya itu. Tak bisa juga disalah-salahkan karena sepertinya inilah yang memang pilihan hidup SBY yang rajin membentuk english club sewaktu masih kadet calon perwira TNI ceriteranya doeloe. Dan, skill pragmatism dan realistis beliau saya kira sudah cukup teruji untuk bisa menjadi seorang diplomat ulung nantinya. Jenis cari aman yang barangkali memang dibutuhkan untuk menciptakan keamanan bagi dunia lapaknya aneka bangsa. Plus sokongan sisi metafisika ala orang timur yang klenik mania.

Entahlah, saya merasa koq kalimat saya yang terakhir sebelum ini akan berkesan retorika pesimis bagi pembacanya. Jelasnya saya dalam tulisan kali ini berkesan mengerucut pada tema: ambisi karir internasional Bapak SBY; dan aku sudah berusaha menetralisirnya dengan mengatakan bahwa setiap orang punya hak akan pilihan hidupnya sendiri toh. Jika hanya kata-kata "SBY PUNYA AMBISI KARIR INTERNASIONAL" yang saya tulisin untuk menjawab pertanyaan kenapa Si Buya mempertahankan mati-matian cinta kasihnya kepada Bu Diana sebagaimana marwah judul, bisa jadi admin kompasiana bakal menghapus tulisanku ini karena isinya hanya satu kalimat yangmana isi tersebut pun taknyambung pula sama judulnya. Ini jadinya berkait-kaitan sekarang karena begitulah mungkin Anda pembaca akan mencoba-coba menafsirkannya. Tapi gak apa-apa, toh kemungkinan dugaan ngelantur Anda tersebut bisa memperpanjang tulisan saya ini dan dengan kriteria terukur secara kuantitas begini ia akan memenuhi syarat dari editor untuk bisa sah sebagai artikel. Jadi, (jika) Anda masih juga heran kenapa Si Buya yang lokal tetap cinta mati untuk mempertahan Bu Diana yang import luar berada di sisinya, kenapa kenapa? Anggaplah jawaban seperti ini ngawur dan nggak kena pak.

Boediono Disebut BEO oleh Golkar

Entah apa yang dimaksudin dengan rasa eweuh pakeweuh, atika, dan tata karma. Jelasnya dalam tinjuan kacamata feodal, rasa hormat kepada kaum "atasan" barangkali emang kian luntur. Tapi memang inilah bentuk perubahan hierarki sosial zaman sekarang. Dari otoritas pemegang wahyu, warisan darah biru, landing lord, lord off the "ring", atau ada masanya pula kaum intelektual (para pemikir dan pujangga, bukan tukang apalagi jongos jagoannya boss) meski era renaissance ituh udah sangat teramat lama banget jauh berlalu, hingga sumber daya kapital sebagai ideologi umat kembali ke zaman sekarang. Uniknya kini, sejak zaman Rockefeler ceritanya menghilangkan penjaminan uang kertas yang beredar (atau terkumpul) kepada cadangan emas, apa yang kita sebut kapital itu hanyalah perlombaan sederetan variasi atas 10 bentuk angka di butab atau NPWP. Mungkin itulah kiranya Wapres Boediono, juga Bunda Sri Muliani Inderawati, perlu kurasa untuk tunjukin bahwa dirinya orang kaya banget agar ditakuti dalam hierarki vertikal masa kini tersebut.

Tapi kalo ga bermasalah ya diem-diem ajja emang bagus. Maaf kalo kalimat terakhir paragraf pertama di atas ini sepertinya melakukan sebuah loncatan tema. Dalam tulisan kali ini saya ingin ceritain tentang pendengaranku atas penyebutan nama wapres kita pada laporan pandangan akhir pansus bailout century oleh Fraksi Partai Golkar melalui juru bicara Pak Ade (apa gitu, maaf sedang lupa). Tadinya, maksudku kemarennya, aku pengen nulis ini selekas mungkin detik itu juga setelah itu kudengar agar tulisanku menjadi publikasi premiere gosip bertema ini di jagat dunia (data) internet mendahului kamu-kamu detik-detik yang lainnya. Tapi kenyataannya mewujudkan ide tak semudah itu sayang. Sayang memang baru kini bisa kukonkretkan cita-citaku (kemaren). Jadi maaf kiranya barangkali ada juga yang sudah nulis tentang ini. Tapi bisa jadi juga pendengaran saya waktu itu barangkali berbeda dengan jutaan rakyat Indonesia lainnya. Begini, sebenarnya aku cuman pengen ngomong kalo aku mendengar Golkar menyebutkan Bapak Boediono disingkat jadi BO dan terdengar ditelingaku jadi beo (nama burung).

