Bang Thoyb, (Calon) Istri dan Anak-Anakmu Menantiku Part. 6

Di saat tengah berbuka dengan beberapa potong buah2an tersebut lewatlah di depanku seorang cowok suspected gays. Mungkin karena ngeliat gw ganteng (hi2) tiba2 aja dia setelah sempat melewati pura2 balik dan numpang duduk ke bangku taman sebelahku. Tentu tak lama kemudian kami mulai terlibat obrolan. Dan akhirnya puannnnjaaanggg. Kebetulan Mr.guy ini juga jago ngomong. Sekarang tentu saja aku tambah yakin bahwa kebanyakan dari apa yang dia omongkan dulu itu adalah bull shit sebagian besarnya; sekedar alat untuk pdkt sama aqu, he2. Tapi jujur saja kulihat retorika ceritanya (pengetahuannya) luar biasa juga sih. Seingatku beberapa kali kulakukan tes kebohongan ia mampu melewati. Mungkin, meski gombal tapi basicly dia punya pengetahuan atas apa yang ia akan ceritakan. Mungkin juga karena sudah terlatih.

Materi ceritanya di antaranya: dia sekampus juga dan lebih senior dariku, keturunan campuran sunda-minang, istri sudah meninggal dan jadi singel parent bagi dua anak di Bandung, berprofesi sebagai penyanyi dan juga punya event organizer, dan segudang pengetahuan luar biasanya tentang teknik menghasilkan puluhan juta dari mensponsori acara2, utamanya lewat lobby ke pemda2 dan marketing2 perusahaan. Khusus untuk bagian terakhir ini terus terang gw sampai sekarang masih tersinggung dikiranya seperti m-anus-ia kebanyakan yang bisa dirayu dengan cerita berjudul duit yang buaaanyak, hi2. Tapi wajar, penampilan gw yang payah sehari2 ini tentu saja akan mengundang prejudice orang "butuh" duit dari manus-ia kebanyakan. Tapi ada untungnya juga--sebagai minangkebo mata gw langsung jelalatan jika merasakan atmosfer keuntungan yang bisa diraih--seingat gw setidaknya saat itu gw dapat sedikit makanan ringan dan sedikit cairan dari sebuah minuman teh kotak.

Lebih sejam kami--lebih tepatnya 90%-nya dia--bercerita, ia pun mengajak untuk ke istiqlal dan menceritakan kalo selama bulan puasa di sana sekarang bisa nginap. Tentu meski tidak 100% percaya saat itu gw sangat bahagia bisa dapat teman "seperjalanan" di tengah segala "persendirian", he2. Apalagi dari beliau gw jadi tahu ada KRD ekonomis banget lewat Purwakarta yang cukup menyediakan dana 3 ribu + 2 ribu untuk ke Bandung. Lalu sesampai di istiqlal kami mojok di dekat tangga sudut tenggara (atau sebelah timur laut itu ya?)--yang tertutup untuk ke peturasan umum utama. Pemilihan lokasi tempat yang lebih gelap gini memang sudah mulai mencurigakan gw. Sebelumnya juga tentu dari cara pandang dan secara instink gw juga merasa ada yang aneh. Lalu kami pun sholat masing-masing. Seingat gw karena faktor trust ini juga gw mengupayakan untuk tidak perlu berjamaah dengannya. Setelah itu kami pun tiduran bersebelahan; gw berupaya menggeser2 posisi tidur agak menjarak dikit dari dia yang sebaliknya seperti berupaya mendekatkan. Dan dia melanjutkan cerita yang mulai nyerempet2 ke kisah yang mengindikasikan "penyimpangan" seksual. Nah bukti kemudian yang lebih meyakinkan adalah ketika cerita sudah tak ada melantun terdengar, senyap, tapi mataku belum terlelap, kurasakan tangannya menggerayang mengelus2 rambutku, kemudian juga mulai megang2 tanganku! Aw aw aw!

