Syirik Matrelinial dan Syirik Harta

Dulunya saya menggunakan istilah ini untuk men-terminologi-kan keadaan terburuk dari orang (mukmin) yang menderita penyakit alwahn (cinta dunia dan takut mati). Belakangan saya mulai mendengar ada Surya Pratomo, seorang redaktur senior Media Group, menggunakan istilah syirik harta. Dulunya saya juga pernah melihat istilah syirik harta atau matrelinial ini kalo nggak salah juga pernah digunakan dalam sebuah tulisan. Tapi tema seperti ini memang nggak laku dan jarang dibahas.

Siapa yang tak senang harta; termasuk yang kelihatan tampilan luar soleh atau komunitas soleh. Bahkan mulai ada pula pemikiran-pemikiran seperti Islam harus kaya atau zuhud itu setelah kaya dulu. Tidak cinta harta dibatasi pada kaya dulu lalu sedekah kelihatan yang sebanyak-banyaknya diperlihatkan. Jadi alih-alih isu sensitif alwahn ini dihubungkan dengan dosa yang tak bisa diampuni dalam Islam, yakni syirik; menyekutukan Allah SWT dengan hal-hal lainnya. Pertanyaannya, sejauh mana kecintaan seorang muslim taat yang diperlihatkan rajin bersedekah (sekalian berpolitik) ini kepada harta tidak bersinggungan atau menyingkirkan keikhlasannya mencintai Allah SWT 100%?

Saya juga seneng harta, itu normal sebagai manusia. Namun perspektif dan intensitasnya berbeda dengan penderita alwahn akut. Syirik harta atau matrelinial menurut saya terjadi ketika kita mulai menjadikan kecintaan pada harta itu sebagai struktur penilaian. Contoh paling parahnya ketika kita menilai seseorang itu taqwa karena dia kaya atau dia taqwa sehingga kaya atau taqwa supaya kaya. Ketika soal kaya miskin mulai kita jadikan ukuran untuk menentukan tingkat keimanan, maka saat itulah menurut hemat saya telah terjadi kecintaan pada harta yang sangat akut sehingga mulai menuhankannya dan menciptakan syirik; sebuah dosa yang tak akan diampuni.

Padahal kemudian jelas salah satu rukun keimanan kepada Allah SWT adalah percaya pada ketentuan dan ketetapan, termasuk soal kaya miskin. Muslim penderita alwahn mulai terkontaminasi perpekstif kafir atau atheis yang menilai kaya miskin itu soal kemampuan merubah nasib. Lalu ini dibenturkan dengan kepasrahan pada nasib dalam pengertian pemalas dan tidak bekerja keras. Padahal jelas-jelas Islam itu adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT dan percaya kepada takdir bukan pula berarti tidak melakukan apa-apa.

Bagi orang yang beriman dan bebas dari syirik matrelinial atau harta selayaknya percaya bahwa hanyalah proses yang menjadi bagian manusia sedangkan hasilnya sudah merupakan ketetapan Sang Pencipta yang menguji makhluk manusia ke dalam keadaan yang berbeda. Bagi Allah SWT yang akan menjadi penilaian nantinya adalah isi hati yang berserah kepada-Nya, bukan instrumen-instrumen penuh topeng yang selama ini dijadikan struktur ukur dan tata nilai rekayasa oleh pemufakatan busuk kebanyakan manusia dengan Iblis dan Dajjal yang di belakang memegang tongkat komando networking kesesatannya. Kebanyakan yang jahil dan bodoh, kecuali yang ikhlas dan tidak culas.

Tidak Salah Uang Namun Ujang

Karena bukan penulis terkenal karena tidak banyak kenal(an) maka baiknya sedari awal menggunakan tekhnik bunglon mendomplengin nama Besar seorang manusia (biasa/tidak kaya) bernama Si Muhammad. Lelaki santun namun tanpa topeng ini sangat jarang berkata kasar apalagi sumpah serapah--bahkan saking polos dan lugunya beliau sebagai manusia biasa (tidak kaya) tadi sangat mudah diperdaya oleh kaum munafikun--dan sangat terkenal dengan riwayatnya: jangan marah dan jangan mudah marah. Namun dalam sebuah hadits kutemukan beliau "mencaci maki": celakalah hamba harta, roda, dan sutra, hehe.

Sebagai manusia biasa (yang pengen kaya/tahta/status) wajar kiranya kita seneng sama duit atau harta atau wang. Tapi tentu sebagian besar dari kita tak mau dicap hamba harta. Memang kita menghamba pada harta namun capnya itu berkesan (citra) agak gak enak dan justru berefek negatif bagi status (sosial). Apalah artinya harta banyak jika tanpa disertai tahta (sosial) dan seks/libido. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk berkilah. Semisal jika kembali ke contoh hadits lagi gembar gemborkan tentang keutamaan "sedekah/gratifikasi" yang memang dibolehkan untuk terlihat/syiar/dakwah dan "berfaedahnya" kaya raya. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat (dari segi duit) bagi pen'z'ilat di sekitarnya.

Memang berat untuk mencerna dimana letak salahnya realitas ini dan yang bukan hanya kini. Tapi seperti "diramal" Si Muhammad itu tadi lagi mungkin kini kita sedang menyaksikan betapa kian menuju dahsyatnya Agama alWahn; cinta dunia dan takut mati. Karena dan karena lagi katanya bukan kemiskinan yang aku takutkan atas kalian tapi makin terbuka lebarnya perhiasan dunia ini. Ah, indahnya. Di Madinah pada masa generasi terbaik saja berkeliaran orang-orang munafik apalagi masa ini, kini. Dahsyatnya ujian.

Kian ke hari kita makin menyaksikan betapa kerennya status finansial sampai-sampai seorang pengacara yang sempat baru-baru saja nyaris dianggap "pengkhianat" negara berani menghina secara cukup terang pemimpin tertinggi negara ini sebagai sudah tak berdaya menghadapi superiornya networking kartel uang. Bahkan tambah parahnya menganjurkan kepada teroris untuk menggunakan alat yang satu itu sebagai senjata efektif menaklukkan institusi negara, bangsa, bahkan benua Indonesia.

Terlalu jauh bicara negara segalalah padahal di kenyataannya setiap kantong saku ini butuh untuk diisi sebanyak-banyaknya biar bisa beli itu ini dan terus menyemarakkan kapitalisme global dimana oh dimana segelintir elite sistem kapital modern melalui tangan (bukan otak) intelektual antek-anteknya (dengan beragam dialektika versi aliran) menguasai generasi budak seterus menerusnya. Sudah tetap miskin, makin menghamba uang juga. Romantik dan tragik. Lalu bisa apa tanpa uang? Pertanyaan yang tidak relevan sebetulnya tapi kenyataannya baru sampai disinilah otak terindoktrinasi qita mampu memikirinnya. Ya Tuhannya Si Muhammad tadi, apa salahnya menghamba ?!?

Media Kak Tarsis Dalam Karyo The Asu Sastrooo

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil me...