Rabu, 28 April 2010

Sinopsis Perjalanan Orang Guanteng Nabung Syariah

Mungkin sudah sejak 2004-2005 lampau aku memulai nabung di bank syariah. Namun terus terang tidak ingat persis. Yang jelas teringat aku jadi orang s0leh sepanjang 2001-2003-an; secara formil permukaan, 'cos tercatat dalam salah sebuah aliran sosial jaringan ahirat-duniawi hahahahaha. Baru beberapa tahun kemudian, setelah menjadi manusia jahiliah kembali (secara formal), aku mengenal produk tabungan bank syariah. Maklum sebagai mantan anak aliran, bagaimanapun juga ghiroh ijtihad aku masih akan selalu kuat. Waktu itu aku mendengar tentang tabungan shar-e Bank Muamalat yang bisa dibeli di kantor pos.

Memang--sekali lagi sebagai mantan anak aliran dan punya ideologi tanpa idealisme--aku tentunya juga sudah sejak lama mengenal tentang riba pada bunga bank konvensional. Nah, begitu di kesempatan pertama mendapat info tentang tabungan syar'i yang dapat kuakses maka kuamalkanlah keyakinanku ini. Tapi aku lupa lagi nih apakah itu kujadikan rekening penampung uang korupsi atas duit ortu. Sekitar saat itu juga aku punya pula rekening cadangan di BRI, selain BNI yang menjadi ATM kartu kampusku. Oh ya seingatku kemudahan setoran shar-e dari kantor pos di manapun inilah yang juga jadi pertimbanganku supaya lancarnya kiriman ortu, hihi.

Ya waktu itu aku masih berstatus mahasiswa gombal gembel di Jatinangor, Sumedang. Seingatku lagi baru beberapa lama kemudian (mungkin tahunan) baru Bank Muamalat mendirikan kantor kasnya di Jatinangor. Sehingga bisa kugunakan untuk mencetak rekening koran. Sebab buku tabungannya gak ada gitu dan cek saldo dari mesin ATM bayar, hehe. Menariknya kalo narik uang di ATM sih gratis (BNI, BCA, dan Bersama). Juga tidak ada biaya administrasi terhadap pemeliharaan bulanan rekening selain potongan 25 rebo di awal beli perdananya.

Sewaktu hidup kembali di Padang yang berjarak 1.000 KM dari Sumedang saya membeli lagi perdana shar-e di kantor cabang sini. Salah satu pertimbangan adalah karena berkas-berkas aplikasi shar-e lamaku ditinggal di Bandung dan kuatir sudah hilang. Namun kenyataannya aku tetap 'menghidupkan' kedua rekening shar-e-ku itu. Baru belakangan aku menyesal juga karena demi semangat islami aku malah bertindak mubazir syaithon. Gawatnya lagi aku baru tahu belakangan setelah hitungan tahunan ternyata Bank Muamalat sudah menerapkan biaya administrasi bulanan pada kedua rekening shar-e-ku tanpa pemberitahuan, kecewa mode on.

Celakanya lagi sebetulnya jumlah tabunganku itu juga ndak seberapa dan ATM-nya juga jarang dipakai (sehingga tidak terlalu memantau perkembangan statik uang ndak seberapaku itu) kecuali sewaktu sedang ada perlu ngegembel ke Jakarta beberapa waktu lalu. Aku juga heran kenapa aku masih nabung di bank syariah ini padahal aku sama sekali ndak islami, dan juga tidak urgent bagiku. Tapi terus terang saja, meski baru beberapa waktu yang lalu memutuskan untuk menutup salah satunya aku juga ndak terlalu keberatan lah duitku yang tidak seberapa tersebut yang motong bank syariah. Gak apa-apalah demi bayar gaji pegawainya dan kelangsungan publikasi ekonomi syar'i; meski aku sama sekali ndak islami dan jarang sholat. Aku masih merasa perlu belajar banyak tentang apa itu muslim; beda dengan sahabat-sahabatku yang sudah merasa pasti dirinya masuk syurga.

Sekarang selain product-nya Muamalat ini aku juga baru saja buka rekening baru lagi di BRI Syariah yang baru buka cabang di sini baru saja, ya baru. Sebelumnya aku juga sempat nanya-nanya ke BNI Syariah yang baru mau di spin-off katanya dan juga ke BSM yang jarang-jarang mendapatkan sambutan hangadd. Waktu itu aku nanya-nanya sama mereka tentang program tabungan bebas biaya administrasi dari BI yang kubaca di koran. Heran juga pegawai-pegawai bank itu menganggap aku ngawur dan kalah pengetahuan perbankan ter-up date dariku yang pengangguran. Akhirnya aku tanyakan sama temanku yang sarjana ekonomi islam tetapi lebih dirangkul oleh bank konvensional ehh dia tak tahu dan tak mau tahu juga hehehehe.

Waktu itu aku rencana juga mau mindahin sebagian modal kapital hidupku yang ndak seberapa itu ke BRI konvensional. Alasannya saat itu aku ada rencana dagang ngegembel ke desa-desa (di Jawa/antar pulau) sehingga butuh bang yang lebih mencabank; selain buat cadangan kalau-kalau aku dirampok dan musti bunuh orang, hahahaha. Ah, sekarang aku jadi ingat wajah manis mbak receptionist BRI Syariah itu yang memuji semangat enterpreneur-ku. Gak sengaja aku ada kesalahan kecil waktu nulis di formulir pertama yang sudah tercatat nomor telponku dan disimpan olehnya diganti formulir baru. Tapi sampai detik ini belum nelpon juga tuh, wkwkwkwk. Gak tau juga ya, meski gak semuanya dan ada juga yang jutek, biasanya kalo cewek jadi terasa lebih akrab denganku tetapi kalo sama laki-laki batangan mereka koq rasanya muka masam ajja ngelihat aku. Apa karena aku ganteng?