Rabu, 28 April 2010

Pembalakan Sebabkan Banjir di Padang?

Pada suatu hari (bukan Hari Minggu) aku menyempatkan diri jalan-jalan naik kereta motor ke tanah leluhurku sepanjang kaki bukit barisan. Enggak sepanjang itu banget sih, cuma ke kaki gunung di belakang rumahku. Kota Padang tempatku tinggal ini memang adalah sebuah lembah pinggir pantai cukup luas yang dikelilingi oleh bebukitan yang merupakan bagian dari pegunungan sepanjang Pulau Sumatera ini. Kebetulan pula sebagai warga "pribumi" berstatus papiko (padang pinggir kota) tempatku ini dekat sekali ke lereng pebukitan tersebut. Tepatnya ini tanah leluhur dari pihak ibu 'cos adat minangkebo menganut sistem materelinial. Menurut tambonya keluarga kami, warga papiko pribumi dunsanak-dunsanak di sekitarku ini, leluhur kami berasal dari daerah pinggiran Danau Singkarak di Solok; sehingga perjalanan mereka ke pinggiran Koto Padang pada zaman dahulu kala ini tentunya melewati menjulang tingginya gunung-gunung sepanjang bukit barisan yang memisahkan daerah "darek" dan rantau tersebut. Sementara leluhurku dari pihak bapak juga penghuni dan penguasa bukit barisan; cuma berasal dari kaki kerinci, gunung tertinggi di Sumatera.

Dari daerah rumahku ini sudah sejak lama akan dibangun jalan tembus Padang-Solok sebagai alternatif jalur rawan longsor di Sitinjau Laut arah selatan. Pada saat pertama perintisan jalan dulu--menyusuri jalur tapak kaki tradisional--Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi (sekarang Menteri Dalam Negeri) bersama rombongan sempat hilang selama beberapa hari di hutan. Entah apa hubungannya dengan kerapnya bencana alam di Ranah Minang sekarang ini. Sekarang jalan tersebut sudah (tepatnya: baru) selesai beberapa kilometer yang sudah di aspal. Bahkan sebuah SLTP/SLTA Islam swasta bermutu juga telah mendirikan asramanya di daerah sepi sana; meski belum jauh-jauh amat dari pinggiran kota. Oh ya, sebagai tambahan seingat saya sejak kecil saya sudah punya "de javu" dalam mimpi melihat bahwa daerah sekitar rumahku ini akan ramai di masa depan; bahkan rel kereta api jalur padat akan melintas di sini. Sekarang sepertinya sedikit mulai terbukti dengan berpindahnya pusat perkantoran pemerintah kota padang ke kelurahan saya ini pasca gempa dan karena ancaman tsunami terhadap daerah pinggiran pantai. Sehingga siap-siap ajja deh di sini antar sesama dunsanak saya akan saling berebut klaim tanah yang bisa menghantarkan saya ke gepokan rupiah. Eh, koq sekarang jadi pakai saya padahal tadinya aku.

Nah, dalam perjalanan menyusuri jalan rintisan yang sudah diaspal sebagian untuk tembus ke Solok itu aku melihat di salah satu lokasi sepertinya sedang ada proyek penebangan kalo enggak penambangan. Tapi ndak tahu nih legal atau ilegal. Di salah satu lokasi di pinggir jalan sepi di sana juga kulihat plank klaim dari TNI AU atas kepemilikan sebuah lahan yang tentunya banget luasnya. Salah satu daerah langganan banjir paling parah di Kota Padang ini dua buah sungainya berhulu di tempat yang kumaksud. Asal daerah leluhurku, yang kusinyalir dipraktekkan ilegal logging. Karena setahuku pula, baik dari WALHI ataupun pemerintahan provinsi, di Sumatera Barat sudah tidak ada lagi lahan yang bisa dibuka dan ditebang. Seharusnya sebagai tanggung jawab psikhologhis kepada nenek-nenekku aku harusnya melakukan sesuatu terkait ini. Tapi dengan pertimbangan strategis dan takhtis lebih baik aku diam; setidaknya nggak ikut-ikutan dan berdoa ajja ada pihak lain yang mau menyelidikin ini.

Setidaknya lewat tulisan ini aku berusaha memberi tahu, karena menurutku masyarakat sekitar sini masih cukup buta pengetahuan untuk ditipu investor berduit atau pengecut untuk menghadapi tawaran "urang bagak" dari luar. Barangkali ada di antara saudara-saudara yang punya kekuatan dan lebih tepat secara takhtis dan strategis untuk menangani ini. Kalau aku mah bisa banjir darah nanti main golok dengan dunsanak-dunsanakku sendiri--dan ini baru-baru beberapa waktu lalu hampir terjadi dengan sebab lain--karena perbedaan tajam cara pikir kami, tentunya. Meski satu-satunya alasan bagiku hanyalah demi menjaga perasaan Ortu yang bagaimanapun hidup dalam alam berpikir masyarakat sini. Kalau aku sih terus terang saja menyatakan diri "murtad" dari pandangan hidup mayoritas kultur minangkebo materelinial ini. Maklum nih masih darah muda, jadi sebaiknya pura-pura tidak memikirkan saja deh daripada terpancing esmosi. Setidaknya aku berpegang pada nasehat Rasulullah pada Abi Dzar yang mengasingkan diri sendiri di tengah konstalasi perpolitikan Islam di Madinah pasca kematian Muhammad yang terus bergolak hingga berabad-abad berikutnya hingga era al-Qaeda dan PKS niy.

"Nenekanda maafkan aku Si Cucu, belum menemukan cara paling baik untuk menjaga alam peninggalanmu. Sebentar lagi bakal diperebutkan nih, oleh cucu-cucu mata ijo duitanmu!"