Rabu, 28 April 2010

Kotor(an) Kita Sama Tapi Tak Sama

Sorry to Say, lagi-laga musti bicara soal yang kotor dan kotoran. Tidak positif, tidak de secrets, tidak pula menginspirasi, memberi solusi; barangkali seperti itulah paradigma pikir pemirsa yang senang denger yang indah-indah sajalah. Seperti hantu katanya. Di depan legislator perpajakan Komisi III DPR-RI, enterpreneur toko kelontong yang memiliki sambilan sebagai Ditjen Pajak menyatakan bahwa Kyai pun imannya bisa turun naik. Intinya gak usah koar-koar deh menyudutkan "permainan" orang pajak toh masing-masing kita juga pasti pernah kecipratan kotoran. Siapa yang bisa membantahnya kecuali aktor sinetron dan retorika pendusta. Pun ketika diprotes karena simbolisasi pada Kyai tersebut akan bisa sangat-isu-sensitif (meskipun benar) di akar rumput, Ditjen Pajak koaya raya yang belum tentu sanggup untuk dibuktikan sebagai koruptor selama masih di dunia edan ini itu telah mendapatkan pahala award bagiku atas kejujuran dan keberanian dan kebenaran pernyataannya.

Pasalnya kemudian adalah kemudian apakah itu bisa jadi pembenaran akan kelumrahan bermain dengan kotoran. Kita sama-sama kotor tapi bukan berarti dengan kotoran yang sama. Dan pula tidak ada alat ukur pastinya--secara komprehensif--karena di dunia ini kita hanya bisa bertindak dan memiliki fokus pilih-pilih, parsial, segementasi, sextoral. Karena toh dalam ontologik orang beragama di tangan hantu nantilah pembuktian yang sebenar-benar-benarnya. Dunia ini memang sengaja dikonstruksi abu-abu olehnya ataupun Nya agar setiap orang bisa memiliki pilihan akan ke wilayah mana dan berproses terlebih dahulu sebelum ke sana ataupun Sana. Jadi jika ada melekat kotoran dalam diri ini lantas ia tidaklah ia menjadi benar karena orang lain juga memiliki kotoran. Kotoran tahi manusia saja bisa akan sangat variatif varietas bentuk, rasa, dan detil warnanya. Jadi jangan main klaim sama rata, menjadi alat pembenaran, lalu tambah mengaburkan kebenaran yang sejatinya sudah sangat kabur.

Jika saya kotor tentu saja saya punya hak untuk membela diri dan menyembunyikan busuknya kotoran saya dan berharap biar hantu saja deh yang ampuni dosa saya nantinya dengan menyisihkan sebagian sangat sedikit dari dana kotor itu untuk pembangunan mesjid, sumbang sana-sini, dan ujung-ujungnya sebetulnya berpolitik (uang). Dan memang tantangan tugas dari para pembersih kotoran yang juga punya kotoran sama tapi tak sama pulalah untuk semaksimal mampunya berusaha mengusut. Jadi sebetulnya kita hanya menunaikan tugas masing-masing; di pihak manapun pilihan kita ada dan hadir. Toh meski tidak komprehensif sempurna, secara parsial, hukum tetap saja telah membuat kategori-kategori kepastiannya untuk sebagai alat uji dan kanalisasi. Untuk kotoran seberat ini rewardnya segini dan untuk kotoran yang segitu barangkali hukumnya akan bisa saja jadi abu-abu. Kecuali kalee ajja nanti ada doktor mbeling yang bisa dapat nobel--yang hadiah uangnya belum bisa diputuskan apakan akan ia makan--berkat kepastian pada ilmu matematika kotoran. Jadi janganlah saling melempar kotoran itu untuk justifikasi, merasa benar, dan akhirnya kemahfuman akan kekotoran justru akhirnya-bahayanya membuat kita tidak lagi bisa membedakan yang mana kotoran, yang mana Kebenaran.