Bang Thoyb, (Calon) Istri dan Anak-Anakmu Menantiku Part. 5

Selesai belanja di supermarket di mall bersangkutan gw mendapatin bahwasanya di luar sedang hujan. Aku pun tetep menunggu cukup lama hingga betul2 reda dan ridha 'coz basah2 sedikit ajja di kepalaku niy bakal sangat berbahaya buat kesehatan q yang saat ini musti dijaga ketat sebisanya. Selain tentu saja bakal repot nyuci kalo pakaian baseuh. Setelah gerimisnya cukup sangat tipis baru aku beranjak. Menjelang HI gw sempat muter2 sebentar mencari sebuah alamat travel dalam daftar q yang diiklannya membutuhkan jongos tapi ndak ketemu waktu itu. Maklum, aku juga sedang diburu waktu.

Keinginan bersantai di bundaran HI--mungkin ini baru yang kedua kalinya q ke sini karena yang masih kuingat untuk pertama kalinya dulu 10 tahun silam sewaktu "demo" ke monas bareng kakak2 mentor di PK(belum S)--terpaksa kutunda dulu meski di sebuah sudut kulihat sedang ada "acara". Sebentar lagi magrib dan aqu sudah merencanakan untuk mengincar buka gratis di istiqlal. Pas lewat BI aqu juga lihat orang pada buka bareng di basementnya tapi waktu itu q ndak tahu kalo terbuka bagi umum dan para pendatang liar, tidak hanya untuk lingkungan koneksi elite atawa jet set. Belakangan baru kutahu lingkaran koneksi kaum kere juga berduyun-duyun ke sini.

Pas nyampe gerbang selatan monas aqu makin deg2an karena hari terlihat makin beranjak gelap dan tak lama kemudian--sebelum nyampe gw ke tengah2nya--adzan sayup-sayup berkumandang. Walhasil gw berbuka saja di tengah perjalanan yang nyaris saja ini dan untungnya tadi sempat beli buah2an. Kebetulan juga di saat itu aqu dilanda haus yang sangat hebat bin mahadahsyat setelah jalan kaki dalam keadaan berpuasa di bawah teriknya mentari dan sangarnya polusi ibukota penuh kotoran ini selama seharian. Kalo ndak salah waktu itu aqu juga ndak punya air tapi merasa cukup dengan buah2an. Keinginan membeli makan-minum di parkir selatan monas kutunda dulu walau di sana aqu udah nandain sebuah warung tenda masakan padang yang mau jual nasi + telor dadar enam rebuan. Dan di saat bersantai mengunyah buah2an inilah aku berkenalan lagi dengan serang kawan yang belakangan kusinyalir kuat sebagai homo/gay namun cukup berjasa besar kehadirannya di saat itu buat kehidupanku sebulan ke depan.

Bang Thoyb, (Calon) Istri dan Anak-Anakmu Menantiku Part. 4

Pencarian dan rencana dagang kurmaku akhirnya ternyata kandas. Meski belakangan aku tahu kalo disini juga tempat ngecer bukan grosir tapi sebetulnya aku dapat juga harga grosir yang cukup murah dibanding lain-lainnya. Cuma harga kurma tahun ini kelewatan banget mahal. Aqu sendiri rasanya tak tega ngejual dengan harga pasaran segitu. Belum lagi aqu masih penasaran dengan murahnya harga kurma yang diecer pedagang asongan di kereta yang entah siapa supliernya. Untuk sementara dan hingga kini rencana dagang kurma pun dipending meski aqu juga punya daftar alamat tempat grosir di tempat lain. Sayangnya waktu itu aqu belum tahu (atau lupa) tentang alamat grosir2 parfum di jalan fachruddin dan hingga kini pun belum sempat--ceilee, sok sibuk--ke sana lagi.

Lalu sehabis meriksa2 kedai kurma yang kutemui ndak seberapa itu sampailah aku di jembatan penyebarangan pejalan kaki dekat jembatan ke arah petamburan yang kuduga di sinilah tempat Hercules pertama kali meniti karir dengan sebilah golok, tangan buntung, dan mata bolongnya. Di atas jembatan itu selama beberapa waktu aqu ngobrol sama wts2 yang sedang ngetem menjual dirinya. Salah seorang wts pada termin pembicaraan agak akhir sempat marah2 dan agak sedikit ngancem mungkin karena ada omongan gw yang tiada berkenan di hatinya. Lalu dari sini aqu pergi menemui sebuah masjid di lantai paling atas pasar "daging" untuk shalat jumat dengan berbekal petunjuk seorang wts pula, hahahahahaha.

