Senin, 16 Agustus 2010

Agama Semua Manusia

Tamak, licik, pendengki, dan bunglon. Saya merumuskan empat hal ini untuk memperjelas penanda bagi "konsepsi" orang-orang munafik meski secara person(al) kita memang tidak bisa main tunjuk hidung. Karena untuk kejahatan (dan kebusukan yang tersembunyi) hanya Tuhan atau Hantu yang akan membuat perhitungannya sendiri di hisab akhirat nanti. Adalah suatu yang menggelitik bagi saya ketika mendapati kenyataan bahwa dalam ajaran Islam (salah satu bendera klaim kebenaran agama yang penuh warna) diberikan keterangan jika manusia munafik (artinya, busuknya tidak ketahuan) ditempatkan di neraka jahanam melebihin tempat bagi orang-orang engkar, fasik, dan atheis sekalipun.

Sejak beberapa hari i'ni beberapa kali i'ni saya sering mendapat jatah makanan "gratis" sehingga mengakibatkan pengeluaran searahku menjadi turun drastis. Bener juga "katanya" bahwa jika kita sabar serta mengimani qadha dan qadhar (rukun iman yang bernasib seperti pluto, berstatus planet kerdil yang tak dianggap hi hi) maka akan diberikan rejeki dari arah yang tidak diduga-duga. "Rasaki indak bapintu," kata petuah Minangkebo. Indahnya pulak kalopun ndak dapat ya no problem juge lah yaw. Makanya Nabinya orang Islam tidak terlalu menganjurkan memberi kepada orang-orang yang sengaja (licik) meminta-minta. Peminta-minta ini termasuk yang omsetnya Trilyunan lhoo yaa; meski dikamuflase atas nama jiwa wirausaha, enterporneur, kerja keras, kerja culas atau apalah (selingkungan dan berkelindan dalam konsep permainan petanda penandanya Derrida). Lalu memberi terang-terangan dibenarkan jika sanggup untuk tidak riya. Tapi, ah, taulah politik umat dunia. Atau mungkin si sayah ini sajah yang anggaplah gitu kalee.

Sejatinya agama adalah tauhid atau iman, yang dengan "sarana syariat" ritual dan muamalah, berbuah akhlak cantik. Ini input dan itu outputnya. Tapi dalam paradigma materialism penanda kongkrit berupa sarana, baik yang ritual maupun muammalat, tadi menjadi seolah terpenting dan menjadi inti karena lebih riil dan kongkret. Apalagi sekarang jadi merk-brand-nama bank he he he tentunya dalam psikologi komunikasi bisa dipahami adanya sebuah sugesti tanda. Iman dan akhlak apa itu? Relatif dan abstrak! Padahal disinilah nilai sesungguhnya: awal yang baik (niat) menghasilkan (bukti ter-)akhir yang indah. Sementara banyak orang terlena (serius banget) dalam proses (permainan) sementara sarana-alat-tools yang sebetulnya bersifat alternatif dan berjenis subtitusi sejauh berpegang tegar pada esensi atau substansinya pada "niat dan tujuan" tadi. Sekali lagi, ini semua dalam permainan kelindan tanda-tanda dengan ribuan symbol, icon, index dunia fana yang oleh orang-orang "pintar" dipertakmudahngerti dengan istilah diskursus atau biar makin gagah (kelihatannya): diskorse yang dialektik ini hahahahaha.

