Rabu, 28 April 2010

Warna Warni Indonesiana pada Kompasiana

Idealnya--sebagaimana brand ini dikesan menyanad pada istilah indonesiana--kompasiana menjadi wadah per-blogging-an yang sangat bhineka tunggal ika. Kalo perlu ikal; dinamis penuh gelombang. Idealnya, kompasiana ini akan pernuh warna-warni; reportase dari berbagai sudut pandang, pemikiran dari bermacam perspektif, alotnya sorak-sorai dengan beraneka idiom. Sepanjang mengikuti kompasiana sebagai media baca-tulis komunitas orang indonesia online saya merasakan sekali ragam ini. Ini jugalah keunggulannya. Semenjak 10 tahun lampau sebetulnya telah mulai berdiri pasang surut hilang muncul bermacam komunitas online lainnya yang menghimpun indonesiana. Biasanya forum-forum online tersebut kebanyakan masih menjadi himpunan untuk segmentasi tertentu, hingga--secara halus--kelas "tertentu" atau setidaknya hanya kalangan tertentu. Hingga rasa-rasannya belum ada yang seramai dan seragam-ragam dan seriuh dan se-warna warni kompasiana Q niy. Inilah peristiwa yang terjadi menurut pandangan sudut mata saya dalam menilai keunggulan dan energi potensial besar branding kompasiana bagi konteks indonesiana. Idealnya.

Namun yang ideal tersebut akankah selalu bersanding dengan kontekstualisasi riilnya dan realisirnya? Dinamika terus terjadi dan tarik menarik berbagai kepentingan serta sudut pandang senantiasa berproses merusak-bangun titik-titik keseimbangan lama untuk menuju titik keseimbangan baru lagi. Gempa-gempa kecil hingga goyangan besar barangkali juga kerap terjadi dan kompasiana terus berproses menuju naturalisasinya sebagai wadah penuh warna-warni. Terkadang ia bergoyang-goyangan sebab kecaman picik, sentilan kecil, amuk badai pikir, tsunami wacana, tirani mayoritas, hingga tekanan yang Di Atas--secara langsung ataupun "halus" ataupun hanya secara ataupun hanya bercanda. Tidak apa-apa. Konteks ideal memang tidak selalu terjadi dan ia akan terus berproses dan berdinamis. Cuma saran dari saya yang pasti bodoh karena hanya bisa upload tulisan dengan fasilitas gateway ini, sebaiknya kompasiana mempertahankan keunggulan branding komunitas online indonesiana ter-warna warninya jika tidak ingin tinggal cerita sebagai situs yang pernah besar (dalam waktu dekat). Dan, itu artinya tidak ada penindasan terhadap kekuatan politis sekecil-kecil apanya pun dan sekatro-katro gimananya pun.

Jika ada yang ingin membikin pandangan segmentatif, meskipun lewat lajur major tiras bahkan jalur topeng monyet, dan jika cinta dia. Membikin comfort zone nye dan lingkaran kepercayaan kelompok. Meredupkan keindahan warna-warni kompasiana ini. Saya pikir--walaupun sudah pasti saya ndak ada otaknya karena tak punya pacar mahasiswi MTI sana--komunitas online baca-tulis kompasiana ini tidak akan punya nilai branding lebih dibanding situs-situs social networking lainnya di jagad maya indonesiana. Barangkali juga akan segera terlindas oleh trend setter baru yang lebih ramah kepada semua orang segala pihak dan bisa melakukan management konflik yang manis terhadap dialektik keniscayaan mayoritas-minoritas, politik penyingkiran, dan kebaruan; sehingga pada kemudian waktu di sesali oleh ownernya kenapa tidak melanjutkan dengan menjalankan secara lebih cakap bisnis menggiurkannya. Atau juga setelah segala terlambat dan segala-galanya tertambat nantinya baru akan melakukan reinkarnasi dengan menanam saham investasi ber-M M dengan target BEP bertahun-tahun seperti kita saksikan pada plasa-telkxm reborn. Hahahahahahahahahahahaha.

Alangkah indah dan cantiknya jika kompasiana ini tetap bisa mempertahankan kewarna-warniannya, secara cakap dan elok. Komunitas mayapada indonesiana yang sanggup menampung beragam latar, beraneka segmen, dan ragamnya perspektif umat bhineka banget indonesiana ini. Setidaknya tulisan di sini adalah surga data tentang ragam tutur, baik deep-surface structure chomskynya ontologis orang indonesia; sepanjang belum distandardisasi oleh selera mahzab bahasa redaksi. Siapapun idealnya berhak eksis di sini dan bersuara lantang menggelegar hingga ke langit nun jauh nan terang di sana, "Hey its me!" Entah itu wartawan, seniman, olahragawan, hartawan, itwan, petaniwan, karyawan, ustadz, pns, ataupun pengangguran. Entah orang beriman, preman, atheis, pragmatis, abangwan, santriwan, politisi, pengamen, pedagang, pebisnis, pelobi, pembisik, makelar, mafia, pencuri, enterpreneur, koruptor, psk, pks, ataupun para pelanggannya, penjilat pantat, pendengki, tukang keki, kaum munafikun, hingga teroris. Entah itu dari aliran pancasila, uud, nasionalisme, topeng nasionalisme, kanan kiri oke, tenggara, barat, timur, lian orang luar, orang dalam, kerabat dekat, asing, ataupun ibu rumah tangga hingga bapak rumahnya tetangga. Tokh itu hanyalah hak pilihan jalan hidup masing-masing yang merepresentasi dan mengartefak lewat tulisan gitu deh. Apapun deh. Bukan partai kok. Tidak ada veto ketum dan dewan pembina kok. Di sini hanya tempat baca-tulis, gak penting apapun ia jenis. Di sini kita hanya sekedar berwacana; berdialog jika bisa saling mengisi, berdebat untuk saling menguji kemampuan berargumentasi, dan sepakat untuk tidak sepakat lalu mengolah wacana baru kembali. Tidak apa-apa. Semakin penuh ragam, semakin banyak ilmu yang didapatkan. Setuju atau tidak setuju adalah pilihan pribadi nantinya di kehidupan nyata nya. Di sini hanyalah wacana dan hanya wacana yang tertoreh, hak asasi nomor nol manusia, aplikasi riilnya di kehidupan terserah pada pilihan masing-masing pembaca yg budiman. Jadi idealnya: bukanlah sebuah masalah untuk menampung berbagai latar untuk alat penguji setiap ikhtiar keyakinan masing-masing; adalah kemustahilan membuat semua sama dan seragam, tanpa topeng. Idealnya menurutku begitu; dan entahlah apa warna-warni kompasiana akan tetap seindah ini ternyata?