TiviVVan

Satu menit lagi 6.30 (nah, sudah). Jam segini dulunya biasanya adalah jadwal untuk nongkrong depan TV. Mantengin salah satu stasion yg membuat format baru wawancara/diskusi cukup menarik untuk tema-tema politik dengan narasumber yang juga kerap cukup menarik dan tidak banyak basa basi macam TV Negara Indonesia.

Tapi itu dulu, sekarang masih hahahahahaha cuman kadang-kadang sekarang (yang mana lucunya ya?). Entahlah Esmeralda, henfon ku masih di-charge. Semalem mati sendiri karena aqu ketiduran sembari mendengar Ebiet Gade bersenandung "Kepada Kawan". Lho ada hubungan apa yang terjalin antara TV itu dan hpmu/HP-mu?

Tidak ada yang spesial. Aqu cuman kebetulan membeli henfon cina seharga NewIndRp 399,- kemaren waktu di Roxxxi yang katanya komplit semua ada di sana (kecuali os/java dan 3g) termasuk TV. HP TV inilah yg kugunakan untuk menonton (sewajibmungkin) setiap senin malam acara Jakarta Law Club-nya Presiden Karni Ilyas, pun meski sayah mah buta hukum kolonial apalagi hukum syariat formal.

Entahlah Estefan, ada sejenis katartik tersendiri melihat komentar2 rakyat homo homini lupus melihat kenyataan negeri dgn kebudayaan centang perenang dan "kebancian" identitas ini (termasuk mendenger omel2an politik di radio dan komen2 lucu di blog). Padahal kata guru spiritual sientik-ku Abang Mario Tegang harus/idealnya aqu harus lebih fokus pada kepentingan diri sendiri (dgn jalan semaksimal mungkin memanfaatkan orang lain) untuk meraihkan "kesuksesan" dunia yang diimpikan dan sukses akhirat yang dikhayalkan.

Meski lebih suka bergelut dengan kitab di ruang-ruang kesunyian tapi saya sudah juga cukup kerap menyaksikan langsung perjuangan orang kecil yang sayangnya tidak sanggup sabar-ikhlas dengan kemelaratannya, sehingga sampai saya suka ketawa sendiri dengan idiom-idiom Bang Tegang tadi tentang sukses dunia akhirat, apalagi diberi embel-embel pula dengan Hadits kemiskinan dekat dengan kekufuran yang lemah riwayatnya itu. Ah, pantaslah Muhammad mengatakan pada saatnya nanti berbahagialah "orang-orang yang asing".

Sekarang sudah 6.47, entah siapa yang sedang diwawancarai Indi yang ngemesin itu. Apakah masih berduet dengan Andi Jarot yang membawa style segar dalam memperbincangkan makanan berat untuk konsumsi publik, publik generasi mie instan. Entahlah entahlah saat ini aqu sudah terlanjur login ke kompasiana.com dan sedang hepi menulis humor tak lucu ini. Biarlah, inilah semata-mata agar pembaca menangkap makna bahwa saya tidak membawa pesan apapun dan bisa dipesan siapapun.^^

Lho, Koq?

Karena tak ingin merepotkan admin saya bertanya lewat postingan aja. Loh, koq kompasiana mobile ndak bisa diakses lagi dari browser modif gw ??? Jadi kesedot deh quota nih buka full site, ndak makan lah awak seminggu hi2. But its okay, udah lama gak masuk sini. Jadi sempet accepted friend request. Oya thx buat semuanya. Setidaknya sebuah persahabatan virtual lebih potensial utk terjalin secara nirkepentingan (pada awalnya) hehehehe.


Oks sekian aza dulu. Seperti admin sayah juga lagi sibuk2nya jadi ndak bisa nulis panjang2 mesti (bukan meski ya) terus mengikuti aneka peristiwa yang terus berkembang–di luar kepentingan ekonomis gw sendiri–mulai dari Bu Diono yang sekarang keliatan gagah jadi penguasa ad interim sepeninggal Pak Beye yang sedang kondangan ke Sang Khailk hingga matinya Alm Mbah Marjan. Aku juga heran lho kok “orang” sakti dan orang “kaya” dan orang “kelihatan” religius koq bisa meninggal tewas juga seperti kami para gembel sampah bangsa yang diuber-uber preman berseragam nan makan uang negara dari pembayar pajak ituh.



Tuh kan, loh koq, jadi kepanjangan. Semakin panjang akan makin sulit dimengerti karena tidak setiap otaq memenuhi syarat2 formal sebagai mufassir kehidupan (yang dibuktikan dgn cv yang masih laku) dan tanda baiat dari sekte yang menjaga otoritas kekuasaan. Walah ngomong apa ini: kekuasaan? Loh kok jadi menyimpang. Ya, dengan menyimpang jadi ada pilihan demi pilihan, kepedihan demi kepedihan. Selesai. Belum dong kar (...not read more)

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...