Minggu, 19 September 2010

Bang Thoyb, (Calon) Istri dan Anak-Anakmu Menantiku Part. 3

Pagi harinya--sesudah tidur segar di atas masjid pemerintah yang mana daripada keluarga saya adalah pembayar pajak guna menggaji yang mana daripada para pengurusnya merasa itu adalah asset dan privat (kapital) milik bapaknya--sekitar waktu dhuha aku bangun lalu keluar untuk bersiap jalan. Oh ya, kalo gak salah bangunnya juga terpaksa karena dipriwit sama pluit satpam. Seperti rencana semula aku hendak ke Tanah Abang dengan niat cari grosir kurma. Kebetulan di luar pas lagi mengikat tali sepatu di pintu istiqlal yang depan gereja aku secara kebetulan menjalin pula tali pertemanan dengan seseorang.

Anak ini--aku sudah lupa namanya, he2--mengaku sebagai kenek bis pariwisata dari Malang yang sedang malang. Rencana ia, ngakunya, mau mencegat rombongan yang datang nantinya ke istiqlal--karena kenal para awak bis pariwisata dari kota itu--sehingga jadi bisa numpang sekaligus nebeng makan dan rokok buat pulang. Singkat cerita ia ikut aku ke Tanah Abang. Sebelumnya convertation kami sempat saling pingpong untuk menyepakati tujuan kami berdua hendak kemana jalan karena tentu saja aqu tak bisa untuk 100% percaya sama orang gak jelas yang tiba2 dateng dari langit gini. Lah berdasar pengalaman pribadiku, yang sudah jelas 1000% ajja tidak menutup pintu untuk kemungkinan dusta dan khianat. Kenapa? Karena maklum inilah politik dan siasat manusia mempertahankan kepentingannya di dunia, walahhh.

Lalu kami jalan menyisiri jalan samping veteran, lalu menyebrang dan menyilangi monas, lalu menyusuri thamrin, belok di wahid hasyim dan sampailah. Di tengah perjalanan anak malang ini buka puasa duluan--atau bisa jadi emang engga puasa--sedangkan aqu "kebetulan" di hari itu sanggup bertahan hingga maghrib meski nantinya pas balik ke istiqlal juga jalan kaki lagi di bawah panas terik mentari. Meski tidak lagi mau tertipu oleh Islam tampilan luar tapi terus terang gw agak kurang sreg pas dia ngajak minum dan batalin puasa. Kemudian setiba di TKP, di bawah jembatan mall tenabang itu kami berpisah untuk berkesepakatan bertemu lagi. Kebetulan dia pengen nyari tempat boker dan kebetulan gw emang pengen memisahkan diri karena sebuah keperluan tertentu yang sebaiknya tidak melibatkan beliau. Lalu aku jalan sendiri nyari lokasi orang jualan kurma.