Oh pendengaran. Gak tahulah apa Partai Golkar punya maksud-maksud tertentu ataupun tidak menentu dengan hal-hal semacam ini. Terkadang Pak Ade memang terdengar cukup fasih melafalkan huruf be dan o, tetapi juga kerap sedikit terjadi dissfonansi menjadi beo. Ya burung itu. Entah apa kemiripannya dengan Bapak Boediono. Sekian cukup panjang proses lobi-lobi yang dilakukan Demokrat--yang barusan di news ticker televisi kubaca dinilai PPP masih kurang lihai--ternyata tak sanggup menghentikan langkah Fraksi Partai Golkar untuk tidak menyebutkan nama pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam kasus bailout century. Terlebih di akhir pembacaan laporannya kemudian Golkar memberikan notes untuk menyebutkan penjelasan atas nama-nama yang diberi inisial macam tersangka atau buron itu. Ini jadinya lucu-lucuan, atau apa. Kenapa tidak dari awal saja disebutkan atau tidak disebutkan nama-nama tersebut yang sebetulnya sejak awal juga sudah disebut-sebut dan tetap menjadi pihak yang bertanggungjawab pun tanpa disebu-sebut karena sudah terlalu sering disebut.

Ya iyalah, masa ya iya dong. Mungkin Demokrat masih terlalu muda dan masih kurang pengalaman dan kelihaian untuk bisa "bermain" dengan organisasi politik seberumur Golkar. Cantiknya ini: penyebutan inisial pejabat yang bertanggungjawab tersebut juga berarti memosisikan Golkar untuk sedikit kompromistis "tidak menyebut nama" sebagaimana ditawarkan pihak Demokrat. Artinya, ada "deal" yang harus dihargai Demokrat nantinya. Tapi dari sisi sudut pandang yang lain penyebutan nama tapi dengan inisial tersebut justru juga bisa dianggap justru lebih mempermalukan. Akhirnya Golkar jadi menang di sana, ataupun di posisi sini. Apa ya nama taktik politik atau intelijennya yang macam gini. Entah juga, apa betul hal ini sudah melalui perencanaan matang oleh lembaga think-thank-nya; bukan tindakan yang hanya mentah apalagi spontan. Tapi bisa saja Golkar memang sudah memiliki SDM analis-analis profesional ataupun konsultan politik berkelas yang modern-kontemporer berijazah Amerika, Syam, bahkan Israel. Jikalo bagian litbang pada dinas-dinas pemerintahan akan sangat kurang gizi dan hidup hina dalam idealisme bahlul (yang tak punya tempat di struktur hierarki sosial masa sekarang seperti yang saya ungkapkan di awal tadi), (namun) untuk parpol mapan seperti Golkar saya kira mereka lebih dari sekedar punya cukup modal guna memakmurkan kemampuan berpikir lembaga analisisnya. Lagi entah, apa penyebutan inisial Boediono dengan BO yang terdengar menjadi beo (burung) tersebut semata "kreatifitas" Pak Adekah. Karena saya jadi mulai curiga untuk membuat kemiripan Pak Boediono dengan burung beo....

Tuannye bakal dateng untuk nostalgia bulan depan tuch, hahahaha!!!

Internet Hemat Untuk Orang Kece

Cukup banyak orang yang mau melihat ini. Karena dipaparkan dengan begitu malu-lalu. Tapi tanpa adanya keraguan barang sedikitpun! Menceriterakan tentang perihal yang dalam ranah lingkupan bisnis atau komersial mempunyai efek ngggg komersial.... Hahaha, saya sepertinya sudah kehabisan kata-kata. Sebetulnya tidak butuh perenungan cq kontemplasi untuk menuliskan ini. Karena ini adalah hal yang biasa ajja. Sayang kan kalau harus menghabiskan berdetik-detik waktu berharga hanya untuk mencari-cari diksi yang tepat bagi kata-kataku. Apalagi KBBI-ku berada jauh nunnnn di pulau jawa sana. Kalaupun ada di sini kujuga tidak mau repot-repot membuka-bukanya. Karena aku sudah terbiasa mengandalkan diksi inspiratif dari langit. Dari sesuatu yang tidak ada dan takjelas batasnya.

