Senin, 20 Desember 2010

Bang Thoyb Pulkam Nih

Sebetulnya sudah sejak awal dari bahwa Bang Thoyb (BT) pengen keluar dari kontrakin itu. Cukup luar biasa juga dia bisa bertahan sekitar 3 bulanin. Mana tempat lagi di ibukota Jakarta gitu dapet kos hanya 200 ribu sebulanin. Include listerik pula. Sewaktu punya laptop seharian BT ngabis2in listerik bu kosnya. Belum heater yang selalu diandalkan buat masak mie dan teh sebab gak punya duit buat sering beli makanan pokok di luarin.

Karena gak punya laptoy (dan gawean) lagi juga, maka sesuai dengan salah satu rencana yang sebelumnya pernah ada BT memutuskan saat itu untuk melaksanakan keinginannya hiking kematian menyusurin pantai pasundan selatan. Sebetulnya kerjaan sih mungkin ada aja, walau buat nyari makan halal murni 100% di jalanan belum ketemu hitungan yang masuk akalin dirinya.

Di Senen dia ketemu "grosir" donat yang lumayan bisa "dipraktikkan" menurut hematnya. Tak jauh dari situ ia juga udeh diterima "training" di sebuah toko printing digital milik Orang Sitoli. Deket stasiun BT juga dapat info tentang kebutuhan akan sales obat-obat herbal dan produk sejenisnya yang cukup sesuai dengan nurani dan passion-nya. Artinya kalo jadi salesnya orang, ia gak perlu ngemodal duit yang dia "engga" ada. Belum lagi rencana jadi pedagang keliling bukunya. Dan yang lebih ngejongos lagi di Kepu dia lihat sebuah tempat yang butuh tukang seterika. Ini tentu lebih pasti, minimal buat makan nasi 2x sehari dan mendapat community.

Tapi ini semua terjadi di saat kontrakannya hendak berakhir. Sebetulnya BT tinggal sebulan lagi disana tanpa bayar pun mungkin bisa saja diakal-akalin. Tapi BT memilih untuk tetap jangan sampai jadi punya hutang di akhirat nanti. Plus keinginan untuk keluar, mulai jenuh di Jakarta, dan pengen "traveling". Hidup menggembel di jalanan Jakarta untuk saat ini ia lihat juga belum "baik" untuk dipraktikkan lebih masif. Padahal banyak lokasi sudah yang ia tandain, mulai dari kawasan elit seperti Taman Menteng, tempat sepi sekitar PRJ Kemayoran, hingga ikut gabung sepanjang gubug-gubug derita di bantaran rel Tanah Tinggi hingga Kramat. Dan, wah, terlalu banyak lokasi lainnya lah buat jadi preman dan manusia bunglon (munafik) di Jakarta mah.

Kenyataannya pagi itu BT melangkahkan kaki ke Stasiun Kemayoran, naeg KRD ke Purwakarta, terus ke Kiara Condong. Nah di Bandung ini BT dapet sms dari adiknya tentang keadaan di rumah. Setelah menginap semalaman untuk mikir di sebuah mesjidnya Orang Padang deket stasiun tersebut bersama sejumlah tuna wisama, BT akhirnya memutuskan untuk lebih baik pulang dulu dan menunda keinginannya untuk, baik ke Jawa, maupun hiking gelo di pantai selatan Jawa Barat. Kebetulan hingga hari itu ia belum juga mendapat informasi yang cukup memadai baginya untuk memulai start dari daerah mana dengan transportasi yang minim dana.

Untuk ke Cilacap sekalipun dia juga belum yakin harus ganti kereta dimana dan bahkan bagusnya naeg kereta yang mana dan apakah ada KRD juga hingga sana. Padahal targetnya adalah menjajal dari selatan Garut terus ke barat hingga Sukabumi. Tanpa peta; cuman modal pernah lihat dari Google Maps daerah-daerah seperti Cidaun, Bungbulang, dan seterusnya. Padahal niat BT bagus juga ingin menghafal Quran sepanjang perjalanan tersebut dan sepertinya sampai saat ini belum juga bisa dilaksanakeun; pantes aja BT belum diijinkan ku Gusti buat mampus aza dan menyelamatkan diri dari dunia yang memuakkan tapi lucu ini serta networkingnya Jaringan Alwahn Laknatullah dengan empat sifat kemunaannya: Tamak, Licik, Dengki, Bunglon.

Sebetulnya BT juga sangat sangat pengen eksperimen menggelandang total di Jakarta dan atau kota lainnya untuk kemudian "ribut" sama Satpol PP dan menikmati "seni"-nya. Namun karena prioritas adalah rencana hiking ke hutan pantai selatan tersebut jadilah ia sudah terlanjur mengambil cukup banyak duit modal hidup di desa dari ATM. Dan cukup beresiko berkeliaran di koto-koto dengan uang kes buaaaanyak di dompet. Dengan pertimbangan itulah BT menghindarin rencana pulang ngetengnya dengan jalur ke Jakarta dulu, terus naik kereta ke Merak, baru nyegat bis ke Padang. Oh ya tambah pula bawaannya cukup banyak yang sewaktu check in di Cengkareng katanya sampai 9 kilo berat kerelnya yang padahal sudah dikurang-kurangin di Kiara Condong. Tambah lagi kebetulan ia terlambat beberapa menit untuk naik KRD ekonomis banget tujuan Purwakarta itu dan kudu nunggu berjam-jam lagi. Tambahhhh pula stasiun itu cukup dekat dengan BSM tempat bis yang ia tahu lebih murah untuk ke Cengkareng dibanding nge-nravel.

Singkat kata balik lagilah BT dengan naeg bis ke Jakarta terus ke Bandara. Dan ia beli tiketnya disana aja berharap bisa dapet murah juga. Kalo kemahalan ia sudah berencana untuk balik lagi aza ngemper di Jakarta hehe. Setelah nanya-nanya sana-sini beberapa kali akhirnya dapatlah ia untuk hari itu juga dengan standar harga yang sama dengan jikalo beli tiket promo jauh hari sebelumnya, baik lewat travel ataupun langsung di internet. Ada bahkan maskapai lain yang bisa sedikit lebih murah cuman harus nunggu besok dan nelpon dulu ke call centernya. BT pun akhirnya walau kere pulang naeg pesawat terbang juga hari itu, berkebetulan duit udah terlanjur diambil dan untungnya tidak diambil orang lain semalam sebelumnya sewaktu nginap di emperan mesjid di Bandung. Di masjid deket Stasiun Kiara Condong ini sebuah tasnya sempat dimaling tengah malam saat semua terlelap bobo menjelang subuh namun bisa digagalkan.