Sabtu, 24 April 2010

Boediono Disebut BEO oleh Golkar

Entah apa yang dimaksudin dengan rasa eweuh pakeweuh, atika, dan tata karma. Jelasnya dalam tinjuan kacamata feodal, rasa hormat kepada kaum "atasan" barangkali emang kian luntur. Tapi memang inilah bentuk perubahan hierarki sosial zaman sekarang. Dari otoritas pemegang wahyu, warisan darah biru, landing lord, lord off the "ring", atau ada masanya pula kaum intelektual (para pemikir dan pujangga, bukan tukang apalagi jongos jagoannya boss) meski era renaissance ituh udah sangat teramat lama banget jauh berlalu, hingga sumber daya kapital sebagai ideologi umat kembali ke zaman sekarang. Uniknya kini, sejak zaman Rockefeler ceritanya menghilangkan penjaminan uang kertas yang beredar (atau terkumpul) kepada cadangan emas, apa yang kita sebut kapital itu hanyalah perlombaan sederetan variasi atas 10 bentuk angka di butab atau NPWP. Mungkin itulah kiranya Wapres Boediono, juga Bunda Sri Muliani Inderawati, perlu kurasa untuk tunjukin bahwa dirinya orang kaya banget agar ditakuti dalam hierarki vertikal masa kini tersebut.

Tapi kalo ga bermasalah ya diem-diem ajja emang bagus. Maaf kalo kalimat terakhir paragraf pertama di atas ini sepertinya melakukan sebuah loncatan tema. Dalam tulisan kali ini saya ingin ceritain tentang pendengaranku atas penyebutan nama wapres kita pada laporan pandangan akhir pansus bailout century oleh Fraksi Partai Golkar melalui juru bicara Pak Ade (apa gitu, maaf sedang lupa). Tadinya, maksudku kemarennya, aku pengen nulis ini selekas mungkin detik itu juga setelah itu kudengar agar tulisanku menjadi publikasi premiere gosip bertema ini di jagat dunia (data) internet mendahului kamu-kamu detik-detik yang lainnya. Tapi kenyataannya mewujudkan ide tak semudah itu sayang. Sayang memang baru kini bisa kukonkretkan cita-citaku (kemaren). Jadi maaf kiranya barangkali ada juga yang sudah nulis tentang ini. Tapi bisa jadi juga pendengaran saya waktu itu barangkali berbeda dengan jutaan rakyat Indonesia lainnya. Begini, sebenarnya aku cuman pengen ngomong kalo aku mendengar Golkar menyebutkan Bapak Boediono disingkat jadi BO dan terdengar ditelingaku jadi beo (nama burung).

Oh pendengaran. Gak tahulah apa Partai Golkar punya maksud-maksud tertentu ataupun tidak menentu dengan hal-hal semacam ini. Terkadang Pak Ade memang terdengar cukup fasih melafalkan huruf be dan o, tetapi juga kerap sedikit terjadi dissfonansi menjadi beo. Ya burung itu. Entah apa kemiripannya dengan Bapak Boediono. Sekian cukup panjang proses lobi-lobi yang dilakukan Demokrat--yang barusan di news ticker televisi kubaca dinilai PPP masih kurang lihai--ternyata tak sanggup menghentikan langkah Fraksi Partai Golkar untuk tidak menyebutkan nama pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam kasus bailout century. Terlebih di akhir pembacaan laporannya kemudian Golkar memberikan notes untuk menyebutkan penjelasan atas nama-nama yang diberi inisial macam tersangka atau buron itu. Ini jadinya lucu-lucuan, atau apa. Kenapa tidak dari awal saja disebutkan atau tidak disebutkan nama-nama tersebut yang sebetulnya sejak awal juga sudah disebut-sebut dan tetap menjadi pihak yang bertanggungjawab pun tanpa disebu-sebut karena sudah terlalu sering disebut.

Ya iyalah, masa ya iya dong. Mungkin Demokrat masih terlalu muda dan masih kurang pengalaman dan kelihaian untuk bisa "bermain" dengan organisasi politik seberumur Golkar. Cantiknya ini: penyebutan inisial pejabat yang bertanggungjawab tersebut juga berarti memosisikan Golkar untuk sedikit kompromistis "tidak menyebut nama" sebagaimana ditawarkan pihak Demokrat. Artinya, ada "deal" yang harus dihargai Demokrat nantinya. Tapi dari sisi sudut pandang yang lain penyebutan nama tapi dengan inisial tersebut justru juga bisa dianggap justru lebih mempermalukan. Akhirnya Golkar jadi menang di sana, ataupun di posisi sini. Apa ya nama taktik politik atau intelijennya yang macam gini. Entah juga, apa betul hal ini sudah melalui perencanaan matang oleh lembaga think-thank-nya; bukan tindakan yang hanya mentah apalagi spontan. Tapi bisa saja Golkar memang sudah memiliki SDM analis-analis profesional ataupun konsultan politik berkelas yang modern-kontemporer berijazah Amerika, Syam, bahkan Israel. Jikalo bagian litbang pada dinas-dinas pemerintahan akan sangat kurang gizi dan hidup hina dalam idealisme bahlul (yang tak punya tempat di struktur hierarki sosial masa sekarang seperti yang saya ungkapkan di awal tadi), (namun) untuk parpol mapan seperti Golkar saya kira mereka lebih dari sekedar punya cukup modal guna memakmurkan kemampuan berpikir lembaga analisisnya. Lagi entah, apa penyebutan inisial Boediono dengan BO yang terdengar menjadi beo (burung) tersebut semata "kreatifitas" Pak Adekah. Karena saya jadi mulai curiga untuk membuat kemiripan Pak Boediono dengan burung beo....

Tuannye bakal dateng untuk nostalgia bulan depan tuch, hahahaha!!!