Sebenarnya begini. Saya mau berbagi pengalaman tentang manajemen bandwith bagi pengguna internet yang kere tapi kece. Karena judul internet hemat untuk orang kere sudah kugunakan sebelumnya, (maka) kali ini supaya variasi dan tidak varises kugunain ajja tulisan berjudul internet hemat untuk orang kece. Kebetulan saya memang kece menurut pendapat saya sendiri. Walau kata saingan-saingan saya, saya enggak ganteng-ganteng amat (jangan muntah dong ya dot kom, hahahaha).

Salah sebuah provider--entah dalam pengertian penyedia atau penyelia alias cukong cq makelar--jaringan internet hemat yang cukup intens penetrasinya dan cukup luas cakupannya adalah (maaf) Telkomsel; dengan produk flash-nya yang sekarang punya sistem pembelian per-quota, atau bukan time limit. Nah, dengan hitungan pembayaran per volume ini, maka duit kita terpakai berdasarkan besarnya ukuran data yang disedot oleh komputer atau gadget kita. Untuk daerah yang tidak tersentuh jaringan 3G alias masih (susno) 2G alias GPRS kita bisa gunakan web gateway atau browser gateway guna memperkecil (memadatkan/kompresi) ukuran file data yang kita browsing atau download sekaligus tentu akan mempengaruhi untuk mempercepat proses transimisi datanya. Nah, ada satu pola yang menarik berdasarkan pengalaman saya menggunakan saluran seperti ini sebagai sarana koneksi ke jaringan internet. Ternyata proses loading atau pulsa atau kuota kita yang dihitung dan terpakai tidak hanya murni dari halaman web yang kita download, baik yang proses sent data atau receivenya. Setiap sekitar 30 menit biasanya selama kurang lebih 1-2 menit proses transmisi data akan jalan sendiri tanpa kita melakukan download data dari server ke terminal user (<== ceileeee, kereen bahasanya bok!). Lalu kemudian selain ini, beberapa saat sebelum rutinitas 30 menitan ini berjalan biasanya proses transmisi data juga akan jalan sendiri dengan lonjakan tajam secara tiba-tiba selama beberapa detik. Kalau ritual 30 menitan pertama tadi berlangsung cukup lama namun dengan kecepatan yang cukup lambat di bagian sent datanya, (maka) prosesi sesaat sebelum 30 menitan yang pertama ini berlangsung sebentar saja namun sangat kencang banged dan ngagetin selama beberapa detik di bagian receive-nya. Loading ilegal yang pertama saya lihat akan menghabiskan bandwith unless kita sebanyak sekitar 50 KB, sedangkan loading ngagetin ilegal yang kedua akan memakan lebih dari 100 KB. Entah sampai berapa untuk yang kedua ini, karena biasanya saya segera menghentikannya begitu mata menangkap lonjakan trafik ilegal mendadak tersebut di task manager komputer. Memang sekitar 150 KB itu sebetulnya enggak berapa sih, tapi lumayan juga saya kira buat saudara-saudaraku pengguna internet hemat untuk orang kere meski dia kece. Bahkan saya tidak jarang browsing dengan menggunakan gateway filter (yang di-setting sehemat mungkin) selama lebih kurang setengah jam tersebut menghabiskan bandwith tak lebih dari 100 KB (30-40 rupiah). Kece banget sih loo! Solusinya,

pertama kali ini: matikan koneksinya jika kita sedang membaca web page, terutama jika halaman web dengan ukuran lumayan besar dan butuh waktu cukup lama--dalam pengertian lebih dari satu menit--untuk membacanya. Kedua, jika kita telah berada dalam posisi yang bisa memperkirakan ritual 30 menitan tadi gunakanlah kesempatan itu untuk kebutuhan surfing link dan tinggalkan web page yang perlu dibaca lama tersebut untuk dipelototin nanti setelah koneksi diputus (sementara). Saya biasanya saking kecenya tak pernah menyia-nyiakan satu huruf pun dari setiap web page yang saya browse untuk dibaca. Untuk halaman web yang kemungkinan besar sering di-view dan jarang re-face di servernya saya suka simpan saja di hardisk-ku meski ini menimbulkan kerepotan baru bernama manajemen file dan folder di komputer kita. Terakhir, sekalian memutuskan koneksi ketika tidak digunakan loading ini diduga akan menghemat eksploitisir atas daya pakai modem kita. Cuma memang repot kalau tiap bentar jadi putus nyambung-putus nyambung gitu. Gak tau juga nih pengaruhnya ke kestabilan windows atau OS komputer, karena saya sendiri memang windows-nya waktu terakhir di-instal ulang kemaren saya dempet-dempetin ajja tanpa memformat ulang partisi C-nya; dan saya membiarkan saja jika windows acap error karena sudah tahu solusi untuk meng-execute program connection-nya dari tab run sepanjang ia tidak minta di-re-start-in.