Seusai jum'at dan menikmati pemandangan atap Jakarta, dengan rasa enggan aku kembali untuk menunaikan perjanjian bertemu lagi dengan anak malang yang sekepergian denganku ke Tenabang niy. Cuman gw agak licik juga melambat2kan pertemuan kita--ke seusai shalat, tapi emang kebetulan bisanya begini sih--dan alhamdulillah nggak ketemu. Tetapi sesudah ketakbertemuan itu tetap saja gw ndak bisa menjalankan rencana semula jika si dia ndak ada dikarenakan sebab2 lain, he2. Setelah selesai sementara urusan di Tanah Abang aqu lalu berjalan menyusuri arah selatan lalu belok kiri hendak menuju Sudirman untuk rute pulang lewat bunderan HI. Eh, ternyata kemudian aqu malah nyangkut di Mall Thamrin Square dan shopping2 dikit sebentar--yang aqu ingat cuma belanja potongan2 buah (menjelang busuk) yang di campur dandidiskon dan ternyata memang berguna untuk berbuka yang tak sesuai rencana nantinya--he2.

Bang Thoyb, (Calon) Istri dan Anak-Anakmu Menantiku Part. 3

Pagi harinya--sesudah tidur segar di atas masjid pemerintah yang mana daripada keluarga saya adalah pembayar pajak guna menggaji yang mana daripada para pengurusnya merasa itu adalah asset dan privat (kapital) milik bapaknya--sekitar waktu dhuha aku bangun lalu keluar untuk bersiap jalan. Oh ya, kalo gak salah bangunnya juga terpaksa karena dipriwit sama pluit satpam. Seperti rencana semula aku hendak ke Tanah Abang dengan niat cari grosir kurma. Kebetulan di luar pas lagi mengikat tali sepatu di pintu istiqlal yang depan gereja aku secara kebetulan menjalin pula tali pertemanan dengan seseorang.

Anak ini--aku sudah lupa namanya, he2--mengaku sebagai kenek bis pariwisata dari Malang yang sedang malang. Rencana ia, ngakunya, mau mencegat rombongan yang datang nantinya ke istiqlal--karena kenal para awak bis pariwisata dari kota itu--sehingga jadi bisa numpang sekaligus nebeng makan dan rokok buat pulang. Singkat cerita ia ikut aku ke Tanah Abang. Sebelumnya convertation kami sempat saling pingpong untuk menyepakati tujuan kami berdua hendak kemana jalan karena tentu saja aqu tak bisa untuk 100% percaya sama orang gak jelas yang tiba2 dateng dari langit gini. Lah berdasar pengalaman pribadiku, yang sudah jelas 1000% ajja tidak menutup pintu untuk kemungkinan dusta dan khianat. Kenapa? Karena maklum inilah politik dan siasat manusia mempertahankan kepentingannya di dunia, walahhh.

Lalu kami jalan menyisiri jalan samping veteran, lalu menyebrang dan menyilangi monas, lalu menyusuri thamrin, belok di wahid hasyim dan sampailah. Di tengah perjalanan anak malang ini buka puasa duluan--atau bisa jadi emang engga puasa--sedangkan aqu "kebetulan" di hari itu sanggup bertahan hingga maghrib meski nantinya pas balik ke istiqlal juga jalan kaki lagi di bawah panas terik mentari. Meski tidak lagi mau tertipu oleh Islam tampilan luar tapi terus terang gw agak kurang sreg pas dia ngajak minum dan batalin puasa. Kemudian setiba di TKP, di bawah jembatan mall tenabang itu kami berpisah untuk berkesepakatan bertemu lagi. Kebetulan dia pengen nyari tempat boker dan kebetulan gw emang pengen memisahkan diri karena sebuah keperluan tertentu yang sebaiknya tidak melibatkan beliau. Lalu aku jalan sendiri nyari lokasi orang jualan kurma.

