Sabtu, 29 Januari 2011

Syirik Matrelinial dan Syirik Harta

Dulunya saya menggunakan istilah ini untuk men-terminologi-kan keadaan terburuk dari orang (mukmin) yang menderita penyakit alwahn (cinta dunia dan takut mati). Belakangan saya mulai mendengar ada Surya Pratomo, seorang redaktur senior Media Group, menggunakan istilah syirik harta. Dulunya saya juga pernah melihat istilah syirik harta atau matrelinial ini kalo nggak salah juga pernah digunakan dalam sebuah tulisan. Tapi tema seperti ini memang nggak laku dan jarang dibahas.

Siapa yang tak senang harta; termasuk yang kelihatan tampilan luar soleh atau komunitas soleh. Bahkan mulai ada pula pemikiran-pemikiran seperti Islam harus kaya atau zuhud itu setelah kaya dulu. Tidak cinta harta dibatasi pada kaya dulu lalu sedekah kelihatan yang sebanyak-banyaknya diperlihatkan. Jadi alih-alih isu sensitif alwahn ini dihubungkan dengan dosa yang tak bisa diampuni dalam Islam, yakni syirik; menyekutukan Allah SWT dengan hal-hal lainnya. Pertanyaannya, sejauh mana kecintaan seorang muslim taat yang diperlihatkan rajin bersedekah (sekalian berpolitik) ini kepada harta tidak bersinggungan atau menyingkirkan keikhlasannya mencintai Allah SWT 100%?

Saya juga seneng harta, itu normal sebagai manusia. Namun perspektif dan intensitasnya berbeda dengan penderita alwahn akut. Syirik harta atau matrelinial menurut saya terjadi ketika kita mulai menjadikan kecintaan pada harta itu sebagai struktur penilaian. Contoh paling parahnya ketika kita menilai seseorang itu taqwa karena dia kaya atau dia taqwa sehingga kaya atau taqwa supaya kaya. Ketika soal kaya miskin mulai kita jadikan ukuran untuk menentukan tingkat keimanan, maka saat itulah menurut hemat saya telah terjadi kecintaan pada harta yang sangat akut sehingga mulai menuhankannya dan menciptakan syirik; sebuah dosa yang tak akan diampuni.

Padahal kemudian jelas salah satu rukun keimanan kepada Allah SWT adalah percaya pada ketentuan dan ketetapan, termasuk soal kaya miskin. Muslim penderita alwahn mulai terkontaminasi perpekstif kafir atau atheis yang menilai kaya miskin itu soal kemampuan merubah nasib. Lalu ini dibenturkan dengan kepasrahan pada nasib dalam pengertian pemalas dan tidak bekerja keras. Padahal jelas-jelas Islam itu adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT dan percaya kepada takdir bukan pula berarti tidak melakukan apa-apa.

Bagi orang yang beriman dan bebas dari syirik matrelinial atau harta selayaknya percaya bahwa hanyalah proses yang menjadi bagian manusia sedangkan hasilnya sudah merupakan ketetapan Sang Pencipta yang menguji makhluk manusia ke dalam keadaan yang berbeda. Bagi Allah SWT yang akan menjadi penilaian nantinya adalah isi hati yang berserah kepada-Nya, bukan instrumen-instrumen penuh topeng yang selama ini dijadikan struktur ukur dan tata nilai rekayasa oleh pemufakatan busuk kebanyakan manusia dengan Iblis dan Dajjal yang di belakang memegang tongkat komando networking kesesatannya. Kebanyakan yang jahil dan bodoh, kecuali yang ikhlas dan tidak culas.