Ok deh, itu aja kabar nggak penting dari saya. Bisa jadi itu terjadi--ritual 30 menitan tadi--bukan mekanisme dari Telkomselnya melainkan tradisi rutin OS kita ataupun bacause karena infeksi virus internal maupun serangan eksternal. Gw gak taulah, rese. Gaptek lah gw. Maka oleh karena itu sebab saya menulis artikel internet hemat untuk orang kere tapi kece ini. Biarin deh, "biar kere asal kece". Walaupun prinsip universal mengajarin, "biar nggak kece, asal nggak kere". Karena kalau zaman dahulu kala ada cerita tentang Datuak Maringgih yang mengejar-ngejar Siti Nurbaya, (maka) Siti-Siti Nurbaya jaman sekarang justru yang doyan mengejar-ngejar para Datuak Maringgih. Hahahahaha, salam kere, salam kece!

SM Memiliki Anak Tanpa Bapak

"Lihat saja catatan harianmu yang telah lalu, kamu dapat mendeteksinya bahwa catatanmu itu adalah gambaran cuaca yang sedang terjadi di alam jiwamu, dan mereka berjamaah untuk membisu."

dalam sebuah laporan kompas cyber media di kategori infotainment diberitakan tentang usaha seorang 'wartawan' untuk mencari tahu nama bapak dari anak yang dikandung artis muda sheila marcia. sebagaimana diberitakan beberapa waktu yang lalu artis belia ini baru saja menyelesaikan 'kos'-nya di rutan pondok bambu tempat presidential suite room quen ayin bermukim. sheila marcia setahun yang lampau tersangkut kasus narkoba sebagaimana baru-baru ini skp dan sederet artis lainnya kemudian-nanti. sempat bebas dan liburan-refreshing ke bali namun putusan kasasi mk membuat sm kembali ke hotel prodeo dengan dijemput paksa. padahal di bali sm sudah sempat membuat liputan infotainment photo pre-wedding-nya yang baru-baru ini juga diharamkan mui seperti facebook dan rebonding. di bali ini sm merencanakan menikah dengan seorang pebasket nasional. tapi diduga sm hamil sebelum-sebelumnya, kemungkinan di rutan entah bagaimana cara dan prosesnya, dan entah pula dengan pacar yang mana lagi.

tapi saya tak terlalu tertarik dengan berita ini (tapi saya hanya tertarik host acara infotainment yang berpakaian minim). yang bikin saya tertarik adalah bagian komentar seorang visitor yang mengunjungi page artikel berita di kcm di awal tadi. katanya, "heran, udah hamil di luar nikah, ndak mau mengakui sapa bapak jabang bayinya, dilliput media nasional berkali-kali, senyum-senyum sumringah, bawa-bawa tuhan pula," katanya. ya kira-kira gitulah substansi dari redaksi kalimatnya yang tentu maaf tak bisa saya kutip persis sebab akan membolongkan sisa pulsa bandwith ala kadarku untuk mencari-cari lagi webpage tadi, toh niy bukan paper ilmiah toh. ya betul betul betul seingatku dari beberapa tayangan-tayangan infotainment dengan host cewek-cewek berpakaian minim tersebut sm dan mamanya memang kerap menyebut-nyebut tuhan, puji syukur bla bla bla selayaknya orang lagi kena musibah ajja.

ada dua kemungkinan--setidaknya--yang mengakibatkan sheila marcia tidak jujur menceritakan proses kehamilannya. pertama, dia sepertihalnya melindungi narasumber. bisa jadi dengan setelah membuat berbagai perhitungan politik-dagang maka si pelaku yang menghamilinya tersebut akan terganggu bisnis dan pemasukan duitnya jika terekspos ke publik, setidaknya hingga kini. ini juga kerap kita temui, misal salah satunya, pada penulis-penulis anonym yang hebat-hebat tapi memperhitungan akan publikasi jati dirinya, soal salah-benar baik-buruk saya ndak tahu lah yaw. kedua, karena kerap bawa-bawa tuhan tadi dan berdakwah pada masyarakat tentang benar-salah buruk-baik saya curiga sheila terinspirasi dengan kisah maria yang hamil dan melahirkan joshua dengan bapa kalamullah-Nya, jangan-jangan....

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...