Bang Thoyb, (Calon) Istri dan Anak-Anakmu Menantiku Part. 2

Hi penggemar2 qu. Berikut2 kisah2 berikutnya. Mana tau suatu saat bisa jadi pentink untuk (pijit) refleksi (peng)hidup(an) Anda. Di ujung pertengahan agus, ke Jakarta aku 'kan kembali. Dari Bandung tetapi. Setelah nawar2 ongkos angkot, qu naikin salah satunya hingga Kiara Condong. Di sana cukup lama baru qu dapat naikin kereta serayu (sekian) dari Kroya tujuan stasiun kota dengan tiket seharga 19.000 (tarif Kota-Tasik). Eh, ternyata kereta kelas kambing (ekonomi) ini jugak berhenti di stasiun bandung. Jadi cape deh.

Tadinya aku berencana untuk ikut hingga ke Kota supaya (mana tau) bisa nginap di mesjid yang dulu pernah kukunjungin sewaktu ke kampung bandan; yang ternyata bisa tembus langsung juga dari ujung stasiun djakarta kota itu. Tapi karena dah mau buka puasa sementara aku belum shalat ashar, kuturunkan kaki sewaktu ia ngetem di senen. Alhamdulillah (ceilee, "keliatan" saleh niyeee), sempat. Nah, selesai buka dan maghrib di stasiun ini baru aku bingung lalu mau kemana. Kalo ndak salah sih aku sudah merencakan juga sebelumnya buat ke istiqlal tetapi faktanya saat itu sudah mulai malam. Aku tak hafal jalur transportasi tapi tau jalur jalan kaki 'coz punya map, hue he. Lalu keluarlah aku dari stasiun ini tanpa tujuan dan arah yang pasti.

Setelah muter ke terminalnya, aku lihat2 dulu pasar kue dadakannya--senyampang emang bingung mau kemana yaa. Lalu kuisya di mesjid yang biasa yang ndak bisa diinapi 'coz digembok. Lalu aqu duduk2 di taman monumen (entah apa namanya) yang mana daripada disana sedang kumpul2 di dekatku komunitas gay! Salah seorang homo disana mengingatkanku untuk hati2 akan kriminalitas disana, termasuk copet. Ah baik juga dia; jarang2 kutemuin orang baik (walau kelihatan saleh tampilan luar) di jaman manusia2 pendengki tukang celetuk tanpa sebab yang jelas ini. Salah seorang dari para homo itu menawarkan tidur di kosannya dia yang tentu saja aku tolak dengan perasaan ngeri he2. Nb: kelak di bagian cerita berikutnya ternyata aku juga akan mendapat pertolongan dari seorang homo lagi! Lalu dari situ aku jalan ke arah kwitang--mungkin dengan tujuan istiqlal--namun ternyata kemudian disana aku memutuskan tidur di taman2 yang ada bangkunya. Sempat pula pindah posisi ke yang depan mako brimob atau marinir. Di sana pas bangun dapat teman bercerita sebentar; remaja priok yang katanya kemaleman buat dapat bis. Lalu aku sahur di warteg yang ada buka kebetulan disana; deket "hotel" tempat tidurku. Lalu aku jalan untuk menunaikan shalat subuh ke istiqlal. Kelak di bagian cerita berikutnya nanti, tiduran kemaleman di emperan kwitang begini, sahur di warteg yang itu lagi, lalu jalan ke istiqlal untuk subuh akan kulakoni lagi.

Setelah subuh tentunya akhirnya aku bisa tidur cukup enak pagi itu di atas karpet mesjid hingga mentari terbit memanggil bagi sebuah episode berikutnya: perjalanan (kaki) ke Tanah Abang. Sebagai catatan psikologis-kejiwaan sosial-massa untuk episode pertama ini: karena tentu saja pada waktu itu (dan juga waktu seterus2nya he2) aku terlihat banget tampil bagai gembel (eh, emang gembel koq) dan terlihat amat kelihatan dan diperlihatkan miskinnya, aku bisa menyaksikan wajah2 kebahagiaan (meski tentu tidak 100% semua gitu), penghinaan, peremehan dari para si miskin yang mengalami internalisasi penindasan (teorinya). Satu2nya cara bahagia bagi orang-orang susah ini (katanya) adalah bisa melihat ada orang yang lebih susah dari dia. Hahahahahahahahahahaha, oke cape dulu nih, bersumbang.....

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...