Sejak Adam, Ibrahim, Musa, Yesus hingga Muhammad sebetulnya inti yang dibawa dan rentan rusak itu adalah tauhid. Peng-Esaan. Disebut gampang rusak karena sangat halus wujud petandaannya. Disebut-sebut bahwa hanyalah ada batas tipis antara keadaan beriman dan tak beriman. Kenapa? Karena "kesadaran" bisa membuat kita setiap milidetik berpeluang ingkar kepada yang bukan tampakan kontra realitas; sekali lagi nama lainnya (mohon maaf kalo saya berkesan menjelek-jelekan impian Anda): materiil. Apakah kita mengimani yang abstrak itu karena an sich, fitrah, quo vadis, id, hidayah, cahaya ataukah karena dengan gitulah bisa mendapatkan posisi, status, peran, perlindungan, pelibatan di tengah-tengah masyarakat riil realitasku; lagi-lagi dipengaruhi (atau dikuasaikah!) oleh kesadaran materiil. Ini apakah soal perpilihan ataukah "keterikutan"? Makanya disebut-sebut lagi bahwa nabinya agama dari langit terakhir, Mr. Muhammad, datang diutus cumanlah sekedar kembali memurnikan tauhid yang secara alamiah senantiasa diabaikan bahkan dirusak generasi penerus umat pendahulu-pendahulunya. Lalu aplikasi orientatifnya adalah kesempurnaan akhlak. Seorang mukmin yang berjalan rendah hati di muka bumi ini meski dihina oleh orang-orang bodoh (kader-kader Jaringan Alwahn Laknatullah) sembari tetap mendoakan keselamatannya (ah, aqu yang masih nista dan juga bodoh banged ini koq belum juga sanggup untuk begitu). Bahkan juga difitnah sebagai bertujuan kaya raya dan bertujuan tahta, padahal anak penggembala kambing dan jongos calon istrinya ini menjahitkan sendiri bajunya yang sobek dan melipatkan batu ke perutnya untuk menahan lapar tanpa merasa perlu berpolitik licik dan minta-minta "jatah" sama "networking" Sahabatnya yang lebih tepatnya merupakan pengikut (follower) yang taat total bukan kumpulan kongkalingkong saling jilat dan tipu-tipu politis dan puitis erotis (keindahan nan jorok seronok woii).

Lalu kemudian selalu ada yang akan kembali melencengkan akidah ini. Berjamaah dalam kesesatan arus majoritas, seperti disebut-sebut Kor'an bahwa hanya bagian sedikit yang betul-betul sanggup untu bertahan beriman, karena keterpukauan nya (atau para nya) pada alam "kesadaran palsu" dan realitas kongkrit fiktif temporal yang sebetulnya tak lebih dari dunia imajiner, simulasi, atau kefanaan ini. Seberharga apakah imajinasi sehingga seorang Prof. Einstein pun lebih memujanya dibandingkan ilmu pasti? Barangkali memang sangat tipisnya batas beriman dan tidak beriman itu sehingga seorang mukmin senantiasa "idealnya" harus takut jatuh ke lembah kenistaan hidup sebagai munafikun (walau tentu saja tak ketahuan); merasa benar sehingga lengah, bisa menipu relasi dan fans tapi tidak Tuhan atau Hantu (sorry Jack, dengan permainan konsep "pilihan" tanda ini) yang tentu banyak, dan segala, dan sempurna Tahu. Makanya, kata Tuhan semua agama kepada para malaikat, seandainya bumi ini diisi oleh orang-orang patuh yang tanpa cacat maka akan dimusnahkan dan diganti dengan hamba-hamba yang bermaksiat namun mau untuk bertaubat. Karena intinya sederhana saja: tauhid. Pengakuan, ketergantungan, ketundukan ke ke-Esa-an-Nya yang tidak disekutukan dengan aneka bentuk materi dan material lian "yang lain-lain". (Te)tapi macam-macam tingkah kita dan kami berkilah. Seperti tipisnya batas keimanan dan ketidak berimanan ketika harus mencari tahu, men-cek, mempertanyakan keikhlasan ibadah dan keinginan mencari "ridha" ilahiah. Apakah beriman "supaya" mendapat Surga (dunia) ataukah beriman Sehingga mendapatkan syurga. Berbicara pegangan dan titik terang saya menyarankan kepada pemirsa yang mau mengimani agama untuk semua manusia ini--dan bisa menerima faham non formalitas (surface structure, waw) melainkan substantif dan eusi yang jujur--untuk menjauhkan diri dari penanda kemunaan dan kejahanaman di awal tadi: tamak, licik, pendengki, dan bunglon. Sudah seyogyanya iman, akidah, dan tauhid akan berbuah akhlak manis nan, sekali lagi perlu banget ditekankan, substantif (bukan formalitas tampilan permukaan yang penuh kamuflase, intrik, dan lagi-lagi, pepesan kosong tipu-tipu) sebagaimana pedoman kepada sunah Muhammad yang "idealnya" kontras dengan sifat perangai masyarakat jahiliah matreliniah. Pernah di sebuah ketika Abdullah bin Amr berkata: "Rupanya itulah yang menyebabkan kamu mencapai derajat itu, sebuah amalan yang kami tidak mampu melakukannya". Pernah juga di sebuah ketika yang maha Ketika (karena tidak bisa ditelusurin dengan kalender duniawi) Syetan bin Medit bertutur: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil." Entahlah, jangan terlalu banyak mengigau ceramahin orang dan sese(ring)kali ngacalah wahai Derridas....