Rabu, 28 April 2010

Efek Negatif Internet Gratis Nich

Senyampang di USA para paramedis sedang ribut-ributin merasa kue ekonominya terganggu kebijakan health insurence Mr. Obama bagi kelas miskin in the middle, baik juga kita bahas lagi yang gratis-gratis. Kebijakan Mendiknas BS yang promosikan sekolah gratis juga sempat dikecam beberapa waktu lalu sebagai sebuah ketidakbijakan. Emank yang gratis-gratis begini menimbulkan persoalan tersendiri pula dalam perspektif sirklus ekonomi. Meski kita perlu juga bertanya apakah yang diiklanin gratisan itu betul-betul gratististis. Karena bagaimanapun manusia sebagai homoeconomicus tentunya, dalam perspektif neolib, akan bergerak menyembuhkan sendiri kerugiannya. "Jangankan rugi, impas ajja ogah," begitu bunyi akidah Minangkabau dalam mengarungi bahtera ganasnya kehidupan tipu-tipu. Ah, ingat Padang Rang Minang dengan adat bersendi syariatnya (secara teori) saya njadi tringat ajaran Muhammad yang membolehkan/menganjurkan hadiah namun mengharamkan suap. Ah, saya (pura-pura) tidak tahu ajja ah bedanya cos' gimanapun gw makhluk politik. Selanjutnya kali ini saya tidak akan bicara aspek ekonomiknya yang menurut hemat saya tidak terlalu menarik karena menurut pendapat saya sendirian syetan bebas gerak di daerah sana. Ya, di tengah ramai dan pasar hati nurani lebih sulit untuk terdengar.

Tentu perudd perlu sangaddd juga diisi meski, tentu juga, takmesti sebuncit Kang Gayus. Tapi juga tidak saya kan bicara bidang politik. Gak ngerti. Kalo mo ngurus kotoran mending sambil cebok di WC. Apalagi, oh tidak, saya gak mau ngurusin soal agama yang buatku sesuatu yang "taken for granted" gak penting buat ditelusur lebih lanjut. Cukup dasar-dasar yang dasarrrr ajja, entah apa iya orisinil dasarnya. Apa pula itu orosinal-orosinalan, sekarang aku justru sedang bermasalah dengan permoralan. Justru gara-gara berkah dari Langit Maya. Sorry yaw orang muna ini jijay banget gak tau malu mengumbar aibnya sendiri. Sok terpukau dengan kebudayaan jujur yang sangat ia kagumi di sana di negeri rantau. Tidak memberi prioritas pada kepentingan politik jangka pendek yang riil. Apa pula itu riil. Ini dia yank riil. Beberapa waktu lalu gw kebetulan ketemu lagi sebuah proxong gretongin untuk akses internet gratis. Ternyata yang ini berhasil juga. Udah berhari-hari nih, meski biasaaa dengan saluran koneksi yang putus nyambung seperti cinta monyet.

Nah, jarang-jarang gw bisa ketemu limpahan bandwith akses ke net seperti ini. Meskipun sudah sejak 10 tahun lampau bermain internet yang dimulai dari sebuah warung di Koto Bandung sembari nanya operatornya: cara chating MIRC itu gimana? Sehabis itu hari demi hari banyak kuhabisin untuk menjelajah kreatifitas-kreatifitas web desainer merancang berjuta situs-situs yang begituan. Bertahun-tahun kemudian dengan situasi putus-putus nyambung juga, udah lama pula gw jarang lihat yang begituan karena berkah akses net yang terbatas. Nah, gara-gara pengetahuan tentang ini gw jadi terpancing juga (KARENA GRATIS) untuk coba-coba lagi buka yang gituan. Apa dengan proxong ini bisa? Gak diblokir? Sekaligus ingin experience apa bisa download dengan cara ini pada jaringan yang speednya maksimum 1/100 kemampuan speedy. Kabarnya akses dengan cara begini "fiturnya" jadi lebih terbatas. Ya, buat gw hanya dengan mekanism trial and error inilah gw bisa menambah sedikit demi sedikit pengetahuan sendirian. Dari bayi sampai mencoba berbisnis terkait internet ini nggak sekalipun pernah diriku secara formal ikut yang namanya kursus-kursus komputeran. Paling dulu selama beberapa bulan pernah ada teman tempat bertanya sehingga bongkar-bongkar onderdil hardware kompi (berkah punya kompi jangkrik--istilah ini pertama kali saya dengar di majalah BOBO/ANANDA--waktu itu), rakit lagi, atau install ulang gw jadi ketularan sedikit bisa. Selebihnya ya gw coba-coba ajja ndiri dan cari sumber bacaan, sekedarnya untuk keperluan gw juga agar punya akses ke jendela pengetahuan dunia.

Dan ternyata, gara-gara ketemu akses internet gratis ini gw tidak hanya tertarik pada ilmu pengetahuan tetapi juga ilmu begituan. Maklum masih perjaka tingtingting, hahahahaha. Dengan pedenya gw juga menambah tumpukan dosa dengan kemungkinan bahwa akses internet gratis yang gw dapatkan juga tak lebih tak kurang adalah pencurian. Tapi kucoba untuk memakluminya karena kulihat operator jaringan yang kugunakan berlangganan juga tidak konsisten dengan apa yang seharusnya mereka berikan. Salah satunya pernah kubicarakan mengenai automatic loading yang gw gak ngertiin di tulisan tentang "Internet Buat Orang Kere" dan "Internet Buat Orang Kece". Termasuk juga soal putus nyambungnya koneksi yang gak jelas kapannya. Tapi tetap ada perasaan berdosa nih, terlebih kaitannya dengan yang begituan. Terus-terusan gak bisa nahan diri dan memenuhinya dengan mendompleng kepentingan ingin cari pengetahuan. Ya, tapi setidaknya saya gak ngajak-ngajak orang lain (tipe dosa komunal massif) sehingga lebih mudah bagi Yang Di Atas Sana buat ampuni aku mudah-mudahan. Tulisan ini semata bertujuan memperlihatkan perspektif lain kepada saudara-saudara pembacaku yang (terlihat) Budiman sekalian mengenai sisi negatif dari yang gratis-gratis. Sotoy bangeddd ya jenis tulisan peteuy ini memperjelas amanat ceritanya, apalagi orang muna ini cuba nunjuk-nunjuki orang lain pula. Jika ada yang punya kemampuan lebih dari gw untuk bersabar, kuingin berguru kepada Anda. Tunjuki saya, perswami Dia !!